Monday, October 24, 2011

Pangeran Bahagia

Apakah kebahagiaan itu identik dengan keindahan, kemilaunya emas dan meronanya merah batu delima? Bersama Pangeran Bahagia, Oscar Wilde—seorang sastrawan legendaris Irlandia akan mengajak anda sekali lagi memaknai sebuah kebahagiaan. Seperti namanya, Pangeran Bahagia selalu mengalami kebahagiaan selama hidupnya yang terkurung di balik dinding istananya yang tinggi. Namun begitu ia meninggal dan sebuah patung didirikan di atas tiang jangkung yang menjulang ke atas kota, maka Pangeran Bahagia pun mulai menyadari bahwa banyak orang yang menderita di luar sana.

Suatu hari seekor burung walet (swallow) yang terlambat bermigrasi ke negeri Mesir yang hangat, merasa iba pada Pangeran Bahagia yang sedang menangis sedih. Burung Walet pun setuju untuk menunda kepergiannya ke Mesir demi menolong misi yang ingin dilakukan Pangeran Bahagia. Misi apakah itu? Apalagi kalau bukan membuat orang lain juga menjadi bahagia. Meski Pangeran Bahagia hanya bisa berdiri diam, ia merelakan semua yang ada pada dirinya demi membantu orang yang menderita. Batu delima di pedangnya, batu safir yang membuatnya memiliki mata, hingga emas yang selama ini melekat di tubuhnya. Semuanya tanpa batas ia ikhlaskan untuk mereka yang menderita.

Lalu bagaimana ketika Pangeran Bahagia sudah tak memiliki apapun untuk diberikan lagi? Akankah si burung wallet meninggalkannya untuk pergi ke Mesir menyusul teman-temannya? Dongeng Pangeran Bahagia ini merupakan salah satu dari kumpulan dongeng dengan judul sama. Dongeng ini adalah salah satu favoritku dari total 5 dongeng yang ada. Begitu menyentuh, begitu gamblang untuk dipahami. Ternyata kebahagiaan yang sejati adalah ketika kita mampu member kebahagiaan kepada orang lain. Kebahagiaan itu sifatnya memberi, dan bukan menerima…

Namun dongeng yang paling membuatku terhenyak adalah dongeng ketiga yang berjudul: Raksasa Yang Egois. Awalnya dongeng ini seperti dongeng anak-anak biasa, yaitu kisah raksasa yang mempunyai kastil dengan taman luas yang indah, penuh rumput hijau, bunga-bunga aneka warna dan 12 pohon persik. Taman itu menjadi tempat bermain anak-anak di sekitarnya di musim semi. Nah, ketika si raksasa pulang dan mendapati banyak anak-anak bermain di tamannya, marahlah ia. Dibangunnya dinding tinggi memagari tamannya, dan dipasangnya pengumuman yang melarang anak-anak memasuki taman. Anak-anak pun sedih, dan anehnya, musim semi, musim panas dan musim gugur pun tak mau lagi datang ke kebun si raksasa, hingga musim dingin, salju dan angin Timur lah yang bermain-main di sana.

Sekarang si raksasa lah yang menjadi sedih karena musim dingin yang berkepanjangan. Namun suatu hari ada seorang anak kecil datang bermain di sana dan mencium si raksasa. Hati si raksasa pun lumer, dan ia sangat mencintai si anak kecil. Namun setelah itu si anak kecil menghilang, sampai suatu saat si anak kecil datang kembali. Kali ini si raksasa menemukan sebuah kejutan dalam diri si anak kecil. Di sinilah anda akan dibuat terpana, ketika mengetahui siapa si anak kecil sebenarnya. Dongeng yang awalnya seperti dongeng anak-anak biasa, menjadi begitu dalam maknanya. Inilah dongeng paling favorit bagiku di buku ini!

Ada tiga dongeng lainnya yang masing-masing berbicara tentang makna cinta, makna persahabatan, dan keegoisan. Yang paling menarik mungkin kisah ke 4: Teman Yang Setia. Dongeng ini merupakan “dongeng di dalam dongeng”. Ada beberapa hewan yang sedang berdiskusi tentang makna “sahabat yang setia”. Ada tikus air yang hanya mementingkan dirinya sendiri, lalu ada ibu bebek dan burung pipit. Kemudian burung pipit menceritakan sebuah dongeng tentang Hans yang baik hati dan si Tukang Giling. Kedua tokoh ini menganggap temannya sebagai sahabat. Sebenarnya si burung pipit yang bercerita berharap si tikus air bisa mengambil pelajaran moral dari dongengnya itu. Namun ternyata si tikus air malah melengos pergi. Maka, Wilde pun menyerahkan kepada pembaca sendiri untuk mengambil kesimpulan, nilai moral apa yang terkandung dalam dongeng Hans sekaligus si tikus air itu.

