Monday, August 17, 2009

Anne of Green Gables

Ini adalah tentang kehidupan yang indah, penuh warna, menggairahkan, dan penuh cinta. Itulah kesan yang kudapat selama membaca buku ini. Buku yang bercerita tentang si yatim piatu berambut merah yang berpembawaan ceria, ceriwis, begitu mencintai alam, dan memiliki daya imajinasi yang tinggi dan hidup. Semangat dan keceriaannya cenderung meluap-luap, dan kehadirannya selalu membuat orang di sekitarnya gembira. Itulah Anne.

Awalnya, Avonlea adalah sebuah dusun pertanian kecil dengan pemandangan yang indah, namun dengan kehidupan yang biasa-biasa saja. Terutama di pertanian Green Gables yang dihuni oleh kakak beradik yang sudah setengah baya, Matthew dan Marilla Cuthbert. Mereka berdua tidak menikah, dan rumah mereka terasa sepi dan dingin. Sampai suatu ketika, Mrs. Rachel Lynde melihat sesuatu yang aneh. Pagi-pagi benar Matthew Cuthbert pergi naik kereta dengan berkemeja rapi. Di desa yang kecil, di mana kehidupan penghuninya sudah terjadwal, perginya Matthew membuat heran Mrs. Rachel. Maka ia mengunjungi Marilla. Dan dari mulut Marilla meluncurlah berita heboh: Matthew pergi ke stasiun menjemput seorang anak lelaki dari Panti Asuhan!

Ya, Matthew butuh seseorang untuk membantunya di pertanian, maka mereka titip pesan pada Mrs. Spencer untuk membawakan seorang anak lelaki dari panti asuhan. Pagi itu, ketika Matthew tiba di stasiun, yang ia dapati hanyalah seorang anak perempuan berpakaian lusuh, wajah pucat berbintik-bintik dan rambut merah. Rupanya ada kesalahpahaman dengan Mrs. Spencer! Tapi, si anak perempuan sudah terlanjur kegirangan mengetahui bahwa ada keluarga yang menginginkannya, sehingga ia tak perlu menetap di panti. Maka, diajaknyalah si anak perempuan itu pulang oleh Matthew. Sebagian karena ia tak tega meninggalkannya begitu saja di stasiun, dan sebagian lagi karena karakter unik si anak perempuan.

Bayangkan, sepanjang perjalanan naik kereta itu ia menyerocos terus. Begitu melihat pohon ceri dan birch yang berbunga putih menjulur agak rendah ke jalan, Anne bisa membayangkan cadar halus putih seorang pengantin! Benar-benar imajinasi yang hebat! Dan itulah yang akan anda baca dan rasakan di sepanjang buku ini.

Awalnya, Marilla tak dapat menerima kehadiran Anne. Namun, mau tak mau diakuinya juga bahwa Anne telah sedikit demi sedikit memberi warna dalam kehidupannya yang tadinya membosankan. Maka akhirnya Marilla pun luluh, dan berniat tetap mengadopsi Anne. Anne begitu bahagia dengan keputusan itu, dan ia berusaha keras untuk memuaskan Marilla. Masalahnya, ia terlalu banyak berkhayal. Ketika disuruh melakukan tugas rumah tangga, ia begitu rajin awalnya. Namun, di tengah-tengah pekerjaannya pikirannya akan melantur kemana-mana saat ia memandang ke arah pepohonan, misalnya. Dan akhirnya ada saja tugas yang ia lupakan.

Waktu Anne mulai masuk sekolah, Marilla menjahitkannya gaun-gaun yang amat sederhana (dan membosankan buat anak kecil). Padahal yang diinginkan Anne adalah gaun dengan lengan model menggelembung yang waktu sedang populer.

Lalu Anne menemukan seorang sahabat, yang ia sebut sebagai ‘belahan jiwa’, seorang anak bernama Diana. Rumah Diana terletak di pertanian di seberng Green Gables, tapi jendela kamar tidur Diana bisa dilihat oleh Anne dari kamarnya sendiri. Kedua gadis kecil ini sering mengirimkan isyarat berupa kilatan sinar senter (mirip kode morfe). Kalau salah satu dari mereka melihat signal ini, maka ia akan segera bergegas ke rumah yang lain, karena pasti si pengirim signal memiliki berita penting untuk diberitahukan pada yang lain.

