Pages

Pages 2

Sunday, January 25, 2009

Catatan Harian Anne Frank



Inilah sebuah diary paling sensasional yang pernah diterbitkan secara luas. Anne Frank adalah seorang gadis remaja berusia 13 tahun, yang karena invasi Jerman atas Belanda, dan karena pembersihan atas etnis Yahudi pada jaman Hitler, maka ia dan keluarganya dan beberapa orang lagi harus menyembunyikan diri di sebuah loteng. Disinilah ia menulis diary selama hampir 4 tahun. Edisi yang pertama kali diterbitkan adalah diary yang sudah disensor oleh Otto Frank, ayahnya (satu-satunya yang hidup setelah peristiwa Holocaust itu), mulai beredar tahun 1947 dengan judul The Diary Of A Young Girl. Namun, setelah Otto Frank meninggal, ia mewariskan hak penerbitan diary itu pada Jawatan Dokumentasi Perang Belanda, yang kemudian menggabungkan versi tsb dengan versi aslinya, dan dengan beberapa tambahan yang berguna agar pembaca memahami kondisi pada saat itu. Maka, pada tahun 1995 terbitlah sebuah edisi revisi terbaru: The Diary Of A Young Girl: The Definitive Edition. Edisi inilah yang terjemahannya dalam Bahasa Indonesia akan kuulas disini. Selamat membaca....

-----

Anne Frank adalah seorang gadis yang periang dan cerdas berusia 13 tahun. Ia terlahir dari pasangan Yahudi, Otto dan Edith Hollander Frank. Otto Frank adalah seorang Direktur di Dutch Opekta Company, perusahaan di Amsterdam yang memproduksi selai. Kakak perempuan Anne bernama Margot. Kehidupan mereka menyenangkan dan baik-baik saja, hingga saat Jerman menginvasi Belanda dalam Perang Dunia II, dan pemerintahan Hitler mengeluarkan dekrit 'anti Yahudi'. Mulailah masa-masa terkekang bagi kaum Yahudi, mereka harus memakai semacam pin berbentuk bintang warna kuning (yellow star), mereka dipaksa menyerahkan kendaraan, dilarang mengendarai mobil, dilarang menggunakan jalan raya, dilarang masuk tempat hiburan, dilarang terlihat di jalanan antara jam delapan malam hingga jam enam pagi, dll.

Pada ulangtahun Anne yang ke-13 pada 20 Juni 1942, ia mendapat hadiah sebuah diary. Pada hari itulah ia mulai mencurahkan seluruh perasaan, pandangan dan pengalaman hidupnya pada diary yang ia beri nama "Kitty". Anne merasa bahwa bila ia menumpahkan perasaan pada orang lain, orang itu tidak akan mengerti dia, malah mengomeli, menyalahkan dsb. Maka Kitty ia anggap teman terbaiknya yang paling mengerti dirinya, dan karena diary tidak dapat menghakiminya.

Pada saat itu sebenarnya pembersihan etnis Yahudi mulai digembar-gemborkan, dan Otto Frank mulai merencanakan untuk melarikan keluarganya. Namun, sebelum rencana itu terwujud, pada tgl. 8 Juli 1942, Margot menerima surat panggilan dari pemerintah Hitler. Surat Panggilan berarti kamp konsentrasi dan sel tahanan, maka Otto Frank harus mengubah rencananya. Otto Frank dan Van Daan (rekan bisnis Otto Frank) membuat rencana baru sementara Anne dan lainnya berkemas-kemas. Maka pada tgl. 9 Juli 1942 keluarga Frank meninggalkan apartemen mereka yang nyaman untuk terakhir kalinya, dan pindah ke sebuah loteng yang terletak di gedung tempat Otto Frank bekerja. Loteng tempat persembunyian mereka itu akan dikenal dengan "Secret Annex". Kepindahan mereka dibantu oleh pasangan Miep dan Jan Gies yang adalah teman dekat keluarga Frank. Miep bekerja sebagai sekretaris Otto Frank. Karyawan lain Oto Frank adalah Tuan Kleimann, Tuan Kugler dan Bep Voskuijl.

