Showing posts with label Jules Verne. Show all posts
Showing posts with label Jules Verne. Show all posts

Monday, August 27, 2018

Journey to the Center of the Earth by Jules Verne


This was my third encounter of Jules Verne. My favorite remains 20,000 Leagues Under The Sea, followed by Around the World in Eighty Days. I felt that Journey to the Center of the Earth is too short; it ended too abruptly. There should have been more room for Verne to expand the story; at least to dig deeper the emotional side of the characters.

The story is told from Axel's point of view. He is the nephew of Prof. Otto Lidenbrock, a German savant (a distinguished scientist) specializing in mineralogy. Axel himself is also a scientist--geology is his specialty, and has a great interest in his uncle's field. One day Prof. Lidenbrock bought an old runic manuscript, inside which Axel found a cryptic runic script written by a 16th century savant called Arne Saknussem. He claimed that he has travelled to, and found, the center of the Earth; and encouraged others to go and follow his steps through a volcanic tube inside crater of Snäfell in Iceland. The exact entrance would be pointed by the shadow of Scartaris mountain peak, at noon, by the end of June. So, off went Lidenbrock and Axel to Iceland; hired a Danish eiderdown hunter called Hans; and soon the three began what must have been the most dangerous journey men have ever taken to the center of the earth.

Of the three, Lidenbrock was the most enthusiastic traveler; while Axel the most reluctant (quite understandable as he was a young man who just fell in love with a lovely girl). Hans was indifferent, silent, but practical, as was usual for hunter.

The journey proved to be full of suspense and wonder. Down the Snäfell crater they descended a kind of steep-sided well (jökull--or volcano tube), about 2000 feet to the bowel of the Earth. Amazingly there they found a subterranean river flowed on the underground cavern with granite walls and roof. But the journey was not all wonder and comfort; at one point Axel was separated from the others and got lost in the labyrinth of the cavern. When all hope was lost, another wonder happened. A strange acoustic effect has enabled Axel and Lidenbrock to communicate from far distance, without which Axel would have been dead.

Resuming the journey, they then met another wonder: a huge subterranean Sea, off which they embarked by a raft made by Hans. During the sail they also met and escaped giant prehistoric sea monsters; found a large geyser in the middle of the Sea; then hit by a terrible storm that lasted for days and which finally wrecked their raft.

Stranded on an island, they continue the journey by foot along the coastline, where they found a prehistoric forest full of mastodons, giant birds, and even giant men—underworld civilization totally hidden, unknown, and untouched by the upperworld! This passage really felt like watching Jurassic Park! But the last stage of their journey was the most deathly, and, for us readers, the most thrilling!

Through all the excitement of scientific discoveries and the fearful or painful perils, Verne also slipped every now and then the emotional touch of humanity, like how Lidenbrock turned compassionate and tender to his dear nephew when Axel was weak after his lost. However, as I said before, I felt that Verne could have dug this field still deeper. Anyway, Journey to the Center of the Earth was written in the form of a scientific journal; so maybe it is was the perfect way anyway to weave the story.

4 / 5 is my final verdict.



Monday, July 4, 2011

80 Hari Keliling Dunia


Keliling dunia dalam 80 hari? Bagi kita yang hidup di saat ini tentu saja mungkin. Bahkan, kita dapat menempuh perjalanan itu kurang dari 80 hari. Tapi, ketika ide itu ditawarkan pada tahun 1872, banyak orang yang skeptis. Secara teori, 80 hari adalah waktu minimal yang dibutuhkan untuk bertualang ke seluruh dunia. Namun, prakteknya bisa saja meleset. Ketika ada penundaan jadwal kapal uap sehari saja, maka angka 80 hari itu pasti akan bertambah. Tak ada orang yang berani menjamin bahwa mereka akan dapat melakukan 80 hari keliling dunia itu. Selain Phileas Fogg.

