Showing posts with label Homer. Show all posts
Showing posts with label Homer. Show all posts

Friday, August 11, 2017

The Iliad by Homer (second reading)

Thanks to Robert Fagles, I could at last really enjoy Homer’s The Iliad! (this is a very-very late post—I finished the book on May, but due to our moving-preparations lately, I haven’t been able to write a proper review for more than two months. My memory of the book has quite faded, but I’d try to recall things which I found interesting).

Years before, I have read the abridged translation of The Iliad. I knew this is a great epic poem that you should read at least once before you die. But unfortunately, this Indonesian edition that I read re-wrote the epic to a prose. Maybe it’s because my fellow citizen rarely read poems, so the publisher decided to sell it as a mere story book to make it more saleable (*sighing hard). Nevertheless, I quite enjoyed it at that time, but still didn’t get the epic. I knew that I must read the epic one day. But, honestly, I slightly dread of reading an epic poem—hence my delaying of getting to it sooner. Then I stumbled upon this Robert Fagles’ translation, and finally….read this epic poem! ^_^

Now I can say that I love The Iliad! Since it is about war, some passages can be much similar. And the names… they were so much, at the end I couldn’t follow anymore, who was on which side (apart from the big heroes). Take that aside, it was a heroic story written beautifully as a poem. Often I couldn’t help reciting it when I was alone.

Do you tend to take side when reading war stories? I do. From the beginning, I took side with the Trojan. I have no respect for most of Achaean top chiefs—especially Agamemnon, Achilles, and Menelaus. They were selfish and arrogant; and thinking how disputes about women could cause (or alter the course of) a war—! Menelaus is probably the worse—he’s such a cry-baby! When a man lost his wife because another man stole her, he should challenge him to duel, and end it between them. But no, Menelaus ran to his brother, and never stopped him when he decided to start the war. No, I could never take side with the Greeks! And Achilles… what a spoiled little brat he is!

My favorite passage is when Hercules stopped at his house for the last time, meeting his wife and playing with his son. I know he is a temperate man (maybe his only flaw), but I think I loved him more than the others because of this scene. He deserved to be a hero. While his dear little brother….. meh! -_-

That was all that I still remember from The Iliad—definitely a worthy reading, a great epic. I still have to reread The Odyssey—which I have first read also from abridged turn-to-prose Indonesian translation—but with slightly less excitement that I have felt for The Iliad. Hopefully I am wrong!


Monday, October 17, 2011

The Odyssey of Homer

Odysseus adalah salah seorang pahlawan bangsa Achaean yang turut berperang melawan Troy. Alkisah, setelah sepuluh tahun berperang melawan Troy, pasukan Achaean pulang dengan membawa kemenangan. Namun rupanya Zeus, dewa pemimpin semua dewa, tidak menyukai hal ini sehingga meski Achaean dibiarkan menang, namun proses kepulangan orang-orang Achaean ke negerinya sendiri dipersulit oleh Zeus. Salah satu pahlawan Achaean yang bernasib paling buruk dalam perjalanan pulang ini adalah Odysseus. Kisah liku-liku perjuangan hidup-mati Odysseus demi bisa pulang ke Ithaca dikisahkan dalam epic The Odyssey, yang merupakan salah satu epic terbesar sepanjang masa, bersama dengan The Iliad yang juga karya Homer.

Epic ini dibuka dengan sebuah rapat yang terjadi di puncak Olimpus, tempat tinggal para dewa. Athena, putri Zeus, membujuk ayahnya untuk menolong Odysseus untuk dapat pulang ke negara dan keluarganya, setelah selama sepuluh tahun berkelana dari satu pulau ke pulau lain, dan akhirnya ditawan oleh seorang dewi yang jatuh cinta padanya, bernama Calypso. Athena memanfaatkan kesempatan ketika Poseidon, dewa yang membenci Odysseus, sedang pergi. Beroleh restu dari Zeus, Athena pun segera bekerja.

Pertama-tama ia mendatangi Telemachos, putra Odysseus yang kini telah berusia 20 tahun. Ternyata karena Odysseus tak kunjung pulang dari Troy, ada 108 orang raja dan pangeran muda yang dengan kurang ajarnya merayu istri Odysseus, Penelopeia, agar menikahi salah seorang dari mereka. Bukan saja menginap di istana Odysseus, mereka juga berlaku seenaknya dan menghabiskan harta dan makanan Odysseus, karena mereka berpikir sang raja Ithaca telah meninggal.

