Showing posts with label Qanita. Show all posts
Showing posts with label Qanita. Show all posts

Saturday, March 6, 2010

The Heart Is A Lonely Hunter

Judul itulah yang pertama-tama membuatku tertarik pada buku ini. Judulnya unik, tak seperti judul novel yang sering terdengar begitu indah, namun ketika dibaca ternyata tak benar-benar sesuai dengan isinya. Judul buku ini sebaliknya, sudah merupakan sebuah kebenaran yang tampaknya ingin disampaikan oleh si penulis. Alasan kedua aku naksir buku ini adalah gambar covernya (who says you musn't judge a book from its cover? I do it all the time!). Entah kenapa aku selalu jatuh cinta pada lukisan-lukisan yang ada cafe-nya seperti ini (padahal tak terlalu suka ngafe coz ngabis-ngabisin duit!).

Namun yang membuat aku memutuskan untuk membelinya justru karena ada tanda "Oprah's Book Club" di pojok kiri bawah. Oprah Winfrey (pasti anda tahu siapa dia kan?) memang membuat program book club yang biasanya membahas buku-buku bermutu macam Bumi Yang Subur-nya Pearl S. Buck. Jadi, kalau sebuah buku pernah dipilih oleh Oprah's Book Club, maka pastilah buku itu buku yang berbobot.

Meski penulisnya, Carson McCullers bukanlah penulis best seller, namun ia disebut-sebut sebagai penulis prosa terbesar yang pernah dihasilkan di Amerika Selatan. Dan di buku ini, yang adalah karya pertamanya, ia mampu menyoroti masalah-masalah rasial dan sosial dengan sentuhan yang halus.

Sesuai judulnya, buku ini bercerita tentang orang-orang yang kesepian. Kesepian itu bukan berasal dari kesendirian secara fisik, melainkan lebih banyak dari hati. Buku ini pertama-tama mengajarkan kepadaku bahwa kita boleh saja hidup bersama-sama banyak orang pada suatu waktu, namun itu tak menutup kemungkinan kita merasakan kesepian. Kesepian di tengah keramaian, mungkin adalah ungkapan yang paling cocok disematkan pada kelima tokoh utama di buku ini: Pak Singer, Mick, Pak Blount, Biff dan Dokter Copeland. Masing-masing membawa beban hidupnya sendiri-sendiri, kerinduan dan ambisi yang tak terpenuhi sehingga menimbulkan kesepian yang menyiksa.

Pak Singer adalah benang merah semua orang itu. Ia adalah pria tunarungu-tunawicara yang hidup tanpa keluarga di sebuah kota. Meskipun cacat, ia mampu bekerja dan berkomunikasi dengan orang lain dengan membaca bibir dan menuliskan apa yang ingin dikatakannya dengan bantuan buku notes kecil dan pensil warna peraknya. Awalnya hidupnya tenang dan bahagia. Ia berbagi kamar yang disewanya bersama seorang tunarungu-wicara lainnya, seorang Yunani gendut yang doyan makan bernama Antonapoulos.

Lucu juga mengikuti persahabatan Singer-Antonapoulos ini. Antonapoulos adalah orang yang semau-gue, manja, dan kemauannya harus selalu dituruti. Mungkin ini memang sifat bawaannya, namun mungkin juga akibat benih-benih penyakit jiwa yang belakangan membuatnya harus tinggal di rumah sakit jiwa. Singer begitu menyayangi sahabatnya ini dan boleh dibilang Antonapoulos benar-benar belahan jiwanya. Meski Antonapoulos lebih banyak diam dan hanya memandangi Singer ketika sahabatnya itu menceritakan kesehariannya di tempat kerja dengan isyarat tangan, namun Singer tak pernah marah. Ia tetap saja senang bercerita.

Hingga saat tingkah Antonapoulos makin aneh, menjengkelkan dan menguras uang tabungan Singer, Singer tak pernah dendam padanya. Dengan sabar Singer mengurusinya, meski Antonapoulos tak pernah membalas perhatiannya itu. Saat Antonapoulos harus meninggalkan kamar sewaan mereka berdua untuk pindah ke rumah sakit jiwa, hati Singer menjadi hampa. Seolah sebagian dirinya direnggut dengan paksa oleh keadaan.