Menilik dari ragam dongeng yang disajikan Wilde di buku ini, menurutku Pangeran Bahagia lebih ditujukan bagi orang dewasa atau paling tidak remaja, ketimbang anak-anak. Atau orang tua bisa membacakan dongeng ini bagi anak-anaknya sambil menjelaskan nilai moral yang ada di balik masing-masing dongeng. Yang jelas, dongeng-dongeng dari Oscar Wilde ini bukanlah dongeng biasa. Kisahnya memang ringan, namun mengandung makna yang cukup dalam untuk menjadi bahan permenungan.

Empat bintang untuk Pangeran Bahagia!

Judul: Pangeran Bahagia
Judul asli: The Happy Prince and Other Stories
Penulis: Oscar Wilde
Penerjemah: Risyiana Muthia
Penerbit: Serambi
Terbit: April 2011
Tebal: 104 hlm

Monday, October 17, 2011

The Odyssey of Homer

Odysseus adalah salah seorang pahlawan bangsa Achaean yang turut berperang melawan Troy. Alkisah, setelah sepuluh tahun berperang melawan Troy, pasukan Achaean pulang dengan membawa kemenangan. Namun rupanya Zeus, dewa pemimpin semua dewa, tidak menyukai hal ini sehingga meski Achaean dibiarkan menang, namun proses kepulangan orang-orang Achaean ke negerinya sendiri dipersulit oleh Zeus. Salah satu pahlawan Achaean yang bernasib paling buruk dalam perjalanan pulang ini adalah Odysseus. Kisah liku-liku perjuangan hidup-mati Odysseus demi bisa pulang ke Ithaca dikisahkan dalam epic The Odyssey, yang merupakan salah satu epic terbesar sepanjang masa, bersama dengan The Iliad yang juga karya Homer.

Epic ini dibuka dengan sebuah rapat yang terjadi di puncak Olimpus, tempat tinggal para dewa. Athena, putri Zeus, membujuk ayahnya untuk menolong Odysseus untuk dapat pulang ke negara dan keluarganya, setelah selama sepuluh tahun berkelana dari satu pulau ke pulau lain, dan akhirnya ditawan oleh seorang dewi yang jatuh cinta padanya, bernama Calypso. Athena memanfaatkan kesempatan ketika Poseidon, dewa yang membenci Odysseus, sedang pergi. Beroleh restu dari Zeus, Athena pun segera bekerja.

Pertama-tama ia mendatangi Telemachos, putra Odysseus yang kini telah berusia 20 tahun. Ternyata karena Odysseus tak kunjung pulang dari Troy, ada 108 orang raja dan pangeran muda yang dengan kurang ajarnya merayu istri Odysseus, Penelopeia, agar menikahi salah seorang dari mereka. Bukan saja menginap di istana Odysseus, mereka juga berlaku seenaknya dan menghabiskan harta dan makanan Odysseus, karena mereka berpikir sang raja Ithaca telah meninggal.

Maka Athena pun membangkitkan keberanian Telemachos untuk pergi ke kediaman Nestor untuk menanyakan keberadaan ayahnya. Karena, selama ayahnya belum pulang, sulit baginya untuk mengusir para pelamar ibunya. Sementara itu Zeus mengutus Hermes untuk memaksa Calypso membebaskan Odysseus. Akhirnya Odysseus pun memulai perjalanan pulangnya. Namun, itu tak berarti perjalanan itu akan berjalan mulus. Zeus telah mentakdirkan Odysseus mengalami berbagai macam rintangan. Ditambah lagi, karena dalam perjalanan itu Odysseus telah membutakan mata raksasa cyclop yang adalah putra Poseidon, Poseidon pun makin bertambah murka. Dan rintangan demi rintangan yang seolah tak ada habisnya harus dihadapi Odysseus. Satu persatu anak buahnya tewas, hingga akhirnya Odysseus pun sendirian. Berhasilkah ia pulang? Dan apakah Penelopeia masih mau menunggunya setelah berpisah selama 20 tahun?

Berbeda dengan The Iliad yang lebih dinamis dengan banyak tokoh yang terlibat dalam perang, The Odyssey ini seolah menjadi antiklimaksnya. Odysseus menjadi tokoh sentral di keseluruhan kisah, dan meski perjalanan pulangnya dipenuhi tantangan dan aksi seru, tetap saja aku sempat merasa bosan di tengah-tengah. Begitu dominannya Odysseus, sehingga kematian tokoh-tokoh penting di The Iliad seperti Agamemnon dan Achilles, terasa hambar dan tidak berkesan.

Baru pada bagian akhirlah cerita menjadi agak berbobot berkat sedikit aksi. Namun, tetap saja terasa beda. Kalau dalam The Iliad para pahlawan berperang melawan negara lain, di The Odyssey, Odysseus berperang di rumah sendiri saja.....

