Pages

Pages 2

Monday, September 26, 2011

Treasure Island


Jauh sebelum The Pirates of Caribbean mempesona kita di layar lebar, seorang penulis Skotlandia dari abad 19 telah terlebih dahulu mempopulerkan kisah tentang bajak laut dan perburuan harta karun di pulau tropis Karibia. Treasure Island karya Robert Louis Stevenson ini kemungkinan besar menjadi pelopor terciptanya mitos bajak laut berkaki satu dengan burung kakak tua bertengger di pundaknya, peta harta karun dan perahu model sekunar. Kisah ini pertama kali diterbitkan sebagai buku pada tahun 1883.

Entah mengapa, Robert Louis Stevenson memilih membuka kisah ini dengan kedatangan seseorang bernama Biily Bones yang jelas-jelas dari penampilannya menunjukkan bahwa ia seorang bajak laut. Bajak laut itu bertubuh tinggi besar, dan pada suatu hari ia muncul begitu saja ke penginapan Admiral Benbow di Inggris sambil membawa koper hitamnya yang dijaganya bak harta karun.

Setelah berhari-hari tinggal di penginapan itu, Jim Hawkins --remaja pria berusia 17 tahun putra pemilik penginapan itu—makin tertarik saja pada Billy Bones yang tampaknya sedang bersembunyi. Billy menyuruh Jim berhati-hati bila seseorang berkaki satu yang sangat ditakutinya muncul. Namun sebelum itu terjadi, Billy terserang stroke lalu meninggal.

Ketika menggeledah koper Billy untuk mengambil uang untuk mengganti biaya penginapan, Jim menemukan sebuah bungkusan misterius dan langsung mengambilnya. Untunglah, karena tak lama setelahnya beberapa bajak laut menggeledah penginapan itu untuk mendapatkan bungkusan itu!

Bersama Dokter Livesey dan Hakim Trelawney, Jim menemukan bahwa bungkusan misterius itu adalah sebuah peta harta karun! Sebenarnya sebelum meninggal, Billy sempat bercerita kepada Jim tentang bajak laut paling ditakuti bernama Kapten Flint, dengan siapa ia dulu berlayar bersama. Tampaknya (dan sebenarnya inilah awal mula kisah ini yang sebenarnya) Kapten Flint pernah menyembunyikan harta karun jarahannya bersama anak buahnya di kapal Walrus, di sebuah pulau di Karibia. Tak seorang pun anak buahnya yang tahu lokasinya, dan peta yang dibuatnya akhirnya diwariskan ke Billy Bones. Tentu saja, kini para mantan anak buahnya mengejar Billy dan peta itu.

Dengan peta harta karun di tangan, maka dimulailah petualangan mencari harta karun. Berlayar dengan kapal Hispaniola, Dokter Livesey, Hakim Trelawney, Kapten Smolett dan kawan kita Jim pun menuju ke Karibia. Semuanya bersemangat demi petualangan di laut. Bayangkan serunya suasana di kapal dengan sesekali terdengar nyanyian itu…

“Lima belas orang di dalam peti mati---
Yo-ho-ho dan sebotol rum!”

Namun, petualangan yang semula nampak mengasyikkan itu tak lagi asyik ketika Jim secara tak sengaja mendengar percakapan juru masak kapal dan awak lainnya, saat ia duduk-duduk di dalam tong apel. Siapakah si juru masak yang berkaki satu dengan kakaktua bertengger di bahunya itu? Apakah ia bajak laut berkaki satu yang ditakuti Billy Bones? Kalau begitu mengapa ia ikut dalam pelayaran mencari harta karun ini?

Seperti biasanya, di mana ada harta karun, pastilah akan ada pertarungan dan perebutan di situ. Dan cerita pun bergulir makin cepat dan makin seru saat kapal telah berlabuh di pulau harta karun. Kubu manakah yang akan menemukan harta karun itu lebih dulu?

Karakter paling menarik di kisah ini, tentu saja, adalah kawan kita Jim Hawkins. Sebagai anggota termuda petualangan ini, jangan mengira Jim hanya menjadi awak kapal semata. Paling tidak tiga kali Jim menjadi penyelamat kawan-kawannya berkat campuran antara kenakalan, keberanian dan nasib baik. Boleh dibilang ada semacam transformasi karakter di sini, dari Jim si anak pemilik penginapan, menjadi Jim si pemberani.