Maka Athena pun membangkitkan keberanian Telemachos untuk pergi ke kediaman Nestor untuk menanyakan keberadaan ayahnya. Karena, selama ayahnya belum pulang, sulit baginya untuk mengusir para pelamar ibunya. Sementara itu Zeus mengutus Hermes untuk memaksa Calypso membebaskan Odysseus. Akhirnya Odysseus pun memulai perjalanan pulangnya. Namun, itu tak berarti perjalanan itu akan berjalan mulus. Zeus telah mentakdirkan Odysseus mengalami berbagai macam rintangan. Ditambah lagi, karena dalam perjalanan itu Odysseus telah membutakan mata raksasa cyclop yang adalah putra Poseidon, Poseidon pun makin bertambah murka. Dan rintangan demi rintangan yang seolah tak ada habisnya harus dihadapi Odysseus. Satu persatu anak buahnya tewas, hingga akhirnya Odysseus pun sendirian. Berhasilkah ia pulang? Dan apakah Penelopeia masih mau menunggunya setelah berpisah selama 20 tahun?

Berbeda dengan The Iliad yang lebih dinamis dengan banyak tokoh yang terlibat dalam perang, The Odyssey ini seolah menjadi antiklimaksnya. Odysseus menjadi tokoh sentral di keseluruhan kisah, dan meski perjalanan pulangnya dipenuhi tantangan dan aksi seru, tetap saja aku sempat merasa bosan di tengah-tengah. Begitu dominannya Odysseus, sehingga kematian tokoh-tokoh penting di The Iliad seperti Agamemnon dan Achilles, terasa hambar dan tidak berkesan.

Baru pada bagian akhirlah cerita menjadi agak berbobot berkat sedikit aksi. Namun, tetap saja terasa beda. Kalau dalam The Iliad para pahlawan berperang melawan negara lain, di The Odyssey, Odysseus berperang di rumah sendiri saja.....

Pengulangan adegan juga salah satu aspek yang membuatku bosan. Saat Odysseus atau Telemachos dalam perjalanan dan singgah ke istana suatu negara, selalu saja ritual “kunjungan orang asing” yang sama berlangsung. Mula-mula tamu akan dijamu makan, lalu disuruh bercerita dari mana asalnya dan maksud kedatangannya. Setelah makan, semua orang menuangkan anggur dari cawan masing-masing ke tanah untuk berdoa pada para dewa. Lalu sebelum si tamu pulang, sang tuan rumah akan memberikan berbagai hadiah-hadiah indah yang belum pernah dilihat tamunya. Aku mengerti bahwa itu memang kebiasaan bangsa Yunani yang berlaku saat itu. Tapi kalau ritual itu dikisahkan berulang-ulang pada setiap kunjungan, lama-lama bosan juga.

Mungkin saja…. memang begitulah karakter sebuah epic. Karena epic itu pada dasarnya adalah puisi naratif, maka mungkin saja terjadi banyak pengulangan. Bagaimana pun, keberanian dan kegigihan Odysseus yang pantang menyerah dalam menghadapi rintangan patut diacungi jempol. Entah sudah berapa kali ia harus menantang maut. Dari raksasa kanibal hingga ke monster menakutkan, dari sihir hingga harus mengarungi keganasan laut setelah terlempar dari kapal, semuanya mampu dihadapi Odysseus. Tak heran, The Odyssey merupakan epic kepahlawanan terbesar sepanjang masa. Tiga bintang untuk buku ini!

Judul: The Odyssey of Homer
Penulis: Homer
Penerjemah: A. Rachmatullah
Penerbit: Oncor Semesta Ilmu
Terbit: 2011
Tebal: 317 hlm

Wednesday, September 7, 2011

The Iliad of Homer

Homer dikenal sebagai seorang penyair epik terbesar di dunia barat yang berasal dari Yunani. Dua karya terbesarnya, The Iliad dan The Odyssey berkisah tentang sebuah perang besar yang terjadi antara Yunani dan Troy, yang dikenal dengan Perang Troy. The Iliad, yang ditulis pertama kali oleh Homer, menuturkan tahun-tahun akhir Perang Troy yang dalam sejarah diperkirakan terjadi selama 10 tahun, di sekitar tahun 1200 SM. Aslinya, The Illiad berbentuk puisi, namun Penerbit Oncor Semesta Ilmu telah menerjemahkannya bagi kita dalam bentuk sebuah cerita, sehingga lebih mudah untuk dicerna.

Paris atau Alexandrus adalah Pangeran Troy yang telah menyulut Perang Troy. Dalam kunjungannya ke Sparta, ia menculik Helen, ratu Sparta yang saat itu adalah wanita tercantik di dunia. Helen adalah istri Raja Menelaus, adik raja Mycenae: Agamemnon. Agamemnon juga merupakan Raja Agung Achaean (yang terdiri dari banyak kerajaan-kerajaan kecil) atau yang disebut Yunani. Menelaus yang murka meminta Agamemnon adiknya untuk mengangkat senjata dan memerangi bangsa Troy. Kalau masih bingung, anda perlu membaca terlebih dahulu buku tentang awal mula Perang Troy.

The Iliad dibuka dengan perseteruan Agamemnon dengan pahlawan yang menjadi ujung tombak seluruh pasukan Achaean, yakni Achilles dari Phthia. Penyebabnya adalah wabah mematikan yang telah didatangkan oleh dewa Apollo kepada pasukan Achaean. Agamemnon rupanya telah menawan seorang gadis menjadi istrinya. Gadis ini putri seorang pendeta bernama Chryses. Karena Agamemnon tak mau membebaskan putrinya, Chryses memohon bantuan pada Apollo.

