Showing posts with label Bentang. Show all posts
Showing posts with label Bentang. Show all posts

Sunday, February 26, 2012

Les Miserables

Les Miserables. Dua kata dalam bahasa Prancis yang semenjak aku kecil telah menarik hatiku. Padahal saat itu aku bahkan tak tahu apa artinya. Selain merupakan judul buku karya salah seorang penulis klasik terbesar dunia--Victor Hugo, Les Miserables juga telah banyak dimainkan sebagai drama maupun film. Baru tahun ini aku berhasil mendapatkan versi terjemahannya (berkat penerbit Bentang Pustaka). Ternyata, arti kata Les Miserables tidaklah seeksotik kedengarannya. Les Miserables dapat diartikan sebagai para jembel (the miserable ones atau the poor ones). Memang bahasa Prancis selalu mampu menyulap semua kata menjadi terdengar indah bukan?

Kembali pada Les Miserables, novel ini bernuansa ganda. Di satu sisi, Hugo hendak menyoroti situasi sosial di Prancis--khususnya Paris pada sekitar tahun 1832, di mana para jembel--atau yang dalam kisah ini diwakili mahasiswa dan masyarakat menengah ke bawah, melakukan pemberontakan yang disebut Pemberontakan bulan Juni (June Rebelion). Di sisi lain, Hugo juga ingin menggambarkan bagaimana kebaikan dan kejahatan selalu berperang dalam batin manusia. Dengan kata lain, manusia selalu memiliki dua sisi, sisi baik dan sisi jahat yang selalu berperang. Sisi mana yang akan menang, semua tergantung pada diri kita sendiri. Namun bagaimana pun juga, sisi gelap manusia akan selalu membayanginya, sekeras apapun ia berusaha memenangkan sisi baiknya.

Dalam kisah ini, Hugo memakai tokoh Jean Valjean untuk menggambarkan "perang" itu. Gara-gara mencuri sepotong roti, lalu dihukum kerja paksa di sebuah kapal, menjadikan jiwa Valjean muda menjadi gelap. Setelah sembilan belas tahun mengalaminya, ia akhirnya bebas. Bebas dari kerja paksa, namun tak bebas dari stempel "narapidana" yang terus menempel pada dirinya. Dan kalau kita membaca terus, tampaknya pengaruh buruk dari penghukuman itu juga terus membayangi dirinya.

Valjean tiba di kota D____ (yang identitasnya disembunyikan dalam versi novel ini, dan sebenarnya adalah kota Digne), dan merasakan keramahan dan kepercayaan seorang uskup yang baik hati. Meski perlakuan baik sang Uskup menghangatkan hatinya, mau tak mau kecenderungan untuk berbuat jahat tetap muncul dalam diri Valjean. Valjean lalu melarikan diri ke kota M___ sur M___ (Montreuil sur Mer), dan berkat kecerdikannya, berhasil menjadi pengusaha dengan menggunakan nama Monsieur Madeleine. Ia bahkan akhirnya menjadi walikota. Namun bayangan kejahatannya di masa lampau kembali mengejarnya dalam bentuk seorang Inspektur Polisi berdedikasi bernama Javert. Di sini sisi baik dan sisi jahat Valjean berperang lagi.

Melarikan diri lagi, Valjean pun bertemu dengan tokoh-tokoh lainnya di novel ini, perempuan malang bernama Fantine yang memiliki putri kecil bernama Cosette. Fantine menitipkan Cosette pada keluarga Thenardier, yang ternyata adalah keluarga jahat dan pemeras. Valjean lalu menjadikan Cosette putrinya, dan berpindah lagi ke ibukota Prancis, Paris. Meski selama itu Valjean berusaha hidup dengan baik, bayangan kelam masa lalu tetap mengikutinya. Ketika Cosette dewasa dan mulai jatuh cinta pada pemuda Marius, Paris dilanda pemberontakan oleh mahasiswa dan masyarakat miskin. Mau tak mau, para tokoh kita pun terlibat di dalamnya. Bermunculan juga di bagian ini para tokoh mahasiswa.

Terus terang, aku agak terganggu dengan narasi panjang yang disuguhkan Hugo mengenai ekskalasi politik yang berujung pada pemberontakan, yang memang tercatat dalam sejarah Prancis itu. Aku hampir tertidur membaca bagian ini, padahal aku tengah penasaran untuk mengetahui kelanjutan nasib Jean Valjean dan Cosette. Akhirnya aku terpaksa melompati beberapa bagian yang kurasa tak penting dan tak berkaitan langsung dengan kisah utama. Jujur saja, aku agak kecewa dengan Les Miserables ini. Aku lebih menyukai karya Victor Hugo lainnya, yaitu The Hunchback of Notre Dame yang sama-sama bersetting di Prancis.

Tampaknya, Hugo memiliki dua fokus cerita yang kemudian berusaha ia jalin menjadi satu. Antara sejarah sosial dan pergulatan batin seseorang. Menurutku sah-sah saja, namun kadang menjadikan novel ini jadi kehilangan gregetnya. Belum lagi, karena ada dua fokus cerita, tokoh-tokohnya menjadi begitu banyak, sehingga aku seringkali 'tersesat'. Untunglah endingnya lumayan menawan, sehingga memberikan kesan mendalam setelah Anda membacanya. Bagaimana pun, cara bertutur Victor Hugo yang khas dan menghibur tetap tak menghalangiku untuk meneruskan kisah ini hingga tamat, dan memberikan empat bintang baginya.

Review ini kupersembahkan sebagai hadiah ulang tahun Victor Hugo yang jatuh tepat pada hari ini, tanggal 26 Februari 2012. Happy Birthday opa Hugo!