Begitulah, kedatangan Anne ke Avonlea ternyata membawa banyak perubahan pada hidup di sekitarnya. Ia adalah virus keceriaan di sebuah dusun yang membosankan, warna-warna yang hidup pada selembar kain putih yang menjemukan. Anne adalah seseorang dengan emosi yang meluap-luap. Ia bisa menjadi sangat antusias pada suatu rencana yang indah, namun bisa dengan cepat menjadi putus asa saat keinginannya tak tercapai.

Ada seorang anak laki-laki bernama Gilbert Blythe yang cerdas tapi senang mengusili Anne. Anne jengkel sekali padanya ketika Gilbert memanggilnya ‘wortel’. Anne sangat sensitif kalau mengenai warna rambutnya yang semerah wortel. Ia bisa sangat tersinggung, seperti halnya reaksinya terhadap Gilbert. Alhasil, ia memusuhi Gilbert selama sekolah, dan bersaing dengannya dalam hal prestasi, karena ia dan Gilbert sama pintarnya di kelas.

Ketika sekolah hampir berakhir, dalam sebuah adegan ‘penyelamatan’ di sungai, Gilbert meminta maaf pada Anne bahwa ia dulu mengoloknya. Anne merasakan debaran aneh jantungnya, tapi harga diri yang tinggi membuatnya menolak mentah-mentah ajakan Gilbert untuk kembali berteman.

Pada akhir tahun pelajaran, mereka berdua (Anne dan Gilbert) beserta beberapa murid lain mengikuti ujian masuk ke Akademi Queen di kota. Sayangnya orang tua Diana tidak mengijinkan anak mereka untuk meraih jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Anne akhirnya menjadi nomor satu dalam ujian itu, dan ia pun bersiap-siap untuk melanjutkan pendidikan di Queen.

Di Queen, Anne belajar dengan tekun dan berusaha untuk melupakan home-sicknya. Ia mendengar bahwa Queen akan memberikan sebuah beasiswa Avery, untuk menempuh pendidikan di sebuah universitas di Inggris. Namun Anne lebih terpacu untuk mengejar medali emas. Dan di penghujung masa belajar di Queen, ketika Anne pulang untuk berlibur di rumah, ia begitu yakin akan masa depan cemerlang yang terbentang di depannya ketika ia ternyata justru memenangkan beasiswa Avery (sedang medali emasnya direbut saingan beratnya, Gilbert). Anne begitu bahagia terutama karena Matthew, yang sudah mulai menua dan sakit-sakitan, malam itu mengungkapkan pada Anne bahwa ia sangat bangga pada pencapaian Anne.

Namun, seperti dalam kehidupan manapun juga, duka itu datang dengan sangat tiba-tiba. Sang malaikat maut menjemput Matthew Cuthbert. Maka kini tinggallah mereka berdua, Marilla dan anak angkatnya, Anne. Apakah yang akan dilakukan Anne? Tetap pergi ke kota untuk meraih cita-cita tertingginya dan meninggalkan Marilla sendirian? Ataukah ia menemani Marilla dan melepas impiannya?

Apapun penutup kisahnya, Anne of Green Gables memang menyediakan keindahan dan kisah yang penuh cinta di setiap kata dan kalimatnya. Bukan sebuah masterpiece seperti To Kill A Mocking Bird atau Harry Potter, namun tetap sebuah bacaan yang akan membuat hati ini gembira demi melihat keindahan dan merasakan cinta!