Di sisi lain ada Long John Silver si kaki satu, tentu saja. Satu kata yang tepat untuk menggambarkannya adalah: cerdik. Jelas Silver tak seperti bajak laut lainnya, dan ia ditakuti oleh kawan-kawannya karena kecerdikannya. Silver adalah karakter yang eksotis, ada dua sisi dalam karakternya yang akan membuat pembaca agak bingung, namun justru semakin membuat kisah ini semakin seru dan tegang.

Ada lagi yang menarik dari kisah Treasure Island ini. Robert Louis Stevenson rupanya menempatkan beberapa unsur sejarah dalam kisah ini. Salah satunya adalah para bajak laut bernama England, Roberts, Israel Hands dan Kapten Kidd yang disebut-sebut di kisah ini. Mereka memang bajak laut-bajak laut yang pernah hidup dalam sejarah.

Treasure Island pasti telah melambungkan banyak imajinasi remaja dari jaman dulu hingga sekarang. Aku sendiri selalu senang membaca kisah-kisah yang ada unsur pelayaran, dengan kapal maupun kapal selam. Dan Robert Louis Stevenson telah dengan piawai membawa imajinasiku jauh ke Karibia. Empat botol rum untuk Treasure Island, dan tentu saja…. Yo-ho-hooo!

Judul: Treasure Island
Penulis: Robert Louis Stevenson
Penerbit: Atria
Terbit: April 2011
Tebal: 354 hlm

Thursday, September 22, 2011

Uncle Tom's Cabin

"Jadi, Andalah wanita mungil yang menulis buku yang memicu perang besar ini?". Pertanyaan itu konon terlontar dari mulut seorang presiden Amerika Serikat, Abraham Lincoln, suatu hari di bulan November 1862 saat bertemu dengan seorang wanita. Aku tak tahu pasti tentang mungil atau tidaknya tubuh si wanita, namun aku percaya bahwa salah satu buku yang ia tulis bisa jadi telah memicu sebuah perang besar. Perang yang dimaksud adalah Perang Saudara yang terjadi di abad 19. Wanita yang dimaksud adalah Harriet Beecher Stowe. Jadi...buku apa yang ditulis Mrs. Stowe ini? Tak lain dan tak bukan sebuah novel yang bertutur tentang perbudakan: Uncle Tom's Cabin.


Perang Saudara & latar belakang perbudakan yang menginspirasi Uncle Tom's Cabin

Sebelum Perang Saudara terjadi, sedikitnya ada tujuh negara bagian di Amerika Utara yang masih melegalkan perbudakan. Saat partai Republik memenangkan pemilihan umum dan menjadikan Abraham Lincoln presiden Amerika Serikat, ketujuh negara bagian itu memisahkan diri dari Amerika Serikat dan membentuk sebuah Konfederasi. Agresi militer akhirnya digerakkan oleh Konfederasi, dan menyerang basis militer Amerika Serikat pada April 1861. Perang Saudara.

Perbudakan di Amerika sendiri diperkirakan terjadi mulai sekitar abad 16 dan berakhir pada abad 19. Pada tahun 1850 sebuah undang-undang disahkan oleh Kongres Amerika Serikat. Undang-Undang itu (Fugitive Slave Law= Undang-Undang Budak Buron) melarang warganya untuk membantu para budak yang melarikan diri dari satu negara bagian ke negara bagian lainnya. Pada saat itulah Mrs. Stowe mulai menulis sebuah kisah tentang penindasan dan kemalangan para budak ini. Konon sebagian kisah di buku ini diinspirasi oleh kisah nyata Josiah Henson, seorang budak berkulit hitam yang berhasil melarikan diri ke utara (Kanada), lalu berhasil menolong pula budak-budak lain yang melarikan diri.


Paman Tom

Paman Tom, seperti para budak yang dipekerjakan di pertanian atau peternakan di Amerika, adalah warga Afrika yang berkulit hitam. Ia menjadi tokoh utama di novel ini berkat karakternya yang tenang, bersahaja, jujur, dan terhormat. Namun yang paling menonjol dari Paman Tom adalah ketaatannya kepada Tuhan. Alkitab menjadi harta miliknya yang paling berharga. Dari sanalah ia belajar untuk berbuat baik pada sesama, berkorban untuk mereka yang lebih lemah, dan akhirnya menjadi sumber pengharapannya sendiri ketika ia berada di puncak kesengsaraan. Ia mampu bertahan karena imannya yang teguh pada kemuliaan kekal yang dijanjikan Tuhan dalam ajaran Kristiani.

