Pages

Pages 2

Saturday, January 10, 2009

To Kill A Mockingbird


Kali ini aku akan mengulas isi sebuah novel klasik yang pernah memenangkan Hadiah Pulitzer pada 1961, dan sejak itu telah menjadi salah satu bacaan wajib hampir semua anak sekolah di Amerika, serta ditetapkan oleh Guiness Book of World Records sebagai novel terlaris sepanjang masa. Aku sudah lama ingin membaca buku ini versi English-nya, tapi baru beberapa hari lalu ketemu versi Indo-nya di Gramed. Pada setiap novel yang aku tulis di blog ini, aku akan menyertakan juga opiniku mengenai pelajaran apa yang kupetik dari novel tsb atau bagaimana novel tsb menyentuh bagi aku. To Kill A Mockingbird ini jelas akan mempengaruhi (kalau bukan merubah) cara pandang anda tentang kasih, prasangka dan hubungan antar manusia. Selamat membaca!

------

By : Harper Lee

To Kill A Mockingbird dapat digolongkan sebagai novel anak-anak atau remaja, karena ditulis seolah-olah dari sudut pandang seorang gadis cilik berusia sembilan tahun. Namun pelajaran tentang hidup, tentang kasih, tentang prasangka dan pelajaran moral tentang bagaimana kita harus menilai orang lain, yang dapat dipetik dari novel ini, membuatnya sebagai buku yang layak (kalau tidak dapat disebut wajib) dibaca semua orang dewasa pada jaman ini. Mungkin kita semua telah mulai melupakan nilai-nilai tersebut, dan perlu pemikiran jernih seorang gadis cilik untuk menyadarkan kita akan nilai-nilai yang lebih luhur dalam hidup ini.

Gadis cilik itu bernama Jean Louise Finch (namun biasa dipanggil ‘Scout’). Ia tinggal di Maycomb County, sebuah kota kecil di negara bagian Alabama, bersama dengan abangnya, Jeremy Finch (biasa dipanggil Jem) yang berusia tigabelas tahun. Scout adalah gadis yang cerdas, berpenampilan tomboy dan suka mengenakan overall (pada saat itu wanita terhormat selalu mengenakan rok dan korset). Sedangkan Jem mewarisi keberanian, keluhuran budi, dan kekritisan berpikir seperti ayahnya. Sang ayah adalah seorang pengacara county, dan merupakan laki-laki terhormat yang selalu menjunjung kesopanan dan kejujuran, serta dengan bijaksana membesarkan kedua anaknya. Namanya Atticus Finch. Salah satu nasihatnya tentang keberanian sejati: “...Keberanian sejati tidak selalu identik dengan lelaki bersenapan. Keberanian adalah saat kau tahu kau akan kalah sebelum memulai, tetapi kau tetap memulai dan kau merampungkannya, apapun yang terjadi”.

Kisah ini ber-setting sekitar tahun 1960-an, jaman dimana perbudakan, rasisme dan perbedaan sosial masih sangat kental di Amerika. Orang Negro dianggap lebih rendah dari orang kulit putih. Dan orang kulit putih yang tidak terpelajar dianggap lebih rendah dari mereka yang berpendidikan dan terhormat. Masing-masing tingkatan tidak boleh bergaul satu sama lain, dan mereka yang melanggarnya, beresiko untuk dikucilkan dari ‘kaum’nya. Keluarga Finch-pun memiliki seorang budak berkulit hitam yang bernama Calpurnia. Di Maycomb juga tinggal warga kulit hitam lain, namun rumah-rumah mereka terletak di bagian lain kota.

Tinggal di kota kecil membuat Scout dan Jem mengenal dengan baik para tetangga, yang oleh Harper Lee-si pengarang, digambarkan secara sangat rinci watak serta cara berpikir masing-masing. Dalam perjalanan hidup kakak beradik ini, mereka akan berhadapan dengan berbagai peristiwa kecil yang melibatkan para tetangga ini. Contohnya Mrs. Dubose yang sudah tua dan lemah, namun menyeramkan karena cara bicaranya yang begitu tajam dan suka marah-marah. Atau Mr. Arthur Radley (Boo Radley) yang misterius. Ia tinggal di rumah yang selalu gelap, sepi, menyeramkan, dan tak pernah terlihat keluar rumah. Kedua tokoh diatas sangat ditakuti oleh Jem dan Scout.

