Wednesday, November 30, 2011

The Adventures of Huckleberry Finn

Bertepatan dengan hari ulang tahun salah satu penulis terbesar di dunia, Mark Twain, hari ini aku akan mengulas salah satu karya beliau--yang menurut Ernest Hemingway merupakan “buku terbaik yang pernah ada”. Dua buku yang fenomenal dari Mark Twain adalah The Adventures of Tom Sawyer dan The Adventures of Huckleberry Finn. Kedua tokoh utama buku ini, Tom Sawyer dan Huck (Huckleberry) Finn merupakan dua sahabat yang tinggal di kota Saint Petersburg, Missouri, yang terletak tepi sungai Mississippi pada abad 19. Perkenalan pertama dengan dua sahabat ini harus anda baca di The Adventures of Tom Sawyer dulu, karena dari sana juga anda akan tahu kisah Huck Finn yang akhirnya dipelihara oleh Janda Douglas dan dijauhkan dari ayahnya yang pemabuk.

Adventures of Huckleberry Finn ini dibuka dengan kisah Huck Finn tentang kehidupannya yang sekarang, di rumah Janda Douglas dan Miss Watson. Bagaimana ia bosan setengah mati dengan ritme hidup yang teratur, pakaian rapi, bersih, sekolah dan semua pelajaran membaca dan kitab suci. Huck merindukan kehidupannya yang dulu, tidur di alam bebas, kotor, tak terawat, namun bebas merdeka.

Pada suatu hari Huck Finn, yang mengira ia takkan pernah bertemu ayahnya lagi, mendapati Pap tengah menunggunya di kamar tidurnya. Pap menagih uang yang didapat Huck dari petualangannya di The Adventures of Tom Sawyer, padahal Huck tak memegang uang itu. Singkat kata, Pap menculik Huck lalu membawanya ke sebuah pondok di tepi sungai. Meski dikurung, akhirnya Huck berhasil melarikan diri, setelah sebelumnya menciptakan sebuah ‘setting’ yang memperlihatkan bahwa dirinya telah mati dibunuh. Dengan begitu, Huck bebas bersampan di sungai, jauh dari Pap dan dari Janda Douglas—yang meski baik hati dan menyayanginya, namun tetap ia rasakan mengungkungnya.

Maka dimulailah petualangan Huck Finn menyusuri sungai Mississippi, menjelajah pulau asing, dan menyamar ke kota-kota di sepanjang tepian sungai. Lalu suatu hari ia berjumpa dengan Jim, budak kulit hitam milik Miss Watson yang tengah melarikan diri karena takut hendak dijual. Berdua, Huck dan Jim mengalami banyak hal-hal seru, menegangkan sekaligus lucu dan kadang juga menerbitkan gelitik haru. Kombinasi antara Huck Finn yang bandel tapi kadang penakut, dengan Jim yang lugu dan sangat percaya takhayul (khas orang kulit hitam) sungguh membuat perpaduan yang ganjil dan menggelikan, namun kita juga dapat merasakan kesetiakawanan, kepercayaan dan pengorbanan di sana.

Jim ketika pertama kali bertemu Huck Finn di hutan dan mengira Huck hantu (karena dia dikabarkan telah mati terbunuh)

Berkali-kali Huck dihadapkan pada dilema. Di satu sisi ia ingin bertindak jujur tentang keberadaan Jim, seorang budak yang melarikan diri dan harusnya ditangkap pihak yang berwenang. Namun di sisi lain, hati nuraninya menyuruhnya untuk tak mengatakan kebenaran tentang Jim. Huck merasa dirinya buruk karena harus berbohong, namun ia tahu ia akan merasa lebih buruk lagi kalau harus mengatakan kebenaran yang akan menyakiti Jim. Dilema yang, kurasa, sering kita alami juga dalam hidup ini. Kebenaran hukum dan kebenaran nurani rupanya memang berada di sisi yang berbeda.

Cerita mengalir dengan nyamannya, berkat gaya penulisan Mark Twain yang natural. Petualangan demi petualangan, bahaya demi bahaya, kesenangan demi kesenangan dilalui Huck dan Jim, hingga suatu saat jalan Huck dan Tom Sawyer pun bersilangan lagi saat Huck, secara tak sengaja menginap di rumah sebuah keluarga yang masih berhubungan saudara dengan keluarga Tom Sawyer. Keluarga ini telah menangkap Jim, maka Huck pun mengajak Tom (yang adalah idolanya) untuk membebaskan Jim.