Judul: Les Miserables
Penulis: Victor Hugo
Penerjemah: Anton Kurnia
Penerbit: Bentang Pustaka
Terbit: Juli 2008
Tebal: 602 hlm

Friday, December 30, 2011

Kim

Membaca novel karya Rudyard Kipling ini, baru aku menyadari bahwa antara tahun 1830 hingga 1870 pernah terjadi peristiwa sejarah yang disebut The Great Game (Permainan Besar), yaitu perseteruan politik Kerajaan Inggris dan Kerajaan Rusia untuk berkuasa di Asia Tengah. Dalam buku yang masuk di urutan 78 dari 100 buku berbahasa Inggris terbaik abad 20 ini, Permainan Besar ini menjadi makin populer.

Kim adalah nama seorang bocah laki-laki yatim piatu yang suka berkeliaran di jalan-jalan kota Lahore. Nama aslinya Kimball O'Hara, putra seorang prajurit kulit putih di sebuah resimen Irlandia. Sebelum meninggal, ayah Kim mewariskan dokumen-dokumen yang menyatakan jatidiri Kim, yang lalu dijahit dalam paket yang senantiasa terkalung di lehernya. Meski berkulit putih dan putra seorang Sahib, Kim lebih suka berpakaian Hindu. Ia dijuluki Kawan Kecil dari Pelosok Dunia, dan kerjaannya meminta-minta di jalanan, sambil menjadi mata-mata kecil seorang pedagang kuda Pashtun bernama Mahbub Ali. Mengapa pedagang kuda butuh mata-mata? Karena pedagang kuda yang satu ini sejatinya adalah agen rahasia Inggris. Inilah jejak pertama intrik politik dalam kisah yang awalnya nampak sebagai kisah petualangan spiritual saja.

Suatu hari ketika sedang duduk di atas sebuah senjata yang disebut Zam-Zammah, takdir Kim mempertemukannya dengan seorang lama (biarawan) Tibet tua yang sedang melakukan Pencarian. Konon Sang Buddha pernah menembakkan anak panah dalam suatu kontes untuk melamar seorang gadis. Anak panah itu meluncur jauh, lalu menancap ke tanah. Dari sana keluarlah air dan akhirnya menjadi sungai. Sungai itu dipercaya dapat membersihkan seseorang dari segala dosa, dan disebut sebagai Sungai Anak Panah atau Sungai Penyemuhan. Sungai inilah yang hendak dicari sang lama demi melepaskan diri dari belenggu Roda Kebendaan. Seperti layaknya semua peziarah, sang lama membutuhkan seorang chela (murid) untuk melayaninya agar ia dapat fokus pada urusan spiritualnya. Kim yang berjiwa petualang segera menemani sang lama dan dengan demikian menjadi chela-nya.

Inilah Zam-Zammah yang benar-benar ada dan hingga kini masih dipajang di depan Museum Lahore, tempat pertemuan Kim dengan lama-nya di buku ini

Tugas seorang chela antara lain mengemis makanan dengan menggunakan mangkuk derma, dan menyiapkan tempat untuk tidur bagi sang lama dan dirinya sendiri. Dalam tugas pertamanya, Kim--tanpa menduga sama sekali, mulai terjerumus ke dalam intrik politik Permainan Besar. Mahbub Ali yang keberadaannya sudah dicurigai pihak musuh, mendapat ide untuk mengirim surat rahasia lewat perantaraan Kim. Siapa sih yang akan mencurigai dua orang peziarah miskin berpakaian kumal itu? Namun Kim yang cerdik tak serta merta percaya bahwa kabar yang dikirimnya berkaitan dengan kuda jantan putih. Dari mencuri dengar, ia tahu bahwa sesuatu yang besar dan penting sedang berlangsung.

Dalam kondisi itulah sang lama dan sang chela berangkat melakukan peziarahan. Sang lama fokus pada Pencariannya, sementara sang chela belumlah lega kalau tugas rahasianya belum terlaksana. Keindahan buku ini terletak pada--salah satunya, keindahan desa dan pegunungan di daerah-daerah yang dilalui Kim, juga semrawutnya kota-kota besar dalam kemiskinannya. Kipling dengan sukses membawa pembacanya seolah meneropong langsung budaya dan sosial India abad ke 19.

Sementara itu, Permainan Besar sedang diam-diam berlangsung. Meski tak diceritakan dengan detail, ketegangan mulai terbangun ketika satu persatu 'oknum' agen rahasia itu bersilangan jalan dengan sang lama (yang lugu dan tak menyadari adanya sesuatu yang tidak biasa) dan Kim. Menyadari kecerdikan dan keberanian Kim, agen rahasia bermaksud melatih Kim untuk menjadi seorang agen. Ia sempat mengenyam pendidikan yang menjadi hak anak seorang sahib, hingga tumbuh menjadi seorang pemuda.

Apakah yang akan terjadi kemudian? Berhasilkah Kim menjadi agen rahasia sungguhan? Bagaimana dengan Pencarian sang lama, akankah ia menemukan Sungainya?

Bila anda merasa asing dengan gaya penulisan Rudyard Kipling--yang telah diterjemahkan dengan baik oleh mbak Rini Nurul Badariah, jangan menyerah dan langsung menutup buku ini. Telan saja istilah-istilah asing yang bertebaran sedari awal halaman, dan kunyah saja perlahan kalimat-kalimat panjang di sana sini. Kalau mau, catatlah nama atau istilah yang terasa asing. Teruslah membaca sambil berusaha mencerna. Karena setengah bagian ke belakang, saat anda sudah mulai terbiasa dengan gaya penulisan Kipling, dan cerita mulai menegang dengan intrik politik dan mata-mata, anda akan keasyikan sendiri membaca buku ini.

