Friday, July 22, 2011

Kehancuran Troy (The Aeneid)

Perang Troya mungkin merupakan salah satu perang paling terkenal yang pernah ada. Setidaknya ada sangat banyak kisah dan buku yang mengangkat perang ini. Troya adalah perang antara Yunani (kaum Achaean) dan kota Troy, gara-gara Pangeran Paris dari Troy merebut Helen, istri Raja Sparta: Menelaus, yang adalah wanita tercantik sejagat pada waktu itu. Seperti yang anda mungkin pernah baca atau tonton filmnya, pasukan Yunani akhirnya bisa mengalahkan Troy berkat siasat “kuda Troya”, yaitu dengan menyusupkan pasukan Yunani ke dalam patung kuda dari kayu sehingga berhasil masuk ke dalam kota Troy. Nah, kisah Kehancuran Troy ini bermula dari malam yang bersejarah itu.

Pada malam itu Raja Troy yang bernama Priam pergi ke pantai untuk melihat apakah isu bahwa pasukan Yunani sudah meninggalkan Troy dengan kapal-kapal mereka adalah benar. Alangkah terkejutnya ia ketika mendapati sebuah patung raksasa berwujud kuda terbuat dari kayu berdiri sendirian di gelapnya malam, sementara pasukan Yunani telah menghilang. Timbul perdebatan apakah sebaiknya patung itu dibawa masuk ke dalam kota atau dihancurkan saja. Tiba-tiba datang orang asing bernama Sinon yang mengaku orang Yunani, tapi telah difitnah sehingga kini berharap boleh bergabung dengan Troy. Ia bercerita bahwa pendeta Yunani meramalkan bahwa pasukan Yunani harus pulang dulu ke negaranya untuk kemudian kembali lagi dan menyerang Troy. Sinon menyarankan rakyat Troy membawa masuk patung kuda itu sebagai persembahan kepada Dewi Athena (yang telah membantu Yunani untuk mengalahkan Troy).

Patung itu akhirnya dibawa masuk ke kota. Ketika kota Troy tengah terlelap, Sinon diam-diam membuka patung itu dan dari dalamnya keluarlah komandan pasukan Yunani yang selama ini bersembunyi di situ. Mereka bersama seluruh pasukan lainnya yang selama itu bersembunyi di pulau kecil dekat situ lalu menyerang dan membakar kota Troy. Malam itu Aeneas --pemimpin tertinggi pasukan Troy setelah kematian Hector-- didatangi oleh Hector dalam mimpi yang menyuruh Aeneas melarikan diri karena kelak Aeneas lah yang akan mendirikan negara baru bagi sisa rakyat Troy. Malam itu juga Raja Priam tewas dibunuh oleh Pyrrhus (putra Achilles), dan seluruh kota Troy terbakar. Singkat kata, bersama ayah dan putranya (Ascianus) serta orang-orang Troy yang selamat, Aeneas yang dilindungi ibunya --Dewi Aphrodite-- segera bertolak dengan kapal ke lautan.

Lukisan yang menggambarkan Aeneas membopong ayahnya, disertai istri dan putranya menyelamatkan diri dari kebakaran (karya Federico Barocci, 1598, sumber: Wikipedia)


Perjalanan ke Itali

Perjalanan menuju negeri baru itu dilalui dengan penuh perjuangan dan jungkir balik oleh Aeneas dan rombongannya. Mereka menjelajahi daratan Eropa, Asia hingga Afrika, dan sempat singgah di beberapa negara. Sudah menjadi kehendak dewata bahwa bangsa Troy akan membangun negeri baru di Hesperia, atau yang disebut Itali. Kelak Roma ditakdirkan menjadi salah satu bangsa besar dan terhormat di dunia. Namun sebelum itu, kaum Troy harus melewati perjalanan yang jauh dan memutar karena mereka tak dapat singgah di Yunani. Walau begitu mereka tak perlu takut karena Apollo dan para dewa lainnya akan membantu mereka. Ketika singgah di kota Carthage, Aeneas sempat terlena dan melupakan sejenak misinya mencari negeri baru, berkat keramahan Ratu Carthage yang bernama Dido. Dan rupanya (meski tidak ditunjukkan dengan jelas di buku ini), Dido lalu jatuh cinta pada Aeneas. Maka Zeus pun mengutus Hermes untuk mengingatkan Aeneas untuk segera melanjutkan perjalanan. Aeneas pun terpaksa meninggalkan Carthage secara diam-diam agar Dido tidak murka.

Ketika mereka hampir mencapai Itali, rombongan Troy singgah agak lama di negeri Sicily untuk memakamkan Anchises yang meninggal dalam perjalanan. Saat itu Dewi Hera yang benci pada Aeneas berusaha menggagalkan niat Troy untuk pergi ke Itali. Hera adalah istri Zeus, dan dalam mitologi Yunani para dewa/dewi biasa bermusuhan dan bersekutu, persis seperti manusia. Mereka pun bersekutu/bermusuhan dengan manusia, dan sering campur tangan dalam hidup manusia. Namun karena perjalanan Aeneas itu sudah menjadi kehendak dewata, maka akhirnya mereka bisa lolos dari bahaya dan melanjutkan perjalanan hingga mendaratlah mereka di pulau Latium atau Itali.


Perang Latin vs Troy

Raja Latium (atau Latin) bernama Latinus. Ia memiliki putri bernama Lavinia, yang menurut ramalan akan dipersunting seorang asing. Maka ketika Aeneas dan rakyat Troy mendarat di pulaunya, Raja Latinus yakin bahwa Aeneas adalah calon suami Lavinia. Di lain pihak, istrinya ingin menikahkan Lavinia dengan Pangeran Turnus yang gagah dan tampan. Di sini lagi-lagi dewi Hera melihat peluang untuk menghancurkan Aeneas. Ia memanggil Alecto dari neraka untuk menyalakan api kemarahan di hati rakyat Latin dan menyulut kecemburuan di hati Turnus sehingga akhirnya terjadilah sebuah perang. Kalangan dewata sekali lagi heboh. Aeneas diperingatkan dalam mimpi untuk bersekutu dengan Raja Evander dan pasukan Tuscan yang juga memusuhi Latin. Sementara Aphrodite minta tolong Dewa Api untuk membuatkan perangkat perang bagi putranya, dan dewa-dewa lainnya turun tangan membantu bangsa Troy. Bagian ke dua inilah yang kurasa lumayan “menggigit” karena di sana kita bisa melihat keberanian dan karakter Aeneas.

Seperti yang kita semua ketahui, kerajaan Romawi kelak memang menjadi kerajaan besar yang menguasai dunia. Aeneas merupakan leluhur bangsa itu, karena dari keturunannya lah raja-raja Romawi berasal.

*****

Kehancuran Troy ini adalah versi terjemahan yang diambil dari The Aeneid karya Virgil. Virgil adalah salah satu penyair epic Roma terbesar. Aslinya, The Aeneid memang merupakan puisi yang dirangkai untuk mengisahkan perjalanan bangsa Troy menuju negeri baru dan perang di tanah baru itu untuk akhirnya mendirikan kerajaan Romawi. Kehancuran Troy ini adalah versi ringkas yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Anda tak akan menemukan secuil pun puisi di sini, karena sudah dijadikan semacam kisah epic. Secara keseluruhan, sangat terasa bahwa buku ini adalah versi ringkas, sehingga kita jadi kurang merasakan ikatan emosi dengan kisah maupun tokoh-tokohnya. Mungkinkah karena aslinya adalah puisi? Entahlah...

Kisah bangsa Troy ini memang memiliki banyak aspek, mungkin akan lebih baik kalau kita menyempatkan membaca dari awal kisah perang Troy, yaitu di buku The Iliad dan The Odyssey karya Homer, sebelum melanjutkan ke Kehancuran Troy ini. Bagaimanapun, penerbit Oncor Semesta Ilmu patut diacungi jempol atas inisiatifnya untuk menyuguhkan versi sederhana yang gampang dimengerti mengenai salah satu mitologi Yunani ini. Satu bintang untuk Aeneas, satu untuk Virgil, dan satu lagi untuk Oncor!

