Thursday, April 26, 2012

D’Artagnan on The Man In The Iron Mask


D’Artagnan
The Man In The Iron Mask by Alexandre Dumas



Masih ingat D’Artagnan, musketeer yang termuda saat bergabung dengan Three Musketeers? Karakternya makin nampak di buku ini dibanding ketika di Three Musketeers (yang lebih banyak menampilkan action-nya).

Lebih dari 20 tahun berlalu, ketika rekan-rekannya sudah memilih jalan hidup masing-masing, D’Artagnan masih mengabdi pada Raja Prancis (di kisah ini Louis XIV), kini sebagai Kapten Musketeers. D’Artagnan adalah sosok yang kesetiaannya kepada Raja tak diragukan. Hal ini sudah diakui Louis XIV sendiri maupun rekan-rekan dan semua orang yang mengenalnya. Namun, prinsipnya yang selalu menjunjung tinggi kehormatan, kesetiaan dan persahabatan membuatnya sulit untuk dapat menuruti semua perintah Raja Louis XIV yang semena-mena. Bagaimana kiat D’Artagnan untuk menyeimbangkan kedua hal yang penting baginya inilah yang membuat sosoknya menarik.

Yang paling sulit tentu saja saat D’Artagnan diperintahkan Raja menangkap sahabatnya sendiri, seorang dari ke-3 mantan musketeer. D’Artagnan di satu sisi setia pada persahabatannya, namun di sisi lain juga patuh pada Raja dan negara. Jalan mana yang dipilihnya? Ternyata ia memilih keduanya atau boleh dibilang bukan keduanya. Heran? Di buku ini anda akan membaca sendiri kisahnya, bagaimana D’Artagnan dengan cerdiknya memelintir perintah Raja itu tanpa bisa dibilang membangkang, dan membuat (memaksa?) Raja akhirnya membebaskan sahabatnya.

Dari segi pembawaannya, terlihat bahwa D’Artagnan memiliki karisma sendiri yang dihormati sekaligus disegani.

D’Artagnan had never allowed himself to become common at court, and although seen at all sorts of times and places, he always produce an effect whenever and wherever he made his appearance. It’s natural to some people to resemble, in this respect, thunder and lightning. Everyone knows what they are, but, nevertheless they are always received with certain amount of surprise, and they always leave behind them the impression that their last appearance has been more remarkable than any that had preceded it.” ~hlm. 318.

Bisa jadi jabatannya sebagai Kapten Musketeers membuat banyak orang merasakan sensasi tak nyaman saat berada bersama D’Artagnan. Bayangan bahwa ia adalah abdi setia Raja (apalagi ketika sang Raja adalah sosok pemarah dan kejam), pasti membuat orang merasa tak nyaman bersamanya. Atau saat seseorang tiba-tiba menerima kunjungan D’Artagnan, mungkin dalam hati tersirat kengerian bahwa ia—entah bagaimana—telah menyinggung perasaan Raja dan kini akan diseret ke penjara.

D’Artagnan adalah orang yang sangat cerdik, dengan keahlian pedang yang tak perlu diragukan lagi serta intuisi yang sangat tajam ketika suatu intrik sedang terjadi di dekatnya. Hal ini juga terbukti saat perjumpaannya dengan Aramis ketika Aramis sedang menggarap “proyek mission impossible-nya”. Meski tak ada bukti kuat, namun D’Artagnan mampu mencium ada sesuatu yang ‘besar’ yang sedang terjadi, entah apa, yang direncanakan oleh sahabatnya itu. Sebuah kualitas yang dibutuhkan oleh Kapten Musketeers, sekaligus yang ditakutkan oleh lawan-lawannya (termasuk juga sahabatnya ketika akan melakukan sesuatu untuk melawan Raja).

Namun kualitas dalam dirinya yang paling aku kagumi adalah kesetiaannya terhadap persahabatan. Meski integritasnya untuk melayani raja dan negara tinggi, namun baginya, persahabatannya dengan three musketeers adalah segalanya.

“I should say to him [King] straight out: ‘Sire, imprison, exile, kill everyone in France or in Europe, order me to arrest or poniard anyone in the world, even were it monsieur your brother, but do not touch either of the four musketeers. If one of them be harmed, I will not answer for the consequences.’” ~hlm. 147.

Memang benar itu hanyalah pengandaian saja, tak benar-benar terjadi dalam kisah ini, namun dari ungkapan itu, kita bisa menilai betapa berartinya persahabatan bagi seorang D’Artagnan, selain kehormatan. Karena ia menjunjung tinggi kehormatan, ia pun dapat membayangkan bagaimana seorang ‘gentleman’ seperti Monsieur Fouquet akan terhina jika ia menaati titah Raja untuk menangkapnya ketika Raja tengah menginap di rumahnya! Sebuah dilema yang berat, namun bukan D’Artagnan kalau ia tak bisa menemukan cara untuk memuaskan kedua pihak. Di satu pihak menaati perintah Raja, dan di pihak lain menjaga kehormatan calon tawanannya. Salut untuk D’Artagnan yang punya prinsip dan teguh menjaganya!

Ini adalah sosok Gabriel Byrne yang memerankan D’Artagnan di film adaptasi The Man In The Iron Mask versi th. 1998. Agak kurang cocok menurutku karena di sini D’Artagnan nampak terlalu melankolis-romantis, dan kurang menunjukkan sosok D’Artagnan yang energetik, periang dan punya sense of humor tinggi.



Tuesday, April 24, 2012

The Man In The Iron Mask: A Small Part of A Complicated Series


Call me stupid, but I just realized that The Man In The Iron Mask is the third sequel of Three Musketeers, only after I read the first chapter! All this time I thought Iron Mask is the direct sequel of Three Musketeers, while Twenty Years After is the third one (for 20 years seems sooo long for me)… However, when I started this book, I felt as if I were being dropped in the middle of a story, instead of the beginning. So, I consulted the introduction page—which I admit I rarely read before finishing a book, because it often contains spoiler. And I found out that, The Man In The Iron Mask (my copy is 616 pages) is actually the THIRD SECTION of the third sequel of Musketeers series! Once again, it is only the third section of the third sequel, just a small part of a complicated series!

The third novel of Musketeers Series contains of around 2000 pages, thus it is divided into three sections: The Vicomte de Bragelonne, Louise de la Vallièrre, and The Man In The Iron Mask. The question is, why Dumas made it so long? I found out the answer also within the introduction page.

Around the year 1836, newspaper began to benefit from subscription system. And in the effort to maintain the loyalty of subscribers, they published serialized fiction. Alexandre Dumas—just as other authors at that time—saw that as a good opportunity to sell their work. No wonder authors like Charles Dickens and Dumas wrote their works firstly as series, then novel.