Meski awalnya aku berencana memberi tiga bintang saja karena plot yang sulit dimengerti dalam buku ini, namun setelah membaca sampai akhir, aku berubah pikiran. Empat bintang kuberikan untuk buku ini. Gaya penulisan Kipling memang agak sulit dipahami, namun justru gaya itulah yang membuat buku ini sangat khas. Lama kelamaan, aku jadi suka juga dengan gaya Kipling bertutur....

Note:
Buku ini kubaca karena kebetulan Rudyard Kipling berulang tahun di bulan Desember. Sebagai hadiah, aku persembahkan review ini tepat di hari ulang tahunnya yang ke 146, hari ini: 30 Desember 2011. Happy birthday Paman Kipling!

Judul: Kim
Penulis: Rudyard Kipling
Penerjemah: Rini Nurul Badariah
Penyunting: Dhewiberta
Penerbit: Bentang Pustaka
Terbit: Juni 2011
Tebal: 453 hlm

Wednesday, November 30, 2011

The Adventures of Huckleberry Finn

Bertepatan dengan hari ulang tahun salah satu penulis terbesar di dunia, Mark Twain, hari ini aku akan mengulas salah satu karya beliau--yang menurut Ernest Hemingway merupakan “buku terbaik yang pernah ada”. Dua buku yang fenomenal dari Mark Twain adalah The Adventures of Tom Sawyer dan The Adventures of Huckleberry Finn. Kedua tokoh utama buku ini, Tom Sawyer dan Huck (Huckleberry) Finn merupakan dua sahabat yang tinggal di kota Saint Petersburg, Missouri, yang terletak tepi sungai Mississippi pada abad 19. Perkenalan pertama dengan dua sahabat ini harus anda baca di The Adventures of Tom Sawyer dulu, karena dari sana juga anda akan tahu kisah Huck Finn yang akhirnya dipelihara oleh Janda Douglas dan dijauhkan dari ayahnya yang pemabuk.

Adventures of Huckleberry Finn ini dibuka dengan kisah Huck Finn tentang kehidupannya yang sekarang, di rumah Janda Douglas dan Miss Watson. Bagaimana ia bosan setengah mati dengan ritme hidup yang teratur, pakaian rapi, bersih, sekolah dan semua pelajaran membaca dan kitab suci. Huck merindukan kehidupannya yang dulu, tidur di alam bebas, kotor, tak terawat, namun bebas merdeka.

Pada suatu hari Huck Finn, yang mengira ia takkan pernah bertemu ayahnya lagi, mendapati Pap tengah menunggunya di kamar tidurnya. Pap menagih uang yang didapat Huck dari petualangannya di The Adventures of Tom Sawyer, padahal Huck tak memegang uang itu. Singkat kata, Pap menculik Huck lalu membawanya ke sebuah pondok di tepi sungai. Meski dikurung, akhirnya Huck berhasil melarikan diri, setelah sebelumnya menciptakan sebuah ‘setting’ yang memperlihatkan bahwa dirinya telah mati dibunuh. Dengan begitu, Huck bebas bersampan di sungai, jauh dari Pap dan dari Janda Douglas—yang meski baik hati dan menyayanginya, namun tetap ia rasakan mengungkungnya.

Maka dimulailah petualangan Huck Finn menyusuri sungai Mississippi, menjelajah pulau asing, dan menyamar ke kota-kota di sepanjang tepian sungai. Lalu suatu hari ia berjumpa dengan Jim, budak kulit hitam milik Miss Watson yang tengah melarikan diri karena takut hendak dijual. Berdua, Huck dan Jim mengalami banyak hal-hal seru, menegangkan sekaligus lucu dan kadang juga menerbitkan gelitik haru. Kombinasi antara Huck Finn yang bandel tapi kadang penakut, dengan Jim yang lugu dan sangat percaya takhayul (khas orang kulit hitam) sungguh membuat perpaduan yang ganjil dan menggelikan, namun kita juga dapat merasakan kesetiakawanan, kepercayaan dan pengorbanan di sana.

Jim ketika pertama kali bertemu Huck Finn di hutan dan mengira Huck hantu (karena dia dikabarkan telah mati terbunuh)

Berkali-kali Huck dihadapkan pada dilema. Di satu sisi ia ingin bertindak jujur tentang keberadaan Jim, seorang budak yang melarikan diri dan harusnya ditangkap pihak yang berwenang. Namun di sisi lain, hati nuraninya menyuruhnya untuk tak mengatakan kebenaran tentang Jim. Huck merasa dirinya buruk karena harus berbohong, namun ia tahu ia akan merasa lebih buruk lagi kalau harus mengatakan kebenaran yang akan menyakiti Jim. Dilema yang, kurasa, sering kita alami juga dalam hidup ini. Kebenaran hukum dan kebenaran nurani rupanya memang berada di sisi yang berbeda.

Cerita mengalir dengan nyamannya, berkat gaya penulisan Mark Twain yang natural. Petualangan demi petualangan, bahaya demi bahaya, kesenangan demi kesenangan dilalui Huck dan Jim, hingga suatu saat jalan Huck dan Tom Sawyer pun bersilangan lagi saat Huck, secara tak sengaja menginap di rumah sebuah keluarga yang masih berhubungan saudara dengan keluarga Tom Sawyer. Keluarga ini telah menangkap Jim, maka Huck pun mengajak Tom (yang adalah idolanya) untuk membebaskan Jim.

