Pages

Pages 2

Saturday, March 31, 2012

Classic Authors of April

Bulan April ini ada cukup banyak penulis klasik yang berulang tahun. Aku berusaha mengulas beberapa yang paling kita kenal di sini. Inilah mereka....


Hans Christian Andersen

Siapa pula yang tak pernah mengenal nama beliau? Bukankah dari kecil kita telah dibuai oleh dongeng-dongeng H.C. Andersen seperti Little Mermaid, Ugly Ducking, Tin Soldier dan Thumbelina? Semua dongeng itu adalah warisan dari Hans Christian Andersen, seorang penulis kelahiran Denmark yang lahir pada 2 April 1805 sebagai anak tunggal. Andersen telah menghibur banyak anak di dunia dengan karya-karyanya yang diterjemahkan ke 150 bahasa. Raja Frederick VI pernah membiayai sebagian pendidikan Andersen, namun tetap saja Andersen harus membiayai dirinya sendiri dengan bekerja di tailor.

Tahun 1822 Andersen mulai menerbitkan kisah pertamanya: The Ghost at Panaltoke’s Grave. Andersen mengaku bahwa masa sekolah adalah masa tergelapnya. Ketika ia tinggal bersama kepala sekolahnya, ia mengalami penyiksaan, dan di sekolah ia dihalang-halangi untuk menulis, yang membuatnya tertekan. Dongengnya yang tak lekang oleh jaman mulai terbit pada tahun 1835. Ketika mengunjungi Inggris, Andersen sempat bertemu dengan Charles Dickens, bahkan sempat menginap di rumah keluarga Dickens selama 5 minggu—yang cukup menjengkelkan keluarga itu…

Sukses menulisnya tak sejalan dengan kisah cintanya. Beberapa kali ditolak wanita, nampaknya Andersen juga memiliki perasaan cinta terhadap beberapa pria—yang juga tak membalas cintanya. Kelak terdapat beberapa spekulasi dari beberapa ahli literature tentang kecenderungan homosuksual yang terselubung dalam karya-karya Andersen.

Émile Zola

Penulis Prancis yang lahir pada 2 April 1840 ini bernama lengkap Émile François Zola. Beliau adalah pelopor aliran naturalisme di bidang literatur, dan memiliki peranan penting dalam liberalisasi politik di Prancis. Lahir di Paris dari keluarga seorang teknisi Italia, Zola sempat pindah ke Aix-en-Provence ketika berusia tiga tahun, namun pada tahun 1858 ia kembali ke Paris bersama ibunya yang telah menjanda dan jatuh miskin. Meski ibunya mendorong Zola untuk menjadi pengacara, namun ia tak lulus ujian, dan malah mulai menulis dalam style romantic yang memang sesuai pada jaman itu. Konon saat ia tak punya uang, Zola sempat mengkonsumsi burung gagak yang kebetulan hinggap di jendela tempat tinggalnya!



Zola juga sempat bekerja sebakai clerk di perusahaan pelayaran dan bagian penjualan di perusahaan penerbitan, namun akhirnya diberhentikan karena novel autobiographical-nya yang berjudul La Confession de Claude mengundang perhatian polisi. Di awal karir menulisnya, Zola menulis beberapa cerita pendek, drama dan essai. Novel pertamanya berjudul Contes à Ninon terbit pada tahun 1864. Setelah menulis novel Therese Raquin (diterbitkan Gramedia), Zola menulis 20 novel berseri dibawah judul Les Rougon-Macquart, yang berkisah tentang 2 keluarga Les Rougon dan Macquart. Zola menjadi kaya setelah publikasi L'Assommoir, sehingga konon pendapatannya bahkan di atas Victor Hugo. Ia digolongkan ke dalam kelompok penulis borjuis, dan bersama Guy de Maupassant dan penulis-penulis lainnya sering mengadakan "cultural dinners".

Pada 13 Januari 1898 Zola membuat kejutan yang dapat membahayakan karirnya (dan kelak nyawanya juga) dengan menerbitkan surat terbuka berjudul J'Accuse! yang muncul di halaman depan harian Paris "L'Aurore". Di surat ini ia membela seorang anggota militer Prancis keturunan Yahudi bernama Alfred Deyfus yang dituduh sebagai mata-mata. Zola memandang tuduhan itu sebagai pelanggaran keadilan dan anti-semit (karena konon kaum anti-semit yang mempengaruhi polisi untuk mencurigai Dreyfus meski tak ada bukti kuat). J'Accuse! dianggap sebagai tonggak kekuatan intelektualisme dalam mempengaruhi opini publik.


7 Februari 1898 Zola diajukan ke pengadilan karena Dreyfus affair itu, namun melarikan diri ke Inggris sebelum sempat dipenjara. Ketika berusia 62 tahun Zola meninggal dunia akibat keracunan karbon monoksida karena cerobong asap yang buntu. Satu dekade kemudian, seorang tukang atap mengaku bahwa ia telah dibayar untuk menutup cerobong asap di rumah Zola. Enam tahun setelah kematiannya, kuburannya dipindahkan untuk dikuburkan bersama dengan Victor Hugo dan Alexandre Dumas.


Washington Irving

Washington Irving adalah penulis Amerika pada era awal abad 19. Ia lahir di New York City pada 3 April 1783. Ibunya memberinya nama "Washington" untuk mengenang pahlawan Revolusi Amerika: George Washington. Washington dikenal sebagai penulis cerita pendek, esai, biographer dan sejarawan. Cerita pendeknya yang paling terkenal adalah The Legend of Sleepy Hollow dan Rip van Winkle. Sedang sebagai biographer, ia pernah menulis biografi George Washington, Oliver Goldsmith dan (Nabi) Muhammad. Washington menunjukkan bakat menulis sejak awal, dan saudara-saudaranya mendukungnya untuk menggeluti karir penulisan. Ia juga pernah menjadi duta besar AS untuk Spanyol selama 4 tahun.

Washington merupakan satu dari beberapa penulis Amerika yang diakui di Eropa, ia pun lalu mendorong penulis-penulis lain seperti Nathaniel Hawthorne, Edgar Allan Poe, dan Herman Melville untuk mengikuti jejaknya. Beberapa penulis Eropa yang menghargai tulisannya, di antaranya Charles Dickens dan Sir Walter Scott. Sebagai penulis Amerika pertama yang mencapai "international best-seller", Washington juga menggagas hukum hak cipta yang lebih kuat di negaranya.


Henry James

Lahir di New York pada 15 April 1843, penulis Amerika bernama lengkap Henry James ini adalah seorang figur penting bagi aliran realisme dalam literatur abad 19. Berasal dari keluarga kaya Henry James, Sr., James menghabiskan 20 tahun awal hidupnya berpindah-pindah antara Amerika dan Eropa, sebelum akhirnya menetap di Inggris. Gaya menulisnya adalah mengambil sudut pandang seorang tokoh dalam cerita, sehingga ia dapat mengeksplorasi isu-isu yang berkaitan dengan kesadaran dan persepsi. Kelak gayanya ini disamakan orang dengan aliran impresionis dalam seni lukis.

Meski sempat belajar hukum, James lebih memilih dunia literatur. Karya pertamanya adalah A Tragedy of Error, sebuah cerita pendek yang terbit saat ia berusia 21 tahun, dan setelah itu mendedikasikan hidupnya untuk menulis. Novel pertamanya adalah War and Ward. Beberapa karya besarnya mencakup: The Portrait of A Lady, The Wings of The Dove, dan Daisy Miller. Setelah Perang Dunia I pecah, James memilih untuk menjadi warganegara Inggris sebagai tanda kesetiaannya, sekaligus tanda pemberontakannya terhadap Amerika yang telah menolak ikut berperang. 5 bulan setelah menjadi WN Inggris, James menderita stroke, lalu meninggal 2 bulan kemudian.


