Showing posts with label Robert Louis Stevenson. Show all posts
Showing posts with label Robert Louis Stevenson. Show all posts

Thursday, September 19, 2013

Kidnapped

Right after reading few chapters of Kidnapped, I instantly saw the similarity with Treasure Island. The strange thing is, I totally forgot at that time that Treasure Island is also Robert Louis Stevenson’s adventure story! No wonder that those two are so alike, although Kidnapped is much more than just an adventure story.

David Balfour is a seventeen year Scottish lad that has just become an orphan. It was at 1751, when Scotland suffered from the dispute between the Lowlander and Highlander (Jacobites). His dead father left him a letter and instruction to be brought to the house of Shaws, who appeared to be David’s uncle. Imagining that he was having a situation there, Ebenezer Balfour treated him badly; he tried to murder him but failed; then he conspired with a captain of a brig to kidnap David and sell him as a slave. All was done so that David could never touch his inheritance.

David was a prisoner on board of Covenant, a brig of the villain Captain Hoseason and his gang. He saw the injustice and even a murder done by them. Fortunately, another ship wrecked, and a survived gentleman was taken into Covenant. The gentleman was a Highlander and enemy of the Campbell (King’s agent), called Alan Breck Stewart. Having overheard the Captain and the crew’s plan to murder Alan, David made an alliance with Alan to fight them back. Unfortunately the ship wrecked, and David, separated from others, was washed ashore in the inhabited isle of Earraid, where he cast away for several months, but then managed to return to the land.

Reunited with Alan, David accidentally witnessed the murder of Colin Roy Campbell, and wrongly accused. So now, Alan and David, having come from different clan (David is a Lowlander) were now in the same ‘ship’. Through difficulties and dangers they both fled. And through this journey and adventure, an intimate bound of friendship was built upon David and Alan. The question is, how would it end, considering that they were supposed to be enemies?

One most interesting aspect of this adventure story is the historical setting and facts. Many of the characters (especially those involved in the dispute of Lowlander and Highlander) were really exist in the history of Scotland, including Alan Breck himself. Through David’s eyes, Stevenson brought us to witness and learn one of Scottish histories during the Jacobite rising. Another strong point that makes Kidnapped not an ordinary adventure story, is the Scottish atmosphere that we’d find throughout the story. I was having difficulties of understanding many Scottish idioms and dialect in the first chapters, but along the way, I began to be familiar with it, and I think, overall, the Scottish nuance has added a unique value to this book.

One thing (and an important one, at least for me) that didn’t fit my expectation is the ending. Adventure stories, just like mysteries, used to have a conclusive ending. Anyway, adventures’ pace is set such that it will reach climax at the end, and that—I believe—is the chief point of writing an adventure story. Unfortunately, Stevenson did not provide that conclusive ending for Kidnapped. I read elsewhere that there are two possibilities: 1) Perhaps Stevenson was worried that his ending might contradict the history; or: 2) Kidnapped was planned to be followed by a sequel; and thus the hanging ending was applied to curious the readers.

