Showing posts with label Gramedia. Show all posts
Showing posts with label Gramedia. Show all posts

Wednesday, February 29, 2012

The Murder of Roger Ackroyd

Andai pria eksentrik yang sudah pensiun dari profesinya itu tidak memilih kota kecil bernama King’s Abbot untuk melewatkan masa tuanya dengan bertanam labu, pasti pembunuhan itu takkan pernah terungkap.

Serangkaian peristiwa kematian telah terjadi di kota kecil King’s Abbot. Setelah Mr. Ferrars meninggal—banyak orang menduga ia diracuni istrinya—kini King’s Abbot tiba-tiba dikejutkan oleh kematian sang janda itu sendiri. Di rumah Dokter Sheppard terjadi pembicaraan seru akan penyebab kematian Nyonya Ferrars. Caroline, kakak perempuan Dokter Sheppard yang kerjaannya mengorek informasi—dan menyebarkannya secepat ia mendapatkannya—yakin bahwa Nyonya Ferrars bunuh diri karena menyesali perbuatannya. Benarkah demikian?

Selama ini desas-desus telah menyebar di kota bahwa Nyonya Ferrars adalah kekasih Roger Ackroyd, pria terkaya di kota yang memiliki rumah besar bernama Fernly Park. Kematian Nyonya Ferrars mengejutkan Ackroyd, maka ketika ia berjumpa dengan Dokter Sheppard sahabatnya, Ackroyd pun mengundang sang dokter untuk makan malam di rumahnya.

Sementara itu keluarga Sheppard memiliki hal lain yang patut diperdebatkan. Yaitu kedatangan tetangga baru misterius mereka di rumah sebelah. Seorang pria tua pensiunan dari—entah apa pekerjaannya—yang ingin menyendiri dari kebisingan dunia. Caroline yang jago mengorek rahasia orang pun menyerah kalah dan tak bisa menebak jati diri pria misterius yang sedang gemar bertanam labu itu.

Kembali ke Fernly Park, saat Dokter Sheppard datang untuk makan malam, kita pun diperkenalkan kepada tokoh-tokoh kisah ini. Ada Mrs. Ackroyd, ipar Roger Ackroyd yang menjanda; lalu Flora Ackroyd putrid semata wayangnya. Lalu para bawahan Ackroyd: Raymond sang sekretaris efisien, Mrs. Russel si pengurus rumah tangga, dan Parker si kepala pelayan. Dari luar keluarga, ada Hector Blunt—sahabat keluarga yang pendiam dan sedang menginap di sana. Sebenarnya Ackroyd memiliki seorang putra yang bandel dan sering terlibat kesulitan bernama Ralph Paton, yang saat itu sedang jauh dari rumah.

Malam itu merupakan malam terakhir Roger Ackroyd di dunia. Karena hanya beberapa saat setelah Dokter Sheppard tiba di rumah kembali, sebuah panggilan telepon masuk membawa berita bahwa Roger Ackroyd ditemukan telah meninggal dunia di ruang kerjanya. Pasti itu terjadi gara-gara surat yang diterimanya malam itu. Surat terakhir Nyonya Ferrars yang mungkin akan mengungkap jatidiri orang yang selama ini memerasnya. Pemerasan yang harus ia alami karena ada orang yang mengetahui bahwa ia telah meracuni suaminya. Pemerasan yang terlalu menekannya sehingga membuatnya mengambil keputusan untuk bunuh diri. Itulah sebabnya Roger Akroyd kini harus mati…

Polisi segera dipanggil, dan penyelidikan pun segera berlangsung. Namun Flora Ackroyd secara pribadi mengajak Dokter Sheppard untuk berkunjung ke rumah si tetangga misterius, yang ternyata tak lain dan tak bukan adalah Hercule Poirot yang sedang menjalani masa pensiunnya! Ya, M. Poirot sang detektif ternama yang telah membongkar banyak misteri pembunuhan itu ternyata tinggal di King’s Abbot. Dan gara-gara pembunuhan Roger Ackroyd, buyarlah rencananya untuk menyepi sambil bertanam sayuran.

Seperti biasanya Hercule Poirot langsung beraksi dengan keunikan-keunikannya—dibantu oleh sel-sel kecil kelabu otaknya yang sangat dibanggakan itu. Menggantikan posisi Hastings, sahabat yang dikasihi dan dirindukannya, ia menawarkan kesempatan kepada Dokter Sheppard untuk menyelidik bersama. Satu persatu petunjuk terkuak, dan tiap kali selalu menunjuk ke Ralph Paton sebagai pelakunya. Motif, kesempatan, dan kenyataan bahwa Ralph menghilang begitu saja begitu pembunuhan itu terjadi. Benarkah ia pelakunya? Atau seperti biasanya, si pelaku adalah orang yang paling tak mungkin sebagai pelakunya?

The Murder of Roger Ackroyd ini ditulis dalam bentuk sebuah catatan yang ditulis oleh Dokter Sheppard (mencontoh Hastings). Dengan demikian, kisah ini dituturkan dari sudut pandang orang pertama. Dengan piawainya Agatha menulis buku ini seolah memang ditulis oleh pribadi Dokter Sheppard. Seolah lewat kisah ini pula kita mengenal Dokter Sheppard secara personal. Yang jelas, ada perbedaan yang signifikan dengan gaya penulisan kasus Poirot yang dikisahkan oleh Hastings.

Sebenarnya ini adalah kali ketiga aku membaca buku ini. Waktu pertama membaca, aku baru bisa menduga-duga pelakunya pada bab terakhir. Dan memang, kasus ini adalah kasus yang paling tak terduga endingnya dari semua karya Agatha Christie yang pernah kubaca. Bahkan saat kedua dan ketiga aku membaca ulang, aku masih terkesima dengan kepiawaian Agatha untuk menyusupkan petunjuk-petunjuk mulai dari awal kisah. Seperti yang selalu dikatakan Poirot kepada Hastings maupun Dokter Sheppard, kita selalu disediakan semua petunjuk yang ada dari semula. Yang harus kita lakukan adalah tidak mempercayai suatu fakta sebelum terbukti kebenarannya. Dengan membersihkan otak (dan emosi) dari semua praduga, maka mungkin kita akan bisa menyelami pikiran Hercule Poirot dengan sel-sel kelabu kecil milik kita sendiri. Tapi…kalau kita telah tiba pada tahap itu, bukankah membaca novel misteri Agatha Christie akan menjadi membosankan? Aku pribadi lebih suka menikmati kisah-kisah ini apa adanya, apalagi Agatha selalu menyediakan studi psikologi yang menarik dari profil pembunuhnya, seperti juga si pembunuh Roger Ackroyd di kisah ini. Sangat menarik!

Pembunuhan Atas Roger Ackroyd—yang menjadi judul terjemahan buku ini—merupakan salah satu dari 3 karya terfavoritku dari Agatha Christie. Buku ini juga satu-satunya karya Agatha yang masuk ke dalam daftar 1001 books to read before you die. Lima bintang untuk buku ini!

Judul: The Murder of Roger Ackroyd
Judul terjemahan: Pembunuhan Atas Roger Ackroyd
Penulis: Agatha Christie
Penerjemah: Maria Regina
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Terbit: 1990
Tebal: 338 hlm

Thursday, January 19, 2012

Kisah-Kisah Tengah Malam

Betapa tepat pemilihan judul untuk buku berisi kumpulan cerpen karya Edgar Allan Poe ini. Poe memang dikenal sebagai master dalam cerita pendek yang bernuansa ‘gelap’ atau gothic. Tema kisah-kisahnya bervariasi, dari macabre (jenis fiksi yang melibatkan tanda-tanda kematian seperti tengkorak, mayat dsb), psycho-thriller, cinta tragis, detektif, petualangan dan alam, juga komedi sarkastis. Kisah-Kisah Tengah Malam ini memang cocok untuk dibaca pada waktu malam, meski tak semua kisahnya bersetting-kan waktu pada malam hari.

Dari tiga belas (apakah sengaja diambil angka 13?) cerpen yang ditampilkan di kumcer ini, sebagian besar bertutur tentang cekaman rasa takut, pembalasan dendam dan rasa bersalah. Namun meski sepintas tema sentralnya mirip, tiap kisah memiliki keunikan dan kekuatan cerita tersendiri. Contohnya cerpen Setan Merah [judul asli: The Masque of the Red Death] yang berkisah tentang sekelompok bangsawan dan orang terpandang yang—alih-alih memikirkan rakyatnya yang sedang terserang wabah penyakit—malah bersembunyi di sebuah kastil sambil bersenang-senang. Ternyata meski bersembunyi di dalam gedung yang tertutup rapat, wabah penyakit yang digambarkan sebagai setan merah tak urung menemukan mereka juga. Sebuah kritik sosial bagi para pemimpin yang mengabaikan penderitaan rakyat atau orang-orang yang dipimpinnya. Poe sukses menghadirkan horror-thriller yang penuh ketegangan lewat kisah ini.