Charlotte Bronte

Charlotte Bronte adalah satu dari tiga perempuan bersaudara Bronte yang menjadi penulis klasik dunia.

Lahir di Inggris pada 21 April 1816, merupakan anak ketiga dari enam bersaudara. Charlotte disekolahkan bersama Emily dan 2 saudara lagi di Cowan Bridge. Kondisi menyedihkan sekolah itu disebut Charlotte telah mempengaruhi kesehatan dan pertumbuhan fisiknya, serta mempercepat kematian Maria dan Elizabeth karena TBC. Setelah keluar dari sekolah, Charlotte bersama Emily, Anne dan Branwell sering menulis cerita fiksi mereka sendiri, yang kemudian menjadi bekal bagi kemampuan menulis mereka ketika dewasa kelak.


Charlotte, Emily dan Anne kemudian patungan membiayai penerbitan puisi-puisi mereka bersama dengan menggunakan nama pena Currer, Ellis dan Acton Bell--karena mereka tak mau dikenal sebagai penulis wanita, khawatir tak dapat bersaing dengan penulis pria. Meski kumpulan puisi itu hanya terjual 2 eksemplar, mereka terus menulis dan masing-masing mulai menulis novel. Novel Charlotte yang paling terkenal adalah Jane Eyre pada tahun 1847. Setelah kesuksesan Jane Eyre, Charlotte mulai menulis novel berikutnya, Shirley pada tahun 1848. Charlotte mengirimkan naskah Shirley ke beberapa penulis senior pada jaman itu, di antaranya Elizabeth Gaskell--yang kemudian berteman dengan Charlotte, dan setelah kematian Charlotte menuliskan biografinya: The Life of Charlotte Bronte. Ketika hamil pertama kalinya, kesehatan Charlotte menurun. Ia sering mengalami mual dan muntah serta kelelahan. Ia akhirnya meninggal dunia bersama dengan bayi yang tak pernah lahir ke dunia, pada 31 Maret 1855, di usianya yang ke 38.


Henry Fielding

Penulis asal Inggris bernama Henry Fielding ini adalah seorang novelis dan penulis drama. Lahir di 22 April 1707, Fielding terkenal karena humor dan satir dalam tulisan-tulisannya. Novelnya yang paling terkenal adalah Tom Jones (The History of Tom Jones, A Foundling). Selain sebagai penulis, Fielding juga berperan dalam membentuk kesatuan polisi pertama untuk London, yang disebut Bow Street Runners, ketika ia menjabat sebagai Magistrat.

Sepanjang hidupnya Fielding dan keluarganya sering harus berjuang dalam kemiskinan. Untunglah ia memiliki pelindung kaya bernama Ralph Allen, yang kelak menjadi inspirasi tokoh Squire Allworthy di novel Tom Jones. Setelah Fielding meninggal, Allen tetap mensupport pendidikan bagi anak-anak Fielding.

Vladimir Nabokov

Penulis asal Rusia bernama lengkap Vladimir Vladimirovich Nabokov ini lahir pada 22 April 1899 dari sebuah keluarga kaya di St. Petersburg. Nabokov dikenal sebagai penulis multi-lingual yang menulis novel, puisi serta cerita pendek. Selain menulis, Nabokov juga seorang lepidopteris (mengumpulkan dan mempelajari spesies kupu-kupu dan ngengat), juga seorang komposer permainan catur. Novel Nabokov yang terbesar (dan terpenting) adalah Lolita, yang terdaftar di no. 4 Modern Library 100 Best Novels.


Nabokov menyebut masa kecilnya sangat indah, dari kecil ia terbiasa berbicara dalam 3 bahasa yang digunakan di keluarganya: Rusia, Inggris, Prancis. Setelah Revolusi Bolshevik, Nabokov sekeluarga terpaksa beremigrasi ke Inggris, di mana Nabokov kuliah di Cambridge. Setelah itu ia menyusul keluarganya ke Jerman. Di Berlin ayah Nabokov tertembak ketika ia melindungi seorang politikus dari tembakan seorang Rusia. Penembakan-salah-alamat ini kelak terus menghantui Nabokov dan muncul di novel-novelnya, di mana tokohnya tertembak karena kesalah-pahaman.

Setelah pindah ke Amerika, Nabokov menulis Lolita ketika dalam perjalanan berburu kupu-kupu ke selatan Amerika Serikat. Ia hampir saja membakar naskah itu, kalau saja tak diselamatkan oleh istrinya Vera, yang adalah sekretaris, editor, manajer bisnis, hingga konsultan hukum bagi Nabokov. Ketika Nabokov meninggal ia sedang menulis novel The Original of Laura, dan novel yang tak tamat itu akhirnya diterbitkan putranya pada 17 November 2009.



William Shakespeare



26 April 1564 sebenarnya adalah hari di mana seorang William Shakespeare dibaptis, sedang tanggal lahirnya sendiri tak diketahui. Kelak ia menjadi penulis dalam bahasa Inggris terbesar , yang telah menyumbangkan banyak karya berupa puisi maupun drama (play). Total ada 38 drama, 154 soneta, dan 2 puisi narasi panjang. Di usia 18 tahun Shakespeare menikah, dan 2 tahun kemudian ia mulai sukses berkarir sebagai aktor, penulis dan pemilik sebagian saham pertunjukan drama King’s Men. Awalnya drama yang dibuat Shakespeare berbentuk komedi atau sejarah. Lalu ia mulai menulis tragedy yang terkenal seperti Hamlet, Machbet, King Lear dan Othello—yang dianggap sebagai beberapa karya terbaik dalam bahasa Inggris.


Kebanyakan dokumen tentang kehidupan Shakespeare tidak ditemukan, dan pada tahun 1585 sampai 1592 ada 7 tahun masa di mana Shakespeare “menghilang dari peredaran”. Banyak spekulasi yang beredar tentang apa yang ia lakukan saat itu, tapi tak satupun yang benar-benar terbukti. Shakespeare “pensiun” di usia 49, dan meninggal dunia pada tahun 1616.

Harper Lee

Pada tanggal 28 April 1926, lahirlah di Alabama seorang bayi perempuan yang diberi nama Nelle Harper E. Lee. Harper kecil tumbuh sebagai anak perempuan tomboy yang suka membaca, dan bersahabat baik dengan anak laki-laki teman sekolah sekaligus tetangganyanya, Truman Capote. Kelak Harper Lee dan Truman Capote akan menjadi dua penulis klasik yang terkenal dari Amerika. Nama Harper Lee melambung berkat satu-satunya novel yang ia tulis: To Kill A Mockingbird, salah satu novel terbaik dunia yang mendapat Pulitzer tahun 1960. Selain menulis novel, Harper juga membantu Truman Capote dengan riset untuk bukunya In Cold Blood.

Ketika kuliah di universitas khusus perempuan, berbeda dengan mahasiswi lain yang suka berdandan, fashion atau kencan, Harper memusatkan perhatian pada pelajaran dan tulisannya. Di usia 23, Harper pindah ke New York dan bekerja sebagai agen tiket. Di sana ia bertemu kembali dengan Truman Capote yang sudah mulai sukses sebagai penulis. Mengetahui bakatnya menulis, atasannya member Harper hadiah sebesar setahun gaji, dengan catatan ia boleh menulis apa yang ia ingini. Harper keluar dari pekerjaannya dan mulai menulis. To Kill A Mockingbird terbit pada 11 Juli 1960 dan langsung menjadi best-seller. Pada 1999 To Kill A Mockingbird terpilih sebagai “Best Novel Of the Century” oleh Library Journal.