The edition I am reading is Wordsworth Classics, and it’s begun with the chapter of ‘A Pair of Old Friends’. However, other (older) editions may be begun with ‘The Prisoner’ which is in the 29th chapter of the newer edition (like mine). The adaptation movie (starring Leonardo di Caprio as King Louis XIV/Phillipe) used the older version. Now I wonder, if I want to read the whole and complete story, what edition of The Vicomte of Bragelonne and Louise de la la Vallièrre should I pick, so that it will not overlap with my Iron Mask edition? Can someone help me?…

the edition I'm reading, published in 2002

But, let me go back to my ‘unfortunate’ experience with this book, I suffered at first with the confusion, but I kept on reading. Now I am already half way through, and beginning to grab the meaning, although there are few things that are still ‘dark’ for me, especially with the affair of Madame Chevreuse and Aramis in the beginning of the novel. Another thing that I am still wondering, why the brother and sister in law of King Louis XIV is called by simply Monsieur and Madame by everyone (including the King himself), instead of by title+name (e.g. Prince X, or Princess Z)? However, so far I enjoy the intrigue and plot which Monsieur Dumas presented us.

**SPOILER ALERT**

If you are waiting for many actions from the musketeers, you will be disappointed, because the only one who is still in the musketeers is D’Artagnan, the captain. And at least until the first half, there are not many actions performed. Aramis plays the biggest part with his idea to switch Louis XIV with his twin. Athos showed his honorable and dignity in front of the King in the early chapters, but suddenly disappeared from the main action. As to Porthos, he became absurd and lazy in this novel. After all, the main attraction is indeed in the hand of Louis XIV and Phillipe. I like how Dumas had written deeply about their characters.

Although the title shows about a man in iron mask, I found Phillipe without it when I met him for the first time in the prison. However, the story of his releasing from Bastille and his taking over his brother’s throne appeared in the first half of the book, so the iron mask would surely show up in the second half. I still hope D’Artagnan and his three friends would be reunited for the last time, and I’m a bit curious of how Monsieur Dumas will end this novel. Would the four men still befriend, or were there anyone who must die? If yes, which one? (please don’t spoil if you know the answer!!).

Hopefully I can post my complete review in no time (although frankly speaking, I feel that writing review for this novel would be difficult… great books are often difficult to review!).

Monday, April 23, 2012

A Midsummer Night’s Dream


Terus terang, baru kali aku mencoba membaca karya drama William Shakespeare. Dan menuruti anjuran beberapa teman, aku akhirnya memilih membaca versi e-book, karena e-book menyediakan semacam thesaurus yang otmatis muncul ketika kita mengarahkan cursor ke kata tertentu. Dan memang benar, tak pernah aku menyelesaikan satu halaman pun tanpa membuka thesaurus, dengan kata lain ada begitu banyak kata ‘asing’ yang kutemui. Kadang-kadang bahkan thesaurus pun tak mendeteksi suatu kata, dan aku harus mencarinya di glossary khusus karya-karya Shakespeare di Shakespeare Glossary. Namun ternyata pengalamanku membaca Shakespeare justru membuatku ingin membaca lebih banyak lagi karyanya.

A Midsummer Night’s Dream ini adalah salah satu karya Shakespeare yang terbanyak difilmkan maupun dimainkan di atas panggung. Karya ini masuk genre komedi (genre yang kupikir pasti lebih ringan daripada sejarah maupun tragedi). Kisahnya dibuka dengan suasana di kerajaan Athens yang sedang bersukacita menantikan pesta pernikahan raja dan ratu mereka: King Theseus dan Queen Hyppollyta. Di tengah semarak persiapan itu, datanglah Egeus menghadap untuk mengadukan persoalan pelik. Putrinya Hermia yang telah dipersiapkannya untuk dinikahkan dengan pemuda bernama Demetrius, ternyata lebih mencintai pemuda lainnya yang bernama Lysander. Egeus malah mengharuskan Hermia untuk memilih antara menikah dengan Demetrius atau mati. King Theseus akhirnya memberikan waktu bagi Hermia untuk berpikir, dan harus member keputusan saat pernikahan sang Raja.

Ingin terbebas dari hukum yang mereka anggap kejam, Hermia dan Lysander berencana untuk melarikan diri ke hutan tempat tinggal bibi Lysander, di mana mereka dapat menikah dengan bebas. Sementara itu, ada seorang gadis bernama Helena yang amat mencintai Demetrius, padahal sang pria mencintai Hermia. Ketika Lysander dan Hermia membocorkan rencana pelarian mereka pada Helena, segera Helena berketetapan hati untuk memberitahu Demetrius, agar Demetrius segera mengejar ke hutan. Di sana—harap Helena—mungkin saja Demetrius akan mengalihkan cinta kepada dirinya. Maka dimulailah petualangan empat tokoh kita di hutan dekat Athens.

Sementara itu di hutan, Raja kaum peri: Oberon sedang resah karena keinginannya tak dikabulkan oleh Ratu Titania. Maka Oberon menyuruh asistennya yaitu Puck untuk mencari serbuk bunga tertentu yang—bila dibuat ramuan—akan membuat orang yang terkena tidur lelap, dan akan jatuh cinta pada orang yang pertama ia lihat ketika bangun. Oberon ingin ‘mengerjai’ istrinya agar menuruti keinginannya. Berangkatlah Puck mencari bunga itu, dan begitu mendapatkannya, Oberon mengoleskannya di pelupuk mata Titania ketika tidur. Sementara itu Oberon mendengar pertengkaran antara Helena—yang ngotot mengekor pada Demetrius, dan Demetrius—yang merasa terganggu dan berusaha mengusir Helena. Oberon pun menyuruh Puck mengoleskan ‘ramuan cinta’ yang sama ke mata si “pria berbusana Athens”, agar mereka berdua menjadi pasangan.

Malangnya si Puck ‘salah alamat’, alih-alih mengoleskan ramuan cinta ke mata Demetrius, ia membubuhkannya ke mata Lysander—yang sama-sama berbusana khas Athens. Dari sini anda akan dapat membayangkan betapa akan kacau dan ironisnya kisah cinta tokoh-tokoh kita ini nantinya gara-gara ramuan cinta itu. Dan kekocakan akan bertambah ketika masuk tokoh-tokoh lain, yaitu para sekelompok pekerja  yang ingin menampilkan sebuah drama pada pesta pernikahan Theseus dan Hyppollyta. Kelucuan timbul saat mereka berebut memerankan tokoh yang mana, dan lebih lucu lagi waktu mereka benar-benar menampilkannya. Meski begitu di kisah utamanya sendiri kadang terselip dialog yang membuat kita tersenyum, misalnya:



“Lysander: You have her fathers love, Demetrius (memang Egeus menyukai Demetrius)
Demetrius: Let me have Hermias; do you marry him.”  