Lain lagi dengan kisah Mengarungi Badai Maelström [judul asli: A Descent Into The Maelström] yang merupakan salah satu kisah favoritku di buku ini. Menurutku, ini kisah yang paling lain daripada yang lain dari 13 cerpen di buku ini. Bernuansa science fiction, mengisahkan sebuah pergerakan arus antara dua pulau yang menciptakan semacam pusaran kuat ke dasar laut, yang mampu (menurut kisah karya Poe) ‘menelan’ apapun yang kebetulan berada di tengah pusaran itu. Lewat penuturan tokoh yang pernah mengalami—dan selamat dari—maelstrom itu, Poe dengan amat piawainya seolah membawa pembaca mengarungi pengalaman yang sama dengan tokohnya. Yang menarik juga, maelstrom yang dikisahkan terjadi di Norwegia ini memang benar-benar ada, meski insiden tersedotnya kapal di cerpen ini murni fiksi.

Cerpen William Wilson juga menyajikan sesuatu yang unik dari keseluruhan cerpen Poe di buku ini. Salah satu kisah yang endingnya menyisakan pertanyaan yang lumayan ‘dalam’, dari sekedar kisah biasa yang nampak di permukaan. Ketika anda menamatkan cerpen ini, bertanyalah pada diri sendiri, apa yang hendak dikatakan oleh Poe. Moga-moga persepsiku tidak meleset…

Sedangkan kisah yang paling kocak adalah Obrolan Dengan Mummy [judul asli: Some Words With A Mummy]. Seharusnya kisah ini bernuansa macabre juga, dengan adanya sesosok mummy yang bisa bicara. Namun Poe—lagi-lagi—berhasil membuat kisah ini menjadi cukup kocak, sambil mengajak kita menambah wawasan dengan menyimak obrolan dengan si mummy itu.

Itulah beberapa cerpen yang menarik perhatianku, namun sebenarnya keseluruhan dari tiga belas cerpen ini benar-benar istimewa, seistimewa karakter dan kehidupan sang penulis sendiri. Secara lengkap, inilah daftar seluruh cerpen dalam buku ini, beserta judul aslinya, meski ada satu cerpen yang tak kutemukan judul aslinya.

Gema Jantung Yang Tersiksa [The Tell-Tale Heart]
Pesan Dalam Botol [Manuscript Found In A Bottle]
Hop-Frog [Hop-Frog]
Potret Seorang Gadis [The Oval Portrait]
Mengarungi Badai Maelström [A Descent Into The Maelström]
Kotak Persegi Panjang [The Oblong Box]
Obrolan Dengan Mummy [Some Words With A Mummy]
Setan Merah [The Masque of the Red Death]
Kucing Hitam [Black Cat]
Jurang dan Pendulum [The Pit and the Pendulum]
Pertanda Buruk [??]
William Wilson [William Wilson]
Misteri Rumah Keluarga Usher [The Fall of the House of Usher]

Meski nampaknya semua kisah ini hanya kisah-kisah seram untuk memacu adrenalin kita, namun bila dicermati, sesungguhnya Poe juga hendak menyisipkan satu-dua pemikiran untuk kita renungkan.

Empat bintang kuhadiahkan untuk Edgar Allan Poe, yang tepat pada hari ini berulang tahun ke 203! Happy birthday Mr. Poe…terima kasih untuk cerpen-cerpen anda yang khas dan mempesona!

Judul: Kisah-Kisah Tengah Malam
Judul asli: Tales of Mystery and Terror
Penulis: Edgar Allan Poe
Penerjemah: Maggie Tiojakin
Editor: Hetih Rusli
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Desember 2010
Tebal: 248 hlm

Thursday, December 8, 2011

A Study In Scarlet

Selamat datang di 221B Baker Street, London! Dari sebuah apartemen berkamar dua inilah, genre fiksi detektif modern pertama kali lahir. “Ayah”nya adalah Sir Arthur Conan Doyle, yang menciptakan tokoh detektif yang sangat cakap dalam hal deduksi: Sherlock Holmes. Lewat 4 novel panjang dan 56 cerita pendek, Sherlock Holmes menciptakan tren baru bagi kisah fiksi detektif, dan menginspirasi banyak penulis genre ini setelah era Doyle.

A Study In Scarlet merupakan novel pertama dari 4 novel panjang tentang Holmes. Di kisah inilah Holmes dan Dr. Watson pertama kali dipertemukan. Watson adalah seorang dokter veteran perang yang sedang mencari tempat tinggal murah di London. Oleh mantan koleganya, ia dipertemukan dengan seorang ahli kimia misterius bernama Sherlock Holmes. Awalnya Watson terheran-heran bagaimana Holmes dapat menebak secara tepat latar belakang seseorang hanya dalam hitungan detik; termasuk mengenali Watson sebagai dokter yang baru pulang dari perang Afganistan—yang mana tepat sekali dengan kenyataannya. Hingga akhirnya, misteri bidang pekerjaan Holmes terungkap ketika terjadi sebuah pembunuhan di rumah kosong di Brixton.

Sebagai konsultan kasus kriminal, Holmes dimintai oleh dua detektif terkemuka Scotland Yard untuk memecahkan misteri pembunuhan yang aneh itu. Korbannya seorang pengusaha bernama Drebber, tak ada luka di tubuhnya, namun ada darah terpercik di TKP. Juga ada tulisan “Rache” tertulis dengan darah di dinding. Penting untuk dicatat, konon di kisah inilah pertama kalinya kaca pembesar digunakan sebagai salah satu alat penyidikan oleh seorang detektif.

Holmes mempelajari tulisan darah “Rache” di dinding, melalu kaca pembesar

Hanya dengan sekali pengamatan, Holmes mampu membuat kolega-koleganya (termasuk Watson yang ikut mendampingi Holmes) ternganga karena dapat langsung menyebutkan ciri-ciri pembunuhnya! Bagaimana Holmes dapat mengidentifikasi pembunuhnya? Dan siapa sang pembunuh tersebut? Apa motifnya?

Nah, di sinilah letak perbedaan kisah ini dengan novel detektif yang biasa kubaca. Aku adalah pecinta novel-novel detektif karya Agatha Christie, jadi mau tak mau aku langsung membandingkan Holmes dengan Poirot. Terbiasa dengan kronologi penyidikan hingga ditutup dengan kesimpulan pada akhir kisah, aku terperangah juga ketika Holmes berhasil menangkap pembunuhnya hanya ketika kisah ini sampai di pertengahan. Hanya saja, siapa-mengapa-bagaimana-nya tetap tersimpan rapi sebagai misteri di penghujung bagian pertama buku ini.

Pada bagian kedua kisah ini kita tiba-tiba diajak menjelajah ke daerah Utah--Amerika Utara, yang gersang, pada tahun 1847. Seorang pria bersama seorang anak perempuan tengah tersesat di dataran yang luas selama berhari-hari, tanpa makanan, tanpa air, siap menghadapai ajal. Tiba-tiba lewatlah serombongan besar orang yang akhirnya menyelamatkan mereka. Rombongan itu ternyata adalah rombongan kaum Mormon (sekte pecahan dari Gereja Kristen) yang dipimpin oleh Birgham Young.

Bila kita menilik sejarah, Birgham Young adalah pendiri kota Salt Lake City—ibukota Negara bagian Utah. Awalnya kota itu didirikan untuk populasi kaum penganut Mormonisme, namun saat ini penganut Mormon hanyalah separuh populasi Salt Lake City.

Brigham Young, tokoh pelopor penganut Mormon

Kembali pada tokoh kita, pria bernama John Ferrier dan anak perempuan yang kemudian diangkatnya sebagai anak, Lucy Ferrier. Dari kisah keduanya inilah, anda akan mendapati benang merah yang menghubungkan kisah bagian kedua ini dengan pembunuhan di bagian pertama tadi. Maka, tak salah bila Holmes kemudian menamai kasus ini sebagai “penelusuran benang merah” atau A Study in Scarlet.

Sebenarnya daya tarik utama kisah ini—bagiku—adalah kisah di bagian kedua, dan bagaimana ia dibuat memiliki benang merah dengan bagian pertama. Mengenai metode penyidikan Holmes dan karakter sang detektif sendiri, aku tetap lebih menyukai Hercule Poirot, “anak” Agatha Christie. Penangkapan si pembunuh pada pertengahan kisah rasanya menjadi anti klimaks. Dan karena porsi Holmes hanya setengah lebih sedikit, maka karakternya kurang tergali di sini. Entah di ke 3 novel yang lain.

Empat bintang aku sematkan untuk kasus Holmes ini!

