Monday, September 26, 2011

Treasure Island


Jauh sebelum The Pirates of Caribbean mempesona kita di layar lebar, seorang penulis Skotlandia dari abad 19 telah terlebih dahulu mempopulerkan kisah tentang bajak laut dan perburuan harta karun di pulau tropis Karibia. Treasure Island karya Robert Louis Stevenson ini kemungkinan besar menjadi pelopor terciptanya mitos bajak laut berkaki satu dengan burung kakak tua bertengger di pundaknya, peta harta karun dan perahu model sekunar. Kisah ini pertama kali diterbitkan sebagai buku pada tahun 1883.

Entah mengapa, Robert Louis Stevenson memilih membuka kisah ini dengan kedatangan seseorang bernama Biily Bones yang jelas-jelas dari penampilannya menunjukkan bahwa ia seorang bajak laut. Bajak laut itu bertubuh tinggi besar, dan pada suatu hari ia muncul begitu saja ke penginapan Admiral Benbow di Inggris sambil membawa koper hitamnya yang dijaganya bak harta karun.

Setelah berhari-hari tinggal di penginapan itu, Jim Hawkins --remaja pria berusia 17 tahun putra pemilik penginapan itu—makin tertarik saja pada Billy Bones yang tampaknya sedang bersembunyi. Billy menyuruh Jim berhati-hati bila seseorang berkaki satu yang sangat ditakutinya muncul. Namun sebelum itu terjadi, Billy terserang stroke lalu meninggal.

Ketika menggeledah koper Billy untuk mengambil uang untuk mengganti biaya penginapan, Jim menemukan sebuah bungkusan misterius dan langsung mengambilnya. Untunglah, karena tak lama setelahnya beberapa bajak laut menggeledah penginapan itu untuk mendapatkan bungkusan itu!

Bersama Dokter Livesey dan Hakim Trelawney, Jim menemukan bahwa bungkusan misterius itu adalah sebuah peta harta karun! Sebenarnya sebelum meninggal, Billy sempat bercerita kepada Jim tentang bajak laut paling ditakuti bernama Kapten Flint, dengan siapa ia dulu berlayar bersama. Tampaknya (dan sebenarnya inilah awal mula kisah ini yang sebenarnya) Kapten Flint pernah menyembunyikan harta karun jarahannya bersama anak buahnya di kapal Walrus, di sebuah pulau di Karibia. Tak seorang pun anak buahnya yang tahu lokasinya, dan peta yang dibuatnya akhirnya diwariskan ke Billy Bones. Tentu saja, kini para mantan anak buahnya mengejar Billy dan peta itu.

Dengan peta harta karun di tangan, maka dimulailah petualangan mencari harta karun. Berlayar dengan kapal Hispaniola, Dokter Livesey, Hakim Trelawney, Kapten Smolett dan kawan kita Jim pun menuju ke Karibia. Semuanya bersemangat demi petualangan di laut. Bayangkan serunya suasana di kapal dengan sesekali terdengar nyanyian itu…

“Lima belas orang di dalam peti mati---
Yo-ho-ho dan sebotol rum!”

Namun, petualangan yang semula nampak mengasyikkan itu tak lagi asyik ketika Jim secara tak sengaja mendengar percakapan juru masak kapal dan awak lainnya, saat ia duduk-duduk di dalam tong apel. Siapakah si juru masak yang berkaki satu dengan kakaktua bertengger di bahunya itu? Apakah ia bajak laut berkaki satu yang ditakuti Billy Bones? Kalau begitu mengapa ia ikut dalam pelayaran mencari harta karun ini?

Seperti biasanya, di mana ada harta karun, pastilah akan ada pertarungan dan perebutan di situ. Dan cerita pun bergulir makin cepat dan makin seru saat kapal telah berlabuh di pulau harta karun. Kubu manakah yang akan menemukan harta karun itu lebih dulu?

Karakter paling menarik di kisah ini, tentu saja, adalah kawan kita Jim Hawkins. Sebagai anggota termuda petualangan ini, jangan mengira Jim hanya menjadi awak kapal semata. Paling tidak tiga kali Jim menjadi penyelamat kawan-kawannya berkat campuran antara kenakalan, keberanian dan nasib baik. Boleh dibilang ada semacam transformasi karakter di sini, dari Jim si anak pemilik penginapan, menjadi Jim si pemberani.

Di sisi lain ada Long John Silver si kaki satu, tentu saja. Satu kata yang tepat untuk menggambarkannya adalah: cerdik. Jelas Silver tak seperti bajak laut lainnya, dan ia ditakuti oleh kawan-kawannya karena kecerdikannya. Silver adalah karakter yang eksotis, ada dua sisi dalam karakternya yang akan membuat pembaca agak bingung, namun justru semakin membuat kisah ini semakin seru dan tegang.

Ada lagi yang menarik dari kisah Treasure Island ini. Robert Louis Stevenson rupanya menempatkan beberapa unsur sejarah dalam kisah ini. Salah satunya adalah para bajak laut bernama England, Roberts, Israel Hands dan Kapten Kidd yang disebut-sebut di kisah ini. Mereka memang bajak laut-bajak laut yang pernah hidup dalam sejarah.

Treasure Island pasti telah melambungkan banyak imajinasi remaja dari jaman dulu hingga sekarang. Aku sendiri selalu senang membaca kisah-kisah yang ada unsur pelayaran, dengan kapal maupun kapal selam. Dan Robert Louis Stevenson telah dengan piawai membawa imajinasiku jauh ke Karibia. Empat botol rum untuk Treasure Island, dan tentu saja…. Yo-ho-hooo!

Judul: Treasure Island
Penulis: Robert Louis Stevenson
Penerbit: Atria
Terbit: April 2011
Tebal: 354 hlm

Thursday, September 22, 2011

Uncle Tom's Cabin

"Jadi, Andalah wanita mungil yang menulis buku yang memicu perang besar ini?". Pertanyaan itu konon terlontar dari mulut seorang presiden Amerika Serikat, Abraham Lincoln, suatu hari di bulan November 1862 saat bertemu dengan seorang wanita. Aku tak tahu pasti tentang mungil atau tidaknya tubuh si wanita, namun aku percaya bahwa salah satu buku yang ia tulis bisa jadi telah memicu sebuah perang besar. Perang yang dimaksud adalah Perang Saudara yang terjadi di abad 19. Wanita yang dimaksud adalah Harriet Beecher Stowe. Jadi...buku apa yang ditulis Mrs. Stowe ini? Tak lain dan tak bukan sebuah novel yang bertutur tentang perbudakan: Uncle Tom's Cabin.


Perang Saudara & latar belakang perbudakan yang menginspirasi Uncle Tom's Cabin

Sebelum Perang Saudara terjadi, sedikitnya ada tujuh negara bagian di Amerika Utara yang masih melegalkan perbudakan. Saat partai Republik memenangkan pemilihan umum dan menjadikan Abraham Lincoln presiden Amerika Serikat, ketujuh negara bagian itu memisahkan diri dari Amerika Serikat dan membentuk sebuah Konfederasi. Agresi militer akhirnya digerakkan oleh Konfederasi, dan menyerang basis militer Amerika Serikat pada April 1861. Perang Saudara.

