Pages

Pages 2

Friday, February 10, 2012

Doctor Zhivago

Nama yang menjadi judul buku ini merupakan sisa-sisa kenangan masa kecilku. Entah pada usia berapa, aku ingat pernah diajak menonton bioskop oleh kedua orangtuaku. Ingatan samar-samarku hanya berisi judul film itu—Doctor Zhivago, tokoh utama prianya yang berkumis tebal (kelak aku tahu pemerannya adalah Omar Sharif), dan adegan—entah awal atau akhir film—seseorang berlari di tengah kemuningnya ladang. Yang paling jelas kuingat justru theme song film ini, yakni lagu Somewhere My Love. Setelah aku dewasa, aku baru mengetahui bahwa film Doctor Zhivago diambil dari sebuah buku yang ditulis Boris Pasternak. Dan kini, lebih dari 30 tahun setelah nonton film itu, barulah aku memiliki kesempatan untuk membaca bukunya.

Doctor Zhivago bersetting di Rusia pada awal abad 20, tepatnya setelah Perang Dunia I. Kisah dibuka dengan sebuah pemakaman. Saat itu Zhivago kecil menjadi yatim piatu setelah ibunya meninggal, sementara ayahnya sudah lebih dulu tiada. Yura—panggilan Zhivago kecil—kemudian diantar oleh pamannya menuju kediaman orang tua angkatnya: keluarga Gromeko. Kemudian kisah berpindah ke sudut pandang seorang bocah teman sekolah Yura yang bernama Misha Gordon. Misha sedang mengingat-ingat kejadian tragis bunuh dirinya seorang pria di kereta api yang ia tumpangi bersama keluarganya. Ternyata pria itu adalah seorang pengusaha bernama Zhivago, yang tak lain dan tak bukan ayah si Yura kecil.

Dari kedua intro itu, kita bisa mulai mengenal gaya bertutur Boris Pasternak. Ia bercerita dari sudut pandang banyak orang, kadang berupa dialog panjang, kadang narasi. Di tiap bab kita akan dihadapkan pada berbagai pertanyaan. Seolah-olah ada begitu banyak kepingan-kepingan puzzle yang tak beraturan dan tak berhubungan. Dan semuanya itu ia jalin sedemikian rupa hingga pelan-pelan terjawablah semua pertanyaan dan terbangunlah sebuah kisah yang menawan.

Kembali ke kisah awal, selain Yura dan Misha, kita pun diperkenalkan pada beberapa tokoh penting lainnya. Ada Tonia (putri keluarga Gromeko) yang kelak menikah dengan Yura—menjadi Yurii Zhivago setelah dewasa. Lalu Lara (Larisa Feodorovna—nama yang cantik bukan?) gadis cantik yang terlalu cepat dewasa dan terlibat affair dengan pengacara keluarga dan pacar ibunya: Komarovsky. Ada juga Pasha, pemuda yang juga tinggal di rumah keluarga di mana Lara tinggal. Lara akhirnya menikahi Pasha dalam kekalutannya akibat hubungannya dengan Komarovsky.

Awalnya kisah mereka tampak tak berhubungan, baru di bab 2 lah Pasternak “mempertemukan” mereka semua dalam sebuah insiden. Setelah itu pecahlah revolusi di Petersburg—yang menurunkan Tsar—dan dimulailah perubahan besar-besaran bagi rakyat Rusia, yang diwakili oleh tokoh-tokoh kita. Melalui mereka semua, kita bisa melihat bagaimana rakyat yang tak bersalah mau tak mau terseret dalam arus perubahan yang dibawa kelompok-kelompok radikal. Bukan saja menjadi miskin secara fisik, namun perang juga memporak-porandakan keluarga.

Pasha bergabung dengan militer karena kecewa dengan perkawinannya. Yurii telah menjadi dokter dan bertugas di Medical Unit. Saat istrinya tengah melahirkan di rumah sakit, Yurii terkena ledakan. Dan ketika siuman, ia dipertemukan dengan Lara yang bekerja sebagai perawat di Rumah Sakit di mana Yurii dirawat. Di titik ini cinta pun tumbuh. Yurii yang sudah sejak kecil memuja Lara meski tetap setia pada Tonia, dan Lara yang mendengar isu bahwa Pasha telah tewas dan baru menyadari bahwa ia tak sepenuhnya mencintai Pasha.

