Thursday, September 22, 2011

Uncle Tom's Cabin

"Jadi, Andalah wanita mungil yang menulis buku yang memicu perang besar ini?". Pertanyaan itu konon terlontar dari mulut seorang presiden Amerika Serikat, Abraham Lincoln, suatu hari di bulan November 1862 saat bertemu dengan seorang wanita. Aku tak tahu pasti tentang mungil atau tidaknya tubuh si wanita, namun aku percaya bahwa salah satu buku yang ia tulis bisa jadi telah memicu sebuah perang besar. Perang yang dimaksud adalah Perang Saudara yang terjadi di abad 19. Wanita yang dimaksud adalah Harriet Beecher Stowe. Jadi...buku apa yang ditulis Mrs. Stowe ini? Tak lain dan tak bukan sebuah novel yang bertutur tentang perbudakan: Uncle Tom's Cabin.


Perang Saudara & latar belakang perbudakan yang menginspirasi Uncle Tom's Cabin

Sebelum Perang Saudara terjadi, sedikitnya ada tujuh negara bagian di Amerika Utara yang masih melegalkan perbudakan. Saat partai Republik memenangkan pemilihan umum dan menjadikan Abraham Lincoln presiden Amerika Serikat, ketujuh negara bagian itu memisahkan diri dari Amerika Serikat dan membentuk sebuah Konfederasi. Agresi militer akhirnya digerakkan oleh Konfederasi, dan menyerang basis militer Amerika Serikat pada April 1861. Perang Saudara.

Perbudakan di Amerika sendiri diperkirakan terjadi mulai sekitar abad 16 dan berakhir pada abad 19. Pada tahun 1850 sebuah undang-undang disahkan oleh Kongres Amerika Serikat. Undang-Undang itu (Fugitive Slave Law= Undang-Undang Budak Buron) melarang warganya untuk membantu para budak yang melarikan diri dari satu negara bagian ke negara bagian lainnya. Pada saat itulah Mrs. Stowe mulai menulis sebuah kisah tentang penindasan dan kemalangan para budak ini. Konon sebagian kisah di buku ini diinspirasi oleh kisah nyata Josiah Henson, seorang budak berkulit hitam yang berhasil melarikan diri ke utara (Kanada), lalu berhasil menolong pula budak-budak lain yang melarikan diri.


Paman Tom

Paman Tom, seperti para budak yang dipekerjakan di pertanian atau peternakan di Amerika, adalah warga Afrika yang berkulit hitam. Ia menjadi tokoh utama di novel ini berkat karakternya yang tenang, bersahaja, jujur, dan terhormat. Namun yang paling menonjol dari Paman Tom adalah ketaatannya kepada Tuhan. Alkitab menjadi harta miliknya yang paling berharga. Dari sanalah ia belajar untuk berbuat baik pada sesama, berkorban untuk mereka yang lebih lemah, dan akhirnya menjadi sumber pengharapannya sendiri ketika ia berada di puncak kesengsaraan. Ia mampu bertahan karena imannya yang teguh pada kemuliaan kekal yang dijanjikan Tuhan dalam ajaran Kristiani.

Awalnya Paman Tom hidup bersama istri dan anak-anaknya di sebuah pondok sederhana di Kentucky. Keluarga mereka menjadi budak milik Tuan & Nyonya Shelby yang baik dan dermawan. Paman Tom sudah dianggap keluarga sendiri dan hidup dalam kebahagiaan. Sayangnya usaha Tuan Shelby terlilit hutang, sehingga Tuan Shelby terpaksa menjual Paman Tom kepada pedagang budak. Bersama Paman Tom, ada seorang budak anak-anak milik Tuan Shelby yang juga hendak dijual.

