Pages

Pages 2

Monday, March 19, 2012

[Classic Movie] The Phantom Of The Opera

Di depan sebuah gedung tinggi nan megah namun terbengkalai, berhentilah sebuah kereta kuda. Pintu kereta dibuka, lalu menapaklah sebelah kaki terbungkus sepatu hitam mengkilat ke tanah. Kaki yang pasti milik seorang tua kaya yang sudah lemah. Tubuh lunglai pria tua itu didudukkan ke kursi roda, lalu sepasang pelayan berseragam mendorong kursi roda itu ke dalam gedung yang terbengkalai itu. Dalam nuansa hitam putih yang suram, satu-satunya tanda bahwa gedung itu masih berfungsi adalah spanduk besar yang menyatakan bahwa sebuah pelelangan tengah berlangsung di sana.

Di dalam gedung, si pria tua di kursi roda menangkap pandangan mata seorang wanita tua berbusana hitam lengkap dengan topi dan cadarnya, khas busana wanita di tahun 1919, tahun yang digambarkan saat pelelangan itu berlangsung. Keduanya pasti pernah saling mengenal, dan pelelangan itu nampaknya memiliki makna tersendiri bagi mereka. Kotak musik dengan boneka monyet yang bisa memainkan simbal nampaknya amat berkesan bagi sang pria--yang ternyata dipanggil Vicomte de Chagny, karena begitu memenangkan lelang, ia langsung memandangi kotak musik itu dengan seksama bak sebuah harta yang tak ternilai. Saat si pria hendak pergi, ternyata si kurator mengumumkan bahwa setelah ini mereka akan melelang lampu kristal yang dahulu pernah memancarkan cahayanya nan gemerlap ketika tergantung di tengah sebuah gedung Opera pada masa kejayaannya. Sebelum munculnya Phantom of the Opera...

Gedung yang terbengkalai itu memang dulunya Paris Opera House, dan dengan dibukanya tabir dan dinaikkannya lampu kristal diiringi musik yang dramatis, maka scene pun tiba-tiba berpindah dari kesuraman di tahun 1919 menuju ke gemerlapnya masa lampau--masa kejayaan Gedung Opera itu pada tahun 1870. Maka kisah The Phantom of The Opera yang sesungguhnya pun dimulai di titik ini. Sungguh sebuah pembukaan yang manis dalam film musikal adaptasi yang diambil dari kisah karya Gaston Leroux ini. Meski penonton yang belum membaca bukunya, pasti akan bertanya-tanya siapa sebenarnya pria tua dan wanita tua di adegan pembuka itu.

Selanjutnya kisah bergulir hampir sama dengan kisah asli di buku. Kedatangan dua manajer baru, penyanyi yang menjadi bintang opera saat itu--Carlotta, dan tentu saja Phantom of the Opera yang misterius. Film ini menjadi apik karena dibuat sebagai film musikal. Aku suka dengan lagu-lagunya, terutama lagu "The Phantom of the Opera" yang dinyanyikan Gerard Butler yang berperan sebagai Phantom, dan Emmy Rossum pemeran Christine Daae di film ini.

Ini lagunya:


Selain itu, ada suasana yang "magis" ketika si Phantom menjemput Christine di kamar tidurnya lalu melewati lorong-lorong yang tiba-tiba saja dipenuhi cahaya berpuluh-puluh lilin, mengarungi sungai kecil hingga tiba di "istana" bawah tanah sang Phantom yang bergelimang cahaya dan kemewahan. Mengapa terasa magis? Karena ketika teman Christine menemukan cermin yang terbuka ketika mencari Christine, ia lantas melalui lorong yang sama dengan yang dilalui Christine dan si Phantom, namun lorong itu kini gelap, suram dan penuh dengan sarang laba-laba.

Secara keseluruhan film musikal ini sangat menghibur. Meski sebenarnya kurang menggambarkan sisi gothic dari buku aslinya, namun sebagai karya sinematografi cukup memikat. Penampilan Gerald Butler dan Emmy Rossum yang menyanyikan sendiri lagu-lagu mereka patut diacungi jempol, karena mereka sebenarnya bukan penyanyi, dan baru belajar vokal saat berperan di film ini. Kalaupun ada yang hilang dari kisah aslinya adalah pengungkapan sisi gelap Eric si Phantom dan bilik penyiksaan miliknya. Juga di buku sebenarnya ada 1 lagi tokoh penting yang mengungkap tentang rahasia gelap sang Phantom, selain Madame Giri. Namun secara keseluruhan, film ini mampu merepresentasikan kisah The Phantom of the Opera dengan baik.

Rating: 9/10

Judul film: The Phantom of the Opera
Sutradara: Joel Schumacher
Pemeran: Gerard Butler sebagai Phantom, Emmy Rossum sebagai Christine Daae, dan Patrick Wilson sebagai Raoul

Trailer film ini:

1 comment:

What do you think?