Meski tampaknya tak serius, ada beberapa hal yang tersirat dari drama ini. Shakespeare ingin menyoroti ironisnya cinta. Saat ada dua pemuda dan dua pemudi, bukannya mereka saling berpasangan, namun ternyata ada satu wanita yang dicintai dua pria, dan wanita yang satu lagi tak menerima cinta dari siapa pun. Aku juga melihat kecenderungan wanita yang menganggap pria mencintai wanita hanya karena fisik semata. Dan ketika si wanita mengharap cinta si pria dan tak mendapatkannya, ia pun mulai menyalahkan diri sendiri yang secara fisik kurang menarik disbanding saingannya. Hal ini nampak pada tokoh Helena, yang dialognya diwarnai kegetiran dan cenderung membuat dirinya sendiri jauh lebih rendah daripada Hermia karena cemburu dan iri.



"Happy is Hermia, wheresoeer she lies,
For she hath blessed and attractive eyes.
How came her eyes so bright? Not with salt tears;
If so, my eyes are oftener washd than hers.
No, no, I am as ugly as a bear;
For beasts that meet me run away for fear;
Therefore no marvel though Demetrius
Do, as a monster, fly my presence thus.
What wicked and dissembling glass of mine
Made me compare with Hermias sphery eyne?"



Itulah salah satu contoh dialog ‘galau’ Helena. Contoh bagaimana cinta membuat manusia kadang menjadi buta dan irasional. Bagiku pribadi, itulah yang kudapat dari drama ini. Mungkin ada filosofi lain yang terselip di sana-sini, namun aku hanya berhasil menemukan apa yang telah kutulis ini saja. Semoga kali berikutnya aku akan dapat lebih memahami sekaligus menikmati drama karya Shakespeare.

Tiga bintang untuk A Midsummer Night’s Dream.

Judul: A Midsummer Night’s Dream
Penulis: William Shakespeare
Format: e-book
Penerbit: eshelf Books

e-pages: 63 hlm


Conclusion:
This is the first time I read Shakespeare's play, and frankly speaking I cannot say I enjoyed it very much. First of all, there are several 'strange' words that even did not appear in my Kindle's dictionary. Other than the language (maybe I'm just not familiar with play's language), I found the story is not quite engaging. I can feel the beauty of this play..oh yes, but that's it, nothing more. So I guess I'd just give three stars for A Midsummer Night's Dream. After all, I don't quite like comedy play, so next time I might choose history or even tragedy when I have another mood to read Shakespeare again. What do you think?

The Great Gatsby’s Cover - A Classic Challenge April: Book Cover


The April prompt for A Classic Challenge picks Cover as the topic. It’s a good choice I think, because cover—especially in classics books—speaks strongly of the entire book. Actually I read 3 classics this month, but I will choose to discuss The Great Gatsby by F. Scott Fitzgerald. I picked the Indonesian translation, published by Serambi:


What I like the most from this cover is the color, soft beige, which is the first thing that attired my attention to the book. There are three persons, two men and one woman are standing in the middle of a party took place in a mansion. That was my first impression of this cover, and it turned out to match the book theme. The luxury party and the snob expression of those three persons could reflect the moral decadency of the “Jazz Age”. However, I can’t make a guess of who’s who in this cover. The man in the front, is it Gatsby? Or Tom? If I was the illustrator, I wouldn’t picture Gatsby like that. Gatsby, I think, is more a dreamer than a snob (like the impression of the man in the front). I would rather picture him as a gentleman with self esteem, who is throwing his gaze afar, as if he is looking his fixed target, knowing that he will soon achieve it. I found this cover that perfectly reflects my idea:


taken from listal[dot]com


I also found another cover which accurately pictured Gatsby’s pose when Nick saw him for the first time, pointing his finger to the small green light from across the river. It reflects perfectly about dreaming for the future, reaching something that you can see from where you are standing. However this cover is too gloomy, you’d think it’s a gothic book! No, I won’t pick this!

taken from filmofilia[dot]com


Back to the cover I am discussing, if the man in front is meant to be Tom, it would be strange because this book is about Gatsby, so it must be on Gatsby the cover is focusing. Well, I don’t know…and as the publisher didn’t put the illustrator name, I can’t ask him/her either. Overall, it seems that the woman (Daisy) is torn between the two men. She perhaps will choose the man in the front (Gatsby I presume), but she is somehow still attached to the man behind (Tom I presume), who is staring at her sharply, afraid of losing her. All in all, the whole cover can reflect the story quite well, but I think it’s poor in reflecting the character itself: The Great Gatsby!

Thursday, April 19, 2012

Helena on A Midsummer Night's Dream: Character Thursday (8)

Helena

A Midsummer Night's Dream by William Shakespeare


A Midsummer Night's Dream adalah sebuah karya sastra berupa play (drama), sehingga tak heran bila ada begitu banyak tokoh di dalamnya. Lumayan sulit untuk mengambil satu untuk diulas secara khusus, namun kupikir Helena adalah yang cukup menonjol dari antara (banyak) yang lain, terutama yang berwujud manusia...

Helena berteman dengan Hermia, Demetrius dan Lysander yang sama-sama tinggal di Athens. Karena Lysander dan Hermia saling mencintai, idealnya Demetrius  berpasangan dengan Helena. Tapi, cinta memang tak adil bagi Helena, karena Demetrius ternyata juga mencintai Hermia, meninggalkan Helena yang tak dicintai siapa-siapa.  Kegetiran hati Helena tampak dari seluruh kata-katanya hampir di sepanjang drama ini. Ia pun mulai menyalahkan diri sendiri karena (merasa) tak secantik Hermia, bahkan menganggap dirinya jelek.

"Happy is Hermia, wheresoeer she lies,
For she hath blessed and attractive eyes.
How came her eyes so bright? Not with salt tears;
If so, my eyes are oftener washd than hers.
No, no, I am as ugly as a bear;
For beasts that meet me run away for fear;
Therefore no marvel though Demetrius
Do, as a monster, fly my presence thus.
What wicked and dissembling glass of mine
Made me compare with Hermias sphery eyne?" 