Awalnya Paman Tom hidup bersama istri dan anak-anaknya di sebuah pondok sederhana di Kentucky. Keluarga mereka menjadi budak milik Tuan & Nyonya Shelby yang baik dan dermawan. Paman Tom sudah dianggap keluarga sendiri dan hidup dalam kebahagiaan. Sayangnya usaha Tuan Shelby terlilit hutang, sehingga Tuan Shelby terpaksa menjual Paman Tom kepada pedagang budak. Bersama Paman Tom, ada seorang budak anak-anak milik Tuan Shelby yang juga hendak dijual.

Eliza

Menguping pembicaraan Tuan dan Nyonya Shelby bahwa Harry, putra semata wayangnya akan dijual kepada pedagang budak, Eliza pun memutuskan untuk melarikan diri. Tujuannya adalah Kanada, ke mana suaminya, George juga telah berjanji untuk melarikan diri sebelumnya. Dan bila Tuhan menghendaki, maka mungkin mereka sekeluarga akan dapat berkumpul kembali dalam keadaan merdeka.

Sementara Eliza yang malang bersama putranya dikejar-kejar dalam pelariannya, Paman Tom amat beruntung karena dibeli oleh pria muda kaya yang ramah dan baik hati bernama Augustine St. Clare ketika berada di kapal yang menuju ke New Orleans. Paman Tom dan Eva bersahabat dekat, karena keduanya memiliki kesamaan dalam kesalehan mereka. Keduanya, dalam banyak kesempatan, banyak mempengaruhi orang-orang di sekitar mereka untuk percaya kepada kemurahan hati Tuhan dan untuk selalu menaruh harapan akan pertolonganNya. Terutama Paman Tom, yang sering menggunakan ayat-ayat Alkitab untuk mencairkan kebencian temannya yang menolak Tuhan.

"Datanglah kepadaKu, engkau yang letih lesu dan berbeban berat, karena Aku akan menyegarkan kamu." ~hlm 482.

Sangat jarang seorang budak yang benar-benar percaya kepada Tuhan. Karena, meski mereka berkesempatan pergi ke gereja, kesengsaraan dan siksaan yang bertubi-tubi membuat iman mereka luntur. Sungguh sulit untuk mempercayai bahwa Tuhan hadir dalam hidup mereka ketika hanya penderitaan yang mereka alami setiap hari.

"Apakah ada Tuhan yang bisa dipercayai? Saya merasa tidak mungkin ada Tuhan di sini. Kalian orang beragama tidak tahu hal-hal semacam ini bisa terjadi kepada kami. Ada Tuhan untuk kalian, tetapi apakah ada Tuhan untuk kami?" (George Harris) ~hlm. 165.

Dalam novel ini kita akan menyaksikan banyak karakter yang menarik. Ada majikan yang baik hati: Tuan & Nyonya Shelby serta Tuan Augustine St. Clare, ada pula majikan yang kejam: Tuan Legree --yang menjadi majikan Paman Tom setelah St. Clare. Ada yang memandang perbudakan sebagai hal yang biasa, dalam hal ini diwakili oleh Marie (istri St. Clare) yang egois dan sangat dangkal pemikirannya. Orang-orang seperti ini memandang ras Anglo Saxon sebagai yang tertinggi, sementara ras kulit berwarna (apapun) lebih rendah kelasnya.

"Tidak ada peradaban tinggi tanpa perbudakan masal, baik nominal maupun kenyataan. Harus ada kelas yang lebih rendah, yang digunakan untuk kerja keras fisik dan dikekang seperti hewan. Dan harus ada kelas yang lebih tinggi yang mendapatkan kesenangan dan kekayaan untuk memperluas kecerdasan dan kemajuan, serta menjadi penguasa dari yang lebih rendah." (Alfred St. Clare) ~hlm. 318.

