Pages

Pages 2

Monday, September 26, 2011

Treasure Island


Jauh sebelum The Pirates of Caribbean mempesona kita di layar lebar, seorang penulis Skotlandia dari abad 19 telah terlebih dahulu mempopulerkan kisah tentang bajak laut dan perburuan harta karun di pulau tropis Karibia. Treasure Island karya Robert Louis Stevenson ini kemungkinan besar menjadi pelopor terciptanya mitos bajak laut berkaki satu dengan burung kakak tua bertengger di pundaknya, peta harta karun dan perahu model sekunar. Kisah ini pertama kali diterbitkan sebagai buku pada tahun 1883.

Entah mengapa, Robert Louis Stevenson memilih membuka kisah ini dengan kedatangan seseorang bernama Biily Bones yang jelas-jelas dari penampilannya menunjukkan bahwa ia seorang bajak laut. Bajak laut itu bertubuh tinggi besar, dan pada suatu hari ia muncul begitu saja ke penginapan Admiral Benbow di Inggris sambil membawa koper hitamnya yang dijaganya bak harta karun.

Setelah berhari-hari tinggal di penginapan itu, Jim Hawkins --remaja pria berusia 17 tahun putra pemilik penginapan itu—makin tertarik saja pada Billy Bones yang tampaknya sedang bersembunyi. Billy menyuruh Jim berhati-hati bila seseorang berkaki satu yang sangat ditakutinya muncul. Namun sebelum itu terjadi, Billy terserang stroke lalu meninggal.

Ketika menggeledah koper Billy untuk mengambil uang untuk mengganti biaya penginapan, Jim menemukan sebuah bungkusan misterius dan langsung mengambilnya. Untunglah, karena tak lama setelahnya beberapa bajak laut menggeledah penginapan itu untuk mendapatkan bungkusan itu!

Bersama Dokter Livesey dan Hakim Trelawney, Jim menemukan bahwa bungkusan misterius itu adalah sebuah peta harta karun! Sebenarnya sebelum meninggal, Billy sempat bercerita kepada Jim tentang bajak laut paling ditakuti bernama Kapten Flint, dengan siapa ia dulu berlayar bersama. Tampaknya (dan sebenarnya inilah awal mula kisah ini yang sebenarnya) Kapten Flint pernah menyembunyikan harta karun jarahannya bersama anak buahnya di kapal Walrus, di sebuah pulau di Karibia. Tak seorang pun anak buahnya yang tahu lokasinya, dan peta yang dibuatnya akhirnya diwariskan ke Billy Bones. Tentu saja, kini para mantan anak buahnya mengejar Billy dan peta itu.

Dengan peta harta karun di tangan, maka dimulailah petualangan mencari harta karun. Berlayar dengan kapal Hispaniola, Dokter Livesey, Hakim Trelawney, Kapten Smolett dan kawan kita Jim pun menuju ke Karibia. Semuanya bersemangat demi petualangan di laut. Bayangkan serunya suasana di kapal dengan sesekali terdengar nyanyian itu…

“Lima belas orang di dalam peti mati---
Yo-ho-ho dan sebotol rum!”

Namun, petualangan yang semula nampak mengasyikkan itu tak lagi asyik ketika Jim secara tak sengaja mendengar percakapan juru masak kapal dan awak lainnya, saat ia duduk-duduk di dalam tong apel. Siapakah si juru masak yang berkaki satu dengan kakaktua bertengger di bahunya itu? Apakah ia bajak laut berkaki satu yang ditakuti Billy Bones? Kalau begitu mengapa ia ikut dalam pelayaran mencari harta karun ini?

Seperti biasanya, di mana ada harta karun, pastilah akan ada pertarungan dan perebutan di situ. Dan cerita pun bergulir makin cepat dan makin seru saat kapal telah berlabuh di pulau harta karun. Kubu manakah yang akan menemukan harta karun itu lebih dulu?

Karakter paling menarik di kisah ini, tentu saja, adalah kawan kita Jim Hawkins. Sebagai anggota termuda petualangan ini, jangan mengira Jim hanya menjadi awak kapal semata. Paling tidak tiga kali Jim menjadi penyelamat kawan-kawannya berkat campuran antara kenakalan, keberanian dan nasib baik. Boleh dibilang ada semacam transformasi karakter di sini, dari Jim si anak pemilik penginapan, menjadi Jim si pemberani.

Di sisi lain ada Long John Silver si kaki satu, tentu saja. Satu kata yang tepat untuk menggambarkannya adalah: cerdik. Jelas Silver tak seperti bajak laut lainnya, dan ia ditakuti oleh kawan-kawannya karena kecerdikannya. Silver adalah karakter yang eksotis, ada dua sisi dalam karakternya yang akan membuat pembaca agak bingung, namun justru semakin membuat kisah ini semakin seru dan tegang.

Ada lagi yang menarik dari kisah Treasure Island ini. Robert Louis Stevenson rupanya menempatkan beberapa unsur sejarah dalam kisah ini. Salah satunya adalah para bajak laut bernama England, Roberts, Israel Hands dan Kapten Kidd yang disebut-sebut di kisah ini. Mereka memang bajak laut-bajak laut yang pernah hidup dalam sejarah.

Treasure Island pasti telah melambungkan banyak imajinasi remaja dari jaman dulu hingga sekarang. Aku sendiri selalu senang membaca kisah-kisah yang ada unsur pelayaran, dengan kapal maupun kapal selam. Dan Robert Louis Stevenson telah dengan piawai membawa imajinasiku jauh ke Karibia. Empat botol rum untuk Treasure Island, dan tentu saja…. Yo-ho-hooo!

Judul: Treasure Island
Penulis: Robert Louis Stevenson
Penerbit: Atria
Terbit: April 2011
Tebal: 354 hlm

No comments:

Post a Comment

What do you think?