Perbudakan di Amerika sendiri diperkirakan terjadi mulai sekitar abad 16 dan berakhir pada abad 19. Pada tahun 1850 sebuah undang-undang disahkan oleh Kongres Amerika Serikat. Undang-Undang itu (Fugitive Slave Law= Undang-Undang Budak Buron) melarang warganya untuk membantu para budak yang melarikan diri dari satu negara bagian ke negara bagian lainnya. Pada saat itulah Mrs. Stowe mulai menulis sebuah kisah tentang penindasan dan kemalangan para budak ini. Konon sebagian kisah di buku ini diinspirasi oleh kisah nyata Josiah Henson, seorang budak berkulit hitam yang berhasil melarikan diri ke utara (Kanada), lalu berhasil menolong pula budak-budak lain yang melarikan diri.


Paman Tom

Paman Tom, seperti para budak yang dipekerjakan di pertanian atau peternakan di Amerika, adalah warga Afrika yang berkulit hitam. Ia menjadi tokoh utama di novel ini berkat karakternya yang tenang, bersahaja, jujur, dan terhormat. Namun yang paling menonjol dari Paman Tom adalah ketaatannya kepada Tuhan. Alkitab menjadi harta miliknya yang paling berharga. Dari sanalah ia belajar untuk berbuat baik pada sesama, berkorban untuk mereka yang lebih lemah, dan akhirnya menjadi sumber pengharapannya sendiri ketika ia berada di puncak kesengsaraan. Ia mampu bertahan karena imannya yang teguh pada kemuliaan kekal yang dijanjikan Tuhan dalam ajaran Kristiani.

Awalnya Paman Tom hidup bersama istri dan anak-anaknya di sebuah pondok sederhana di Kentucky. Keluarga mereka menjadi budak milik Tuan & Nyonya Shelby yang baik dan dermawan. Paman Tom sudah dianggap keluarga sendiri dan hidup dalam kebahagiaan. Sayangnya usaha Tuan Shelby terlilit hutang, sehingga Tuan Shelby terpaksa menjual Paman Tom kepada pedagang budak. Bersama Paman Tom, ada seorang budak anak-anak milik Tuan Shelby yang juga hendak dijual.

Eliza

Menguping pembicaraan Tuan dan Nyonya Shelby bahwa Harry, putra semata wayangnya akan dijual kepada pedagang budak, Eliza pun memutuskan untuk melarikan diri. Tujuannya adalah Kanada, ke mana suaminya, George juga telah berjanji untuk melarikan diri sebelumnya. Dan bila Tuhan menghendaki, maka mungkin mereka sekeluarga akan dapat berkumpul kembali dalam keadaan merdeka.

Sementara Eliza yang malang bersama putranya dikejar-kejar dalam pelariannya, Paman Tom amat beruntung karena dibeli oleh pria muda kaya yang ramah dan baik hati bernama Augustine St. Clare ketika berada di kapal yang menuju ke New Orleans. Paman Tom dan Eva bersahabat dekat, karena keduanya memiliki kesamaan dalam kesalehan mereka. Keduanya, dalam banyak kesempatan, banyak mempengaruhi orang-orang di sekitar mereka untuk percaya kepada kemurahan hati Tuhan dan untuk selalu menaruh harapan akan pertolonganNya. Terutama Paman Tom, yang sering menggunakan ayat-ayat Alkitab untuk mencairkan kebencian temannya yang menolak Tuhan.

"Datanglah kepadaKu, engkau yang letih lesu dan berbeban berat, karena Aku akan menyegarkan kamu." ~hlm 482.

Sangat jarang seorang budak yang benar-benar percaya kepada Tuhan. Karena, meski mereka berkesempatan pergi ke gereja, kesengsaraan dan siksaan yang bertubi-tubi membuat iman mereka luntur. Sungguh sulit untuk mempercayai bahwa Tuhan hadir dalam hidup mereka ketika hanya penderitaan yang mereka alami setiap hari.

"Apakah ada Tuhan yang bisa dipercayai? Saya merasa tidak mungkin ada Tuhan di sini. Kalian orang beragama tidak tahu hal-hal semacam ini bisa terjadi kepada kami. Ada Tuhan untuk kalian, tetapi apakah ada Tuhan untuk kami?" (George Harris) ~hlm. 165.

Dalam novel ini kita akan menyaksikan banyak karakter yang menarik. Ada majikan yang baik hati: Tuan & Nyonya Shelby serta Tuan Augustine St. Clare, ada pula majikan yang kejam: Tuan Legree --yang menjadi majikan Paman Tom setelah St. Clare. Ada yang memandang perbudakan sebagai hal yang biasa, dalam hal ini diwakili oleh Marie (istri St. Clare) yang egois dan sangat dangkal pemikirannya. Orang-orang seperti ini memandang ras Anglo Saxon sebagai yang tertinggi, sementara ras kulit berwarna (apapun) lebih rendah kelasnya.

"Tidak ada peradaban tinggi tanpa perbudakan masal, baik nominal maupun kenyataan. Harus ada kelas yang lebih rendah, yang digunakan untuk kerja keras fisik dan dikekang seperti hewan. Dan harus ada kelas yang lebih tinggi yang mendapatkan kesenangan dan kekayaan untuk memperluas kecerdasan dan kemajuan, serta menjadi penguasa dari yang lebih rendah." (Alfred St. Clare) ~hlm. 318.

Ilustrasi pemukulan majikan terhadap budak yang melakukan kesalahan meski sederhana, di gambar ini tampak seorang budak dipecut seperti hewan

Namun ada pula mereka yang percaya bahwa Tuhan menciptakan manusia sederajat, tak peduli ras atau asal usulnya. Mereka diwakili oleh Augustine St. Clare, Eva putrinya, juga George Shelby (putra Tuan & Nyonya Shelby). Sementara di kubu "tengah" ada Nona Ophelia (sepupu St. Clare) yang pada dasarnya mengasihi sesamanya, namun tetap memiliki prasangka terhadap ras lainnya. Sangat menarik menyimak diskusi panjang-lebar St. Clare dan Nona Ophelia tentang perbudakan di bab 19.

Sebenarnya novel ini tidak melulu bercerita tentang Paman Tom dan Eliza saja, ada kisah tentang budak-budak lain dengan penderitaan maupun kisah hidup masing-masing. Namun dari keduanya akan terangkai banyak kisah yang awalnya seolah berdiri sendiri dan tak berhubungan satu sama lain, namun di bagian akhir akan terlihat benang merah yang menghubungkan mereka semua.

Pada akhirnya, novel setebal 610 hlm ini telah mengingatkan aku akan banyak hal. Pertama, bahwa kesombongan manusia dapat membawa akibat yang sangat mengerikan, yaitu ketika manusia memperlakukan sesamanya bagaikan hewan atau benda. Sebelum manusia dapat sepenuhnya menerima konsep bahwa mereka diciptakan sederajat meskipun berbeda, penindasan di atas bumi ini takkan berhenti. Meski mungkin praktek memperdagangkan/membeli budak di pasar dan membuatnya menjadi hak milik sudah lama dihapuskan, namun penindasan sebenarnya masih ada di dunia ini dalam bentuk-bentuk yang sedikit lebih beradab.

