Showing posts with label Serambi. Show all posts
Showing posts with label Serambi. Show all posts

Monday, December 12, 2011

Madame Bovary

Tak heran kalau Gustave Flaubert disebut sebagai penulis yang perfeksionis [Flaubert was notoriously a perfectionist about his writing and claimed always to be searching for le mot juste ("the right word") ~wikipedia]. Novel Madame Bovary ini membuktikannya. Untuk menggambarkan suatu keadaan atau suasana, Flaubert seolah menggabungkan realisme dengan romantisme. Ia menuliskan segala sesuatunya dengan gamblang, amat jelas tiap detailnya, namun kadang menggunakan kalimat-kalimat metafora juga. Dan sungguh, metaforanya benar-benar mempesona. Lihat saja contohnya:

“…sinar bulan menerpa permukaan air sungai yang membuat permukaan air berkilau-kilau bagai kelap-kelip bintang; cahayanya yang keperakan bagai menembus sampai ke dasar sungai bagai seekor ular tanpa kepala yang seluruh tubuhnya tertutup sisik yang bersinar. Sinar itu juga mirip sebuah lilin raksasa yang melelehkan untaian intan bercahaya di sepanjang sisinya.” ~hlm. 290.

Tak diragukan, itu pasti salah satu hasil pemilihan kata yang amat cermat dari seorang Gustave Flaubert, yang menyulap cerita yang biasa-biasa saja menjadi karya sastra yang indah. Konon, dibanding dengan rekan-rekan sesama penulis besar di jamannya, Flaubert termasuk yang paling sedikit menelurkan karya. Rupanya perfeksionisme tak berjalan lurus dengan produktivitas. Madame Bovary kebetulan menjadi karya pertamanya yang paling terkenal sekaligus kontroversial. Mengapa kontroversial?

Madame Bovary bermuatan kritik sosial yang diteriakkan Flaubert atas borjuisme dan ketidakberdayaan wanita di Prancis pada jaman itu (kisah ini bersetting di sekitar Normandy pada paruh kedua abad 19). Karya tersebut dianggap meresahkan karena tidak bermoral dan tidak beragama. Flaubert bahkan diseret ke pengadilan, meski akhirnya menang berkat seorang pengacara asal Rouen bernama Marie-Antoine Jules Sénard. Kepada sang pengacara lah novel ini kemudian didedikasikan, seperti terbaca di surat yang dilampirkan setelah halaman judul. Hingga di sini, anda tentu makin penasaran dengan inti kisah Madame Bovary. Inilah dia…

Kisah dibuka oleh tokoh Charles Bovary, anak laki-laki biasa, penggugup dan tidak menarik, yang tinggal di kota kecil. Ia tumbuh sebagai pria yang baik hati, berwawasan sempit, dan agak malas. Setelah belajar mati-matian, Charles akhirnya berhasil menggenggam gelar dokter. Meski begitu, karena sama sekali tak memiliki ambisi, ia hanya menjadi dokter kelas desa dan kehidupannya tak pernah menanjak. Suatu hari ia mendapat panggilan untuk menyembuhkan kaki seorang petani kaya yang patah. Di sana ia akhirnya bertemu dan berkenalan dengan anak gadis sang petani yang cantik dan anggun, bernama Emma.

Kebalikan dari Charles, Emma gadis yang menarik, penuh imajinasi, memiliki minat pada gemerlapnya kota, romansa percintaan ala novel, serta kehidupan borjuis. Sejak awal Charles jelas tertarik pada Emma, meski saat itu ia telah beristri wanita sederhana yang kalah jauh dibanding Emma. Tiba-tiba di usia muda sang istri mendadak meninggal. Charles menjadi duda, dan mulai serius mendekati Emma. Gayung bersambut, keduanya pun menikah. Emma meninggalkan rumahnya di pertanian membosankan yang ia benci, siap menyambut masa depan baru yang lebih menjanjikan.

Sayangnya, impian romantis Emma jauh dari kenyataan. Charles memang dokter yang berdedikasi, namun ia pria sederhana membosankan yang hanya melakukan tugasnya saja. Pasiennya orang-orang desa Tostes, tempat mereka tinggal sebelum akhirnya pindah ke Yonville. Padahal yang diinginkan Emma adalah gaun-gaun mewah, pesta dansa, chatteu, pria-pria tampan dan ambisius. Pendek kata, Emma bosan, tak puas dengan hidupnya, bahkan setelah melahirkan Berthe—anak perempuannya.

Hasrat Emma untuk keluar dari hidup yang membosankannya, membawanya pada perselingkuhan. Awalnya dengan Léon, asisten notaris setempat yang cerdas lagi romantis, sama-sama menghargai keindahan yang dipuja Emma. Namun kisah cinta itu tak berlangsung lama karena kegamangan Emma menjalani perselingkuhan. Ia lalu kembali (mencoba) setia kepada suaminya. Sayangnya, hal itu juga tak berlangsung lama. Karena begitu seorang pria kaya dan playboy bernama Rodolphe muncul dalam kehidupan Emma, suaminya langsung terlihat labih buruk di mata Emma daripada sebelumnya. Dengan segala cara Emma berusaha untuk merengkuh kehidupan yang diimpikannya. Selain dengan perselingkuhan, juga dengan mulai berhutang pada seorang pedagang.

Pertanyaannya, apakah akhirnya sang Madame Bovary akan merasakan kebahagiaan yang diimpikannya? Anda akan dibawa pada pertistiwa demi peristiwa, dan suasana sang Madame yang berubah-ubah, sebelum akhirnya pertanyaan itu dapat terjawab di akhir cerita.

Dengan menulis buku ini, Flaubert membuka problem sosial pada jamannya, di mana wanita harus menggantungkan nasibnya 100% pada kaum pria. Begitu menjadi istri, seorang wanita diharapkan mengurus rumah tangga saja. Ke mana pun sang suami mengarahkan bahtera rumah tangga mereka, sang istri hanya bisa ikut hanyut saja. Kalaupun seorang wanita memiliki impian sendiri, hanya dua pilihan yang dimilikinya. Mengejar impian itu dengan resiko melepaskan segala yang ia miliki, atau mengubur impian itu dalam-dalam dan menelan saja apa yang ada. Buku ini kelak dianggap sebagai pelopor gerakan feminisme.

Di sisi lain, aku juga melihat jurang yang tak terjembatani antara Charles dan Emma. Klise sebetulnya, masalah suami-istri yang tak memiliki kesamaan visi. Hal itu yang kuamati banyak menimbulkan perceraian di masa modern ini. Padahal jaman dahulu hal yang sama juga terjadi, namun karena nilai-nilai religiusitas dan martabat masih dipegang tinggi, maka semuanya hanya bagai api dalam sekam.

Pada akhirnya, kaum wanita jaman sekarang harus merasa beruntung karena mereka memiliki kesempatan yang sama dengan kaum pria untuk mengejar dan mewujudkan impian mereka. Namun tetap saja, impian juga harus ada batasnya. Ketika mustahil untuk menggapai impian tertentu, kita harus dapat menerima kenyataan dan mengembangkan apa yang kita miliki untuk menberikan kebahagiaan bagi kita. Bagaimana pun, kebahagiaan toh sesuatu yang harus kita ciptakan, bukan sesuatu yang jatuh dari langit, kan?

Empat bintang kukemas rapi sebagai hadiah Ulang Tahun untuk Gustave Flaubert yang ke 190, tepat pada hari ini, 12 Desember 2011!

Judul: Madame Bovary
Penulis: Gustave Flaubert
Penerjemah: Santi Hendrawati
Penyunting: M. Sidik Nugraha
Penerbit: Serambi
Terbit: Juni 2010
Tebal: 507 hlm

Friday, November 18, 2011

Cinta Tak Pernah Mati

Pernahkah anda menghadiri pesta pernikahan yang settingnya sitting party? Alias pesta di mana para tamu duduk di sekeliling meja-meja bundar. Masakan akan disajikan berurutan, dan tamu berbagi masakan bersama beberapa orang lainnya. Kalau total menu ada 7 macam, berarti tamu akan makan 7 macam masakan berbeda, tentu masing-masing dalam porsi mungil. Hasilnya? Kalau untukku, biasanya perut kembung (karena terlalu sering jeda antar menu), tidak kenyang, dan aku sudah tak bisa merasakan kelezatan makanan akibat terlalu banyak rasa yang mampir ke lidahku. Begitu jugalah yang kurasakan setelah membaca antologi klasik ini!

Cinta Tak Pernah Mati adalah sebuah antologi klasik yang disusun oleh penerbit Serambi. Tak kurang dari tujuh belas penulis klasik dunia menyumbangkan, masing-masing, sebuah kisah di buku ini. Ada nama-nama yang sudah familier bagi kita seperti Mark Twain, Edgar Allan Poe, Leo Tolstoy, Fyodor Dostoyevsky; namun ada juga nama-nama yang mungkin agak asing, seperti August Strindberg atau James Joyce. Tak hanya datang dari negara dan budaya berbeda, para penulis ini juga memiliki gaya penulisan khas yang berbeda pula.