Eliza

Menguping pembicaraan Tuan dan Nyonya Shelby bahwa Harry, putra semata wayangnya akan dijual kepada pedagang budak, Eliza pun memutuskan untuk melarikan diri. Tujuannya adalah Kanada, ke mana suaminya, George juga telah berjanji untuk melarikan diri sebelumnya. Dan bila Tuhan menghendaki, maka mungkin mereka sekeluarga akan dapat berkumpul kembali dalam keadaan merdeka.

Sementara Eliza yang malang bersama putranya dikejar-kejar dalam pelariannya, Paman Tom amat beruntung karena dibeli oleh pria muda kaya yang ramah dan baik hati bernama Augustine St. Clare ketika berada di kapal yang menuju ke New Orleans. Paman Tom dan Eva bersahabat dekat, karena keduanya memiliki kesamaan dalam kesalehan mereka. Keduanya, dalam banyak kesempatan, banyak mempengaruhi orang-orang di sekitar mereka untuk percaya kepada kemurahan hati Tuhan dan untuk selalu menaruh harapan akan pertolonganNya. Terutama Paman Tom, yang sering menggunakan ayat-ayat Alkitab untuk mencairkan kebencian temannya yang menolak Tuhan.

"Datanglah kepadaKu, engkau yang letih lesu dan berbeban berat, karena Aku akan menyegarkan kamu." ~hlm 482.

Sangat jarang seorang budak yang benar-benar percaya kepada Tuhan. Karena, meski mereka berkesempatan pergi ke gereja, kesengsaraan dan siksaan yang bertubi-tubi membuat iman mereka luntur. Sungguh sulit untuk mempercayai bahwa Tuhan hadir dalam hidup mereka ketika hanya penderitaan yang mereka alami setiap hari.

"Apakah ada Tuhan yang bisa dipercayai? Saya merasa tidak mungkin ada Tuhan di sini. Kalian orang beragama tidak tahu hal-hal semacam ini bisa terjadi kepada kami. Ada Tuhan untuk kalian, tetapi apakah ada Tuhan untuk kami?" (George Harris) ~hlm. 165.

Dalam novel ini kita akan menyaksikan banyak karakter yang menarik. Ada majikan yang baik hati: Tuan & Nyonya Shelby serta Tuan Augustine St. Clare, ada pula majikan yang kejam: Tuan Legree --yang menjadi majikan Paman Tom setelah St. Clare. Ada yang memandang perbudakan sebagai hal yang biasa, dalam hal ini diwakili oleh Marie (istri St. Clare) yang egois dan sangat dangkal pemikirannya. Orang-orang seperti ini memandang ras Anglo Saxon sebagai yang tertinggi, sementara ras kulit berwarna (apapun) lebih rendah kelasnya.

"Tidak ada peradaban tinggi tanpa perbudakan masal, baik nominal maupun kenyataan. Harus ada kelas yang lebih rendah, yang digunakan untuk kerja keras fisik dan dikekang seperti hewan. Dan harus ada kelas yang lebih tinggi yang mendapatkan kesenangan dan kekayaan untuk memperluas kecerdasan dan kemajuan, serta menjadi penguasa dari yang lebih rendah." (Alfred St. Clare) ~hlm. 318.

Ilustrasi pemukulan majikan terhadap budak yang melakukan kesalahan meski sederhana, di gambar ini tampak seorang budak dipecut seperti hewan

Namun ada pula mereka yang percaya bahwa Tuhan menciptakan manusia sederajat, tak peduli ras atau asal usulnya. Mereka diwakili oleh Augustine St. Clare, Eva putrinya, juga George Shelby (putra Tuan & Nyonya Shelby). Sementara di kubu "tengah" ada Nona Ophelia (sepupu St. Clare) yang pada dasarnya mengasihi sesamanya, namun tetap memiliki prasangka terhadap ras lainnya. Sangat menarik menyimak diskusi panjang-lebar St. Clare dan Nona Ophelia tentang perbudakan di bab 19.