Judul: Kehancuran Troy
Penulis: Virgil
Sumber: The Aeneid, by Virgil, terbitan Macmillan th. 1936
Penerbit: Oncor Semesta Ilmu
Terbit: Juli 2011
Tebal: 134 hlm

Monday, July 11, 2011

The Prince And The Pauper

Inggris banget! Itulah kesanku selama membaca buku ini. Dan memang The Prince and The Pauper ditulis oleh Mark Twain berlatar belakangkan peristiwa yang terjadi dalam sejarah Inggris di akhir abad 16, ketika Raja Henry VIII memerintah. Dalam masa ini hiduplah keluarga Canty dalam gelimang kemiskinan. Tinggak di gubuk nan reyot dan kotor, pekerjaan mereka adalah mengemis dan mencuri. Terlepas dari moral ayahnya yang buruk, Tom kecil tumbuh sebagai remaja yang terpelajar berkat didikan seorang pendeta. Banyak buku yang berkisah tentang kerajaan dan kehidupan bangsawan yang dilahap Tom. Dan semua kisah itu menjelma menjadi mimpi-mimpi indah yang menemani tidurnya di malam hari, menjadikannya penawar sengsara setelah seharian dipaksa mengemis, lalu disiksa dan dibentak-bentak oleh ayah dan neneknya kalau ia tak membawa hasil memuaskan dari mengemis. Dan akhirnya bukan hanya mimpi, kerajaan dan kebangsawanan pun menjadi obsesi Tom. Ia mulai berbicara layaknya bangsawan, dan bermain sebagai raja bersama saudara-saudaranya. Hingga suatu hari ia tiba-tiba ingin melihat seorang Pangeran sungguhan di istana kerajaan sungguhan.

Harapannya terwujud, karena tepat saat itu Pangeran Wales yang bernama Edward, putra Raja Henry VIII tengah berada di luar istana. Sang Pangeran melihat Tom tepat ketika para penjaga pintu gerbang memukuli anak gelandangan berpakaian lusuh itu. Pangeran menghentikan penyiksaan itu sambil memarahi si penjaga, lalu segera mengundang Tom ke istananya. Layaknya dua remaja lelaki seusia, mereka dengan cepat menjadi akrab. Tom terpesona pada istana dan semua di dalamnya, yang hingga saat itu hanya ia lihat melalui buku. Sedang Edward, yang sejak kecil terkungkung di istana, terpesona mendengar cerita Tom tentang kehidupan bocah seusia mereka di luar sana. Bermain bersama teman-teman, berenang di sungai, dan semua kenakalan dan kebebasannya. Dan tiba-tiba muncul ide iseng untuk saling bertukar pakaian. Pangeran yang mengenakan pakaian lusuh Tom, dan Tom yang mengenakan pakaian gemerlap Edward, sama-sama terpana saat memandang cermin. Betapa miripnya mereka berdua!

ilustrasi Tom & Edward di istana. Ini sesaat sebelum atau sesudah mereka berganti pakaian? Hayoo..tebak!


Tanpa sempat berganti pakaian kembali, Edward keluar ke halaman istana untuk menegur penjaga yang tadi memukuli sahabat barunya. Bisa anda tebak, si penjaga menganggap Edward sebagai anak gelandangan yang menyebabkannya dimarahi oleh Pangeran. Meski Edward berkeras bahwa ia adalah sang Pangeran sendiri, namun tak ada yang mempercayainya. Ia malah semakin ditertawakan karena bersikap sok memerintah. Sedang Tom, yang menanti kedatangan kembali sahabatnya agar mereka dapat bertukar pakaian kembali, akhirnya menelan kekecewaan karena Edward tak kunjung datang. Malahan ia dikira sang Pangeran sendiri, terlepas dari pengakuannya yang jujur, yang malah dikira sebagai gejala kegilaan sementara. Bahkan Sang Raja pun mengira Tom adalah putranya sendiri yang sedang sakit! Hal yang sama terjadi pada Edward. Ketika ayah Tom menemukannya, ia begitu yakin si bocah lusuh adalah anaknya yang nakal yang lagi-lagi tak membawa hasil mengemis, lalu menghadiahinya pukulan.

Begitulah nasib The Prince and The Pauper kita ini. Cerita jujur mereka malah dianggap lelucon dan bahkan "penyakit pada otak" oleh mereka yang mendengarnya. Baik teman-teman maupun orang terdekat mereka. Banyak cerita lucu saat Tom menjadi "pangeran". Di bagian ini kentara sekali bagaimana Mark Twain mengajak kita untuk menertawakan keabsurdan monarki pada saat itu. Saat rakyatnya banyak yang miskin dan tertindas di bawah pemerintahan tirani Henry VIII, kemewahan yang menggelikan dan sungguh tak perlu terus saja dipraktekkan di istana. Contohnya adalah upacara memakaikan pakaian bagi "Pangeran" Tom di pagi hari. Untuk menyerahkan sepotong kaus hingga dipakaikan pada Tom, butuh 13 orang petugas yang mengangsurkan pakaian itu ke lainnya, terus hingga ke petugas yang memakaikannya pada Tom. Dan ke 13 petugas itu punya jabatan yang mentereng: First Lord of Bedchamber, Second Gentleman of The Bedchamber, Chief Equerry in Waiting, dll. Lalu bagaimana reaksi Tom saat melihat "prosesi kaus" ini? ~"Teman kecil kita terlihat bingung. Itu mengingatkannya pada acara oper-mengoper ember di festival." (hal. 151). Ketika salah satu kaus kaki yang akan dipakaikan pada kaki Tom ditemukan hilang labelnya, kaus kaki itu pun dikembalikan melewati prosesi yang sama!

Tom yang terbiasa serba bebas dalam kehidupan miskinnya, awalnya tak terbiasa dengan pengaturan yang kaku dan serba seremonial dalam segala hal, termasuk ketika bersantap. Yang paling lucu adalah ketika seorang bangsawan mengangsurkan sebuah mangkuk berisi air mawar untuk mencuci tangan. Tom yang bingung, akhirnya malah meminum air itu. Waktu mengembalikan mangkuk pada si bangsawan, yang pasti terkaget-kaget, Tom berkata: "Tidak....aku tidak menyukainya, Tuan. Memang rasanya cukup enak, tapi terlalu keras untukku." (hal. 73). Dan akupun sukses tertawa ngakak waktu membaca bagian ini. Lihat saja ekspresi si bangsawan dalam ilustrasi ini:

ilustrasi saat Tom minum air untuk cuci tangannya..


Sebaliknya dari kisah Tom yang lucu, cerita sengsara tak henti-hentinya menghinggapi Edward saat menjadi anak gelandangan. Kisah Edward jelas lebih menarik karena ia berulang kali bernasib malang, diselamatkan, kembali jatuh dalam kemalangan, begitu terus. Salah satu penyelamatnya adalah seorang pria bernama Miles Hendon yang dulunya prajurit Raja, namun telah ditipu oleh saudaranya yang jahat: Arthur. Dalam semua kemalangannya, Edward belajar banyak tentang kehidupan dan penderitaan yang dialami rakyatnya. Ia pun tak lupa menjanjikan ganjaran atas kebaikan mereka yang pernah menolongnya sekecil apapun.

Begitulah kedua teman kita ini menjalani hidup yang fantastis di dunia yang berbeda, hingga suatu hari sang Raja Henry VIII mangkat. Dan sang Pangeran Wales pun harus dinobatkan menjadi raja berikutnya! Dan di sinilah petualangan kedua teman kita akan berakhir.