Phileas Fogg adalah seorang aristocrat nyentrik yang hidup di London. Ia orang yang pendiam sekaligus misterius, tenang dan hampir tak pernah menampakkan emosi, serta sangat menyukai keteraturan. Kedisiplinannya terhadap waktu sangat mencengangkan. Tiap pukul 11:30 siang (tepat, tak kurang atau lebih 1 menit pun), Phileas Fogg akan meninggalkan rumahnya untuk menuju ke Reform Club, di mana ia menjadi anggota. Di club itu ia berteman dengan para orang terpandang di London lainnya (akademisi, politikus, bangsawan, jutawan). Suatu hari terjadi sebuah diskusi di antara anggota club itu mengenai perampokan bank yang baru terjadi. Diskusi itu mengalir hingga ke isu terbaru di dunia transportasi pada saat itu, di mana perjalanan keliling dunia sudah dapat ditempuh dalam waktu tercepat 80 hari, dengan perincian seperti table ini: (sumber: Wikipedia)



Diskusi itu tiba-tiba membuahkan sebuah pertaruhan. Mr. Phileas Fogg bertaruh 20.000 pound bahwa ia akan dapat keliling dunia dalam 80 hari persis. Persetujuan pun dibuat. Mr. Fogg harus sudah hadir kembali di Reform Club pada hari tertentu, jam tertentu. Maka Mr. Fogg, yang yakin bahwa ia akan mampu mengatasi kesulitan apa pun yang dapat menghadang, segera mengajak pelayan barunya, yang baru saja masuk kerja beberapa jam sebelumnya: Passepartout.

Untunglah ada tokoh Passepartout dalam buku ini! Tokoh ini jauh lebih “manusiawi” daripada majikannya. Dalam usianya yang masih muda, Passepartout sudah pernah menjadi penyanyi, anggota sirkus hingga pemadam kebakaran. Dan kini tantangan berikut dalam hidupnya adalah menjadi pelayan di rumah Mr. Fogg yang maniak terhadap ketepatan waktu dan disiplin (mengingatkan aku pada Hercule Poirot dan sahabatnya Kapten Hastings, tokoh rekaan Agatha Christie!). Sebagai orang Prancis, Passepartout lebih terbuka, emosinya lebih “berwarna”, impulsif dan lebih ramah daripada majikannya yang berkarakter khas London: sedikit angkuh, tenang dan dingin. Kombinasi keduanya membuahkan perjalanan sekaligus petualangan yang menegangkan. Aku pikir, andai Mr. Fogg berkelana sendirian, pasti ia akan dengan lebih mudah mencapai tujuannya. Namun, tentu saja perjalanan itu akan amat membosankan. Laporannya akan mirip jadwal perjalanan biasa. Dengan adanya Passepartout, banyak hal yang akan terjadi, banyak tantangan dan bahaya, banyak kekecewaan maupun kegembiraan. Pokoknya, perjalanan keliling dunia itu menjadi bukan semata-mata taruhan, namun lebih pada sebuah petualangan yang mengubah hidup seseorang.

Aku sudah pernah membaca karya Jules Verne yang berjudul 60.000 Mil Di Bawah Laut (terjemahan dari 20.000 Leagues Under The Sea). 60.000 Mil Di Bawah Laut menurutku lebih menakjubkan dalam hal keindahan alamnya, mungkin karena tokohnya adalah seorang ahli kelautan. Sedangkan di 80 Hari Keliling Dunia ini, keindahan dan keeksotisan negara-negara yang dikunjungi Mr. Fogg dan Passepartout kurang terekspos. Terutama karena Mr. Fogg adalah orang yang praktis, jauh dari romantis, sehingga ia lebih memperhatikan ketepatan waktu daripada pemandangan indah di sekitarnya. Mungkin hanya di India saja, ketika tuan dan pelayan ini bertualang menculik dan menyelamatkan seorang wanita yang hendak dibakar dalam suatu ritual, petualangan itu memiliki greget. Yang aku ingat jelas adalah ketika mereka harus melarikan diri karena ketahuan dengan mengendarai gajah. Tentu saja gajah itu harus dipacu untuk berlari kencang. Aku tertawa ngakak membayangkan Passepartout yang harus rela terguncang-guncang di punggung gajah…