Kedua, hanya kebaikan dan kelembutan cinta kasihlah yang dapat mengeluarkan potensi terbaik manusia. Kalau kita ingin mendapatkan respek, kasih dan kesetiaan dari orang lain, maka satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah: melakukan hal yang sama terlebih dahulu kepada orang lain. Dalam novel ini terlihat, bahwa seorang budak menjadi tidak jujur karena selalu diperlakukan jahat oleh majikan. Karena itu, si majikan akan menjadi lebih jahat lagi, dan terus saja lingkaran setan itu berulang.

Ketiga dan yang terpenting, dalam setiap kesusahan dan penderitaan, ingatlah selalu kepadaNya. Karena hanya Dialah yang takkan pernah ingkar janji. Bila kita mengalami kesengsaraan karena melakukan hal yang benar, maka kebahagiaan di rumahNya kelak pasti menjadi milik kita.

Empat bintang kuberikan untuk Uncle Tom’s Cabin, dan satu bintang khusus untuk penerjemahan yang bagus bagi novel ini. Kalau anda sempat mengintip versi asli novel ini dalam bahasa Inggris (lewat google books), anda akan menemukan logat khas orang kulit hitam bertebaran dalam novel ini terutama saat para budak berbicara. Aku menyadari betapa sulitnya menerjemahkan bagian ini tanpa menghilangkan cirri khas yang membedakan logat para budak dengan logat kalangan atas yang lebih berpendidikan. Memang bahasa yang dipakai jadi aneh, mirip bahasa Indonesia ala luar pulau, namun tetap aku salut pada usaha untuk menghadirkan citarasa yang paling mendekati novel aslinya dalam penerjemahannya.

Menutup review ini, ijinkan aku meminjam lagu yang dinyanyikan Paman Tom, yang membuatku makin merasakan betapa hangatnya kasih Tuhan kepada manusia...

"Bumi akan meleleh seperti salju,
Matahari akan berhenti bercahaya;
Tapi Tuhan, yang di sini memanggilku,
Akan jadi milikku selamanya.

"Dan ketika kehidupan fana ini berakhir,
Dan badan serta indra akan tiada,
Aku akan memiliki di dalam tabir,
Kehidupan penuh damai dan sukacita.

"Saat kita sepuluh ribu tahun di sana,
Kemilau berpendar bagai sang mentari,
Kita tetap melantunkan puji syukur kepadaNya,
Seperti saat kita memulai setiap hari."


Judul: Uncle Tom's Cabin
Penulis: Harriet Beecher Stowe
Penerjemah: Istiani Prajoko
Penerbit: Serambi
Terbit: Juli 2011
Tebal: 610 hlm

NB: Tolong beritahu aku kalau ada dari anda yang berhasil menamatkan buku ini tanpa meneteskan air mata barang sekali saja!

Friday, September 9, 2011

Eight Cousins

Kesedihan tak dapat kita panggul sendirian. Kadang kala kita membutuhkan orang lain di luar diri kita untuk membantu menyembuhkannya. Itulah pelajaran yang kudapat dari membaca buku Eight Cousins karya Lousia May Alcott ini. Kisah ini ditulis pada akhir abad 19, dan ditujukan bagi para para gadis remaja yang segera akan memasuki masa dewasa. Louisa meletakkan dasar pembentukan moral bagi seorang wanita pada jaman itu lewat kisah ringan dan ceria ini.

Rose baru berusia tiga belas tahun ketika ayahnya, satu-satunya orang tua yang ia miliki di dunia, pergi meninggalkannya dalam kematian. Sebelum meninggal, ayahnya memberikan hak perwalian bagi Rose kepada saudaranya, seorang pria berpembawaan riang, seorang dokter yang suka berlayar. Rose memanggilnya Paman Alec.

Sambil menunggu Paman Alec pulang dari pelayarannya, Rose dititipkan ke Aunt-Hill. Yah...dari namanya, anda mungkin bisa menebak bahwa Aunt-Hill adalah tempat tinggal para bibi. Terdengar membosankan bukan? Satu bibi sudah cukup, tapi bagaimana dengan enam bibi? Dan para Mrs. Campbell ini, para bibi Rose, tinggal di suatu kompleks yang berdekatan satu sama lain.

Para bibi ini masing-masing mencoba membuat Rose yang berkabung menjadi lebih ceria. Segala cara mereka lakukan. Mendatangkan seorang gadis kecil untuk menemaninya salah satunya, sayang Ariadne Bliss ternyata gadis kecil yang menyebalkan. Lemari boneka dan hal-hal yang harusnya bisa menghibur anak perempuan telah dicoba oleh Bibi Plenty dan Bibi Peace, namun Rose tetap berdiam diri dengan wajah pucat dan tubuh kurus berpenyakitan. Para bibi sudah hampir putus asa....

Para bibi yang hampir putus asa itu menyiapkan sebuah manuver terakhir bagi keponakan malang mereka. Kejutan itu hadir suatu sore dengan cara yang heboh. Tujuh anak laki-laki berbaris di ruang duduk, semuanya berambut kuning dan berpakaian ala Skotlandia. Itulah "Klan". Tak butuh waktu lama bagi Rose untuk mengetahui bahwa mereka adalah sepupu-sepupunya, dan bahwa mereka anak-anak laki-laki yang sangat ribut! Padahal...ssttt...selama ini Rose sangat membenci anak laki-laki dengan semua kelakuan dan kegiatannya.

Tapi "Klan" bukanlah anak laki-laki sembarangan, mereka semua hadir dengan keunikan masing-masing sehingga ujung bibir Rose sudah mulai membentuk senyuman dalam pertemuan pertama ke delapan sepupu ini. Bagaimana tidak, kalau Archie si kepala klan yang tertua dan selalu bersikap terhormat, Charlie "The Prince" yang flamboyan, Mac si kutu buku, Steve "Dandy" yang pesolek, Will & Geordie si bandel, dan si kecil Jamie, semua berkolaborasi untuk menyenangkan nona kecil kita?

Namun kebahagiaan sesungguhnya mendatangi Rose dalam sosok Paman Alec. Ia orang yang ramah, baik hati, penuh perhatian pada "gadis kecil"nya. Paman Alec dulu mencintai ibu Rose, namun ternyata ibu Rose memilih saudaranya. Untungnya Alec tak mendendam, dan kini ia mencurahkan waktu dan pikirannya untuk sebuah proyek besar. Proyek itu adalah mengambil alih pengurusan Rose dari para bibi ke tangannya sendiri, dan membuat Rose menjadi lebih sehat, ceria dan normal. Proyek itu berlangsung selama setahun.