Yang menarik bagiku, dalam buku ini Mark Twain tidak saja menyuguhkan kehidupan ala raja-raja Inggris jaman lampau, namun ia juga ingin menyentil tentang kepribadian manusia. Mari kita melihat bagaimana pertukaran identitas ini berpengaruh pada Tom dan Edward. Edward, meskipun berbaju gembel, namun tetap berperilaku dan berbicara layaknya pangeran. Bahkan Miles si penyelamatnya tak boleh makan semeja dengannya, dan harus menunggu hingga ia selesai makan. Meski ia dihina dan direndahkan, kehormatan dalam dirinya tak pernah luntur. Sekarang mari kita kihat kasus Tom. Hanya butuh waktu 3 bulan, Tom si pengemis yang awalnya canggung dengan kegemerlapan istana, perlahan-lahan mulai terbiasa. Bahkan menjelang penobatannya sebagai Raja, ia cenderung menganggap dirinya memang raja, dan membuang semua masa lalu kelam yang tak ingin ia akui. Bahkan ibunya pun sempat ia sangkal ketika sang ibu mengenali putranya (lihat, bagaimanapun rapat sebuah penyamaran, mata seorang ibu tak mungkin tertipu!). Di sini kita melihat bahwa manusia cenderung berubah saat berada pada puncak kekayaan atau kekuasaan. Sudah menjadi sifat manusia untuk berkawan dengan kenikmatan. Aku pernah membaca entah di mana, sebuah penelitian psikologi pada sekelompok orang yang dihadapkan pada kekuasaan mutlak. Hasilnya, hanya dalam waktu singkat perangai mereka berubah 180 derajat! Kita sering mencemooh teman atau kenalan kita yang berubah saat menjadi kaya. Namun, pernahkah anda berpikir, bahwa bila anda yang dianugerahi kekayaan itu, bukan tak mungkin anda pun akan berubah seperti teman itu.

ilustrasi ketika Tom "menolak" ibunya


Hal kedua yang menggelitikku adalah begitu mudahnya manusia menilai orang lain hanya dari atribut fisiknya saja, dari luarnya saja. Lihat saja bagaimana semua orang tak mampu mengenali perbedaan antara Tom dan Edward ketika mereka berganti pakaian. Karena, begitu mereka melihat pakaian lusuh, berarti pemakainya adalah orang miskin, malas, bodoh, kasar, bahkan mungkin jahat. Yang berpakaian mewah pasti agung, berkedudukan, cerdas dan terhormat. Sungguh ironis bagaimana stereotip macam itu sudah melekat pada diri manusia sepanjang jaman.

Akhirnya, anda pasti akan bertanya-tanya, bagaimana cara Pangeran Edward membuktikan bahwa ia lah yang layak dinobatkan menjadi Raja? Akankah Tom menolak asal-usul dirinya? Itulah sebabnya anda perlu membaca kisah berlatar sejarah yang asyik, kocak sekaligus seru ini! Sisipan di belakang buku membantu kita untuk sedikit lebih memahami seluk beluk protokoler kerajaan Inggris saat itu. 3 bintang untuk buku ini, 1 untuk Tom, 1 untuk Edward, 1 untuk Mark.

Gambar di atas adalah ilustrasi ketika Edward berusaha membuat "pembuktian" bahwa dirinya adalah raja yang sah.

Akhirnya aku tergoda untuk mencermati gambar pada cover buku ini, apakah itu gambar sosok asli kedua bocah itu, ataukah gambar ketika mereka bertukar peran? Bagaimana menurut anda?


Judul: The Prince and The Pauper
Penulis: Mark Twain
Penerbit: Orange Books (Grup Penerbit Mizan)
Terbit: Nopember 2010
Tebal: 418 hlm

Monday, July 4, 2011

80 Hari Keliling Dunia


Keliling dunia dalam 80 hari? Bagi kita yang hidup di saat ini tentu saja mungkin. Bahkan, kita dapat menempuh perjalanan itu kurang dari 80 hari. Tapi, ketika ide itu ditawarkan pada tahun 1872, banyak orang yang skeptis. Secara teori, 80 hari adalah waktu minimal yang dibutuhkan untuk bertualang ke seluruh dunia. Namun, prakteknya bisa saja meleset. Ketika ada penundaan jadwal kapal uap sehari saja, maka angka 80 hari itu pasti akan bertambah. Tak ada orang yang berani menjamin bahwa mereka akan dapat melakukan 80 hari keliling dunia itu. Selain Phileas Fogg.

Phileas Fogg adalah seorang aristocrat nyentrik yang hidup di London. Ia orang yang pendiam sekaligus misterius, tenang dan hampir tak pernah menampakkan emosi, serta sangat menyukai keteraturan. Kedisiplinannya terhadap waktu sangat mencengangkan. Tiap pukul 11:30 siang (tepat, tak kurang atau lebih 1 menit pun), Phileas Fogg akan meninggalkan rumahnya untuk menuju ke Reform Club, di mana ia menjadi anggota. Di club itu ia berteman dengan para orang terpandang di London lainnya (akademisi, politikus, bangsawan, jutawan). Suatu hari terjadi sebuah diskusi di antara anggota club itu mengenai perampokan bank yang baru terjadi. Diskusi itu mengalir hingga ke isu terbaru di dunia transportasi pada saat itu, di mana perjalanan keliling dunia sudah dapat ditempuh dalam waktu tercepat 80 hari, dengan perincian seperti table ini: (sumber: Wikipedia)



Diskusi itu tiba-tiba membuahkan sebuah pertaruhan. Mr. Phileas Fogg bertaruh 20.000 pound bahwa ia akan dapat keliling dunia dalam 80 hari persis. Persetujuan pun dibuat. Mr. Fogg harus sudah hadir kembali di Reform Club pada hari tertentu, jam tertentu. Maka Mr. Fogg, yang yakin bahwa ia akan mampu mengatasi kesulitan apa pun yang dapat menghadang, segera mengajak pelayan barunya, yang baru saja masuk kerja beberapa jam sebelumnya: Passepartout.

Untunglah ada tokoh Passepartout dalam buku ini! Tokoh ini jauh lebih “manusiawi” daripada majikannya. Dalam usianya yang masih muda, Passepartout sudah pernah menjadi penyanyi, anggota sirkus hingga pemadam kebakaran. Dan kini tantangan berikut dalam hidupnya adalah menjadi pelayan di rumah Mr. Fogg yang maniak terhadap ketepatan waktu dan disiplin (mengingatkan aku pada Hercule Poirot dan sahabatnya Kapten Hastings, tokoh rekaan Agatha Christie!). Sebagai orang Prancis, Passepartout lebih terbuka, emosinya lebih “berwarna”, impulsif dan lebih ramah daripada majikannya yang berkarakter khas London: sedikit angkuh, tenang dan dingin. Kombinasi keduanya membuahkan perjalanan sekaligus petualangan yang menegangkan. Aku pikir, andai Mr. Fogg berkelana sendirian, pasti ia akan dengan lebih mudah mencapai tujuannya. Namun, tentu saja perjalanan itu akan amat membosankan. Laporannya akan mirip jadwal perjalanan biasa. Dengan adanya Passepartout, banyak hal yang akan terjadi, banyak tantangan dan bahaya, banyak kekecewaan maupun kegembiraan. Pokoknya, perjalanan keliling dunia itu menjadi bukan semata-mata taruhan, namun lebih pada sebuah petualangan yang mengubah hidup seseorang.

Aku sudah pernah membaca karya Jules Verne yang berjudul 60.000 Mil Di Bawah Laut (terjemahan dari 20.000 Leagues Under The Sea). 60.000 Mil Di Bawah Laut menurutku lebih menakjubkan dalam hal keindahan alamnya, mungkin karena tokohnya adalah seorang ahli kelautan. Sedangkan di 80 Hari Keliling Dunia ini, keindahan dan keeksotisan negara-negara yang dikunjungi Mr. Fogg dan Passepartout kurang terekspos. Terutama karena Mr. Fogg adalah orang yang praktis, jauh dari romantis, sehingga ia lebih memperhatikan ketepatan waktu daripada pemandangan indah di sekitarnya. Mungkin hanya di India saja, ketika tuan dan pelayan ini bertualang menculik dan menyelamatkan seorang wanita yang hendak dibakar dalam suatu ritual, petualangan itu memiliki greget. Yang aku ingat jelas adalah ketika mereka harus melarikan diri karena ketahuan dengan mengendarai gajah. Tentu saja gajah itu harus dipacu untuk berlari kencang. Aku tertawa ngakak membayangkan Passepartout yang harus rela terguncang-guncang di punggung gajah…

Dalam buku ini, seperti dalam kehidupan nyata, yang menjadi halangan bagi ketepatan waktu sebuah perjalanan, bukanlah melulu pada transportasi (kecuali mungkin di negara kita ya..?!). Justru hal-hal di luar rencana kita, yang disebabkan orang atau pihak lain, yang lebih sering mengganggu perjalanan itu. Dalam hal Mr. Fogg, kesialan itu berupa penguntitan seorang detektif sok tahu bernama Fix yang mengira Mr. Fogg itu perampok bank di London yang tengah melarikan diri. Selain itu, kecerobohan dan karakter impulsif Passepartout juga beberapa kali menyebabkan kacaunya perjalanan mereka. Kalau melihat watak Mr. Fogg yang praktis dan penuh perhitungan, mungkin menyelamatkan seorang wanita dan pelayannya takkan masuk dalam jadwal perjalanannya. Bagaimana pun juga, ada uang 20.000 pound yang dipertaruhkan di sini. Namun Mr. Fogg bukanlah orang yang egois. Meski tidak menguntungkan, ia akan berbuat apa yang memang seharusnya diperbuat. Sesederhana itu.

