Showing posts with label Elex. Show all posts
Showing posts with label Elex. Show all posts

Tuesday, February 7, 2012

A Tale of Two Cities: Kisah 2 Kota


Diperlukan sebuah pengorbanan besar demi mencapai sesuatu yang lebih baik. Tampaknya pesan inilah yang hendak diusung oleh Charles Dickens dalam salah satu masterpiece-nya, yang menjadi salah satu novel paling terkenal dalam sejarah penerbitan literatur di dunia ini: A Tale of Two Cities. Dan pengorbanan itu berlaku dalam cinta maupun dalam tatanan kehidupan, seperti halnya buku ini berkisah tentang cinta dan kesengsaraan hidup. Revolusi Prancis merupakan tonggak perubahan dalam negara itu; pergolakan rakyat kelas bawah terhadap kekejaman dan keserakahan kaum aristrokat yang selama itu berkuasa. Meski demikian—sesuai judulnya—A Tale of Two Cities ini tidak hanya ber-setting di Prancis saja, namun juga di London.


Kisah dibuka dengan perjalanan seorang bankir Inggris bernama Tuan Jarvis Lorry dari Inggris ke Prancis demi membawa pulang seorang pria yang telah 18 tahun dipenjara dengan tidak adil, meski tak bersalah. Pria itu adalah Dokter Manette. Bersama dengan Tuan Lorry, ikut juga Lucie Manette—anak gadis Dokter Manette—yang mengira ayahnya selama ini telah meninggal. Saat itu Dokter Manette tinggal di rumah pemilik kedai anggur bernama Defarge, yang dulu adalah pelayan sang dokter. Ada sesuatu yang aneh di kedai anggur ini, yaitu Madame Defarge yang selalu duduk diam sambil merajut. Ya, ia tak henti-hentinya merajut. Acuh pada keadaan sekelilingnya dan tetap konsentrasi pada rajutannya. Apa yang dirajutnya itu? Ternyata jawabannya kelak erat berkaitan dengan inti kisah ini…



ilustrasi kedai anggur Defarge, dengan Mme Defarge yang asyik merajut

Singkat kata, Tuan Lorry berhasil menyelamatkan Dokter Manette sehingga sang Dokter hidup berbahagia dengan putrinya, Lucie di Inggris. Namun ketenangan mereka tak berlangsung lama. Suatu hari mereka harus menjadi saksi di pengadilan seorang pemuda bernama Charles Darnay, yang dituduh sebagai pengkhianat negara. Saat itu Darnay dan Lucie langsung jatuh cinta. Kelak ketika Darnay hendak menikahi Lucie, barulah Dokter Manette mengetahui bahwa Charles Darnay sebenarnya adalah kemenakan Marquis Evrémonde yang kejam—lambang eksploitasi kaum aristokrat terhadap rakyat miskin di Prancis pada jaman itu. Charles Dickens menggambarkan kekejaman itu lewat acuhnya sang Marquis ketika kereta kudanya yang melaju cepat menabrak seorang bayi di jalanan. Tak heran bila kemudian rakyat pun berontak dengan membunuh dan membakar kastil sang Marquis. Di titik ini benih-benih pemberontakan rakyat miskin yang telah lama tertindas mulai tumbuh. Lalu bagaimana dengan kemenakannya? Karena muak dengan kesemena-menaan kaum aristrokasi, Darnay melarikan diri dari Prancis sambil melepaskan kebangsawanannya, lalu tinggal sebagai rakyat biasa di London.