Menilik dari judulnya, anda mungkin akan mengira antologi ini berisi kisah-kisah bertema cinta. Ternyata (yang mengherankanku), tak semua kisah di buku ini menggambarkan cinta, dalam segala bentuknya. Padahal dalam halaman 'Sekadar Pengantar' dikatakan, "...Kisah-kisah ini menyiratkan kepada kita bahwa di balik segenap suka duka kehidupan, sesungguhnya cintalah yang pada akhirnya akan menyelamatkan kita." Sayangnya ada beberapa kisah, di mana aku tak menemukan makna cinta itu sama sekali, meski di kisah lainnya ada nuansa cinta yang tersamar, sementara sisanya memang nyata-nyata bertutur tentang cinta. Ataukah aku yang kurang peka untuk menemukannya? Entahlah...

Dari ketujuhbelas kisah itu, ada tiga yang menarik perhatianku. Yang pertama adalah karya penulis Prancis Honoré de Balzac, Cinta Tak Pernah Mati--yang juga dijadikan judul buku ini. Kisah ini bertutur tentang petualangan seorang prajurit Prancis yang tertangkap oleh tentara Arab di Mesir. Suatu malam ia berhasil melarikan diri, namun sayang, ia kemudian tersesat di tengah hamparan gurun pasir yang seolah tak berujung. Tiba-tiba ia menemukan sebuah gua, dan memutuskan untuk tinggal di situ. Tak disangka, gua itu adalah kediaman seekor macan gurun betina dengan kulit berbintik-bintik. Ia ketakutan, dan sudah siap menghunus pisaunya untuk mempertahankan diri. Namun ternyata, sang macan malah memperlakukannya seperti seorang kawan.

Lama kelamaan, tumbuhlah perasaan sayang dalam diri kedua makhluk yang kesepian dan saling membutuhkan di ganasnya gurun itu. Pak Martin, nama tentara itu, memanggil sang macan dengan nama Mignonne (panggilan sayang untuk perempuan). Kedekatan mereka berdua menjadi begitu kuat, dan Mignonne tak ubahnya seekor kucing rumah yang manja. Hingga suatu hari Pak Martin terpesona pada seekor elang (yang jarang sekali melintas di gurun) yang sedang terbang. Ketertarikan Pak Martin pada si elang membuat Mignonne 'cemburu'. Dengan merajuk, Mignonne menggigit pergelangan kaki Pak Martin. Hanya gigitan pelan saja sebenarnya, namun Pak Martin keburu ketakutan Mignonne akan melukainya, maka ia pun mencabut belati yang terus disimpannya, dan menikamkannya ke tubuh Mignonne.

Apapun yang dirasakan oleh Pak Martin, dan bagaimana pun kisah ini berakhir, aku amat terkesan pada kata-kata ini: "...itu rahmat Tuhan tanpa kemanusiaan."

Kisah ini mengingatkan kita, bahwa Tuhan itu ada, sekaligus tiada. Ia tak nampak di mana-mana, namun sekaligus muncul dalam segala sesuatu. Kalau kita percaya bahwa Tuhan adalah cinta, maka di mana ada cinta, di sana pasti Tuhan hadir. Kadang-kadang Tuhan memang hadir dalam wujud yang tak terduga. Contohnya, dalam sosok seekor macan gurun betina yang jinak. Tinggal kita lah yang harus lebih peka untuk melihat cinta itu, demi menemukan Tuhan.

Kisah kedua yang kusukai adalah Kebahagiaan, karya Leo Tolstoy. Kisah sederhana tentang sepasang suami-istri petani yang rajin bekerja sejak muda. Tak heran, kekayaan dan kemakmuran mendatangi mereka. Rumahnya sering kedatangan tamu, dan mereka selalu membicarakan betapa beruntungnya Ilyas, si petani. Namun, roda kehidupan memang berputar. Satu persatu kemalangan menimpanya, hingga akhirnya ia jatuh miskin di usia tuanya. Seorang tetangganya jatuh iba, dan mempekerjakan Ilyas dan istrinya di rumahnya. Suatu hari si tetangga dan tamu-tamunya menyuruh Ilyas bercerita tentang kebahagiaan masa lalu dan kemalangan masa kini.

Tak disangka, Ilyas dan istrinya merasa jauh lebih bahagia setelah miskin, daripada waktu kaya dulu. Mengapa? Kurasa anda akan dapat menduganya, karena sebenarnya ini kisah yang klise. Namun entah bagaimana, penuturan Tolstoy mungkin, yang membuat cerita ini menjadi 'hangat'.

Kisah terakhir di buku ini yang juga menarik bagiku, adalah karya Émile Zola yang berjudul Sepatu Bot. Setelah membaca Therese Raquin, aku jadi terpesona pada gaya penulisan Zola. Dan gayanya itu langsung terasa begitu aku mulai membaca 'Sepatu Bot'. Ceritanya unik, mengenai seorang perempuan muda yang menjadi kekasih gelap seorang bangsawan. Si bangsawan heran karena setiap hari ia mendapati sepatu botnya selalu dalam keadaan bersih dan berkilau karena polesan semir. Penasaran, ia pun mengendap-endap di rumahnya untuk menemukan si pembersih sepatu bot misterius. Apakah yang akan ia temukan? Sebuah kisah ringan yang unik, namun menarik berkat penulisan Zola yang cantik.

Ide untuk menyusun sebuah antologi penulis klasik memang baik, tapi menurutku lebih baik mengumpulkan lebih sedikit penulis, namun yang memiliki kemiripan dalam gaya atau tema. Dengan begitu, aku tak perlu merasa 'kurang kenyang' setelah melahap buku seperti ini. Ditambah lagi, gambar cover ini sama sekali tak mencerminkan isinya. Sangat 'nanggung' untuk penulis-penulis kaliber dunia dengan karya-karya hebat itu. Terakhir, akan lebih baik lagi kalau judul cerita asli dicantumkan juga. Jadi...tiga bintang kuberikan untuk antologi ini. Dan selanjutnya, aku mungkin takkan memilih antologi lagi sebagai bacaanku!

Judul: Cinta Tak Pernah Mati

Penulis: Ryunosuke Akutagawa -- Honore de Balzac -- Bjornstjerne Bjornson -- Anton Chekhov -- Fyodor Dostoyevsky -- John Galsworthy -- O. Henry -- James Joyce -- Rudyard Kipling -- W. Somerset Maugham -- Guy de Maupassant, -- Edgar Allan Poe -- August Strindberg -- Rabindranath Tagore -- Leo Tolstoy -- Mark Twain -- Emile Zola

Penyusun & penyunting: Anton Kurnia
Penerjemah: Atta Verin & Anton Kurnia
Penerbit: Serambi
Terbit: Juni 2011
Tebal: 227 hlm

Monday, October 24, 2011

Pangeran Bahagia

Apakah kebahagiaan itu identik dengan keindahan, kemilaunya emas dan meronanya merah batu delima? Bersama Pangeran Bahagia, Oscar Wilde—seorang sastrawan legendaris Irlandia akan mengajak anda sekali lagi memaknai sebuah kebahagiaan. Seperti namanya, Pangeran Bahagia selalu mengalami kebahagiaan selama hidupnya yang terkurung di balik dinding istananya yang tinggi. Namun begitu ia meninggal dan sebuah patung didirikan di atas tiang jangkung yang menjulang ke atas kota, maka Pangeran Bahagia pun mulai menyadari bahwa banyak orang yang menderita di luar sana.

Suatu hari seekor burung walet (swallow) yang terlambat bermigrasi ke negeri Mesir yang hangat, merasa iba pada Pangeran Bahagia yang sedang menangis sedih. Burung Walet pun setuju untuk menunda kepergiannya ke Mesir demi menolong misi yang ingin dilakukan Pangeran Bahagia. Misi apakah itu? Apalagi kalau bukan membuat orang lain juga menjadi bahagia. Meski Pangeran Bahagia hanya bisa berdiri diam, ia merelakan semua yang ada pada dirinya demi membantu orang yang menderita. Batu delima di pedangnya, batu safir yang membuatnya memiliki mata, hingga emas yang selama ini melekat di tubuhnya. Semuanya tanpa batas ia ikhlaskan untuk mereka yang menderita.

Lalu bagaimana ketika Pangeran Bahagia sudah tak memiliki apapun untuk diberikan lagi? Akankah si burung wallet meninggalkannya untuk pergi ke Mesir menyusul teman-temannya? Dongeng Pangeran Bahagia ini merupakan salah satu dari kumpulan dongeng dengan judul sama. Dongeng ini adalah salah satu favoritku dari total 5 dongeng yang ada. Begitu menyentuh, begitu gamblang untuk dipahami. Ternyata kebahagiaan yang sejati adalah ketika kita mampu member kebahagiaan kepada orang lain. Kebahagiaan itu sifatnya memberi, dan bukan menerima…

Namun dongeng yang paling membuatku terhenyak adalah dongeng ketiga yang berjudul: Raksasa Yang Egois. Awalnya dongeng ini seperti dongeng anak-anak biasa, yaitu kisah raksasa yang mempunyai kastil dengan taman luas yang indah, penuh rumput hijau, bunga-bunga aneka warna dan 12 pohon persik. Taman itu menjadi tempat bermain anak-anak di sekitarnya di musim semi. Nah, ketika si raksasa pulang dan mendapati banyak anak-anak bermain di tamannya, marahlah ia. Dibangunnya dinding tinggi memagari tamannya, dan dipasangnya pengumuman yang melarang anak-anak memasuki taman. Anak-anak pun sedih, dan anehnya, musim semi, musim panas dan musim gugur pun tak mau lagi datang ke kebun si raksasa, hingga musim dingin, salju dan angin Timur lah yang bermain-main di sana.