Judul : Anne of Green Gables
Pengarang : Lucy Montgomery
Penerbit : Qanita, 2008
Harga : Rp 50.150,- (toko buku online)



Monday, August 3, 2009

The Adventure of the Christmas Pudding

Membaca sinopsis novel ini sudah cukup untuk membuatku memutuskan tuk membeli buku ini. Kenapa? Apakah karena ceritanya yang tegang? Bukan! (kan aku belum baca?) Pertama-tama karena ada nama Hercule Poirot di sinopsis itu, dan kedua karena ada ‘pudding natal’. Alasan yang romantis ya? Entah kenapa, aku suka dengan novel-novel yang menceritakan dengan detail tentang makanan. Apalagi makanan ala Inggris, Perancis atau Italy. Masih ingat kan dengan Lima Sekawan? Aku paling suka dengan bagian ketika mereka akan piknik, dan dari rumah dibekali dengan makanan yang (kedengarannya) enak-enak itu. Membacanya saja sudah bikin aku ngiler.

Nah, ternyata aku tidak salah. Novel ini adalah kumpulan cerita misteri. Cerita utamanya berjudul Skandal Perjamuan Natal, dengan Hercule Poirot sebagai detektifnya. Settingnya adalah pas hari Natal, dengan perjamuan ala Inggris kuno dengan ayam isi, kalkun, dan pudding plum dengan saus kental yang dicampuri sedikit brandi. Tuh kan...bikin ngiler ga?

Aku jadi teringat pada perayaan Natal khas keluarga kami waktu aku kecil dulu. Sorry ya tante Agatha, cerita tante aku ulas belakangan, abis pengen share dulu kenangan indah masa kecilku pas Natal...

Waktu aku umur 10-12 tahunan, kondisi keuangan keluarga kami sudah mulai membaik, namun waktu itu kami belumlah serius menjalankan ibadah kami. Kami menganggap Natal sebagai sebuah pesta kecil keluarga yang harus dirayakan. Perayaan itu selalu jatuh pada malam Natal, yakni tgl. 24 Desember. Beberapa hari sebelumnya kami sudah mengeluarkan pohon Natal plastik beserta semua mainannya, lampu-lampunya dan hiasan lainnya. Jaman itu, belum ada pohon Natal yang langsung jadi, melainkan harus dirakit. Perakitan itu kami kerjakan bersama-sama, aku, mama dan papaku. Dari batangnya dulu, lalu menancapkan kelompok daun-daun cemaranya. Habis itu melilitkan lampunya, lalu menggantung mainan-mainannya, dan terakhir menancapkan bintang besar di puncak cemara. Setelah selesai, kami akan mencoba menyalakan lampu-lampu Natalnya untuk mengecek apakah ada bolam yang mati dsb. Pohon Natal itu lalu kami letakkan di meja sudut di ruang tamu kami.

Untuk hidangan malam Natal, mamaku biasanya memasak sendiri, dibantu oleh pembantu setia kami waktu itu. Sedang untuk kue Natal, kami memesan di toko kue. Kue Natal itu sangat khas, namanya Kerstkraans (dalam bahasa Belanda, artinya ‘lingkaran Natal’). Sesuai namanya, kuenya berbentuk seperti donat, bulat dengan lubang di tengah. Diameternya sekitar 24 cm. Tekstur kuenya agak kering, mirip dengan Sosisbroot (bener ga ya tulisannya?). Bedanya kalo sosisbroot diisi daging, Kerstkraans ini diisi kacang tanah dan almond yang digiling halus. Lalu bagian luar kuenya diberi lapisan gula dan ada taburan kismis dan manisan kulit jeruk. Enak sekali deh rasanya!

Biasanya tgl. 24 sore, setelah mandi kami langsung mengenakan baju bagus. Heran ya, pesta sendiri di rumah tapi pake baju bagus? Begitulah tradisi kami. Lalu ketika hari mulai gelap, sekitar jam 6 kami mulai menutup korden (biar ga diganggu tamu!), mematikan lampu ruang tamu, lalu memasang lampu pohon Natal. Wow...sampai sekarang pun aku paling suka ngeliat lampu-lampu kecil berwarna warni yang bergantian berkerlap-kerlip itu. Rasanya ada suasana yang damai dan ayem. Oh ya ada yang kelupaan. Biasanya sebelum hari H kami juga telah menyiapkan kado-kado. 2 buah kado untuk masing-masing orang, jadi total ada 6 kado, yang akan dibungkus kertas kado, lalu ditaruh di kaki pohon Natal. Tentu saja kado-kado itu bukan barang-barang yang mahal. Cuma kotak pensil buatku, atau sebuah buku buat papa, atau seperangkat cermin dan sisirnya untuk mama. Memang semuanya hanya untuk fun saja.