Dalam banyak hal, Mr. Fogg itu dingin dan penuh perhitungan. Tapi anda akan dibuat tercengang membaca bagaimana penuh perhatiannya ia menjaga dan melindungi Aouda, wanita India yang diselamatkannya dengan nyaris mengorbankan nyawa itu. Lihat pula bagaimana ia tak pernah mempersoalkan kesialan-kesialan yang disebabkan orang lain, dan bagaimana murah hati serta dermawannya ia pada orang-orang yang ditemuinya sepanjang perjalanan. Kalau boleh kukatakan, perjalanan keliling dunia 80 hari itu sendiri tidaklah terlalu istimewa, namun kisah-kisah kehidupan di baliknya itulah yang memberi warna buku ini, sehingga mengijinkanku untuk menganugerahkan 4 bintang untuk buku ini!

Mengapa 80 Hari Keliling Dunia?

Apakah anda, seperti aku, penasaran dari mana ide keliling dunia ini didapat Verne? Apakah ia memang sering berkeliling dunia? Jawabannya kutemukan di Wikipedia. Ternyata ide Verne berasal dari sebuah iklan tur berupa artikel di sebuah harian yang ia baca suatu hari di sebuah café di Paris. Diduga iklan yang ia maksud adalah artikel yang ditulis Thomas Cook, seorang Inggris yang pertama kali memperkenalkan sistem travel agency.

Judul : 80 Hari Keliling Dunia
Judul asli: Around The World In Eighty Days
Penulis: Jules Verne
Penerbit: Serambi
Terbit: Juni 2008
Tebal: 367 hlm

Thursday, June 30, 2011

The Count Of Monte Cristo

Pada tahun 1844, di sebuah harian bertajuk Journal des Débats, sebuah kisah petualangan pertama kali terbit sebagai cerita bersambung sepanjang 18 seri. Cerita itu lalu mengguncang daratan Eropa. Setiap pagi, saat sarapan atau di tempat kerja, orang-orang akan membicarakan cerita ini. Ditulis oleh seorang berkebangsaan Prancis bernama Alexandre Dumas, cerita ini akhirnya dibukukan sebagai novel dengan judul: The Count Of Monte Cristo. Hingga saat ini, The Count of Monte Cristo merupakan salah satu novel yang paling populer di Eropa, telah diterjemahkan dan diterbitkan di seluruh dunia ke dalam berbagai bahasa, dan telah sering diangkat ke panggung teater serta film layar lebar.

The Count of Monte Cristo adalah sebuah kisah petualangan dengan background sejarah yang kaya dengan plot. Berkisah tentang Edmond Dantès, seorang kelasi kelas satu Marseille berusia 19 tahun yang bekerja di atas kapal Pharaon. Memiliki kepribadian yang baik, bertanggung jawab, jujur dan setia, membuat Monsieur Morrel--pemilik kapal Pharaon berencana mengangkat Dantès menjadi Kapten kapal. Pribadinya itu juga mempesona seorang gadis nelayan cantik bernama Mercédès, yang mencintai dan akan dinikahi oleh Dantès. Karir menjanjikan dan calon istri cantik, dua kemujuran yang didambakan pria manapun, termasuk Danglars (kolega Dantès di kapal) dan Fernand Mondego (sepupu Mercédès) yang iri kepada Dantès. Danglars iri karena posisi Kaptennya, Fernand iri pada mengincar calon istrinya. Maka keduanya pun bekerja sama untuk menjatuhkan Dantès.

Kisah ini bersetting tahun 1815, saat-saat penting bagi kekaisaran Prancis, ketika Napoleon sedang berupaya untuk kembali ke takhta Kaisar yang direbut darinya oleh Louis XVIII. Kapten kapal Pharaon yang merupakan sekutu Napoleon, mempercayakan sebuah amanat kepada Dantès untuk mengirimkan surat untuk para pengikut Napoleon. Sebuah hal yang dianggap Dantès hanya sebagai tugasnya, tanpa ia mengetahui isinya. Amanat inilah yang dipakai Danglars dan Fernand sebagai alat menjatuhkan Dantès, dengan cara menulis surat yang berisi tuduhan palsu ke Penuntut Umum: Villefort. Meski Villefort adalah hamba hukum yang adil, namun karena alasan pribadi yang menyangkut ayahnya yang seorang Bonapartis, akhirnya memutar balikkan fakta, dan menggunakan surat fitnah tadi untuk menjebloskan Dantès ke penjara dengan tuduhan: menjadi sekutu Napoleon (Bonapartis).

Dari kehidupan yang nyaris sempurna, tiba-tiba bukan saja karir dan pernikahan, namun seluruh hidup Dantès seolah dirampas darinya, dan diganti dengan kegelapan penjara Chateu d'If yang harus ia tempati seumur hidup. Namun, ketika ia nyaris putus asa di dalam penjara, tiba-tiba secercah cahaya menerangi jalan hidupnya. Seorang tahanan tua di sana bernama Abbé Faria menjadi sahabatnya secara sembunyi-sembunyi. Kedua bilik mereka dihubungkan oleh terowongan yang telah digali Faria selama bertahun-tahun. Selain mengajarkan bahasa dan pengetahuan lainnya, Abbé Faria membukakan mata Dantès pada siasat licik 3 orang yang telah menjebloskannya ke penjara. Selain itu Abbé Faria, yang melihat ketulusan dan kasih Dantès kepadanya layaknya seorang anak kepada ayahnya, mengungkapkan rahasia harta karun yang disimpannya diam-diam di sebuah pulau kecil bernama Monte Cristo. Dan rencana meloloskan diripun segera disusun. Sayangnya, satu-satunya cara meloloskan diri dari penjara hanya dapat dilakukan oleh Dantès seorang diri, tanpa Abbé Faria yang sakit-sakitan. Tak tega meninggalkan Faria, Dantès pun tetap menemani Faria. Ketika Abbé Faria akhirnya meninggal, barulah Dantès melaksanakan rencana melarikan dirinya.

Kembali ke Marseille empat belas tahun kemudian, dengan segala kepahitan serta kebijaksanaan yang mengubah penampilan Dantès sehingga tak dapat dikenali lagi, mulailah Dantès "bermain" menjadi Tuhan--mengganjar yang baik dan menghukum yang jahat. Di sini mulailah plot yang kaya dengan intrik bergulir dengan indah meski lumayan memusingkan. Berbekal kemampuan membaca karakter orang lain dan harta yang berlimpah, Dantès pun kembali memasuki kehidupan orang-orang yang pernah dekat dengannya dulu: Mercédès, Danglars, Fernand, Villefort, Morrel dan Caderousse. Tentu saja, ia tidak datang sebagai Dantès sendiri, melainkan dengan menjelma ke dalam berbagai pribadi: Abbé Busoni--seorang pastor Italia, Lord Wilmore--bangsawan Inggris yang dermawan, seorang staf firma Thomson & French, serta--tentu saja--Count of Monte Cristo, gelar kebangsawanan yang dibelinya, sesuai dengan pulau yang juga telah dibelinya dari harta yang ia temukan di pulau tersebut.