Agamemnon yang keras kepala akhirnya setuju untuk memulangkan putri Chryses, namun meminta hadiah pengganti. Hadiah yang ia minta adalah Briseis, gadis milik Achilles. Achilles meradang karena penghinaan Agamemnon dan akhirnya menarik diri dari medan perang. Tak cuma itu, Achilles minta bantuan ibunya, Thetis untuk memberi Troy kemenangan. Dengan itu ia berharap ketika panik karena kalah, Agamemnon akan memohon-mohon dirinya untuk ikut perang dan Briseis akan dikembalikan kepadanya. Jadi Thetis menghadap pemimpin para dewa yakni Zeus di istananya di Olimpus, dan Zeus pun berjanji untuk mengabulkan permohonan Thetis.

Dari sini jelas terlihat bagaimana Homer memasukkan peran dewa-dewi yang banyak berpengaruh dan terlibat dalam kehidupan manusia. Dalam perang Troy ini saja Zeus, Hera (istri Zeus), Athena (putri Zeus), Aphrodite, Poseidon, Ares dan Apollo tercatat sering membantu kedua belah pihak yang berperang. Kadang-kadang bahkan terkesan manusia itu layaknya alat bagi para dewa. Kita jadi dibuat berpikir, sebenarnya yang berperang ini dewa melawan dewa atau manusia melawan manusia?

Hampir di sepanjang buku ini dikisahkan peperangan yang seimbang antara Achaean dan Troy. Berkali-kali Achaean memukul mundur Troy, dan berkali-kali pula Troy balas menyerang setelah mendapat suntikan semangat dari Hector, putra tertua Raja Troy, Priam, yang merupakan pemimpin dari pihak Troy. Begitu juga sebaliknya, ketika pasukan Achaean melemah ketika diserang pasukan Troy, Diomedes yang paling berani di antara pahlawan Achaean akan maju dan membunuh banyak ksatria di pihak Troy untuk mengobarkan kembali semangat pasukannya.

Dan di sepanjang waktu itu para dewa turut menyaksikan sekaligus mengontrol jalannya peperangan. Tak heran bahwa Perang Troy dapat berlangsung hingga sepuluh tahun, karena begitu salah satu pihak kalah, dewa akan melindungi mereka. Aphrodite, Apollo dan Zeus adalah dewa-dewi yang membantu Troy, sementara di pihak Achaean ada Hera, Athena dan Poseidon. Keberadaan para dewa yang membantu manusia ini dipercaya sebagai hiasan yang dipakai Homer untuk mempercantik kisah epik ini.

Pada satu titik, Hector mampu mengobrak-abrik pertahanan Achaean sehingga Agamemnon yang terdesak merayu Achilles untuk membantu mereka berperang. Achilles yang masih sakit hati tetap menolak, bahkan setelah Agamemnon menjanjikannya berbagai hadiah. Pasukan Troy kemudian mematahkan pertahanan Achaean dengan memasuki tembok tinggi dan parit yang dibangun Achaean untuk melindungi kapal-kapal berisi harta rampasan mereka. Hector lalu memerintahkan pasukannya untuk membakar kapal musuh.

Di tengah kepanikan itu, Patroclus --seorang sahabat karib yang paling dicintai Achilles-- tergerak untuk maju perang. Ia mengenakan baju perang Achilles dengan tujuan untuk mengelabui musuh. Majunya Patroclus memang telah direstui Zeus, karena hanya dengan kematian Patroclus di medan perang, Achilles akan sedih dan ingin membalas dendam. Dengan demikian, ia pun akan berdamai dengan Agamemnon dan maju berperang untuk merebut kemenangan bagi Achaea. Dan itulah yang terjadi. Patroclus akhirnya terbunuh di tangan Hector, maka kini Achilles mengincar Hector untuk membalaskan dendam!

ilustrasi ketika Achilles bertarung dengan Hector


Berhasilkah Achilles membunuh Hector? Dan apakah para dewa yang membela Troy akan melindungi Hector? Menarik untuk membaca bagian-bagian akhir buku ini yang menyisakan adegan seru yang heroik sekaligus mengharukan. Perang Troy merupakan salah satu perang terbesar yang pernah terjadi dalam sejarah, dan Homer telah berhasil merangkumnya agar kita boleh menikmati kisah terhebat tentang keberanian, cinta, ambisi dan kepahlawanan sepanjang masa ini. Empat bintang untuk The Iliad!


Judul: The Iliad of Homer
Penulis: Homer
Sumber: The Iliad of Homer (The Project Gutenberg Etext of The Iliad, translated by Samuel Butler)
Penerbit: Oncor Semesta Ilmu
Terbit: 2011
Tebal: 248 hlm