Secret Annex, ruang loteng di lantai tiga itu akan menjadi tempat persembunyian Anne dan keluarga (4 orang), serta keluarga Van Dann (3 orang), dan seorang dokter gigi bernama Tuan Dulles, total 8 orang. Pintu masuk yang memisahkan gudang dan Secret Annex diberi lemari buku untuk menyamarkan, dan selama bersembunyi mereka tidak boleh keluar sama sekali. Miep dan Bep yang bertugas untuk berbelanja kebutuhan semua penghuni Secret Annex. Selama jam kantor, mereka harus tetap berada di atas loteng, tidak boleh ribut, tidak boleh menyiram toilet karena kucuran air bisa terdengar dari bawah. Jadi mereka harus tinggal di tengah ketakutan, keterbatasan bahan makanan (kadang mereka harus makan buncis atau selada sepanjang hari), baju yang usang (dan kekecilan bagi Anne yang sedang dalam masa pertumbuhan), ruangan yang bau (karena tidak bisa setiap saat mengguyur toilet). Namun, di saat yang sama Anne, Margot dan Peter Van Daan (yang berusia 16 tahun) tetap mendapatkan pelajaran sekolah dari buku-buku yang di-suplai oleh Tuan Kleimann dan Tuan Kugler.

Sepanjang waktu di Secret Annex, semua penghuni sering mengalami perdebatan dan perselisihan antar penghuni maupun antar keluarga. Selain itu, mereka juga sering mendengar suara sirene meraung-raung yang merupakan peringatan bila ada pesawat udara lawan melintas. Juga tembakan-tembakan di malam hari. Seperti yang ditulisnya: "..Semua orang takut. Malam hari ratusan pesawat terbang melintasi Belanda menuju kota-kota di Jerman, menjatuhkan bom di tanah Jerman. Tiap jam ratusan bahkan ribuan orang terbunuh di Rusia dan Afrika. Tidak ada yang mencegah perang, seluruh dunia dilanda perang, meskipun sekutu telah berusaha, perang belum juga berakhir.." Beberapa kali ada juga percobaan pencurian di gedung tsb. Saat-saat itu, semua orang menahan napas dan begitu ketakutan bahwa persembunyian mereka ditemukan seseorang.

Di tengah-tengah suasana itulah, Anne remaja tumbuh menjadi seorang gadis. Ia membentuk pribadi dan mengatasi ketakutan, kecemasan, ketidakmengertian, dan kenyataan hidup bersama 5 orang dewasa lain yang sering menyalahkan dan menganggapnya bodoh, nakal, lancang, dsb. Padahal, Anne sebenarnya adalah sosok pribadi yang berani, terbuka dan kritis. Namun, karena pada saat itu sikap itu dianggap tabu, dan seorang anak tidak boleh menyatakan pendapatnya, maka hanya pada Kitty-lah Anne dapat menumpahkan seluruh pemikiran dan perasaannya, termasuk gejolak seksualitas pada awal masa pubernya. Anne tidak cocok dengan Ibunya, ia sering mengungkapkan rasa benci pada sang Ibu. Ia tidak suka pada Nyonya Van Dann, dan pada Tuan Dulles yang terpaksa harus berbagi kamar dengannya, dan karena ia dianggap seorang anak kecil, maka Tuan Dulles lebih banyak menguasai kamar mereka. Namun di saat-saat lain, Anne juga merasa menyesal telah menyakiti Ibunya. Khas seorang remaja yang tengah membangun karakternya.

Anne memiliki cara pandang yang mengagumkan sebagai remaja usia 13 tahun saat itu. Ia membenci perang, ketidak-adilan dan kekejaman. "..Aku merasa jahat tidur di tempat tidur yang hangat, sementara di luar banyak sahabat karibku kelelahan atau dipukuli habis-habisan. Aku dibuat takut sendiri sewaktu memikirkan teman-teman yang dijajah oleh monster-monster kejam yang tiada kenal belas kasih. Dan itu semua harus mereka alami, semata-mata karena mereka Yahudi." Di lain kesempatan, "Sepanjang siang dan malam, orang-orang miskin diseret keluar dari rumahnya. Saat anak-anak sekolah pulang, mereka melihat orang tuanya sudah hilang. Saat seorang perempuan pulang dari berbelanja ia menjumpai rumah mereka telah disita dan keluarganya-pun hilang. Semua orang takut." Itulah beberapa penggalan curahan hatinya pada Kitty.