Whatever the real reason, the ending is so dissatisfying and so abrupt that at first I was suspicious that my ebook was corrupted or something. Well, it was clearly what Stevenson has put is the real ending, and it forced me to take back a half star from the rating I originally gave this book. Three and a half stars finally, for Kidnapped, and I really wish it has a better ending!....

~~~~~~~~

*I read ebook version from Gutenberg Project*

*This book is counted as:*




Friday, October 19, 2012

The Strange Case of Dr. Jekyll and Mr. Hyde


[Conclusion in English is at the bottom of this post]

Ketika sedang berjalan-jalan di malam yang suram di London, seorang pengacara bernama Mr. Utterson bersama temannya menemukan sebuah bangunan tak terurus yang hanya memiliki sebuah pintu. Pintu itu menerbitkan kembali memori tentang sesosok pria kejam bernama Edward Hyde, yang bahkan keberadaannya saja membuat kita merasakan suasana yang amat jahat. Dan memori itu, bersama fakta bahwa Hyde menulis cek atas nama seorang terpandang yang bukan dirinya, membawa kita kepada sebuah surat wasiat yang terkunci rapat di ruang kerja Mr. Utterson. Surat wasiat aneh milik sahabatnya, seorang pria terhormat dan ilmuwan terpandang bernama Dr. Henry Jekyll.

Setelah kejadian itu, berturut-turut Edward Hyde melakukan tindakan kejam berdarah dingin, sementara di pihak lain keanehan demi keanehan terjadi pada Dr. Jekyll. Sang dokter—yang telah menulis surat wasiat bahwa Mr. Hyde, teman yang dipercayanya dan memiliki kunci untuk masuk ke rumahnya, akan mewarisi semua hartanya bila meninggal—sakit dan tak mau tampil di depan umum selama beberapa lama. Hingga akhirnya Mr. Utterson menerima surat wasiat dari Dokter Lanyon, yang bertiga bersama Dr. Jekyll bersahabat erat selama bertahun-tahun. Di suratnya, Dokter Lanyon melampirkan surat lain dari Dr. Jekyll yang hanya boleh dibuka jika pada suatu hari kelak sang dokter menghilang.

Misteri makin mengental, dan puncaknya adalah ketika kepala rumah tangga Dr. Jekyll mengajak Mr. Utterson ke rumah Dr. Jekyll, karena ada kejadian-kejadian yang sangat aneh dan menggetarkan syaraf seluruh isi rumah sang dokter. Apakah yang akan ditemukan Mr. Utterson di sana? Benarkah sahabatnya itu sedang dalam kesulitan? Dan apakah sebenarnya isi surat Dr. Jekyll yang hanya boleh dibuka ketika dirinya sudah menghilang?

Buku ini, meski hanya 128 halaman, menyajikan kisah yang sederhana namun disajikan dengan gaya gothic Victoria-nya yang cantik oleh Robert Louis Stevenson. Kupikir, hampir semua pembaca telah mengetahui paling tidak gambaran umum tentang kaitan Dr. Jekyll dan Mr. Hyde. Stevenson telah mampu menghadirkan nuansa gothic yang suram sejak awal kisah. Meski kita sudah mengetahui misteri yang ada, toh Stevenson mampu membawa ketegangan di pertengahan hingga akhir kisah ini.

Secara keseluruhan karya Stevenson ini mampu menghiburku yang memang menyukai gaya Victoria, namun tetap aku kurang mengerti mengapa Stevenson harus membuka kisah ini dengan berpanjang lebar menjelaskan tentang Mr. Utterson dan sepupu jauhnya, yang amat berbeda dalam kepribadian dan nampak tidak nyaman dalam kebersamaan mereka, namun toh tetap mempertahankan kebiasaan berjalan-jalan bersama di hari Minggu. Kalau toh itu hanya untuk membawa kita untuk berkenalan dengan fenomena Mr. Hyde, mengapa harus se-detail itu? Toh setelah itu si sepupu jauh tak pernah berperan dalam kisah ini, kecuali dalam menjelaskan kisahnya menyaksikan kejahatan Mr. Hyde.

Aku menduga, mungkin Stevenson sengaja menonjolkan adanya dua sisi yang berbeda dari sebuah entitas. Sebut saja kepribadian Mr. Utterson sendiri. Di awal kisah diungkapkan bahwa di satu sisi ia adalah orang yang dingin, kaku , pemalu, membosankan. Namun di sisi lain ia orang yang menyenangkan dalam pergaulan terutama ketika ia telah meneguk sejumlah anggur dalam acara-acara santai. Mr. Utterson ‘keras’ terhadap diri sendiri, tak menyentuh minuman keras dan tak mau terlibat dalam gemerlap duniawi. Namun di sisi lain ia cukup toleransi terhadap sisi liar orang lain, bahkan kadang ia tidak mengecam keliaran orang lain dan malah mendorong mereka melakukannya. Sebuah paradoks, bukan?