Pengulangan adegan juga salah satu aspek yang membuatku bosan. Saat Odysseus atau Telemachos dalam perjalanan dan singgah ke istana suatu negara, selalu saja ritual “kunjungan orang asing” yang sama berlangsung. Mula-mula tamu akan dijamu makan, lalu disuruh bercerita dari mana asalnya dan maksud kedatangannya. Setelah makan, semua orang menuangkan anggur dari cawan masing-masing ke tanah untuk berdoa pada para dewa. Lalu sebelum si tamu pulang, sang tuan rumah akan memberikan berbagai hadiah-hadiah indah yang belum pernah dilihat tamunya. Aku mengerti bahwa itu memang kebiasaan bangsa Yunani yang berlaku saat itu. Tapi kalau ritual itu dikisahkan berulang-ulang pada setiap kunjungan, lama-lama bosan juga.

Mungkin saja…. memang begitulah karakter sebuah epic. Karena epic itu pada dasarnya adalah puisi naratif, maka mungkin saja terjadi banyak pengulangan. Bagaimana pun, keberanian dan kegigihan Odysseus yang pantang menyerah dalam menghadapi rintangan patut diacungi jempol. Entah sudah berapa kali ia harus menantang maut. Dari raksasa kanibal hingga ke monster menakutkan, dari sihir hingga harus mengarungi keganasan laut setelah terlempar dari kapal, semuanya mampu dihadapi Odysseus. Tak heran, The Odyssey merupakan epic kepahlawanan terbesar sepanjang masa. Tiga bintang untuk buku ini!

Judul: The Odyssey of Homer
Penulis: Homer
Penerjemah: A. Rachmatullah
Penerbit: Oncor Semesta Ilmu
Terbit: 2011
Tebal: 317 hlm

Wednesday, October 12, 2011

What is Epic?

Semenjak membaca The Iliad dan The Odyssey of Homer, aku jadi bertanya-tanya, apa sih sebenarnya epic itu? Dan kriteria apa saja yang membuat sebuah karya disebut epic? Bagaimana dengan The Sword in The Stone yang merupakan bagian pertama dari The Once and Future King karya T.H. White? Atau Lord of The Rings, dapatkah kedua karya ini disebut epic? Dan inilah penjelasan yang kurangkum dari berbagai sumber di internet:

Asal mula Epic

1. Istilah epic berasal dari kata Yunani “epos” yang artinya: kata, cerita, puisi.

2. Biasanya berupa puisi naratif yang bercerita tentang perjuangan kepahlawanan yang merepresentasikan suatu budaya, bangsa atau agama. Keberhasilan atau kegagalan sang pahlawan akan menentukan nasib bangsa atau kumpulan orang yang diwakilinya.

3. Awalnya epic diceritakan secara lisan, namun sejak jaman Virgil (penulis The Aeneid), Dante Alighieri dan John Milton, kisah epic mulai hadir dalam bentuk tertulis.

Kriteria Epic

1. Epic biasanya bercerita tentang negara, dunia atau alam semesta.

2. Kisah epic beralur cepat dan mencakup area geografis yang luas.

3. Gaya penulisan epic biasanya in medias res (dari bahasa Latin = into the middle of things) yang artinya cerita di mulai di tengah-tengah aksi lalu baru disusul flashback ke belakang lewat narasi atau dialog tokohnya, untuk menjelaskan runtutan kejadian hingga ke cerita yang menjadi awal epic tadi.

4. Kehadiran dewa-dewi atau kekuatan supernatural lain biasanya menghiasi kisah epic dengan mengintervensi kehidupan manusia.

5. Biasanya penggambaran tokoh dipenuhi dengan ephitet (dari bahasa Yunani = descriptive term), artinya uraian yang menjelaskan suatu tokoh. Misalnya dari Odyssey of Homer: “Cronides ayah kami, penguasa alam semesta

6. Epic biasanya dilengkapi dengan catalog lengkap (=enumeratio) mengenai para tokoh yang terlibat, nama, keturunan dsb.

Evolusi Epic

Epic Awal

Epic tertua di dunia dipercaya adalah Epic of Gilgamesh, yang ditulis di batu seribu tahun sebelum Iliad. Setelah itu menyusul era epic Yunani Kuno, diwakili oleh Iliad dan Odyssey of Homer yang merupakan epic terbesar sepanjang masa. Pada jaman ini epic bercerita tentang seseorang yang berjuang melawan (atau dibantu oleh) dewa-dewi dan/atau makhluk-makhluk.

Epic Abad Pertengahan

Masih tentang perjuangan seorang pahlawan, namun di sini keberadaan dewa-dewi sudah dihilangkan. Sang pahlawan lebih mengandalkan dirinya sendiri. Epic paling terkenal era ini adalah King Arthur (Le Morte d’Arthur) karya Thomas Malory. Epic ini kemudian ditulis ulang dengan gaya baru oleh T.H. White dalam The Once and Future King. Ciri khas epic era ini adalah penggunaan sihir sebagai ganti campur tangan dewa-dewi.