Sejak itulah ia menyewa sebuah kamar di rumah Mick, gadis belasan tahun yang memiliki obsesi terhadap musik klasik dan piano. Si gadis begitu tergila-gila pada Singer yang dianggapnya satu-satunya orang yang mengerti tentang kerinduannya pada musik. Lalu pada suatu peristiwa Singer pernah menolong Jake Blount, sang sosialis yang pemabuk berat dan punya obsesi menyadarkan dunia pada keburukan kapitalisme yang menciptakan jurang antara yang kaya dan yang miskin. Sejak itu Blount sering berkunjung ke kamar Singer. Lalu ada juga Biff Brannon, sang pemilik cafe New York (yang menjadi gambar cover buku ini), tempat makan Singer sehari-harinya, yang ditinggal mati istrinya dan merasa kesepian.

Tokoh terakhir adalah Dokter Copeland, seorang dokter kulit hitam yang terobsesi untuk memerdekakan kaumnya yang saat itu masih tertindas. Keempat teman-teman barunya ini secara berkala dan bergantian sering datang ke kamar Singer. Mereka bisa mencurahkan isi hati dan uneg-uneg mereka kepada si bisu. Dan Singer akan mendengarkan (atau sebenarnya membaca bibir mereka) mereka, sambil memberikan seulas senyum dan tatapan mata yang bersahabat dan bersimpati. Kadang-kadang ia akan menyuguhi tamunya makanan kecil atau kopi, lalu mereka makan bersama-sama. Kali lainnya mereka berdua hanya berdiam diri dalam kamar, di mana hanya terdengar suara desing kipas angin. Tatkala mereka berbicara, Singer akan asyik main catur sendirian, sambil tak lupa sesekali memperhatikan omongan tamunya.

Dan para tamu itu akan pulang dari kamar si bisu dengan perasaan lega, nyaman, dan puas. Mereka merasa didengarkan dan dimengerti, bahwa Singer adalah satu-satunya orang yang bisa memahami mereka. Maka hubungan mereka bagaikan matahari dan satelit-satelitnya. Meski anehnya, ketika suatu saat empat satelit itu kebetulan datang ke kamar Singer pada saat yang sama, suasana malah menjadi tegang.

Pada kenyataannya, seperti yang diceritakan Singer pada Antonapoulos dalam salah satu kunjungannya ke rumah sakit jiwa, Singer sebenarnya sama sekali tak mengerti apa yang dibicarakan dan perasaan teman-temannya itu. Lucunya, ia menceritakan itu kepada Antonapoulos yang kemungkinan besar juga tak mengerti ceritanya!

Maka kesimpulannya, pertama - kesepian yang datang dari hati lebih disebabkan karena orang merasa tak ada yang mau memberi perhatian pada minat atau pemikirannya, pada apa yang menurutnya penting. Saat itu, orang akan merasa benar-benar kesepian karena ia merasa sendirian di dunia ini, menanggung pengetahuan atau obsesi yang ia miliki dan tak dapat di-share-kan pada orang lain. Kedua, kadang tak perlu kita seratus persen mengerti dan menyetujui ide atau impian seseorang untuk membuatnya bahagia. Cukup seulas senyum dan sedikit perhatian yang tulus, mampu membuat orang lain merasa dihargai, sama seperti yang dilakukan Singer.

Hal paling indah dalam buku ini adalah persahabatan yang tulus dan penuh kasih Singer dan Antonapoulos. Persahabatan yang boleh dibilang hanya satu arah, namun seperti sifat dasar kasih yang rela berkorban meski tak terbalas, begitu juga persahabatan Singer kepada Antonapoulos. Bayangkan setiap hari bayangan sahabatnya itu selalu memenuhi pikiran Singer. Kasihnya pada sang sahabat tak pernah luntur maupun berubah, meski sering disakiti dan dikecewakan. Singer rela memberikan lebih daripada yang ia terima. Itulah kasih dan persahabatan sejati!

Akhirnya, buku ini memang bukan bacaan ringan, namun seperti kata salah satu komentar di buku ini: "Begitu buku diletakkan, pembaca akan merasa diperkaya oleh sebuah kebenaran". Ya, itulah yang terjadi padaku. Tepatnya diperkaya oleh kebenaran tentang persahabatan dan tentang hidup.