Namun, di tengah ketakutan dan ketidak pastian serta kerinduan yang amat besar akan kebebasan itu, Anne memiliki harapan yang amat tinggi. Dan harapan serta optimisme itulah yang membantunya melewati masa-masa sulitnya. Pada pagi hari atau malam hari saat jendela boleh dibuka, Anne akan duduk di depan jendela lantai paling atas bersama dengan Peter Van Dann dan melihat ke langit. "...Pagi ini saat aku duduk di depan jendela dan sangat lama disana, menatap betapa dalamnya Tuhan dan alam, aku bahagia. Kekayaan, kehormatan, segala sesuatu dapat hilang. Tapi kebahagiaan di dalam hatimu hanya dapat berkurang, ia akan selalu di sana, selama kamu masih hidup untuk membuat dirimu kembali bahagia. Bila kamu merasa sedih, cobalah naik ke loteng pada hari yang indah dan menatap ke luar. Bukan pada rumah-rumah dan atapnya, namun pada langit. Selama kamu dapat menatap langit tanpa rasa takut; kamu akan tahu bahwa kamu suci di dalamnya dan akan menemukan kebahagiaan sekali lagi."

Anne menemukan persahabatan yang indah dengan Peter. Itu juga salah satu hal yang memberikan secercah kegembiraan di tengah suramnya suasana di Secret Annex. Pada malam hari Anne sering naik ke loteng paling atas bersama dengan Peter. Mereka akan duduk berduaan dan memandang langit. Itulah saat-saat paling tenang dan membahagiakan bagi Ann. Simaklah bagian tulisan Anne Frank yang amat terkenal, dan mengilhami banyak orang akan arti kebebasan, cinta dan harapan: "...Sulit dalam masa seperti ini: idealisme, mimpi dan harapan yang dihargai dapat tumbuh dalam diri kami, semuanya hancur oleh realitas yang suram. Suatu kejutan aku tidak meninggalkan semua idealisme-ku, sementara mereka tampak begitu absurd dan tidak praktis. Aku masih berpegang teguh pada mereka karena aku masih percaya, disamping hal lain, bahwa orang pada dasarnya berhati baik. Sangat tidak mungkin bagiku membangun hidupku di atas pondasi kekacauan, kesengsaraan, dan kematian. Aku melihat dunia lambat laun berubah menjadi hutan belantara, aku mendengar suara guruh mendekat, dan suatu hari juga akan membuat kami hancur, aku ikut merasakan penderitaan berjuta-juta orang. Namun saat aku menatap langit, aku merasakan bahwa semuanya akan berubah menjadi lebih baik, dan perang ini akan berakhir, aku juga berpikir, perdamaian dan ketenangan sekali lagi akan kembali. Pada suatu saat aku harus berpegang pada idealismeku. Barangkali waktunya akan tiba, saat aku mampu mewujudkannya."

Tulisan ini ditulis oleh Anne hanya tiga hari sebelum akhirnya Secret Annex ditemukan, dan ke-8 penghuninya ditangkap dan dibawa ke kamp konsentrasi. Anne akhirnya meninggal karena tifus, akibat buruknya gizi dan sanitasi di kamp konsentrasi. Ia meninggal sekitar akhir Pebruari atau awal Maret 1945. Walau ia tak lagi hidup dan tak dapat mewujudkan kebebasan dan kebahagiaan yang ia cita-citakan, namun pengharapannya yang besar akan terus hidup dan mengilhami banyak orang hingga saat ini.

Catatan Fanda:
Anne adalah anak yang cerdas dan berpikiran tajam. Pandangannya tentang kekejaman, perdamaian dan harapan adalah hal-hal yang perlu kita teladani. Kita semua diciptakan sebagai manusia yang sama oleh Tuhan. Bahwa kita lahir dalam etnis tertentu, dibesarkan dengan ajaran agama tertentu, tinggal di negara tertentu, janganlah itu lantas membuat kita saling membenci dan saling menghakimi. Biarlah negara-negara berperang, namun kita secara personal dapat menciptakan kedamaian mulai dari keluarga, teman, dan orang-orang di sekitar kita. Dan yang terpenting, teruslah berharap dan biarkan Tuhan yang menentukan yang terbaik untuk kita.