Epic Modern

Meski kriteria epic jaman ini masih sama dengan para pendahulunya, namun ada evolusi yang signifikan tentang setting-nya. Kalau di jaman dulu, “dunia” adalah dunia nyata tempat kita hidup, di epic modern, penulis mulai “menciptakan” dunia khayalan yang lalu diisi dengan naga atau makhluk-makhluk lainnya. Epic modern yang paling terkenal adalah The Lord of the Rings karya J.R.R. Tolkien. Jadi, meski ciri khas epic yaitu perjuangan seorang pahlawan yang penuh rintangan masih tetap ada, namun tantangannya menjadi berbeda ketika “dunia” yang dihadirkan juga menjadi lebih kompleks.

Akhirnya, unsur fantasi yang memang melekat pada epic sejak awal (intervensi dewa-dewi, makhluk supernatural), akan lebih “mengental” di Epic Modern.

Semoga bermanfaat!

Monday, October 10, 2011

Lady Chatterley’s Lover

Ini adalah salah satu buku yang menurutku kontroversinya melebihi kekuatan kisahnya sendiri. D.H Lawrence mulai menulis buku ini di tengah kemuraman jaman setelah Perang Dunia I usai. Dari Midland, Inggris-tempat tinggalnya, ia melihat banyak kepesimisan dalam hidup orang-orang. Manusia menjadi lebih kaku, dingin dan mengagungkan intelektualitasnya sebagai yang utama dalam hidup, dan melupakan kehangatan jiwa pada sesama dan bahkan pada pasangannya.

Lawrence kemudian menuangkan kecamannya terhadap industrialisme yang menurutnya menjadi salah satu penyebab perubahan ini, ke dalam bentuk seksualitas wanita. Lebih tepatnya, Lawrence menganalogikan kebebasan dari kungkungan kesombongan itu lewat (maaf) seks, persetubuhan dan orgasme. Ketiga hal inilah yang membuat novel ini sempat melahirkan kontroversi karena pada jaman itu ketiga hal itu dianggap tabu, apalagi kalau dibeberkan secara eksplisit. Selain itu, buku ini juga bertutur tentang perselingkuhan pria dan wanita dari dua strata sosial yang jauh berbeda, yakni bangsawan dan pekerja.

Constance “Connie” Reid adalah wanita muda yang sedang mekar, besar di keluarga yang cukup liberal dan telah berkeliling dunia serta mengenyam kebebasan, sebelum akhirnya menikah dengan seorang bangsawan bernama Clifford Chatterley. Sebulan setelah pernikahan itu, Clifford harus berangkat perang, untuk kemudian pulang sebagai orang cacat, lumpuh dari pinggang ke bawah dan membuatnya impoten. Kelumpuhan itu bukan saja menyerang Clifford secara fisik, namun rupanya juga secara mental. Artinya, Clifford menjadi dingin dan kaku, makin arogan dan percaya bahwa hal-hal manusiawi seperti sentuhan fisik dan cinta adalah omong kosong, dan malah mengagungkan akal intelektualnya.

Connie merasa kecewa, kesepian, layu dan hampa dalam kehidupan di Wragby Hall, rumah muram mereka, dalam kungkungan perkawinan yang tak bahagia. Sampai suatu hari secara tak sengaja ia menemukan pondok seorang penjaga hutan yang dipekerjakan Clifford. Mellors, si penjaga hutan, ternyata pria yang tampan dan “terhormat”, meski berasal dari kalangan rakyat biasa. Mellors adalah veteran perang yang kini hidup sendirian setelah bertengkar kemudian berpisah dari istrinya. Sejak saat itu ia tak mau mendekati wanita dan mengalami cinta. Namun Connie mengubah segalanya…

Singkat kata, Connie dan Mellors berselingkuh. Kadang mereka bercinta di pondok, kadang di gubuk, kadang bahkan di alam terbuka di tengah hutan. Melakukannya bersama Mellors, Connie menemukan “kebebasan”. Dalam kebersamaan dengan Mellors, ia tak lagi hanya sebagai Putri Chatterley, namun benar-benar sebagai seorang wanita dengan kewanitaannya yang lengkap. Connie akhirnya hamil, dan saat itupun muncul masalah. Bagaimana masa depan Connie dan Mellors, dapatkah mereka bersatu seperti pasangan normal lainnya? Ataukah Connie tetap harus mempertahankan perkawinannya dengan Clifford dan menjadikan bayi itu penerus Wragby? Dapatkah masyarakat menerima skandal mereka?

Membaca buku ini diperlukan konsentrasi yang lumayan tinggi, karena selain kebanyakan berupa narasi yang sarat kriktik, penerjemahannya pun agak kurang pas di sana-sini. Ditambah dengan uraian panjang tentang situasi sosial dan politik jaman itu yang tidak aku pahami sepenuhnya, membuat aku kadang melompat ke halaman berikutnya. Terlepas dari hal-hal itu, Lady Chatterley’s Lover ini memang bacaan yang unik. Kalau dibandingkan dengan bacaan-bacaan modern, sebenarnya erotisme di buku ini tidaklah terlalu vulgar, karena Lawrence mampu mengungkap hal-hal tabu itu dengan bahasa yang indah, sehingga menyisakan ruang bagi pembaca untuk berimajinasi sendiri.

