Showing posts with label Tales. Show all posts
Showing posts with label Tales. Show all posts

Monday, April 1, 2013

Just So Stories


I think I owed The Classics Club for their The Classics Spin fun event on last February, where the spin picked the lucky number 14; and from my spin list, it goes to…. Just So Stories! Without the Classics Spin, I might have not picked that book for a long time, as I haven’t been a fan of children tales. Now I know that I have misjudged Just So Stories, and most importantly Rudyard Kipling—I’m really sorry Mr. Kipling! :).

Just So Stories contains of twelve animal tales, mostly about how they evolved until they are like they are today, and all were told in comical yet lyrical style. To add the amusement of the stories, Kipling drew illustrations for each story and slipped some informative pieces which sometimes are quite funny too. Well, smartly-funny to be exact. Here is one of the illustrations (picked from How the Rhinoceros Got His Skin). It’s not very special, really, but I was amazed by Kipling’s idea to put the Firaun’s cart-wheel into the illustration (the circular thing half buried in the sand at the bottom of the illustration)!


And to top them, Kipling provided a sweet bonus at the end of each story: songs! Or in this case, the lyrics only. And some of them were entertaining too, here’s one of my favorite, from The Cat That Walked by Himself. If you want to know how cats—being in the beginning solitary animals—could be pets nowadays, just read this story, you’ll see that funny it is, Kipling could portrait the nature of each animal very distinctly.

PUSSY can sit by the fire and sing,
Pussy can climb a tree,
Or play with a silly old cork and string
To'muse herself, not me.
But I like Binkie my dog, because
He knows how to behave;
So, Binkie's the same as the First Friend was,
And I am the Man in the Cave.

Pussy will play man-Friday till
It's time to wet her paw
And make her walk on the window-sill
(For the footprint Crusoe saw);
Then she fluffles her tail and mews,
And scratches and won't attend.
But Binkie will play whatever I choose,
And he is my true First Friend.

Pussy will rub my knees with her head
Pretending she loves me hard;
But the very minute I go to my bed
Pussy runs out in the yard,
And there she stays till the morning-light;
So I know it is only pretend;
But Binkie, he snores at my feet all night,
And he is my Firstest Friend!

You know, reading these funny stories suddenly made me wonder, what would Charles Darwin think/react when he have read these? :) Maybe one story that would satisfy him most is The Sing-Song of Old Man Kangaroo. Really, it could be a good way to explain Darwin’s theory to children (although I don’t have any clue what really made kangaroo hop long long time ago! :D). The Beginning of the Armadillos is also a kind of Darwinian theory about how hedgehogs and tortoises can turn to Armadillos. Moral lesson: people may change because of circumstances.

What would interest us as adults is that Kipling wrote these stories from his thorough observation during his journeys to Asia and Africa. Unlike most tales, Kipling wrote about nature, men, animals, and culture that really exist, and combined them with his imagination to turn into these amazing stories. Here and there he satirized about people too. In How the Leopard Got His Spots Kipling criticized us, adults, of often being too complicated with words for simple things:

Leopard: 'Where has all the game gone?'
Ethiopian: 'Can you tell me the present habitat of the aboriginal Fauna?'
(That meant just the same thing, but the Ethiopian always used long words. He was a grown-up.)

In another story, The Crab that Played with the Sea, Kipling even called Malayan people as “lazy”, as you can read in this: “You are lazy,' said the Eldest Magician. 'So your children shall be lazy. They shall be the laziest people in the world. They shall be called the Malazy--the lazy people.” And speaking about Malay, I found it very interesting that Kipling mentioned also my hometown, Surabaya (he called it ‘Sourabaya’) in the same story. One of the characters brought a kris (‘keris’ in Bahasa Indonesia) with him, a curving, wavy shaped dagger, traditional weapon in Indonesia. Kipling also mentioned about Indonesian tropical islands in this: “…He breathed upon the sand and the rocks, where they had fallen in the sea, and they became the most beautiful islands of Borneo, Celebes, Sumatra, Java, and the rest of the Malay Archipelago, and you can look them out on the map!” Thank you Mr. Kipling! :)

The most hilarious story is perhaps How the First Letter Was Written. It’s about how the first men first learned to communicate with others. In a comical way Kipling told us how drawings could be easily misinterpreted in written communication, but drawings could also be simplified to create letters which we now use as alphabetic. In short, Just So Stories is very entertaining and educating, both for children (of all age, provided that they can read) and for adults!