Ilustrasi pemukulan majikan terhadap budak yang melakukan kesalahan meski sederhana, di gambar ini tampak seorang budak dipecut seperti hewan

Namun ada pula mereka yang percaya bahwa Tuhan menciptakan manusia sederajat, tak peduli ras atau asal usulnya. Mereka diwakili oleh Augustine St. Clare, Eva putrinya, juga George Shelby (putra Tuan & Nyonya Shelby). Sementara di kubu "tengah" ada Nona Ophelia (sepupu St. Clare) yang pada dasarnya mengasihi sesamanya, namun tetap memiliki prasangka terhadap ras lainnya. Sangat menarik menyimak diskusi panjang-lebar St. Clare dan Nona Ophelia tentang perbudakan di bab 19.

Sebenarnya novel ini tidak melulu bercerita tentang Paman Tom dan Eliza saja, ada kisah tentang budak-budak lain dengan penderitaan maupun kisah hidup masing-masing. Namun dari keduanya akan terangkai banyak kisah yang awalnya seolah berdiri sendiri dan tak berhubungan satu sama lain, namun di bagian akhir akan terlihat benang merah yang menghubungkan mereka semua.

Pada akhirnya, novel setebal 610 hlm ini telah mengingatkan aku akan banyak hal. Pertama, bahwa kesombongan manusia dapat membawa akibat yang sangat mengerikan, yaitu ketika manusia memperlakukan sesamanya bagaikan hewan atau benda. Sebelum manusia dapat sepenuhnya menerima konsep bahwa mereka diciptakan sederajat meskipun berbeda, penindasan di atas bumi ini takkan berhenti. Meski mungkin praktek memperdagangkan/membeli budak di pasar dan membuatnya menjadi hak milik sudah lama dihapuskan, namun penindasan sebenarnya masih ada di dunia ini dalam bentuk-bentuk yang sedikit lebih beradab.

Kedua, hanya kebaikan dan kelembutan cinta kasihlah yang dapat mengeluarkan potensi terbaik manusia. Kalau kita ingin mendapatkan respek, kasih dan kesetiaan dari orang lain, maka satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah: melakukan hal yang sama terlebih dahulu kepada orang lain. Dalam novel ini terlihat, bahwa seorang budak menjadi tidak jujur karena selalu diperlakukan jahat oleh majikan. Karena itu, si majikan akan menjadi lebih jahat lagi, dan terus saja lingkaran setan itu berulang.

Ketiga dan yang terpenting, dalam setiap kesusahan dan penderitaan, ingatlah selalu kepadaNya. Karena hanya Dialah yang takkan pernah ingkar janji. Bila kita mengalami kesengsaraan karena melakukan hal yang benar, maka kebahagiaan di rumahNya kelak pasti menjadi milik kita.

Empat bintang kuberikan untuk Uncle Tom’s Cabin, dan satu bintang khusus untuk penerjemahan yang bagus bagi novel ini. Kalau anda sempat mengintip versi asli novel ini dalam bahasa Inggris (lewat google books), anda akan menemukan logat khas orang kulit hitam bertebaran dalam novel ini terutama saat para budak berbicara. Aku menyadari betapa sulitnya menerjemahkan bagian ini tanpa menghilangkan cirri khas yang membedakan logat para budak dengan logat kalangan atas yang lebih berpendidikan. Memang bahasa yang dipakai jadi aneh, mirip bahasa Indonesia ala luar pulau, namun tetap aku salut pada usaha untuk menghadirkan citarasa yang paling mendekati novel aslinya dalam penerjemahannya.

Menutup review ini, ijinkan aku meminjam lagu yang dinyanyikan Paman Tom, yang membuatku makin merasakan betapa hangatnya kasih Tuhan kepada manusia...

"Bumi akan meleleh seperti salju,
Matahari akan berhenti bercahaya;
Tapi Tuhan, yang di sini memanggilku,
Akan jadi milikku selamanya.

"Dan ketika kehidupan fana ini berakhir,
Dan badan serta indra akan tiada,
Aku akan memiliki di dalam tabir,
Kehidupan penuh damai dan sukacita.

"Saat kita sepuluh ribu tahun di sana,
Kemilau berpendar bagai sang mentari,
Kita tetap melantunkan puji syukur kepadaNya,
Seperti saat kita memulai setiap hari."