Saturday, January 10, 2009

To Kill A Mockingbird


Kali ini aku akan mengulas isi sebuah novel klasik yang pernah memenangkan Hadiah Pulitzer pada 1961, dan sejak itu telah menjadi salah satu bacaan wajib hampir semua anak sekolah di Amerika, serta ditetapkan oleh Guiness Book of World Records sebagai novel terlaris sepanjang masa. Aku sudah lama ingin membaca buku ini versi English-nya, tapi baru beberapa hari lalu ketemu versi Indo-nya di Gramed. Pada setiap novel yang aku tulis di blog ini, aku akan menyertakan juga opiniku mengenai pelajaran apa yang kupetik dari novel tsb atau bagaimana novel tsb menyentuh bagi aku. To Kill A Mockingbird ini jelas akan mempengaruhi (kalau bukan merubah) cara pandang anda tentang kasih, prasangka dan hubungan antar manusia. Selamat membaca!

------

By : Harper Lee

To Kill A Mockingbird dapat digolongkan sebagai novel anak-anak atau remaja, karena ditulis seolah-olah dari sudut pandang seorang gadis cilik berusia sembilan tahun. Namun pelajaran tentang hidup, tentang kasih, tentang prasangka dan pelajaran moral tentang bagaimana kita harus menilai orang lain, yang dapat dipetik dari novel ini, membuatnya sebagai buku yang layak (kalau tidak dapat disebut wajib) dibaca semua orang dewasa pada jaman ini. Mungkin kita semua telah mulai melupakan nilai-nilai tersebut, dan perlu pemikiran jernih seorang gadis cilik untuk menyadarkan kita akan nilai-nilai yang lebih luhur dalam hidup ini.

Gadis cilik itu bernama Jean Louise Finch (namun biasa dipanggil ‘Scout’). Ia tinggal di Maycomb County, sebuah kota kecil di negara bagian Alabama, bersama dengan abangnya, Jeremy Finch (biasa dipanggil Jem) yang berusia tigabelas tahun. Scout adalah gadis yang cerdas, berpenampilan tomboy dan suka mengenakan overall (pada saat itu wanita terhormat selalu mengenakan rok dan korset). Sedangkan Jem mewarisi keberanian, keluhuran budi, dan kekritisan berpikir seperti ayahnya. Sang ayah adalah seorang pengacara county, dan merupakan laki-laki terhormat yang selalu menjunjung kesopanan dan kejujuran, serta dengan bijaksana membesarkan kedua anaknya. Namanya Atticus Finch. Salah satu nasihatnya tentang keberanian sejati: “...Keberanian sejati tidak selalu identik dengan lelaki bersenapan. Keberanian adalah saat kau tahu kau akan kalah sebelum memulai, tetapi kau tetap memulai dan kau merampungkannya, apapun yang terjadi”.

Kisah ini ber-setting sekitar tahun 1960-an, jaman dimana perbudakan, rasisme dan perbedaan sosial masih sangat kental di Amerika. Orang Negro dianggap lebih rendah dari orang kulit putih. Dan orang kulit putih yang tidak terpelajar dianggap lebih rendah dari mereka yang berpendidikan dan terhormat. Masing-masing tingkatan tidak boleh bergaul satu sama lain, dan mereka yang melanggarnya, beresiko untuk dikucilkan dari ‘kaum’nya. Keluarga Finch-pun memiliki seorang budak berkulit hitam yang bernama Calpurnia. Di Maycomb juga tinggal warga kulit hitam lain, namun rumah-rumah mereka terletak di bagian lain kota.

Tinggal di kota kecil membuat Scout dan Jem mengenal dengan baik para tetangga, yang oleh Harper Lee-si pengarang, digambarkan secara sangat rinci watak serta cara berpikir masing-masing. Dalam perjalanan hidup kakak beradik ini, mereka akan berhadapan dengan berbagai peristiwa kecil yang melibatkan para tetangga ini. Contohnya Mrs. Dubose yang sudah tua dan lemah, namun menyeramkan karena cara bicaranya yang begitu tajam dan suka marah-marah. Atau Mr. Arthur Radley (Boo Radley) yang misterius. Ia tinggal di rumah yang selalu gelap, sepi, menyeramkan, dan tak pernah terlihat keluar rumah. Kedua tokoh diatas sangat ditakuti oleh Jem dan Scout.