Selama setahun itu Rose perlahan tumbuh menjadi gadis yang ceria dan sehat, berwawasan luas serta dipersiapkan menjadi seorang wanita yang "baik", meski tetap keceriaan remajanya tetap muncul. Paman Alec memberikan contoh yang baik bagi remaja putri. Alih-alih mengenakan gaun berat berkorset plus high heels, Paman Alec memilihkan pakaian yang nyaman dan sederhana bagi Rose, yang justru menampilkan kecantikan seorang gadis remaja. Kegiatan-kegiatan di luar rumah membuat Rose sehat dan segar. Sementara pelajaran-pelajaran keilmuan dari Paman Alec serta ketrampilan mengurus rumah tangga dari para bibi, mempersiapkan Rose menjadi ibu rumah tangga yang tetap berwawasan.

Banyak petualangan seru dan asyik dijalani Rose bersama Paman Alec dan tujuh sepupunya. Namun di sela kegembiraan itu, Rose juga sempat melakukan "pengorbanan". Ia mengorbankan saat-saat indah liburan di pulau demi Phebe, gadis pelayan yatim piatu yang ia angkat menjadi saudaranya. Ia juga meluangkan waktu untuk menemani Mac saat anak laki-laki itu menderita sakit mata. Dan saat ada pertengkaran di antara sepupunya, Rose-lah yang mendamaikan mereka.

Akhirnya, setelah masa setahun itu selesai, Rose harus memutuskan di mana dan bersama siapa ia akan tinggal setelah itu. Siapa yang paling dicintainya dan paling membahagiakan hidupnya?

Eight Cousins ini jelas buku yang membawa kegembiraan bagi pembacanya, tapi di dalamnya juga tersisip pelajaran moral yang baik bagi remaja pada umumnya, dan remaja putri khususnya. Persahabatan, pengorbanan, kepercayaan, dan baaanyaaak keceriaan akan anda temukan di sini. Tiga bintang untuk kedelapan sepupu ini!

Judul: Eight Cousins
Penulis: Louisa May Alcott
Penerbit: Orange Books (Mizan group)
Terbit: Februari 2011
Tebal: 375 hlm

Wednesday, September 7, 2011

The Iliad of Homer

Homer dikenal sebagai seorang penyair epik terbesar di dunia barat yang berasal dari Yunani. Dua karya terbesarnya, The Iliad dan The Odyssey berkisah tentang sebuah perang besar yang terjadi antara Yunani dan Troy, yang dikenal dengan Perang Troy. The Iliad, yang ditulis pertama kali oleh Homer, menuturkan tahun-tahun akhir Perang Troy yang dalam sejarah diperkirakan terjadi selama 10 tahun, di sekitar tahun 1200 SM. Aslinya, The Illiad berbentuk puisi, namun Penerbit Oncor Semesta Ilmu telah menerjemahkannya bagi kita dalam bentuk sebuah cerita, sehingga lebih mudah untuk dicerna.

Paris atau Alexandrus adalah Pangeran Troy yang telah menyulut Perang Troy. Dalam kunjungannya ke Sparta, ia menculik Helen, ratu Sparta yang saat itu adalah wanita tercantik di dunia. Helen adalah istri Raja Menelaus, adik raja Mycenae: Agamemnon. Agamemnon juga merupakan Raja Agung Achaean (yang terdiri dari banyak kerajaan-kerajaan kecil) atau yang disebut Yunani. Menelaus yang murka meminta Agamemnon adiknya untuk mengangkat senjata dan memerangi bangsa Troy. Kalau masih bingung, anda perlu membaca terlebih dahulu buku tentang awal mula Perang Troy.

The Iliad dibuka dengan perseteruan Agamemnon dengan pahlawan yang menjadi ujung tombak seluruh pasukan Achaean, yakni Achilles dari Phthia. Penyebabnya adalah wabah mematikan yang telah didatangkan oleh dewa Apollo kepada pasukan Achaean. Agamemnon rupanya telah menawan seorang gadis menjadi istrinya. Gadis ini putri seorang pendeta bernama Chryses. Karena Agamemnon tak mau membebaskan putrinya, Chryses memohon bantuan pada Apollo.

Agamemnon yang keras kepala akhirnya setuju untuk memulangkan putri Chryses, namun meminta hadiah pengganti. Hadiah yang ia minta adalah Briseis, gadis milik Achilles. Achilles meradang karena penghinaan Agamemnon dan akhirnya menarik diri dari medan perang. Tak cuma itu, Achilles minta bantuan ibunya, Thetis untuk memberi Troy kemenangan. Dengan itu ia berharap ketika panik karena kalah, Agamemnon akan memohon-mohon dirinya untuk ikut perang dan Briseis akan dikembalikan kepadanya. Jadi Thetis menghadap pemimpin para dewa yakni Zeus di istananya di Olimpus, dan Zeus pun berjanji untuk mengabulkan permohonan Thetis.

Dari sini jelas terlihat bagaimana Homer memasukkan peran dewa-dewi yang banyak berpengaruh dan terlibat dalam kehidupan manusia. Dalam perang Troy ini saja Zeus, Hera (istri Zeus), Athena (putri Zeus), Aphrodite, Poseidon, Ares dan Apollo tercatat sering membantu kedua belah pihak yang berperang. Kadang-kadang bahkan terkesan manusia itu layaknya alat bagi para dewa. Kita jadi dibuat berpikir, sebenarnya yang berperang ini dewa melawan dewa atau manusia melawan manusia?

Hampir di sepanjang buku ini dikisahkan peperangan yang seimbang antara Achaean dan Troy. Berkali-kali Achaean memukul mundur Troy, dan berkali-kali pula Troy balas menyerang setelah mendapat suntikan semangat dari Hector, putra tertua Raja Troy, Priam, yang merupakan pemimpin dari pihak Troy. Begitu juga sebaliknya, ketika pasukan Achaean melemah ketika diserang pasukan Troy, Diomedes yang paling berani di antara pahlawan Achaean akan maju dan membunuh banyak ksatria di pihak Troy untuk mengobarkan kembali semangat pasukannya.

Dan di sepanjang waktu itu para dewa turut menyaksikan sekaligus mengontrol jalannya peperangan. Tak heran bahwa Perang Troy dapat berlangsung hingga sepuluh tahun, karena begitu salah satu pihak kalah, dewa akan melindungi mereka. Aphrodite, Apollo dan Zeus adalah dewa-dewi yang membantu Troy, sementara di pihak Achaean ada Hera, Athena dan Poseidon. Keberadaan para dewa yang membantu manusia ini dipercaya sebagai hiasan yang dipakai Homer untuk mempercantik kisah epik ini.

Pada satu titik, Hector mampu mengobrak-abrik pertahanan Achaean sehingga Agamemnon yang terdesak merayu Achilles untuk membantu mereka berperang. Achilles yang masih sakit hati tetap menolak, bahkan setelah Agamemnon menjanjikannya berbagai hadiah. Pasukan Troy kemudian mematahkan pertahanan Achaean dengan memasuki tembok tinggi dan parit yang dibangun Achaean untuk melindungi kapal-kapal berisi harta rampasan mereka. Hector lalu memerintahkan pasukannya untuk membakar kapal musuh.