Four stars for Just So Stories, and for Rudyard Kipling!

~~~~~~

I read the ebook version from this.

This book is counted for:



38th book for The Classics Club

Monday, October 24, 2011

Pangeran Bahagia

Apakah kebahagiaan itu identik dengan keindahan, kemilaunya emas dan meronanya merah batu delima? Bersama Pangeran Bahagia, Oscar Wilde—seorang sastrawan legendaris Irlandia akan mengajak anda sekali lagi memaknai sebuah kebahagiaan. Seperti namanya, Pangeran Bahagia selalu mengalami kebahagiaan selama hidupnya yang terkurung di balik dinding istananya yang tinggi. Namun begitu ia meninggal dan sebuah patung didirikan di atas tiang jangkung yang menjulang ke atas kota, maka Pangeran Bahagia pun mulai menyadari bahwa banyak orang yang menderita di luar sana.

Suatu hari seekor burung walet (swallow) yang terlambat bermigrasi ke negeri Mesir yang hangat, merasa iba pada Pangeran Bahagia yang sedang menangis sedih. Burung Walet pun setuju untuk menunda kepergiannya ke Mesir demi menolong misi yang ingin dilakukan Pangeran Bahagia. Misi apakah itu? Apalagi kalau bukan membuat orang lain juga menjadi bahagia. Meski Pangeran Bahagia hanya bisa berdiri diam, ia merelakan semua yang ada pada dirinya demi membantu orang yang menderita. Batu delima di pedangnya, batu safir yang membuatnya memiliki mata, hingga emas yang selama ini melekat di tubuhnya. Semuanya tanpa batas ia ikhlaskan untuk mereka yang menderita.

Lalu bagaimana ketika Pangeran Bahagia sudah tak memiliki apapun untuk diberikan lagi? Akankah si burung wallet meninggalkannya untuk pergi ke Mesir menyusul teman-temannya? Dongeng Pangeran Bahagia ini merupakan salah satu dari kumpulan dongeng dengan judul sama. Dongeng ini adalah salah satu favoritku dari total 5 dongeng yang ada. Begitu menyentuh, begitu gamblang untuk dipahami. Ternyata kebahagiaan yang sejati adalah ketika kita mampu member kebahagiaan kepada orang lain. Kebahagiaan itu sifatnya memberi, dan bukan menerima…

Namun dongeng yang paling membuatku terhenyak adalah dongeng ketiga yang berjudul: Raksasa Yang Egois. Awalnya dongeng ini seperti dongeng anak-anak biasa, yaitu kisah raksasa yang mempunyai kastil dengan taman luas yang indah, penuh rumput hijau, bunga-bunga aneka warna dan 12 pohon persik. Taman itu menjadi tempat bermain anak-anak di sekitarnya di musim semi. Nah, ketika si raksasa pulang dan mendapati banyak anak-anak bermain di tamannya, marahlah ia. Dibangunnya dinding tinggi memagari tamannya, dan dipasangnya pengumuman yang melarang anak-anak memasuki taman. Anak-anak pun sedih, dan anehnya, musim semi, musim panas dan musim gugur pun tak mau lagi datang ke kebun si raksasa, hingga musim dingin, salju dan angin Timur lah yang bermain-main di sana.

Sekarang si raksasa lah yang menjadi sedih karena musim dingin yang berkepanjangan. Namun suatu hari ada seorang anak kecil datang bermain di sana dan mencium si raksasa. Hati si raksasa pun lumer, dan ia sangat mencintai si anak kecil. Namun setelah itu si anak kecil menghilang, sampai suatu saat si anak kecil datang kembali. Kali ini si raksasa menemukan sebuah kejutan dalam diri si anak kecil. Di sinilah anda akan dibuat terpana, ketika mengetahui siapa si anak kecil sebenarnya. Dongeng yang awalnya seperti dongeng anak-anak biasa, menjadi begitu dalam maknanya. Inilah dongeng paling favorit bagiku di buku ini!

