Showing posts with label Yesaya. Show all posts
Showing posts with label Yesaya. Show all posts

Wednesday, December 18, 2013

#OTR: Kitab Yesaya 6: Yesaya Dipanggil Tuhan


Bab ini juga salah satu favoritku, yaitu kisah Nabi Yesaya saat pertama kali dipanggil oleh Allah. Inilah satu-satunya bab yang menampilkan Yesaya sebagai sosok yang ‘manusiawi’. Kalau kita ingin mengenal seperti apa sosok Yesaya yang sesungguhnya, bab inilah yang menggambarkannya dengan tepat. Kita akan merasakan karakternya terpantul: apa adanya, blak-blakan, emosional dan impulsive. Ini terlihat terutama pada bagian monolognya ketika melihat penampakan Tuhan:

“Celakalah aku! Aku binasa!
Sebab aku ini seorang yang najis bibir,
Dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir,
Namun mataku telah melihat Sang Raja,
Yakni Tuhan semesta alam.”

Aku dapat merasakan betapa penampakan kemegahan Tuhan dan para serafimNya telah membuat Yesaya sekaligus: menyadari kedosaannya, dan ketakjubannya karena Tuhan yang begitu mulia sudi menampakinya. Jawabannya yang singkat, tandas, namun penuh keyakinan, tanpa ragu seharusnya menjadi sikap kita semua saat Tuhan memanggil kita:

“Ini aku, utuslah aku!”

Yesaya tak pernah bertanya apa yang harus ia lakukan, atau kemana Tuhan akan mengutusnya. Tidak. Ia mengingatkanku pada Petrus yang impulsive—namun kelak terbukti paling kokoh imannya—yang dari awal langsung meninggalkan perahu dan jalanya dan mengikuti Yesus.

Tugas pertama Tuhan untuk Yesaya sungguh aneh bagi seorang nabi. Yesaya diperintahkan untuk membuat “hati bangsa ini keras” agar Tuhan dapat menimpakan hukumannya. Pun demikian Yesaya, alih-alih bertawar menawar dengan Tuhan seperti Musa atau Abraham, hanya bertanya: “sampai berapa lama, ya Tuhan?”


Thursday, October 31, 2013

#OTR: Kitab Yesaya 5: Nyanyian Tentang Kebun Anggur


Bab 5 Kitab Yesaya langsung dibuka dengan nyanyian tentang kebun anggur, yang boleh dibilang perikop tercantik yang pernah kubaca di Kitab Yesaya; paling puitis, unik, dan emosional. Perikop ini tampaknya benar-benar aslinya merupakan sebuah nyanyian (dan itu terasa meski kita membacanya sebagai puisi biasa). Penggunaan ‘Kekasihku’ (si pemilik kebun anggur) yang di sini artinya Tuhan sangat terasa hangat.





Nyanyian ini menungkapkan perasaan Tuhan ketika umatnya (bukan hanya Israel saja) tetap kerasa kepala dalam dosa. Tuhan telah bekerja keras untuk “mencangkul, membuang batu-batu, menanam, mendirikan menara jaga dan menggali lobang untuk memerasa anggur”, namun tetap saja kebun itu (manusia) menghasilkan ‘anggur yang asam’. Maka jangan salahkan Tuhan kalau Ia sampai menghukum mereka (kita) karena kesabaran Tuhan pada saatnya akan ada batasnya.

“…dinantiNya keadilan
tetapi hanya ada kelaliman,
Dinantinya kebenaran
tetapi hanya ada keonaran.”

Setelah perikop yang indah ini, perikop berikutnya terasa ‘keras’ karena berisi kecaman Tuhan terhadap orang-orang yang suka berpesta pora, yang kebanyakan diawali dengan ‘Celakalah!’. Tak tanggung-tanggung pula hukuman mengerikan yang akan diberikan Tuhan:

“Sebab itu dunia orang mati akan membuka kerongkongannya lapang-lapang
        dan akan mengangakan mulutnya lebar-lebar dengan tiada terhingga,
Sehingga lenyap di dalamnya segala kesemarakan dan keramaian Yerusalem,
        segala kegaduhannya dan orang-orang yang bersukaria di kota itu.”

“Sebab itu seperti lidah api memakan jerami,
        dan seperti rumput kering habis lenyap dalam nyala api,
Demilian akar-akar mereka akan menjadi busuk,
        dan kuntumnya akan beterbangan seperti abu.”