Namun setelah beberapa peristiwa yang mereka alami dengan tokoh-tokoh itu, mereka belajar bahwa hidup itu tidak selalu hitam dan putih. Ada banyak hal yang tersembunyi dari pandangan kita, yang hanya akan kita pahami apabila kita mau meletakkan diri kita di tempat orang lain berdiri. Jem, yang dihukum oleh Mrs. Dubose untuk membacakannya buku setiap hari setelah pulang sekolah, tidak bisa mengerti mengapa ia selalu saja dimarah-marahi oleh si nenek tua itu. Jem dan Scout menganggap Mrs. Dubose adalah makhluk yang jahat dan kejam. Namun, apakah memang benar begitu? Jika Jem dan Scout mau mencoba memahami situasi dan kondisi yang dialami Mrs. Dubose (yang memang tidak pernah beliau ungkapkan), mungkin mereka berdua akan menghadapi Mrs. Dubose dengan cara yang berbeda.

Demikian halnya dengan Boo Radley yang dalam gambaran mereka adalah makhluk jahat dan kejam yang menunggu di dalam rumahnya yang gelap dengan senapan di tangan, siap membunuh anak yang mengganggunya, sehingga setiap kali melewati rumahnya, anak-anak selalu berlari atau paling tidak mempercepat langkah. Padahal, Boo Radley hanyalah seorang manusia, sama seperti mereka. Yang harus mereka lakukan adalah memahaminya.

Hingga usianya yang ke-sembilan tahun, Scout menjalani hidup yang biasa-biasa saja, bermain dan pergi ke sekolah bersama abangnya Jem. Sampai pada suatu musim panas yang akan mengubah seluruh hidup mereka, yakni ketika ayah mereka harus membela kasus seorang klien kulit hitam yang dituduh memperkosa seorang gadis kulit putih. Keluarga Finch mengalami masa-masa sulit, karena orang Negro dianggap sampah masyarakat, dan tidak pantas bagi seorang terhormat di kota itu untuk membelanya. Kecaman terus berdatangan, dan selama proses itu, Scout dan Jem mendapatkan banyak pelajaran tentang manusia. Menarik juga merenungkan perdebatan kedua anak ini, yang tengah berusaha memahami tentang perbedaan. Jem berpendapat bahwa manusia itu terbagi atas empat tipe, yang masing-masing diwakili oleh pribadi-pribadi unik para tetangga mereka. Jem berpikir bahwa perbedaan itu disebabkan level kepandaian dan tingkat pendidikan mereka. Namun Scout menyanggah, karena pada saat baru lahir, toh semua manusia itu sama saja. Inilah pertanyaan yang dikemukakan Jem, pertanyaan yang ada di benak seorang anak lugu, namun yang seringkali justru luput dari benak (dan terutama hati nurani) kita: “...Kalau hanya ada satu jenis manusia, mengapa mereka tidak bisa rukun? Kalau mereka semua sama, mengapa mereka merepotkan diri untuk saling membenci?...”

Catatan Fanda : Dari novel ini, aku disadarkan (lagi!) bahwa semua manusia pada hakekatnya sama. Kita semua adalah ciptaan Tuhan. Yang membedakan kita adalah cara berpikir. Jadi kalau demikian, sudah seharusnyalah kita tidak membedakan perlakuan kita terhadap sesama, meskipun keadaan kita berbeda. Dan hanya dengan kasih, maka kita akan mampu menegakkan keadilan.

Mengapa Mockingbird?

Mockingbird adalah seekor burung yang sangat merdu saat berkicau. Membunuh seekor mockingbird berarti membunuh seekor makhluk yang tidak berdosa, yang tak pernah menyakiti kita, padahal tujuannya hidup di dunia ini adalah demi kebaikan manusia, yaitu untuk menyanyikan nada-nada indah yang menghibur manusia.

Tentang Novel Ini

Harper Lee adalah seorang pengarang jenius (sayangnya To Kill A Mockingbird adalah satu-satunya novel yang ia hasilkan). Dengan mengambil sudut pandang seorang anak, ia mampu menyajikan suatu karya yang menghibur, membuat kita tertawa (akan keluguan anak-anak), membawa kita bertualang (tegang), sekaligus mengusung nilai dan pendidikan moral yang sangat dalam (cara Atticus mendidik, memperlakukan dan menasihati anak-anaknya patut ditiru oleh semua orang tua yang ingin anak-anaknya tumbuh dengan nilai-nilai yang luhur).

Akhirnya, seperti yang tercantum dalam sinopsis buku ini: Sebuah keadilan hanya dapat dilahirkan dari rasa cinta, yang tak membedakan apa pun latar belakang seseorang.