Tuesday, March 6, 2012

Love in the Time of Cholera

Oprah Winfrey mengatakan bahwa buku ini adalah “One of the greatest love stories I have ever read, it is so beautifully written.” Maaf Oprah, kali ini aku tak setuju. Kalau yang anda maksud adalah kisah cinta antara Florentino Ariza si pecundang itu—begitu ia kujuluki—dengan Fermina Daza, menurutku cinta mereka sama sekali bukan cinta sejati. Baik, mari kutunjukkan mengapa aku tak setuju dengan anda.

Florentino Ariza adalah anak tidak sah seorang pemilik perusahaan pelayaran di perairan Karibia. Tak diakui oleh ayahnya, ia hidup bersama ibunya dalam kemiskinan. Jujur saja, tak ada satupun sisi positif yang bisa kutemukan pada pria ini. Pemimpi, lemah, terlalu terobsesi pada cinta, tapi juga sex-addicted. Florentino boleh dikatakan jatuh cinta pada pandangan pertama pada seorang gadis dari keluarga berada yang saat itu masih berusia tigabelas tahun: Fermina Daza. Fermina adalah putri Lorenzo Daza, pengusaha ternama di kotanya. Florentino yang bekerja di kantor telegram, pada suatu hari harus mengantar telegram ke rumah Lorenzo Daza. Saat itulah ia melihat sosok Fermina, dan panah cinta pun langsung tertancap di hatinya.

Karena Florentino pria yang tak percaya diri—wajar saja dengan penampilannya yang lusuh seperti orang tua itu—ia merasa minder. Alih-alih mendekati langsung, Florentino memilih cara memperhatikan dari jauh. Setiap hari pada jam tertentu ia duduk di bangku taman Park of the Avengels di bawah bayangan pohon almond, sambil berpura-pura asyik membaca buku. Melihat Fermina Daza melewati bangku itu ketika berjalan pergi-pulang sekolah dikawal oleh bibinya, merupakan pemandangan yang menyejukkan hati Florentino muda. Florentino yang memang berjiwa puitis mulai menulis sepucuk surat, tanpa tahu bagaimana cara menyampaikannya—karena ia menyadari bahwa hubungan mereka tak mungkin dijalani karena perbedaan kelas sosial.

Selama berbulan-bulan hal itu berlangsung, hingga suatu hari Florentino memiliki keberanian bertemu dengan Fermina. Pertemuan yang amat singkat, sama sekali tak dapat disebut berpacaran. Selama penantian Florentino menunggu “panggilan” Fermina, ia sempat jatuh sakit. Karena saat itu Kolumbia sedang berjangkit epidemi kolera, tak heran bila dokter yang memeriksa Florentino mengira pemuda itu terkena kolera. Ibunya saja yang yakin bahwa penyakit yang diderita putranya adalah penyakit cinta!

Fermina dan Florentino akhirnya sempat berkirim-kiriman surat dengan cara sembunyi-sembunyi. Bisa diduga, surat mereka dipenuhi kata-kata manis lengkap dengan bunga camelia. Khas cinta monyet remaja. Suatu hari kisah cinta mereka tercium Lorenzo Daza, padahal sang ayah sudah mengatur supaya putrinya menikah dengan pria terpandang. Maka Fermina pun tiba-tiba dijauhkan dari segala surat cinta, puisi romantis dan permainan serenade biola, dan dikirim lewat laut ke rumah saudara sepupunya di kota yang jauh: San Juan de la Ciénaga.

Setelah kembali ke kotanya, Fermina Daza telah tumbuh menjadi wanita yang lebih dewasa, bukan lagi gadis ingusan yang bertukar surat dengan Florentino. Meski awalnya sering memikirkan Florentino, namun begitu bertemu kembali dengan pria itu, Fermina mulai merasa muak. Muak akan kisah cinta monyetnya, dan baru menyadari bahwa Florentino adalah "pria payah". Sementara itu ada seorang dokter muda dari kalangan keluarga terhormat yang karirnya sedang menanjak: Dokter Juvenal Urbino. Saat mengobati penyakit Fermina, sang dokter pun terpikat kepadanya, dan tak lama kemudian ia melamarnya. Fermina sama sekali tak merasakan cinta pada sang dokter, namun mengingat target yang ia tentukan sendiri untuk menikah di usia 21 tahun hampir terlewati, dan mengingat Urbino seorang pria terhormat, sopan, berpendidikan, Fermina pun menerima pinangannya.

Fermina Daza dan Dokter Juvenal Urbino memasuki hidup perkawinan tanpa cinta. Meski awalnya perkawinan mereka sempat bergolak--terutama saat masa adaptasi--namun setelah mereka mengarungi bahtera perkawinan itu, mereka menjadi tak terpisahkan. Hal ini jelas terungkap saat mereka sudah beranjak tua, di mana mereka menjadi lebih saling membutuhkan daripada sebelumnya. Ini salah satu bukti bahwa yang terpenting dalam perkawinan bukan hanya cinta, namun kemauan untuk saling menerima dan berusaha mempertahankan perkawinan itu. Maka cinta pun akan tumbuh, meski bukan cinta nafsu seperti yang awalnya mereka inginkan atau rasakan. Cinta macam inilah yang menurutku adalah cinta sejati. Cinta yang menerima, alih-alih menuntut. Apakah perkawinan mereka bahagia? Menarik menyimak apa yang dikatakan Dokter Urbino:


"Always remember that the most important thing in a good marriage is not happiness, but stability."