Judul: A Study In Scarlet
Penulis: Sir Arthur Conan Doyle
Penerjemah: B. Sendra Tanuwidjaja
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Terbit: 2007
Tebal: 216 hlm

Monday, November 7, 2011

Therese Raquin

Kalau ada satu hal yang paling rumit di dunia dan tak pernah bisa dipahami, pasti itu adalah manusia. Pepatah mengatakan, dalamnya laut dapat diduga, dalamnya hati siapa tahu. Mungkin karena itulah, psikologi adalah salah satu hal yang selalu menarik minatku, meski aku tak pernah mempelajarinya secara serius di bangku kuliah. Yang paling menakjubkan bagiku adalah bagaimana manusia memutuskan untuk berbuat jahat, yang jelas-jelas melawan kodratnya; dan bagaimana ia melawan hati nuraninya setelah melakukannya. Émile Zola benar-benar memukauku dengan caranya membuat sebuah pergulatan batin menjadi gamblang, lewat karyanya: Therese Raquin.

Therese Raquin bukanlah putri kandung Mme Raquin. Ia adalah keponakan yang diangkat menjadi anak oleh Mme Raquin, yang hidup menjanda di sebuah kota kecil di Prancis pada abad 19, bersama dengan putra semata wayangnya: Camille. Dari lahir Camille adalah bocah lembek yang sakit-sakitan. Hal itu diperparah oleh cara sang ibu membesarkannya, yaitu dalam pemanjaan sekaligus pemujaan. Camille pun terbiasa dicekoki oleh obat dan ramuan, dan dikurung di rumah yang gelap dan suram.

Mau tak mau, Therese harus menerima perlakuan yang sama dari ibu angkatnya, meski ia sebenarnya adalah gadis yang sehat walafiat. Dan lihatlah apa yang terjadi…

Kehidupan orang sakit yang dipaksakan terhadap dirinya membuatnya menjadi orang yang tertutup. Ia menjadi terbiasa berbicara dengan suara lirih, berjalan tanpa suara, duduk diam dan tak bergerak-gerak di kursi, memandang kosong dengan mata membelalak lebar. ~hlm. 26.

Therese akhirnya tumbuh sebagai gadis pemurung, acuh, namun di dalam dirinya ada semacam api yang menggelegak, bak gunung berapi yang sedang menggodok magmanya sebelum pada suatu saat yang tepat menyemburkannya dalam sebuah ledakan besar.

Keegoisan Mme Raquin membuatnya mengambil keputusan untuk menikahkan Therese dan Camille. Sesudah itu, keluarga yang aneh inipun pindah ke Paris, dan tinggal di rumah sekaligus toko alat jahitan yang suram di Passage (Selasar) du Pont Neuf. Camille yang suka mengajak teman-temannya singgah, suatu hari memboyong teman lamanya: Laurent. Saat melihat Laurent, Therese bagaikan tersihir. Tak seperti suaminya yang lembek dan berbau seperti anak kecil sakit-sakitan yang mebuat Therese jijik, Laurent terlihat benar-benar seperti seorang pria. Dalam diri Therese pelan-pelan tumbuh hasrat yang kuat yang, kupikir, merupakan pelampiasan atas keterkungkungan hidup wanita itu selama ini.

Di sisi lain, Laurent adalah jenis pria paling menyebalkan di dunia. Pria yang hanya mau bermalas-malasan dan mendewakan kenikmatan lewat makanan dan seks. Dan pria seperti ini lah yang melangkahkan kaki ke rumah keluarga Raquin dan menemukan wanita yang bisa memenuhi hasratnya: Therese. Tak butuh waktu lama, segera terjadilah perselingkuhan panas penuh gairah antara kedua manusia ini. Laurent dan Therese menemukan kenikmatan dalam perselingkuhan mereka, dan mulai timbul keinginan untuk melakukannya dengan bebas. Satu-satunya penghalang bagi keduanya untuk bersatu, adalah Camille. Tanpa perlu terucap, dosa perzinahan yang mereka lakukan mulai menggiring mereka ke dosa berikutnya.

Kisah di atas hanya memakan sepertiga dari keseluruhan buku ini. Dua pertiga sisanya dipenuhi oleh Zola dengan kajian psikologis Therese dan Laurent setelah melakukan kejahatan mereka. Dan di bagian-bagian inilah terletak kekuatan buku ini. Zola tak hendak hanya bertutur, ia sedang melakukan semacam analisa ilmiah. Bak seorang ilmuwan yang ingin mengamati reaksi tertentu yang timbul bila ia mencampurkan dua substansi berbeda, begitulah Zola menyajikan perubahan watak yang akan terjadi apabila dua insan manusia yang berbeda watak namun sama-sama labil dipertemukan oleh cinta. Dan ketika hasrat mereka tak terkekang, hasrat itu membawa mereka pada tindakan yang tak bermoral serta pengecut. Namun yang paling menarik, bagaimana reaksi watak mereka setelah tindak kejahatan yang sama-sama mereka lakukan itu.

Tubuh mereka menggeletarkan getaran-getaran yang sama, dan jantung meraka, yang membentuk semacam persatuan yang merana, berdebar-debar kencang gara-gara perasaan ngeri yang sama. Semenjak saat itu, mereka hanya mempunyai satu tubuh dan satu jiwa untuk merasakan kenikmatan dan penderitaan. Kesamaan itu, perasaan menyatu itu bersifat kejiwaan dan merupakan fakta psikologis yang sering terjadi di antara orang-orang yang terperangkap bersama-sama gara-gara suatu ketegangan mental yang luar biasa. ~hlm. 166.

Seringkali manusia menggembar-gemborkan tentang kebebasan. Padahal tak ada kebebasan mutlak dalam kehidupan kita. Setiap tindakan kita membawa kita pada konsekuensi yang lain. Therese dan Laurent juga mendambakan kebebasan yang harusnya tak mereka miliki. Akibatnya, alih-alih merasa bebas, mereka justru menjadi budak dari konsekuensi tindakan mereka sendiri. Mengerikan bagaimana hati nurani manusia menghukum diri mereka sendiri dengan caranya sendiri pula. Pergulatan batin Therese dan Laurent begitu intens dan digambarkan dengan jelas dan detil oleh Zola hingga pembaca seolah turut mengalami mimpi-mimpi buruk mereka yang menyeret mereka ke ambang kegilaan.

Saat terbit, Therese Raquin mendapatkan kritikan bertubi-tubi dari para kritikus maupun sesama penulis, yang menganggap Therese Raquin mengumbar kejorokan dan kevulgaran. Dalam edisi kedua yang diterbitkan tahun 1868, Zola pun menulis pendahuluan untuk menjelaskan latar belakang di balik kisah Therese Raquin.

Seperti telah kuungkapkan di paragraf awal, aku menyukai telaah psikologis dalam kisah fiksi. Dua penulis terfavoritku: Agatha Christie dan John Grisham pernah menghasilkan buku-buku yang mengupas psikologi manusia saat menghadapi sesuatu. Christie dalam banyak novelnya, namun Tirai (Curtain) yang menjadi favoritku. Sedang Grisham lewat The Chamber (Kamar Gas). Namun keduanya belum apa-apa bila dibandingkan Therese Raquin.

Jujur, buku ini tergolong berat dan menguras emosi. Bukan jenis buku yang akan memberi hiburan, tapi jelas buku ini juga merupakan jenis buku yang takkan pernah anda lupakan. "Gema"nya akan terus memenuhi pikiran anda selama beberapa waktu lamanya setelah anda menutup buku ini. Bravo Émile Zola! Meski dulu banyak orang mencelamu, tapi aku yakin tak banyak orang lain yang mampu menghasilkan karya seperti ini. Tiga bintang untuk Therese Raquin!

Judul: Therese Raquin
Penulis: Émile Zola
Penerjemah: Julanda Tantani
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Agustus 2011
Tebal: 336 hlm

Tuesday, May 31, 2011

Wuthering Heights

Dalam arti harafiahnya, wuthering adalah cuaca buruk semacam badai dengan angin yang kencang. Namun dalam novel klasik bersetting abad 19 karangan Emily Bronte ini, Wuthering Heights adalah nama sebuah rumah milik keluarga Earnshaw. Meskipun, nama Wuthering memang pas juga disandang oleh rumah itu kalau melihat sejarah para penghuninya yang membuat ketenangan dan kedamaian tak pernah ada di dalam Wuthering Heights.

“Wuthering” [baca: badai] pertama ditiupkan oleh Mr. Earnshaw ke tengah keluarganya yang (saat itu) harmonis, ketika suatu hari ia pulang dari luar negeri. Entah dengan alasan apa, ia memungut seorang bocah keturunan gipsi untuk menjadi anggota keluarga baru Earnshaw. Anak itu diberi nama Heathcliff. Kombinasi pemanjaan dan pemujaan dari ayah angkatnya, ditambah perlakuan buruk semua orang kepadanya, membuat Heathcliff tumbuh sebagai orang yang kasar, pahit, jahat, pendendam dan cenderung brutal. Hindley, putra sulung Mr. Earnshaw teramat sangat membencinya karena ayahnya kini mencurahkan seluruh kasih sayang dan perhatiannya pada Heathcliff kecil, dan mencampakkan Hindley dan adiknya Catherine begitu saja. Di sisi lain, Catherine yang tumbuh sebagai gadis liar justru menyukai dan berteman akrab dengan Heathcliff.