Sekarang si raksasa lah yang menjadi sedih karena musim dingin yang berkepanjangan. Namun suatu hari ada seorang anak kecil datang bermain di sana dan mencium si raksasa. Hati si raksasa pun lumer, dan ia sangat mencintai si anak kecil. Namun setelah itu si anak kecil menghilang, sampai suatu saat si anak kecil datang kembali. Kali ini si raksasa menemukan sebuah kejutan dalam diri si anak kecil. Di sinilah anda akan dibuat terpana, ketika mengetahui siapa si anak kecil sebenarnya. Dongeng yang awalnya seperti dongeng anak-anak biasa, menjadi begitu dalam maknanya. Inilah dongeng paling favorit bagiku di buku ini!

Ada tiga dongeng lainnya yang masing-masing berbicara tentang makna cinta, makna persahabatan, dan keegoisan. Yang paling menarik mungkin kisah ke 4: Teman Yang Setia. Dongeng ini merupakan “dongeng di dalam dongeng”. Ada beberapa hewan yang sedang berdiskusi tentang makna “sahabat yang setia”. Ada tikus air yang hanya mementingkan dirinya sendiri, lalu ada ibu bebek dan burung pipit. Kemudian burung pipit menceritakan sebuah dongeng tentang Hans yang baik hati dan si Tukang Giling. Kedua tokoh ini menganggap temannya sebagai sahabat. Sebenarnya si burung pipit yang bercerita berharap si tikus air bisa mengambil pelajaran moral dari dongengnya itu. Namun ternyata si tikus air malah melengos pergi. Maka, Wilde pun menyerahkan kepada pembaca sendiri untuk mengambil kesimpulan, nilai moral apa yang terkandung dalam dongeng Hans sekaligus si tikus air itu.

Menilik dari ragam dongeng yang disajikan Wilde di buku ini, menurutku Pangeran Bahagia lebih ditujukan bagi orang dewasa atau paling tidak remaja, ketimbang anak-anak. Atau orang tua bisa membacakan dongeng ini bagi anak-anaknya sambil menjelaskan nilai moral yang ada di balik masing-masing dongeng. Yang jelas, dongeng-dongeng dari Oscar Wilde ini bukanlah dongeng biasa. Kisahnya memang ringan, namun mengandung makna yang cukup dalam untuk menjadi bahan permenungan.

Empat bintang untuk Pangeran Bahagia!

Judul: Pangeran Bahagia
Judul asli: The Happy Prince and Other Stories
Penulis: Oscar Wilde
Penerjemah: Risyiana Muthia
Penerbit: Serambi
Terbit: April 2011
Tebal: 104 hlm

Thursday, September 22, 2011

Uncle Tom's Cabin

"Jadi, Andalah wanita mungil yang menulis buku yang memicu perang besar ini?". Pertanyaan itu konon terlontar dari mulut seorang presiden Amerika Serikat, Abraham Lincoln, suatu hari di bulan November 1862 saat bertemu dengan seorang wanita. Aku tak tahu pasti tentang mungil atau tidaknya tubuh si wanita, namun aku percaya bahwa salah satu buku yang ia tulis bisa jadi telah memicu sebuah perang besar. Perang yang dimaksud adalah Perang Saudara yang terjadi di abad 19. Wanita yang dimaksud adalah Harriet Beecher Stowe. Jadi...buku apa yang ditulis Mrs. Stowe ini? Tak lain dan tak bukan sebuah novel yang bertutur tentang perbudakan: Uncle Tom's Cabin.


Perang Saudara & latar belakang perbudakan yang menginspirasi Uncle Tom's Cabin

Sebelum Perang Saudara terjadi, sedikitnya ada tujuh negara bagian di Amerika Utara yang masih melegalkan perbudakan. Saat partai Republik memenangkan pemilihan umum dan menjadikan Abraham Lincoln presiden Amerika Serikat, ketujuh negara bagian itu memisahkan diri dari Amerika Serikat dan membentuk sebuah Konfederasi. Agresi militer akhirnya digerakkan oleh Konfederasi, dan menyerang basis militer Amerika Serikat pada April 1861. Perang Saudara.

Perbudakan di Amerika sendiri diperkirakan terjadi mulai sekitar abad 16 dan berakhir pada abad 19. Pada tahun 1850 sebuah undang-undang disahkan oleh Kongres Amerika Serikat. Undang-Undang itu (Fugitive Slave Law= Undang-Undang Budak Buron) melarang warganya untuk membantu para budak yang melarikan diri dari satu negara bagian ke negara bagian lainnya. Pada saat itulah Mrs. Stowe mulai menulis sebuah kisah tentang penindasan dan kemalangan para budak ini. Konon sebagian kisah di buku ini diinspirasi oleh kisah nyata Josiah Henson, seorang budak berkulit hitam yang berhasil melarikan diri ke utara (Kanada), lalu berhasil menolong pula budak-budak lain yang melarikan diri.


Paman Tom

Paman Tom, seperti para budak yang dipekerjakan di pertanian atau peternakan di Amerika, adalah warga Afrika yang berkulit hitam. Ia menjadi tokoh utama di novel ini berkat karakternya yang tenang, bersahaja, jujur, dan terhormat. Namun yang paling menonjol dari Paman Tom adalah ketaatannya kepada Tuhan. Alkitab menjadi harta miliknya yang paling berharga. Dari sanalah ia belajar untuk berbuat baik pada sesama, berkorban untuk mereka yang lebih lemah, dan akhirnya menjadi sumber pengharapannya sendiri ketika ia berada di puncak kesengsaraan. Ia mampu bertahan karena imannya yang teguh pada kemuliaan kekal yang dijanjikan Tuhan dalam ajaran Kristiani.

Awalnya Paman Tom hidup bersama istri dan anak-anaknya di sebuah pondok sederhana di Kentucky. Keluarga mereka menjadi budak milik Tuan & Nyonya Shelby yang baik dan dermawan. Paman Tom sudah dianggap keluarga sendiri dan hidup dalam kebahagiaan. Sayangnya usaha Tuan Shelby terlilit hutang, sehingga Tuan Shelby terpaksa menjual Paman Tom kepada pedagang budak. Bersama Paman Tom, ada seorang budak anak-anak milik Tuan Shelby yang juga hendak dijual.

Eliza

Menguping pembicaraan Tuan dan Nyonya Shelby bahwa Harry, putra semata wayangnya akan dijual kepada pedagang budak, Eliza pun memutuskan untuk melarikan diri. Tujuannya adalah Kanada, ke mana suaminya, George juga telah berjanji untuk melarikan diri sebelumnya. Dan bila Tuhan menghendaki, maka mungkin mereka sekeluarga akan dapat berkumpul kembali dalam keadaan merdeka.

Sementara Eliza yang malang bersama putranya dikejar-kejar dalam pelariannya, Paman Tom amat beruntung karena dibeli oleh pria muda kaya yang ramah dan baik hati bernama Augustine St. Clare ketika berada di kapal yang menuju ke New Orleans. Paman Tom dan Eva bersahabat dekat, karena keduanya memiliki kesamaan dalam kesalehan mereka. Keduanya, dalam banyak kesempatan, banyak mempengaruhi orang-orang di sekitar mereka untuk percaya kepada kemurahan hati Tuhan dan untuk selalu menaruh harapan akan pertolonganNya. Terutama Paman Tom, yang sering menggunakan ayat-ayat Alkitab untuk mencairkan kebencian temannya yang menolak Tuhan.

"Datanglah kepadaKu, engkau yang letih lesu dan berbeban berat, karena Aku akan menyegarkan kamu." ~hlm 482.

Sangat jarang seorang budak yang benar-benar percaya kepada Tuhan. Karena, meski mereka berkesempatan pergi ke gereja, kesengsaraan dan siksaan yang bertubi-tubi membuat iman mereka luntur. Sungguh sulit untuk mempercayai bahwa Tuhan hadir dalam hidup mereka ketika hanya penderitaan yang mereka alami setiap hari.

"Apakah ada Tuhan yang bisa dipercayai? Saya merasa tidak mungkin ada Tuhan di sini. Kalian orang beragama tidak tahu hal-hal semacam ini bisa terjadi kepada kami. Ada Tuhan untuk kalian, tetapi apakah ada Tuhan untuk kami?" (George Harris) ~hlm. 165.