Harper Lee kini menghabiskan hidup dari kursi rodanya, setengah buta dan tuli serta menderita hilang ingatan. Pada tahun 2011 ia juga membuat pengakuan mengapa setelah To Kill A Mockingbird ia tak menulis lagi: "Two reasons: one, I wouldn't go through the pressure and publicity I went through with To Kill A Mockingbird for any amount of money. Second, I have said what I wanted to say and I will not say it again."

Jadi…karya siapa dari yang berulang tahun bulan April yang akan anda pilih sebagai bacaan bulan ini?

Thursday, March 29, 2012

Coupeau on L’Assommoir: Character Thursday (5)

Masih dari buku L’Assommoir, inilah tokoh kedua yang aku pilih untuk minggu ini:

Coupeau
(L’Assommoir by Émile Zola)



Coupeau adalah pria dari kelas pekerja di buku L'Assommoir karya Émile Zola. Sebagai tukang atap (roofer), ia termasuk pekerja yang giat. Coupeau mencintai apa yang dikerjakannya, dan ia adalah tukang atap yang handal. Ia pria sederhana, baik dan sopan. Meski kehidupan para pekerja di Paris biasa diwarnai minuman keras dan wanita, tak begitu halnya dengan Coupeau.

Ia jatuh cinta pada Gervaise (tokoh utama wanita), selalu bersikap melindungi dan tak pernah memaksa Gervaise melakukan hal yang tak disukainya. Dengan sabar Coupeau melakukan pendekatan, hingga akhirnya Gervaise setuju untuk menikah dengannya. Pernikahan mereka bahagia, tinggal di rumah sederhana, dengan mengandalkan penghasilan Coupeau, dan Gervaise sebagai tukang cuci. Mereka mampu menabung hingga Gervaise dapat membuka rumah cuci (laundress) sendiri dan menempati rumah yang lebih layak.

Coupeau dalam film, pria baik hati yang mencintai Gervaise

Hingga suatu hari Coupeau tergelincir dan jatuh dari atap, dan kehidupan mereka takkan pernah sama lagi! Terbaring di tempat tidur dan tak bisa bekerja, Coupeau tak pernah mampu menerima nasib malangnya, dan mulai "terjatuh" ke dalam jerat minuman keras. Akhirnya racun itu mengubah Coupeau menjadi pribadi yang berbeda. Egois, tak bertanggung jawab, suka memukul, bahkan kesopanannya digantikan sumpah serapah dalam bahasanya yang kasar.

Sosok Coupeau menggambarkan banyak orang yang menyerah kalah pada kemiskinan dan penderitaan. Mereka adalah sosok-sosok yang kalah dalam pertempuran hidup. Ditambah lagi peran orang-orang di sekitar mereka yang sangat merusak, begitu ingin menarik orang lain ke dalam lembah ke mana mereka telah jatuh duluan. Di akhir novel ini akan digambarkan pula akibat mengerikan minuman keras yang telah meracuni tubuh Coupeau dan tanpa ampun merenggut hidupnya.

Benar-benar potret kehidupan manusia yang dengan sangat gamblang dan intense telah digambarkan oleh Émile Zola.

------

Character Thursday
Adalah book blog hop di mana setiap blog memposting tokoh pilihan dalam buku yang sedang atau telah dibaca selama seminggu terakhir (judul atau genre buku bebas).
- Kalian bisa menjelaskan mengapa kalian suka/benci tokoh itu, sekilas kepribadian si tokoh, atau peranannya dalam keseluruhan kisah.
- Jangan lupa mencantumkan juga cover buku yang tokohnya kalian ambil.
- Kalau buku itu sudah difilmkan, kalian juga bisa mencantumkan foto si tokoh dalam film, atau foto aktor/aktris yang kalian anggap cocok dengan kepribadian si tokoh.

Syarat Mengikuti :
1. Follow blog Fanda Classiclit sebagai host, bisa lewat Google Friend Connect (GFC) atau sign up via e-mail (ada di sidebar paling kanan). Dengan follow blog ini, kalian akan selalu tahu setiap kali blog ini mengadakan Character Thursday Blog Hop.
2. Letakkan button Character Thursday Blog Hop di posting kalian atau di sidebar blog, supaya follower kalian juga bisa menemukan blog hop ini. Kodenya bisa diambil di kotak di button.
3. Buat posting dengan menyertakan copy-paste “Character Thursday” dan “Syarat Mengikuti” ke dalam postingmu.
3. Isikan link (URL) posting kalian ke Linky di bawah ini. Cantumkan nama dengan format: Nama blogger @ nama blog, misalnya: Fanda @ Fanda Classiclit.
4. Jangan lupa kunjungi blog-blog peserta lain, dan temukan tokoh-tokoh pilihan mereka. Dengan begini, wawasan kita akan bertambah juga dengan buku-buku baru yang menarik…

Fanda Classiclit

Monday, March 26, 2012

The Laundress on L’Assommoir - A Classic Challenge March: Setting

Firstly I must admit that this challenge, hosted by November Autums is absolutely challenging. Every month we must deal with certain different topics to discuss from the books we read. For March, it’s about “Setting”. Fortunately, I have chosen L’Assommoir by Émile Zola for my classic reading of March. Zola’s writing always put everyday life strongly in detail. The most interesting setting in L’Assommoir is not the dram shop (l'assommoir) itself, but the laundress of Gervaise (the female protagonist in this book).

"From far away, in the centre of the black row of the other shop-fronts, her shop seems to her full of light, so cheerful and new, with its pale blue sign on which the words "High Quality Laundering" were painting in big yellow letters. In the window which was closed at the back with little muslin curtains and papered in blue to show off the whiteness of the linen, there were mens' shirts displayed and womens' bonnet hung by their ribbons from brass wires. She thought her shop was pretty, the color of the sky. When you went inside there was still more blue, the paper was a copy of a Pompadour chintz, showing a trellis entwined with morning-glories; the workbench was a huge table with a thick cover; it took up two thirds of the space and was draped in a piece of cretonne printed with big bluish leaves, that hid the trestles. Gervaise would sit down on a stool, panting slightly with pleasure, delighted by how beautifully clean it was and gazing fondly at all her new equipment. But invariably her eyes went first to the cast-iron stove, where ten irons could heat at the same time, arranged round the grate on sloping stands."


From that scene I can see that Gervaise is very proud of her new laundress. She set it up neatly and cleanly, which will give a good impression to the neighborhood (her future customers). I think Gervaise is a woman with a business touch, she knows how to attract customers. Laundry equals to cleaning, so a clean shop reflects clean work on laundry. Look at how Gervaise uses white and blue color for the laundress which reflect cleanliness and freshness.

Laundress is a common business in 19th centuries--the setting of this book, which Émile Zola describes very detailed here. It's like I myself sit down together with Gervaise, watching her doing her works, and felt the heat from the stove when they were ironing. I think these are Zola's strength in his writing. The laundress is of course showing Gervaise's up and down. She achieved success with the laundress, and she fell down with it too. We could certainly not change this setting, because the laundress is actually Gervaise's life, as well the heart of this story.

Thursday, March 22, 2012

Gervaise on L’Assommoir [Character Thursday 4]

Kali ini, aku mengambil seorang tokoh dari seorang penulis klasik yang amat intens dalam mengisahkan karakter-karakternya, dia adalah…


Gervaise
(L’Assommoir by Emile Zola)



Gervaise adalah seorang wanita biasa dari kalangan kaum pekerja yang hidup di Paris abad 19. Secara fisik wajahnya cantik dan tubuhnya cukup menawan, sehingga disukai kaum pria. Kisah dibuka ketika Gervaise sedang hidup bersama kekasihnya: Lantier. Ternyata setelah memiliki 2 anak, Lantier yang berjanji akan memberikan kehidupan yang lebih baik, malah tenggelam dalam minuman keras dan berselingkuh, lalu meninggalkan Gervaise dalam kemiskinan begitu saja. Gervaise adalah wanita muda yang giat bekerja dan memiliki moral yang baik bila dibandingkan kaum wanita kelas pekerja lainnya. Ia lalu didekati oleh pria bernama Coupaue yang akhirnya menikahinya.