Bersamaan dengan lamaran Darnay untuk mempersunting Lucie, ada seorang pengacara malas, pemabuk dan selalu berpenampilan acak-acakan yang juga menyatakan cintanya kepada Lucie. Si pengacara—Sydney Carton namanya—secara tak langsung telah menyelamatkan Darnay dari tiang gantungan saat di pengadilan dulu, berkat wajah mereka berdua yang mirip. Sejak pengadilan itu, Carton menjadi sahabat keluarga Manette selain Tuan Lorry. Sydney Carton adalah contoh manusia yang tak berguna dan takkan pernah menjadi orang penting, apalagi pahlawan. Namun demikian, saat menyatakan cintanya pada Lucie, Carton berjanji bahwa ia bersedia untuk mengorbankan apa saja demi Lucie dan semua orang yang dicintainya.

Sementara itu benih-benih kebencian yang selama ini telah ditaburkan oleh kejahatan kaum aristrokat perlahan-lahan bersemi dalam bentuk pergerakan rakyat miskin. Dengan kata sandi “Jacques”, topi khas warna merah dan emblem tiga-warna, kelompok ini mempersenjatai para petani dan pekerja, dan pada hari paling bersejarah bagi Prancis—14 Juli 1789—mereka pun merebut penjara Bastille dan dengan demikian mengakhiri kekuasaan monarki. Kaum bangsawan dan keluarganya ditangkap dan dibantai. Di sinilah diperkenalkan alat penyiksa terbaru yang kemudian menjadi sangat terkenal—terkenal karena kekejamannya tentu saja: La Guillotine. Charles Darnay adalah salah satu calon korban sang “wanita tajam” ini (sebutan yang ironis terhadap guillotine yang dalam bahasa Prancis merupakan kata benda yang menyandang “genre” feminine). Karena Darnay adalah keturunan bangsawan, maka ia beresiko untuk dihukum mati pula.

ilustrasi perebutan Penjara Bastille



ilustrasi dandanan para revolusioner

Maka sekali lagi, kawan-kawan kita dihadapkan pada masalah yang pelik. Rencana penyelamatan harus kembali disusun, meski nampaknya sia-sia berkat sebuah rahasia besar yang hingga saat itu baru terungkap. Berhasilkah mereka? Dan kalau begitu, siapakah pahlawan sesungguhnya dalam kisah ini?


Membaca A Tale of Two Cities ini kita seolah menyantap hidangan dengan aneka macam rasa di satu piring. Yang pertama, ada tema sejarah Revolusi Prancis yang membuat kita mengetahui akar dari salah satu revolusi paling terkenal dan yang mempengaruhi seluruh dunia itu. Kedua, tema kesengsaraan dan pengorbanan yang harus terjadi untuk mencapai sebuah kebangkitan. Revolusi adalah contoh kongkritnya. Begitu banyak nyawa jatuh dalam balas dendam yang amat kejam. Namun, tanpa revolusi itu takkan pernah terjadi perubahan, rakyat miskin pun akan terus menjadi korban. Di sisi yang lebih abstrak, pengorbanan yang seutuhnya dibutuhkan, agar kehidupan yang jauh lebih baik dari orang-orang yang kita cintai dapat tumbuh dan bersemi. Bak benih yang mati lalu jatuh ke tanah. Bukannya binasa, ia justru akan menumbuhkan kehidupan yang baru.

Sepertinya Charles Dickens pun hendak berbicara tentang bagaimana manusia harus bersikap tentang kejahatan dan penindasan. Di satu sisi kelompok pemberontak yang dengan kejam menyiksa dan membantai kaum bangsawan dengan tak pandang bulu. Bukan saja mereka yang memang suka menyiksa seperti Marquis, tapi juga seluruh keluarganya—termasuk wanita dan anak-anak yang tak berdosa. Kalau begitu, lalu apa bedanya mereka dengan para aristrokrat yang mereka hujat itu? Toh akhirnya mereka sama-sama membunuh dengan keji?