Dalam novel ini kita akan menyaksikan banyak karakter yang menarik. Ada majikan yang baik hati: Tuan & Nyonya Shelby serta Tuan Augustine St. Clare, ada pula majikan yang kejam: Tuan Legree --yang menjadi majikan Paman Tom setelah St. Clare. Ada yang memandang perbudakan sebagai hal yang biasa, dalam hal ini diwakili oleh Marie (istri St. Clare) yang egois dan sangat dangkal pemikirannya. Orang-orang seperti ini memandang ras Anglo Saxon sebagai yang tertinggi, sementara ras kulit berwarna (apapun) lebih rendah kelasnya.

"Tidak ada peradaban tinggi tanpa perbudakan masal, baik nominal maupun kenyataan. Harus ada kelas yang lebih rendah, yang digunakan untuk kerja keras fisik dan dikekang seperti hewan. Dan harus ada kelas yang lebih tinggi yang mendapatkan kesenangan dan kekayaan untuk memperluas kecerdasan dan kemajuan, serta menjadi penguasa dari yang lebih rendah." (Alfred St. Clare) ~hlm. 318.

Ilustrasi pemukulan majikan terhadap budak yang melakukan kesalahan meski sederhana, di gambar ini tampak seorang budak dipecut seperti hewan

Namun ada pula mereka yang percaya bahwa Tuhan menciptakan manusia sederajat, tak peduli ras atau asal usulnya. Mereka diwakili oleh Augustine St. Clare, Eva putrinya, juga George Shelby (putra Tuan & Nyonya Shelby). Sementara di kubu "tengah" ada Nona Ophelia (sepupu St. Clare) yang pada dasarnya mengasihi sesamanya, namun tetap memiliki prasangka terhadap ras lainnya. Sangat menarik menyimak diskusi panjang-lebar St. Clare dan Nona Ophelia tentang perbudakan di bab 19.

Sebenarnya novel ini tidak melulu bercerita tentang Paman Tom dan Eliza saja, ada kisah tentang budak-budak lain dengan penderitaan maupun kisah hidup masing-masing. Namun dari keduanya akan terangkai banyak kisah yang awalnya seolah berdiri sendiri dan tak berhubungan satu sama lain, namun di bagian akhir akan terlihat benang merah yang menghubungkan mereka semua.

Pada akhirnya, novel setebal 610 hlm ini telah mengingatkan aku akan banyak hal. Pertama, bahwa kesombongan manusia dapat membawa akibat yang sangat mengerikan, yaitu ketika manusia memperlakukan sesamanya bagaikan hewan atau benda. Sebelum manusia dapat sepenuhnya menerima konsep bahwa mereka diciptakan sederajat meskipun berbeda, penindasan di atas bumi ini takkan berhenti. Meski mungkin praktek memperdagangkan/membeli budak di pasar dan membuatnya menjadi hak milik sudah lama dihapuskan, namun penindasan sebenarnya masih ada di dunia ini dalam bentuk-bentuk yang sedikit lebih beradab.

Kedua, hanya kebaikan dan kelembutan cinta kasihlah yang dapat mengeluarkan potensi terbaik manusia. Kalau kita ingin mendapatkan respek, kasih dan kesetiaan dari orang lain, maka satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah: melakukan hal yang sama terlebih dahulu kepada orang lain. Dalam novel ini terlihat, bahwa seorang budak menjadi tidak jujur karena selalu diperlakukan jahat oleh majikan. Karena itu, si majikan akan menjadi lebih jahat lagi, dan terus saja lingkaran setan itu berulang.

Ketiga dan yang terpenting, dalam setiap kesusahan dan penderitaan, ingatlah selalu kepadaNya. Karena hanya Dialah yang takkan pernah ingkar janji. Bila kita mengalami kesengsaraan karena melakukan hal yang benar, maka kebahagiaan di rumahNya kelak pasti menjadi milik kita.

Empat bintang kuberikan untuk Uncle Tom’s Cabin, dan satu bintang khusus untuk penerjemahan yang bagus bagi novel ini. Kalau anda sempat mengintip versi asli novel ini dalam bahasa Inggris (lewat google books), anda akan menemukan logat khas orang kulit hitam bertebaran dalam novel ini terutama saat para budak berbicara. Aku menyadari betapa sulitnya menerjemahkan bagian ini tanpa menghilangkan cirri khas yang membedakan logat para budak dengan logat kalangan atas yang lebih berpendidikan. Memang bahasa yang dipakai jadi aneh, mirip bahasa Indonesia ala luar pulau, namun tetap aku salut pada usaha untuk menghadirkan citarasa yang paling mendekati novel aslinya dalam penerjemahannya.

Menutup review ini, ijinkan aku meminjam lagu yang dinyanyikan Paman Tom, yang membuatku makin merasakan betapa hangatnya kasih Tuhan kepada manusia...

"Bumi akan meleleh seperti salju,
Matahari akan berhenti bercahaya;
Tapi Tuhan, yang di sini memanggilku,
Akan jadi milikku selamanya.

"Dan ketika kehidupan fana ini berakhir,
Dan badan serta indra akan tiada,
Aku akan memiliki di dalam tabir,
Kehidupan penuh damai dan sukacita.

"Saat kita sepuluh ribu tahun di sana,
Kemilau berpendar bagai sang mentari,
Kita tetap melantunkan puji syukur kepadaNya,
Seperti saat kita memulai setiap hari."


Judul: Uncle Tom's Cabin
Penulis: Harriet Beecher Stowe
Penerjemah: Istiani Prajoko
Penerbit: Serambi
Terbit: Juli 2011
Tebal: 610 hlm

NB: Tolong beritahu aku kalau ada dari anda yang berhasil menamatkan buku ini tanpa meneteskan air mata barang sekali saja!

Monday, July 4, 2011

80 Hari Keliling Dunia


Keliling dunia dalam 80 hari? Bagi kita yang hidup di saat ini tentu saja mungkin. Bahkan, kita dapat menempuh perjalanan itu kurang dari 80 hari. Tapi, ketika ide itu ditawarkan pada tahun 1872, banyak orang yang skeptis. Secara teori, 80 hari adalah waktu minimal yang dibutuhkan untuk bertualang ke seluruh dunia. Namun, prakteknya bisa saja meleset. Ketika ada penundaan jadwal kapal uap sehari saja, maka angka 80 hari itu pasti akan bertambah. Tak ada orang yang berani menjamin bahwa mereka akan dapat melakukan 80 hari keliling dunia itu. Selain Phileas Fogg.

Phileas Fogg adalah seorang aristocrat nyentrik yang hidup di London. Ia orang yang pendiam sekaligus misterius, tenang dan hampir tak pernah menampakkan emosi, serta sangat menyukai keteraturan. Kedisiplinannya terhadap waktu sangat mencengangkan. Tiap pukul 11:30 siang (tepat, tak kurang atau lebih 1 menit pun), Phileas Fogg akan meninggalkan rumahnya untuk menuju ke Reform Club, di mana ia menjadi anggota. Di club itu ia berteman dengan para orang terpandang di London lainnya (akademisi, politikus, bangsawan, jutawan). Suatu hari terjadi sebuah diskusi di antara anggota club itu mengenai perampokan bank yang baru terjadi. Diskusi itu mengalir hingga ke isu terbaru di dunia transportasi pada saat itu, di mana perjalanan keliling dunia sudah dapat ditempuh dalam waktu tercepat 80 hari, dengan perincian seperti table ini: (sumber: Wikipedia)



Diskusi itu tiba-tiba membuahkan sebuah pertaruhan. Mr. Phileas Fogg bertaruh 20.000 pound bahwa ia akan dapat keliling dunia dalam 80 hari persis. Persetujuan pun dibuat. Mr. Fogg harus sudah hadir kembali di Reform Club pada hari tertentu, jam tertentu. Maka Mr. Fogg, yang yakin bahwa ia akan mampu mengatasi kesulitan apa pun yang dapat menghadang, segera mengajak pelayan barunya, yang baru saja masuk kerja beberapa jam sebelumnya: Passepartout.

Untunglah ada tokoh Passepartout dalam buku ini! Tokoh ini jauh lebih “manusiawi” daripada majikannya. Dalam usianya yang masih muda, Passepartout sudah pernah menjadi penyanyi, anggota sirkus hingga pemadam kebakaran. Dan kini tantangan berikut dalam hidupnya adalah menjadi pelayan di rumah Mr. Fogg yang maniak terhadap ketepatan waktu dan disiplin (mengingatkan aku pada Hercule Poirot dan sahabatnya Kapten Hastings, tokoh rekaan Agatha Christie!). Sebagai orang Prancis, Passepartout lebih terbuka, emosinya lebih “berwarna”, impulsif dan lebih ramah daripada majikannya yang berkarakter khas London: sedikit angkuh, tenang dan dingin. Kombinasi keduanya membuahkan perjalanan sekaligus petualangan yang menegangkan. Aku pikir, andai Mr. Fogg berkelana sendirian, pasti ia akan dengan lebih mudah mencapai tujuannya. Namun, tentu saja perjalanan itu akan amat membosankan. Laporannya akan mirip jadwal perjalanan biasa. Dengan adanya Passepartout, banyak hal yang akan terjadi, banyak tantangan dan bahaya, banyak kekecewaan maupun kegembiraan. Pokoknya, perjalanan keliling dunia itu menjadi bukan semata-mata taruhan, namun lebih pada sebuah petualangan yang mengubah hidup seseorang.