Judul buku: The Heart Is A Lonely Hunter (bahasa Indonesia)
Penulis: Carson McCullers
Penerbit: Qanita
Harga: Rp 60.775,- (toko buku online)
Rp 36.000,- (Vixxio)

Monday, August 17, 2009

Anne of Green Gables

Ini adalah tentang kehidupan yang indah, penuh warna, menggairahkan, dan penuh cinta. Itulah kesan yang kudapat selama membaca buku ini. Buku yang bercerita tentang si yatim piatu berambut merah yang berpembawaan ceria, ceriwis, begitu mencintai alam, dan memiliki daya imajinasi yang tinggi dan hidup. Semangat dan keceriaannya cenderung meluap-luap, dan kehadirannya selalu membuat orang di sekitarnya gembira. Itulah Anne.

Awalnya, Avonlea adalah sebuah dusun pertanian kecil dengan pemandangan yang indah, namun dengan kehidupan yang biasa-biasa saja. Terutama di pertanian Green Gables yang dihuni oleh kakak beradik yang sudah setengah baya, Matthew dan Marilla Cuthbert. Mereka berdua tidak menikah, dan rumah mereka terasa sepi dan dingin. Sampai suatu ketika, Mrs. Rachel Lynde melihat sesuatu yang aneh. Pagi-pagi benar Matthew Cuthbert pergi naik kereta dengan berkemeja rapi. Di desa yang kecil, di mana kehidupan penghuninya sudah terjadwal, perginya Matthew membuat heran Mrs. Rachel. Maka ia mengunjungi Marilla. Dan dari mulut Marilla meluncurlah berita heboh: Matthew pergi ke stasiun menjemput seorang anak lelaki dari Panti Asuhan!

Ya, Matthew butuh seseorang untuk membantunya di pertanian, maka mereka titip pesan pada Mrs. Spencer untuk membawakan seorang anak lelaki dari panti asuhan. Pagi itu, ketika Matthew tiba di stasiun, yang ia dapati hanyalah seorang anak perempuan berpakaian lusuh, wajah pucat berbintik-bintik dan rambut merah. Rupanya ada kesalahpahaman dengan Mrs. Spencer! Tapi, si anak perempuan sudah terlanjur kegirangan mengetahui bahwa ada keluarga yang menginginkannya, sehingga ia tak perlu menetap di panti. Maka, diajaknyalah si anak perempuan itu pulang oleh Matthew. Sebagian karena ia tak tega meninggalkannya begitu saja di stasiun, dan sebagian lagi karena karakter unik si anak perempuan.

Bayangkan, sepanjang perjalanan naik kereta itu ia menyerocos terus. Begitu melihat pohon ceri dan birch yang berbunga putih menjulur agak rendah ke jalan, Anne bisa membayangkan cadar halus putih seorang pengantin! Benar-benar imajinasi yang hebat! Dan itulah yang akan anda baca dan rasakan di sepanjang buku ini.

Awalnya, Marilla tak dapat menerima kehadiran Anne. Namun, mau tak mau diakuinya juga bahwa Anne telah sedikit demi sedikit memberi warna dalam kehidupannya yang tadinya membosankan. Maka akhirnya Marilla pun luluh, dan berniat tetap mengadopsi Anne. Anne begitu bahagia dengan keputusan itu, dan ia berusaha keras untuk memuaskan Marilla. Masalahnya, ia terlalu banyak berkhayal. Ketika disuruh melakukan tugas rumah tangga, ia begitu rajin awalnya. Namun, di tengah-tengah pekerjaannya pikirannya akan melantur kemana-mana saat ia memandang ke arah pepohonan, misalnya. Dan akhirnya ada saja tugas yang ia lupakan.

Waktu Anne mulai masuk sekolah, Marilla menjahitkannya gaun-gaun yang amat sederhana (dan membosankan buat anak kecil). Padahal yang diinginkan Anne adalah gaun dengan lengan model menggelembung yang waktu sedang populer.

Lalu Anne menemukan seorang sahabat, yang ia sebut sebagai ‘belahan jiwa’, seorang anak bernama Diana. Rumah Diana terletak di pertanian di seberng Green Gables, tapi jendela kamar tidur Diana bisa dilihat oleh Anne dari kamarnya sendiri. Kedua gadis kecil ini sering mengirimkan isyarat berupa kilatan sinar senter (mirip kode morfe). Kalau salah satu dari mereka melihat signal ini, maka ia akan segera bergegas ke rumah yang lain, karena pasti si pengirim signal memiliki berita penting untuk diberitahukan pada yang lain.