Di tengah kepanikan itu, Patroclus --seorang sahabat karib yang paling dicintai Achilles-- tergerak untuk maju perang. Ia mengenakan baju perang Achilles dengan tujuan untuk mengelabui musuh. Majunya Patroclus memang telah direstui Zeus, karena hanya dengan kematian Patroclus di medan perang, Achilles akan sedih dan ingin membalas dendam. Dengan demikian, ia pun akan berdamai dengan Agamemnon dan maju berperang untuk merebut kemenangan bagi Achaea. Dan itulah yang terjadi. Patroclus akhirnya terbunuh di tangan Hector, maka kini Achilles mengincar Hector untuk membalaskan dendam!

ilustrasi ketika Achilles bertarung dengan Hector


Berhasilkah Achilles membunuh Hector? Dan apakah para dewa yang membela Troy akan melindungi Hector? Menarik untuk membaca bagian-bagian akhir buku ini yang menyisakan adegan seru yang heroik sekaligus mengharukan. Perang Troy merupakan salah satu perang terbesar yang pernah terjadi dalam sejarah, dan Homer telah berhasil merangkumnya agar kita boleh menikmati kisah terhebat tentang keberanian, cinta, ambisi dan kepahlawanan sepanjang masa ini. Empat bintang untuk The Iliad!


Judul: The Iliad of Homer
Penulis: Homer
Sumber: The Iliad of Homer (The Project Gutenberg Etext of The Iliad, translated by Samuel Butler)
Penerbit: Oncor Semesta Ilmu
Terbit: 2011
Tebal: 248 hlm

Friday, July 22, 2011

Kehancuran Troy (The Aeneid)

Perang Troya mungkin merupakan salah satu perang paling terkenal yang pernah ada. Setidaknya ada sangat banyak kisah dan buku yang mengangkat perang ini. Troya adalah perang antara Yunani (kaum Achaean) dan kota Troy, gara-gara Pangeran Paris dari Troy merebut Helen, istri Raja Sparta: Menelaus, yang adalah wanita tercantik sejagat pada waktu itu. Seperti yang anda mungkin pernah baca atau tonton filmnya, pasukan Yunani akhirnya bisa mengalahkan Troy berkat siasat “kuda Troya”, yaitu dengan menyusupkan pasukan Yunani ke dalam patung kuda dari kayu sehingga berhasil masuk ke dalam kota Troy. Nah, kisah Kehancuran Troy ini bermula dari malam yang bersejarah itu.

Pada malam itu Raja Troy yang bernama Priam pergi ke pantai untuk melihat apakah isu bahwa pasukan Yunani sudah meninggalkan Troy dengan kapal-kapal mereka adalah benar. Alangkah terkejutnya ia ketika mendapati sebuah patung raksasa berwujud kuda terbuat dari kayu berdiri sendirian di gelapnya malam, sementara pasukan Yunani telah menghilang. Timbul perdebatan apakah sebaiknya patung itu dibawa masuk ke dalam kota atau dihancurkan saja. Tiba-tiba datang orang asing bernama Sinon yang mengaku orang Yunani, tapi telah difitnah sehingga kini berharap boleh bergabung dengan Troy. Ia bercerita bahwa pendeta Yunani meramalkan bahwa pasukan Yunani harus pulang dulu ke negaranya untuk kemudian kembali lagi dan menyerang Troy. Sinon menyarankan rakyat Troy membawa masuk patung kuda itu sebagai persembahan kepada Dewi Athena (yang telah membantu Yunani untuk mengalahkan Troy).

Patung itu akhirnya dibawa masuk ke kota. Ketika kota Troy tengah terlelap, Sinon diam-diam membuka patung itu dan dari dalamnya keluarlah komandan pasukan Yunani yang selama ini bersembunyi di situ. Mereka bersama seluruh pasukan lainnya yang selama itu bersembunyi di pulau kecil dekat situ lalu menyerang dan membakar kota Troy. Malam itu Aeneas --pemimpin tertinggi pasukan Troy setelah kematian Hector-- didatangi oleh Hector dalam mimpi yang menyuruh Aeneas melarikan diri karena kelak Aeneas lah yang akan mendirikan negara baru bagi sisa rakyat Troy. Malam itu juga Raja Priam tewas dibunuh oleh Pyrrhus (putra Achilles), dan seluruh kota Troy terbakar. Singkat kata, bersama ayah dan putranya (Ascianus) serta orang-orang Troy yang selamat, Aeneas yang dilindungi ibunya --Dewi Aphrodite-- segera bertolak dengan kapal ke lautan.

Lukisan yang menggambarkan Aeneas membopong ayahnya, disertai istri dan putranya menyelamatkan diri dari kebakaran (karya Federico Barocci, 1598, sumber: Wikipedia)


Perjalanan ke Itali

Perjalanan menuju negeri baru itu dilalui dengan penuh perjuangan dan jungkir balik oleh Aeneas dan rombongannya. Mereka menjelajahi daratan Eropa, Asia hingga Afrika, dan sempat singgah di beberapa negara. Sudah menjadi kehendak dewata bahwa bangsa Troy akan membangun negeri baru di Hesperia, atau yang disebut Itali. Kelak Roma ditakdirkan menjadi salah satu bangsa besar dan terhormat di dunia. Namun sebelum itu, kaum Troy harus melewati perjalanan yang jauh dan memutar karena mereka tak dapat singgah di Yunani. Walau begitu mereka tak perlu takut karena Apollo dan para dewa lainnya akan membantu mereka. Ketika singgah di kota Carthage, Aeneas sempat terlena dan melupakan sejenak misinya mencari negeri baru, berkat keramahan Ratu Carthage yang bernama Dido. Dan rupanya (meski tidak ditunjukkan dengan jelas di buku ini), Dido lalu jatuh cinta pada Aeneas. Maka Zeus pun mengutus Hermes untuk mengingatkan Aeneas untuk segera melanjutkan perjalanan. Aeneas pun terpaksa meninggalkan Carthage secara diam-diam agar Dido tidak murka.

Ketika mereka hampir mencapai Itali, rombongan Troy singgah agak lama di negeri Sicily untuk memakamkan Anchises yang meninggal dalam perjalanan. Saat itu Dewi Hera yang benci pada Aeneas berusaha menggagalkan niat Troy untuk pergi ke Itali. Hera adalah istri Zeus, dan dalam mitologi Yunani para dewa/dewi biasa bermusuhan dan bersekutu, persis seperti manusia. Mereka pun bersekutu/bermusuhan dengan manusia, dan sering campur tangan dalam hidup manusia. Namun karena perjalanan Aeneas itu sudah menjadi kehendak dewata, maka akhirnya mereka bisa lolos dari bahaya dan melanjutkan perjalanan hingga mendaratlah mereka di pulau Latium atau Itali.