Aku sudah pernah membaca karya Jules Verne yang berjudul 60.000 Mil Di Bawah Laut (terjemahan dari 20.000 Leagues Under The Sea). 60.000 Mil Di Bawah Laut menurutku lebih menakjubkan dalam hal keindahan alamnya, mungkin karena tokohnya adalah seorang ahli kelautan. Sedangkan di 80 Hari Keliling Dunia ini, keindahan dan keeksotisan negara-negara yang dikunjungi Mr. Fogg dan Passepartout kurang terekspos. Terutama karena Mr. Fogg adalah orang yang praktis, jauh dari romantis, sehingga ia lebih memperhatikan ketepatan waktu daripada pemandangan indah di sekitarnya. Mungkin hanya di India saja, ketika tuan dan pelayan ini bertualang menculik dan menyelamatkan seorang wanita yang hendak dibakar dalam suatu ritual, petualangan itu memiliki greget. Yang aku ingat jelas adalah ketika mereka harus melarikan diri karena ketahuan dengan mengendarai gajah. Tentu saja gajah itu harus dipacu untuk berlari kencang. Aku tertawa ngakak membayangkan Passepartout yang harus rela terguncang-guncang di punggung gajah…

Dalam buku ini, seperti dalam kehidupan nyata, yang menjadi halangan bagi ketepatan waktu sebuah perjalanan, bukanlah melulu pada transportasi (kecuali mungkin di negara kita ya..?!). Justru hal-hal di luar rencana kita, yang disebabkan orang atau pihak lain, yang lebih sering mengganggu perjalanan itu. Dalam hal Mr. Fogg, kesialan itu berupa penguntitan seorang detektif sok tahu bernama Fix yang mengira Mr. Fogg itu perampok bank di London yang tengah melarikan diri. Selain itu, kecerobohan dan karakter impulsif Passepartout juga beberapa kali menyebabkan kacaunya perjalanan mereka. Kalau melihat watak Mr. Fogg yang praktis dan penuh perhitungan, mungkin menyelamatkan seorang wanita dan pelayannya takkan masuk dalam jadwal perjalanannya. Bagaimana pun juga, ada uang 20.000 pound yang dipertaruhkan di sini. Namun Mr. Fogg bukanlah orang yang egois. Meski tidak menguntungkan, ia akan berbuat apa yang memang seharusnya diperbuat. Sesederhana itu.

Dalam banyak hal, Mr. Fogg itu dingin dan penuh perhitungan. Tapi anda akan dibuat tercengang membaca bagaimana penuh perhatiannya ia menjaga dan melindungi Aouda, wanita India yang diselamatkannya dengan nyaris mengorbankan nyawa itu. Lihat pula bagaimana ia tak pernah mempersoalkan kesialan-kesialan yang disebabkan orang lain, dan bagaimana murah hati serta dermawannya ia pada orang-orang yang ditemuinya sepanjang perjalanan. Kalau boleh kukatakan, perjalanan keliling dunia 80 hari itu sendiri tidaklah terlalu istimewa, namun kisah-kisah kehidupan di baliknya itulah yang memberi warna buku ini, sehingga mengijinkanku untuk menganugerahkan 4 bintang untuk buku ini!

Mengapa 80 Hari Keliling Dunia?

Apakah anda, seperti aku, penasaran dari mana ide keliling dunia ini didapat Verne? Apakah ia memang sering berkeliling dunia? Jawabannya kutemukan di Wikipedia. Ternyata ide Verne berasal dari sebuah iklan tur berupa artikel di sebuah harian yang ia baca suatu hari di sebuah café di Paris. Diduga iklan yang ia maksud adalah artikel yang ditulis Thomas Cook, seorang Inggris yang pertama kali memperkenalkan sistem travel agency.

Judul : 80 Hari Keliling Dunia
Judul asli: Around The World In Eighty Days
Penulis: Jules Verne
Penerbit: Serambi
Terbit: Juni 2008
Tebal: 367 hlm

Thursday, May 12, 2011

Di Mana Ada Cinta, Di Sana Tuhan Ada

Judul: Di Mana Ada Cinta, Di Sana Tuhan Ada
Penulis: Leo Tolstoy
Penerbit: Serambi
Penerjemah: Atta Verin
Cetakan: Februari 2011
Tebal: 197 hlm

“Ketika Aku lapar, kamu memberi aku makan. Ketika Aku haus, kamu memberi aku minum. Ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan….” --Mat 25:35

“Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraKu yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” –Mat 25:40

Kedua ayat Kitab Suci itu langsung memenuhi pikiranku saat aku selesai membaca kisah pertama dalam buku kumpulan cerita bertema cinta spiritual karya sastrawan besar Rusia Leo Tolstoy ini. Sebenarnya ayat itu bahkan tidak dicantumkan dalam cerita itu, namun aku langsung menemukan kesamaan dengan esensi ceritanya. Di Mana Ada Cinta, Di Sana Tuhan Ada. Demikianlah judul kisah pertama di buku ini, yang sekaligus menjadi judul buku ini sendiri. Berkisah tentang seorang perajin sepatu bernama Martin, yang merasa kesepian setelah ditinggal mati istri dan putra semata wayangnya. Ia lalu mengalami kehampaan dalam hidupnya, berhenti pergi ke Gereja dan malah mengomel pada Tuhan karena mengambil putranya terlebih dahulu alih-alih mengambil dirinya. Hingga suatu hari ia kedatangan tamu dari biara yang menasihatinya untuk mulai membaca Kitab Suci. Dan kedamaian pun perlahan-lahan mulai bersemi dalam hati Martin tiap kali ia membaca sabda Tuhan.

Hingga suatu hari ia berandai-andai, apakah yang akan dilakukannya bila Tuhan sendiri bertamu ke rumahnya? Lalu dalam tidur, ia memimpikan Tuhan memanggil namanya, dan mengatakan bahwa Ia akan datang keesokan harinya. Maka begitu pagi menjelang, Martin pun mulai menanti-nantikan “Tamu Istimewa”nya itu. Ia yang biasa mengenali warga dengan mengintip sepatu mereka dari ambang jendela, terus menerus menunggu. Banyak orang yang melewati rumahnya, namun tak seorang pun yang berhenti, apalagi singgah. Orang pertama yang berdiri di luar di depan jendelanya adalah seorang pembantu rumah yang kedinginan saat menyekop salju. Merasa iba, Martin mengajak si pembantu rumah itu masuk dan menyuguhkan teh untuk memberinya kehangatan. Dan sambil si pembantu menikmati bercangkir-cangkir teh hangat, Martin juga menghangatkan jiwanya dengan kata-katanya tentang Tuhan yang ia ambil dari kitab suci. Si pembantu pun kembali ke dinginnya salju untuk bekerja, namun kini dengan tubuh maupun hati yang lebih hangat…

Sepanjang hari Martin menunggu, namun tak satupun tamu yang datang, apalagi yang bisa disebut “Istimewa”. Yang ada malah seorang wanita dengan bayi di gendongannya yang tampak kedinginan di balik pakaiannya yang tipis, sedang berdiri di luar rumah Martin. Maka Martin pun mengundang wanita itu masuk untuk menghangatkan diri. Bersama roti dan sup hangat yang dihidangkan Martin, wanita itu bertutur tentang kemalangan dirinya yang ditinggal suaminya perang, dan kini jatuh miskin, bahkan selendang untuk menghangatkan diripun harus ia gadaikan sehingga kini mereka berdua harus kedinginan di jalanan. Martin memberinya uang sekadarnya untuk bisa menebus kembali selendangnya, dan membekalinya mantel usang untuk dapat melindunginya dan si bayi dari kedinginan.

Dan begitulah, ternyata hari itu berlalu tanpa ada yang istimewa sama sekali. Hanya kejadian-kejadian kecil semacam itu yang membuat Martin berinteraksi dengan orang-orang asing yang ditolongnya. Entah itu untuk memberikan kehangatan raga, kehangatan jiwa, maupun untuk belajar mengampuni dan berdamai dengan orang lain. Lalu bagaimana dengan “Tamu Istimewa” yang berjanji akan mengunjunginya? Maka akupun teringat kembali pada ayat Kitab Suci yang aku kutip di awal tulisan ini. Dan kembali aku serasa diingatkan (lagi)… bahwa Tuhan tak perlu dicari-cari, ia hadir dalam diri setiap orang yang membutuhkan kita. Setiap hari. Setiap saat. Hanya tinggal kitalah yang peka untuk menyadarinya, dan bertindak. Sebuah kisah yang sederhana namun sangat berkesan bagiku.