Sangat menarik bagaimana Count of Monte Cristo ini mampu, dalam waktu cukup singkat, menanamkan pengaruhnya ke lingkungan bangsawan di Paris, termasuk ke musuh-musuhnya: Fernand yang telah menjelma menjadi Count de Morcerf, Danglars yang telah menjadi Baron dan bankir kaya raya, serta Villefort sang Penuntut Umum. Cara yang ia gunakan cerdik dan halus, sehingga semua orang mengagumi kecerdasan, kebijaksanaan, keramahan dan kekayaannya, alih-alih mencurigainya. Semuanya itu lalu dipoles dengan gaya bicara dan pembawaannya yang sangat terhormat dan ningrat. Pesona ditambah dengan plot yang cerdik, membuat Monte Cristo perlahan namun pasti melaksanakan rencananya. Ia murah hati pada orang yang telah menolongnya, namun kejam pada orang yang telah merampas hidupnya.

Banyak cara bisa digunakan manusia untuk balas dendam. Seorang samurai mungkin akan langsung berhadapan dengan musuhnya untuk membunuhnya, namun seorang Count of Monte Cristo berdiri di balik layar bak dalang dalam pertunjukan wayang. Ia hanya menyediakan "sarana" untuk menjatuhkan hidup lawannya lewat tangan orang lain yang dekat dengan si korban. Dengan cara ini, si korban tak akan menyangka bahwa penyebab masalah yang datang bertubi-tubi pada dirinya itu digerakkan oleh kebencian orang yang dianggapnya telah mati, bukannya sebuah nasib buruk belaka. Di sini aku teringat pada karakter Norton di buku Tirai (Agatha Christie). Norton tidak membunuh korbannya dengan tangannya sendiri. Ia hanya melihat situasi, suami yang terkungkung dalam dominasi istrinya, misalnya. Lalu dengan kata-kata yang diucapkan dengan tepat pada saat yang tepat, bisa mempengaruhi si suami untuk bertindak membunuh istrinya. Seperti itu jugalah metode Count of Monte Cristo. Ketika ia mengamati keinginan terselubung seorang wanita ambisius untuk mengamankan warisan bagi putranya, ia pun pura-pura berbicara tentang racun. Tak sedetikpun ia mengusulkan untuk menggunakan racun itu. Keputusan akhir untuk menggunakan atau membuang sarana yang ada itu, sepenuhnya terletak di tangan si wanita sendiri.

Maka, boleh dibilang pembalasan dendam Monte Cristo tak akan terwujud andaikata musuh-musuhnya memiliki moral dan kepribadian yang baik. Takkan ada “dosa” yang bisa diungkapkan kepada publik yang akan menjatuhkan kehormatan para calon korban. Ingatlah, bahwa di jaman itu, kehormatan jauh lebih penting daripada nyawa seseorang, terutama bagi mereka yang berada di strata atas pergaulan sosial. Sekali saja sebuah skandal terungkap, maka kematian akan terasa lebih ringan daripada jatuhnya kehormatan. “Dosa-dosa” inilah yang dicari dan dikorek oleh Count of Monte Cristo untuk menyiapkan jebakan bagi calon korbannya. Dengan cara itu, si calon korban tak pernah menyangka bahwa dirinya menjadi sasaran balas dendam, sampai Count of Monte Cristo menyiapkan “panggung” terakhir bagi pembalasan dendamnya….

Menariknya, meski benaknya dipenuhi dengan skenario pembalasan dendam, masih tersedia ruang di hati Count of Monte Cristo untuk bermurah hati bagi orang-orang yang baik dan dikasihinya. Bahkan ia rela berkorban nyawa, bila itu diperlukan untuk membiarkan orang yang dikasihinya tetap hidup. Maka sulitlah bagiku, dan mungkin anda juga, untuk dapat membenci Count of Monte Cristo atau mencapnya sebagai tokoh yang jahat. Bagaimana mungkin aku mengabaikan pesonanya, dengan segala keagungan, kecerdikan, dan ketenangannya? Bagaimana mungkin aku tak tersentuh tiap kali mendengar kata-katanya yang indah namun datang dari lubuk hati terdalamnya? Bagaimana mungkin hatiku tak tertawan dengan kebijaksanaannya dalam melihat kehidupan? Dan bagaimana aku bisa tak menaruh simpati pada ketulusan hatinya untuk menolong orang lain, atau pada begitu dalam luka tertoreh di hatinya yang membuatnya harus membalas dendam?

Sosok Count of Monte Cristo alias Edmond Dantès ini menurutku, yang membuat buku ini akan selalu mendapat tempat di hatiku. Intrik bisa dibuat oleh siapapun. Bahkan plot intrik The Count of Monte Cristo ini sebenarnya dibuat berdasarkan inspirasi sebuah kisah dalam buku karya Jacques Peuchet yang terbit pada tahun 1838. Kisah itu tentang pembuat sepatu bernama Picaud yang akan menikahi seorang wanita kaya, lalu karena kecemburuan tiga orang temannya, difitnah sebagai mata-mata dan dijebloskan ke penjara. Teman sesama napi-nya yang sekarat menganugerahinya harta yang tersembunyi di suatu tempat, lalu Picaud mengambil harta itu setelah bebas, dan menggunakannya untuk balas dendam. Dan itu hanya salah satunya saja. Plot dasar buku ini juga merupakan karya Auguste Maquet, seorang ghost writer yang sering berkolaborasi dengan Dumas. Jadi…plot bisa dibuat oleh siapa saja, namun untuk memberi “jiwa” pada tokoh-tokohnya, tentu saja hanya bisa dilakukan oleh penulis besar, seperti Alexandre Dumas. Hanya di tangannyalah, sosok Count of Monte Cristo menjadi hidup, dan sekaligus menghidupkan buku ini!

Kalau bisa, aku ingin mempersembahkan 5,5 bintang bagi The Count of Monte Cristo, karena tak pelak lagi, buku ini merupakan salah satu novel klasik sepanjang masa yang tetap nikmat dibaca hingga berapa kalipun. Di akhir review ini ijinkan aku untuk mengutip kata-kata Edmond Dantès kepada Mercédès yang terus menggema di hatiku, ketika harus melakukan sebuah pengorbanan. Mungkin anda akan bisa memahami mengapa aku jatuh cinta pada tokoh Count of Monte Cristo ini…
“Kau mengatakan itu tanpa mengetahui besarnya pengorbanan yang akan kubuat untukmu, Mercédès. Andaikata Yang Maha Pencipta, setelah menciptakan sepertiga dunia, telah berhenti di sana untuk menyelamatkan air mata seorang malaikat yang justru telah menangisi kejahatan kita kelak; andaikan bahwa, setelah menyiapkan segala sesuatu dan menyebar benih kehidupan, persis ketika akan mengagumi karyanya, Tuhan telah menghapuskan matahari dan melemparkan dunia ke dalam malam abadi—jika kaubayangkan semua itu, kau masih tidak bisa membayangkan apa yang akan hilang dariku dengan kehilangan hidupku pada saat ini.”

Judul: The Count Of Monte Cristo
Penulis: Alexandre Dumas
Penerjemah: Nin Bakdi Soemanto
Penerbit: Bentang Pustaka
Cetakan: Maret 2011
Tebal: 563 hlm

Tuesday, May 31, 2011

Wuthering Heights

Dalam arti harafiahnya, wuthering adalah cuaca buruk semacam badai dengan angin yang kencang. Namun dalam novel klasik bersetting abad 19 karangan Emily Bronte ini, Wuthering Heights adalah nama sebuah rumah milik keluarga Earnshaw. Meskipun, nama Wuthering memang pas juga disandang oleh rumah itu kalau melihat sejarah para penghuninya yang membuat ketenangan dan kedamaian tak pernah ada di dalam Wuthering Heights.

“Wuthering” [baca: badai] pertama ditiupkan oleh Mr. Earnshaw ke tengah keluarganya yang (saat itu) harmonis, ketika suatu hari ia pulang dari luar negeri. Entah dengan alasan apa, ia memungut seorang bocah keturunan gipsi untuk menjadi anggota keluarga baru Earnshaw. Anak itu diberi nama Heathcliff. Kombinasi pemanjaan dan pemujaan dari ayah angkatnya, ditambah perlakuan buruk semua orang kepadanya, membuat Heathcliff tumbuh sebagai orang yang kasar, pahit, jahat, pendendam dan cenderung brutal. Hindley, putra sulung Mr. Earnshaw teramat sangat membencinya karena ayahnya kini mencurahkan seluruh kasih sayang dan perhatiannya pada Heathcliff kecil, dan mencampakkan Hindley dan adiknya Catherine begitu saja. Di sisi lain, Catherine yang tumbuh sebagai gadis liar justru menyukai dan berteman akrab dengan Heathcliff.