Judul: Uncle Tom's Cabin
Penulis: Harriet Beecher Stowe
Penerjemah: Istiani Prajoko
Penerbit: Serambi
Terbit: Juli 2011
Tebal: 610 hlm

NB: Tolong beritahu aku kalau ada dari anda yang berhasil menamatkan buku ini tanpa meneteskan air mata barang sekali saja!

Friday, September 9, 2011

Eight Cousins

Kesedihan tak dapat kita panggul sendirian. Kadang kala kita membutuhkan orang lain di luar diri kita untuk membantu menyembuhkannya. Itulah pelajaran yang kudapat dari membaca buku Eight Cousins karya Lousia May Alcott ini. Kisah ini ditulis pada akhir abad 19, dan ditujukan bagi para para gadis remaja yang segera akan memasuki masa dewasa. Louisa meletakkan dasar pembentukan moral bagi seorang wanita pada jaman itu lewat kisah ringan dan ceria ini.

Rose baru berusia tiga belas tahun ketika ayahnya, satu-satunya orang tua yang ia miliki di dunia, pergi meninggalkannya dalam kematian. Sebelum meninggal, ayahnya memberikan hak perwalian bagi Rose kepada saudaranya, seorang pria berpembawaan riang, seorang dokter yang suka berlayar. Rose memanggilnya Paman Alec.

Sambil menunggu Paman Alec pulang dari pelayarannya, Rose dititipkan ke Aunt-Hill. Yah...dari namanya, anda mungkin bisa menebak bahwa Aunt-Hill adalah tempat tinggal para bibi. Terdengar membosankan bukan? Satu bibi sudah cukup, tapi bagaimana dengan enam bibi? Dan para Mrs. Campbell ini, para bibi Rose, tinggal di suatu kompleks yang berdekatan satu sama lain.

Para bibi ini masing-masing mencoba membuat Rose yang berkabung menjadi lebih ceria. Segala cara mereka lakukan. Mendatangkan seorang gadis kecil untuk menemaninya salah satunya, sayang Ariadne Bliss ternyata gadis kecil yang menyebalkan. Lemari boneka dan hal-hal yang harusnya bisa menghibur anak perempuan telah dicoba oleh Bibi Plenty dan Bibi Peace, namun Rose tetap berdiam diri dengan wajah pucat dan tubuh kurus berpenyakitan. Para bibi sudah hampir putus asa....

Para bibi yang hampir putus asa itu menyiapkan sebuah manuver terakhir bagi keponakan malang mereka. Kejutan itu hadir suatu sore dengan cara yang heboh. Tujuh anak laki-laki berbaris di ruang duduk, semuanya berambut kuning dan berpakaian ala Skotlandia. Itulah "Klan". Tak butuh waktu lama bagi Rose untuk mengetahui bahwa mereka adalah sepupu-sepupunya, dan bahwa mereka anak-anak laki-laki yang sangat ribut! Padahal...ssttt...selama ini Rose sangat membenci anak laki-laki dengan semua kelakuan dan kegiatannya.

Tapi "Klan" bukanlah anak laki-laki sembarangan, mereka semua hadir dengan keunikan masing-masing sehingga ujung bibir Rose sudah mulai membentuk senyuman dalam pertemuan pertama ke delapan sepupu ini. Bagaimana tidak, kalau Archie si kepala klan yang tertua dan selalu bersikap terhormat, Charlie "The Prince" yang flamboyan, Mac si kutu buku, Steve "Dandy" yang pesolek, Will & Geordie si bandel, dan si kecil Jamie, semua berkolaborasi untuk menyenangkan nona kecil kita?

Namun kebahagiaan sesungguhnya mendatangi Rose dalam sosok Paman Alec. Ia orang yang ramah, baik hati, penuh perhatian pada "gadis kecil"nya. Paman Alec dulu mencintai ibu Rose, namun ternyata ibu Rose memilih saudaranya. Untungnya Alec tak mendendam, dan kini ia mencurahkan waktu dan pikirannya untuk sebuah proyek besar. Proyek itu adalah mengambil alih pengurusan Rose dari para bibi ke tangannya sendiri, dan membuat Rose menjadi lebih sehat, ceria dan normal. Proyek itu berlangsung selama setahun.