Itu barulah kisah pertama dalam buku kumpulan cerita ini. Dalam 4 cerita selanjutnya pun, anda akan diajak untuk melihat indahnya kasih. Kasih bisa berwujud maaf, seperti terungkap dalam kisah kedua: Tuhan Tahu, Tapi Menunggu, yang bercerita tentang seorang saudagar bernama Aksionov yang ditangkap dan dipenjara dengan tuduhan membunuh teman sepenginapannya saat ia sedang bepergian. Cinta juga menampakkan wajahnya kepada seorang saudagar kaya bernama Vasili, yang pikirannya selalu dipenuhi dengan bisnisnya dan kebanggaan dirinya yang sukses berbisnis. Suatu hari ia harus bepergian di tengah badai salju yang membekukan, bersama dengan pembantunya, Nikita. Di saat itulah Tuhan “memanggilnya” lewat kejadian yang tak masuk akal. Vasili yang berkereta kuda bersama Nikita tak pernah dapat menemukan jalan sehingga harus tersesat di tengah badai salju dan terancam mati membeku. Saat itulah Vasili harus memilih. Apakah ia akan tetap memikirkan dirinya sendiri, atau membiarkan Tuhan mengambil alih? Sekali lagi kita menyadari, bahwa di mana ada cinta, di sana Tuhan ada. Keseluruhan kisahnya bisa anda baca di kisah no. 4: Majikan dan Pelayan.

Kisah penutup atau kisah kelima mungkin yang paling tegas menjelaskan pada kita, bagaimana Tuhan menginginkan kita untuk menjalani hidup ini dan mengisinya. Di kisah Dua Lelaki Tua ini, adalah Efim dan Elisha, dua pria tua yang ingin pergi berziarah ke Yerusalem bersama-sama. Efim adalah pria yang selalu mengkhawatirkan segalanya, dan menginginkan semuanya sempurna. Kalau saja bukan karena desakan Elisha yang lebih santai, Efim mungkin takkan pernah berangkat ziarah karena sibuk dengan ini-itu yang tak habis-habisnya. Sayangnya, walaupun berangkat bersama-sama, kedua lelaki tua ini harus berpisah jalan tanpa sengaja ketika Elisha singgah di sebuah rumah untuk sejenak memuaskan dahaganya dengan meminta segelas air. Di titik ini Leo Tolstoy ingin menunjukkan pada kita ziarah seperti apa yang sebenarnya lebih berkenan bagi Tuhan, dan bahwa ziarah itu sejatinya terjadi di sepanjang hidup kita tanpa terkecuali. Hidup kita ini adalah sebuah peziarahan. Apakah kita ingin mendapat hasil yang baik dari ziarah ini, itu adalah pilihan kita. Yang jelas, Tuhan telah menyediakan “sarana”nya, yakni lewat sesama kita, tinggal kitalah yang mau memilih memanfaatkannya sebaik mungkin, atau melewatkannya…

Buku yang diterbitkan oleh Serambi ini, bagiku merupakan salah satu buku yang isinya sederhana, namun isinya akan selalu meresap hingga ke relung-relung jiwa yang paling dalam. Cara bercerita Leo Tolstoy telah membuat kisah-kisah sederhana itu menjadi hidup berkat kemampuannya merangkai detail-detail yang sangat cermat menjadi sebuah cerita yang mengalir, sehingga kita seolah merasa mengalami atau melihat sendiri semua kejadian di kisah itu. Bravo Leo Tolstoy! Dan untuk itu aku memberikan 5 bintang untuk karya ini!

Friday, February 11, 2011

The Phantom Of The Opera

Don't judge people from their looks. Anda semua pasti setuju dengan kalimat tersebut. Namun pada kenyataannya kadang tidaklah semudah itu. Banyak contoh anak-anak yang lahir cacat atau abnormal disingkirkan dan dikucilkan oleh orang-orang di sekitarnya, bahkan kadang oleh keluarga dan orang tua mereka sendiri. Hal itulah yang menjadi cikal bakal kisah sejarah terkenal yang terjadi di Paris akhir abad 19: The Phantom Of The Opera. Seorang wartawan sejarah bernama Gaston Leroux lalu melakukan penyelidikan 30 tahun sesudahnya, dan menuliskan hasil analisa, wawancara dan penyelidikannya, serta merangkumnya menjadi sebuah kisah misteri, horor, cinta sekaligus petualangan yang menegangkan namun memberi nuansa seni yang hebat ini.

Warga Paris yang hidup pada jaman itu sudah mengenal Hantu Opera, demikian mereka menyebut fenomena-fenomena ganjil yang terjadi di dalam gedung opera itu yang tak pernah dapat dijelaskan. Hantu itu digambarkan berwajah seperti mayat atau tengkorak dengan mata yang menyala keemasan. Hantu itu kadang menampakkan diri, namun lebih sering lagi hanya terdengar suaranya, serta melakukan hal-hal yang mustahil dilakukan manusia. Si Hantu bukan hanya suka jail (seperti mengerjai kedua manajer Opera dan membuat malu seorang biduanita), namun ia bisa dibilang adalah penguasa gedung Opera beserta semua pertunjukannya. Ia mengklaim balkon nomor lima di gedung itu untuk dirinya, tak boleh disewakan atau ditempati orang lain. Ia mengatur siapa yang boleh bermain memerankan tokoh apa. Ia menuntut gaji 20 ribu franc kepada manajer Opera, dan memiliki setumpuk peraturan lain yang harus ditaati semua orang, kalau tidak.... akan terjadi 'hal-hal yang buruk'.

Hal yang buruk itu bisa saja hanya hilangnya seekor kuda, atau jatuhnya lampu kandelar besar yang tergantung di atap gedung opera, atau bahkan terbunuhnya seorang staf dengan cara digantung! Pendek kata, tak seorang pun tampak percaya pada kisah kekanak-kanakan tentang hantu itu, namun tak ada seorang pun juga yang tak merasa ngeri pada hantu itu. Lalu semuanya berubah saat seorang bintang baru Opera itu mulai bersinar. Dialah Christine Daae, seorang gadis nan cantik, lembut dan polos, yang sedari kecil dididik dalam kehalusan seni serta dongeng-dongeng tentang malaikat. Christine memiliki suara emas yang, konon, bagaikan suara malaikat dari surga. Suara itulah yang memikat sang Hantu Opera dan merebut hatinya!

Kepolosan Christine dimanfaatkan dengan baik oleh si hantu. Dengan gampangnya, si hantu memasukkan ide tentang Malaikat Musik, sosok gaib yang dikirim oleh almarhum ayah Christine untuk mengajarinya bernyanyi. Maka Christine pun tidak pernah mempertanyakan keberadaan 'Malaikat Musik' yang tak berwujud dan hanya terdengar suaranya saja dari balik tembok saat mengajarinya bernyanyi selama tiga bulan di dalam kamar gantinya setiap malam. Yang pertama kali mengetahui keganjilan ini adalah Viscount Raoul de Chagny, bangsawan muda yang jatuh cinta pada Christine yang dikenalnya semenjak kecil. Malam yang istimewa itu, saat Christine untuk pertama kalinya mengejutkan semua orang dengan suara gemilangnya, Raoul mengikuti Christine hingga ke kamar gantinya. Di sana ia mendengar suara pria berbicara pada Christine, namun ternyata tak ada seorang pun disana! Hantu itu....

Selanjutnya perilaku Christine menjadi aneh. Ia tampak tidak bahagia, ketakutan, dan menghindar dari Raoul seolah-olah ia tak mencintai pemuda malang itu. Atau itulah yang disangka Raoul pada awalnya. Ia merasa cemburu pada 'pria misterius yang mengajari Christine menyanyi dan dengan tidak sopannya melakukannya di kamar ganti sang bintang, berduaan saja di malam hari'. Yang ia tak sadari saat itu, sang pria bukan saja misterius dan kurang sopan, ia ternyata adalah sang Hantu Opera sendiri, yang ternyata juga bukanlah hantu namun justru jauh lebih berbahaya daripada hantu. Sang Hantu Opera sejatinya adalah seorang pria 'malang dan tak bahagia' bernama Erik.

Bagaimana seorang pria bisa menjadi hantu opera? Seperti yang telah kujadikan pembuka ulasan buku ini pada paragraf pertama tadi, penolakan dunia terhadap seorang pria berwajah buruk dan mengerikan, membuat Erik harus menyembunyikan dirinya dari dunia, di lorong-lorong bawah tanah yang gelap di dalam Gedung Opera. Di sebuah rumah di tepi telaga jauh di bawah gedung Opera, Erik menghabiskan hari-harinya. Ia mengenal setiap sudut gedung itu karena ia dulu ikut merancang bangunannya sebagai seorang arsitek. Setelah tugasnya selesai, diam-diam ia merancang dan membangun rumahnya sendiri tanpa sepengetahuan siapapun. Tak ada yang bisa masuk ke rumahnya karena ia menyiapkan jebakan-jebakan maut. 'Nyanyian maut' di dalam telaga bagi yang datang dengan perahu lewat telaga, atau 'Bilik Penyiksaan' bagi yang datang lewat suatu jalan rahasia di gudang ketiga Opera.