Buku ini juga masuk ke dalam (buku): Buku-Buku Yang Mengubah Dunia karya Andrew Jackson, bersama 49 buku lainnya. Buku ini dianggap membawa perubahan besar dalam bidang sastra. Selama lebih dari 30 tahun buku ini dilarang beredar di Inggris dan Amerika. Bahkan setelah ditulis tahun 1920, sempat beredar setidaknya tiga versi bajakan di negara-negara tersebut. Versi asli buku ini juga sempat ditulis ulang hingga tiga kali, sebelum akhirnya ada sebuah penerbit yang bersedia menerbitkan tulisan D.H. Lawrence ini dan menjualnya dengan harga lebih murah dari bajakan. Versi terakhir ini menyertakan juga catatan panjang yang ditambahkan Lawrence ke dalam buku ini, menjelaskan panjang lebar tanggapan dan proses pengerjaan buku ini.

Melalui persidangan di Amerika dan Inggris, akhirnya buku ini diijinkan terbit secara legal pada tahun 1959 dan 1960. Kasus ini akhirnya menjadi semacam pendobrak bagi penyensoran sastra yang telah berlangsung lama di Inggris. Tak heran bila sekarang semakin banyak novel yang menyertakan unsur-unsur erotis sebagai bumbu cerita, yang sudah menjadi makin biasa bagi kita. Namun pendobrak awalnya, adalah D.H. Lawrence bersama Lady Chatterley’s Lover-nya. Tiga bintang untuk buku unik ini!

Judul: Lady Chatterley’s Lover
Penulis: D.H. Lawrence
Penerjemah: Arfan Achyar
Penerbit: Alvabet
Terbit: Desember 2008
Tebal: 586 hlm

Monday, September 26, 2011

Treasure Island


Jauh sebelum The Pirates of Caribbean mempesona kita di layar lebar, seorang penulis Skotlandia dari abad 19 telah terlebih dahulu mempopulerkan kisah tentang bajak laut dan perburuan harta karun di pulau tropis Karibia. Treasure Island karya Robert Louis Stevenson ini kemungkinan besar menjadi pelopor terciptanya mitos bajak laut berkaki satu dengan burung kakak tua bertengger di pundaknya, peta harta karun dan perahu model sekunar. Kisah ini pertama kali diterbitkan sebagai buku pada tahun 1883.

Entah mengapa, Robert Louis Stevenson memilih membuka kisah ini dengan kedatangan seseorang bernama Biily Bones yang jelas-jelas dari penampilannya menunjukkan bahwa ia seorang bajak laut. Bajak laut itu bertubuh tinggi besar, dan pada suatu hari ia muncul begitu saja ke penginapan Admiral Benbow di Inggris sambil membawa koper hitamnya yang dijaganya bak harta karun.

Setelah berhari-hari tinggal di penginapan itu, Jim Hawkins --remaja pria berusia 17 tahun putra pemilik penginapan itu—makin tertarik saja pada Billy Bones yang tampaknya sedang bersembunyi. Billy menyuruh Jim berhati-hati bila seseorang berkaki satu yang sangat ditakutinya muncul. Namun sebelum itu terjadi, Billy terserang stroke lalu meninggal.

Ketika menggeledah koper Billy untuk mengambil uang untuk mengganti biaya penginapan, Jim menemukan sebuah bungkusan misterius dan langsung mengambilnya. Untunglah, karena tak lama setelahnya beberapa bajak laut menggeledah penginapan itu untuk mendapatkan bungkusan itu!

Bersama Dokter Livesey dan Hakim Trelawney, Jim menemukan bahwa bungkusan misterius itu adalah sebuah peta harta karun! Sebenarnya sebelum meninggal, Billy sempat bercerita kepada Jim tentang bajak laut paling ditakuti bernama Kapten Flint, dengan siapa ia dulu berlayar bersama. Tampaknya (dan sebenarnya inilah awal mula kisah ini yang sebenarnya) Kapten Flint pernah menyembunyikan harta karun jarahannya bersama anak buahnya di kapal Walrus, di sebuah pulau di Karibia. Tak seorang pun anak buahnya yang tahu lokasinya, dan peta yang dibuatnya akhirnya diwariskan ke Billy Bones. Tentu saja, kini para mantan anak buahnya mengejar Billy dan peta itu.

Dengan peta harta karun di tangan, maka dimulailah petualangan mencari harta karun. Berlayar dengan kapal Hispaniola, Dokter Livesey, Hakim Trelawney, Kapten Smolett dan kawan kita Jim pun menuju ke Karibia. Semuanya bersemangat demi petualangan di laut. Bayangkan serunya suasana di kapal dengan sesekali terdengar nyanyian itu…

“Lima belas orang di dalam peti mati---
Yo-ho-ho dan sebotol rum!”