Meski berasal dari kelas pekerja, Gervaise memiliki visi untuk berbisnis sendiri membuka rumah laundry atau yang biasa disebut laundress. Sayangnya penghasilannya sebagai pencuci baju di sebuah laundress dan penghasilan suaminya sebagai tukang atap tak cukup untuk mewujudkan impian itu. Untungnya ada pria tetangga mereka yang bernama Goujet yang bersedia meminjami Gervaise uang. Maka laundress itu pun dibuka, dan dikelola Gervaise dengan baik sehingga sukses. Sayangnya Coupeau menderita kecelakaan dan karena kecewa tak dapat bekerja, ia pun jatuh ke dalam jerat minuman keras. Lantier pun akhirnya tinggal bersama keluarga mereka. Maka keuangan laundress itu pun mulai terkuras.

Wajah Gervaise yang manis


Gervaise sedang bekerja di laundress-nya dalam film

Gervaise adalah potret sesungguhnya kaum pekerja. Meski rajin bekerja, namun sangat sulit untuk dapat menabung uang untuk meningkatkan taraf hidupnya. Kelemahan Gervaise adalah karena ia terlalu baik pada semua orang. Tanpa melihat kemampuannya, ia menerima Lantier dan ibu mertuanya untuk tinggal bersama mereka. Padahal sebagian penghasilan laundress masih harus dipotong untuk membayar hutang pada Goujet. Belum lagi, begitu Gervaise mampu mendirikan bisnis milik sendiri, ia menjadi angkuh dan suka memamerkan kekayaannya. Ketika menyelenggarakan pesta makan malam misalnya, alih-alih memilih hidangan sederhana, ia memilih hidangan dan anggur mewah, meski untuk itu ia harus berhutang dulu.


Rasanya aku sudah sering melihat kehidupan orang-orang macam Gervaise ini, yang entah karena kurang bijaksana, entah karena terlalu lama terpuruk dalam kemiskinan dan lelah bekerja keras, maka begitu mereka sedikit lebih baik, mereka tak dapat mengelola keuangan, sehingga akhirnya mereka pun tak kunjung dapat mengentaskan diri dan keluarganya ke taraf hidup yang lebih baik.



Sekali lagi, Gervaise hanyalah wanita biasa dan hanya salah satu dari kaum pekerja lainnya…


Monday, March 19, 2012

[Classic Movie] The Phantom Of The Opera

Di depan sebuah gedung tinggi nan megah namun terbengkalai, berhentilah sebuah kereta kuda. Pintu kereta dibuka, lalu menapaklah sebelah kaki terbungkus sepatu hitam mengkilat ke tanah. Kaki yang pasti milik seorang tua kaya yang sudah lemah. Tubuh lunglai pria tua itu didudukkan ke kursi roda, lalu sepasang pelayan berseragam mendorong kursi roda itu ke dalam gedung yang terbengkalai itu. Dalam nuansa hitam putih yang suram, satu-satunya tanda bahwa gedung itu masih berfungsi adalah spanduk besar yang menyatakan bahwa sebuah pelelangan tengah berlangsung di sana.

Di dalam gedung, si pria tua di kursi roda menangkap pandangan mata seorang wanita tua berbusana hitam lengkap dengan topi dan cadarnya, khas busana wanita di tahun 1919, tahun yang digambarkan saat pelelangan itu berlangsung. Keduanya pasti pernah saling mengenal, dan pelelangan itu nampaknya memiliki makna tersendiri bagi mereka. Kotak musik dengan boneka monyet yang bisa memainkan simbal nampaknya amat berkesan bagi sang pria--yang ternyata dipanggil Vicomte de Chagny, karena begitu memenangkan lelang, ia langsung memandangi kotak musik itu dengan seksama bak sebuah harta yang tak ternilai. Saat si pria hendak pergi, ternyata si kurator mengumumkan bahwa setelah ini mereka akan melelang lampu kristal yang dahulu pernah memancarkan cahayanya nan gemerlap ketika tergantung di tengah sebuah gedung Opera pada masa kejayaannya. Sebelum munculnya Phantom of the Opera...

Gedung yang terbengkalai itu memang dulunya Paris Opera House, dan dengan dibukanya tabir dan dinaikkannya lampu kristal diiringi musik yang dramatis, maka scene pun tiba-tiba berpindah dari kesuraman di tahun 1919 menuju ke gemerlapnya masa lampau--masa kejayaan Gedung Opera itu pada tahun 1870. Maka kisah The Phantom of The Opera yang sesungguhnya pun dimulai di titik ini. Sungguh sebuah pembukaan yang manis dalam film musikal adaptasi yang diambil dari kisah karya Gaston Leroux ini. Meski penonton yang belum membaca bukunya, pasti akan bertanya-tanya siapa sebenarnya pria tua dan wanita tua di adegan pembuka itu.

Selanjutnya kisah bergulir hampir sama dengan kisah asli di buku. Kedatangan dua manajer baru, penyanyi yang menjadi bintang opera saat itu--Carlotta, dan tentu saja Phantom of the Opera yang misterius. Film ini menjadi apik karena dibuat sebagai film musikal. Aku suka dengan lagu-lagunya, terutama lagu "The Phantom of the Opera" yang dinyanyikan Gerard Butler yang berperan sebagai Phantom, dan Emmy Rossum pemeran Christine Daae di film ini.

Ini lagunya:


Selain itu, ada suasana yang "magis" ketika si Phantom menjemput Christine di kamar tidurnya lalu melewati lorong-lorong yang tiba-tiba saja dipenuhi cahaya berpuluh-puluh lilin, mengarungi sungai kecil hingga tiba di "istana" bawah tanah sang Phantom yang bergelimang cahaya dan kemewahan. Mengapa terasa magis? Karena ketika teman Christine menemukan cermin yang terbuka ketika mencari Christine, ia lantas melalui lorong yang sama dengan yang dilalui Christine dan si Phantom, namun lorong itu kini gelap, suram dan penuh dengan sarang laba-laba.

Secara keseluruhan film musikal ini sangat menghibur. Meski sebenarnya kurang menggambarkan sisi gothic dari buku aslinya, namun sebagai karya sinematografi cukup memikat. Penampilan Gerald Butler dan Emmy Rossum yang menyanyikan sendiri lagu-lagu mereka patut diacungi jempol, karena mereka sebenarnya bukan penyanyi, dan baru belajar vokal saat berperan di film ini. Kalaupun ada yang hilang dari kisah aslinya adalah pengungkapan sisi gelap Eric si Phantom dan bilik penyiksaan miliknya. Juga di buku sebenarnya ada 1 lagi tokoh penting yang mengungkap tentang rahasia gelap sang Phantom, selain Madame Giri. Namun secara keseluruhan, film ini mampu merepresentasikan kisah The Phantom of the Opera dengan baik.

Rating: 9/10

Judul film: The Phantom of the Opera
Sutradara: Joel Schumacher
Pemeran: Gerard Butler sebagai Phantom, Emmy Rossum sebagai Christine Daae, dan Patrick Wilson sebagai Raoul

Trailer film ini:

Friday, March 16, 2012

[Opini] Mengapa Harus Sastra Klasik?