Erik berhasil memikat Christine dengan kedok Malaikat Musiknya sehingga ia dapat menculik si gadis ke rumah tepi telaganya. Ia ingin menjadikan Christine sebagai istrinya, kalau tidak, ia akan menghancurkan 'dunia atas', sebutannya untuk dunia normal di mana ia ditolak. Hanya si Orang Persia yang mengetahui rahasianya karena orang ini dulu pernah menyelamatkan nyawa Erik. Orang Persia mengetahui hampir semua karya-karya jenius Erik sebagai seorang arsitektur sekaligus ilusionis. Erik mampu mendesain 'pintu jebakan', ilusi menggunakan cermin, dan 'bilik penyiksaan' yang mampu membunuh orang. Menarik menyimak tentang bagaimana ilusi dapat menyesatkan orang, bahkan membuatnya ingin mati dan akhirnya membunuh diri. Bahkan si orang Persia yang tenang dan mengetahui rahasia bilik penyiksaan itu juga akhirnya terhanyut pada ilusi ciptaan Erik. Menarik membayangkan bagaimana sebuah ruangan yang didesain khusus dengan cermin bisa begitu mematikan! Lebih menakutkan daripada ruangan yang penuh senjata, karena senjata digerakkan oleh orang lain, sementara dengan ilusi, kau sendiri yang membunuh dirimu.

Boleh dibilang, petualangan orang Persia dan Raoul de Chagny untuk menyelamatkan Christine dari cengkeraman Erik inilah yang teramat seru dan tegang dalam buku ini. Mereka akhirnya menyadari rencana akhir sang Hantu: yaitu untuk menghancurkan 'dunia atas' sebagai pelampiasan dendamnya pada mereka yang menolaknya. Dan Christine adalah satu-satunya harapan mereka, karena kalau ia menolak menikah dengan Erik, Erik akan menghancurkan mereka semua....

The Phantom Of The Opera benar-benar kisah yang menggugah. Kita akan dibawa dalam pesona opera dan kesenian tingkat tinggi, pada syair-syair anggun dari petikan drama yang digelar, dan pada eksotisme dan kemisteriusan gedung opera dengan rumah tepi telaga dan lorong-lorong gelapnya. Kita juga akan diajak melihat bagaimana cinta dapat menyentuh, lalu mengubah sebuah kehidupan. Bagaimana cinta mampu menjadi benci karena ketiadaanya, namun cinta juga mampu mengasihani dan rela berkorban saat ia terpenuhi. Yang paling membuat kisah ini menarik, adalah karena kisah yang serupa dongeng ini benar-benar nyata! Paling tidak, Gaston Leroux telah melakukan pekerjaan yang patut diacungi jempol untuk menyingkapkan kebenaran sejarah sekaligus menyajikan sebuah hiburan yang indah, mengharukan dan menginspirasi.

Kita layak berterima kasih pada penerbit Serambi yang telah menerbitkan kisah klasik ini, dan menyajikannya dalam buku bercover lux, ditambah bonus pembatas buku nan cantik (dengan paduan warna hitam, putih dan ungu yang nampak mewah). Hanya sayang (lagi-lagi), masih banyak kesalahan ejaan yang mengganggu di sana-sini. Aku sungguh berharap, para penerbit lebih memperhatikan masalah ini. Karena sejatinya, membaca itu bukan hanya proses memahami sebuah tulisan, namun lebih pada menikmati sebuah perjalanan pikiran dan emosi. Dan sungguh...kesalahan ejaan itu bisa jadi sangat mengganggu proses itu. Semoga masalah semacam itu tak lagi menodai kisah yang mengagumkan semacam The Phantom Of The Opera ini.

Note: Oh ya, apakah anda tahu bahwa kisah ini pernah dibuat film? Bagi yang sudah menonton, setting rumah telaga Erik memang sesuai dengan kisah aslinya. Namun sosok Erik jauh lebih menyeramkan di kisah aslinya, baik fisiknya, kepandaiannya maupun caranya membalas dendam. Secara keseluruhan bukunya JAUH lebih bagus daripada filmnya! (seperti biasa ya...)

Terakhir sebagai penutup, aku ingin mengutip kata-kata si pengarang dalam epilognya, mengenai sosok Erik sang Hantu Opera:

"...Erik yang malang dan tidak bahagia! Haruskah kita iba padanya? Mengutuknya? Dia hanya ingin menjadi seperti manusia lain. Tapi wajahnya terlalu mengerikan. Dia harus menyembunyikan kejeniusannya atau memakainya untuk mengelabui manusia lain, padahal, dengan wajah yang normal, dia pasti akan menjadi anggota masyarakat yang paling mulia. Dia memiliki kemampuan untuk menggenggam dunia, tapi pada akhirnya harus puas dengan sebuah gudang bawah tanah. Dengan demikian jelaslah, Hantu Opera tersebut patut dikasihani."


Judul: The Phantom Of The Opera
Pengarang: Gaston Leroux
Penerbit: Serambi
Penerjemah: Istiani Prayuni
Cetakan: Februari 2010
Halaman: 485 hlm.

Friday, December 24, 2010

Si Cantik Dari Notre Dame

Entah mengapa buku ini harus diberi judul Si Cantik dari Notre Dame, bukannya Si Bungkuk dari Notre Dame sesuai judul buku aslinya karangan Victor Hugo: The Hunchback of Notre Dame. Mungkinkah karena alasan komersiil? Karena "cantik" lebih bernilai jual daripada "bungkuk"? Entahlah, tapi nyatanya buku ini adalah versi terjemahan dari kisah legenda yang terkenal tentang sebuah gereja di Paris, Notre Dame.

Di akhir abad ke 15 terdapat 2 golongan yang berseberangan di Paris. Kaum penguasa, gereja dan borjuis di satu sisi, dan golongan masyarakat bawah termasuk gelandangan dan kaum gipsi. Di jaman itulah Claude Frollo yang pandai, suka belajar, dan ambisius hidup sebagai yatim piatu sambil membesarkan adik yang sangat dikasihinya, Jehan Frollo. Suatu hari ia melewati seorang bocah yang diletakkan di depan gereja untuk dipungut siapapun yang berminat. Sayangnya penampilan anak itu sangat mengerikan. Wajahnya seperti monster yang sangat buruk dan tubuhnya berbonggol-bonggol dengan tulang punggung bengkok. Semua orang ngeri dan menganggap bocah itu jelmaan setan. Semua, kecuali Claude Frollo. Tanpa pikir panjang, dipungutnya bocah itu lalu dipelihara dan dididik.

Tak ada orang yang tahan memandang Quasimodo, begitulah si monster dinamai sesuai dengan hari saat ia dipungut, apalagi bergaul dengannya. Semua orang bahkan membencinya. Hanya Claude Frollo yang menganggapnya manusia. Tak heran, ia begitu mengasihi, memuja ayah angkatnya itu begitu intens. Saat Claude Frollo menjadi wakil uskup, Quasimodo menjadi pemukul lonceng di gereja Notre Dame serta tinggal di gereja itu bersama ayah angkatnya. Gereja itu menjadi surganya, dan lonceng-lonceng gereja menjadi pusat hidup dan kebahagiaannya. Meskipun belakangan, justru lonceng-lonceng itu pula yang merenggut hal yang sangat berharga baginya, yakni pendengarannya. Ya, ia menjadi tuli karena terlalu sering mendengar dentangan lonceng yang sangat keras...

Sedangkan di luar dinding-dinding gereja yang tinggi itu, hiduplah seorang gadis gipsi yang sangat cantik, pandai menyanyi dan menari dengan rebananya, serta berpembawaan riang. Dialah La Esmeralda yang selalu didampingi kambing cerdik bernama Djali. Kecantikannya yang segar dan alami membuat kaum pria dari berbagai golongan terpesona padanya. Ada Gringoire sang filsuf dan penyair yang ditolong Esmeralda dari tiang gantungan dengan menjadikannya suami platonis. Ada juga seorang perwira kerajaan yang tampan dan playboy, yang seharusnya sudah bertunangan namun masih saja melirik gadis lain, bernama Phoebus. Bahkan Quasimodo si buruk rupa nan tuli itu juga terpesona pada kesegaran Esmeralda. Namun yang paling mengherankan justru pengagumnya yang datang dari dalam gereja! Sang wakil uskup, yang seharusnya hidup selibat, malah memiliki hasrat yang besar terhadap Esmeralda....

Bagaimana dengan Esmeralda sendiri? Seperti layaknya kisah-kisah romantis lainnya, ia justru jatuh cinta pada pria yang tak sungguh-sungguh mencintainya, Phoebus. Betapa ironisnya cinta itu ya? Cerita lalu berpusar-pusar pada tokoh Esmeralda ini. Esmeralda yang selalu membawa kantung kecil bermanik di sekeliling lehernya, Esmeralda yang selalu menjaga kesuciannya karena bila ia ternoda, ia diramal takkan bisa bertemu dengan ibunya yang tak pernah ia temui. Esmeralda yang rela menikahi Gringoire karena iba, meski harus memaksa Gringoire berjanji untuk tak menyentuhnya. Esmeralda yang ditangkap dan akan dihukum gantung. Esmeralda yang diselamatkan. Esmeralda yang dituduh melakukan pembunuhan, dan seterusnya. Bahkan Esmeralda juga membuat kaum gipsi dan gelandangan menyerbu gereja di tengah malam buta. (mungkin saja pemilihan judul versi terjemahan ini justru lebih tepat ya, karena jelas pusat kisah ini adalah si cantik Esmeralda).