Di bagian inilah aku banyak diajak tertawa ngakak oleh Twain, berkat karakter tokoh Tom Sawyer yang pengkhayal kelas kakap! Akibat banyak membaca buku tentang petualangan dan detektif, imajinasi Tom sangat luas, dan ia begitu ngotot untuk mempraktekkan semua trik yang pernah dibacanya, dalam kehidupan nyata. Proyek pembebasan Jim yang sebenarnya sepele, dipolesnya menjadi sebuah misi berbahaya yang penuh cerita. Menurut Tom, kalau bisa merancang rencana pembebasan yang penuh gaya, mengapa harus memilih cara yang praktis? Huck yang praktis (dan lebih realistis) tentu saja sering mempertanyakan rencana Tom. Begitu juga Jim yang paling banyak harus menderita gara-gara imajinasi Tom yang berlebihan. Bayangkan, ia harus tidur bersama ular jinak, tikus, dan laba-laba hanya karena menurut Tom, narapidana biasanya memelihara binatang! Hahahaha…anda pasti akan terbahak-bahak membaca bagian ini. Namun, aku juga bisa merasakan karakter kuat Tom sebagai pemimpin. Seberapa pun anehnya ide-ide Tom, Huck dan Jim selalu menurut saja sambil sesekali berkompromi.

Lewat buku ini, kurasa Mark Twain mau mengajak kita menyadari makna kebebasan dari sudut pandang yang berbeda. Bagi Jim, kebebasan adalah menjadi orang merdeka, bukan budak. Bagi Huck, kebebasan adalah bisa melakukan semua yang ia sukai tanpa dibatasi aturan. Selain itu topik perbedaan juga diangkat di sini, lewat sosok Jim, si budak. Novel ini sempat menuai kontroversi karena dianggap rasis, dengan penggunaan kata “negro”. Namun menurutku, rasis adalah soal bagaimana kita memperlakukan orang lain yang berbeda dari kita, bukan melulu sebutan—kecuali kalau sebutan itu sengaja dilontarkan karena kebencian (lagi-lagi, sikap lah yang rasis, bukan sebutannya sendiri kan?).

Satu hal yang masih menggantung bagiku, menyangkut judul buku ini. Manakah yang benar, apakah Adventures of Huckleberry Finn (tanpa ‘The’), atau The Adventures of Huckleberry Finn. Versi aslinya, menurut Wikipedia, tanpa ‘The’. Tapi banyak versi di luar sana yang memakai ‘The’, termasuk versi terjemahan oleh Bentang Pustaka ini. Jadi…manakah yang benar? Atau memang ada dua versi?

Akhirnya, bravo untuk penerbit Bentang Pustaka yang telah membawa karya hebat ini ke ruang baca kita semua, dengan terjemahan yang bagus. Lima bintang untuk Huck Finn. Dan selamat ulang tahun buat opa Mark Twain. Karya-karyamu akan terus menghibur dan menginspirasi kami sepanjang masa!

Judul: The Adventures of Huckleberry Finn
Penulis: Mark Twain
Penerjemah: Ambhita Dhyaningrum
Penyunting: Dhewiberta
Penerbit: Bentang Pustaka
Terbit: Januari 2011
Tebal: 391 hlm

5 comments:

  1. kalau mbak Fanda yang review, buku yang aku gak terlalu suka jadi terlihat sangat menarik :D

    ReplyDelete
  2. setuju sama maya n Okeyzz...aku malah jadi pengenbaca semuanya...luv this blog...

    ReplyDelete
  3. Menurut Tom, kalau bisa merancang rencana pembebasan yang penuh gaya, mengapa harus memilih cara yang praktis?

    Hahahaha.. jadi pengen baca, terutama pas bagian yang inii =))

    ReplyDelete
  4. ini buku yg ngga pernah bosan saya baca sejak kecil sampai rambut sudah banyak beruban skrg

    ReplyDelete

What do you think?