Namun setelah beberapa peristiwa yang mereka alami dengan tokoh-tokoh itu, mereka belajar bahwa hidup itu tidak selalu hitam dan putih. Ada banyak hal yang tersembunyi dari pandangan kita, yang hanya akan kita pahami apabila kita mau meletakkan diri kita di tempat orang lain berdiri. Jem, yang dihukum oleh Mrs. Dubose untuk membacakannya buku setiap hari setelah pulang sekolah, tidak bisa mengerti mengapa ia selalu saja dimarah-marahi oleh si nenek tua itu. Jem dan Scout menganggap Mrs. Dubose adalah makhluk yang jahat dan kejam. Namun, apakah memang benar begitu? Jika Jem dan Scout mau mencoba memahami situasi dan kondisi yang dialami Mrs. Dubose (yang memang tidak pernah beliau ungkapkan), mungkin mereka berdua akan menghadapi Mrs. Dubose dengan cara yang berbeda.

Demikian halnya dengan Boo Radley yang dalam gambaran mereka adalah makhluk jahat dan kejam yang menunggu di dalam rumahnya yang gelap dengan senapan di tangan, siap membunuh anak yang mengganggunya, sehingga setiap kali melewati rumahnya, anak-anak selalu berlari atau paling tidak mempercepat langkah. Padahal, Boo Radley hanyalah seorang manusia, sama seperti mereka. Yang harus mereka lakukan adalah memahaminya.

Hingga usianya yang ke-sembilan tahun, Scout menjalani hidup yang biasa-biasa saja, bermain dan pergi ke sekolah bersama abangnya Jem. Sampai pada suatu musim panas yang akan mengubah seluruh hidup mereka, yakni ketika ayah mereka harus membela kasus seorang klien kulit hitam yang dituduh memperkosa seorang gadis kulit putih. Keluarga Finch mengalami masa-masa sulit, karena orang Negro dianggap sampah masyarakat, dan tidak pantas bagi seorang terhormat di kota itu untuk membelanya. Kecaman terus berdatangan, dan selama proses itu, Scout dan Jem mendapatkan banyak pelajaran tentang manusia. Menarik juga merenungkan perdebatan kedua anak ini, yang tengah berusaha memahami tentang perbedaan. Jem berpendapat bahwa manusia itu terbagi atas empat tipe, yang masing-masing diwakili oleh pribadi-pribadi unik para tetangga mereka. Jem berpikir bahwa perbedaan itu disebabkan level kepandaian dan tingkat pendidikan mereka. Namun Scout menyanggah, karena pada saat baru lahir, toh semua manusia itu sama saja. Inilah pertanyaan yang dikemukakan Jem, pertanyaan yang ada di benak seorang anak lugu, namun yang seringkali justru luput dari benak (dan terutama hati nurani) kita: “...Kalau hanya ada satu jenis manusia, mengapa mereka tidak bisa rukun? Kalau mereka semua sama, mengapa mereka merepotkan diri untuk saling membenci?...”

Catatan Fanda : Dari novel ini, aku disadarkan (lagi!) bahwa semua manusia pada hakekatnya sama. Kita semua adalah ciptaan Tuhan. Yang membedakan kita adalah cara berpikir. Jadi kalau demikian, sudah seharusnyalah kita tidak membedakan perlakuan kita terhadap sesama, meskipun keadaan kita berbeda. Dan hanya dengan kasih, maka kita akan mampu menegakkan keadilan.

Mengapa Mockingbird?

Mockingbird adalah seekor burung yang sangat merdu saat berkicau. Membunuh seekor mockingbird berarti membunuh seekor makhluk yang tidak berdosa, yang tak pernah menyakiti kita, padahal tujuannya hidup di dunia ini adalah demi kebaikan manusia, yaitu untuk menyanyikan nada-nada indah yang menghibur manusia.

Tentang Novel Ini

Harper Lee adalah seorang pengarang jenius (sayangnya To Kill A Mockingbird adalah satu-satunya novel yang ia hasilkan). Dengan mengambil sudut pandang seorang anak, ia mampu menyajikan suatu karya yang menghibur, membuat kita tertawa (akan keluguan anak-anak), membawa kita bertualang (tegang), sekaligus mengusung nilai dan pendidikan moral yang sangat dalam (cara Atticus mendidik, memperlakukan dan menasihati anak-anaknya patut ditiru oleh semua orang tua yang ingin anak-anaknya tumbuh dengan nilai-nilai yang luhur).

Akhirnya, seperti yang tercantum dalam sinopsis buku ini: Sebuah keadilan hanya dapat dilahirkan dari rasa cinta, yang tak membedakan apa pun latar belakang seseorang.



No comments:

Post a Comment

What do you think?