Dalam buku ini, seperti dalam kehidupan nyata, yang menjadi halangan bagi ketepatan waktu sebuah perjalanan, bukanlah melulu pada transportasi (kecuali mungkin di negara kita ya..?!). Justru hal-hal di luar rencana kita, yang disebabkan orang atau pihak lain, yang lebih sering mengganggu perjalanan itu. Dalam hal Mr. Fogg, kesialan itu berupa penguntitan seorang detektif sok tahu bernama Fix yang mengira Mr. Fogg itu perampok bank di London yang tengah melarikan diri. Selain itu, kecerobohan dan karakter impulsif Passepartout juga beberapa kali menyebabkan kacaunya perjalanan mereka. Kalau melihat watak Mr. Fogg yang praktis dan penuh perhitungan, mungkin menyelamatkan seorang wanita dan pelayannya takkan masuk dalam jadwal perjalanannya. Bagaimana pun juga, ada uang 20.000 pound yang dipertaruhkan di sini. Namun Mr. Fogg bukanlah orang yang egois. Meski tidak menguntungkan, ia akan berbuat apa yang memang seharusnya diperbuat. Sesederhana itu.

Dalam banyak hal, Mr. Fogg itu dingin dan penuh perhitungan. Tapi anda akan dibuat tercengang membaca bagaimana penuh perhatiannya ia menjaga dan melindungi Aouda, wanita India yang diselamatkannya dengan nyaris mengorbankan nyawa itu. Lihat pula bagaimana ia tak pernah mempersoalkan kesialan-kesialan yang disebabkan orang lain, dan bagaimana murah hati serta dermawannya ia pada orang-orang yang ditemuinya sepanjang perjalanan. Kalau boleh kukatakan, perjalanan keliling dunia 80 hari itu sendiri tidaklah terlalu istimewa, namun kisah-kisah kehidupan di baliknya itulah yang memberi warna buku ini, sehingga mengijinkanku untuk menganugerahkan 4 bintang untuk buku ini!

Mengapa 80 Hari Keliling Dunia?

Apakah anda, seperti aku, penasaran dari mana ide keliling dunia ini didapat Verne? Apakah ia memang sering berkeliling dunia? Jawabannya kutemukan di Wikipedia. Ternyata ide Verne berasal dari sebuah iklan tur berupa artikel di sebuah harian yang ia baca suatu hari di sebuah café di Paris. Diduga iklan yang ia maksud adalah artikel yang ditulis Thomas Cook, seorang Inggris yang pertama kali memperkenalkan sistem travel agency.

Judul : 80 Hari Keliling Dunia
Judul asli: Around The World In Eighty Days
Penulis: Jules Verne
Penerbit: Serambi
Terbit: Juni 2008
Tebal: 367 hlm

Monday, March 28, 2011

60.000 Mil Di Bawah Laut

Atas nama ilmu pengetahuan, kupikir sangat tepatlah kalau aku bilang bahwa buku ini merupakan salah satu buku wajib baca hingga kapanpun! Kalau buku dikatakan sebagai kendaraan kita untuk menapaki imajinasi kita yang paling liar, maka buku ini adalah buktinya. Jangan salah menebak genre buku ini dari judulnya, karena buku ini bukanlah sebuah jurnal kelautan, meski mereka yang tertarik pada ilmu kelautan pasti mendapati banyak keasyikan di buku ini. Buku ini adalah sebuah fiksi yang dibaurkan dengan ilmu pengetahuan. Jules Verne berhasil menuangkan imajinasinya yang hebat ke buku ini dan mengajak kita berpetualang bersamanya.