Bertetangga dengan Wuthering Heights, hiduplah Mr. & Mrs. Linton beserta Edgar dan Isabella anak-anak mereka, di rumah yang berjuluk Thrushcross Grange. Edgar muda tertarik pada Catherine Earnshaw, sementara si gadis lebih menyukai Heathcliff yang juga membalas perasaannya. Sementara itu, setelah Hindley meninggalkan rumah untuk kuliah, Mr. Earnshaw pun meninggal dunia. Kematiannya menjadikan Hindley yang telah menikah, pemilik Wuthering Heights yang baru. Dan untuk membalaskan dendam kesumatnya, ia menurunkan derajat Heathcliff menjadi setara pelayan yang hina. Sementara Catherine, yang tadinya sama liar dan tak terurusnya seperti Heathcliff mendadak berubah menjadi lebih anggun dan bermartabat setelah menginap beberapa minggu di rumah keluarga Linton. Hal ini menjadikan ia semakin jauh dari Heathcliff, dan semakin dekat dengan Edgar…

Rasanya setelah membaca sekilas 3 paragraf di atas, novel ini hanyalah menyajikan sebuah drama keluarga biasa yang membosankan dan datar-datar saja. Anda keliru! Novel ini justru cenderung bernuansa “gelap”, tragis dan brutal. Emily Bronte rupanya adalah, entah seorang penulis yang ahli masalah kejiwaan, atau memang memiliki latar belakang kehidupan yang sangat kelam. Karena, persoalan dua keluarga yang biasa ditemui pada jaman itu: jatuh cinta, perkawinan, iri, dendam…dirangkai olehnya sehingga sanggup mempengaruhi emosi dan bahkan kebencian pembaca. Boleh dibilang, amarah anda rasanya akan tersulut tiap kali salah seorang dari tokoh-tokohnya berbicara kasar sambil menebarkan ancaman yang sangat kejam dan sadis.

Dan Emily dengan cerdiknya membungkus kisah itu sebagai cerita bersambung Ellen (Nelly) Dean, seorang pengasuh di Wuthering Heights, yang dikisahkannya atas permintaan Mr. Lockwood, seorang pria yang menyewa rumah Thrushcross Grange dimiliki Mr. Heathcliff. Tokoh Heathcliff memang menjadi benang merah novel sepanjang 488 halaman ini. Setelah tamat membaca buku ini, aku merasa bahwa Heathcliff adalah karakter yang paling kuat di kisah Wuthering Heights ini. Saking kuatnya, Heathcliff dapat mencengkeramkan pengaruhnya (dan meniupkan “wuthering” demi “wuthering”) ke dalam hidup orang-orang di sekitarnya. Seolah, karena ia sepanjang hidupnya harus menderita, maka tak ada orang lain yang boleh merasa bahagia. Berkat Heathcliff pula, jalan hidup semua tokoh lainnya jadi berubah. Dan hebatnya, tak ada yang dapat menolak pengaruh jahat Heathcliff ini, apalagi memeranginya. Mereka semua hanya dapat bertahan.

Lihat saja Catherine yang menderita karena cinta, meski Edgar mencintainya sepenuh hati (yang sangat aku herankan mengingat karakter Catherine yang liar dan cintanya pada Heathcliff). Lihat juga bagaimana Hindley menjadi setengah gila karena dendam, sehingga mempengaruhi pertumbuhan Hareton, anak lelakinya, menjadi bocah yang bodoh dan berperangai kasar. Dan cengkeraman jahat Heathcliff ini tak berhenti setelah ia mengawini Isabella Linton yang ia benci (lebih heran lagi aku pada kebodohan Isabella yang jelas-jelas melihat karakter buruk Heathcliff tetapi tetap mencintai dan menikahinya!). Perangai Heathcliff juga tak berubah setelah ia memiliki anak lelaki yang cengeng. Kenyataan bahwa mereka yang segenerasi dengannya telah tiada, tetap tak menyurutkan obsesi Heathcliff untuk membalaskan dendam pada anak-cucu mereka.

Aku jadi berandai-andai…kalau saja semua perangai jahat Heathcliff itu diganti dengan perangai yang baik, maka karakter Heathcliff akan bisa menjadi panutan. Di kisah ini ia begitu konsisten membenci, berbuat jahat dan memastikan orang lain hidup menderita. Alangkah baiknya kalau seseorang bisa konsisten mengasihi sesamanya, selalu berbuat baik, dan membaktikan seluruh hidup, pikiran dan tenaganya untuk membuat kehidupan orang lain lebih baik! Ah…seandainya saja… Tapi, mungkin kalau Emily Bronte menulis kisah dengan tokoh yang sedemikian baik, bukunya tak akan selaris dan sefenomenal Wuthering Heights ini. Sebagai catatan, di Goodreads aku mengamati bahwa kebanyakan orang memberi bintang 5 (amazing) atau 2 dan bahkan 1 (didn’t like it), jarang orang memberikan bintang 3 atau 4. Yang artinya, kebencian dan kejahatan di satu sisi bisa membuat anda muak setengah mati, namun di sisi lain bisa sangat mempesona. Berada di kubu manakah anda? Oh ya, tentu saja anda harus membacanya dulu sebelum bisa menjawab. Yang jelas aku seharusnya bisa memberikan 1 atau 2 bintang saja, namun aku juga tak bisa mengabaikan kepiawaian Emily Bronte dalam menulis kisah ini. Buktinya? Ia mampu membuatku sangat muak pada Heathcliff dan semua yang ada di Wuthering Heights ini hanya melalui tulisannya. Hebat bukan?....

Judul: Wuthering Heights
Penulis: Emily Bronte
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: April 2011
Tebal: 488 hlm

Wednesday, May 25, 2011

Quo Vadis?


Apakah pengertian anda tentang “kemenangan”? Ketika dua orang samurai bertarung misalnya, pemenangnya pastilah samurai yang masih hidup, dan pecundangnya adalah samurai yang mati karena kalah oleh lawannya. Kisah klasik karya Henryk Sienkiewicz akan menjungkar balikkan pengertian kita tentang kemenangan sekaligus kematian. Quo Vadis adalah sebuah roman yang dibingkai latar belakang sejarah pada tahun 60-an, saat Nero menjadi kaisar kerajaan terbesar yang memimpin dunia : kerajaan Romawi. Adalah seorang bangsawan yang menjadi pejabat militer di kerajaan bernama Marcus Vinicius. Pamannya merupakan salah satu orang terdekat Nero yang sangat mencintai keindahan dan seni bernama Petronius. Segalanya berawal dari keinginan Vinicius untuk mendapatkan seorang gadis yang berasal dari kerajaan kecil bernama Lygia, untuk dijadikan selir di rumahnya. Lygia saat itu tinggal di rumah Aulus, maka Vinicius minta bantuan Petronius untuk merayu Aulus agar mau melepas Lygia.

Lygia adalah seorang gadis saleh yang telah menjadi Kristen. Tahun 60-70 itu memang diperkirakan dalam sejarah sebagai tahun mulai berkembang pesatnya agama Kristen, berkat pengajaran Rasul Petrus dan Paulus, setelah Kristus disalibkan dan bangkit. Roma sendiri pada saat itu sedang dalam kebobrokan moral yang amat parah. Sebagian besar karena kebiasaan Nero yang dipenuhi pesta-pora, kecabulan, dan sadisme menular pada pengikut dan rakyatnya. Petronius seorang pengapresiasi seni, maka sarannya sering didengarkan oleh Nero, terlebih karena gaya bicara Petronius yang “manis” sering melambungkan puji-pujian selangit yang disukai Nero. Karena itu Petronius akhirnya berhasil “memaksa” Lygia keluar dari rumah Aulus. Namun sebelum Vinicius yang berhasrat memiliki Lygia berhasil membawa pulang si gadis, Lygia melarikan diri karena takut kesuciannya ternoda dengan menjadi selir Vinicius. Dalam pengejaran Lygia inilah, kehidupan Vinicius tiba-tiba berbalik 180 derajat.