Ada tiga dongeng lainnya yang masing-masing berbicara tentang makna cinta, makna persahabatan, dan keegoisan. Yang paling menarik mungkin kisah ke 4: Teman Yang Setia. Dongeng ini merupakan “dongeng di dalam dongeng”. Ada beberapa hewan yang sedang berdiskusi tentang makna “sahabat yang setia”. Ada tikus air yang hanya mementingkan dirinya sendiri, lalu ada ibu bebek dan burung pipit. Kemudian burung pipit menceritakan sebuah dongeng tentang Hans yang baik hati dan si Tukang Giling. Kedua tokoh ini menganggap temannya sebagai sahabat. Sebenarnya si burung pipit yang bercerita berharap si tikus air bisa mengambil pelajaran moral dari dongengnya itu. Namun ternyata si tikus air malah melengos pergi. Maka, Wilde pun menyerahkan kepada pembaca sendiri untuk mengambil kesimpulan, nilai moral apa yang terkandung dalam dongeng Hans sekaligus si tikus air itu.

Menilik dari ragam dongeng yang disajikan Wilde di buku ini, menurutku Pangeran Bahagia lebih ditujukan bagi orang dewasa atau paling tidak remaja, ketimbang anak-anak. Atau orang tua bisa membacakan dongeng ini bagi anak-anaknya sambil menjelaskan nilai moral yang ada di balik masing-masing dongeng. Yang jelas, dongeng-dongeng dari Oscar Wilde ini bukanlah dongeng biasa. Kisahnya memang ringan, namun mengandung makna yang cukup dalam untuk menjadi bahan permenungan.

Empat bintang untuk Pangeran Bahagia!

Judul: Pangeran Bahagia
Judul asli: The Happy Prince and Other Stories
Penulis: Oscar Wilde
Penerjemah: Risyiana Muthia
Penerbit: Serambi
Terbit: April 2011
Tebal: 104 hlm

Saturday, February 19, 2011

The Tales Of Terror & Detection

Buku ini merupakan salah satu kumpulan cerpen-cerpen detektif-gothic milik seorang sastrawan besar Amerika: Edgar Alan Poe, yang diterjemahkan dan diterbitkan oleh Penerbit Liris, Surabaya. Dengan cover yang bernuansa gelap dan angker dengan rumah bermenara tinggi di latar langit gelap dan cahaya bulan, memang nuansa gothic itu langsung terlihat. Kalau dibadingkan cover aslinya, aku pikir cover dari penerbit Liris ini lebih mengena. Tapi sayangnya...hanya cover itu saja yang bisa diandalkan dari versi terjemahan ini. Terjemahannya sendiri kacau, seolah-olah penerjemahnya hanya menerjemahkan apa adanya, tanpa mempedulikan isinya (itu kalau ia benar-benar memahami kedalaman maknanya dan dapat mengapresiasi sastranya).

Karena alasan di atas, aku hanya menyempatkan membaca 2 dari total 5 kisah yang ada di buku ini. Itupun karena kedua kisah itu ada tokoh detektif C. Auguste Dupin, tokoh detektif ciptaan Poe yang menjadi pelopor semua tokoh detektif di dunia kesusasteraan dunia, termasuk Sherlock Holmes yang muncul sesudah Dupin.

Misteri Marie Roget