Sebenarnya novel ini tidak melulu bercerita tentang Paman Tom dan Eliza saja, ada kisah tentang budak-budak lain dengan penderitaan maupun kisah hidup masing-masing. Namun dari keduanya akan terangkai banyak kisah yang awalnya seolah berdiri sendiri dan tak berhubungan satu sama lain, namun di bagian akhir akan terlihat benang merah yang menghubungkan mereka semua.

Pada akhirnya, novel setebal 610 hlm ini telah mengingatkan aku akan banyak hal. Pertama, bahwa kesombongan manusia dapat membawa akibat yang sangat mengerikan, yaitu ketika manusia memperlakukan sesamanya bagaikan hewan atau benda. Sebelum manusia dapat sepenuhnya menerima konsep bahwa mereka diciptakan sederajat meskipun berbeda, penindasan di atas bumi ini takkan berhenti. Meski mungkin praktek memperdagangkan/membeli budak di pasar dan membuatnya menjadi hak milik sudah lama dihapuskan, namun penindasan sebenarnya masih ada di dunia ini dalam bentuk-bentuk yang sedikit lebih beradab.

Kedua, hanya kebaikan dan kelembutan cinta kasihlah yang dapat mengeluarkan potensi terbaik manusia. Kalau kita ingin mendapatkan respek, kasih dan kesetiaan dari orang lain, maka satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah: melakukan hal yang sama terlebih dahulu kepada orang lain. Dalam novel ini terlihat, bahwa seorang budak menjadi tidak jujur karena selalu diperlakukan jahat oleh majikan. Karena itu, si majikan akan menjadi lebih jahat lagi, dan terus saja lingkaran setan itu berulang.

Ketiga dan yang terpenting, dalam setiap kesusahan dan penderitaan, ingatlah selalu kepadaNya. Karena hanya Dialah yang takkan pernah ingkar janji. Bila kita mengalami kesengsaraan karena melakukan hal yang benar, maka kebahagiaan di rumahNya kelak pasti menjadi milik kita.

Empat bintang kuberikan untuk Uncle Tom’s Cabin, dan satu bintang khusus untuk penerjemahan yang bagus bagi novel ini. Kalau anda sempat mengintip versi asli novel ini dalam bahasa Inggris (lewat google books), anda akan menemukan logat khas orang kulit hitam bertebaran dalam novel ini terutama saat para budak berbicara. Aku menyadari betapa sulitnya menerjemahkan bagian ini tanpa menghilangkan cirri khas yang membedakan logat para budak dengan logat kalangan atas yang lebih berpendidikan. Memang bahasa yang dipakai jadi aneh, mirip bahasa Indonesia ala luar pulau, namun tetap aku salut pada usaha untuk menghadirkan citarasa yang paling mendekati novel aslinya dalam penerjemahannya.

Menutup review ini, ijinkan aku meminjam lagu yang dinyanyikan Paman Tom, yang membuatku makin merasakan betapa hangatnya kasih Tuhan kepada manusia...

"Bumi akan meleleh seperti salju,
Matahari akan berhenti bercahaya;
Tapi Tuhan, yang di sini memanggilku,
Akan jadi milikku selamanya.

"Dan ketika kehidupan fana ini berakhir,
Dan badan serta indra akan tiada,
Aku akan memiliki di dalam tabir,
Kehidupan penuh damai dan sukacita.

"Saat kita sepuluh ribu tahun di sana,
Kemilau berpendar bagai sang mentari,
Kita tetap melantunkan puji syukur kepadaNya,
Seperti saat kita memulai setiap hari."


Judul: Uncle Tom's Cabin
Penulis: Harriet Beecher Stowe
Penerjemah: Istiani Prajoko
Penerbit: Serambi
Terbit: Juli 2011
Tebal: 610 hlm

NB: Tolong beritahu aku kalau ada dari anda yang berhasil menamatkan buku ini tanpa meneteskan air mata barang sekali saja!

No comments:

Post a Comment

What do you think?