Nah, di sisi lainnya ada Dokter Manette yang mengalami ketidakadilan dan kesengsaraan selama 18 tahun. Bahkan saking parahnya penderitaan itu, ia harus mengkompensasikannya dengan bekerja tekun membuat sepatu, demi agar otaknya beralih ke pekerjaan rutin alih-alih memikirkan deritanya. Akibatnya, bahkan setelah ia bebas, tiap kali ia merasa depresi, Dokter Manette harus kembali bekerja membuat sepatu. Namun anda akan melihat di akhir kisah ini, betapa besar pengampunan Dokter Manette pada orang yang—kalau meminjam cara pandang kaum revolusioner—harusnya adalah orang yang paling ia benci.

Charles Dickens sepertinya mau mengatakan bahwa ketika kejahatan kita balas dengan kejahatan, maka kejahatanlah yang kelak akan membalas kita juga. Sebaliknya, ketika kejahatan kita balas dengan kebaikan, maka berarti kita telah menang terhadap kejahatan, dan kebaikanlah yang akan kita genggam, bukan hanya bagi kita sendiri, tapi juga anak cucu dan semua yang kita cintai. Pada akhirnya, cinta jualah yang selalu menang, bukan?

-----

Seperti biasa, Charles Dickens selalu menyisipkan ironi yang terbungkus humor di sana-sini di karya-karyanya, seperti juga di buku ini. Kisah yang menawan ditambah dengan gaya penulisan Charles Dickens yang cantik, membuatku tak ragu menganugerahkan lima bintang untuk A Tale of Two Cities ini, meski tetap ada hal-hal yang terasa aneh bagiku. Bukan hal-hal yang mendasar, hanya detil-detil yang nampaknya sepele tapi tetap membuatku tetap berpikir: “bagaimana bisa…?”. Tambahan lagi aku kurang sreg dengan cover terjemahan Elex Media ini. Bunga-bunga warna merah jambu yang mengelilingi guilootine dan font judul yang berwarna merah jambu itu terasa terlalu romantis, seolah-olah ini kisah romance biasa. Meski aku paham, mungkin ilustratornya ingin menunjukkan ironi dari kekejaman dan cinta yang menjadi tema utama kisah ini, tapi tetap saja… Aku lebih suka cover-cover aslinya yang lebih terasa klasiknya, dan Revolusi Prancis-nya tergambar jelas di sana, seperti ini...


Terlepas dari detil-detil yang mengganggu itu, A Tale of Two Cities tetap salah satu karya klasik dunia yang mempesonaku. Bravo Charles Dickens!


*Review ini dibuat tepat di hari bersejarah: Hari Ulang Tahun ke 200 Charles Dickens (7 Februari 1812 – 7 Februari 2012), sebagai “hadiah” dariku bagi Charles Dickens.*

Judul: Kisah Dua Kota
Judul asli: A Tale of Two Cities
Penulis: Charles Dickens
Penerjemah: Peusy Sharmaya
Penerbit: Elex Media Komputindo
Terbit: 2010
Tebal: 564 hlm

Monday, March 28, 2011

60.000 Mil Di Bawah Laut

Atas nama ilmu pengetahuan, kupikir sangat tepatlah kalau aku bilang bahwa buku ini merupakan salah satu buku wajib baca hingga kapanpun! Kalau buku dikatakan sebagai kendaraan kita untuk menapaki imajinasi kita yang paling liar, maka buku ini adalah buktinya. Jangan salah menebak genre buku ini dari judulnya, karena buku ini bukanlah sebuah jurnal kelautan, meski mereka yang tertarik pada ilmu kelautan pasti mendapati banyak keasyikan di buku ini. Buku ini adalah sebuah fiksi yang dibaurkan dengan ilmu pengetahuan. Jules Verne berhasil menuangkan imajinasinya yang hebat ke buku ini dan mengajak kita berpetualang bersamanya.