Setelah semua itu, belum tuntas juga murka Tuhan, Ia memanggil bangsa-bangsa asing untuk menyerang Israel, dan hasilnya pun akan mengerikan:

“Pada hari itu mereka akan diliputi
        Oleh suara seperti suara laut menderu.
Jika orang memandang ke bumi,
        Sesungguhnya, ada gelap yang menyesakkan,
Dan terang menjadi gelap oleh awan-awan!”

Aku jadi membayangkan, seorang pemilik kebun, sebagai yang paling mencintai kebun itu, yang sudah menginvestasikan uang, jerih payah, waktu ke dalamnya, pasti adalah orang terakhir yang akan berpikir untuk merusaknya. Dan, bila ia sungguh merusaknya, pasti karena ia sudah amat sangat marah, dan kerusakannya pastilah amat sangat dahsyat, karena ia tidak akan melakukannya setengah-setengah. Ini bukan lagi keisengan belaka (seperti ulah anak-anak nakal misalnya), tapi si pemilik kebun melakukannya dengan hati dingin, penuh perhitungan, dan kebun itu pasti akan habis lenyap tak berbekas. Maka….mari kita bayangkan apabila Tuhan Yang MahaKuasa itu suatu hari berketatapan untuk merusak kebun anggurNya, betapa maha dahsyat lah kerusakannya, dan kengeriannya bahkan takkan mampu kita bayangkan! Itulah kiamat bagi manusia, tiada ampun lagi bagi kita….


Thursday, September 12, 2013

#OTR: Kitab Yesaya 2-4: Kerajaan Damai dan Hukuman Tuhan

Bab 2 Kitab Yesaya membicarakan dua hal: nubuat tentang “kerajaan damai” yang akan datang, sekaligus kecaman dan hukuman yang disediakan Tuhan bagi orang yang meninggikan diri. Yesaya menubuatkan bahwa pada jaman akhir, manusia akan berpaling dan berbondong-bondong menuju ke “rumah” Tuhan, karena disanalah akan ada kedamaian yang sesungguhnya, di mana takkan ada lagi kejahatan dan permusuhan. Pada ayat 4 ada ungkapan yang indah untuk menggambarkan kondisi itu, di mana pedang akan ditempa menjadi mata bajak, dan tombak akan menjadi pisau pemangkas.

Perikop tentang hukuman jauh lebih unik dan menarik. Di sini Yesaya kadang berbicara pada Tuhan, kadang pada umat Israel. Pada Tuhan, Yesaya seolah-olah begitu marahnya sehingga seolah “mengompori” Tuhan untuk tidak mengampuni mereka (Yes 2:9):

Maka manusia ditundukkan
dan orang direndahkan—
janganlah ampuni mereka!

Sedang pada umat Israel, Yesaya menunjukkan akibat kemarahan Tuhan yang akan terjadi. Hal menarik di sini adalah bagaimana Yesaya menggunakan metafora benda-benda yang tinggi menjulang (gunung, pepohonan, tembok, menara) untuk menggambarkan kesombongan manusia yang ingin melebihi Tuhan. Yesaya pun menutup bab ini dengan indah, dengan mengungkapkan keputus-asaannya melihat kesombongan Israel. Di sini ia seolah berbicara pada diri sendiri—monolog?? (Yes 2:22):

Jangan berharap pada manusia,
sebab ia tidak lebih daripada embusan nafas,
dan sebagai apakah ia dapat dianggap?

Di bab 3 Yesaya menunjukkan hukuman bagi orang-orang yang dianggap menyesatkan umat. Tuhan akan mengambil para pemimpin dan orang-orang yang dapat diandalkan, lalu membiarkan bangsa itu dipimpin orang-orang muda, yang tentu akan menimbulkan kekacauan. Maka tepatlah ayat 11 ini:

Celakalah orang fasik! Malapetaka akan menimpanya,
sebab mereka akan diperlakukan menurut perbuatannya sendiri.

Mereka telah menyesatkan bangsanya sendiri, maka sekarang malapetaka menimpa seperti berbuatan mereka, yaitu berupa kekacauan yang melanda bangsa itu. Hukuman yang menimpa wanita-wanita Sion yang rusak moralnya juga unik, yaitu dengan mengganti rempah harum menjadi busuk, dll.

Bab 4 memiliki keunikannya sendiri juga. Pertama, karena dalam 1 bab ada dua kondisi yang berkebalikan. Ayat 1 menggambarkan puncak kemalangan bangsa Israel, yaitu sampai-sampai tujuh perempuan akan memaksa satu laki-laki untuk memperistri mereka, menunjukkan begitu menderitanya mereka karena hukuman Tuhan. Lalu, tiba-tiba pada ayat 2 ada perubahan tema. Di sini digambarkan bagaimana umat Israel yang terluput dari amarah Tuhan akan mengalami kekudusan dan selalu dilindungi Tuhan.