Selama setahun itu Rose perlahan tumbuh menjadi gadis yang ceria dan sehat, berwawasan luas serta dipersiapkan menjadi seorang wanita yang "baik", meski tetap keceriaan remajanya tetap muncul. Paman Alec memberikan contoh yang baik bagi remaja putri. Alih-alih mengenakan gaun berat berkorset plus high heels, Paman Alec memilihkan pakaian yang nyaman dan sederhana bagi Rose, yang justru menampilkan kecantikan seorang gadis remaja. Kegiatan-kegiatan di luar rumah membuat Rose sehat dan segar. Sementara pelajaran-pelajaran keilmuan dari Paman Alec serta ketrampilan mengurus rumah tangga dari para bibi, mempersiapkan Rose menjadi ibu rumah tangga yang tetap berwawasan.

Banyak petualangan seru dan asyik dijalani Rose bersama Paman Alec dan tujuh sepupunya. Namun di sela kegembiraan itu, Rose juga sempat melakukan "pengorbanan". Ia mengorbankan saat-saat indah liburan di pulau demi Phebe, gadis pelayan yatim piatu yang ia angkat menjadi saudaranya. Ia juga meluangkan waktu untuk menemani Mac saat anak laki-laki itu menderita sakit mata. Dan saat ada pertengkaran di antara sepupunya, Rose-lah yang mendamaikan mereka.

Akhirnya, setelah masa setahun itu selesai, Rose harus memutuskan di mana dan bersama siapa ia akan tinggal setelah itu. Siapa yang paling dicintainya dan paling membahagiakan hidupnya?

Eight Cousins ini jelas buku yang membawa kegembiraan bagi pembacanya, tapi di dalamnya juga tersisip pelajaran moral yang baik bagi remaja pada umumnya, dan remaja putri khususnya. Persahabatan, pengorbanan, kepercayaan, dan baaanyaaak keceriaan akan anda temukan di sini. Tiga bintang untuk kedelapan sepupu ini!

Judul: Eight Cousins
Penulis: Louisa May Alcott
Penerbit: Orange Books (Mizan group)
Terbit: Februari 2011
Tebal: 375 hlm

Wednesday, September 7, 2011

The Iliad of Homer

Homer dikenal sebagai seorang penyair epik terbesar di dunia barat yang berasal dari Yunani. Dua karya terbesarnya, The Iliad dan The Odyssey berkisah tentang sebuah perang besar yang terjadi antara Yunani dan Troy, yang dikenal dengan Perang Troy. The Iliad, yang ditulis pertama kali oleh Homer, menuturkan tahun-tahun akhir Perang Troy yang dalam sejarah diperkirakan terjadi selama 10 tahun, di sekitar tahun 1200 SM. Aslinya, The Illiad berbentuk puisi, namun Penerbit Oncor Semesta Ilmu telah menerjemahkannya bagi kita dalam bentuk sebuah cerita, sehingga lebih mudah untuk dicerna.

Paris atau Alexandrus adalah Pangeran Troy yang telah menyulut Perang Troy. Dalam kunjungannya ke Sparta, ia menculik Helen, ratu Sparta yang saat itu adalah wanita tercantik di dunia. Helen adalah istri Raja Menelaus, adik raja Mycenae: Agamemnon. Agamemnon juga merupakan Raja Agung Achaean (yang terdiri dari banyak kerajaan-kerajaan kecil) atau yang disebut Yunani. Menelaus yang murka meminta Agamemnon adiknya untuk mengangkat senjata dan memerangi bangsa Troy. Kalau masih bingung, anda perlu membaca terlebih dahulu buku tentang awal mula Perang Troy.

The Iliad dibuka dengan perseteruan Agamemnon dengan pahlawan yang menjadi ujung tombak seluruh pasukan Achaean, yakni Achilles dari Phthia. Penyebabnya adalah wabah mematikan yang telah didatangkan oleh dewa Apollo kepada pasukan Achaean. Agamemnon rupanya telah menawan seorang gadis menjadi istrinya. Gadis ini putri seorang pendeta bernama Chryses. Karena Agamemnon tak mau membebaskan putrinya, Chryses memohon bantuan pada Apollo.

Agamemnon yang keras kepala akhirnya setuju untuk memulangkan putri Chryses, namun meminta hadiah pengganti. Hadiah yang ia minta adalah Briseis, gadis milik Achilles. Achilles meradang karena penghinaan Agamemnon dan akhirnya menarik diri dari medan perang. Tak cuma itu, Achilles minta bantuan ibunya, Thetis untuk memberi Troy kemenangan. Dengan itu ia berharap ketika panik karena kalah, Agamemnon akan memohon-mohon dirinya untuk ikut perang dan Briseis akan dikembalikan kepadanya. Jadi Thetis menghadap pemimpin para dewa yakni Zeus di istananya di Olimpus, dan Zeus pun berjanji untuk mengabulkan permohonan Thetis.