Pada sekitar tahun 1866 terjadilah fenomena menggemparkan di lautan seluruh dunia tentang munculnya sesosok makhluk yang sangat besar, yang mampu berenang dengan kecepatan tinggi, badannya sangat keras sehingga tak mempan oleh senjata, namun sangat besar kemampuannya melubangi lambung kapal layar hingga membuatnya tenggelam. Banyak insiden terjadi di beberapa laut, dan seperti biasanya, cerita maupun legenda itu lalu menjadi puluhan versi yang simpang siur dan akhirnya diragukan orang sebagai suatu fakta.

Adalah seorang ilmuwan kelautan bernama Profesor Aronnax dari Prancis yang mendapatkan kesempatan emas untuk turut serta berlayar dengan kapal Abraham Lincoln yang berbendera Amerika Serikat. Kapal ini membawa misi besar: menemukan dan menghabisi monster laut yang telah menjadi momok di lautan dan meresahkan semua negara, yang saat itu dijuluki dengan: Narwhal. Aronnax didampingi oleh asistennya yang setia dan berkarakter tenang dan sopan: Conseil. Tokoh ketiga adalah Ned Land, orang Kanada yang terkenal sebagai pembunuh ikan paus dengan senjata harpun (semacam tombak) yang paling ulung. Ia turut serta karena monster laut itu diperkirakan sejenis mamalia berkulit keras yang dalam dunia sains disebut cetacean.

Abraham Lincoln memang akhirnya "bertemu" dengan monster laut itu, namun 100% meleset dugaan semua orang, si cetacean raksasa itu ternyata bukanlah mamalia, melainkan sebuah kapal selam!

Sayangnya, atau dalam beberapa hal boleh dibilang untungnya, fakta itu terungkap setelah Aronnax, Conseil dan Ned Land terlempar dari Abraham Lincoln pada saat mereka sedang menyerang si kapal selam. Mereka bertiga terlempar ke laut, dan akhirnya ditolong oleh si kapal selam yang dijuluki Nautilus, milik seseorang misterius bernama Kapten Nemo.

Nautilus adalah kapal selam misterius. Bukan milik pemerintah negara manapun, namun milik Kapten Nemo pribadi. Siapakah sosok Kapten Nemo sendiri terselubung kabut pekat misteri yang hanya terkuak sedikit di akhir kisah. Yang jelas, Kapten Nemo telah membangun sebuah kapal selam berteknologi super canggih yang memungkinkan ia serta awak kapalnya tak perlu menginjakkan kaki lagi untuk selamanya di daratan. Ya! Nautilus dibangun untuk menjadi rumah mereka semua di lautan yang luas ini, di mana tak ada hukum yang dapat menghalangi kebebasan mereka. Kita tahu bahwa dua pertiga (atau 70%) bumi ini merupakan lautan. Jadi, bayangkan saja anda memiliki tempat tinggal di mana tak ada manusia lainnya yang hidup di sana. Anda akan menjadi penguasa mutlak lautan yang begitu luasnya...70% dari seluruh dunia!

Pertanyaan kita mungkin, bagaimana dengan sarana terpenting penunjang hidup manusia: udara? Kapten Nemo telah memikirkan semuanya, yaitu dengan mekanisme untuk menyedot oksigen ketika Nautilus naik ke permukaan laut, lalu mengolah oksigen itu secara kimiawi untuk bisa disimpan selama beberapa hari ke depan sebelum jadwal Nautilus untuk "menarik napas" lagi. Sedangkan untuk air dan makanan, tentu saja sumber daya yang ada di lautan luas takkan pernah habis untuk diserap dan dikelola untuk menghidupi seluruh awak kapal. Bahan bakar? Laut pun menyediakan bahan berlimpah untuk menciptakan listrik yang menghasilkan panas, cahaya dan gerak. Alam telah melengkapi air laut dengan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk diolah menjadi listrik. Tapi bagaimana dengan aspek-aspek hidup manusia lainnya? Kita kan hidup tak hanya bernapas, makan dan minum secukupnya? Dalam hal itu, lautan ternyata telah menyediakan semuanya. Kalau anda membayangkan betapa bosannya kalau dari ke hari makan ikan bakar terus, ternyata menu hidangan di Nautilus cukup beragam loh. Para penumpang tetap bisa menikmati daging, berupa irisan tipis daging kura-kura, hati lumba-lumba yang mirip babi cincang, dilengkapi acar timun-laut, lalu krim dari susu yang diolah dari hewan-hewan cetacean. Gulanya diolah dari rumput laut, sedang selainya dibuat dari anemone (yang tidak dijelaskan itu hewan atau tumbuhan apa...). Bahkan, buat yang biasa merokok setelah makan, kru Nautilus telah mengolah dedaunan tertentu menjadi rokok. Lumayan mungkin ya, hidup di bawah laut itu?