Di saat dunia perbukuan di seluruh dunia sedang dilanda serbuan novel-novel fantasi bertema paranormal, aku bertanya-tanya dalam hati mengapa orang begitu menggandrungi genre ini? Suatu hari ketika melewati bioskop XXI yang sedang dijejali manusia yang ingin menonton sekuel terakhir Harry Potter, aku dan papaku sempat mendiskusikan fenomena fiksi paranormal yang melanda kehidupan kita. Menurut analisa papaku, manusia sudah jenuh dengan kehidupan. Jenuh dengan dunia yang penuh kejahatan dan degradasi moral. Mereka butuh pelarian. Kemana? Agama? Mereka bahkan berpikir Tuhan sudah melupakan mereka. Maka mereka mencari dunia di luar dunia--a world beyond our world. Dunia paranormal menyajikan sesuatu yang tak dibatasi oleh keterbatasan manusia. Di situ mereka bisa menciptakan pahlawan mereka sendiri yang dapat mengatasi apapun, melawan apapun.

Yah, kupikir benar juga argumen papaku. Dan di kondisi seperti ini, bisa dipahami bahwa orang kurang--atau bahkan tak lagi--menggandrungi sastra klasik. Sederhana saja alasannya menurutku, karena kisah-kisah klasik menawarkan kenyataan hidup. Kalau kita sendiri sudah muak dengan hidup, buat apa lagi membaca kehidupan orang lain yang malah membuat kita makin depresi? Mungkin begitu pendapat kebanyakan orang. Mengapa tidak beralih saja ke genre fantasi atau humor yang bisa menghibur?

Aku tak setuju. Menurutku justru dalam kisah-kisah klasik lah kita akan banyak belajar nilai-nilai tentang kehidupan, yang dapat diaplikasikan ke dalam hidup kita sendiri. Mungkin kita bisa sejenak 'berlibur' ke dunia khayalan, seperti halnya kita bermimpi saat tidur, namun begitu terjaga kita mau tak mau kembali ke kehidupan nyata. Kisah-kisah klasik disebut atau dikategorikan sebagai "klasik" karena ia memiliki nilai-nilai yang dapat bermanfaat bagi manusia. Dan hal itu sudah teruji hingga bertahun-tahun, bahkan kadang ratusan tahun, sehingga kita tak mungkin dapat membantahnya.

Gambar dipinjam dari sini

Kisah klasik memang sudah usang. Namun meski kisah klasik bersetting di masa lalu, nilai yang dibawanya tetap relevan hingga jaman modern. Dan menurutku, justru di jaman modern, di mana nilai moral mengalami degradasi, kisah klasik menjadi sangat dibutuhkan. Bayangkan bagaimana jadinya bila generasi muda kita selalu dicekoki dengan konsep-konsep yang tidak nyata, ketika mereka kelak harus berhadapan dengan kenyataan hidup, akankah mereka siap menghadapinya? Kisah klasik akan membentuk moral mereka dengan lebih baik, memberi wawasan akan kehidupan nyata, meski lewat kisah-kisah fiktif.

Aku sudah banyak membaca macam-macam genre fiksi. Bahkan fiksi seperti harlequin atau komedi-humor pernah kubaca meski hanya sebagai selingan. Menurutku pribadi mereka memang menghibur, tapi (kebanyakan) kurang memiliki nilai-nilai yang bermanfaat. Setelah tamat, ya kuletakkan saja. Tanpa ada sesuatu yang dapat kurenungkan dan kupelajari. Berbeda dengan saat menekuni fiksi klasik, yang sering banyak mengajariku tentang kehidupan nyata, beragam kepribadian manusia, kesulitan mereka dan bagaimana mereka berjuang untuk menghadapi tantangan hidup.

Tulisan ini kubuat untuk (ikut) menjawab sebuah pertanyaan yang muncul dalam sebuah blog hop. Aku pribadi tak ingin berpartisipasi dalam blog hop itu, hanya tergelitik untuk menjawab salah satu pertanyaannya yang menarik, yaitu:

Where do you think reading literature should rank in society’s priorities?

Di tingkat mana menurutmu, baca klasik seharusnya ditempatkan dalam prioritas masyarakat?

Maka jawabanku adalah: sastra atau literatur klasik sangat perlu digeluti oleh masyarakat dewasa ini. Kurangi waktu di depan televisi, terutama yang menayangkan hal-hal yang tak berguna. Perbanyaklah waktu untuk membaca buku (paling tidak membaca buku tidak hanya menghibur, tapi juga menambah wawasan kita), dan sisipkan buku-buku klasik ke dalam koleksimu. Bukan berarti aku mengesampingkan genre-genre lain. Aku sendiri telah berkomitmen membaca sedikitnya 20 buku klasik dalam setahun dari total target sekitar 60-70 buku, bagaimana dengan anda?

Mari baca klasik, sastra klasik itu asyik!

A Victorian Celebration


I'm going to join another project for classics reading. This one is called A Victorian Celebration, hosted by Allie from A Literary Odyssey. During June and July 2012 we will read as much Victorian theme books as we could. So, after considering my reading schedule and my Classic Club Project, these are what I plan to read for Victorian Celebration:

June:

Sketches by Boz - Charles Dickens
Charles Dickens: Dickens Bicentenary 2012 - Lucinda Dickens Hawksley
Black Beauty - Anna Sewell
The Picture of Dorian Gray - Oscar Wilde

July:

The Old Curiosity Shop - Charles Dickens
Twenty Years After - Alexandre Dumas
Short Stories:
The Three Strangers - Thomas Hardy
A Terribly Strange Bed - Wilkie Collins
The Half-Brothers - Elizabeth Gaskell


If you want to join me, just click this...

Thursday, March 15, 2012

Character Thursday (3)

Makin lama blog hop Character Thursday ini makin asyik rasanya. Setiap kali membaca buku, aku akan langsung mereka-reka tokoh mana yang akan kuulas di hari Kamis berikutnya.

Character Thursday

- Adalah book blog hop di mana setiap blog memposting tokoh pilihan dalam buku yang sedang atau telah dibaca selama seminggu terakhir (judul atau genre buku bebas).
- Kalian bisa menjelaskan mengapa kalian suka/benci tokoh itu, sekilas kepribadian si tokoh, atau peranannya dalam keseluruhan kisah.
- Jangan lupa mencantumkan juga cover buku yang tokohnya kalian ambil.
- Kalau buku itu sudah difilmkan, kalian juga bisa mencantumkan foto si tokoh dalam film, atau foto aktor/aktris yang kalian anggap cocok dengan kepribadian si tokoh.

Syarat Mengikuti :

1. Follow blog Fanda Classiclit sebagai host, bisa lewat Google Friend Connect (GFC) atau sign up via e-mail (ada di sidebar paling kanan). Dengan follow blog ini, kalian akan selalu tahu setiap kali blog ini mengadakan Character Thursday Blog Hop.
2. Letakkan button Character Thursday Blog Hop di posting kalian atau di sidebar blog, supaya follower kalian juga bisa menemukan blog hop ini. Kodenya bisa diambil di kotak di button.
3. Buat posting dengan menyertakan copy-paste “Character Thursday” dan “Syarat Mengikuti” ke dalam postingmu.
3. Isikan link (URL) posting kalian ke Linky di bawah ini. Cantumkan nama dengan format: Nama blogger @ nama blog, misalnya: Fanda @ Fanda Classiclit.
4. Jangan lupa kunjungi blog-blog peserta lain, dan temukan tokoh-tokoh pilihan mereka. Dengan begini, wawasan kita akan bertambah juga dengan buku-buku baru yang menarik…


Fanda Classiclit



-----

Untuk minggu ini, aku akan mengambil "seekor" tokoh dari kisah fabel:


Molly - si Tikus Tanah
(The Wind in the Willows by Kenneth Grahame)