Begitu negatif Helena memandang dirinya sendiri, sampai-sampai ketika Demetrius "terbuka matanya" dan berbalik mencintainya, Helena sama sekali tak mau percaya dan malah menuduh Demetrius mempermainkannya. Lysander yang kena pengaruh ramuan cinta dan tiba-tiba mencintai Helena (bayangkan, dari tak dicintai siapa-siapa tiba-tiba diperebutkan 2 pria), makin menyulut amarah Helena:

"Wherefore was I to this keen mockery born?
When at your hands did I deserve this scorn?"

"O Spite! O hell! I see you all are bent
To set against me for your merriment.
Can you not hate me, as I know you do,
But you must join in souls to mock me too?
You both are rivals, and love Hermia;
And now both rivals, to mock Helena.."

Kupikir sikap Helena banyak dimiliki kaum wanita, yang merasa bahwa pria mencintai wanita hanya karena paras atau penampilannya (tinggi dan langsung), dan bahwa bila pria yang diinginkan cintanya ternyata tak membalasnya, maka kesalahan ada di pihak si wanita karena tak secantik saingannya. Herannya, Helena juga lah yang mendeskripsikan hakikat cinta dengan bijaknya di drama ini.

"Things base and vile, holding no quantity,
Love can transpose to form and dignity.
Love looks not with eyes, but with the mind;
And therefore is wingd Cupid painted blind.
Nor hath loves mind of any judgement taste;
Wings and no eyes figure unheedy haste:.."

Bagaimana bisa wanita yang dengan bijaknya mampu memahami cinta, namun pada prakteknya malah bersikap kekanakan? Entahlah...mungkin wanita (juga pria) yang sedang jatuh cinta bisa menjadi irasional. Lihat saja Helena, yang justru karena begitu inginnya dihargai atau dipuji oleh Demetrius, membocorkan rahasia Lysander dan Hermia yang akan kabur ke hutan. Padahal ia tahu hal itu hanya membuat Demetrius akan mengejar Hermia. Rasanya lebih bijak bila Helena diam-diam saja, dan membiarkan Demetrius patah hati karena kekasihnya menghilang, dan (mungkin) akan berpaling kepada Helena. Tapi...lagi-lagi..cinta memang membuat orang irasional!

Dan inilah Helena di film adaptasi drama ini versi tahun 1999 yang diperankan oleh: Calista Flockhart.



So…who is your Character Thursday this week?

----

Character Thursday
Adalah book blog hop di mana setiap blog memposting tokoh pilihan dalam buku yang sedang atau telah dibaca selama seminggu terakhir (judul atau genre buku bebas).
- Kalian bisa menjelaskan mengapa kalian suka/benci tokoh itu, sekilas kepribadian si tokoh, atau peranannya dalam keseluruhan kisah.
- Jangan lupa mencantumkan juga cover buku yang tokohnya kalian ambil.
- Kalau buku itu sudah difilmkan, kalian juga bisa mencantumkan foto si tokoh dalam film, atau foto aktor/aktris yang kalian anggap cocok dengan kepribadian si tokoh.

Syarat Mengikuti :
1. Follow blog Fanda Classiclit sebagai host, bisa lewat Google Friend Connect (GFC) atau sign up via e-mail (ada di sidebar paling kanan). Dengan follow blog ini, kalian akan selalu tahu setiap kali blog ini mengadakan Character Thursday Blog Hop.
2. Letakkan button Character Thursday Blog Hop di posting kalian atau di sidebar blog, supaya follower kalian juga bisa menemukan blog hop ini. Kodenya bisa diambil di kotak di button.
3. Buat posting dengan menyertakan copy-paste “Character Thursday” dan “Syarat Mengikuti” ke dalam postingmu.
3. Isikan link (URL) posting kalian ke Linky di bawah ini. Cantumkan nama dengan format: Nama blogger @ nama blog, misalnya: Fanda @ Fanda Classiclit.

4. Jangan lupa kunjungi blog-blog peserta lain, dan temukan tokoh-tokoh pilihan mereka. Dengan begini, wawasan kita akan bertambah juga dengan buku-buku baru yang menarik…



Fanda Classiclit

Monday, April 16, 2012

The Great Gatsby


Impian dan kenyataan. Di manakah seharusnya kita berpijak? Menurutku kita seharusnya menempatkan satu kaki pada pijakan yang pertama dan satu kaki lagi di pijakan lainnya. Hidup kita tidak akan stabil bila kita hanya menumpukan diri pada salah satu pijakan saja. The Great Gatsby adalah kisah tentang impian. Impian seorang pria bernama Gatsby untuk mempersunting gadis pujaannya yang kaya raya, sekaligus impian Amerika—sebagai negara dan pribadi—untuk melesat menuju kemajuan setelah lepas dari Perang Dunia I. Dan F. Scott Fitzgerald telah menganyamnya dengan cantik lewat buku ini.

The Great Gatsby dikisahkan dari sudut pandang Nick Carraway yang menjadi naratornya. Nick adalah pria muda yang setelah bergabung dalam perang, memutuskan untuk mencoba terjun dalam bisnis obligasi yang mulai bergiat setelah usai perang. Nick membeli rumah di West Egg (salah satu bagian pulau kecil yang berbentuk mirip telur di timur New York, yang dipisahkan oleh teluk dengan pulau satunya yang disebut East Egg), tepat di sebelah loji (mansion) milik seorang pria misterius bernama Gatsby. Di awal kisah, Fitzgerald—lewat Nick—telah mengingatkan kita untuk tidak menilai seseorang hanya dengan prasangka kita semata, karena dengan begitu kita akan gagal melihat yang sebenarnya.

Setiap kali kamu ingin mengkritik seseorang, ingatlah bahwa semua orang di dunia ini tidak memiliki kelebihan seperti yang kamu miliki.” ~hlm. 7.


Penilaian awal Nick terhadap Gatsby tak terlalu baik. Suatu malam setelah pulang dari kunjungannya ke sepupunya Daisy dan suaminya Tom Buchanan di East Egg, Nick mendapati sesosok pria berdiri dalam gelap memandang ke seberang teluk, tepatnya ke sebuah cahaya kecil berwarna hijau di ujung dermaga. Misterius…itulah kurasa kesan pertama Nick terhadap tetangganya. Kesan kedua muncul ketika Mr. Gatsby mengundangnya ke pesta dansa di mansionnya, hanya dengan selembar undangan yang dikirimkan sopirnya. Nick mungkin saja merasa kecongkakan Gatsby yang tak mau menyambut sendiri tamunya, meski pada akhirnya ia mendapati bahwa Gatsby cukup menghargai dirinya.