Di bagian inilah aku banyak diajak tertawa ngakak oleh Twain, berkat karakter tokoh Tom Sawyer yang pengkhayal kelas kakap! Akibat banyak membaca buku tentang petualangan dan detektif, imajinasi Tom sangat luas, dan ia begitu ngotot untuk mempraktekkan semua trik yang pernah dibacanya, dalam kehidupan nyata. Proyek pembebasan Jim yang sebenarnya sepele, dipolesnya menjadi sebuah misi berbahaya yang penuh cerita. Menurut Tom, kalau bisa merancang rencana pembebasan yang penuh gaya, mengapa harus memilih cara yang praktis? Huck yang praktis (dan lebih realistis) tentu saja sering mempertanyakan rencana Tom. Begitu juga Jim yang paling banyak harus menderita gara-gara imajinasi Tom yang berlebihan. Bayangkan, ia harus tidur bersama ular jinak, tikus, dan laba-laba hanya karena menurut Tom, narapidana biasanya memelihara binatang! Hahahaha…anda pasti akan terbahak-bahak membaca bagian ini. Namun, aku juga bisa merasakan karakter kuat Tom sebagai pemimpin. Seberapa pun anehnya ide-ide Tom, Huck dan Jim selalu menurut saja sambil sesekali berkompromi.

Lewat buku ini, kurasa Mark Twain mau mengajak kita menyadari makna kebebasan dari sudut pandang yang berbeda. Bagi Jim, kebebasan adalah menjadi orang merdeka, bukan budak. Bagi Huck, kebebasan adalah bisa melakukan semua yang ia sukai tanpa dibatasi aturan. Selain itu topik perbedaan juga diangkat di sini, lewat sosok Jim, si budak. Novel ini sempat menuai kontroversi karena dianggap rasis, dengan penggunaan kata “negro”. Namun menurutku, rasis adalah soal bagaimana kita memperlakukan orang lain yang berbeda dari kita, bukan melulu sebutan—kecuali kalau sebutan itu sengaja dilontarkan karena kebencian (lagi-lagi, sikap lah yang rasis, bukan sebutannya sendiri kan?).

Satu hal yang masih menggantung bagiku, menyangkut judul buku ini. Manakah yang benar, apakah Adventures of Huckleberry Finn (tanpa ‘The’), atau The Adventures of Huckleberry Finn. Versi aslinya, menurut Wikipedia, tanpa ‘The’. Tapi banyak versi di luar sana yang memakai ‘The’, termasuk versi terjemahan oleh Bentang Pustaka ini. Jadi…manakah yang benar? Atau memang ada dua versi?

Akhirnya, bravo untuk penerbit Bentang Pustaka yang telah membawa karya hebat ini ke ruang baca kita semua, dengan terjemahan yang bagus. Lima bintang untuk Huck Finn. Dan selamat ulang tahun buat opa Mark Twain. Karya-karyamu akan terus menghibur dan menginspirasi kami sepanjang masa!

Judul: The Adventures of Huckleberry Finn
Penulis: Mark Twain
Penerjemah: Ambhita Dhyaningrum
Penyunting: Dhewiberta
Penerbit: Bentang Pustaka
Terbit: Januari 2011
Tebal: 391 hlm

Thursday, June 30, 2011

The Count Of Monte Cristo

Pada tahun 1844, di sebuah harian bertajuk Journal des Débats, sebuah kisah petualangan pertama kali terbit sebagai cerita bersambung sepanjang 18 seri. Cerita itu lalu mengguncang daratan Eropa. Setiap pagi, saat sarapan atau di tempat kerja, orang-orang akan membicarakan cerita ini. Ditulis oleh seorang berkebangsaan Prancis bernama Alexandre Dumas, cerita ini akhirnya dibukukan sebagai novel dengan judul: The Count Of Monte Cristo. Hingga saat ini, The Count of Monte Cristo merupakan salah satu novel yang paling populer di Eropa, telah diterjemahkan dan diterbitkan di seluruh dunia ke dalam berbagai bahasa, dan telah sering diangkat ke panggung teater serta film layar lebar.

The Count of Monte Cristo adalah sebuah kisah petualangan dengan background sejarah yang kaya dengan plot. Berkisah tentang Edmond Dantès, seorang kelasi kelas satu Marseille berusia 19 tahun yang bekerja di atas kapal Pharaon. Memiliki kepribadian yang baik, bertanggung jawab, jujur dan setia, membuat Monsieur Morrel--pemilik kapal Pharaon berencana mengangkat Dantès menjadi Kapten kapal. Pribadinya itu juga mempesona seorang gadis nelayan cantik bernama Mercédès, yang mencintai dan akan dinikahi oleh Dantès. Karir menjanjikan dan calon istri cantik, dua kemujuran yang didambakan pria manapun, termasuk Danglars (kolega Dantès di kapal) dan Fernand Mondego (sepupu Mercédès) yang iri kepada Dantès. Danglars iri karena posisi Kaptennya, Fernand iri pada mengincar calon istrinya. Maka keduanya pun bekerja sama untuk menjatuhkan Dantès.

Kisah ini bersetting tahun 1815, saat-saat penting bagi kekaisaran Prancis, ketika Napoleon sedang berupaya untuk kembali ke takhta Kaisar yang direbut darinya oleh Louis XVIII. Kapten kapal Pharaon yang merupakan sekutu Napoleon, mempercayakan sebuah amanat kepada Dantès untuk mengirimkan surat untuk para pengikut Napoleon. Sebuah hal yang dianggap Dantès hanya sebagai tugasnya, tanpa ia mengetahui isinya. Amanat inilah yang dipakai Danglars dan Fernand sebagai alat menjatuhkan Dantès, dengan cara menulis surat yang berisi tuduhan palsu ke Penuntut Umum: Villefort. Meski Villefort adalah hamba hukum yang adil, namun karena alasan pribadi yang menyangkut ayahnya yang seorang Bonapartis, akhirnya memutar balikkan fakta, dan menggunakan surat fitnah tadi untuk menjebloskan Dantès ke penjara dengan tuduhan: menjadi sekutu Napoleon (Bonapartis).