Lewat kisah ini, Victor Hugo mengajak kita untuk memahami berbagai makna cinta. Cinta platonis milik Gringoire, yang puas hanya dengan memandang keceriaan istrinya (dan malah lebih cinta pada kambingnya, Djali...). Cinta palsu milik Phoebus yang hanya terpikat pada kecantikan lahiriah semata, dan secepat cinta itu datang, secepat itu pula ia tergantikan. Cinta penuh napsu dan obsesif milik Claude Frollo sehingga ia rela melakukan apa saja yang berpotensi mencoreng namanya dan gereja, demi menghalangi pria manapun menyentuh Esmeralda-nya. Atau cinta murni milik seorang Quasimodo. Cinta yang tak ingin memiliki, hanya ingin melindungi. Cinta yang membuatnya cukup hanya memandang dari jauh, dan tak pernah menuntut balasan apapun.

Victor Hugo juga membukakan mata kita terhadap cinta terhadap sesama manusia. Betapa mudahnya orang mengkotak-kotakkan manusia lain hanya karena derajat. Bagaimana orang gipsi dianggap jahat dan mistis, bagaimana orang yang penampilannya berbeda dengan kebanyakan yang lain dianggap bukan manusia, jelmaan setan, jahat, kejam seperti binatang. Betapa mengerikan akibat yang ditimbulkan manusia kala ia tak mau melihat ke kedalaman hati, melainkan hanya pada penampilan luar. Kisah di buku ini membuktikannya.

Akhirnya, aku juga sadar bahwa jatuh ke dalam dosa itu begitu gampangnya. Bahkan Claude Frollo yang pemikir dan logis, yang sejak kecil religius, yang dulu mengasihi adiknya dan memungut Quasimodo karena kasih, mampu menjadi pribadi yang berbeda saat ia membiarkan hasrat menguasai dirinya. Maka dosa itu bukan soal 'siapa', namun lebih pada 'bagaimana'. Bagaimana kita menyikapi suatu keadaan. Bagaimana kita menentukan pilihan. Bagaimanapun, hidup ini selalu mengenai pilihan kan? Sama seperti anda yang bebas memilih, cukup puas dengan membaca resensiku, atau mau membaca buku yang indah ini sendiri....

NB:

1. Kalau anda memilih yang terakhir, Vixxio bisa membantu anda mendapatkan buku ini dengan diskon 20% di: Si Cantik Dari Notre Dame.

2. Kalau anda merasa bosan dan bingung di bab-bab awal, jangan menyerah! Karena makin ke belakang, anda akan menemukan keindahan yang sesungguhnya kisah ini. Aku hampir saja melewatkannya, jangan sampai anda juga!

3. Salut pada penerbit Serambi yang mampu menyajikan terjemahan apik pada karya sastra seindah milik Victor Hugo. Namun sayang, ada beberapa halaman yang tak tertata dengan baik. Ada paragraf yang terulang, ada halaman yang tak menyambung (meloncat) dengan halaman berikutnya, dan ini lumayan mengganggu keasyikan membaca. Semoga itu hanya terjadi di eksemplar yang aku beli saja ya...

Monday, August 9, 2010

Trio Musketri

Aku ingat, aku amat bersemangat saat pertama kali melihat cover buku ini! Trio Musketri adalah versi terjemahan dari sebuah kisah patriotik karya Alexandre Dumas: The Three Musketeers.

Saat aku kecil, kira-kira ketika aku duduk di bangku akhir SD, orang tuaku pernah memberiku sebuah buku lumayan tebal, yang isinya (kalau tak salah mengingat) 3 cergam klasik. Salah satunya yang paling menjadi favoritku adalah The Three Musketers. Three Musketeers adalah julukan 3 orang (dan selanjutnya ditambah seorang lagi) ksatria pengawal dan pembela Raja Perancis, yang waktu itu (sekitar tahun 1800-an) dikisahkan dijabat oleh Louis XIII.

Sebelum merobek plastik pembungkus buku Trio Musketri ini, aku mengingat-ingat nama ke-empat musketri itu. Ah ya...Athos, Porthos, Aramis, dan yang termuda dan terakhir bergabung: D'Artagnan. Dan aku jadi teringat semboyan yang selalu mereka ucapkan saat hendak bertarung bersama: one for all, and all for one (atau kebalikannya ya?..). Semboyan itu mereka ucapkan sambil mereka membentuk formasi lingkaran, dan saling menyentuhkan ujung pedang masing-masing ke bawah. Yang membantuku mengingat lebih baik, adalah sebuah film yang pernah aku tonton 2 kali, yang mengambil kisah three musketers ini, yaitu: The Man With The Iron Mask yang dibintangi oleh si ganteng Leonardo Di Caprio, sebagai raja Louis, serta Gerard Depardieu yang menjadi salah satu musketers (kalau tak salah Porthos...).

Pada jaman Raja Louis XIII bertakhta, ada 2 kekuatan yang secara tak langsung menguasai negara Perancis. Di satu pihak ada Raja, yang notabene harusnya menjadi penguasa dan pemimpin tertinggi, dan di lain pihak ada Kardinal (pemimpin di Gereja Katolik, setingkat di bawah Paus). Raja Louis XIII adalah sosok yang tak terlalu tegas, dan sering mudah dipengaruhi. Sedangkan Kardinal Richeliu adalah sosok yang ambisius, pandai dan berani, yang sering mempengaruhi Raja demi kepentingannya sendiri. Kedua kubu ini memiliki pasukan pengawal pribadi masing-masing. Di kubu Louis XIII ada kelompok musketri, di mana ada 3 orang ksatria yang paling menonjol, hebat dalam bermain pedang, cerdas, sekaligus amat setia pada Raja dan negara. Namanya Athos, Porthos dan Aramis. Sedangkan Kardinal memiliki pasukannya sendiri juga. Di antara antek-anteknya, ada seorang wanita cantik nan kejam yang amat pandai dalam membuat rencana dan merayu pria. Namanya Milady.

Dalam situasi seperti itulah D'Artagnan muda yang berasal dari desa, berani, terang-terangan dan pemarah, datang ke ibukota untuk melamar menjadi anggota musketri. Sebelum ia benar-benar diterima, ia sudah tanpa sengaja membuat gara-gara dengan 3 orang dari para musketri. Dan seperti layaknya kebiasaan para ksatria saat itu, D’Artagnan akhirnya ditantang berduel oleh ketiga musketri itu pada waktu yang berbeda, meski penyebabnya hanyalah hal remeh-temeh.

Ketika D’Artagnan datang ke lokasi duel, ia baru menyadari bahwa ketiga musketri yang menantangnya itu adalah Trio Musketri yang termasyur itu. Dari sanalah akhirnya mereka berempat menjadi sahabat yang tak terpisahkan.

Trio Musketri sangat mengasyikkan dibaca, karena selain alurnya yang cepat, seringkali tingkah kocak ketiga musketry menarik juga diikuti. Tokoh sentral di kisah ini memang D’Artagnan. Karena selain ia terbukti sosok dengan karakter pemberani dan cerdik, hingga ia diincar oleh Kardinal Richeliu untuk direkrut, ia juga seorang pemuda yang gagah dan tampan sehingga beberapa kali terlibat kisah asmara. Cintanya yang pertama dan paling langgeng adalah dengan Constance, si penjahit yang sering menjadi suruhan Ratu.

Selain politik, yakni perseteruan Prancis dan Inggris, kisah ini juga dibumbui dengan kisah percintaan yang menjadi skandal antara Ratu dengan Duke of Buckingham, bangsawan Inggris. Skandal inilah yang diincar oleh Kardinal untuk menghancurkan Duke of Buckingham. Namun berkat kecerdikan D’Artagnan dan trio musketri, rencana yang dilancarkan oleh Kardinal bekerja sama dengan Milady dapat dipatahkan.

Kecerdikan dan kekejaman Milady juga menjadi salah satu pewarna dalam kisah ini. Apalagi setelah D’Artagnan jatuh ke pesona kecantikan Milady, dan sempat jatuh cinta sesaat pada wanita ini, yang sebenarnya hanya ingin memperalat D’Artagnan. Hebatnya, dalam setiap jatuh bangun masing-masing musketri, ketiga sahabatnya akan siap untuk membantu. Makanya, sangat pas dan dalam arti semboyan yang mereka usung: One for all, and all for one.

Pada akhirnya, kita dapat belajar banyak tentang adat dan kebudayaan di Prancis saat abad ke 18, dengan sikap para ksatrianya yang menyelesaikan masalah dengan duel, dan intrik-intrik politik yang menghalalkan segala cara, juga kisah cinta yang menyentuh, serta persahabatan, patriotik, kesetiakawanan dan kesetiaan pada sahabat, raja dan negara. Sungguh-sungguh bacaan yang menggugah, mendidik sekaligus menghibur!

Judul buku: Trio Musketri
Pengarang: Alexandre Dumas
Penerbit: Serambi