Tampaknya Stevenson dari awal sudah mengingatkan kita bahwa dalam diri manusia selalu ada dua sisi yang berbeda ini, sisi terang dan gelap, sisi baik dan jahat. Dr. Jekyll sebenarnya tak jauh berbeda dari kita semua (terwakili oleh Mr. Utterson). Hanya saja ia lebih berani untuk bermain sebagai ‘Tuhan’, mencoba memisahkan kedua sisi itu dan melihat sisi mana yang lebih dominan. Dari percobaannya itu, kita dapat belajar bahwa, sisi manapun yang kita ‘beri makan’ akan mendominasi diri kita. Tinggal kita sendirilah yang harus memilih, sisi mana yang kita biarkan mendominasi hidup kita, karena pilihan itulah yang akan menentukan masa depan dan tujuan hidup kita.

Empat bintang untuk Robert Louis Stevenson!

Judul: The Strange Case of Dr. Jekyll & Mr. Hyde
Penulis: Robert Louis Stevenson
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Penerjemah: Julanda Tantani
Terbit: Mei 2011
Tebal: 128 hlm

Conclusion:

As you might have been familiar with the overall story of Dr. Jekyll and Mr. Hyde, I won’t bother to write about the story at all. I’m just curious about how Stevenson opened this story. He wrote quite thoroughly about Mr. Utterson and his relative—with whom he used to spend Sundays by walking around the city. Both of them seemed did not enjoy one another’s company, but they kept enjoying their excursions anyway. I kept asking myself, what Stevenson wanted to show us; that people tend to create certain habits—that they think as good habits—to control our wilder sides?

Stevenson also wrote about two different sides of Mr. Utterson’s personalities. He was a cold, shy, and boring lawyer who kept himself from classy drinks and amusements. Here I assume Mr. Utterson was a man who tried hard to live a straight and humble life. But on certain circumstances—in casual parties under the overflowing of his favorite wine, for instance—he would permit himself to let his gaiety spring among his friends. On these occasions he could tolerate wild sides of people, envied them for having fun so freely, and sometimes persuade them to nurture their wildness.

I think Stevenson wanted to emphasize the two sides of kind and evil, good and bad in human’s souls; that we are all (like Mr. Utterson) have it in our soul—not only in Dr. Jekyll’s case. We all have a slight of ‘Mr. Hyde’ in our souls; what made us different are our choices. Dr. Jekyll—in his arrogance—chose to nurture the evil in his soul, because he experienced the freedom in the wildness of Mr. Hyde’s world. At one point Dr. Jekyll could stop his experiment and perhaps he could live the rest of his life in peace, but—just like Adam and Eve—he could not resist the temptation to be ‘God’. He chose to continue the terrible experiment until he could not control it anymore.

In the end, we must always realize that we have both kind and evil in us. And it’s up to us to choose which side we will let dominate ourselves, by nurturing it. Once we chose the wrong one, that could be the end of our lives, just like Dr. Jekyll.

What a wonderful story about good and evil, the everlasting search in human’s lives. But apart from that, I also loved the Victorian gothic atmosphere throughout the story with which Stevenson had enveloped it. It was dark but beautiful.

Four stars for The Strange Case of Dr. Jekyll and Mr. Hyde.

Monday, September 26, 2011

Treasure Island


Jauh sebelum The Pirates of Caribbean mempesona kita di layar lebar, seorang penulis Skotlandia dari abad 19 telah terlebih dahulu mempopulerkan kisah tentang bajak laut dan perburuan harta karun di pulau tropis Karibia. Treasure Island karya Robert Louis Stevenson ini kemungkinan besar menjadi pelopor terciptanya mitos bajak laut berkaki satu dengan burung kakak tua bertengger di pundaknya, peta harta karun dan perahu model sekunar. Kisah ini pertama kali diterbitkan sebagai buku pada tahun 1883.

Entah mengapa, Robert Louis Stevenson memilih membuka kisah ini dengan kedatangan seseorang bernama Biily Bones yang jelas-jelas dari penampilannya menunjukkan bahwa ia seorang bajak laut. Bajak laut itu bertubuh tinggi besar, dan pada suatu hari ia muncul begitu saja ke penginapan Admiral Benbow di Inggris sambil membawa koper hitamnya yang dijaganya bak harta karun.