Bertetangga dengan Wuthering Heights, hiduplah Mr. & Mrs. Linton beserta Edgar dan Isabella anak-anak mereka, di rumah yang berjuluk Thrushcross Grange. Edgar muda tertarik pada Catherine Earnshaw, sementara si gadis lebih menyukai Heathcliff yang juga membalas perasaannya. Sementara itu, setelah Hindley meninggalkan rumah untuk kuliah, Mr. Earnshaw pun meninggal dunia. Kematiannya menjadikan Hindley yang telah menikah, pemilik Wuthering Heights yang baru. Dan untuk membalaskan dendam kesumatnya, ia menurunkan derajat Heathcliff menjadi setara pelayan yang hina. Sementara Catherine, yang tadinya sama liar dan tak terurusnya seperti Heathcliff mendadak berubah menjadi lebih anggun dan bermartabat setelah menginap beberapa minggu di rumah keluarga Linton. Hal ini menjadikan ia semakin jauh dari Heathcliff, dan semakin dekat dengan Edgar…

Rasanya setelah membaca sekilas 3 paragraf di atas, novel ini hanyalah menyajikan sebuah drama keluarga biasa yang membosankan dan datar-datar saja. Anda keliru! Novel ini justru cenderung bernuansa “gelap”, tragis dan brutal. Emily Bronte rupanya adalah, entah seorang penulis yang ahli masalah kejiwaan, atau memang memiliki latar belakang kehidupan yang sangat kelam. Karena, persoalan dua keluarga yang biasa ditemui pada jaman itu: jatuh cinta, perkawinan, iri, dendam…dirangkai olehnya sehingga sanggup mempengaruhi emosi dan bahkan kebencian pembaca. Boleh dibilang, amarah anda rasanya akan tersulut tiap kali salah seorang dari tokoh-tokohnya berbicara kasar sambil menebarkan ancaman yang sangat kejam dan sadis.

Dan Emily dengan cerdiknya membungkus kisah itu sebagai cerita bersambung Ellen (Nelly) Dean, seorang pengasuh di Wuthering Heights, yang dikisahkannya atas permintaan Mr. Lockwood, seorang pria yang menyewa rumah Thrushcross Grange dimiliki Mr. Heathcliff. Tokoh Heathcliff memang menjadi benang merah novel sepanjang 488 halaman ini. Setelah tamat membaca buku ini, aku merasa bahwa Heathcliff adalah karakter yang paling kuat di kisah Wuthering Heights ini. Saking kuatnya, Heathcliff dapat mencengkeramkan pengaruhnya (dan meniupkan “wuthering” demi “wuthering”) ke dalam hidup orang-orang di sekitarnya. Seolah, karena ia sepanjang hidupnya harus menderita, maka tak ada orang lain yang boleh merasa bahagia. Berkat Heathcliff pula, jalan hidup semua tokoh lainnya jadi berubah. Dan hebatnya, tak ada yang dapat menolak pengaruh jahat Heathcliff ini, apalagi memeranginya. Mereka semua hanya dapat bertahan.

Lihat saja Catherine yang menderita karena cinta, meski Edgar mencintainya sepenuh hati (yang sangat aku herankan mengingat karakter Catherine yang liar dan cintanya pada Heathcliff). Lihat juga bagaimana Hindley menjadi setengah gila karena dendam, sehingga mempengaruhi pertumbuhan Hareton, anak lelakinya, menjadi bocah yang bodoh dan berperangai kasar. Dan cengkeraman jahat Heathcliff ini tak berhenti setelah ia mengawini Isabella Linton yang ia benci (lebih heran lagi aku pada kebodohan Isabella yang jelas-jelas melihat karakter buruk Heathcliff tetapi tetap mencintai dan menikahinya!). Perangai Heathcliff juga tak berubah setelah ia memiliki anak lelaki yang cengeng. Kenyataan bahwa mereka yang segenerasi dengannya telah tiada, tetap tak menyurutkan obsesi Heathcliff untuk membalaskan dendam pada anak-cucu mereka.

Aku jadi berandai-andai…kalau saja semua perangai jahat Heathcliff itu diganti dengan perangai yang baik, maka karakter Heathcliff akan bisa menjadi panutan. Di kisah ini ia begitu konsisten membenci, berbuat jahat dan memastikan orang lain hidup menderita. Alangkah baiknya kalau seseorang bisa konsisten mengasihi sesamanya, selalu berbuat baik, dan membaktikan seluruh hidup, pikiran dan tenaganya untuk membuat kehidupan orang lain lebih baik! Ah…seandainya saja… Tapi, mungkin kalau Emily Bronte menulis kisah dengan tokoh yang sedemikian baik, bukunya tak akan selaris dan sefenomenal Wuthering Heights ini. Sebagai catatan, di Goodreads aku mengamati bahwa kebanyakan orang memberi bintang 5 (amazing) atau 2 dan bahkan 1 (didn’t like it), jarang orang memberikan bintang 3 atau 4. Yang artinya, kebencian dan kejahatan di satu sisi bisa membuat anda muak setengah mati, namun di sisi lain bisa sangat mempesona. Berada di kubu manakah anda? Oh ya, tentu saja anda harus membacanya dulu sebelum bisa menjawab. Yang jelas aku seharusnya bisa memberikan 1 atau 2 bintang saja, namun aku juga tak bisa mengabaikan kepiawaian Emily Bronte dalam menulis kisah ini. Buktinya? Ia mampu membuatku sangat muak pada Heathcliff dan semua yang ada di Wuthering Heights ini hanya melalui tulisannya. Hebat bukan?....

Judul: Wuthering Heights
Penulis: Emily Bronte
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: April 2011
Tebal: 488 hlm

Wednesday, May 25, 2011

Quo Vadis?


Apakah pengertian anda tentang “kemenangan”? Ketika dua orang samurai bertarung misalnya, pemenangnya pastilah samurai yang masih hidup, dan pecundangnya adalah samurai yang mati karena kalah oleh lawannya. Kisah klasik karya Henryk Sienkiewicz akan menjungkar balikkan pengertian kita tentang kemenangan sekaligus kematian. Quo Vadis adalah sebuah roman yang dibingkai latar belakang sejarah pada tahun 60-an, saat Nero menjadi kaisar kerajaan terbesar yang memimpin dunia : kerajaan Romawi. Adalah seorang bangsawan yang menjadi pejabat militer di kerajaan bernama Marcus Vinicius. Pamannya merupakan salah satu orang terdekat Nero yang sangat mencintai keindahan dan seni bernama Petronius. Segalanya berawal dari keinginan Vinicius untuk mendapatkan seorang gadis yang berasal dari kerajaan kecil bernama Lygia, untuk dijadikan selir di rumahnya. Lygia saat itu tinggal di rumah Aulus, maka Vinicius minta bantuan Petronius untuk merayu Aulus agar mau melepas Lygia.

Lygia adalah seorang gadis saleh yang telah menjadi Kristen. Tahun 60-70 itu memang diperkirakan dalam sejarah sebagai tahun mulai berkembang pesatnya agama Kristen, berkat pengajaran Rasul Petrus dan Paulus, setelah Kristus disalibkan dan bangkit. Roma sendiri pada saat itu sedang dalam kebobrokan moral yang amat parah. Sebagian besar karena kebiasaan Nero yang dipenuhi pesta-pora, kecabulan, dan sadisme menular pada pengikut dan rakyatnya. Petronius seorang pengapresiasi seni, maka sarannya sering didengarkan oleh Nero, terlebih karena gaya bicara Petronius yang “manis” sering melambungkan puji-pujian selangit yang disukai Nero. Karena itu Petronius akhirnya berhasil “memaksa” Lygia keluar dari rumah Aulus. Namun sebelum Vinicius yang berhasrat memiliki Lygia berhasil membawa pulang si gadis, Lygia melarikan diri karena takut kesuciannya ternoda dengan menjadi selir Vinicius. Dalam pengejaran Lygia inilah, kehidupan Vinicius tiba-tiba berbalik 180 derajat.