Nah, diiringi dengan lagu-lagu Natal yang syahdu dari kaset, kami mulai makan kue Natal (biasanya sudah kami potong-potong lalu disajikan di dua piring berbentuk daun). Lalu kami saling bertukaran kado, membuka kado, sambil ngobrol. Kadang-kadang papaku yang hobi fotografi, mengabadikan momen-momen ini dengan kameranya. Lalu ketika sudah pk 7, atau ketika kami sudah mulai lapar, kami akan pindah ke ruang makan. Hidangannya biasanya Sup Merah, disajikan di mangkuk-mangkuk kecil, lengkap dengan sepotong roti tawar untuk dicelupkan ke kuah sup. Saat-saat ini biasanya mamaku mengeluarkan perangkat makan spesial, hadiah perkawinannya dulu (hebat ya barang pecah belah jadul, tahan sampai bertahun-tahun). Kemudian disambung dengan satu hidangan utama. Favoritku adalah Spaghetti Bolognese (hidangan utama bisa berbeda-beda tiap tahun). Harus kuakui, resep Spaghetti milik mamaku ini yang paling top dibanding dengan milik restoran manapun!.

Setelah itu kami cuma ngobrol-ngobrol di ruang tamu lagi sambil terus mendengarkan lagu Natal (dan aku menonton lampu Natal sambil terus terpesona..). Setelah perut tidak terlalu kenyang, kami makan Longans kalengan yang diberi es batu. Hmmm...nikmat. Dan itulah perjamuan Natal ala keluarga kami. Memang tidak seru karena cuma bertiga, namun momen-momen itu begitu menggoreskan kenangan bagiku yang selalu kuingat sampai kapanpun.

Saat aku telah dewasa, dan ortuku mulai ‘bertobat’, kami lebih mementingkan malam Natal untuk mengikuti misa di gereja. Pohon Natal tetap ada, tapi yang langsung jadi dan ukurannya kecil. Tapi ritual itu sudah tak pernah kami lakukan lagi....

Nah, sekarang kembali pada Perjamuan Natal ala Inggris kuno, dimana Hercule Poirot diundang untuk melacak permata batu delima yang hilang, tentu saja di novelnya tante Agatha, bukan di rumahku yak! Anehnya sebelum perjamuan, Poirot mendapat peringatan untuk tidak makan pudding plum yang akan dihidangkan. Ada ritual yang unik dalam cerita ini yang berkaitan dengan hidangan khas Natal itu, pudding Natal. Dalam pudding akan disisipkan kancing baju, cincin dan uang logam. Kalo pas makan seseorang dapet kancing, berarti ia akan jadi perjaka seumur hidup (kebetulan yang dapet Poirot!! Cocok kan?), yang dapet cincin mungkin akan menikah ya? Yang tak disangka-sangka dan jelas tak ada dalam tradisi, si tuan rumah malah menggigit batu delima yang hilang itu.

Lebih seru lagi, beberapa anak muda di pesta itu ingin memberikan lelucon buat Poirot dengan sandiwara pembunuhan. Salah satu dari mereka pura-pura menggeletak jadi mayat, pake cat merah yang menyerupai darah dan ada jejak-jejak kaki juga di atas salju. Tentu saja Poirot takkan terkecoh, justru para anak muda itu yang gantian melongo ketika mendapati bahwa si ‘mayat’ benar-benar seperti sudah tak bernyawa! Pemecahannya ternyata simpel sekali, karena memang ini sebuah kisah misteri ringan. Tapi tetap saja menarik!