Begitulah, kedatangan Anne ke Avonlea ternyata membawa banyak perubahan pada hidup di sekitarnya. Ia adalah virus keceriaan di sebuah dusun yang membosankan, warna-warna yang hidup pada selembar kain putih yang menjemukan. Anne adalah seseorang dengan emosi yang meluap-luap. Ia bisa menjadi sangat antusias pada suatu rencana yang indah, namun bisa dengan cepat menjadi putus asa saat keinginannya tak tercapai.

Ada seorang anak laki-laki bernama Gilbert Blythe yang cerdas tapi senang mengusili Anne. Anne jengkel sekali padanya ketika Gilbert memanggilnya ‘wortel’. Anne sangat sensitif kalau mengenai warna rambutnya yang semerah wortel. Ia bisa sangat tersinggung, seperti halnya reaksinya terhadap Gilbert. Alhasil, ia memusuhi Gilbert selama sekolah, dan bersaing dengannya dalam hal prestasi, karena ia dan Gilbert sama pintarnya di kelas.

Ketika sekolah hampir berakhir, dalam sebuah adegan ‘penyelamatan’ di sungai, Gilbert meminta maaf pada Anne bahwa ia dulu mengoloknya. Anne merasakan debaran aneh jantungnya, tapi harga diri yang tinggi membuatnya menolak mentah-mentah ajakan Gilbert untuk kembali berteman.

Pada akhir tahun pelajaran, mereka berdua (Anne dan Gilbert) beserta beberapa murid lain mengikuti ujian masuk ke Akademi Queen di kota. Sayangnya orang tua Diana tidak mengijinkan anak mereka untuk meraih jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Anne akhirnya menjadi nomor satu dalam ujian itu, dan ia pun bersiap-siap untuk melanjutkan pendidikan di Queen.

Di Queen, Anne belajar dengan tekun dan berusaha untuk melupakan home-sicknya. Ia mendengar bahwa Queen akan memberikan sebuah beasiswa Avery, untuk menempuh pendidikan di sebuah universitas di Inggris. Namun Anne lebih terpacu untuk mengejar medali emas. Dan di penghujung masa belajar di Queen, ketika Anne pulang untuk berlibur di rumah, ia begitu yakin akan masa depan cemerlang yang terbentang di depannya ketika ia ternyata justru memenangkan beasiswa Avery (sedang medali emasnya direbut saingan beratnya, Gilbert). Anne begitu bahagia terutama karena Matthew, yang sudah mulai menua dan sakit-sakitan, malam itu mengungkapkan pada Anne bahwa ia sangat bangga pada pencapaian Anne.

Namun, seperti dalam kehidupan manapun juga, duka itu datang dengan sangat tiba-tiba. Sang malaikat maut menjemput Matthew Cuthbert. Maka kini tinggallah mereka berdua, Marilla dan anak angkatnya, Anne. Apakah yang akan dilakukan Anne? Tetap pergi ke kota untuk meraih cita-cita tertingginya dan meninggalkan Marilla sendirian? Ataukah ia menemani Marilla dan melepas impiannya?

Apapun penutup kisahnya, Anne of Green Gables memang menyediakan keindahan dan kisah yang penuh cinta di setiap kata dan kalimatnya. Bukan sebuah masterpiece seperti To Kill A Mocking Bird atau Harry Potter, namun tetap sebuah bacaan yang akan membuat hati ini gembira demi melihat keindahan dan merasakan cinta!

Judul : Anne of Green Gables
Pengarang : Lucy Montgomery
Penerbit : Qanita, 2008
Harga : Rp 50.150,- (toko buku online)

Saturday, January 10, 2009

To Kill A Mockingbird


Kali ini aku akan mengulas isi sebuah novel klasik yang pernah memenangkan Hadiah Pulitzer pada 1961, dan sejak itu telah menjadi salah satu bacaan wajib hampir semua anak sekolah di Amerika, serta ditetapkan oleh Guiness Book of World Records sebagai novel terlaris sepanjang masa. Aku sudah lama ingin membaca buku ini versi English-nya, tapi baru beberapa hari lalu ketemu versi Indo-nya di Gramed. Pada setiap novel yang aku tulis di blog ini, aku akan menyertakan juga opiniku mengenai pelajaran apa yang kupetik dari novel tsb atau bagaimana novel tsb menyentuh bagi aku. To Kill A Mockingbird ini jelas akan mempengaruhi (kalau bukan merubah) cara pandang anda tentang kasih, prasangka dan hubungan antar manusia. Selamat membaca!