Perang Latin vs Troy

Raja Latium (atau Latin) bernama Latinus. Ia memiliki putri bernama Lavinia, yang menurut ramalan akan dipersunting seorang asing. Maka ketika Aeneas dan rakyat Troy mendarat di pulaunya, Raja Latinus yakin bahwa Aeneas adalah calon suami Lavinia. Di lain pihak, istrinya ingin menikahkan Lavinia dengan Pangeran Turnus yang gagah dan tampan. Di sini lagi-lagi dewi Hera melihat peluang untuk menghancurkan Aeneas. Ia memanggil Alecto dari neraka untuk menyalakan api kemarahan di hati rakyat Latin dan menyulut kecemburuan di hati Turnus sehingga akhirnya terjadilah sebuah perang. Kalangan dewata sekali lagi heboh. Aeneas diperingatkan dalam mimpi untuk bersekutu dengan Raja Evander dan pasukan Tuscan yang juga memusuhi Latin. Sementara Aphrodite minta tolong Dewa Api untuk membuatkan perangkat perang bagi putranya, dan dewa-dewa lainnya turun tangan membantu bangsa Troy. Bagian ke dua inilah yang kurasa lumayan “menggigit” karena di sana kita bisa melihat keberanian dan karakter Aeneas.

Seperti yang kita semua ketahui, kerajaan Romawi kelak memang menjadi kerajaan besar yang menguasai dunia. Aeneas merupakan leluhur bangsa itu, karena dari keturunannya lah raja-raja Romawi berasal.

*****

Kehancuran Troy ini adalah versi terjemahan yang diambil dari The Aeneid karya Virgil. Virgil adalah salah satu penyair epic Roma terbesar. Aslinya, The Aeneid memang merupakan puisi yang dirangkai untuk mengisahkan perjalanan bangsa Troy menuju negeri baru dan perang di tanah baru itu untuk akhirnya mendirikan kerajaan Romawi. Kehancuran Troy ini adalah versi ringkas yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Anda tak akan menemukan secuil pun puisi di sini, karena sudah dijadikan semacam kisah epic. Secara keseluruhan, sangat terasa bahwa buku ini adalah versi ringkas, sehingga kita jadi kurang merasakan ikatan emosi dengan kisah maupun tokoh-tokohnya. Mungkinkah karena aslinya adalah puisi? Entahlah...

Kisah bangsa Troy ini memang memiliki banyak aspek, mungkin akan lebih baik kalau kita menyempatkan membaca dari awal kisah perang Troy, yaitu di buku The Iliad dan The Odyssey karya Homer, sebelum melanjutkan ke Kehancuran Troy ini. Bagaimanapun, penerbit Oncor Semesta Ilmu patut diacungi jempol atas inisiatifnya untuk menyuguhkan versi sederhana yang gampang dimengerti mengenai salah satu mitologi Yunani ini. Satu bintang untuk Aeneas, satu untuk Virgil, dan satu lagi untuk Oncor!

Judul: Kehancuran Troy
Penulis: Virgil
Sumber: The Aeneid, by Virgil, terbitan Macmillan th. 1936
Penerbit: Oncor Semesta Ilmu
Terbit: Juli 2011
Tebal: 134 hlm

Monday, July 11, 2011

The Prince And The Pauper

Inggris banget! Itulah kesanku selama membaca buku ini. Dan memang The Prince and The Pauper ditulis oleh Mark Twain berlatar belakangkan peristiwa yang terjadi dalam sejarah Inggris di akhir abad 16, ketika Raja Henry VIII memerintah. Dalam masa ini hiduplah keluarga Canty dalam gelimang kemiskinan. Tinggak di gubuk nan reyot dan kotor, pekerjaan mereka adalah mengemis dan mencuri. Terlepas dari moral ayahnya yang buruk, Tom kecil tumbuh sebagai remaja yang terpelajar berkat didikan seorang pendeta. Banyak buku yang berkisah tentang kerajaan dan kehidupan bangsawan yang dilahap Tom. Dan semua kisah itu menjelma menjadi mimpi-mimpi indah yang menemani tidurnya di malam hari, menjadikannya penawar sengsara setelah seharian dipaksa mengemis, lalu disiksa dan dibentak-bentak oleh ayah dan neneknya kalau ia tak membawa hasil memuaskan dari mengemis. Dan akhirnya bukan hanya mimpi, kerajaan dan kebangsawanan pun menjadi obsesi Tom. Ia mulai berbicara layaknya bangsawan, dan bermain sebagai raja bersama saudara-saudaranya. Hingga suatu hari ia tiba-tiba ingin melihat seorang Pangeran sungguhan di istana kerajaan sungguhan.

Harapannya terwujud, karena tepat saat itu Pangeran Wales yang bernama Edward, putra Raja Henry VIII tengah berada di luar istana. Sang Pangeran melihat Tom tepat ketika para penjaga pintu gerbang memukuli anak gelandangan berpakaian lusuh itu. Pangeran menghentikan penyiksaan itu sambil memarahi si penjaga, lalu segera mengundang Tom ke istananya. Layaknya dua remaja lelaki seusia, mereka dengan cepat menjadi akrab. Tom terpesona pada istana dan semua di dalamnya, yang hingga saat itu hanya ia lihat melalui buku. Sedang Edward, yang sejak kecil terkungkung di istana, terpesona mendengar cerita Tom tentang kehidupan bocah seusia mereka di luar sana. Bermain bersama teman-teman, berenang di sungai, dan semua kenakalan dan kebebasannya. Dan tiba-tiba muncul ide iseng untuk saling bertukar pakaian. Pangeran yang mengenakan pakaian lusuh Tom, dan Tom yang mengenakan pakaian gemerlap Edward, sama-sama terpana saat memandang cermin. Betapa miripnya mereka berdua!

ilustrasi Tom & Edward di istana. Ini sesaat sebelum atau sesudah mereka berganti pakaian? Hayoo..tebak!


Tanpa sempat berganti pakaian kembali, Edward keluar ke halaman istana untuk menegur penjaga yang tadi memukuli sahabat barunya. Bisa anda tebak, si penjaga menganggap Edward sebagai anak gelandangan yang menyebabkannya dimarahi oleh Pangeran. Meski Edward berkeras bahwa ia adalah sang Pangeran sendiri, namun tak ada yang mempercayainya. Ia malah semakin ditertawakan karena bersikap sok memerintah. Sedang Tom, yang menanti kedatangan kembali sahabatnya agar mereka dapat bertukar pakaian kembali, akhirnya menelan kekecewaan karena Edward tak kunjung datang. Malahan ia dikira sang Pangeran sendiri, terlepas dari pengakuannya yang jujur, yang malah dikira sebagai gejala kegilaan sementara. Bahkan Sang Raja pun mengira Tom adalah putranya sendiri yang sedang sakit! Hal yang sama terjadi pada Edward. Ketika ayah Tom menemukannya, ia begitu yakin si bocah lusuh adalah anaknya yang nakal yang lagi-lagi tak membawa hasil mengemis, lalu menghadiahinya pukulan.