Dari kehidupan yang nyaris sempurna, tiba-tiba bukan saja karir dan pernikahan, namun seluruh hidup Dantès seolah dirampas darinya, dan diganti dengan kegelapan penjara Chateu d'If yang harus ia tempati seumur hidup. Namun, ketika ia nyaris putus asa di dalam penjara, tiba-tiba secercah cahaya menerangi jalan hidupnya. Seorang tahanan tua di sana bernama Abbé Faria menjadi sahabatnya secara sembunyi-sembunyi. Kedua bilik mereka dihubungkan oleh terowongan yang telah digali Faria selama bertahun-tahun. Selain mengajarkan bahasa dan pengetahuan lainnya, Abbé Faria membukakan mata Dantès pada siasat licik 3 orang yang telah menjebloskannya ke penjara. Selain itu Abbé Faria, yang melihat ketulusan dan kasih Dantès kepadanya layaknya seorang anak kepada ayahnya, mengungkapkan rahasia harta karun yang disimpannya diam-diam di sebuah pulau kecil bernama Monte Cristo. Dan rencana meloloskan diripun segera disusun. Sayangnya, satu-satunya cara meloloskan diri dari penjara hanya dapat dilakukan oleh Dantès seorang diri, tanpa Abbé Faria yang sakit-sakitan. Tak tega meninggalkan Faria, Dantès pun tetap menemani Faria. Ketika Abbé Faria akhirnya meninggal, barulah Dantès melaksanakan rencana melarikan dirinya.

Kembali ke Marseille empat belas tahun kemudian, dengan segala kepahitan serta kebijaksanaan yang mengubah penampilan Dantès sehingga tak dapat dikenali lagi, mulailah Dantès "bermain" menjadi Tuhan--mengganjar yang baik dan menghukum yang jahat. Di sini mulailah plot yang kaya dengan intrik bergulir dengan indah meski lumayan memusingkan. Berbekal kemampuan membaca karakter orang lain dan harta yang berlimpah, Dantès pun kembali memasuki kehidupan orang-orang yang pernah dekat dengannya dulu: Mercédès, Danglars, Fernand, Villefort, Morrel dan Caderousse. Tentu saja, ia tidak datang sebagai Dantès sendiri, melainkan dengan menjelma ke dalam berbagai pribadi: Abbé Busoni--seorang pastor Italia, Lord Wilmore--bangsawan Inggris yang dermawan, seorang staf firma Thomson & French, serta--tentu saja--Count of Monte Cristo, gelar kebangsawanan yang dibelinya, sesuai dengan pulau yang juga telah dibelinya dari harta yang ia temukan di pulau tersebut.

Sangat menarik bagaimana Count of Monte Cristo ini mampu, dalam waktu cukup singkat, menanamkan pengaruhnya ke lingkungan bangsawan di Paris, termasuk ke musuh-musuhnya: Fernand yang telah menjelma menjadi Count de Morcerf, Danglars yang telah menjadi Baron dan bankir kaya raya, serta Villefort sang Penuntut Umum. Cara yang ia gunakan cerdik dan halus, sehingga semua orang mengagumi kecerdasan, kebijaksanaan, keramahan dan kekayaannya, alih-alih mencurigainya. Semuanya itu lalu dipoles dengan gaya bicara dan pembawaannya yang sangat terhormat dan ningrat. Pesona ditambah dengan plot yang cerdik, membuat Monte Cristo perlahan namun pasti melaksanakan rencananya. Ia murah hati pada orang yang telah menolongnya, namun kejam pada orang yang telah merampas hidupnya.

Banyak cara bisa digunakan manusia untuk balas dendam. Seorang samurai mungkin akan langsung berhadapan dengan musuhnya untuk membunuhnya, namun seorang Count of Monte Cristo berdiri di balik layar bak dalang dalam pertunjukan wayang. Ia hanya menyediakan "sarana" untuk menjatuhkan hidup lawannya lewat tangan orang lain yang dekat dengan si korban. Dengan cara ini, si korban tak akan menyangka bahwa penyebab masalah yang datang bertubi-tubi pada dirinya itu digerakkan oleh kebencian orang yang dianggapnya telah mati, bukannya sebuah nasib buruk belaka. Di sini aku teringat pada karakter Norton di buku Tirai (Agatha Christie). Norton tidak membunuh korbannya dengan tangannya sendiri. Ia hanya melihat situasi, suami yang terkungkung dalam dominasi istrinya, misalnya. Lalu dengan kata-kata yang diucapkan dengan tepat pada saat yang tepat, bisa mempengaruhi si suami untuk bertindak membunuh istrinya. Seperti itu jugalah metode Count of Monte Cristo. Ketika ia mengamati keinginan terselubung seorang wanita ambisius untuk mengamankan warisan bagi putranya, ia pun pura-pura berbicara tentang racun. Tak sedetikpun ia mengusulkan untuk menggunakan racun itu. Keputusan akhir untuk menggunakan atau membuang sarana yang ada itu, sepenuhnya terletak di tangan si wanita sendiri.