------

By : Harper Lee

To Kill A Mockingbird dapat digolongkan sebagai novel anak-anak atau remaja, karena ditulis seolah-olah dari sudut pandang seorang gadis cilik berusia sembilan tahun. Namun pelajaran tentang hidup, tentang kasih, tentang prasangka dan pelajaran moral tentang bagaimana kita harus menilai orang lain, yang dapat dipetik dari novel ini, membuatnya sebagai buku yang layak (kalau tidak dapat disebut wajib) dibaca semua orang dewasa pada jaman ini. Mungkin kita semua telah mulai melupakan nilai-nilai tersebut, dan perlu pemikiran jernih seorang gadis cilik untuk menyadarkan kita akan nilai-nilai yang lebih luhur dalam hidup ini.

Gadis cilik itu bernama Jean Louise Finch (namun biasa dipanggil ‘Scout’). Ia tinggal di Maycomb County, sebuah kota kecil di negara bagian Alabama, bersama dengan abangnya, Jeremy Finch (biasa dipanggil Jem) yang berusia tigabelas tahun. Scout adalah gadis yang cerdas, berpenampilan tomboy dan suka mengenakan overall (pada saat itu wanita terhormat selalu mengenakan rok dan korset). Sedangkan Jem mewarisi keberanian, keluhuran budi, dan kekritisan berpikir seperti ayahnya. Sang ayah adalah seorang pengacara county, dan merupakan laki-laki terhormat yang selalu menjunjung kesopanan dan kejujuran, serta dengan bijaksana membesarkan kedua anaknya. Namanya Atticus Finch. Salah satu nasihatnya tentang keberanian sejati: “...Keberanian sejati tidak selalu identik dengan lelaki bersenapan. Keberanian adalah saat kau tahu kau akan kalah sebelum memulai, tetapi kau tetap memulai dan kau merampungkannya, apapun yang terjadi”.

Kisah ini ber-setting sekitar tahun 1960-an, jaman dimana perbudakan, rasisme dan perbedaan sosial masih sangat kental di Amerika. Orang Negro dianggap lebih rendah dari orang kulit putih. Dan orang kulit putih yang tidak terpelajar dianggap lebih rendah dari mereka yang berpendidikan dan terhormat. Masing-masing tingkatan tidak boleh bergaul satu sama lain, dan mereka yang melanggarnya, beresiko untuk dikucilkan dari ‘kaum’nya. Keluarga Finch-pun memiliki seorang budak berkulit hitam yang bernama Calpurnia. Di Maycomb juga tinggal warga kulit hitam lain, namun rumah-rumah mereka terletak di bagian lain kota.

Tinggal di kota kecil membuat Scout dan Jem mengenal dengan baik para tetangga, yang oleh Harper Lee-si pengarang, digambarkan secara sangat rinci watak serta cara berpikir masing-masing. Dalam perjalanan hidup kakak beradik ini, mereka akan berhadapan dengan berbagai peristiwa kecil yang melibatkan para tetangga ini. Contohnya Mrs. Dubose yang sudah tua dan lemah, namun menyeramkan karena cara bicaranya yang begitu tajam dan suka marah-marah. Atau Mr. Arthur Radley (Boo Radley) yang misterius. Ia tinggal di rumah yang selalu gelap, sepi, menyeramkan, dan tak pernah terlihat keluar rumah. Kedua tokoh diatas sangat ditakuti oleh Jem dan Scout.