Di pesta itu juga bergulir gosip-gosip tentang jatidiri Gatsby yang misterius. Semua bergunjing siapa sebenarnya Gatsby—lulusan Oxford atau bukan, bisnisnya legal atau illegal, dan pernah atau tidak ia membunuh seseorang. Seperti biasa, gunjingan itu berasal dari mereka yang hanya mengenal Gatsby hanya sebatas sebagai tuan rumah pesta yang mewah.

Kedekatan Nick dan Gatsby dimulai ketika melalui Jordan—wanita atlet golf yang menawan hati Nick—Gatsby ingin meminta bantuan pribadi Nick. Dari Jordan pula Nick mengetahui bahwa Jay Gatsby adalah kekasih masa muda Daisy Buchanan sepupu Nick. Lima tahun telah berlalu, opsir muda miskin itu telah menjelma menjadi jutawan penuh pesona, dan kini Gatsby siap merengkuh impiannya untuk menggenggam kembali hati Daisy. Satu-satunya alasan Gatsby membeli mansion di West Egg adalah untuk mendekat ke Daisy. Gatsby minta tolong Nick untuk mengundang Daisy ke acara minum teh di rumah Nick untuk dapat kembali meraih cintanya.

Di titik ini Nick mulai dapat mengurai masa lalu misterius Gatsby. Ia dulu pernah berperang—seperti Nick, dan saat itulah Gatsby bertemu dan jatuh cinta pada Daisy yang putri orang kaya. Setelah perang usai, Daisy masih belum tahu bahwa Gatsby sesungguhnya miskin—berbeda dari kesan yang didapat Daisy. Karena sadar tak akan mampu memiliki Daisy, Gatsby pun pergi untuk melakukan apapun demi meraih impian menjadi kaya dan hidup dalam keindahan yang ia lihat pada diri orang-orang kaya baru (OKB) saat itu. Ketekunan dan ambisinya membawa Gatsby selangkah demi selangkah ke dunia bisnis, yang—meski mungkin tidak sepenuhnya legal—akhirnya membawa Gatsby kepada kekayaan lima tahun kemudian.

Di sisi lain, Daisy yang bosan menunggu Gatsby akhirnya menikah dengan Tom Buchanan. Hanya untuk menemukan bahwa suaminya pria yang arogan dan tidak setia, karena ia hampir secara terang-terangan memiliki affair dengan wanita lain. Bahkan Tom suka bertindak kasar kepada Daisy maupun WIL-nya yang bernama Myrtle. Dengan vulgarnya, Tom juga memperkenalkan Myrtle pada Nick. Lalu suatu hari terjadilah dua insiden berturut-turut yang akhirnya mengubah penilaian Nick selamanya terhadap Tom, Daisy dan Jordan di satu sisi, dan Gatsby di sisi lainnya.

Ketika hubungan Daisy dan Gatsby yang kembali menghangat tercium oleh Tom, mereka berlima berjalan-jalan ke kota dengan 2 mobil untuk mendinginkan diri. Di sanalah Tom mulai menekan Gatsby dengan membeberkan hal-hal negatif tentang dirinya, dan dibalas Gatsby dengan mengatakan bahwa Daisy akan pergi dari Tom untuk hidup bersama Gatsby. Lalu dalam perjalanan pulang, sebelum tiba di rumah, salah satu mobil mereka menabrak seorang wanita hingga meninggal.

Dari insiden itulah akhirnya Nick dapat menilai mereka semua dengan sebenar-benarnya. Dan di sini penilaian negatif Nick terhadap Gatsby berubah sepenuhnya menjadi positif.

Mereka itu sekumpulan manusia busuk. Sekalipun mereka semua disatukan, kau tetap lebih layak daripada mereka.” ~hlm. 235. Sebuah pujian yang diberikan Nick kepada Gatsby.


Selain mengulas tentang gaya hidup hedonis para OKB di Amerika setelah perang, Fitzgerald dalam gaya penulisan yang atraktif ini, juga mengarahkan perhatian kita pada degradasi moral mereka yang hanya fokus pada kesejahteraan mereka sendiri dan mengabaikan orang lain. Tentu saja, Fitzgerald juga menyinggung tentang impian. Impian Amerika saat itu terwakili oleh impian Gatsby. Bermimpi adalah hal yang positif, karena bermimpi akan membuat kita mampu mencapai kenyataan yang lebih baik, selama kita tetap menyadari batas antara impian dan kenyataan.

Esok kita akan berlari lebih cepat, merentangkan tangan lebih lebar… Dan pada suatu pagi yang indah—… Jadi kita terus bergerak, maju melawan arus, pantang surut ke masa lalu.” ~hlm. 276.


The Great Gatsby adalah sebuah kisah indah yang mengesankan, dengan ending yang mengejutkan. Walau diawali dengan agak bertele-tele, namun setelah kita menamatkannya, barulah kita akan mengerti bagaimana kita harus melihat dan menilai mengapa Gatsby dianggap “great” dalam judul buku ini, juga nilai-nilai apa yang akan tertanam di benak kita lama setelah kita menutup lembar terakhir buku ini.

Lima bintang untuk The Great Gatsby, the great novel!

Judul: The Great Gatsby
Penulis: F. Scott Fitzgerald
Penerjemah: Sri Noor Verawaty
Penerbit: Serambi
Terbit: Oktober 2010
Tebal: 286 hlm


Conclusion:


I didn't expected to like this book, as I have read it years ago and couldn't enjoy it. Perhaps it's because of the translation. Anyway, I reread it, and this time I like it very much. The Great Gatsby isn't just about the Jazz Age (as Fitzi called it), but also about love, trust, betrayal and morality. What I like most is how Fitzi wrote it, which encouraged me to read his other works. I also agree with him with the title: The Great Gatsby. Despite of his illegal business, Gatsby has a great personality, especially when compared to the Buchanan couple.. 

Thursday, April 12, 2012

Daisy Buchanan on The Great Gatsby: Character Thursday (7)

Daisy Buchanan

The Great Gatsby by F. Scott Fitzgerald


Meski tak disebutkan secara eksplisit di sepanjang novel The Great Gatsby ini, namun aku menduga Daisy adalah sosok wanita yang cantik. Ia jelas anak orang kaya, jadi dandanannya pun pasti bergaya. Gambaran paling jelas tentangnya justru datang dari Nick, sang narator kisah ini. Menurutnya, Daisy punya kebiasaan mengatakan sesuatu dengan berbisik, untuk membuat orang condong ke arahnya. Di beberapa bagian ia juga sering tertawa sambil mencondongkan tubuh. Aku membayangkan Daisy sebagai sosok wanita yang terbiasa diperhatikan dan dipuja kaum pria terutama, dan terbiasa mendapatkan apa yang diinginkannya.