Yang jauh lebih menarik justru kisah kedua. Masih bertokoh-kan Hercule Poirot, kisah yang berjudul Misteri Peti Spanyol ini sangat menarik. Ada intrik cinta dan cemburu, dan pembunuhannya sendiri mirip sebuah seni. Seperti biasa khas Agatha, tak ada darah-darah atau ledakan yang sensasional. Hanya seonggok mayat yang ditemukan di sebuah peti besar di sebuah rumah. Padahal selama itu, ada lima orang lainnya yang sedang berpesta, minum-minum dan dansa-dansi di ruangan di mana peti itu berada. Padahal, si korban: Arnold Clayton juga diundang ke pesta itu, namun tak bisa datang.

Jika saja Poirot tidak tergelitik untuk memecahkan misteri kasus ini, sang tuan rumah: Mayor Rich atau pembantunya akan langsung dihukum karena pembunuhan. Habis, siapa lagi yang mungkin membunuh si korban dan memasukkannya ke dalam kotak? Namun..apa benar mereka melakukannya? Di sinilah kecerdikan Poirot akan diuji. Dan seperti biasanya juga, tante Agatha selalu membeberkan semua fakta dengan gamblang. Tinggal kitalah yang ditantang untuk beradu kepintaran dengan Poirot (atau dengan tante Agatha tepatnya?). Ah..aku menyerah deh! Mending menikmati saja kisah pembunuhan berseni ini.

Sebenarnya ada 4 kisah lagi dalam kumpulan cerita ini, selain 2 kisah utama itu. Hercule Poirot muncul di tiga kisah diantaranya, dan sebuah kisah - yang diibaratkan tante Agatha sebagai makanan pembuka pada sebuah jamuan Natal. Kisah ini, Greenshaws’ Folly, adalah satu-satunya kisah Miss Marple di kumpulan cerita ini. Tapi, untuk menutup postingku ini, aku hanya akan beberkan sebuah kisah yang menurutku cukup menarik dari judulnya: Buah Blackberry. Mungkin anda akan teringat pada gadget yang sekarang lagi beken, tapi sebenarnya aku mengharap ada cerita-cerita tentang makanan lagi. Hehehe...Dan ternyata memang benar.

Kali ini Poirot tergelitik pada kebiasaan seorang tua nyentrik yang suka makan di restoran yang sama selama 10 tahun. Harinya selalu Selasa dan Kamis, waktunya selalu setengah delapan malam. Menunya juga selalu sama. Info ini ia dapat ketika sedang makan ayam kalkun isi kenari (tuh..benar kan, makanannya mengundang selera?) bersama sahabatnya di resto yang sama. Si pelayan bingung, karena si tua pernah sekali ke resto itu pada hari Senin, dan memesan makanan yang tak biasa: sup tomat kental (padahal ia tak pernah pesan sup kental), dan juga kue tar buah blackberry, padahal tak pernah suka blackberry selama ini.

Sahabat Poirot, seperti mungkin banyak orang lain, akan menganggap enteng sesuatu yang di luar kebiasaan ini. Mungkin si tua sedang gundah, jadi tidak sadar akan apa yang dipesannya. Padahal menurut Poirot, orang yang sedang gundah justru akan secara otomatis melakukan sesuatu yang biasa ia lakukan, ia takkan ingin mencoba sesuatu yang baru. Masuk akal juga teori psikologis ini! Maka ketika si tua dikabarkan menginggal di rumahnya karena jatuh dari tangga, Poirot langsung curiga bahwa si tua dibunuh. Hebat kan? Mencurigai sebuah pembunuhan hanya karena kue tar blackberry? By the way, tahukah anda kalo buah blackberry itu membuat gigi menghitam? Satu lagi pelajaran dari tante Agatha kita yang tersayang. Bagi Poirot, itu salah satu cara menemukan pembunuh di kisah ini...

Akhirnya, kalo anda tertarik dengan buku ini, cepetan aja mencarinya karena kayaknya agak langka di toko buku. Ini rinciannya:

Judul buku: Skandal perjamuan Natal (The Adventure of Christmas Pudding)
Pengarang: Agatha Christie
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2007
Halaman: 352
Harga: Rp 31.875,- (setelah diskon 15% - bukabuku.com)