Begitulah nasib The Prince and The Pauper kita ini. Cerita jujur mereka malah dianggap lelucon dan bahkan "penyakit pada otak" oleh mereka yang mendengarnya. Baik teman-teman maupun orang terdekat mereka. Banyak cerita lucu saat Tom menjadi "pangeran". Di bagian ini kentara sekali bagaimana Mark Twain mengajak kita untuk menertawakan keabsurdan monarki pada saat itu. Saat rakyatnya banyak yang miskin dan tertindas di bawah pemerintahan tirani Henry VIII, kemewahan yang menggelikan dan sungguh tak perlu terus saja dipraktekkan di istana. Contohnya adalah upacara memakaikan pakaian bagi "Pangeran" Tom di pagi hari. Untuk menyerahkan sepotong kaus hingga dipakaikan pada Tom, butuh 13 orang petugas yang mengangsurkan pakaian itu ke lainnya, terus hingga ke petugas yang memakaikannya pada Tom. Dan ke 13 petugas itu punya jabatan yang mentereng: First Lord of Bedchamber, Second Gentleman of The Bedchamber, Chief Equerry in Waiting, dll. Lalu bagaimana reaksi Tom saat melihat "prosesi kaus" ini? ~"Teman kecil kita terlihat bingung. Itu mengingatkannya pada acara oper-mengoper ember di festival." (hal. 151). Ketika salah satu kaus kaki yang akan dipakaikan pada kaki Tom ditemukan hilang labelnya, kaus kaki itu pun dikembalikan melewati prosesi yang sama!

Tom yang terbiasa serba bebas dalam kehidupan miskinnya, awalnya tak terbiasa dengan pengaturan yang kaku dan serba seremonial dalam segala hal, termasuk ketika bersantap. Yang paling lucu adalah ketika seorang bangsawan mengangsurkan sebuah mangkuk berisi air mawar untuk mencuci tangan. Tom yang bingung, akhirnya malah meminum air itu. Waktu mengembalikan mangkuk pada si bangsawan, yang pasti terkaget-kaget, Tom berkata: "Tidak....aku tidak menyukainya, Tuan. Memang rasanya cukup enak, tapi terlalu keras untukku." (hal. 73). Dan akupun sukses tertawa ngakak waktu membaca bagian ini. Lihat saja ekspresi si bangsawan dalam ilustrasi ini:

ilustrasi saat Tom minum air untuk cuci tangannya..


Sebaliknya dari kisah Tom yang lucu, cerita sengsara tak henti-hentinya menghinggapi Edward saat menjadi anak gelandangan. Kisah Edward jelas lebih menarik karena ia berulang kali bernasib malang, diselamatkan, kembali jatuh dalam kemalangan, begitu terus. Salah satu penyelamatnya adalah seorang pria bernama Miles Hendon yang dulunya prajurit Raja, namun telah ditipu oleh saudaranya yang jahat: Arthur. Dalam semua kemalangannya, Edward belajar banyak tentang kehidupan dan penderitaan yang dialami rakyatnya. Ia pun tak lupa menjanjikan ganjaran atas kebaikan mereka yang pernah menolongnya sekecil apapun.

Begitulah kedua teman kita ini menjalani hidup yang fantastis di dunia yang berbeda, hingga suatu hari sang Raja Henry VIII mangkat. Dan sang Pangeran Wales pun harus dinobatkan menjadi raja berikutnya! Dan di sinilah petualangan kedua teman kita akan berakhir.

Yang menarik bagiku, dalam buku ini Mark Twain tidak saja menyuguhkan kehidupan ala raja-raja Inggris jaman lampau, namun ia juga ingin menyentil tentang kepribadian manusia. Mari kita melihat bagaimana pertukaran identitas ini berpengaruh pada Tom dan Edward. Edward, meskipun berbaju gembel, namun tetap berperilaku dan berbicara layaknya pangeran. Bahkan Miles si penyelamatnya tak boleh makan semeja dengannya, dan harus menunggu hingga ia selesai makan. Meski ia dihina dan direndahkan, kehormatan dalam dirinya tak pernah luntur. Sekarang mari kita kihat kasus Tom. Hanya butuh waktu 3 bulan, Tom si pengemis yang awalnya canggung dengan kegemerlapan istana, perlahan-lahan mulai terbiasa. Bahkan menjelang penobatannya sebagai Raja, ia cenderung menganggap dirinya memang raja, dan membuang semua masa lalu kelam yang tak ingin ia akui. Bahkan ibunya pun sempat ia sangkal ketika sang ibu mengenali putranya (lihat, bagaimanapun rapat sebuah penyamaran, mata seorang ibu tak mungkin tertipu!). Di sini kita melihat bahwa manusia cenderung berubah saat berada pada puncak kekayaan atau kekuasaan. Sudah menjadi sifat manusia untuk berkawan dengan kenikmatan. Aku pernah membaca entah di mana, sebuah penelitian psikologi pada sekelompok orang yang dihadapkan pada kekuasaan mutlak. Hasilnya, hanya dalam waktu singkat perangai mereka berubah 180 derajat! Kita sering mencemooh teman atau kenalan kita yang berubah saat menjadi kaya. Namun, pernahkah anda berpikir, bahwa bila anda yang dianugerahi kekayaan itu, bukan tak mungkin anda pun akan berubah seperti teman itu.

ilustrasi ketika Tom "menolak" ibunya


Hal kedua yang menggelitikku adalah begitu mudahnya manusia menilai orang lain hanya dari atribut fisiknya saja, dari luarnya saja. Lihat saja bagaimana semua orang tak mampu mengenali perbedaan antara Tom dan Edward ketika mereka berganti pakaian. Karena, begitu mereka melihat pakaian lusuh, berarti pemakainya adalah orang miskin, malas, bodoh, kasar, bahkan mungkin jahat. Yang berpakaian mewah pasti agung, berkedudukan, cerdas dan terhormat. Sungguh ironis bagaimana stereotip macam itu sudah melekat pada diri manusia sepanjang jaman.

Akhirnya, anda pasti akan bertanya-tanya, bagaimana cara Pangeran Edward membuktikan bahwa ia lah yang layak dinobatkan menjadi Raja? Akankah Tom menolak asal-usul dirinya? Itulah sebabnya anda perlu membaca kisah berlatar sejarah yang asyik, kocak sekaligus seru ini! Sisipan di belakang buku membantu kita untuk sedikit lebih memahami seluk beluk protokoler kerajaan Inggris saat itu. 3 bintang untuk buku ini, 1 untuk Tom, 1 untuk Edward, 1 untuk Mark.

Gambar di atas adalah ilustrasi ketika Edward berusaha membuat "pembuktian" bahwa dirinya adalah raja yang sah.

Akhirnya aku tergoda untuk mencermati gambar pada cover buku ini, apakah itu gambar sosok asli kedua bocah itu, ataukah gambar ketika mereka bertukar peran? Bagaimana menurut anda?


Judul: The Prince and The Pauper
Penulis: Mark Twain
Penerbit: Orange Books (Grup Penerbit Mizan)
Terbit: Nopember 2010
Tebal: 418 hlm

Monday, July 4, 2011

80 Hari Keliling Dunia


Keliling dunia dalam 80 hari? Bagi kita yang hidup di saat ini tentu saja mungkin. Bahkan, kita dapat menempuh perjalanan itu kurang dari 80 hari. Tapi, ketika ide itu ditawarkan pada tahun 1872, banyak orang yang skeptis. Secara teori, 80 hari adalah waktu minimal yang dibutuhkan untuk bertualang ke seluruh dunia. Namun, prakteknya bisa saja meleset. Ketika ada penundaan jadwal kapal uap sehari saja, maka angka 80 hari itu pasti akan bertambah. Tak ada orang yang berani menjamin bahwa mereka akan dapat melakukan 80 hari keliling dunia itu. Selain Phileas Fogg.