Dan memang begitulah keadaannya ketika seorang opsir muda miskin bernama Gatsby jatuh cinta kepadanya. Andai Daisy saat itu tahu bahwa Gatsby sebenarnya miskin, ia tak mungkin jatuh cinta. Dan kenyataannya saat Gatsby tak kunjung melamarnya setelah perang, ia kembali 'membuka diri' bagi para pria pemujanya, dan akhirnya menikah dengan Tom Buchanan yang sama-sama kaya.

Sebenarnya kedangkalannya itu masuk akal mengingat latar belakangnya. Namun yang membuatku tak suka pada Daisy adalah sikap egois-semau-gue-nya. Ketika ia kecewa karena Tom selingkuh, dan tahu bahwa Gatsby ingin kembali padanya, ia langsung 'menghambur ke pelukan Gatsby'. Namun saat Tom mulai membeberkan kejelekan Gatsby--meski belum tentu sepenuhnya benar, dengan gampangnya Daisy kembali kepada Tom.

Yang lebih parah lagi adalah 'persekongkolan' Daisy dengan Tom setelah insiden kecelakaan itu terjadi (aku tak mau mengungkap secara gamblang, tapi kalau anda sudah membaca buku ini pasti mengerti maksudku). Bagaimana bisa Daisy yang mengaku mencintai Gatsby kabur begitu saja dan menimpakan semuanya kepada pria yang mencintainya dengan begitu besar hingga obsesif, bahkan mengorbankan diri deminya?

Bagiku menjadi orang kaya bukanlah sesuatu yang salah. Namun pengabaian terhadap kemanusiaan demi keselamatan sendiri itulah yang membuat Daisy turun derajat serendah-rendahnya di mataku...

Seperti inilah sosok Daisy Buchanan di film yang akan diputar Desember 2012 nanti:





Character Thursday
Adalah book blog hop di mana setiap blog memposting tokoh pilihan dalam buku yang sedang atau telah dibaca selama seminggu terakhir (judul atau genre buku bebas).
- Kalian bisa menjelaskan mengapa kalian suka/benci tokoh itu, sekilas kepribadian si tokoh, atau peranannya dalam keseluruhan kisah.
- Jangan lupa mencantumkan juga cover buku yang tokohnya kalian ambil.
- Kalau buku itu sudah difilmkan, kalian juga bisa mencantumkan foto si tokoh dalam film, atau foto aktor/aktris yang kalian anggap cocok dengan kepribadian si tokoh.

Syarat Mengikuti :
1. Follow blog Fanda Classiclit sebagai host, bisa lewat Google Friend Connect (GFC) atau sign up via e-mail (ada di sidebar paling kanan). Dengan follow blog ini, kalian akan selalu tahu setiap kali blog ini mengadakan Character Thursday Blog Hop.
2. Letakkan button Character Thursday Blog Hop di posting kalian atau di sidebar blog, supaya follower kalian juga bisa menemukan blog hop ini. Kodenya bisa diambil di kotak di button.
3. Buat posting dengan menyertakan copy-paste “Character Thursday” dan “Syarat Mengikuti” ke dalam postingmu.
3. Isikan link (URL) posting kalian ke Linky di bawah ini. Cantumkan nama dengan format: Nama blogger @ nama blog, misalnya: Fanda @ Fanda Classiclit.
4. Jangan lupa kunjungi blog-blog peserta lain, dan temukan tokoh-tokoh pilihan mereka. Dengan begini, wawasan kita akan bertambah juga dengan buku-buku baru yang menarik…




Fanda Classiclit

Thursday, April 5, 2012

Jay Gatsby on The Great Gatsby: Character Thursday (6)


Jay Gatsby

(The Great Gatsby by F. Scott Fitzgerald)



"Sejauh 15 meter dariku, sebuah sosok muncul dari balik bayangan loji tetanggaku dan sedang berdiri dengan tangan dimasukkan ke saku, mengamati taburan perak bintang-bintang. Sesuatu dalam gerakan santainya dan pijakan mantap kakinya di halaman mengisyaratkan bahwa itu adalah Mr. Gatsby... Dia tampak sedang menikmati kesendiriannya--tangannya menunjuk ke perairan yang gelap dengan cara yang aneh, dan meskipun aku jauh dari dia, aku bersumpah aku melihat dia gemetar. Tanpa sengaja aku melirik ke arah laut--dan tidak melihat apa pun selain sebuah cahaya hijau, sangat kecil dan jauh, mungkin itu adalah ujung sebuah dermaga. Saat aku berpaling ke arah Mr. Gatsby sekali lagi, dia telah menghilang, dan aku pun sendirian lagi di tengah kegelapan yang berisik." ~hlm. 38.

Begitulah perkenalanku pertama kali dengan sosok Jay Gatsby, lewat penuturan Nick Carraway, tetangga dan teman Gatsby, sekaligus narator kisah The Great Gatsby ini. Dari penuturan itu aku langsung merasakan kepribadian yang kuat sekaligus rapuh, misterius dan sendirian. Setelah aku menamatkan kisah ini, adegan Gatsby berdiri di kegelapan dan menunjuk cahaya hijau kecil nan jauh itu begitu mengesan di benakku.


Jay Gatsby adalah pria dengan impian besar yang nyaris mustahil, namun dengan keyakinan yang juga besar ia terus berjuang untuk merengkuhnya. Impian itu adalah sosok gadis kaya yang dicintainya, Daisy Buchanan--saat ia sendiri masih seorang opsir muda miskin. Dengan berbagai cara--meski kadang ilegal--ia berhasil menjadi orang kaya dalam 5 tahun.

Aku mengagumi Gatsby bukan karena jalan pintas menuju kekayaan yang dipilihnya, melainkan keberaniannya bermimpi dan persistensinya untuk terus memelihara mimpi itu. Aku mengagumi Gatsby bukan karena ia ingin merebut istri pria lain, melainkan keteguhannya untuk melindungi wanita yang ia cintai.


Gatsby--tak seperti tokoh-tokoh kaya lainnya di kisah ini--adalah pria yang memiliki prinsip, dan itulah yang pada akhirnya disadari juga oleh Nick..



"Mereka itu sekumpulan manusia busuk. Sekalipun mereka semua disatukan, kau tetap lebih layak daripada mereka" ~hlm. 235.

Kalau sejauh ini aku tampak terpesona pada Gatsby, yah...itu karena Gatsby memang memiliki karisma dan kepribadian yang mempesona. Tidak salah bila di film yang akan beredar Desember nanti, sosoknya diperankan oleh Leonardo diCaprio, yang aku yakin akan mampu menampilkan Jay Gatsby tepat seperti yang kubayangkan.