Ternyata Lygia berlindung pada teman-teman sesama pemeluk Kristen. Di sinilah Vinicius mengalami sendiri hal-hal aneh yang sangat berbeda dengan kebiasaan masyarakat pada saat itu. Salah satunya adalah sikap mengasihi dan mengampuni musuh yang diperlihatkan pelindung Lygia: Ursus dan seorang tabib bernama Glaucus. Alih-alih membunuh atau mencelakainya karena ingin merebut Lygia, mereka justru memperlakukan Vinicius dengan penuh kasih. Namun yang paling mengesan pada Vinicius barangkali adalah kotbah Rasul Petrus pada sebuah pertemuan para orang Kristen. Ini sebuah ajaran baru, dan tiba-tiba hati Vinicius bak dipenuhi oleh gelombang kedamaian. Di hati Vinicius benih baru saja tertabur…

Salah satu bukti nyata perubahan pada diri Vinicius adalah cintanya pada Lygia yang tulus dan murni, menggantikan cinta penuh nafsu yang dulu ia pendam dalam hatinya. Sementara itu kesintingan Nero semakin parah. Nero yang terobsesi menjadi penyair agar disanjung rakyatnya, tiba-tiba muak pada Roma. Keangkuhannya sebagai penguasa dunia mendorongnya untuk membakar habis Roma untuk dibangun kembali sesuai keinginannya. Sejarah memang mencatat kota Roma yang sengaja dibakar atas perintah Nero ini. Dan lihatlah…sang Kaisar naik dan berdiri di atas bukit, bukan untuk menangisi kemalangan rakyatnya, namun justru untuk mengarang sebuah puisi. Sinting!

Rakyat pun mengamuk karena banyak saudara mereka yang meninggal, dan mereka kehilangan rumah serta mata pencarian. Nero yang telah bertindak ceroboh itu pun sadar bahwa kedudukannya akan terancam kalau desas-desus bahwa ia sengaja membakar Roma tersebar luas. Maka ia pun cepat-cepat menimpakan kesalahan kepada orang-orang Kristen, memfitnah bahwa merekalah yang telah membakar kota Roma. Semua orang Kristen lalu ditangkap dan dipenjara, termasuk Lygia, Ursus dan teman-temannya. Berkali-kali Vinicius dibantu oleh Petronius merencanakan pembebasan Lygia dari penjara, namun tanpa hasil. Sementara itu, untuk memuasakan nafsu sadisme dirinya sendiri dan demi menyenangkan hati rakyatnya, Nero merancang pertunjukan penyiksaan orang-orang Kristen di amphitheater. Orang-orang Kristen, laki-laki, perempuan dan bahkan anak-anak digiring ke tengah stadion bak hewan tontonan pada pertunjukan sirkus. Ada yang dibantai oleh para gladiator, ada yang disalibkan, ada yang dibuat obor hidup di taman dengan membakar mereka sementara mereka diikat pada tiang. Ada juga yang dimangsa oleh singa, harimau, serigala dsb yang sengaja dibuat kelaparan selama 2 hari sebelumnya. Herannya, bukannya ngeri dan jijik pada pemusnahan berdarah-darah itu, para penguasa dan rakyat justru bertepuk tangan penuh semangat, seolah pertunjukan itu hanyalah pertunjukan tari-tarian biasa.

Selama hari-hari penyiksaan beradab yang di luar batas kemanusiaan itu, Vinicius tetap berikhtiar untuk dapat membebaskan Lygia. Ia bahkan memohon Rasul Petrus untuk memohonkan keselamatan bagi Lygia dari Tuhan. Anda dapat membayangkan bagaimana perasaan Rasul Petrus pada saat itu. Dengan susah payah ia mengumpulkan satu-persatu jiwa untuk diselamatkan dengan percaya kepada Kristus, namun kini setelah jemaat telah mulai berkembang, saat ia menyangka tugasnya telah usai, mereka semua dimusnahkan dengan cara yang mengenaskan hanya dalam sekejap. Padahal Petrus melakukan semuanya karena amanat dari Kristus sendiri. Bagaimana mungkin kini Ia membiarkan mereka semua musnah? Maka tak heran kalau pada suatu titik tertentu, karena bujukan terus menerus pengikutnya, Rasul Petrus pun setuju untuk melarikan diri dari Roma menuju tempat yang aman. Lalu, dalam perjalanan itu ia tiba-tiba melihat sebuah cahaya menyilaukan menghampirinya di jalan itu. Itu Kristus! Maka bertanyalah Petrus kepadaNya: “Quo Vadis, Domine?” (ke mana Engkau hendak pergi, Tuhan? = where are you going, Lord?). Pertanyaan yang biasa saja mungkin, kalau saja Kristus tidak menjawabnya: “Karena kini kau meninggalkan umatKu, Aku akan pergi ke Roma, untuk disalibkan yang kedua kalinya” (hlm. 513). Sebuah tamparan bagi Petrus yang langsung membalikkan langkahnya kembali ke Roma….

Kita semua seperti Petrus juga. Saat kesulitan datang bertubi-tubi, dan nampaknya tak ada lagi yang dapat kita lakukan, apalagi kalau kengerian tampak mendatangi kita, kita ingin melarikan diri saja. Itu memang kodrat manusia untuk menjauh dari sengsara, mengelakkan diri dari kehancuran. Padahal kematian, apalagi kematian demi Dia, bukanlah kekalahan. Lewat pertanyaan sederhana Quo Vadis?, Petrus mengingatkan kita untuk tetap tegar dalam iman meski semua di sekitar kita telah musnah, kalau itu memang kehendakNya. Bukankah benih itu memang harus jatuh ke tanah dahulu, baru ia akan dapat tumbuh dan berbuah? Kalau memang penderitaan yang menanti kita, kita harus menghadapinya dengan penuh iman, seperti halnya orang-orang Kristen pada saat penyiksaan. Alih-alih menangis ketakutan dan memohon-mohon, pancaran kebahagiaan malah keluar dari sorot mata mereka, karena mereka yakin bahwa kebahagiaan yang sejati, kebahagiaan kekal telah disediakan bagi mereka di RumahNya. Sikap orang-orang Kristen yang pasrah dan berani itulah yang justru membuat rakyat takjub, dan akhirnya semakin banyak yang menjadi Kristen. Kerajaan Romawi akhirnya jatuh (yang kita ketahui juga dalam sejarah), Nero pun akhirnya binasa, namun kerajaan Kristus justru tumbuh makin subur dan bergaung hingga kini. Meski itu harus ditebus dengan kematian banyak orang, termasuk Petrus dan Paulus. Kematian duniawi memang menandakan kekalahan, namun kematian dalam Kristus bukanlah kekalahan, tapi kemenangan. Aku jadi teringat pada cuplikan syair dalam sebuah nyanyian yang setiap tahun dinyanyikan saat Malam Paskah:

“..Ajari pula kami tekun dan tak gentar, bersamaMu berjuang, dan kami pun menang!
Terpuji Kristus Pemenang, lenyaplah maut yang kejam…

Pada akhirnya, benih yang ditaburkan oleh Petrus, Paulus dan semua orang Kristen yang dibantai maupun yang masih hidup akhirnya berbuah, jauh lebih banyak daripada yang disangka-sangka semua orang, seperti halnya benih di dalam hati Vinicius yang akhirnya berbuah iman. Lalu bagaimana dengan cinta Vinicius dan Lygia? Akankah cinta mereka berbuah juga? Dan apakah Kristus mengabulkan doa Vinicius yang telah memberikan hati padaNya, untuk menyelamatkan Lygia? Rasul Petrus telah menyuruhnya tetap memiliki iman dan terus berdoa. Akankah Vinicius melakukannya, atau malah menyerah di tengah jalan? Jawabnya hanya bisa anda temukan di buku ini. Tak banyak dalam hidup kita ada buku yang mampu menggugah hati sekaligus iman kita, buku ini salah satunya!

Judul: Quo Vadis?
Penulis: Henryk Sienkiewicz
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: November 2009
Tebal: 552 hlm

Monday, April 25, 2011

The Yearling

Yearling, menurut Wikipedia adalah hewan atau kuda muda yang baru meninggalkan masa kecil menuju masa dewasa. Masa muda, ingatkah anda akan masa-masa yang pernah atau sedang anda lewati itu? Masa-masa yang indah sekaligus membingungkan, karena pada masa-masa itu kita merasa seperti berada di puncak dunia. Lalu, baru saja kita merasa demikian, kitapun lalu dihempaskan pada kenyataan yang sesungguhnya. Hidup ternyata memang indah, namun tak pernah mudah. Kalau pengertian itu sudah kita dapatkan, berarti kita telah memasuki kedewasaan. Itulah yang ingin diungkapkan Marjorie Kinnan Rowlings dalam bukunya yang sangat indah ini: The Yearling.