Keunikan kedua, adalah, bila dari awal bab 1 s/d 3, penulisan nubuat Yesaya selalu dalam bentuk puisi, maka khusus pada bab 4 ini bentuknya beralih ke prosa. Aku membayangkan saja….mungkin Yesaya mengalami penglihatan yang sangat intens dan menggetarkan; begitu mengerikan, sekaligus begitu kudus, hingga ia langsung menuliskannya apa adanya. Ini hanya interpretasiku saja….


Thursday, August 15, 2013

#OTR: Kitab Yesaya 1 – Nubuat Kehancuran dan Pemurnian

Ini adalah post pertama untuk proyek pribadiku: Old Testament Reading. Kitab Yesaya adalah yang pertama kupilih karena, selain merupakan kitab yang paling sering kubawakan (sebagai Lektor), juga yang paling kusukai karena keindahan puisi-puisinya.

Membaca Kitab Yesaya dari awal, membuatku sadar bahwa:

  1. Yesaya bin Amos sebenarnya adalah seorang Penasehat Raja;
  2. Nubuatnya terentang meliputi masa pemerintahan, setidaknya, empat Raja Yehuda: Uzia, Yotam, Ahas, dan Hizkia;
  3. Jika demikian, berarti ‘Yesaya’ tidaklah merupakan satu orang nabi, namun beberapa nabi yang tulisan-tulisannya disatukan menjadi satu kitab (seperti yang kukonfirmasi dari Wikipedia, Kitab Yesaya ditulis oleh tiga nabi);
  4. Tulisan ketiga nabi itu tidak dijajarkan berdasarkan urutan kronologis sejarah, namun lebih berdasarkan kesamaan tema. Misalnya: Pada bab 6, saat mengisahkan panggilannya, Yesaya sedang mengabdi Raja Uzia, sementara pada bab 7 Yesaya tengah mengabdi Raja Ahas. Maka Kitab Yesaya tak dapat dibaca sebagai sebuah kronologi sejarah bila kita akan membacanya secara berurutan.

Pada bab 1 Yesaya menyampaikan kecaman Tuhan terhadap bangsa Israel yang tidak setia dan mengalami kejatuhan moral. Saking parahnya, sampai-sampai kondisinya diibaratkan bak tubuh yang seluruhnya tanpa kecuali mengalami sakit; dan orang yang menderita seperti itu pasti ditinggalkan, ditelantarkan keluarga/sanak saudaranya.

Stanza mengenai Puteri Sion yang ditinggalkan sendirian (Yes 1:8) dengan tepat menggambarkan keadaan mereka saat itu (seperti bangsa Israel yang ditinggalkan Tuhan):

Puteri Sion tertinggal sendirian
seperti pondok di kebun anggur,
seperti gubuk di kebun mentimun
dan seperti kota yang terkepung.

Efek keterasingannya sangat terasa, terutama di baris terakhir.

Selanjutnya Tuhan menjabarkan dengan detail di mana letak kesalahan Israel; mereka yang munafik dengan mempersembahkan korban bagus-bagus kepada Tuhan, tapi berlaku tak adil pada sesamanya. Tuhan lalu mengajak mereka untuk bertobat; bila mereka berpaling dari dosa-dosa mereka, Ia akan mengampuni, dan Ia akan bersama mereka lagi.

Stanza ini adalah salah satu favoritku, dari Yes 1:18 (klik tombol 'play' untuk mendengarkan suaraku):



Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi,
         akan menjadi putih seperti salju;
sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba,
         akan menjadi putih seperti bulu domba

Lalu Tuhan pun mengumumkan hukuman yang akan Ia timpakan pada Yerusalem bila tak kunjung bertobat. Yesaya menutup bab 1 ini dengan sangat mantap dan menohok (Yes 1:31):

Maka yang kuat menjadi seolah-olah kapas
      dan pekerjaannya menjadi seolah-olah bunga api;
keduanya menimbulkan api
      dan tidak ada yang dapat memadamkan.

Kesannya begitu ‘final’, karena tidakkah api yang tidak dapat dipadamkan di sini dapat diartikan neraka? Membaca keseluruhan bab 1 ini terasa sangat kuat, dan alurnya benar-benar mencapai klimaks di akhir. Dari bab pertama ini saja aku sudah menangkap aura keseluruhan Kitab Yesaya ini (yang membuatku menyukainya dari dulu…).