Namun, petualangan yang semula nampak mengasyikkan itu tak lagi asyik ketika Jim secara tak sengaja mendengar percakapan juru masak kapal dan awak lainnya, saat ia duduk-duduk di dalam tong apel. Siapakah si juru masak yang berkaki satu dengan kakaktua bertengger di bahunya itu? Apakah ia bajak laut berkaki satu yang ditakuti Billy Bones? Kalau begitu mengapa ia ikut dalam pelayaran mencari harta karun ini?

Seperti biasanya, di mana ada harta karun, pastilah akan ada pertarungan dan perebutan di situ. Dan cerita pun bergulir makin cepat dan makin seru saat kapal telah berlabuh di pulau harta karun. Kubu manakah yang akan menemukan harta karun itu lebih dulu?

Karakter paling menarik di kisah ini, tentu saja, adalah kawan kita Jim Hawkins. Sebagai anggota termuda petualangan ini, jangan mengira Jim hanya menjadi awak kapal semata. Paling tidak tiga kali Jim menjadi penyelamat kawan-kawannya berkat campuran antara kenakalan, keberanian dan nasib baik. Boleh dibilang ada semacam transformasi karakter di sini, dari Jim si anak pemilik penginapan, menjadi Jim si pemberani.

Di sisi lain ada Long John Silver si kaki satu, tentu saja. Satu kata yang tepat untuk menggambarkannya adalah: cerdik. Jelas Silver tak seperti bajak laut lainnya, dan ia ditakuti oleh kawan-kawannya karena kecerdikannya. Silver adalah karakter yang eksotis, ada dua sisi dalam karakternya yang akan membuat pembaca agak bingung, namun justru semakin membuat kisah ini semakin seru dan tegang.

Ada lagi yang menarik dari kisah Treasure Island ini. Robert Louis Stevenson rupanya menempatkan beberapa unsur sejarah dalam kisah ini. Salah satunya adalah para bajak laut bernama England, Roberts, Israel Hands dan Kapten Kidd yang disebut-sebut di kisah ini. Mereka memang bajak laut-bajak laut yang pernah hidup dalam sejarah.

Treasure Island pasti telah melambungkan banyak imajinasi remaja dari jaman dulu hingga sekarang. Aku sendiri selalu senang membaca kisah-kisah yang ada unsur pelayaran, dengan kapal maupun kapal selam. Dan Robert Louis Stevenson telah dengan piawai membawa imajinasiku jauh ke Karibia. Empat botol rum untuk Treasure Island, dan tentu saja…. Yo-ho-hooo!

Judul: Treasure Island
Penulis: Robert Louis Stevenson
Penerbit: Atria
Terbit: April 2011
Tebal: 354 hlm

Thursday, September 22, 2011

Uncle Tom's Cabin

"Jadi, Andalah wanita mungil yang menulis buku yang memicu perang besar ini?". Pertanyaan itu konon terlontar dari mulut seorang presiden Amerika Serikat, Abraham Lincoln, suatu hari di bulan November 1862 saat bertemu dengan seorang wanita. Aku tak tahu pasti tentang mungil atau tidaknya tubuh si wanita, namun aku percaya bahwa salah satu buku yang ia tulis bisa jadi telah memicu sebuah perang besar. Perang yang dimaksud adalah Perang Saudara yang terjadi di abad 19. Wanita yang dimaksud adalah Harriet Beecher Stowe. Jadi...buku apa yang ditulis Mrs. Stowe ini? Tak lain dan tak bukan sebuah novel yang bertutur tentang perbudakan: Uncle Tom's Cabin.


Perang Saudara & latar belakang perbudakan yang menginspirasi Uncle Tom's Cabin

Sebelum Perang Saudara terjadi, sedikitnya ada tujuh negara bagian di Amerika Utara yang masih melegalkan perbudakan. Saat partai Republik memenangkan pemilihan umum dan menjadikan Abraham Lincoln presiden Amerika Serikat, ketujuh negara bagian itu memisahkan diri dari Amerika Serikat dan membentuk sebuah Konfederasi. Agresi militer akhirnya digerakkan oleh Konfederasi, dan menyerang basis militer Amerika Serikat pada April 1861. Perang Saudara.

Perbudakan di Amerika sendiri diperkirakan terjadi mulai sekitar abad 16 dan berakhir pada abad 19. Pada tahun 1850 sebuah undang-undang disahkan oleh Kongres Amerika Serikat. Undang-Undang itu (Fugitive Slave Law= Undang-Undang Budak Buron) melarang warganya untuk membantu para budak yang melarikan diri dari satu negara bagian ke negara bagian lainnya. Pada saat itulah Mrs. Stowe mulai menulis sebuah kisah tentang penindasan dan kemalangan para budak ini. Konon sebagian kisah di buku ini diinspirasi oleh kisah nyata Josiah Henson, seorang budak berkulit hitam yang berhasil melarikan diri ke utara (Kanada), lalu berhasil menolong pula budak-budak lain yang melarikan diri.