Ternyata Lygia berlindung pada teman-teman sesama pemeluk Kristen. Di sinilah Vinicius mengalami sendiri hal-hal aneh yang sangat berbeda dengan kebiasaan masyarakat pada saat itu. Salah satunya adalah sikap mengasihi dan mengampuni musuh yang diperlihatkan pelindung Lygia: Ursus dan seorang tabib bernama Glaucus. Alih-alih membunuh atau mencelakainya karena ingin merebut Lygia, mereka justru memperlakukan Vinicius dengan penuh kasih. Namun yang paling mengesan pada Vinicius barangkali adalah kotbah Rasul Petrus pada sebuah pertemuan para orang Kristen. Ini sebuah ajaran baru, dan tiba-tiba hati Vinicius bak dipenuhi oleh gelombang kedamaian. Di hati Vinicius benih baru saja tertabur…

Salah satu bukti nyata perubahan pada diri Vinicius adalah cintanya pada Lygia yang tulus dan murni, menggantikan cinta penuh nafsu yang dulu ia pendam dalam hatinya. Sementara itu kesintingan Nero semakin parah. Nero yang terobsesi menjadi penyair agar disanjung rakyatnya, tiba-tiba muak pada Roma. Keangkuhannya sebagai penguasa dunia mendorongnya untuk membakar habis Roma untuk dibangun kembali sesuai keinginannya. Sejarah memang mencatat kota Roma yang sengaja dibakar atas perintah Nero ini. Dan lihatlah…sang Kaisar naik dan berdiri di atas bukit, bukan untuk menangisi kemalangan rakyatnya, namun justru untuk mengarang sebuah puisi. Sinting!

Rakyat pun mengamuk karena banyak saudara mereka yang meninggal, dan mereka kehilangan rumah serta mata pencarian. Nero yang telah bertindak ceroboh itu pun sadar bahwa kedudukannya akan terancam kalau desas-desus bahwa ia sengaja membakar Roma tersebar luas. Maka ia pun cepat-cepat menimpakan kesalahan kepada orang-orang Kristen, memfitnah bahwa merekalah yang telah membakar kota Roma. Semua orang Kristen lalu ditangkap dan dipenjara, termasuk Lygia, Ursus dan teman-temannya. Berkali-kali Vinicius dibantu oleh Petronius merencanakan pembebasan Lygia dari penjara, namun tanpa hasil. Sementara itu, untuk memuasakan nafsu sadisme dirinya sendiri dan demi menyenangkan hati rakyatnya, Nero merancang pertunjukan penyiksaan orang-orang Kristen di amphitheater. Orang-orang Kristen, laki-laki, perempuan dan bahkan anak-anak digiring ke tengah stadion bak hewan tontonan pada pertunjukan sirkus. Ada yang dibantai oleh para gladiator, ada yang disalibkan, ada yang dibuat obor hidup di taman dengan membakar mereka sementara mereka diikat pada tiang. Ada juga yang dimangsa oleh singa, harimau, serigala dsb yang sengaja dibuat kelaparan selama 2 hari sebelumnya. Herannya, bukannya ngeri dan jijik pada pemusnahan berdarah-darah itu, para penguasa dan rakyat justru bertepuk tangan penuh semangat, seolah pertunjukan itu hanyalah pertunjukan tari-tarian biasa.

Selama hari-hari penyiksaan beradab yang di luar batas kemanusiaan itu, Vinicius tetap berikhtiar untuk dapat membebaskan Lygia. Ia bahkan memohon Rasul Petrus untuk memohonkan keselamatan bagi Lygia dari Tuhan. Anda dapat membayangkan bagaimana perasaan Rasul Petrus pada saat itu. Dengan susah payah ia mengumpulkan satu-persatu jiwa untuk diselamatkan dengan percaya kepada Kristus, namun kini setelah jemaat telah mulai berkembang, saat ia menyangka tugasnya telah usai, mereka semua dimusnahkan dengan cara yang mengenaskan hanya dalam sekejap. Padahal Petrus melakukan semuanya karena amanat dari Kristus sendiri. Bagaimana mungkin kini Ia membiarkan mereka semua musnah? Maka tak heran kalau pada suatu titik tertentu, karena bujukan terus menerus pengikutnya, Rasul Petrus pun setuju untuk melarikan diri dari Roma menuju tempat yang aman. Lalu, dalam perjalanan itu ia tiba-tiba melihat sebuah cahaya menyilaukan menghampirinya di jalan itu. Itu Kristus! Maka bertanyalah Petrus kepadaNya: “Quo Vadis, Domine?” (ke mana Engkau hendak pergi, Tuhan? = where are you going, Lord?). Pertanyaan yang biasa saja mungkin, kalau saja Kristus tidak menjawabnya: “Karena kini kau meninggalkan umatKu, Aku akan pergi ke Roma, untuk disalibkan yang kedua kalinya” (hlm. 513). Sebuah tamparan bagi Petrus yang langsung membalikkan langkahnya kembali ke Roma….

Kita semua seperti Petrus juga. Saat kesulitan datang bertubi-tubi, dan nampaknya tak ada lagi yang dapat kita lakukan, apalagi kalau kengerian tampak mendatangi kita, kita ingin melarikan diri saja. Itu memang kodrat manusia untuk menjauh dari sengsara, mengelakkan diri dari kehancuran. Padahal kematian, apalagi kematian demi Dia, bukanlah kekalahan. Lewat pertanyaan sederhana Quo Vadis?, Petrus mengingatkan kita untuk tetap tegar dalam iman meski semua di sekitar kita telah musnah, kalau itu memang kehendakNya. Bukankah benih itu memang harus jatuh ke tanah dahulu, baru ia akan dapat tumbuh dan berbuah? Kalau memang penderitaan yang menanti kita, kita harus menghadapinya dengan penuh iman, seperti halnya orang-orang Kristen pada saat penyiksaan. Alih-alih menangis ketakutan dan memohon-mohon, pancaran kebahagiaan malah keluar dari sorot mata mereka, karena mereka yakin bahwa kebahagiaan yang sejati, kebahagiaan kekal telah disediakan bagi mereka di RumahNya. Sikap orang-orang Kristen yang pasrah dan berani itulah yang justru membuat rakyat takjub, dan akhirnya semakin banyak yang menjadi Kristen. Kerajaan Romawi akhirnya jatuh (yang kita ketahui juga dalam sejarah), Nero pun akhirnya binasa, namun kerajaan Kristus justru tumbuh makin subur dan bergaung hingga kini. Meski itu harus ditebus dengan kematian banyak orang, termasuk Petrus dan Paulus. Kematian duniawi memang menandakan kekalahan, namun kematian dalam Kristus bukanlah kekalahan, tapi kemenangan. Aku jadi teringat pada cuplikan syair dalam sebuah nyanyian yang setiap tahun dinyanyikan saat Malam Paskah:

“..Ajari pula kami tekun dan tak gentar, bersamaMu berjuang, dan kami pun menang!
Terpuji Kristus Pemenang, lenyaplah maut yang kejam…

Pada akhirnya, benih yang ditaburkan oleh Petrus, Paulus dan semua orang Kristen yang dibantai maupun yang masih hidup akhirnya berbuah, jauh lebih banyak daripada yang disangka-sangka semua orang, seperti halnya benih di dalam hati Vinicius yang akhirnya berbuah iman. Lalu bagaimana dengan cinta Vinicius dan Lygia? Akankah cinta mereka berbuah juga? Dan apakah Kristus mengabulkan doa Vinicius yang telah memberikan hati padaNya, untuk menyelamatkan Lygia? Rasul Petrus telah menyuruhnya tetap memiliki iman dan terus berdoa. Akankah Vinicius melakukannya, atau malah menyerah di tengah jalan? Jawabnya hanya bisa anda temukan di buku ini. Tak banyak dalam hidup kita ada buku yang mampu menggugah hati sekaligus iman kita, buku ini salah satunya!