Lalu untuk hiburannya? Jangan khawatir, Tuhan Sang Pencipta Alam Semesta ini sendirilah yang telah menyediakan atraksi-atraksi yang akan selalu membuat manusia ternganga kagum dan terpesona pada keindahannya. Dari tujuh bulan petualangan Aronnax dkk bersama Nautilus, tak pernah mereka bosan menonton kekayaan dan keindahan makhluk-makhluk laut yang beraneka ragam mewarnai dan memenuhi dasar laut itu, dengan spesies unik di setiap daerahnya. Khusus untuk Aronnax dan Conseil, tentu saja tak hanya menghibur, kekayaan laut itu juga menjadi kesibukan mereka sebagai ilmuwan. Aronnax pun menyusun semacam jurnal yang kelak akan berguna bagi ilmu pengetahuan, karena belum ada, hingga saat itu, seorang manusia pun yang pernah pergi sedalam mereka di dasar laut. Nautilus memang dirancang mampu menahan tekanan di dasar laut, dan sosoknya yang panjang ramping memungkinkannya untuk menelusuri lorong-lorong sempit di antara karang bahkan bongkahan es!

Ngomong-ngomong tentang es, Nautilus sempat mengalami petualangan yang amat mendebarkan, bahkan nyaris membawa seluruh penumpangnya ke kematian ketika sedang menyelam di kutub selatan, Lautan Antartika. Saat itu Nautilus sedang meluncur di celah-celah antara bongkahan es, demi menjadi yang pertama dari umat manusia yang mampu mencapai titik kutub selatan bumi. Namun keberuntungan tak selalu bersama mereka, pada suatu titik di mana temperatur menjadi sangat dingin, Nautilus akhirnya terjebak di antara es setebal belasan meter, tak mampu memecah es itu dengan tombak-tombaknya karena begitu dipecah sedikit, es akan langsung membeku lagi saking dinginnya! Padahal Nautilus butuh naik ke permukaan untuk menghirup udara segar. Saat itu Aronnax dkk sudah hampir menyerah pada nasib, ketika Kapten Nemo dengan ketenangannya berhasil membawa mereka keluar dari perangkap.

Itu adalah salah satu pengalaman menakutkan mereka, namun di banyak kesempatan-kesempatan lain Kapten Nemo mengajak mereka melakukan hal-hal asyik yang biasa dilakukan di darat, seperti jalan-jalan sambil berburu. Ya, dengan mengenakan pakaian selam Aronnax dkk diajak untuk berburu di hutan belantara lautan. Asyik ya? Lalu, ketika ada awak Nautilus yang meninggal, mereka juga melakukan upacara penguburan di sebuah tanah lapang di dasar laut.

Yang lebih menarik lagi, mereka juga sempat menjadi saksi kebenaran legenda benua yang hilang: Atlantis. Ya, mereka menemukan tempat di mana reruntuhan kota yang konon pernah berdiri dengan megahnya itu di dasar laut, dan menyaksikan sesuatu yang belum pernah dilihat siapapun di bumi ini, sekaligus membuktikan bahwa Atlantis memang pernah ada. Rasanya khusyuk banget suasana saat itu, yang dengan apik dituangkan dalam tulisan oleh Jules Verne. Kejadian seru yang juga menarik untuk kita, adalah ketika mereka sempat berlabuh di pantai Papua dan bertemu dengan orang-orang Papua. Bayangkan, orang Papua jaman itu yang masih primitif melihat sosok Nautilus yang bak ikan paus berkulit besi! Lucu juga bagian ini...