Maka, boleh dibilang pembalasan dendam Monte Cristo tak akan terwujud andaikata musuh-musuhnya memiliki moral dan kepribadian yang baik. Takkan ada “dosa” yang bisa diungkapkan kepada publik yang akan menjatuhkan kehormatan para calon korban. Ingatlah, bahwa di jaman itu, kehormatan jauh lebih penting daripada nyawa seseorang, terutama bagi mereka yang berada di strata atas pergaulan sosial. Sekali saja sebuah skandal terungkap, maka kematian akan terasa lebih ringan daripada jatuhnya kehormatan. “Dosa-dosa” inilah yang dicari dan dikorek oleh Count of Monte Cristo untuk menyiapkan jebakan bagi calon korbannya. Dengan cara itu, si calon korban tak pernah menyangka bahwa dirinya menjadi sasaran balas dendam, sampai Count of Monte Cristo menyiapkan “panggung” terakhir bagi pembalasan dendamnya….

Menariknya, meski benaknya dipenuhi dengan skenario pembalasan dendam, masih tersedia ruang di hati Count of Monte Cristo untuk bermurah hati bagi orang-orang yang baik dan dikasihinya. Bahkan ia rela berkorban nyawa, bila itu diperlukan untuk membiarkan orang yang dikasihinya tetap hidup. Maka sulitlah bagiku, dan mungkin anda juga, untuk dapat membenci Count of Monte Cristo atau mencapnya sebagai tokoh yang jahat. Bagaimana mungkin aku mengabaikan pesonanya, dengan segala keagungan, kecerdikan, dan ketenangannya? Bagaimana mungkin aku tak tersentuh tiap kali mendengar kata-katanya yang indah namun datang dari lubuk hati terdalamnya? Bagaimana mungkin hatiku tak tertawan dengan kebijaksanaannya dalam melihat kehidupan? Dan bagaimana aku bisa tak menaruh simpati pada ketulusan hatinya untuk menolong orang lain, atau pada begitu dalam luka tertoreh di hatinya yang membuatnya harus membalas dendam?

Sosok Count of Monte Cristo alias Edmond Dantès ini menurutku, yang membuat buku ini akan selalu mendapat tempat di hatiku. Intrik bisa dibuat oleh siapapun. Bahkan plot intrik The Count of Monte Cristo ini sebenarnya dibuat berdasarkan inspirasi sebuah kisah dalam buku karya Jacques Peuchet yang terbit pada tahun 1838. Kisah itu tentang pembuat sepatu bernama Picaud yang akan menikahi seorang wanita kaya, lalu karena kecemburuan tiga orang temannya, difitnah sebagai mata-mata dan dijebloskan ke penjara. Teman sesama napi-nya yang sekarat menganugerahinya harta yang tersembunyi di suatu tempat, lalu Picaud mengambil harta itu setelah bebas, dan menggunakannya untuk balas dendam. Dan itu hanya salah satunya saja. Plot dasar buku ini juga merupakan karya Auguste Maquet, seorang ghost writer yang sering berkolaborasi dengan Dumas. Jadi…plot bisa dibuat oleh siapa saja, namun untuk memberi “jiwa” pada tokoh-tokohnya, tentu saja hanya bisa dilakukan oleh penulis besar, seperti Alexandre Dumas. Hanya di tangannyalah, sosok Count of Monte Cristo menjadi hidup, dan sekaligus menghidupkan buku ini!

Kalau bisa, aku ingin mempersembahkan 5,5 bintang bagi The Count of Monte Cristo, karena tak pelak lagi, buku ini merupakan salah satu novel klasik sepanjang masa yang tetap nikmat dibaca hingga berapa kalipun. Di akhir review ini ijinkan aku untuk mengutip kata-kata Edmond Dantès kepada Mercédès yang terus menggema di hatiku, ketika harus melakukan sebuah pengorbanan. Mungkin anda akan bisa memahami mengapa aku jatuh cinta pada tokoh Count of Monte Cristo ini…
“Kau mengatakan itu tanpa mengetahui besarnya pengorbanan yang akan kubuat untukmu, Mercédès. Andaikata Yang Maha Pencipta, setelah menciptakan sepertiga dunia, telah berhenti di sana untuk menyelamatkan air mata seorang malaikat yang justru telah menangisi kejahatan kita kelak; andaikan bahwa, setelah menyiapkan segala sesuatu dan menyebar benih kehidupan, persis ketika akan mengagumi karyanya, Tuhan telah menghapuskan matahari dan melemparkan dunia ke dalam malam abadi—jika kaubayangkan semua itu, kau masih tidak bisa membayangkan apa yang akan hilang dariku dengan kehilangan hidupku pada saat ini.”

Judul: The Count Of Monte Cristo
Penulis: Alexandre Dumas
Penerjemah: Nin Bakdi Soemanto
Penerbit: Bentang Pustaka
Cetakan: Maret 2011
Tebal: 563 hlm

Friday, April 29, 2011

Oliver Twist


Label “bocah malang” mungkin paling pas disematkan pada tokoh anak yatim piatu di Inggris yang hidup pada abad 19 rekaan Charles Dickens ini: Oliver Twist. Bagaimana tidak, begitu lahir dari hubungan orang tua yang tidak jelas (baca: di luar nikah), ia langsung menjadi yatim piatu. Ayahnya sudah lama pergi entah kemana, sedang ibunya yang ringkih meninggal tak lama setelah ia lahir. Nasib anak yatim piatu yang tak memiliki akar sejarah yang jelas amatlah menyedihkan pada jaman itu. Mereka berada di bawah pengawasan semacam Dinas Sosial yang dikelola oleh pemerintah, dan ditempatkan di Rumah Sosial yang dikelola warga dan ditunjang oleh pemerintah. Jangan berpikir bahwa mereka bisa hidup enak di sana. Kebanyakan rumah sosial itu justru tidak sosial sama sekali, mereka malah mengambil keuntungan dengan menyunat anggaran untuk makanan dan kebutuhan anak-anak itu dari anggaran sebenarnya yang sudah sangat kecil dari pemerintah. Alhasil, anak-anak itu menderita kurang gizi parah, belum lagi perlakuan tidak manusiawi seperti tempat tidur kumuh dan sempit, bekerja berat dan siksaan fisik menjadikan hidup anak-anak yatim itu semakin suram.