Phileas Fogg adalah seorang aristocrat nyentrik yang hidup di London. Ia orang yang pendiam sekaligus misterius, tenang dan hampir tak pernah menampakkan emosi, serta sangat menyukai keteraturan. Kedisiplinannya terhadap waktu sangat mencengangkan. Tiap pukul 11:30 siang (tepat, tak kurang atau lebih 1 menit pun), Phileas Fogg akan meninggalkan rumahnya untuk menuju ke Reform Club, di mana ia menjadi anggota. Di club itu ia berteman dengan para orang terpandang di London lainnya (akademisi, politikus, bangsawan, jutawan). Suatu hari terjadi sebuah diskusi di antara anggota club itu mengenai perampokan bank yang baru terjadi. Diskusi itu mengalir hingga ke isu terbaru di dunia transportasi pada saat itu, di mana perjalanan keliling dunia sudah dapat ditempuh dalam waktu tercepat 80 hari, dengan perincian seperti table ini: (sumber: Wikipedia)



Diskusi itu tiba-tiba membuahkan sebuah pertaruhan. Mr. Phileas Fogg bertaruh 20.000 pound bahwa ia akan dapat keliling dunia dalam 80 hari persis. Persetujuan pun dibuat. Mr. Fogg harus sudah hadir kembali di Reform Club pada hari tertentu, jam tertentu. Maka Mr. Fogg, yang yakin bahwa ia akan mampu mengatasi kesulitan apa pun yang dapat menghadang, segera mengajak pelayan barunya, yang baru saja masuk kerja beberapa jam sebelumnya: Passepartout.

Untunglah ada tokoh Passepartout dalam buku ini! Tokoh ini jauh lebih “manusiawi” daripada majikannya. Dalam usianya yang masih muda, Passepartout sudah pernah menjadi penyanyi, anggota sirkus hingga pemadam kebakaran. Dan kini tantangan berikut dalam hidupnya adalah menjadi pelayan di rumah Mr. Fogg yang maniak terhadap ketepatan waktu dan disiplin (mengingatkan aku pada Hercule Poirot dan sahabatnya Kapten Hastings, tokoh rekaan Agatha Christie!). Sebagai orang Prancis, Passepartout lebih terbuka, emosinya lebih “berwarna”, impulsif dan lebih ramah daripada majikannya yang berkarakter khas London: sedikit angkuh, tenang dan dingin. Kombinasi keduanya membuahkan perjalanan sekaligus petualangan yang menegangkan. Aku pikir, andai Mr. Fogg berkelana sendirian, pasti ia akan dengan lebih mudah mencapai tujuannya. Namun, tentu saja perjalanan itu akan amat membosankan. Laporannya akan mirip jadwal perjalanan biasa. Dengan adanya Passepartout, banyak hal yang akan terjadi, banyak tantangan dan bahaya, banyak kekecewaan maupun kegembiraan. Pokoknya, perjalanan keliling dunia itu menjadi bukan semata-mata taruhan, namun lebih pada sebuah petualangan yang mengubah hidup seseorang.

Aku sudah pernah membaca karya Jules Verne yang berjudul 60.000 Mil Di Bawah Laut (terjemahan dari 20.000 Leagues Under The Sea). 60.000 Mil Di Bawah Laut menurutku lebih menakjubkan dalam hal keindahan alamnya, mungkin karena tokohnya adalah seorang ahli kelautan. Sedangkan di 80 Hari Keliling Dunia ini, keindahan dan keeksotisan negara-negara yang dikunjungi Mr. Fogg dan Passepartout kurang terekspos. Terutama karena Mr. Fogg adalah orang yang praktis, jauh dari romantis, sehingga ia lebih memperhatikan ketepatan waktu daripada pemandangan indah di sekitarnya. Mungkin hanya di India saja, ketika tuan dan pelayan ini bertualang menculik dan menyelamatkan seorang wanita yang hendak dibakar dalam suatu ritual, petualangan itu memiliki greget. Yang aku ingat jelas adalah ketika mereka harus melarikan diri karena ketahuan dengan mengendarai gajah. Tentu saja gajah itu harus dipacu untuk berlari kencang. Aku tertawa ngakak membayangkan Passepartout yang harus rela terguncang-guncang di punggung gajah…

Dalam buku ini, seperti dalam kehidupan nyata, yang menjadi halangan bagi ketepatan waktu sebuah perjalanan, bukanlah melulu pada transportasi (kecuali mungkin di negara kita ya..?!). Justru hal-hal di luar rencana kita, yang disebabkan orang atau pihak lain, yang lebih sering mengganggu perjalanan itu. Dalam hal Mr. Fogg, kesialan itu berupa penguntitan seorang detektif sok tahu bernama Fix yang mengira Mr. Fogg itu perampok bank di London yang tengah melarikan diri. Selain itu, kecerobohan dan karakter impulsif Passepartout juga beberapa kali menyebabkan kacaunya perjalanan mereka. Kalau melihat watak Mr. Fogg yang praktis dan penuh perhitungan, mungkin menyelamatkan seorang wanita dan pelayannya takkan masuk dalam jadwal perjalanannya. Bagaimana pun juga, ada uang 20.000 pound yang dipertaruhkan di sini. Namun Mr. Fogg bukanlah orang yang egois. Meski tidak menguntungkan, ia akan berbuat apa yang memang seharusnya diperbuat. Sesederhana itu.

Dalam banyak hal, Mr. Fogg itu dingin dan penuh perhitungan. Tapi anda akan dibuat tercengang membaca bagaimana penuh perhatiannya ia menjaga dan melindungi Aouda, wanita India yang diselamatkannya dengan nyaris mengorbankan nyawa itu. Lihat pula bagaimana ia tak pernah mempersoalkan kesialan-kesialan yang disebabkan orang lain, dan bagaimana murah hati serta dermawannya ia pada orang-orang yang ditemuinya sepanjang perjalanan. Kalau boleh kukatakan, perjalanan keliling dunia 80 hari itu sendiri tidaklah terlalu istimewa, namun kisah-kisah kehidupan di baliknya itulah yang memberi warna buku ini, sehingga mengijinkanku untuk menganugerahkan 4 bintang untuk buku ini!

Mengapa 80 Hari Keliling Dunia?

Apakah anda, seperti aku, penasaran dari mana ide keliling dunia ini didapat Verne? Apakah ia memang sering berkeliling dunia? Jawabannya kutemukan di Wikipedia. Ternyata ide Verne berasal dari sebuah iklan tur berupa artikel di sebuah harian yang ia baca suatu hari di sebuah café di Paris. Diduga iklan yang ia maksud adalah artikel yang ditulis Thomas Cook, seorang Inggris yang pertama kali memperkenalkan sistem travel agency.

Judul : 80 Hari Keliling Dunia
Judul asli: Around The World In Eighty Days
Penulis: Jules Verne
Penerbit: Serambi
Terbit: Juni 2008
Tebal: 367 hlm