Dari curahan hati Yurii kepada Lara sebelum mereka berpisah, kita dapat memahami apa yang dialami manusia saat perang, yaitu bahwa mereka mau tak mau telah berubah (atau dipaksa berubah oleh perang). Yurii kembali ke Moskow karena tak tahan dengan revolusi, mencoba untuk menemukan kembali hidupnya yang lama bersama Tonia dan putranya: Sasha. Ternyata saat itulah Sovyet akhirnya menguasai Rusia, dan di musim dingin yang tak bersahabat, bencana kemiskinan menghadang. Keluarga Zhivago pun memutuskan untuk pindah ke sebuah kota kecil Varykino.

Akankah Yurii, sang doctor Zhivago mampu menyelamatkan keluarganya? Dapatkah ia--yang telah berubah dalam pribadi dan pemikiran--menjalani kembali hidup yang sama seperti sebelum perang? Bagaimana dengan cintanya yang terbagi antara Tonia dan Lara? Mengapa sebenarnya Yurii mencintai Lara? Dan bagaimana dengan nasib Lara sendiri? Dengan amat perlahan Boris Pastermak akan membawa anda menemukan jawaban-jawabannya, sampai pada akhir kisah ini, yang boleh dibilang tragis namun indah.

Lewat Doctor Zhivago, Pasternak hendak menyoroti efek-efek negatif perubahan yang sedang terjadi di negara Rusia. Seperti kita ketahui, begitu Perang Dunia I usai, kaum proletarian menggulingkan rezim Tsar. Pemerintahan monarki pun tumbang, namun dalam gejolak saat itu—saat di mana belum jelas siapa yang akan berkuasa—seluruh rakyat Rusia turut menderita dalam jungkir baliknya kondisi negara.

“All customs and traditions, all our way of life, everything to do with home and order, has crumbled into dust in the general upheaval and reorganization of society. The whole human way of life has been destroyed and ruined.” ~hlm. 421 (Lara)

“The war is to blame for everything, for all the misfortunes that followed and that hound our generation to this day.” ~hlm. 422 (Lara).

Doctor Zhivago adalah kisah tentang percintaan dan tragedi yang dihadapi manusia. Namun jangan membayangkan nuansa gelap selalu menaungi kisah ini, karena dengan lihainya Pasternak menghujani kita dengan metafora-metafora indah di sepanjang buku ini. Metafora itu membuat hal-hal nan sederhana menjadi terasa begitu indah. Aku kutip beberapa agar anda bisa merasakan sedikit keindahan yang membuatku jatuh cinta pada buku ini!

“It was a clear, frosty autumn night. Thin sheets of ice crumbled under his steps. The sky, shining with stars, threw a pale blue flicker like the flame of burning alcohol over the black earth with its clumps of frozen mud.” ~hlm. 113.
“In the foreshortened view from the bunk it looked as if the train were actually gliding on the water. Only here and there was its smoothness broken by streaks of a metallic blue, but over all the rest of its surface the hot morning sun was chasing glassy patches of light as smooth and oily as melted butter that a cook brushes with a feather on a pie crust.” ~hlm. 246.

Bisakah anda membayangkan pemandangan yang melahirkan untaian kalimat seindah itu? Itulah sebabnya diperlukan waktu yang lama dan suasana yang mendukung untuk membaca buku ini. Bila anda membacanya tergesa-gesa dan hanya mengambil inti cerita saja, anda akan melewatkan banyak keindahan—yang menjadi kekuatan utama buku ini.

Empat bintang untuk Doctor Zhivago, kuhadiahkan kepada Boris Pasternak yang—andai beliau masih hidup—tengah berulang tahun ke 122 tahun tepat pada hari ini, 10 Februari 2012!

Pada akhirnya, perang dan revolusi itu selalu menghasilkan penderitaan, namun toh keduanya diperlukan demi membangun sesuatu yang lebih baik di masa depan: kebebasan. Seperti yang dikatakan Boris Pasternak dalam epilog:

“Although victory had not brought the relief and freedom that were expected at the end of the war, nevertheless the portents of freedom filled the air throughout the postwar period, and they alone defined its historical significance.” ~hlm. 544.
versi film th. 1965 dengan Omar Sharif sebagai Dr. Zhivago & Julie Christie sebagai Lara

Judul: Doctor Zhivago
Penulis: Boris Pasternak
Penerbit: Pantheon Books, Inc.
e-book source: The New American Library
Terbit: unknown
e-pages: 615 hlm

3 comments:

  1. I'm impressed you got through this book! I have also loved this movie ever since I was very young, but have had to work hard to read through this book.

    ReplyDelete
  2. Tidak pernah berhasil menyelesaikan membaca sampai selesai..tragis, suram, pedih....

    ReplyDelete

What do you think?