Jody Baxter adalah seorang bocah lelaki yang sedang menanjaki usia remaja. Ia hidup di pertanian bersama Penny Baxter, ayahnya yang kurus ceking dan Ma Baxter yang gemuk. Keluarga Baxter hidup di pondok di dataran tinggi yang dikenal sebagai Pulau Baxter, yang sama sekali bukan pulau, melainkan lahan pertanian yang luas. Hidup bagi Jody sedang di puncak keindahan. Sebagai putra seorang penggarap ladang, ia mulai diajari bekerja meladang dan beternak. Namun karena usianya yang masih muda, tak berat tanggung jawab yang ia pikul sehingga ia pun merasa bebas untuk bermain dan bermanja di sela-sela pelajaran bertani dan berburu yang diberikan oleh Pa-nya, Penny Baxter.

Penny Baxter sendiri adalah sosok lelaki kurus kecil dengan mental sebesar beruang dan memiliki karakter kuat serta memegang teguh prinsipnya. Penny mengingatkanku pada papaku sendiri. Ia juga kurus meski lumayan tinggi. Namun, sama seperti Penny, Papa juga orang yang sangat kuat memegang prinsipnya akan kebenaran, kejujuran dan keadilan, sehingga kehidupan justru sering mengecewakannya. Di mata orang lain, terutama tetangga mereka: keluarga Forrester, bahkan juga di mata istrinya, Penny adalah pria yang (terlalu) lemah lembut dan tak berguna. Penny memiliki prinsip ia takkan membunuh hewan bila tak amat sangat membutuhkan atau bila hewan itu tak mengganggu keluarganya. Meski tahu bahwa daging atau kulit beruang mahal harganya bila dijual dan kesempatan untuk menembak sekawanan beruang terbuka lebar, ia hanya akan menembak secukupnya untuk makanan keluarganya untuk waktu tertentu. Penny percaya bahwa alam memiliki keseimbangannya sendiri, bahwa lebih baik membiarkan rusa tetap hidup, dan bahwa kalau ia harus mati, biarlah ia menjadi santapan hewan besar lainnya. Keluarga Baxter hanya mengambil apa yang mereka butuhkan untuk menyambung hidup, agar dengan demikian terjadi keseimbangan alam yang akhirnya juga akan mereka nikmati secara timbal balik.

Karakter Penny inilah yang teramat sangat dikagumi Jody, anak tunggal keluarga Baxter. Hal itu pula yang menyebabkan Jody sangat cocok dan dekat dengan ayahnya, tapi tak mampu memahami ibunya yang setelah berkali-kali kehilangan bayi, berubah menjadi manusia getir dan sinis. Jody pun makin sering berbagi waktu bersama ayahnya dalam perburuan beruang atau rusa yang mengasyikkan, juga berbagi ketertarikan pada alam dan hewan. Ayahnya juga yang mampu memahami rasa kesepian dalam diri Jody, kebutuhannya untuk memiliki seorang teman, yang akhirnya terkompensasi pada kehadiran seekor anak rusa yang bulunya berbintik cantik. Meski Ma Baxter tak menyetujui keinginan Jody memelihara anak rusa itu, namun ayahnya membela Jody. Maka kini bertambahlah satu anggota termuda keluarga Baxter: si anak rusa yang kemudian diberi nama Flag (karena ekornya yang selalu mengibas-ngibas seperti bendera kecil...).

Jody sangat menyayangi Flag. Ia yang selalu kelaparan dan bernafsu makan besar, malah bersedia mengorbankan susu jatahnya dan sebagian makan malamnya untuk diberikan kepada Flag, karena ibunya keberatan kalau harus memberi makan satu mulut lagi. Semakin besar Flag, semakin tak terpisahkanlah kedua anak muda itu: Jody dan Flag.

Sampai di sini anda mungkin heran. Bagaimana cerita yang terlihat amat sederhana itu bisa menjadi rangkaian kisah sepanjang 501 halaman? Ah...kekuatan utama buku ini memang bukan pada inti ceritanya, namun justru pada detailnya. Membaca The Yearling ini membuat kita merasa seakan pindah ke dunia lain, di abad yang lalu. Begitu anda membuka halaman pertama, anda akan langsung merasa tersihir oleh rangkaian kata-kata yang disemat menjadi untaian kalimat-kalimat indah yang mampu menggambarkan keindahan alam dan suasananya yang mempesona. Yang paling memukauku adalah adegan bangau menari yang secara tak sengaja disaksikan Penny dan Jody di suatu senja ketika pulang memancing. Penggambaran bias merah jambu matahari yang sedang tenggelam dan susana yang kurasakan hampir-hampir magis ketika para bangau memainkan bunyi-bunyian musik dan menari dalam sebuah lingkaran, ahh...seolah begitu nyata dan seakan aku dapat mendengar musik itu sendiri dan menyaksikan pertunjukan itu secara langsung.

Kalaupun ada alur yang agak dinamis dan menegangkan di buku ini, itu terjadi pada setiap perburuan. Perburuan ala Penny bukan perburuan liar yang hanya asal menghabisi saja. Penny memiliki insting yang sangat bagus dan pengetahuan tentang karakter hewan. Meski ia sendirian, ia dapat berhasil mendapatkan buruan karena insting dan kecerdikannya itu, dan dibantu juga oleh anjing pemburunya yang setia: Julia dan Rip. Hanya Slewfoot Tua, seekor beruang pincang yang amat cerdas yang nyaris mengalahkan Penny dan mungkin satu-satunya yang pernah membuat Penny begitu marah hingga hampir tak mampu berpikir jernih. Anda akan tak habis pikir, bagaimana si ceking Penny bisa memiliki keberanian begitu besar. Saat keluarga Forrester yang bermoral rendah dan sering bikin onar mengeroyok seorang pemuda, Penny pun berani melindungi si pemuda. Ia memang menjadi babak belur dan nampak konyol di depan istrinya, namun sesungguhnya sikapnya itu sungguh mulia: menolong siapapun yang diperlakukan dengan tak adil.

Sementara itu, dalam perjalanannya menjadi pria dewasa, Jody telah menyaksikan dan belajar tentang banyak hal. Tentang bagaimana masa lalu dapat mengubah seseorang, bagaimana seorang wanita dapat membuat dua orang pria rela bertarung hidup dan mati, bagaimana alam memberi seorang anak kemampuan intuisi yang tajam, namun di sisi lain mengambil daripadanya tubuh yang sehat dan menggantikannya dengan kecacatan. Namun mungkin pelajaran yang paling berharga yang ia dapat dari ayahnya, selain berburu dan bertani, adalah pelajaran tentang menjadi dewasa dan menghadapi kenyataan hidup, seperti yang diungkapkan oleh Penny:


"Semua orang ingin agar hidupnya indah dan mudah. Hidup memang indah, Nak, sangat indah, namun tidak mudah. Hidup akan menjatuhkan seseorang dan begitu orang itu bangkit, dia akan dijatuhkan lagi."

"Aku ingin agar hidupmu mudah. Lebih mudah daripada yang kualami. Hati seorang ayah sakit saat melihat anak-anaknya menghadapi dunia. Tahu bahwa mereka akan terluka, sama sepertinya... Lalu apa yang harus ia lakukan? Apa yang harus ia lakukan ketika jatuh? Tentu saja ia harus menerima hal itu dan melanjutkan hidup."

Nasihat yang sungguh indah dan mengena, yang lagi-lagi mengingatkanku pada surat Papa untukku saat aku berulang tahun ke 17. Hal yang sama seperti yang diajarkan Penny pada Jody. Bahwa hidup tak selalu mudah, meski toh di sana-sini kita akan boleh melihat beberapa keindahan. Ada saat-saat Penny dan Jody terluka atau kesakitan saat menghadapi hewan buruan, namun ada saatnya juga mereka menikmati pertunjukan bangau menari atau anak beruang main ayunan saat berburu. Sama halnya dengan hidup kita. Namun pada akhirnya, kita semua toh harus tetap menerima semuanya, dan melanjutkan hidup...

Akhirnya terima kasih pada Gramedia yang telah menghadirkan sebuah kisah klasik yang memukau( menjadi pemenang Pulitzer Price tahun 1939), dengan penerjemahan yang indah ini di ranah perbukuan kita. Kita telah boleh mereguk keindahannya, sekaligus memetik pelajaran berharga dari buku ini.

Judul: The Yearling
Pengarang: Marjorie Kinnan Rowling
Alih bahasa: Rosemary Kesauly
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Maret 2011
Tebal: 501 hlm

Friday, July 23, 2010

The Secret Garden

Entah mengapa aku selalu suka membaca buku anak-anak. Bukan buku dongeng macam Cinderella atau Sleeping Beauty yang bagus untuk imajinasi, tapi ternyata juga membawa anak berpikir bahwa hidup itu (terlalu) mudah. Aku lebih suka membaca kisah anak klasik, seperti The Secret Garden yang ditulis oleh Frances Hodgson Burnett.