Namun setelah beberapa peristiwa yang mereka alami dengan tokoh-tokoh itu, mereka belajar bahwa hidup itu tidak selalu hitam dan putih. Ada banyak hal yang tersembunyi dari pandangan kita, yang hanya akan kita pahami apabila kita mau meletakkan diri kita di tempat orang lain berdiri. Jem, yang dihukum oleh Mrs. Dubose untuk membacakannya buku setiap hari setelah pulang sekolah, tidak bisa mengerti mengapa ia selalu saja dimarah-marahi oleh si nenek tua itu. Jem dan Scout menganggap Mrs. Dubose adalah makhluk yang jahat dan kejam. Namun, apakah memang benar begitu? Jika Jem dan Scout mau mencoba memahami situasi dan kondisi yang dialami Mrs. Dubose (yang memang tidak pernah beliau ungkapkan), mungkin mereka berdua akan menghadapi Mrs. Dubose dengan cara yang berbeda.

Demikian halnya dengan Boo Radley yang dalam gambaran mereka adalah makhluk jahat dan kejam yang menunggu di dalam rumahnya yang gelap dengan senapan di tangan, siap membunuh anak yang mengganggunya, sehingga setiap kali melewati rumahnya, anak-anak selalu berlari atau paling tidak mempercepat langkah. Padahal, Boo Radley hanyalah seorang manusia, sama seperti mereka. Yang harus mereka lakukan adalah memahaminya.

Hingga usianya yang ke-sembilan tahun, Scout menjalani hidup yang biasa-biasa saja, bermain dan pergi ke sekolah bersama abangnya Jem. Sampai pada suatu musim panas yang akan mengubah seluruh hidup mereka, yakni ketika ayah mereka harus membela kasus seorang klien kulit hitam yang dituduh memperkosa seorang gadis kulit putih. Keluarga Finch mengalami masa-masa sulit, karena orang Negro dianggap sampah masyarakat, dan tidak pantas bagi seorang terhormat di kota itu untuk membelanya. Kecaman terus berdatangan, dan selama proses itu, Scout dan Jem mendapatkan banyak pelajaran tentang manusia. Menarik juga merenungkan perdebatan kedua anak ini, yang tengah berusaha memahami tentang perbedaan. Jem berpendapat bahwa manusia itu terbagi atas empat tipe, yang masing-masing diwakili oleh pribadi-pribadi unik para tetangga mereka. Jem berpikir bahwa perbedaan itu disebabkan level kepandaian dan tingkat pendidikan mereka. Namun Scout menyanggah, karena pada saat baru lahir, toh semua manusia itu sama saja. Inilah pertanyaan yang dikemukakan Jem, pertanyaan yang ada di benak seorang anak lugu, namun yang seringkali justru luput dari benak (dan terutama hati nurani) kita: “...Kalau hanya ada satu jenis manusia, mengapa mereka tidak bisa rukun? Kalau mereka semua sama, mengapa mereka merepotkan diri untuk saling membenci?...”

Catatan Fanda : Dari novel ini, aku disadarkan (lagi!) bahwa semua manusia pada hakekatnya sama. Kita semua adalah ciptaan Tuhan. Yang membedakan kita adalah cara berpikir. Jadi kalau demikian, sudah seharusnyalah kita tidak membedakan perlakuan kita terhadap sesama, meskipun keadaan kita berbeda. Dan hanya dengan kasih, maka kita akan mampu menegakkan keadilan.

Mengapa Mockingbird?

Mockingbird adalah seekor burung yang sangat merdu saat berkicau. Membunuh seekor mockingbird berarti membunuh seekor makhluk yang tidak berdosa, yang tak pernah menyakiti kita, padahal tujuannya hidup di dunia ini adalah demi kebaikan manusia, yaitu untuk menyanyikan nada-nada indah yang menghibur manusia.

Tentang Novel Ini

Harper Lee adalah seorang pengarang jenius (sayangnya To Kill A Mockingbird adalah satu-satunya novel yang ia hasilkan). Dengan mengambil sudut pandang seorang anak, ia mampu menyajikan suatu karya yang menghibur, membuat kita tertawa (akan keluguan anak-anak), membawa kita bertualang (tegang), sekaligus mengusung nilai dan pendidikan moral yang sangat dalam (cara Atticus mendidik, memperlakukan dan menasihati anak-anaknya patut ditiru oleh semua orang tua yang ingin anak-anaknya tumbuh dengan nilai-nilai yang luhur).

Akhirnya, seperti yang tercantum dalam sinopsis buku ini: Sebuah keadilan hanya dapat dilahirkan dari rasa cinta, yang tak membedakan apa pun latar belakang seseorang.