Masih banyak pengalaman-pengalaman seru maupun menakjubkan lainnya seperti melihat hamparan ribuan organisme mikroskopik yang bersinar terang dalam gelapnya dasar laut. Wow...membayangkannya saja sudah membuatku merinding. Bayangkan, mengambang dalam terang yang berasal dari alam, dan semua itu berasal dari organisme yang sangat kecil, namun karena jumlahnya mungkin jutaan sehingga membentuk semacam hamparan terang hingga bermil-mil jauhnya. Begitu hebatnya alam yang diciptakan oleh Tuhan, membuat kita pun menahan napas bersama dengan mereka yang ada di Nautilus.

Entah mengapa, aku suka sekali membaca atau menonton tentang kapal, khususnya kapal selam (padahal aku gak bisa berenang..). Mungkin karena dunia bawah laut yang indah dan (tampak) damai itu yang menarikku. Tapi mungkin juga karena kehebatan alam selalu membuatku mengalami sentuhan Sang Penciptanya dalam hidupku. Kalau anda pernah ke Sea World dan melihat makhluk-makhluk laut lewat kaca di sekeliling anda berdiri, seperti itu kira-kira pemandangan lewat jendela-jendela kaca di ruang duduk Nautilus ketika panelnya dibuka. Mungkin itu adalah sensasi paling hebat yang akan aku rasakan andai Nautilus itu nyata...

Pendek kata, aku sangat terhibur sekaligus tersentuh membaca buku ini. Terutama karena karakter Kapten Nemo yang amat kuat, yang terasa sekali menjadi roh buku ini. Tak mungkin kita menutup buku ini tanpa merasa tersentuh. Kapten Nemo adalah orang yang menjadi getir karena dikecewakan dunia. Ada dua kutub kepribadian dalam diri Kapten Nemo. Ia orang yang berhati dingin, nyaris tanpa emosi dan bisa menjadi sangat kejam ketika ingin membalas dendam. Namun di waktu lain, ia begitu lembut hati hingga kematian salah seorang awak kapalnya dapat membuat ia menangis dan berduka selama beberapa hari. Di satu sisi ia tak manusiawi dengan menahan Aronnax dkk di Nautilus seumur hidup tanpa boleh keluar lagi dari sana (karena takut mereka membocorkan rahasia Nautilus), namun di sisi lain ia sangat peka pada sesamanya terutama yang tertindas. Secara keseluruhan, Kapten Nemo akan mempengaruhi anda dengan karakternya yang unik, juga dengan hasil karyanya yang mengagumkan: Nautilus.

Rasanya kita harus mengucapkan terima kasih pada penerbit Elex yang telah menerjemahkan novel klasik ini sehingga bisa kita nikmati. Namun sayangnya, ada terlalu banyak typo di buku ini yang agak mengganggu. Terjemahannya pun kadang terasa kaku dan aneh. Justru karena alur cerita agak datar dan banyak diselingi fakta ilmiah, maka terjemahannya aku harapkan lebih "ceria" dan tidak terlalu formal agar kita membacanya lebih enak. Bagaimana pun juga, buku ini tetap sayang untuk dilewatkan. Kisah fiksi memang sangat banyak, tapi jarang ada yang mengungkapkan keagungan alam dalam sebuah buku kan?

Judul: 60.000 Mil Di Bawah Laut
Judul asli: Twenty Thousands Leagues Under The Sea
Pengarang: Jules Verne
Penerbit: PT Elex Media Komputindo
Cetakan: Mei 2010
Tebal: 404 hlm