Secret garden, taman rahasia. Hmmm…belum-belum imajinasiku sudah terbawa pada suasana segar, indah, dan nyaman ketika mendengar ‘taman’. Apalagi ada kata ‘rahasia’ juga. Bukankah misteri selalu menjadi salah satu kelemahan manusia? Maka, meski ada begitu banyak buku lain yang menggodaku, The Secret Garden akhirnya menang! Buku inilah yang akhirnya kubeli, meski mamaku yang belanja buku bersamaku mengernyit ketika melihat cover-nya yang memang kekanak-kanakan…

Namun…semuanya terbayar sudah. Karena membaca The Secret Garden benar-benar memberikan pengalaman membaca yang sesungguhnya. Untaian kata dan kalimat yang enak dibaca, rasa nyaman ketika imajinasi terbawa pada suasana taman dan kebun yang asri, juga alur cerita yang senantiasa terjaga dengan apik.

The Secret Garden bercerita tentang seorang anak perempuan bernama Mary yang terbiasa dimanja dan dipuja semenjak kecil, sehingga tumbuh menjadi gadis cilik yang masam, sinis, egois, dan manja. Hingga pada suatu hari ia tiba-tiba menjadi yatim piatu akibat sebuah wabah kolera yang merenggut seluruh keluarganya tanpa terkecuali. Ia pun dibawa kepada salah seorang kerabatnya yang memiliki rumah amat besar, yang berkamar kira-kira seratus, padahal hanya ditinggali beberapa orang saja.

Pamannya yang kaya itu dulu memiliki istri yang manis, ceria dan amat cinta pada tanaman. Sang istri pernah memiliki sebuah taman mawar yang asri di belakang rumah mereka. Setiap hari almarhum istrinya itu akan duduk di taman mawar dan merawat setiap bunga dan tumbuhan dengan penuh cinta. Hingga akhirnya ia meninggal dunia gara-gara melahirkan putra mereka.

Sejak saat itu sang suami yang amat berduka, menutup diri sekaligus menutup taman itu selama-lamanya, dan mengacuhkan putra mereka yang masih bayi, karena menganggap si bayi itulah yang menyebabkan istrinya meninggal.

Pada suatu hari, Mary yang tak punya teman dan kesepian berjalan-jalan di kebun nan luas dan berkenalan dengan seorang tukang kebun yang sedang bekerja. Dari beliaulah Mary mendengar bahwa ada sebuah taman rahasia yang telah tertutup selama 10 tahun dan kuncinya tersembunyi entah dimana. Sebuah misteri…itulah yang menggerakkan hati Mary untuk berusaha membuka dan menemukan jawabannya: Di manakah letak taman rahasia itu? Apa yang ada di dalamnya?

Aku ingat, dirikupun terbawa ketegangan ketika Mary akhirnya menemukan letak taman itu dan kuncinya yang dipendam di dalam tanah, serta akan segera membuka pintunya. Apa yang ada di balik pintu itu yah?.... Bagaimana rupa taman rahasia itu, yang sudah 10 tahun tak pernah dirawat? Ketegangan yang terasa manis, bukan penuh ketakutan seperti ketika membaca kisah horror, atau yang membuat jantung berdetak lebih cepat seperti ketika membaca buku Agatha Christie.

Taman itu ternyata cukup indah meski tak terawat. Mungkin justru karena keliarannya lah yang membuatknya semakin eksotis. Memang aku tak melihatnya sendiri, namun Frances benar-benar mampu menggambarkan semua sulur-sulur mawar yang bertautan satu sama lain, tak tertata namun justru tampak natural. Dan ajaibnya, taman itu mampu membawa perubahan pada diri Mary. Ia menjadi lebih bahagia, dan itu turut mengubah sifatnya yang sinis, egois dan manja. Sedikit demi sedikit Mary tumbuh menjadi anak yang bahagia dan normal.

Semangat Mary menular pada Colin, saudara sepupunya, atau bocah laki-laki yang tak dicintai oleh ayahnya, yang adalah paman Mary. Begitu menemukan taman rahasia itu, Colin pun memiliki semangat hidup yang sebelum ini benar-benar padam.

Apa yang menyebabkan semua perubahan itu? Benarkah itu karena ‘sihir’ seperti yang dipikirkan Colin? Tentu bukan sihir ala nenek sihir atau ilmu hitam. Sihir itu adalah mukjijat yang datang dari Sang Pencipta. Bukankah justru dari alamlah kita bisa mengenalNya? Mengagumi hasil karyaNya? Maka di alam jugalah kita paling dapat merasakan kehadiranNya. Itulah ‘sihir’ yang mengubah dua anak yang tidak bahagia dan judes menjadi sosok anak-anak yang penuh kasih.

Itulah yang juga membuatku suka pada buku ini. Ditambah pula dengan banyak deskripsi Frances tentang keindahan alam. Seekor burung Robin misalnya, yang begitu bersahabat dengan manusia, dan hewan-hewan lucu lainnya yang menjadi kawan Dickon, seorang anak pecinta alam.

Buku ini memang bagus untuk anak-anak. Karena di sana mereka akan belajar mencintai alam, juga memahami arti kasih pada keluarga dan sesama. Dan tentu saja, pada akhirnya mencintai Sang Pencipta yang setiap detik menyediakan ‘sihir’ mukjijatnya di dunia ini.

Judul : The Secret Garden
Pengarang: Frances Hodgson Burnett
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 320 hlm
Harga: Rp 35.000

----

Ulasan buku ini kupersembahkan dalam rangka Hari Anak Nasional tahun ini yang jatuh tepat pada hari ini: 23 Juli 2010. Mari kita sediakan bacaan-bacaan yang bermutu bagi pertumbuhan anak-anak Indonesia, generasi penerus kita!

Monday, August 3, 2009

The Adventure of the Christmas Pudding

Membaca sinopsis novel ini sudah cukup untuk membuatku memutuskan tuk membeli buku ini. Kenapa? Apakah karena ceritanya yang tegang? Bukan! (kan aku belum baca?) Pertama-tama karena ada nama Hercule Poirot di sinopsis itu, dan kedua karena ada ‘pudding natal’. Alasan yang romantis ya? Entah kenapa, aku suka dengan novel-novel yang menceritakan dengan detail tentang makanan. Apalagi makanan ala Inggris, Perancis atau Italy. Masih ingat kan dengan Lima Sekawan? Aku paling suka dengan bagian ketika mereka akan piknik, dan dari rumah dibekali dengan makanan yang (kedengarannya) enak-enak itu. Membacanya saja sudah bikin aku ngiler.

Nah, ternyata aku tidak salah. Novel ini adalah kumpulan cerita misteri. Cerita utamanya berjudul Skandal Perjamuan Natal, dengan Hercule Poirot sebagai detektifnya. Settingnya adalah pas hari Natal, dengan perjamuan ala Inggris kuno dengan ayam isi, kalkun, dan pudding plum dengan saus kental yang dicampuri sedikit brandi. Tuh kan...bikin ngiler ga?

Aku jadi teringat pada perayaan Natal khas keluarga kami waktu aku kecil dulu. Sorry ya tante Agatha, cerita tante aku ulas belakangan, abis pengen share dulu kenangan indah masa kecilku pas Natal...

Waktu aku umur 10-12 tahunan, kondisi keuangan keluarga kami sudah mulai membaik, namun waktu itu kami belumlah serius menjalankan ibadah kami. Kami menganggap Natal sebagai sebuah pesta kecil keluarga yang harus dirayakan. Perayaan itu selalu jatuh pada malam Natal, yakni tgl. 24 Desember. Beberapa hari sebelumnya kami sudah mengeluarkan pohon Natal plastik beserta semua mainannya, lampu-lampunya dan hiasan lainnya. Jaman itu, belum ada pohon Natal yang langsung jadi, melainkan harus dirakit. Perakitan itu kami kerjakan bersama-sama, aku, mama dan papaku. Dari batangnya dulu, lalu menancapkan kelompok daun-daun cemaranya. Habis itu melilitkan lampunya, lalu menggantung mainan-mainannya, dan terakhir menancapkan bintang besar di puncak cemara. Setelah selesai, kami akan mencoba menyalakan lampu-lampu Natalnya untuk mengecek apakah ada bolam yang mati dsb. Pohon Natal itu lalu kami letakkan di meja sudut di ruang tamu kami.

Untuk hidangan malam Natal, mamaku biasanya memasak sendiri, dibantu oleh pembantu setia kami waktu itu. Sedang untuk kue Natal, kami memesan di toko kue. Kue Natal itu sangat khas, namanya Kerstkraans (dalam bahasa Belanda, artinya ‘lingkaran Natal’). Sesuai namanya, kuenya berbentuk seperti donat, bulat dengan lubang di tengah. Diameternya sekitar 24 cm. Tekstur kuenya agak kering, mirip dengan Sosisbroot (bener ga ya tulisannya?). Bedanya kalo sosisbroot diisi daging, Kerstkraans ini diisi kacang tanah dan almond yang digiling halus. Lalu bagian luar kuenya diberi lapisan gula dan ada taburan kismis dan manisan kulit jeruk. Enak sekali deh rasanya!