Paman Tom

Paman Tom, seperti para budak yang dipekerjakan di pertanian atau peternakan di Amerika, adalah warga Afrika yang berkulit hitam. Ia menjadi tokoh utama di novel ini berkat karakternya yang tenang, bersahaja, jujur, dan terhormat. Namun yang paling menonjol dari Paman Tom adalah ketaatannya kepada Tuhan. Alkitab menjadi harta miliknya yang paling berharga. Dari sanalah ia belajar untuk berbuat baik pada sesama, berkorban untuk mereka yang lebih lemah, dan akhirnya menjadi sumber pengharapannya sendiri ketika ia berada di puncak kesengsaraan. Ia mampu bertahan karena imannya yang teguh pada kemuliaan kekal yang dijanjikan Tuhan dalam ajaran Kristiani.

Awalnya Paman Tom hidup bersama istri dan anak-anaknya di sebuah pondok sederhana di Kentucky. Keluarga mereka menjadi budak milik Tuan & Nyonya Shelby yang baik dan dermawan. Paman Tom sudah dianggap keluarga sendiri dan hidup dalam kebahagiaan. Sayangnya usaha Tuan Shelby terlilit hutang, sehingga Tuan Shelby terpaksa menjual Paman Tom kepada pedagang budak. Bersama Paman Tom, ada seorang budak anak-anak milik Tuan Shelby yang juga hendak dijual.

Eliza

Menguping pembicaraan Tuan dan Nyonya Shelby bahwa Harry, putra semata wayangnya akan dijual kepada pedagang budak, Eliza pun memutuskan untuk melarikan diri. Tujuannya adalah Kanada, ke mana suaminya, George juga telah berjanji untuk melarikan diri sebelumnya. Dan bila Tuhan menghendaki, maka mungkin mereka sekeluarga akan dapat berkumpul kembali dalam keadaan merdeka.

Sementara Eliza yang malang bersama putranya dikejar-kejar dalam pelariannya, Paman Tom amat beruntung karena dibeli oleh pria muda kaya yang ramah dan baik hati bernama Augustine St. Clare ketika berada di kapal yang menuju ke New Orleans. Paman Tom dan Eva bersahabat dekat, karena keduanya memiliki kesamaan dalam kesalehan mereka. Keduanya, dalam banyak kesempatan, banyak mempengaruhi orang-orang di sekitar mereka untuk percaya kepada kemurahan hati Tuhan dan untuk selalu menaruh harapan akan pertolonganNya. Terutama Paman Tom, yang sering menggunakan ayat-ayat Alkitab untuk mencairkan kebencian temannya yang menolak Tuhan.

"Datanglah kepadaKu, engkau yang letih lesu dan berbeban berat, karena Aku akan menyegarkan kamu." ~hlm 482.

Sangat jarang seorang budak yang benar-benar percaya kepada Tuhan. Karena, meski mereka berkesempatan pergi ke gereja, kesengsaraan dan siksaan yang bertubi-tubi membuat iman mereka luntur. Sungguh sulit untuk mempercayai bahwa Tuhan hadir dalam hidup mereka ketika hanya penderitaan yang mereka alami setiap hari.

"Apakah ada Tuhan yang bisa dipercayai? Saya merasa tidak mungkin ada Tuhan di sini. Kalian orang beragama tidak tahu hal-hal semacam ini bisa terjadi kepada kami. Ada Tuhan untuk kalian, tetapi apakah ada Tuhan untuk kami?" (George Harris) ~hlm. 165.

Dalam novel ini kita akan menyaksikan banyak karakter yang menarik. Ada majikan yang baik hati: Tuan & Nyonya Shelby serta Tuan Augustine St. Clare, ada pula majikan yang kejam: Tuan Legree --yang menjadi majikan Paman Tom setelah St. Clare. Ada yang memandang perbudakan sebagai hal yang biasa, dalam hal ini diwakili oleh Marie (istri St. Clare) yang egois dan sangat dangkal pemikirannya. Orang-orang seperti ini memandang ras Anglo Saxon sebagai yang tertinggi, sementara ras kulit berwarna (apapun) lebih rendah kelasnya.

"Tidak ada peradaban tinggi tanpa perbudakan masal, baik nominal maupun kenyataan. Harus ada kelas yang lebih rendah, yang digunakan untuk kerja keras fisik dan dikekang seperti hewan. Dan harus ada kelas yang lebih tinggi yang mendapatkan kesenangan dan kekayaan untuk memperluas kecerdasan dan kemajuan, serta menjadi penguasa dari yang lebih rendah." (Alfred St. Clare) ~hlm. 318.