Salah satu pesonanya terletak, mungkin, pada senyumnya.



"Dia tersenyum penuh pengertian--jauh lebih dari sekadar pengertian. Senyum seperti itu adalah salah satu senyum langka yang di dalamnya terkandung kualitas yang bisa menentramkan hatu selamanya, mungkin hanya akan kaujumpai empat atau lima kali seumur hidup. Senyum tersebut menghadapi--atau seolah menghadapi--seluruh dunia luar dalam sekejap mata, kemudian berkonsentrasi kepadamu dengan prasangka tak tertahankan yang menguntungkanmu. Senyum tersebut memahamimu hanya sejauh kamu ingin dipahami, memercayaimu seperti kamu ingin memercayai dirimu sendiri, dan meyakinkanmu bahwa itu memiliki kesan yang tepat tentangmu, sisi terbaikmu yang kamu harap bisa kautunjukkan." ~hlm. 78.


Jay Gatsby memang layak disebut sebagai salah satu karakter paling legendaris dalam fiksi dunia! Yah...paling tidak bagiku...


-------


Character Thursday

Adalah book blog hop di mana setiap blog memposting tokoh pilihan dalam buku yang sedang atau telah dibaca selama seminggu terakhir (judul atau genre buku bebas).

- Kalian bisa menjelaskan mengapa kalian suka/benci tokoh itu, sekilas kepribadian si tokoh, atau peranannya dalam keseluruhan kisah.

- Jangan lupa mencantumkan juga cover buku yang tokohnya kalian ambil.

- Kalau buku itu sudah difilmkan, kalian juga bisa mencantumkan foto si tokoh dalam film, atau foto aktor/aktris yang kalian anggap cocok dengan kepribadian si tokoh.


Syarat Mengikuti :


1. Follow blog Fanda Classiclit sebagai host, bisa lewat Google Friend Connect (GFC) atau sign up via e-mail (ada di sidebar paling kanan). Dengan follow blog ini, kalian akan selalu tahu setiap kali blog ini mengadakan Character Thursday Blog Hop.

2. Letakkan button Character Thursday Blog Hop di posting kalian atau di sidebar blog, supaya follower kalian juga bisa menemukan blog hop ini. Kodenya bisa diambil di kotak di button.

3. Buat posting dengan menyertakan copy-paste “Character Thursday” dan “Syarat Mengikuti” ke dalam postingmu.

3. Isikan link (URL) posting kalian ke Linky di bawah ini. Cantumkan nama dengan format: Nama blogger @ nama blog, misalnya: Fanda @ Fanda Classiclit.

4. Jangan lupa kunjungi blog-blog peserta lain, dan temukan tokoh-tokoh pilihan mereka. Dengan begini, wawasan kita akan bertambah juga dengan buku-buku baru yang menarik…


Fanda Classiclit

Monday, April 2, 2012

L'Assommoir


Zola called this (book) 'the first novel about the common people that does not lie'.

Dan memang benar, itulah yang kudapat setelah menamatkan buku setebal 440 halaman ini. L'Assommoir sendiri adalah kata dalam bahasa Prancis yang artinya 'rumah minum' atau dram shop dalam bahasa Inggrisnya. L'Assommoir ini banyak terdapat di jalanan kota Paris, terutama di distrik tempat kelas pekerja tinggal, di abad 19. Lewat L'Assommoir, Émile Zola ingin menunjukkan bagaimana kemiskinan dapat berakibat pada hidup kaum pekerja itu.

Gervaise adalah tokoh sentral di buku ini, seorang wanita muda yang cantik namun miskin. Di kamar sempit di sebuah hotel bobrok di pinggiran Paris, ia tinggal bersama kekasihnya—Lantier—yang malas dan kerjanya hanya bersenang-senang menghabiskan gaji Gervaise. Ketika Lantier akhirnya mencampakkan Gervaise, Gervaise pun terpaksa bekerja sebagai buruh cuci di sebuah 'rumah cuci' (laundress) untuk menghidupi dirinya dan kedua anaknya yang masih kecil. Beruntung bagi Gervaise, seorang tukang atap (roofer) jatuh cinta kepadanya. Dan setelah pendekatan yang tekun dan makan waktu lama, Gervaise pun akhirnya setuju menikah dengan si tukang atap yang bernama Coupeau.

Coupeau adalah pria yang ideal untuk seorang suami. Seorang pekerja yang berdedikasi dan mencintai pekerjaannya, juga seorang suami yang mencintai dan menghargai pendapat istrinya. Bahkan ketika Gervaise memimpikan membuka sendiri sebuah laundress di gedung bekas toko, Coupeau pun mendukungnya. Dengan tabungan ditambah pinjaman dari tetangga, akhirnya Gervaise menjadi pemilik sebuah laundress impiannya yang telah ia atur sedemikian rupa sehingga menjadi rumah cuci baru yang menarik penduduk di sekitarnya. Tak lama kemudian, laundress Gervaise mencapai sukses. Dan seperti biasa di pemukiman seperti itu, para tetangga mulai sirik akan keberhasilan Gervaise, terutama keluarga Lorilleux (Mme. Lorilleux adalah kakak Coupeau). Semua itu diperparah dengan sikap Gervaise dan Coupeau yang dengan amat kentara memamerkan kekayaan mereka dengan mengadakan pesta makan malam yang mewah (meski pun mereka harus menghabiskan tabungan demi membayar makanan dan anggur mewah).

Namun kebahagiaan itu tak bertahan lama. Suatu hari, disaksikan Gervaise dan Nana—anak perempuan mereka—Coupeau terjatuh dari atap ketika sedang bekerja. Kecelakaan itu adalah awal malapetaka keluarga mereka. Terkurung di tempat tidur dan tak mampu bekerja, ternyata membuat Coupeau langsung terpuruk. Begitu ia sudah mampu berjalan, alih-alih mulai mencari pekerjaan, ia malah berjalan tak tentu arah dan akhirnya berbelok masuk ke rumah minum dan mulai menyukai minuman keras—hal yang dulu menjadi pantangannya sebagai tukang atap yang profesional dan menjadi kebanggaannya bahwa ia tak mempan terhadap godaan minuman keras. Dan karena Coupeau tak bekerja, tentu saja ia jajan minuman dari uang saku yang diberikan Gervaise. Di sinilah kesalahan awal Gervaise, karena ia begitu toleran dan percaya kepada suaminya, ia tenang-tenang saja ketika sang suami mulai suka minum-minum.

Gervaise laughed and shrugged her shoulders. What harm was there if her hubby was having a bit of fun? You shouldn’t keep your man on too tight a rein if you wanted peace at home. One thing led to another and before you knew it, you’d come to blows.” ~hlm. 137.