Judul: Quo Vadis?
Penulis: Henryk Sienkiewicz
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: November 2009
Tebal: 552 hlm

Thursday, May 12, 2011

Di Mana Ada Cinta, Di Sana Tuhan Ada

Judul: Di Mana Ada Cinta, Di Sana Tuhan Ada
Penulis: Leo Tolstoy
Penerbit: Serambi
Penerjemah: Atta Verin
Cetakan: Februari 2011
Tebal: 197 hlm

“Ketika Aku lapar, kamu memberi aku makan. Ketika Aku haus, kamu memberi aku minum. Ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan….” --Mat 25:35

“Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraKu yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” –Mat 25:40

Kedua ayat Kitab Suci itu langsung memenuhi pikiranku saat aku selesai membaca kisah pertama dalam buku kumpulan cerita bertema cinta spiritual karya sastrawan besar Rusia Leo Tolstoy ini. Sebenarnya ayat itu bahkan tidak dicantumkan dalam cerita itu, namun aku langsung menemukan kesamaan dengan esensi ceritanya. Di Mana Ada Cinta, Di Sana Tuhan Ada. Demikianlah judul kisah pertama di buku ini, yang sekaligus menjadi judul buku ini sendiri. Berkisah tentang seorang perajin sepatu bernama Martin, yang merasa kesepian setelah ditinggal mati istri dan putra semata wayangnya. Ia lalu mengalami kehampaan dalam hidupnya, berhenti pergi ke Gereja dan malah mengomel pada Tuhan karena mengambil putranya terlebih dahulu alih-alih mengambil dirinya. Hingga suatu hari ia kedatangan tamu dari biara yang menasihatinya untuk mulai membaca Kitab Suci. Dan kedamaian pun perlahan-lahan mulai bersemi dalam hati Martin tiap kali ia membaca sabda Tuhan.

Hingga suatu hari ia berandai-andai, apakah yang akan dilakukannya bila Tuhan sendiri bertamu ke rumahnya? Lalu dalam tidur, ia memimpikan Tuhan memanggil namanya, dan mengatakan bahwa Ia akan datang keesokan harinya. Maka begitu pagi menjelang, Martin pun mulai menanti-nantikan “Tamu Istimewa”nya itu. Ia yang biasa mengenali warga dengan mengintip sepatu mereka dari ambang jendela, terus menerus menunggu. Banyak orang yang melewati rumahnya, namun tak seorang pun yang berhenti, apalagi singgah. Orang pertama yang berdiri di luar di depan jendelanya adalah seorang pembantu rumah yang kedinginan saat menyekop salju. Merasa iba, Martin mengajak si pembantu rumah itu masuk dan menyuguhkan teh untuk memberinya kehangatan. Dan sambil si pembantu menikmati bercangkir-cangkir teh hangat, Martin juga menghangatkan jiwanya dengan kata-katanya tentang Tuhan yang ia ambil dari kitab suci. Si pembantu pun kembali ke dinginnya salju untuk bekerja, namun kini dengan tubuh maupun hati yang lebih hangat…

Sepanjang hari Martin menunggu, namun tak satupun tamu yang datang, apalagi yang bisa disebut “Istimewa”. Yang ada malah seorang wanita dengan bayi di gendongannya yang tampak kedinginan di balik pakaiannya yang tipis, sedang berdiri di luar rumah Martin. Maka Martin pun mengundang wanita itu masuk untuk menghangatkan diri. Bersama roti dan sup hangat yang dihidangkan Martin, wanita itu bertutur tentang kemalangan dirinya yang ditinggal suaminya perang, dan kini jatuh miskin, bahkan selendang untuk menghangatkan diripun harus ia gadaikan sehingga kini mereka berdua harus kedinginan di jalanan. Martin memberinya uang sekadarnya untuk bisa menebus kembali selendangnya, dan membekalinya mantel usang untuk dapat melindunginya dan si bayi dari kedinginan.

Dan begitulah, ternyata hari itu berlalu tanpa ada yang istimewa sama sekali. Hanya kejadian-kejadian kecil semacam itu yang membuat Martin berinteraksi dengan orang-orang asing yang ditolongnya. Entah itu untuk memberikan kehangatan raga, kehangatan jiwa, maupun untuk belajar mengampuni dan berdamai dengan orang lain. Lalu bagaimana dengan “Tamu Istimewa” yang berjanji akan mengunjunginya? Maka akupun teringat kembali pada ayat Kitab Suci yang aku kutip di awal tulisan ini. Dan kembali aku serasa diingatkan (lagi)… bahwa Tuhan tak perlu dicari-cari, ia hadir dalam diri setiap orang yang membutuhkan kita. Setiap hari. Setiap saat. Hanya tinggal kitalah yang peka untuk menyadarinya, dan bertindak. Sebuah kisah yang sederhana namun sangat berkesan bagiku.

Itu barulah kisah pertama dalam buku kumpulan cerita ini. Dalam 4 cerita selanjutnya pun, anda akan diajak untuk melihat indahnya kasih. Kasih bisa berwujud maaf, seperti terungkap dalam kisah kedua: Tuhan Tahu, Tapi Menunggu, yang bercerita tentang seorang saudagar bernama Aksionov yang ditangkap dan dipenjara dengan tuduhan membunuh teman sepenginapannya saat ia sedang bepergian. Cinta juga menampakkan wajahnya kepada seorang saudagar kaya bernama Vasili, yang pikirannya selalu dipenuhi dengan bisnisnya dan kebanggaan dirinya yang sukses berbisnis. Suatu hari ia harus bepergian di tengah badai salju yang membekukan, bersama dengan pembantunya, Nikita. Di saat itulah Tuhan “memanggilnya” lewat kejadian yang tak masuk akal. Vasili yang berkereta kuda bersama Nikita tak pernah dapat menemukan jalan sehingga harus tersesat di tengah badai salju dan terancam mati membeku. Saat itulah Vasili harus memilih. Apakah ia akan tetap memikirkan dirinya sendiri, atau membiarkan Tuhan mengambil alih? Sekali lagi kita menyadari, bahwa di mana ada cinta, di sana Tuhan ada. Keseluruhan kisahnya bisa anda baca di kisah no. 4: Majikan dan Pelayan.

Kisah penutup atau kisah kelima mungkin yang paling tegas menjelaskan pada kita, bagaimana Tuhan menginginkan kita untuk menjalani hidup ini dan mengisinya. Di kisah Dua Lelaki Tua ini, adalah Efim dan Elisha, dua pria tua yang ingin pergi berziarah ke Yerusalem bersama-sama. Efim adalah pria yang selalu mengkhawatirkan segalanya, dan menginginkan semuanya sempurna. Kalau saja bukan karena desakan Elisha yang lebih santai, Efim mungkin takkan pernah berangkat ziarah karena sibuk dengan ini-itu yang tak habis-habisnya. Sayangnya, walaupun berangkat bersama-sama, kedua lelaki tua ini harus berpisah jalan tanpa sengaja ketika Elisha singgah di sebuah rumah untuk sejenak memuaskan dahaganya dengan meminta segelas air. Di titik ini Leo Tolstoy ingin menunjukkan pada kita ziarah seperti apa yang sebenarnya lebih berkenan bagi Tuhan, dan bahwa ziarah itu sejatinya terjadi di sepanjang hidup kita tanpa terkecuali. Hidup kita ini adalah sebuah peziarahan. Apakah kita ingin mendapat hasil yang baik dari ziarah ini, itu adalah pilihan kita. Yang jelas, Tuhan telah menyediakan “sarana”nya, yakni lewat sesama kita, tinggal kitalah yang mau memilih memanfaatkannya sebaik mungkin, atau melewatkannya…

Buku yang diterbitkan oleh Serambi ini, bagiku merupakan salah satu buku yang isinya sederhana, namun isinya akan selalu meresap hingga ke relung-relung jiwa yang paling dalam. Cara bercerita Leo Tolstoy telah membuat kisah-kisah sederhana itu menjadi hidup berkat kemampuannya merangkai detail-detail yang sangat cermat menjadi sebuah cerita yang mengalir, sehingga kita seolah merasa mengalami atau melihat sendiri semua kejadian di kisah itu. Bravo Leo Tolstoy! Dan untuk itu aku memberikan 5 bintang untuk karya ini!