Dari semua tokoh di The Wind in the Willows, aku paling suka dengan Tikus Tanah. Rasanya sosok Tikus Tanah adalah sosok manusia kebanyakan yang tidak sangat baik (sehingga nyaris sempurna seperti Tikus Air) atau sangat tidak baik seperti Tuan Katak. Tikus Tanah menggambarkan kepribadian orang yang pada dasarnya memiliki moral yang baik namun tetap memiliki kelemahan. Kelemahan itu nampak saat Tikus Tanah terlalu memuja Tikus Air dan selalu berusaha menyenangkan kawannya itu. Ketika dalam perjalanan pulang dari suatu petualangan dan mereka melewati rumah Tikus Tanah, Tikus Tanah merasa rindu untuk pulang ke rumahnya. Namun, karena Tikus Air tak menyadari kegalauan kawannya ini, ia terus bergegas melanjutkan perjalanan ke rumahnya sendiri. Tikus Tanah terbelah antara ingin pulang ke rumahnya, tapi juga tak mau mengecewakan sahabatnya, dan akhirnya ia dengan lunglai menyusul Tikus Air. Berapa kali kita juga seperti itu, tak mau jujur mengatakan apa yang kita inginkan, dan malah mengikuti keinginan orang lain meski kita tak suka.


Namun, meski tampaknya si Molly ini selalu menjadi bayangan Tikus Air, pada suatu saat yang tepat ia dapat melakukan sesuatu yang benar dan bahkan heroik. Yaitu saat ia dengan cerdik berinisiatif menipu para rase, cerpelai dkk yang sedang menduduki rumah Tuan Katak. Berkat kecerdikannya itu mereka berhasil mengusir musuh dengan sukses. Ada saatnya kita pun tanpa kita sadari telah melakukan sesuatu yang "besar". Itu membuktikan bahwa kita sebenarnya mampu melakukan hal-hal besar apabila kita cukup berani, dan tidak hanya bersembunyi saja d balik bayangan kawan kita yang lebih dominan.

So…who is your Character Thursday this week?

Yuk ikutan! Langsung saja masukkan linkmu di bawah ini ya…


Thursday, March 8, 2012

The Wind In The Willows

Sebenarnya kisah fabel untuk anak-anak The Wind in the Willows karya Kenneth Grahame ini adalah kisah yang amat sederhana, yakni tentang persahabatan empat ekor binatang di tepi sungai Thames dan di hutan rimba Inggris. Tapi saat membaca kisah ini, aku jadi merasa kisah ini tak sepenuhnya "anak-anak" dan tak sesederhana yang nampak. Sebaliknya, banyak penggambaran tentang kehidupan yang terlukis dibalik kisah fabel ini.

Kisah dibuka oleh seekor tikus tanah yang merasa bosan setelah bersih-bersih rumah dan ingin berjalan-jalan keluar untuk menikmati udara musim semi yang cerah. Ketika ia mendekati tepi sungai, Tikus Tanah yang bernama Molly ini bertemu seekor teman baru, seekor Tikus Air bernama Ratty. Ratty mengusulkan mereka berdua untuk mendayung sambil berpiknik di tepi sungai. Kehidupan yang dirasakan nyaris sempurna oleh Molly, sehingga akhirnya Molly setuju untuk tinggal bersama Ratty di rumah Tepi Sungai. Kedua sahabat inipun akan menemui berbagai petualangan seru, yang kuibaratkan sebagai perjalanan hidup manusia.

Dalam perjalanan itu perahu mereka melewati hutan rimba, dan Ratty menjelaskan kepada Molly bahwa di sana hidup berbagai macam hewan, ada yang--bagi Ratty--cukup menyenangkan seperti Luak dan kelinci, namun ada juga yang lain seperti rubah, rase, cerpelai yang menurut Ratty "lumayan dengan caranya sendiri".

"Mereka semua lumayan, dengan caranya sendiri, tapi kau tak bisa sepenuhnya percaya kepada mereka, dan begitulah kenyataannya." ~hlm 11.

Bagiku, kata-kata Ratty itu menggambarkan sifat manusia. Di dunia ini ada bermacam-macam sifat manusia. Tak ada yang sepenuhnya hitam (jahat) atau putih (baik), mereka memiliki kedua sifat itu. Pada saat-saat tertentu mereka dapat hidup dengan baik bersama tetangganya, namun pada saat tertentu mereka mungkin merugikan tetangganya. Lewat Tuan Luak, Kenneth mengajarkan kepada pembaca cara untuk menghadapinya:

"...satwa-satwa pindah kemari... yang baik dan yang jahat. Di dunia selalu ada dua segi itu. Kita harus hidup dan memberi kesempatan kepada yang lain untuk hidup." (Tuan Luak) ~hlm. 47.

Kembali kepada perjalanan piknik Molly dan Ratty, berikutnya mereka melewati rumah besar bernama Puri Katak, tempat tinggal Toady, sang Tuan Katak. Toady mewakili karakter manusia yang terobsesi dengan kekayaan dan terbawa arus hedonisme, mendewa-dewakan benda-benda duniawi nan indah tapi melupakan nilai-nilai yang lebih luhur dalam hidup. Toady juga tipe orang-orang sombong yang menganggap dirinyalah pusat semua kehidupan. Tipe orang yang merasa dirinya pandai dan bijaksana, namun sebenarnya yang terbodoh dari yang hidup. Di sini Toady digambarkan sebagai trouble maker yang tergila-gila pada kendaraan mewah. Awalnya caravan, sampai akhirnya ia terpesona pada mobil balap. Semua hobbynya (yang berganti-ganti terus itu) hanya membawa kesialan baginya.

Inti kisah The Wind in The Willows ini adalah upaya Molly, Ratty dan sahabat mereka yang penyendiri--Tuan Luak--dalam misi untuk "menyelamatkan" Toady. Toady akhirnya kebablasan, dan harus meringkuk di penjara. Sementara itu Puri Kataknya diam-diam diduduki oleh para rase, cerpelai dan rubah. Ketiga sahabatnya lah yang dengan gigih dan berani berjuang demi Toady. Sebuah sikap persahabatan yang patut diacungi jempol. Alih-alih memikirkan keselamatan sendiri dan membiarkan saja teman yang toh sering mengecewakan, mereka bertiga bertekad menolong Toady. Akhirnya, bukan Puri Katak saja yang berhasil diselamatkan, mereka pun berhasil "menyelamatkan" Toady dari hidupnya yang sia-sia selama ini. Sebuah bukti bahwa kombinasi persahabatan yang tulus dan kesabaran masih mungkin mengubah cara pandang dan hidup seseorang.

Di sisi lain, ada juga petualangan Molly dan Ratty ketika mencoba menyelamatkan anak Berang-Berang bernama Portly yang hilang dari rumah. Mereka menemukan Portly cilik di pulau kecil indah yang penuh ditumbuhi bunga. Di sini Molly dan Ratty bertemu sesosok makhluk besar bertanduk yang sedang meniup panpipe buluh (sejenis flute) yang disebut sebagai Pelindung Makhluk-Makhluk Kecil. Makhluk ini dalam mitos Yunani merupakan dewa pelindung ternak dan hewan liar. Ada nuansa "surgawi" yang terutama dirasakan Molly ketika berada di pulau ini. Yang menarik adalah percakapan Molly dan Ratty. Molly merasa mendengar sesuatu:

"Hilang!" Tikus Air menghela napas sambil duduk kembali. "Tidak! Ternyata ada lagi!" Ia terkesima dan tidak berbicara cukup lama.
"Aku tidak mendengar apa-apa," ujar Tikus Tanah, "selain embusan angin di pohon dedalu." ~hlm. 71.