Dari sini jelas terlihat bagaimana Homer memasukkan peran dewa-dewi yang banyak berpengaruh dan terlibat dalam kehidupan manusia. Dalam perang Troy ini saja Zeus, Hera (istri Zeus), Athena (putri Zeus), Aphrodite, Poseidon, Ares dan Apollo tercatat sering membantu kedua belah pihak yang berperang. Kadang-kadang bahkan terkesan manusia itu layaknya alat bagi para dewa. Kita jadi dibuat berpikir, sebenarnya yang berperang ini dewa melawan dewa atau manusia melawan manusia?

Hampir di sepanjang buku ini dikisahkan peperangan yang seimbang antara Achaean dan Troy. Berkali-kali Achaean memukul mundur Troy, dan berkali-kali pula Troy balas menyerang setelah mendapat suntikan semangat dari Hector, putra tertua Raja Troy, Priam, yang merupakan pemimpin dari pihak Troy. Begitu juga sebaliknya, ketika pasukan Achaean melemah ketika diserang pasukan Troy, Diomedes yang paling berani di antara pahlawan Achaean akan maju dan membunuh banyak ksatria di pihak Troy untuk mengobarkan kembali semangat pasukannya.

Dan di sepanjang waktu itu para dewa turut menyaksikan sekaligus mengontrol jalannya peperangan. Tak heran bahwa Perang Troy dapat berlangsung hingga sepuluh tahun, karena begitu salah satu pihak kalah, dewa akan melindungi mereka. Aphrodite, Apollo dan Zeus adalah dewa-dewi yang membantu Troy, sementara di pihak Achaean ada Hera, Athena dan Poseidon. Keberadaan para dewa yang membantu manusia ini dipercaya sebagai hiasan yang dipakai Homer untuk mempercantik kisah epik ini.

Pada satu titik, Hector mampu mengobrak-abrik pertahanan Achaean sehingga Agamemnon yang terdesak merayu Achilles untuk membantu mereka berperang. Achilles yang masih sakit hati tetap menolak, bahkan setelah Agamemnon menjanjikannya berbagai hadiah. Pasukan Troy kemudian mematahkan pertahanan Achaean dengan memasuki tembok tinggi dan parit yang dibangun Achaean untuk melindungi kapal-kapal berisi harta rampasan mereka. Hector lalu memerintahkan pasukannya untuk membakar kapal musuh.

Di tengah kepanikan itu, Patroclus --seorang sahabat karib yang paling dicintai Achilles-- tergerak untuk maju perang. Ia mengenakan baju perang Achilles dengan tujuan untuk mengelabui musuh. Majunya Patroclus memang telah direstui Zeus, karena hanya dengan kematian Patroclus di medan perang, Achilles akan sedih dan ingin membalas dendam. Dengan demikian, ia pun akan berdamai dengan Agamemnon dan maju berperang untuk merebut kemenangan bagi Achaea. Dan itulah yang terjadi. Patroclus akhirnya terbunuh di tangan Hector, maka kini Achilles mengincar Hector untuk membalaskan dendam!

ilustrasi ketika Achilles bertarung dengan Hector


Berhasilkah Achilles membunuh Hector? Dan apakah para dewa yang membela Troy akan melindungi Hector? Menarik untuk membaca bagian-bagian akhir buku ini yang menyisakan adegan seru yang heroik sekaligus mengharukan. Perang Troy merupakan salah satu perang terbesar yang pernah terjadi dalam sejarah, dan Homer telah berhasil merangkumnya agar kita boleh menikmati kisah terhebat tentang keberanian, cinta, ambisi dan kepahlawanan sepanjang masa ini. Empat bintang untuk The Iliad!


Judul: The Iliad of Homer
Penulis: Homer
Sumber: The Iliad of Homer (The Project Gutenberg Etext of The Iliad, translated by Samuel Butler)
Penerbit: Oncor Semesta Ilmu
Terbit: 2011
Tebal: 248 hlm