Biasanya tgl. 24 sore, setelah mandi kami langsung mengenakan baju bagus. Heran ya, pesta sendiri di rumah tapi pake baju bagus? Begitulah tradisi kami. Lalu ketika hari mulai gelap, sekitar jam 6 kami mulai menutup korden (biar ga diganggu tamu!), mematikan lampu ruang tamu, lalu memasang lampu pohon Natal. Wow...sampai sekarang pun aku paling suka ngeliat lampu-lampu kecil berwarna warni yang bergantian berkerlap-kerlip itu. Rasanya ada suasana yang damai dan ayem. Oh ya ada yang kelupaan. Biasanya sebelum hari H kami juga telah menyiapkan kado-kado. 2 buah kado untuk masing-masing orang, jadi total ada 6 kado, yang akan dibungkus kertas kado, lalu ditaruh di kaki pohon Natal. Tentu saja kado-kado itu bukan barang-barang yang mahal. Cuma kotak pensil buatku, atau sebuah buku buat papa, atau seperangkat cermin dan sisirnya untuk mama. Memang semuanya hanya untuk fun saja.

Nah, diiringi dengan lagu-lagu Natal yang syahdu dari kaset, kami mulai makan kue Natal (biasanya sudah kami potong-potong lalu disajikan di dua piring berbentuk daun). Lalu kami saling bertukaran kado, membuka kado, sambil ngobrol. Kadang-kadang papaku yang hobi fotografi, mengabadikan momen-momen ini dengan kameranya. Lalu ketika sudah pk 7, atau ketika kami sudah mulai lapar, kami akan pindah ke ruang makan. Hidangannya biasanya Sup Merah, disajikan di mangkuk-mangkuk kecil, lengkap dengan sepotong roti tawar untuk dicelupkan ke kuah sup. Saat-saat ini biasanya mamaku mengeluarkan perangkat makan spesial, hadiah perkawinannya dulu (hebat ya barang pecah belah jadul, tahan sampai bertahun-tahun). Kemudian disambung dengan satu hidangan utama. Favoritku adalah Spaghetti Bolognese (hidangan utama bisa berbeda-beda tiap tahun). Harus kuakui, resep Spaghetti milik mamaku ini yang paling top dibanding dengan milik restoran manapun!.

Setelah itu kami cuma ngobrol-ngobrol di ruang tamu lagi sambil terus mendengarkan lagu Natal (dan aku menonton lampu Natal sambil terus terpesona..). Setelah perut tidak terlalu kenyang, kami makan Longans kalengan yang diberi es batu. Hmmm...nikmat. Dan itulah perjamuan Natal ala keluarga kami. Memang tidak seru karena cuma bertiga, namun momen-momen itu begitu menggoreskan kenangan bagiku yang selalu kuingat sampai kapanpun.

Saat aku telah dewasa, dan ortuku mulai ‘bertobat’, kami lebih mementingkan malam Natal untuk mengikuti misa di gereja. Pohon Natal tetap ada, tapi yang langsung jadi dan ukurannya kecil. Tapi ritual itu sudah tak pernah kami lakukan lagi....

Nah, sekarang kembali pada Perjamuan Natal ala Inggris kuno, dimana Hercule Poirot diundang untuk melacak permata batu delima yang hilang, tentu saja di novelnya tante Agatha, bukan di rumahku yak! Anehnya sebelum perjamuan, Poirot mendapat peringatan untuk tidak makan pudding plum yang akan dihidangkan. Ada ritual yang unik dalam cerita ini yang berkaitan dengan hidangan khas Natal itu, pudding Natal. Dalam pudding akan disisipkan kancing baju, cincin dan uang logam. Kalo pas makan seseorang dapet kancing, berarti ia akan jadi perjaka seumur hidup (kebetulan yang dapet Poirot!! Cocok kan?), yang dapet cincin mungkin akan menikah ya? Yang tak disangka-sangka dan jelas tak ada dalam tradisi, si tuan rumah malah menggigit batu delima yang hilang itu.

Lebih seru lagi, beberapa anak muda di pesta itu ingin memberikan lelucon buat Poirot dengan sandiwara pembunuhan. Salah satu dari mereka pura-pura menggeletak jadi mayat, pake cat merah yang menyerupai darah dan ada jejak-jejak kaki juga di atas salju. Tentu saja Poirot takkan terkecoh, justru para anak muda itu yang gantian melongo ketika mendapati bahwa si ‘mayat’ benar-benar seperti sudah tak bernyawa! Pemecahannya ternyata simpel sekali, karena memang ini sebuah kisah misteri ringan. Tapi tetap saja menarik!

Yang jauh lebih menarik justru kisah kedua. Masih bertokoh-kan Hercule Poirot, kisah yang berjudul Misteri Peti Spanyol ini sangat menarik. Ada intrik cinta dan cemburu, dan pembunuhannya sendiri mirip sebuah seni. Seperti biasa khas Agatha, tak ada darah-darah atau ledakan yang sensasional. Hanya seonggok mayat yang ditemukan di sebuah peti besar di sebuah rumah. Padahal selama itu, ada lima orang lainnya yang sedang berpesta, minum-minum dan dansa-dansi di ruangan di mana peti itu berada. Padahal, si korban: Arnold Clayton juga diundang ke pesta itu, namun tak bisa datang.

Jika saja Poirot tidak tergelitik untuk memecahkan misteri kasus ini, sang tuan rumah: Mayor Rich atau pembantunya akan langsung dihukum karena pembunuhan. Habis, siapa lagi yang mungkin membunuh si korban dan memasukkannya ke dalam kotak? Namun..apa benar mereka melakukannya? Di sinilah kecerdikan Poirot akan diuji. Dan seperti biasanya juga, tante Agatha selalu membeberkan semua fakta dengan gamblang. Tinggal kitalah yang ditantang untuk beradu kepintaran dengan Poirot (atau dengan tante Agatha tepatnya?). Ah..aku menyerah deh! Mending menikmati saja kisah pembunuhan berseni ini.

Sebenarnya ada 4 kisah lagi dalam kumpulan cerita ini, selain 2 kisah utama itu. Hercule Poirot muncul di tiga kisah diantaranya, dan sebuah kisah - yang diibaratkan tante Agatha sebagai makanan pembuka pada sebuah jamuan Natal. Kisah ini, Greenshaws’ Folly, adalah satu-satunya kisah Miss Marple di kumpulan cerita ini. Tapi, untuk menutup postingku ini, aku hanya akan beberkan sebuah kisah yang menurutku cukup menarik dari judulnya: Buah Blackberry. Mungkin anda akan teringat pada gadget yang sekarang lagi beken, tapi sebenarnya aku mengharap ada cerita-cerita tentang makanan lagi. Hehehe...Dan ternyata memang benar.

Kali ini Poirot tergelitik pada kebiasaan seorang tua nyentrik yang suka makan di restoran yang sama selama 10 tahun. Harinya selalu Selasa dan Kamis, waktunya selalu setengah delapan malam. Menunya juga selalu sama. Info ini ia dapat ketika sedang makan ayam kalkun isi kenari (tuh..benar kan, makanannya mengundang selera?) bersama sahabatnya di resto yang sama. Si pelayan bingung, karena si tua pernah sekali ke resto itu pada hari Senin, dan memesan makanan yang tak biasa: sup tomat kental (padahal ia tak pernah pesan sup kental), dan juga kue tar buah blackberry, padahal tak pernah suka blackberry selama ini.

Sahabat Poirot, seperti mungkin banyak orang lain, akan menganggap enteng sesuatu yang di luar kebiasaan ini. Mungkin si tua sedang gundah, jadi tidak sadar akan apa yang dipesannya. Padahal menurut Poirot, orang yang sedang gundah justru akan secara otomatis melakukan sesuatu yang biasa ia lakukan, ia takkan ingin mencoba sesuatu yang baru. Masuk akal juga teori psikologis ini! Maka ketika si tua dikabarkan menginggal di rumahnya karena jatuh dari tangga, Poirot langsung curiga bahwa si tua dibunuh. Hebat kan? Mencurigai sebuah pembunuhan hanya karena kue tar blackberry? By the way, tahukah anda kalo buah blackberry itu membuat gigi menghitam? Satu lagi pelajaran dari tante Agatha kita yang tersayang. Bagi Poirot, itu salah satu cara menemukan pembunuh di kisah ini...

Akhirnya, kalo anda tertarik dengan buku ini, cepetan aja mencarinya karena kayaknya agak langka di toko buku. Ini rinciannya:

Judul buku: Skandal perjamuan Natal (The Adventure of Christmas Pudding)
Pengarang: Agatha Christie
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2007
Halaman: 352
Harga: Rp 31.875,- (setelah diskon 15% - bukabuku.com)