Jadi dari situlah judul buku ini berasal: embusan angin di pohon dedalu, the wind in the willows. Aku lalu menghubungkannya dengan sang Pelindung Makhluk-Makhluk Kecil yang melindungi Portly dan membuat si kecil merasa damai. Apakah keberadaan sang dewa ini menggambarkan kehadiran Tuhan di dunia yang merupakan satu-satunya "tempat" yang aman untuk berlindung? Dan angin yang berhembus di pohon dedalu itu menggambarkan sesuatu yang membawa kebahagiaan dan kedamaian? Entahlah...

Hal lain yang menarik adalah setelah pulang dari salah satu petualangan, Tikus Tanah tiba-tiba rindu rumahnya sendiri yang sudah lama terbengkalai, karena si empunya masih terbuai suasana di rumah Tikus Air. Dari sini kita diajak merenungkan bahwa kadang kita memang harus mengambil resiko pergi ke tempat baru, mencoba hal baru. Dengan begitu kita akan tahu di mana "tempat" kita yang sebenarnya. Apakah hidup yang kita jalani sekarang sudah tepat? Apakah kita hanya sekedar jenuh saja?

Empat bintang kuberikan untuk The Wind in the Willows, yang dengan sukses menggabungkan unsur hiburan, persahabatan, petualangan dan nilai-nilai kehidupan di dalamnya. Bravo juga untuk Kenneth Grahame yang kebetulan hari ini kita rayakan ulang tahunnya yang ke 153 (8 Maret 1859 - 8 Maret 2012). Happy birthday to Mr. Grahame!

Judul: The Wind in the Willows
Penulis: Kenneth Grahame
Penerjemah: Rini Nurul Badariah
Penerbit: Mahda Books
Terbit: April 2010
Tebal: 134 hlm

Character Thursday (2)

Suka membahas tokoh-tokoh di buku yang kamu baca? Ikutan blog hop ini yuk:

Character Thursday


  • Adalah book blog hop di mana setiap blog memposting tokoh pilihan dalam buku yang sedang atau telah dibaca selama seminggu terakhir (judul atau genre buku bebas).
  • Kalian bisa menjelaskan mengapa kalian suka/benci tokoh itu, sekilas kepribadian si tokoh, atau peranannya dalam keseluruhan kisah.
  • Jangan lupa mencantumkan juga cover buku yang tokohnya kalian ambil.
  • Kalau buku itu sudah difilmkan, kalian juga bisa mencantumkan foto si tokoh dalam film, atau foto aktor/aktris yang kalian anggap cocok dengan kepribadian si tokoh.

Syarat Mengikuti :

1. Follow blog Fanda Classiclit sebagai host, bisa lewat Google Friend Connect (GFC) atau sign up via e-mail (ada di sidebar paling kanan). Dengan follow blog ini, kalian akan selalu tahu setiap kali blog ini mengadakan Character Thursday Blog Hop.
2. Letakkan button Character Thursday Blog Hop di posting kalian atau di sidebar blog, supaya follower kalian juga bisa menemukan blog hop ini. Kodenya bisa diambil di kotak di button.
3. Buat posting dengan menyertakan copy-paste “Character Thursday” dan “Syarat Mengikuti” ke dalam postingmu.
3. Isikan link (URL) posting kalian ke Linky di bawah ini. Cantumkan nama dengan format: Nama blogger @ nama blog, misalnya: Fanda @ Fanda Classiclit.
4. Jangan lupa kunjungi blog-blog peserta lain, dan temukan tokoh-tokoh pilihan mereka. Dengan begini, wawasan kita akan bertambah juga dengan buku-buku baru yang menarik…


Fanda Classiclit




--------

Nah, tokoh pilihan dalam buku yang kubaca selama minggu ini adalah…

Florentino Ariza

(Love in the Time of Cholera by Gabriel García Márquez)


Jangan salah, Florentino Ariza ini adalah tokoh yang paling tidak kusenangi di buku ini! Dari penampilan saja dia selalu berpakaian seperti orang tua. Yah, bukan salahnya juga, karena keluarganya miskin, maka ibunya selalu mempermak pakaian-pakaian ayah Florentino yang sudah usang agar pas dipakai sang putra-tidak-sah ini. Mungkin itulah salah satu yang membuat Florentino menjadi sosok pemalu, tak percaya diri, tidak tegas, dan sebagai akibatnya seolah-olah "kasat mata" karena orang cenderung tak memperhatikan sosoknya.


Tapi Florentino juga memiliki persistensi dan kesabaran yang tinggi demi mencuri hati Fermina Daza, gadis dari kalangan atas yang dicintainya pada pandangan pertama. "Modus" pendekatannya konvensional sekali dan makan waktu lamaaa... Bahkan setelah Fermina akhirnya menikah dengan pria lain, Florentino tak putus asa, tetap menunggu hingga lima puluh tahun!

Yang aku benci dari dirinya adalah selama penantian panjang itu ia malah tak setia. Mengobral cinta pada banyak wanita. Meski ia berdalih bahwa para wanita itu hanya pemuas nafsu belaka, tapi beberapa kali hatinya juga tertambat. Belum lagi affair-nya dengan gadis remaja yang berada di bawah perwaliannya, pada saat ia telah berusia 70 tahun! Florentino kupikir adalah orang yang hany memusatkan pikiran pada dirinya sendiri. Ia begitu terobsesi pada Fermina, sehingga mengabaikan orang lain dan hal-hal lain di dunia termasuk karirnya. Menyedihkan, egois dan pecundang! Aku tak habis pikir dengan pribadi Florentino ini, dan bagiku pria pemimpi sepertinya tak patut dicintai.

So…who is your Character Thursday this week?

Yuk ikutan! Langsung saja masukkan linkmu di bawah ini ya…


Tuesday, March 6, 2012

Love in the Time of Cholera

Oprah Winfrey mengatakan bahwa buku ini adalah “One of the greatest love stories I have ever read, it is so beautifully written.” Maaf Oprah, kali ini aku tak setuju. Kalau yang anda maksud adalah kisah cinta antara Florentino Ariza si pecundang itu—begitu ia kujuluki—dengan Fermina Daza, menurutku cinta mereka sama sekali bukan cinta sejati. Baik, mari kutunjukkan mengapa aku tak setuju dengan anda.

Florentino Ariza adalah anak tidak sah seorang pemilik perusahaan pelayaran di perairan Karibia. Tak diakui oleh ayahnya, ia hidup bersama ibunya dalam kemiskinan. Jujur saja, tak ada satupun sisi positif yang bisa kutemukan pada pria ini. Pemimpi, lemah, terlalu terobsesi pada cinta, tapi juga sex-addicted. Florentino boleh dikatakan jatuh cinta pada pandangan pertama pada seorang gadis dari keluarga berada yang saat itu masih berusia tigabelas tahun: Fermina Daza. Fermina adalah putri Lorenzo Daza, pengusaha ternama di kotanya. Florentino yang bekerja di kantor telegram, pada suatu hari harus mengantar telegram ke rumah Lorenzo Daza. Saat itulah ia melihat sosok Fermina, dan panah cinta pun langsung tertancap di hatinya.

Karena Florentino pria yang tak percaya diri—wajar saja dengan penampilannya yang lusuh seperti orang tua itu—ia merasa minder. Alih-alih mendekati langsung, Florentino memilih cara memperhatikan dari jauh. Setiap hari pada jam tertentu ia duduk di bangku taman Park of the Avengels di bawah bayangan pohon almond, sambil berpura-pura asyik membaca buku. Melihat Fermina Daza melewati bangku itu ketika berjalan pergi-pulang sekolah dikawal oleh bibinya, merupakan pemandangan yang menyejukkan hati Florentino muda. Florentino yang memang berjiwa puitis mulai menulis sepucuk surat, tanpa tahu bagaimana cara menyampaikannya—karena ia menyadari bahwa hubungan mereka tak mungkin dijalani karena perbedaan kelas sosial.