Pada sekitar tahun 1866 terjadilah fenomena menggemparkan di lautan seluruh dunia tentang munculnya sesosok makhluk yang sangat besar, yang mampu berenang dengan kecepatan tinggi, badannya sangat keras sehingga tak mempan oleh senjata, namun sangat besar kemampuannya melubangi lambung kapal layar hingga membuatnya tenggelam. Banyak insiden terjadi di beberapa laut, dan seperti biasanya, cerita maupun legenda itu lalu menjadi puluhan versi yang simpang siur dan akhirnya diragukan orang sebagai suatu fakta.

Adalah seorang ilmuwan kelautan bernama Profesor Aronnax dari Prancis yang mendapatkan kesempatan emas untuk turut serta berlayar dengan kapal Abraham Lincoln yang berbendera Amerika Serikat. Kapal ini membawa misi besar: menemukan dan menghabisi monster laut yang telah menjadi momok di lautan dan meresahkan semua negara, yang saat itu dijuluki dengan: Narwhal. Aronnax didampingi oleh asistennya yang setia dan berkarakter tenang dan sopan: Conseil. Tokoh ketiga adalah Ned Land, orang Kanada yang terkenal sebagai pembunuh ikan paus dengan senjata harpun (semacam tombak) yang paling ulung. Ia turut serta karena monster laut itu diperkirakan sejenis mamalia berkulit keras yang dalam dunia sains disebut cetacean.

Abraham Lincoln memang akhirnya "bertemu" dengan monster laut itu, namun 100% meleset dugaan semua orang, si cetacean raksasa itu ternyata bukanlah mamalia, melainkan sebuah kapal selam!

Sayangnya, atau dalam beberapa hal boleh dibilang untungnya, fakta itu terungkap setelah Aronnax, Conseil dan Ned Land terlempar dari Abraham Lincoln pada saat mereka sedang menyerang si kapal selam. Mereka bertiga terlempar ke laut, dan akhirnya ditolong oleh si kapal selam yang dijuluki Nautilus, milik seseorang misterius bernama Kapten Nemo.

Nautilus adalah kapal selam misterius. Bukan milik pemerintah negara manapun, namun milik Kapten Nemo pribadi. Siapakah sosok Kapten Nemo sendiri terselubung kabut pekat misteri yang hanya terkuak sedikit di akhir kisah. Yang jelas, Kapten Nemo telah membangun sebuah kapal selam berteknologi super canggih yang memungkinkan ia serta awak kapalnya tak perlu menginjakkan kaki lagi untuk selamanya di daratan. Ya! Nautilus dibangun untuk menjadi rumah mereka semua di lautan yang luas ini, di mana tak ada hukum yang dapat menghalangi kebebasan mereka. Kita tahu bahwa dua pertiga (atau 70%) bumi ini merupakan lautan. Jadi, bayangkan saja anda memiliki tempat tinggal di mana tak ada manusia lainnya yang hidup di sana. Anda akan menjadi penguasa mutlak lautan yang begitu luasnya...70% dari seluruh dunia!

Pertanyaan kita mungkin, bagaimana dengan sarana terpenting penunjang hidup manusia: udara? Kapten Nemo telah memikirkan semuanya, yaitu dengan mekanisme untuk menyedot oksigen ketika Nautilus naik ke permukaan laut, lalu mengolah oksigen itu secara kimiawi untuk bisa disimpan selama beberapa hari ke depan sebelum jadwal Nautilus untuk "menarik napas" lagi. Sedangkan untuk air dan makanan, tentu saja sumber daya yang ada di lautan luas takkan pernah habis untuk diserap dan dikelola untuk menghidupi seluruh awak kapal. Bahan bakar? Laut pun menyediakan bahan berlimpah untuk menciptakan listrik yang menghasilkan panas, cahaya dan gerak. Alam telah melengkapi air laut dengan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk diolah menjadi listrik. Tapi bagaimana dengan aspek-aspek hidup manusia lainnya? Kita kan hidup tak hanya bernapas, makan dan minum secukupnya? Dalam hal itu, lautan ternyata telah menyediakan semuanya. Kalau anda membayangkan betapa bosannya kalau dari ke hari makan ikan bakar terus, ternyata menu hidangan di Nautilus cukup beragam loh. Para penumpang tetap bisa menikmati daging, berupa irisan tipis daging kura-kura, hati lumba-lumba yang mirip babi cincang, dilengkapi acar timun-laut, lalu krim dari susu yang diolah dari hewan-hewan cetacean. Gulanya diolah dari rumput laut, sedang selainya dibuat dari anemone (yang tidak dijelaskan itu hewan atau tumbuhan apa...). Bahkan, buat yang biasa merokok setelah makan, kru Nautilus telah mengolah dedaunan tertentu menjadi rokok. Lumayan mungkin ya, hidup di bawah laut itu?