Sebenarnya Poe pertama kali menghadirkan C. Auguste Dupin dalam kisah "The Murder in the Rue Morgue". Setelah itu ia menulis Misteri Marie Roget ini, di mana ia masih sedikit menyebut-nyebut tentang kasus Rue Morgue itu, meski tak ada kaitan langsung dengan kasus ini. Marie Roget adalah seorang gadis muda pelayan toko di Paris pada abad 19 yang cantik dan suka bergenit-genit. Ia pernah menghilang dari rumah ibunya selama seminggu penuh, membuat orang-orang mencarinya, namun akhirnya kembali tepat setelah seminggu, tanpa alasan yang jelas. Baru saja keluarga dan orang-orang di sekitarnya dapat melupakan peristiwa aneh itu, Marie kembali menghilang di suatu malam, setelah ia pamit hendak mengunjungi rumah bibinya. Dan kali ini bukannya kembali dalam keadaaan sehat walafiat, ia malah ditemukan sudah menjadi seonggok mayat mengambang di Sungai Seine empat hari kemudian.

Sebelum pergi, ia mengatakan pada tunangannya, St. Eustache bahwa ia akan melewatkan waktu di rumah bibinya di Rue Des Drome. Saat ditemukan di sungai, tubuhnya terapung dan pakaiannya sudah robek-robek berantakan. Belakangan, di sebuah sudut yang rimbun di sebuah taman, dua bocah menemukan beberapa bagian dari pakaian wanita yang diyakini adalah pakaian yang dikenakan Marie. Pada bagian penemuan pakaian ini agak membingungkan, karena kita tahu model gaun wanita pada jaman itu yang bertumpuk-tumpuk dan ribet.

Polisi telah melakukan penyelidikan, dan media-media cetak berlomba-lomba menerbitkan analisis mereka tentang kasus ini. Berdasarkan data-data yang terkumpul, tokoh 'aku' (yang tak pernah jelas siapa) membahas kasus itu bersama si jenius Auguste Dupin. Dupin adalah tipe detektif yang mengandalkan logika berpikir untuk memecahkan masalah. Ia jelas orang yang amat pandai, dan penguasaannya terhadap ilmu pengetahuan sangat baik. Misalnya media cetak, yang saat itu sebagai satu-satunya pembentuk opini massa, ada yang mengambil kesimpulan bahwa mayat itu bukan mayat Marie, tapi wanita lain. Ada yang bilang bahwa pelakunya pastilah geng yang suka membuat keributan di kota itu.

Namun ketelitian dan logika hebat Dupin mematahkan semua asumsi para media cetak itu. Dupin mampu memaparkan detail yang paling remeh dengan logika yang hebat. Tak ada satu detail pernyataanpun yang luput dari radarnya. Di sini kadang kita juga seolah belajar sesuatu. Misalnya saja pembuktian Dupin tentang mayat Marie yang terapung. Media mengatakan bahwa waktu 3 hari tak cukup untuk membuat mayat bisa terapung. Menurut teori mereka, mayat harus mengalami pembusukan selama 6-10 hari untuk bisa kemudian muncul ke permukaan. Padahal menurut Dupin, bahkan kalau kita yang hidup dilemparkan ke air dan tak bisa berenang, ada orang yang akan tenggelam, ada yang tidak. Tahukah anda bahwa rata-rata berat gravitasi khusus tubuh kita dan jumlah air yang dipindahkan saat tubuh kita jatuh ke sungai, itu sama? Itu artinya bahwa secara alami, kita tidak akan begitu saja tenggelam hingga ke dasar sungai. Kecuali kalau kita lantas menjadi panik, mengangkat kedua tangan kita ke atas dan bergerak-gerak, maka kita akan tenggelam. Sebaliknya, kalau posisi kita tegak lurus seolah-olah berjalan di air, dan kepala didongakkan seakan-akan tidur di permukaan air, maka kita tidak akan tenggelam. Menarik kan?