Di lingkungan seperti itulah Oliver Twist kecil tumbuh selama delapan tahun. Saking parahnya keadaan itu, Dickens menggambarkan rakusnya Oliver saat diberi makanan basi atau makanan anjing, karena makanan yang didapat di rumah sosial lebih parah lagi! Dickens mampu menggambarkan situasi suram itu dengan demikian hidup karena situasi itu memang nyata terjadi di London saat ia menulis kisah ini, dan konon Dickens sendiripun pernah menjadi pekerja anak-anak di masa kecilnya.

Oliver Twist sendiri nampaknya akan menghabiskan seumur hidupnya sebagai anak yatim piatu malang, kalau saja suatu hari ia tidak memberanikan diri memohon untuk mendapatkan tambahan makanan kepada staf rumah sosial. Tak dinyana, keberaniannya itu berbuah petaka bagi Oliver. Ia disebut sebagai berandalan cilik, dilaporkan kepada Dewan, yang akhirnya dalam sebuah sidang memutuskan Oliver harus “dibuang” dari pengasuhan mereka kepada siapapun yang mampu dan mau membelinya seharga lima pound. Bayangkan, minta tambah makanan (dari porsi yang memang tidak manusiawi) dengan memelas ternyata dianggap sebagai kejahatan besar! Betapa tak adil dan tak manusiawinya perlakuan mereka….

Akhirnya seorang pengusaha rumah kematian bernama Tuan Sowerberry mengambil dan mempekerjakan Oliver. Oliver pun diantar oleh Tuan Bumble, seorang pejabat Sekretaris Desa yang sok kuasa dan mata duitan. Awalnya semua berjalan lancar, bahkan Oliver sempat menjadi andalan bisnis Tuan Sowerberry. Hingga suatu hari ‘anak buah’ Tuan Sowerberry lainnya yang bernama Noah Claypole memancing gara-gara karena iri pada kemajuan karir si anak baru Oliver. Ia menghina ibu Oliver yang memang dicap ‘penjahat’ oleh masyarakat. Akibatnya, Oliver yang kecil dan lemah itu marah besar dan mampu menyerang dan memukuli Noah yang bertubuh lebih besar. Anda pasti dapat menduga kelanjutannya…lagi-lagi Oliver dicap sebagai berandalan dan penjahat cilik. Tak tahan menanggung semuanya, Oliver pun melarikan diri dari kediaman Sowerberry. Berkelana tanpa tujuan jelas, kelaparan dan tak memiliki tempat berteduh, dalam perjalanan Oliver sempat mengunjungi Dick, sahabatnya di rumah sosial dulu. Nasib Dick tak kalah menyedihkannya dibanding Oliver, namun alih-alih menangisi nasib sendiri, Dick justru menyemangati Oliver untuk melanjutkan hidupnya. “Tuhan memberkatimu” adalah kata-kata Dick yang menghidupkan harapan di hati Oliver.

Oliver melanjutkan perjalanan hingga tibalah ia di dekat batu penanda jalan (milestone) yang menunjukkan jarak 70 mil menuju London (yang menjadi gambar cover buku ini). Di titik ini Oliver memutuskan bahwa ia akan mengadu nasib di kota London. Tiba di London, Oliver yang kecapekan dan kelaparan tak disangka-sangka mendapat uluran tangan dari seorang pemuda yang baru dikenalnya. Sekali lagi…nasib baik belum berpihak pada Oliver. Karena pemuda yang menolongnya itu justru adalah penjahat dan pencopet bernama Artful Dodger yang dididik oleh Tuan Fagin, si raja pencuri!

Untuk sementara Oliver memiliki tempat berteduh dan makanan yang cukup untuknya melanjutkan hidup. Tapi, semua itu tak ia dapat secara cuma-cuma. Tuan Fagin menampungnya untuk dididik menjadi seorang pencopet cilik, menemani Dodger dan Charley Bates yang sudah duluan menekuni “bisnis” mendapatkan barang secara ilegal dengan mencopet dan mencuri. Awalnya Oliver yang polos tak menyadari kenyataan ini. Matanya baru terbuka saat ia diperbolehkan ikut “bekerja” bersama Dodger dan Bates. Oliver menyaksikan dengan ngeri bagaimana kedua rekan mudanya mencopet saputangan milik seorang pria terhormat yang sedang asyik membaca buku di sebuah lapak buku. Secara naluriah, Oliver langsung lari ketakutan dari tempat kejadian, terpisah dari kedua rekannya. Si tuan korban pencurian langsung mengejarnya karena mengira ia pencopetnya, dan segera diikuti oleh massa yang sengaja digerakkan Dodger dan Bates untuk menjauhkan mereka sendiri dari kecurigaan. Seperti biasa, yang paling lantang berteriak ‘maling’ pastilah si maling sendiri!