Lalu untuk hiburannya? Jangan khawatir, Tuhan Sang Pencipta Alam Semesta ini sendirilah yang telah menyediakan atraksi-atraksi yang akan selalu membuat manusia ternganga kagum dan terpesona pada keindahannya. Dari tujuh bulan petualangan Aronnax dkk bersama Nautilus, tak pernah mereka bosan menonton kekayaan dan keindahan makhluk-makhluk laut yang beraneka ragam mewarnai dan memenuhi dasar laut itu, dengan spesies unik di setiap daerahnya. Khusus untuk Aronnax dan Conseil, tentu saja tak hanya menghibur, kekayaan laut itu juga menjadi kesibukan mereka sebagai ilmuwan. Aronnax pun menyusun semacam jurnal yang kelak akan berguna bagi ilmu pengetahuan, karena belum ada, hingga saat itu, seorang manusia pun yang pernah pergi sedalam mereka di dasar laut. Nautilus memang dirancang mampu menahan tekanan di dasar laut, dan sosoknya yang panjang ramping memungkinkannya untuk menelusuri lorong-lorong sempit di antara karang bahkan bongkahan es!

Ngomong-ngomong tentang es, Nautilus sempat mengalami petualangan yang amat mendebarkan, bahkan nyaris membawa seluruh penumpangnya ke kematian ketika sedang menyelam di kutub selatan, Lautan Antartika. Saat itu Nautilus sedang meluncur di celah-celah antara bongkahan es, demi menjadi yang pertama dari umat manusia yang mampu mencapai titik kutub selatan bumi. Namun keberuntungan tak selalu bersama mereka, pada suatu titik di mana temperatur menjadi sangat dingin, Nautilus akhirnya terjebak di antara es setebal belasan meter, tak mampu memecah es itu dengan tombak-tombaknya karena begitu dipecah sedikit, es akan langsung membeku lagi saking dinginnya! Padahal Nautilus butuh naik ke permukaan untuk menghirup udara segar. Saat itu Aronnax dkk sudah hampir menyerah pada nasib, ketika Kapten Nemo dengan ketenangannya berhasil membawa mereka keluar dari perangkap.

Itu adalah salah satu pengalaman menakutkan mereka, namun di banyak kesempatan-kesempatan lain Kapten Nemo mengajak mereka melakukan hal-hal asyik yang biasa dilakukan di darat, seperti jalan-jalan sambil berburu. Ya, dengan mengenakan pakaian selam Aronnax dkk diajak untuk berburu di hutan belantara lautan. Asyik ya? Lalu, ketika ada awak Nautilus yang meninggal, mereka juga melakukan upacara penguburan di sebuah tanah lapang di dasar laut.

Yang lebih menarik lagi, mereka juga sempat menjadi saksi kebenaran legenda benua yang hilang: Atlantis. Ya, mereka menemukan tempat di mana reruntuhan kota yang konon pernah berdiri dengan megahnya itu di dasar laut, dan menyaksikan sesuatu yang belum pernah dilihat siapapun di bumi ini, sekaligus membuktikan bahwa Atlantis memang pernah ada. Rasanya khusyuk banget suasana saat itu, yang dengan apik dituangkan dalam tulisan oleh Jules Verne. Kejadian seru yang juga menarik untuk kita, adalah ketika mereka sempat berlabuh di pantai Papua dan bertemu dengan orang-orang Papua. Bayangkan, orang Papua jaman itu yang masih primitif melihat sosok Nautilus yang bak ikan paus berkulit besi! Lucu juga bagian ini...