Tapi penelusuran bukti-bukti yang njelimet dan pembuktiannya itu begitu bertele-tele, dengan kutipan dari surat kabar yang diulang-ulang, ditambah dengan terjemahan yang jauh dari sempurna, menjadikan kisah ini penyebab sakit kepala! Padahal aku hanya ingin tahu, siapa sih yang membunuh si Marie yang malang? Sebuah geng? Atau seorang pacar gelap?

Kisah kedua jauh lebih menghibur...

Surat Yang Dicuri (The Purloined Letter)

Kali ini, bukan soal pembunuhan yang diangkat, tetapi pencurian. Seorang Inspektur Kepolisian Paris pada suatu hari mendatangi Dupin (dan tokoh 'aku) untuk minta bantuan. TKP adalah di kerajaan. Pelakunya adalah seorang Menteri dengan inisial D. Dokumen yang dicurinya itu akan memberinya kekuasaan yang tak layak ia dapatkan dan membahayakan kedudukan seseorang di tingkat yang lebih tinggi. Surat itu dipastikan masih dimiliki oleh Menteri D. Namun, si Inspektur yang telah menerapkan semua ilmu penggeledahan yang paling canggih untuk menemukan surat itu di kediaman Menteri D, tak berhasil menemukannya.

Dupin, dengan logika dan rasiosinasi* nya yang kuatlah yang akhirnya mengetahui di mana surat itu berada selama ini, dan sekaligus berusaha merebutnya dari tangan Menteri D. Ternyata memang manusia selalu berasumsi bahwa orang lain akan melakukan hal yang sama dengan dirinya sendiri. Si Inspektur, yang bangga dengan pengetahuan dan ketrampilannya untuk menggeledah dengan teliti tempat-tempat persembunyian di suatu tempat, tak memikirkan kemungkinan bahwa seseorang yang cerdik dan tak ingin hartanya ditemukan orang lain, mungkin memilih meletakkan harta itu di tempat yang justru terlihat oleh semua orang. Bukankah peti yang tertutup dan tergembok rapat akan menyiratkan sesuatu yang rahasia atau berharga tersembunyi di dalamnya? Tapi kalau ada sebuah kotak yang digeletakkan sembarangan saja di atas meja, apakah kita akan mencurigai ada sesuatu yang disembunyikan di situ?

Akhirnya, membaca buku ini memang melelahkan, tapi aku jadi bisa sedikit lebih mengenal metode-metode yang digunakan Auguste Dupin dalam pemecahan misterinya. Meski aku juga masih belum mampu mengenalnya secara personal, karena karakternya tak banyak dikupas di kedua kisah ini. Yang paling menarik (dan paling terkenal) pada diri Dupin adalah rasiosinasinya. *Rasiosinasi adalah proses penalaran yang menggabungkan logika dan imajinasi tinggi. Bisa dibilang rasiosinasi adalah hasil dari studi dari berbagai data yang ada, ditambah dengan pendekatan pribadi sang detektif pada situasi TKP secara umum, dengan tujuan untuk memahami apa yang kira-kira terjadi dan dialami oleh para pelaku sebuah kasus.

Using what Poe termed "ratiocination", Dupin combines his considerable intellect with creative imagination, even putting himself in the mind of the criminal. ~Wikipedia.

Membaca kedua kisah buku ini juga akan memberiku sedikit bayangan tentang karakter Edgar Allan Poe dan tokoh detektifnya, Auguste Dupin bagi kisah dan buku berikutnya yang akan aku lahap. Buku apa? Tunggu saja dengan sabar ulasannya di blog ini ya....

Judul : The Tales of Terror and Detection (terjemahan)
Pengarang : Edgar Allan Poe
Penerbit : Penerbit Liris
Penerjemah : Anna Karina
Cetakan : Juni 2010
Tebal : 214 hlm