Sedikit demi sedikit, perlahan-lahan kebiasaan minum Coupeau bersama teman-temannya makin parah hingga akhirnya ia sama sekali berhenti bekerja. Hal itu mengakibatkan keuangan laundress carut-marut. Hutang mulai bertumpuk, para relasi mulai menjauh, dan akhirnya Gervaise dan laundressnya makin terpuruk. Satu hal yang turut mempercepat kejatuhannya adalah Lantier, sang kekasih lama yang kembali ke kehidupan keluarga Coupeau. Bukan dari Gervaise, namun justru undangan berasal dari Coupeau. Lantier si lintah itu akhirnya menempel dan menggerogoti rumah tangga mereka. Kalau itu belum cukup, anak perempuan mereka—Nana—yang karena kemiskinan dan pergaulan, akhirnya menjadi liar.

Hingga di sini, mungkin anda merasa tak asing dengan situasinya? Ya, kemiskinan memang selalu menghasilkan cerita nan serupa, di belahan bumi manapun, di abad berapapun. Di buku ini, secara khusus Zola memasukkan unsur minuman keras sebagai salah satu musuh para pekerja. Akibat nyata dari minuman keras ini pada tubuh manusia akan tergambar dengan sangat frontal pada diri Coupeau menjelang akhir buku. Membaca uraian Zola membuat siapa pun yang pernah minum minuman keras akan merasa ngeri!

Namun efek minuman keras ternyata tak hanya diderita oleh si peminum sendiri, namun juga keluarganya. Setelah menjadi peminum, perangai Coupeau berubah 180 derajat. Ia menjadi pemarah, picik, suka memukul Gervaise, dan tak lagi peduli pada dunia sekitar. Ia lah yang boleh dibilang menyeret seluruh keluarganya ke dalam kemiskinan yang paling rendah. Bahkan saat Gervaise yang kelaparan tak punya uang sepeserpun untuk makan, Coupeau malah menyuruh istrinya menjajakan dirinya sendiri di jalan kalau ia mau! Yang membuatku makin benci pada minuman keras, adalah para peminum cenderung mempengaruhi mereka yang masih sedikit memiliki akal sehat untuk tetap bekerja. Sudah berdosa, mereka menambah dosa dengan mengajak orang lain berdosa.

Pada akhirnya, nampak sangat jelas mengapa kemiskinan dan minuman keras seolah menjadi satu bagian yang terelakkan. Minuman keras adalah salah satu pelarian dari derita kemiskinan. Padahal hanya ada satu cara untuk berjuang melawan kemiskinan, yaitu dengan bekerja keras. Memang, meski sudah bekerja keras, banyak yang miskin tetap saja miskin. Tapi, bukankah meski miskin harta, mereka tetap kaya dalam hal moral? Banyak orang miskin yang akhirnya menjadi makin terpuruk karena tak mau berjuang, dan akhirnya menyalahkan nasib, pemerintah, orang lain, bahkan Tuhan.

Yes, they’d only themselves to blame if they sank lower every season. But you don’t ever admit things like that to yourself, especially not when you’re down in the gutter.” ~hlm. 324.

Kodrat manusia memang menghindari penderitaan, namun bukan berarti lari dari kenyataan membuat hidup lebih baik. Tokoh-tokoh di buku ini telah membuktikannya, mereka yang hendak lari dari kenyataan seperti Coupeau, pada akhirnya malah terpuruk lebih dalam daripada bila ia tetap berjuang, meski mungkin juga tak pernah menjadi kaya. Aku salut pada tokoh Goujet, seorang pekerja yang bangga pada pekerjaannya dan sama sekali tak menyentuh minuman keras. Sayang sekali, Gervaise yang tinggi hati harus menampik tawaran pria itu untuk hidup bersamanya.

Tak banyak yang dapat aku ungkapkan tentang buku ini, selain bahwa buku ini benar-benar membuatku tersentak…shock mungkin lebih tepat. Bukan hanya kemiskinan yang ekstrem dan kelaparan itu sendiri yang mengusik nuraniku, namun juga pengabaian mereka yang sebenarnya sama-sama miskin. Aku tak habis pikir, mengapa mereka harus membenci Gervaise? Apakah karena Gervaise pernah mendaki ke tingkat yang lebih tinggi dari mereka? Ah…tapi toh sekarang ia terlontar jatuh karena kesombongannya itu kan? Bukankah ia telah membayarnya dengan menjadi lebih miskin dari mereka semua? Lalu mengapa mereka semua—alih-alih menghibur dan mendampingi—seolah hanya menonton dari jauh bagaimana Gervaise ‘rotten to death’?

Menurutku Zola bukan saja memaksa kita memahami tentang kemiskinan dan kesombongan, namun juga menyadarkan kita akan sikap kita sendiri terhadapnya. Aku bangga terhadap Gervaise, yang meski sudah nyaris mati kelaparan, namun masih menyisakan keprihatinan bagi seorang anak korban penyiksaan ayahnya, bahkan berusaha membelanya. Ya…Gervaise memang memiliki kelemahan dan melakukan kesalahan, namun ia juga telah menebusnya dengan penderitaan dan cintanya pada sahabat-sahabatnya.

Kalau anda mengharapkan cerita yang menghibur, jangan membaca buku ini. Karena Zola menuliskan kisah ini senyata-nyatanya. Bahkan gaya bahasanya meminjam gaya bahasa slank yang digunakan para pekerja. Kemiskinan digambarkan olehnya dengan begitu gamblang, tanpa pemanis, tanpa hiasan. Memang itulah ciri khas tulisan Zola yang naturalis. Sudah dua kali aku membaca karya Zola, dan dua kali pula aku tersentak. Karya Zola memang akan selalu mengesan, tapi bukan dengan cara yang biasa. Seperti yang dikatakan Zola sendiri tentang buku ini dalam prakata:

I wanted to depict the inexorable downfall of a working-class family in the poisonous atmosphere of our industrial suburbs. Intoxication and idleness lead to a weakening of family ties, to the filth of promiscuity, to the progressive neglect of decent feelings and ultimately to degradation and death. It is simply morality in action.

Lima bintang untuk L’Assommoir!

*Review ini kubuat bertepatan dengan—dan sebagai hadiah—ulang tahun Émile Zola yang ke 172 (2 April 1840 – 2 April 2012). Happy birthday Mr. Zola! And thank you for your unique and remarkable writing.*


Judul: L’Assommoir
Penulis: Émile Zola
Penerbit: Oxford University Press
Terbit: 2009
Tebal: 440 hlm