Bagaimana dengan Florentino? Di luar dugaan, meski sakit hati, Florentino tetap memendam impian untuk kelak bisa bersatu dengan Fermina. Lima puluh satu tahun ia menunggu. Tapi jangan bayangkan cinta Florentino bak cinta seorang martir yang tak tergoyahkan. Di masa itu ia memang tak menikah, tapi ia bertualang cinta dengan sangat banyak wanita, dan bahkan menjadi kecanduan seks. Sampai-sampai di usia tujuh puluh tahun, ia masih bercinta dengan gadis remaja yang dititipkan kepadanya. Dua kata yang bisa menggambarkan Florentino Ariza: menjijikkan! Dan hingga akhir hayatnya, Florentino selalu mengatakan bahwa ia tetap setia kepada Fermina. Pembohong yang menjijikkan!

Keanehan Florentino yang membuatku makin mual terjadi ketika secara tak sengaja ia berada di satu restoran yang sama dengan Fermina dan suaminya. Ia menghadap ke cermin yang merefleksikan pantulan Fermina. Lalu tebak apa yang dilakukan Florentino! Ia berkeras membeli cermin itu dari pemilik restoran dengan harga berapapun, hanya untuk mengenang hari ketika ia bisa menatap Fermina lewat cermin itu. Obsesif? Kegilaan? Entahlah...

Lalu apakah Florentino dan Fermina akan benar-benar bersatu di usia tua mereka? Itu sebaiknya anda baca sendiri di bukunya, karena itulah yang akan menjadi hadiah dari penantian anda selama membaca buku yang beralur lambat ini. Yang jelas, aku tak bisa menyebut Love in the Time of Cholera ini sebagai kisah cinta sepanjang masa. Mungkin persistensi Florentino untuk menunggu Fermina selama lima puluh satu tahun bisa dikatakan hebat, tapi kalau selama itu ia membagi hati dan tubuhnya bagi orang lain--sambil membohongi diri sendiri--dapatkah itu disebut cinta sejati?

Maka sekali lagi...maaf Oprah, aku hanya bisa memberi 3 bintang untuk buku ini, karena meski kisahnya absurd, namun kepiawaian Marquez dalam merangkai kata cukup menghibur.

*Review ini kubuat tepat di Hari Ulang Tahun Gabriel García Márquez yang ke 85 (6 Maret 1927 - 6 Maret 2012)*

Judul: Love in the Time of Cholera
Penulis: Gabriel García Márquez
Penerbit: Penguin Books
Terbit: 2008
Tebal: 424 hlm

10 comments:

  1. Oh begituuu yaaa...
    Lewat deh... Maap om Marquez :p

    ReplyDelete
  2. menurutku buku bagus ato gak tidak selalu harus kita suka ato jatuh cinta ama karakternya. bisa jadi kita benci setengah mati ama si tokoh, tp justru disini kepiawaian penulis dalam menggambarkan si tokoh, seberapa antagonisnya dia, jiwanya, kegilaannya, dgn tetap riil.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, tapi untuk yg satu ini aku memang gak suka sama penulisannya juga sih

      Delete
  3. udah nonton filmnya tapi belum baca bukunya...

    emang florentino menyebalkan dan bagi dia hubungannya dia ke perempuan lain itu hanya sekedar badan bukan hubungan cinta makanya baginya cintanya ke fermina itu abadi...

    tapi.... mungkin itu juga yang disebut bersetubuh bukan bercinta karena bersetubuh hanya melibatkan hubungan badan tanpa cinta ataupun jiwa...


    komennya rada nggak nyambung dan kepanjangan... jadi abaikan... :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku gak pengen nonton filmnya ah... Kayaknya tulisannya Marquez memang bukan untukku...

      Delete
  4. I have always been curious about this book... thanks for your review!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nice to know that my review is somehow useful for you..

      Delete
  5. aku nonton filmnya duluan, mbk, dan tetap saja terhenyak...nungguin 50 tahun itu sesuatu banget, tapi kok kesannya maksa gitu ya *oahem*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe...namanya juga fiksi kan?

      Delete
  6. Saya tau perbedaan cara pandang anda dengan oprah yang menjadikan anda tifak terlalu menyukai buku karya om marquez, karena perbedaan kultur budaya, di barat sana marriage adalah suqtu yang sakral, dan sex adalah hal yang lumrah, jadi ketika si florentino bercomitment tidak akan menikah dengan wanita lain kecuali si fermina, itulah yg membuat oprah begitu sirprise dan terkesan. ;)

    ReplyDelete

What do you think?