Setelah berhari-hari tinggal di penginapan itu, Jim Hawkins --remaja pria berusia 17 tahun putra pemilik penginapan itu—makin tertarik saja pada Billy Bones yang tampaknya sedang bersembunyi. Billy menyuruh Jim berhati-hati bila seseorang berkaki satu yang sangat ditakutinya muncul. Namun sebelum itu terjadi, Billy terserang stroke lalu meninggal.

Ketika menggeledah koper Billy untuk mengambil uang untuk mengganti biaya penginapan, Jim menemukan sebuah bungkusan misterius dan langsung mengambilnya. Untunglah, karena tak lama setelahnya beberapa bajak laut menggeledah penginapan itu untuk mendapatkan bungkusan itu!

Bersama Dokter Livesey dan Hakim Trelawney, Jim menemukan bahwa bungkusan misterius itu adalah sebuah peta harta karun! Sebenarnya sebelum meninggal, Billy sempat bercerita kepada Jim tentang bajak laut paling ditakuti bernama Kapten Flint, dengan siapa ia dulu berlayar bersama. Tampaknya (dan sebenarnya inilah awal mula kisah ini yang sebenarnya) Kapten Flint pernah menyembunyikan harta karun jarahannya bersama anak buahnya di kapal Walrus, di sebuah pulau di Karibia. Tak seorang pun anak buahnya yang tahu lokasinya, dan peta yang dibuatnya akhirnya diwariskan ke Billy Bones. Tentu saja, kini para mantan anak buahnya mengejar Billy dan peta itu.

Dengan peta harta karun di tangan, maka dimulailah petualangan mencari harta karun. Berlayar dengan kapal Hispaniola, Dokter Livesey, Hakim Trelawney, Kapten Smolett dan kawan kita Jim pun menuju ke Karibia. Semuanya bersemangat demi petualangan di laut. Bayangkan serunya suasana di kapal dengan sesekali terdengar nyanyian itu…

“Lima belas orang di dalam peti mati---
Yo-ho-ho dan sebotol rum!”

Namun, petualangan yang semula nampak mengasyikkan itu tak lagi asyik ketika Jim secara tak sengaja mendengar percakapan juru masak kapal dan awak lainnya, saat ia duduk-duduk di dalam tong apel. Siapakah si juru masak yang berkaki satu dengan kakaktua bertengger di bahunya itu? Apakah ia bajak laut berkaki satu yang ditakuti Billy Bones? Kalau begitu mengapa ia ikut dalam pelayaran mencari harta karun ini?

Seperti biasanya, di mana ada harta karun, pastilah akan ada pertarungan dan perebutan di situ. Dan cerita pun bergulir makin cepat dan makin seru saat kapal telah berlabuh di pulau harta karun. Kubu manakah yang akan menemukan harta karun itu lebih dulu?

Karakter paling menarik di kisah ini, tentu saja, adalah kawan kita Jim Hawkins. Sebagai anggota termuda petualangan ini, jangan mengira Jim hanya menjadi awak kapal semata. Paling tidak tiga kali Jim menjadi penyelamat kawan-kawannya berkat campuran antara kenakalan, keberanian dan nasib baik. Boleh dibilang ada semacam transformasi karakter di sini, dari Jim si anak pemilik penginapan, menjadi Jim si pemberani.

Di sisi lain ada Long John Silver si kaki satu, tentu saja. Satu kata yang tepat untuk menggambarkannya adalah: cerdik. Jelas Silver tak seperti bajak laut lainnya, dan ia ditakuti oleh kawan-kawannya karena kecerdikannya. Silver adalah karakter yang eksotis, ada dua sisi dalam karakternya yang akan membuat pembaca agak bingung, namun justru semakin membuat kisah ini semakin seru dan tegang.

Ada lagi yang menarik dari kisah Treasure Island ini. Robert Louis Stevenson rupanya menempatkan beberapa unsur sejarah dalam kisah ini. Salah satunya adalah para bajak laut bernama England, Roberts, Israel Hands dan Kapten Kidd yang disebut-sebut di kisah ini. Mereka memang bajak laut-bajak laut yang pernah hidup dalam sejarah.

Treasure Island pasti telah melambungkan banyak imajinasi remaja dari jaman dulu hingga sekarang. Aku sendiri selalu senang membaca kisah-kisah yang ada unsur pelayaran, dengan kapal maupun kapal selam. Dan Robert Louis Stevenson telah dengan piawai membawa imajinasiku jauh ke Karibia. Empat botol rum untuk Treasure Island, dan tentu saja…. Yo-ho-hooo!

Judul: Treasure Island
Penulis: Robert Louis Stevenson
Penerbit: Atria
Terbit: April 2011
Tebal: 354 hlm