Selama berbulan-bulan hal itu berlangsung, hingga suatu hari Florentino memiliki keberanian bertemu dengan Fermina. Pertemuan yang amat singkat, sama sekali tak dapat disebut berpacaran. Selama penantian Florentino menunggu “panggilan” Fermina, ia sempat jatuh sakit. Karena saat itu Kolumbia sedang berjangkit epidemi kolera, tak heran bila dokter yang memeriksa Florentino mengira pemuda itu terkena kolera. Ibunya saja yang yakin bahwa penyakit yang diderita putranya adalah penyakit cinta!

Fermina dan Florentino akhirnya sempat berkirim-kiriman surat dengan cara sembunyi-sembunyi. Bisa diduga, surat mereka dipenuhi kata-kata manis lengkap dengan bunga camelia. Khas cinta monyet remaja. Suatu hari kisah cinta mereka tercium Lorenzo Daza, padahal sang ayah sudah mengatur supaya putrinya menikah dengan pria terpandang. Maka Fermina pun tiba-tiba dijauhkan dari segala surat cinta, puisi romantis dan permainan serenade biola, dan dikirim lewat laut ke rumah saudara sepupunya di kota yang jauh: San Juan de la Ciénaga.

Setelah kembali ke kotanya, Fermina Daza telah tumbuh menjadi wanita yang lebih dewasa, bukan lagi gadis ingusan yang bertukar surat dengan Florentino. Meski awalnya sering memikirkan Florentino, namun begitu bertemu kembali dengan pria itu, Fermina mulai merasa muak. Muak akan kisah cinta monyetnya, dan baru menyadari bahwa Florentino adalah "pria payah". Sementara itu ada seorang dokter muda dari kalangan keluarga terhormat yang karirnya sedang menanjak: Dokter Juvenal Urbino. Saat mengobati penyakit Fermina, sang dokter pun terpikat kepadanya, dan tak lama kemudian ia melamarnya. Fermina sama sekali tak merasakan cinta pada sang dokter, namun mengingat target yang ia tentukan sendiri untuk menikah di usia 21 tahun hampir terlewati, dan mengingat Urbino seorang pria terhormat, sopan, berpendidikan, Fermina pun menerima pinangannya.

Fermina Daza dan Dokter Juvenal Urbino memasuki hidup perkawinan tanpa cinta. Meski awalnya perkawinan mereka sempat bergolak--terutama saat masa adaptasi--namun setelah mereka mengarungi bahtera perkawinan itu, mereka menjadi tak terpisahkan. Hal ini jelas terungkap saat mereka sudah beranjak tua, di mana mereka menjadi lebih saling membutuhkan daripada sebelumnya. Ini salah satu bukti bahwa yang terpenting dalam perkawinan bukan hanya cinta, namun kemauan untuk saling menerima dan berusaha mempertahankan perkawinan itu. Maka cinta pun akan tumbuh, meski bukan cinta nafsu seperti yang awalnya mereka inginkan atau rasakan. Cinta macam inilah yang menurutku adalah cinta sejati. Cinta yang menerima, alih-alih menuntut. Apakah perkawinan mereka bahagia? Menarik menyimak apa yang dikatakan Dokter Urbino:


"Always remember that the most important thing in a good marriage is not happiness, but stability."


Bagaimana dengan Florentino? Di luar dugaan, meski sakit hati, Florentino tetap memendam impian untuk kelak bisa bersatu dengan Fermina. Lima puluh satu tahun ia menunggu. Tapi jangan bayangkan cinta Florentino bak cinta seorang martir yang tak tergoyahkan. Di masa itu ia memang tak menikah, tapi ia bertualang cinta dengan sangat banyak wanita, dan bahkan menjadi kecanduan seks. Sampai-sampai di usia tujuh puluh tahun, ia masih bercinta dengan gadis remaja yang dititipkan kepadanya. Dua kata yang bisa menggambarkan Florentino Ariza: menjijikkan! Dan hingga akhir hayatnya, Florentino selalu mengatakan bahwa ia tetap setia kepada Fermina. Pembohong yang menjijikkan!

Keanehan Florentino yang membuatku makin mual terjadi ketika secara tak sengaja ia berada di satu restoran yang sama dengan Fermina dan suaminya. Ia menghadap ke cermin yang merefleksikan pantulan Fermina. Lalu tebak apa yang dilakukan Florentino! Ia berkeras membeli cermin itu dari pemilik restoran dengan harga berapapun, hanya untuk mengenang hari ketika ia bisa menatap Fermina lewat cermin itu. Obsesif? Kegilaan? Entahlah...

Lalu apakah Florentino dan Fermina akan benar-benar bersatu di usia tua mereka? Itu sebaiknya anda baca sendiri di bukunya, karena itulah yang akan menjadi hadiah dari penantian anda selama membaca buku yang beralur lambat ini. Yang jelas, aku tak bisa menyebut Love in the Time of Cholera ini sebagai kisah cinta sepanjang masa. Mungkin persistensi Florentino untuk menunggu Fermina selama lima puluh satu tahun bisa dikatakan hebat, tapi kalau selama itu ia membagi hati dan tubuhnya bagi orang lain--sambil membohongi diri sendiri--dapatkah itu disebut cinta sejati?

Maka sekali lagi...maaf Oprah, aku hanya bisa memberi 3 bintang untuk buku ini, karena meski kisahnya absurd, namun kepiawaian Marquez dalam merangkai kata cukup menghibur.

*Review ini kubuat tepat di Hari Ulang Tahun Gabriel García Márquez yang ke 85 (6 Maret 1927 - 6 Maret 2012)*

Judul: Love in the Time of Cholera
Penulis: Gabriel García Márquez
Penerbit: Penguin Books
Terbit: 2008
Tebal: 424 hlm

Monday, March 5, 2012

Pengumuman Pemenang BULAN DICKENS

Sebulan sudah kami (blog Fanda Classiclit dan blog Surgabukuku) menggelar even BULAN DICKENS, Perayaan 200 tahun Charles Dickens. Terima kasih buat klasikers yang sudah berpartisipasi! Semoga bermanfaat bagi kita semua untuk semakin mengenal sosok Charles Dickens dan karya-karya beliau. Kini tiba saatnya untuk mengumumkan para pemenang…

Untuk kuis #TebakDickens yang diadakan di twitter @bacaklasik, pemenangnya sudah kami umumkan terlebih dahulu, yaitu:

Ferina (@f3r1na) dan Dessy (@coffeecream)


Untuk even #BacaDickens yang berlangsung selama sebulan penuh, dua orang yang paling aktif share pengalamannya saat membaca buku-buku karya Dickens lewat twitter dan secara otomatis menjadi pemenangnya adalah…

Astrid (@pippopu) dan Melody (@melody_violine)


Sedangkan untuk lomba #ReviewDickens, setelah membaca semua review yang masuk (yang bagus-bagus semua itu...), dan setelah berunding, kami akhirnya memilih dua review terbaik yang dimenangkan oleh…

Busyra (Review Our Mutual Friend)

Alvina (Review Oliver Twist)


Selamat untuk para pemenang! Kalian semua masing-masing akan mendapatkan hadiah 1 buku klasik dari kami dan @bukunya sebagai sponsor dalam even ini. Silakan mengirimkan nama + alamat lengkap + no. HP kalian melalui email: bacaklasik [at] gmail [dot] com untuk pengiriman hadiahnya.

Tunggu even-even berikutnya dari Komunitas Baca Klasik di bulan-bulan mendatang, dan jangan lupa add akun kami di Facebook juga ya!