Dan sekali lagi nasib buruk menghampiri Oliver. Ketakutan, babak belur dipukuli massa, iapun dituduh melakukan kejahatan tanpa kesempatan membela diri dan dijebloskan ke penjara. Beruntunglah, pria terhormat korban pencopetan yang bernama Tuan Brownlow benar-benar layak menyandang gelar ‘terhormat’. Ia merasa Oliver tak bersalah, dan berkat kesaksian pemilik lapak buku tempat Tuan Brownlow kecopetan, yang menyaksikan sendiri kejadian itu, akhirnya Oliver dibebaskan dari penjara. Kini Oliver boleh bernapas lega. Ia dirawat dengan baik dan penuh kasih sayang oleh Tuan Brownlow dan pengasuh tua bernama Nyonya Bedwin. Di sini pula Oliver pertama kali mendapatkan siraman kasih yang seumur hidupnya yang kelam tak pernah ia rasakan.

Sayang, kebahagiaan itu hanya berumur jagung, karena Tuan Fagin dan gerombolannya tak kenal lelah berusaha mencari dan menemukan Oliver. Di sini mulai bermunculanlah satu per satu anggota komplotan Tuan Fagin. Mulai dari Nancy, gadis muda yang menaruh kasihan pada Oliver, Bill Sikes perampok kejam yang jadi kekasihnya, lalu ada juga seorang pria misterius bernama Monks yang tampaknya sangat membenci Oliver dan ingin menghancurkannya. Saat Oliver menunaikan amanat Tuan Brownlow untuk mengembalikan buku ke lapak buku, Oliver pun diculik oleh gerombolan Fagin dan sekali lagi ia harus mendekam di tempat kumuh yang kian tampak suram karena aura kejahatan yang meracuni udaranya. Sekali lagi Oliver dididik untuk menjadi penjahat, dan suatu hari dipinjamkan pada Bill Sikes yang ingin merampok sebuah rumah. Lalu bagaimana reaksi Oliver? Apakah pendidikan Tuan Fagin akan menampakkan hasilnya dan menjadikan Oliver sejahat yang lain? Atau berhasilkah ia tetap mempertahankan kesucian moralnya? Kalaupun yang terakhir yang terjadi, bagaimana ia dapat mengelak dari takdir gelap yang seolah mengejarnya kemanapun ia pergi? Lalu siapakah Oliver Twist sebenarnya? Sejarah kelam seperti apakah yang membuat nasibnya malang?

Ini adalah salah satu buku yang sayang untuk dilewatkan. Selain membawa kita menyaksikan potret buram kehidupan di kota besar abad 19, Dickens juga mau mengusik kemanusiaan kita. Bahkan di abad modern ini, masih banyak orang yang menancapkan stigma negatif pada orang-orang yang berbeda atau tidak sejalan dengan kebanyakan orang di masyarakat. Prasangka dengan mudahnya diletakkan ke atas seseorang tanpa terlebih dahulu menelusuri kebenarannya. Kita layak belajar dari Tuan Brownlow yang tidak serta merta setuju dengan pendapat Tuan Grimwig kawannya, yang yakin bahwa Oliver Twist pasti melarikan diri dengan uang dan buku yang dipercayakan kepadanya, serta takkan kembali dari lapak buku. Sebaliknya, ketika Oliver Twist memang tak kembali (meski tentu saja bukan karena hendak lari melainkan karena diculik), Tuan Brownlow berinisiatif melacak sejarah Oliver Twist.

Di bab-bab awal peran Oliver memang cukup mencolok dalam kisah ini. Namun di bagian-bagian selanjutnya, justru tokoh-tokoh lainlah yang menurutku lebih menonjol. Mungkin memang Dickens ingin mengupas tuntas tentang kejahatan dan kemunafikan yang ada di masyarakat saat itu. Tapi tetap saja itu membuatku kurang puas. Selain itu, aku merasa karakter Oliver Twist kurang menarik. Ia anak yang baik, sopan, ramah, penuh kasih, namun juga lemah lembut. Kubayangkan anak yang tumbuh sendirian di lingkungan yang keras akan menjadi anak yang keras juga, tangguh dan keras kepala. Menangis mungkin sudah tak masuk dalam kamusnya karena derita dan sakit hati pasti sudah biasa ia rasakan. Tapi Oliver ternyata gampang sekali tersentuh hatinya, dan tubuhnya sendiri lemah. Mungkin itu karena ekspektasiku sendiri sebelum membaca buku ini ya, atau memang Dickens memang ingin membuat perbandingan yang sangat mencolok antara sisi jahat dan sisi baik manusia, sehingga yang jahat dibuat sangat jahat dan yang baik menjadi sangat baik sehingga kurang manusiawi. Sekali lagi, ini hanyalah sebuah karya sastra, dan kita memang harusnya menikmatinya apa adanya kan?

Terakhir terima kasih pada Bentang Pustaka yang telah memilih novel yang telah lama kunantu-nantikan ini untuk diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Hanya sayang masih ada beberapa typo dan kesalahan penerjemahan. Salah satunya dalam kalimat ini: "Angin menggigit yang berkelebat di jalanan tampaknya telah mengosongkannya dari para penumpang....". Ada yang aneh dengan kata 'penumpang' disini yang tidak pas maksudnya. Mungkinkah ada kesalahan penerjemahan 'passager' (=pejalan kaki), keliru diterjemahkan sebagai 'passenger' (=penumpang)? Atau akukah yang kurang menangkap dengan baik?... Untunglah keanehan tadi tak mengurangi kenikmatan membaca cara bertutur Charles Dickens yang disampaikan dalam kalimat-kalimat panjang yang sarat arti!

Judul: Oliver Twist
Penulis: Charles Dickens
Penerjemah: Reni Indardini
Penerbit: Bentang Pustaka
Cetakan: Maret 2011
Tebal: 578 hlm