Masih banyak pengalaman-pengalaman seru maupun menakjubkan lainnya seperti melihat hamparan ribuan organisme mikroskopik yang bersinar terang dalam gelapnya dasar laut. Wow...membayangkannya saja sudah membuatku merinding. Bayangkan, mengambang dalam terang yang berasal dari alam, dan semua itu berasal dari organisme yang sangat kecil, namun karena jumlahnya mungkin jutaan sehingga membentuk semacam hamparan terang hingga bermil-mil jauhnya. Begitu hebatnya alam yang diciptakan oleh Tuhan, membuat kita pun menahan napas bersama dengan mereka yang ada di Nautilus.

Entah mengapa, aku suka sekali membaca atau menonton tentang kapal, khususnya kapal selam (padahal aku gak bisa berenang..). Mungkin karena dunia bawah laut yang indah dan (tampak) damai itu yang menarikku. Tapi mungkin juga karena kehebatan alam selalu membuatku mengalami sentuhan Sang Penciptanya dalam hidupku. Kalau anda pernah ke Sea World dan melihat makhluk-makhluk laut lewat kaca di sekeliling anda berdiri, seperti itu kira-kira pemandangan lewat jendela-jendela kaca di ruang duduk Nautilus ketika panelnya dibuka. Mungkin itu adalah sensasi paling hebat yang akan aku rasakan andai Nautilus itu nyata...

Pendek kata, aku sangat terhibur sekaligus tersentuh membaca buku ini. Terutama karena karakter Kapten Nemo yang amat kuat, yang terasa sekali menjadi roh buku ini. Tak mungkin kita menutup buku ini tanpa merasa tersentuh. Kapten Nemo adalah orang yang menjadi getir karena dikecewakan dunia. Ada dua kutub kepribadian dalam diri Kapten Nemo. Ia orang yang berhati dingin, nyaris tanpa emosi dan bisa menjadi sangat kejam ketika ingin membalas dendam. Namun di waktu lain, ia begitu lembut hati hingga kematian salah seorang awak kapalnya dapat membuat ia menangis dan berduka selama beberapa hari. Di satu sisi ia tak manusiawi dengan menahan Aronnax dkk di Nautilus seumur hidup tanpa boleh keluar lagi dari sana (karena takut mereka membocorkan rahasia Nautilus), namun di sisi lain ia sangat peka pada sesamanya terutama yang tertindas. Secara keseluruhan, Kapten Nemo akan mempengaruhi anda dengan karakternya yang unik, juga dengan hasil karyanya yang mengagumkan: Nautilus.

Rasanya kita harus mengucapkan terima kasih pada penerbit Elex yang telah menerjemahkan novel klasik ini sehingga bisa kita nikmati. Namun sayangnya, ada terlalu banyak typo di buku ini yang agak mengganggu. Terjemahannya pun kadang terasa kaku dan aneh. Justru karena alur cerita agak datar dan banyak diselingi fakta ilmiah, maka terjemahannya aku harapkan lebih "ceria" dan tidak terlalu formal agar kita membacanya lebih enak. Bagaimana pun juga, buku ini tetap sayang untuk dilewatkan. Kisah fiksi memang sangat banyak, tapi jarang ada yang mengungkapkan keagungan alam dalam sebuah buku kan?

Judul: 60.000 Mil Di Bawah Laut
Judul asli: Twenty Thousands Leagues Under The Sea
Pengarang: Jules Verne
Penerbit: PT Elex Media Komputindo
Cetakan: Mei 2010
Tebal: 404 hlm