Ilustrasi pemukulan majikan terhadap budak yang melakukan kesalahan meski sederhana, di gambar ini tampak seorang budak dipecut seperti hewan

Namun ada pula mereka yang percaya bahwa Tuhan menciptakan manusia sederajat, tak peduli ras atau asal usulnya. Mereka diwakili oleh Augustine St. Clare, Eva putrinya, juga George Shelby (putra Tuan & Nyonya Shelby). Sementara di kubu "tengah" ada Nona Ophelia (sepupu St. Clare) yang pada dasarnya mengasihi sesamanya, namun tetap memiliki prasangka terhadap ras lainnya. Sangat menarik menyimak diskusi panjang-lebar St. Clare dan Nona Ophelia tentang perbudakan di bab 19.

Sebenarnya novel ini tidak melulu bercerita tentang Paman Tom dan Eliza saja, ada kisah tentang budak-budak lain dengan penderitaan maupun kisah hidup masing-masing. Namun dari keduanya akan terangkai banyak kisah yang awalnya seolah berdiri sendiri dan tak berhubungan satu sama lain, namun di bagian akhir akan terlihat benang merah yang menghubungkan mereka semua.

Pada akhirnya, novel setebal 610 hlm ini telah mengingatkan aku akan banyak hal. Pertama, bahwa kesombongan manusia dapat membawa akibat yang sangat mengerikan, yaitu ketika manusia memperlakukan sesamanya bagaikan hewan atau benda. Sebelum manusia dapat sepenuhnya menerima konsep bahwa mereka diciptakan sederajat meskipun berbeda, penindasan di atas bumi ini takkan berhenti. Meski mungkin praktek memperdagangkan/membeli budak di pasar dan membuatnya menjadi hak milik sudah lama dihapuskan, namun penindasan sebenarnya masih ada di dunia ini dalam bentuk-bentuk yang sedikit lebih beradab.

Kedua, hanya kebaikan dan kelembutan cinta kasihlah yang dapat mengeluarkan potensi terbaik manusia. Kalau kita ingin mendapatkan respek, kasih dan kesetiaan dari orang lain, maka satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah: melakukan hal yang sama terlebih dahulu kepada orang lain. Dalam novel ini terlihat, bahwa seorang budak menjadi tidak jujur karena selalu diperlakukan jahat oleh majikan. Karena itu, si majikan akan menjadi lebih jahat lagi, dan terus saja lingkaran setan itu berulang.

Ketiga dan yang terpenting, dalam setiap kesusahan dan penderitaan, ingatlah selalu kepadaNya. Karena hanya Dialah yang takkan pernah ingkar janji. Bila kita mengalami kesengsaraan karena melakukan hal yang benar, maka kebahagiaan di rumahNya kelak pasti menjadi milik kita.

Empat bintang kuberikan untuk Uncle Tom’s Cabin, dan satu bintang khusus untuk penerjemahan yang bagus bagi novel ini. Kalau anda sempat mengintip versi asli novel ini dalam bahasa Inggris (lewat google books), anda akan menemukan logat khas orang kulit hitam bertebaran dalam novel ini terutama saat para budak berbicara. Aku menyadari betapa sulitnya menerjemahkan bagian ini tanpa menghilangkan cirri khas yang membedakan logat para budak dengan logat kalangan atas yang lebih berpendidikan. Memang bahasa yang dipakai jadi aneh, mirip bahasa Indonesia ala luar pulau, namun tetap aku salut pada usaha untuk menghadirkan citarasa yang paling mendekati novel aslinya dalam penerjemahannya.

Menutup review ini, ijinkan aku meminjam lagu yang dinyanyikan Paman Tom, yang membuatku makin merasakan betapa hangatnya kasih Tuhan kepada manusia...

"Bumi akan meleleh seperti salju,
Matahari akan berhenti bercahaya;
Tapi Tuhan, yang di sini memanggilku,
Akan jadi milikku selamanya.

"Dan ketika kehidupan fana ini berakhir,
Dan badan serta indra akan tiada,
Aku akan memiliki di dalam tabir,
Kehidupan penuh damai dan sukacita.

"Saat kita sepuluh ribu tahun di sana,
Kemilau berpendar bagai sang mentari,
Kita tetap melantunkan puji syukur kepadaNya,
Seperti saat kita memulai setiap hari."


Judul: Uncle Tom's Cabin
Penulis: Harriet Beecher Stowe
Penerjemah: Istiani Prajoko
Penerbit: Serambi
Terbit: Juli 2011
Tebal: 610 hlm

NB: Tolong beritahu aku kalau ada dari anda yang berhasil menamatkan buku ini tanpa meneteskan air mata barang sekali saja!

Friday, September 9, 2011

Eight Cousins

Kesedihan tak dapat kita panggul sendirian. Kadang kala kita membutuhkan orang lain di luar diri kita untuk membantu menyembuhkannya. Itulah pelajaran yang kudapat dari membaca buku Eight Cousins karya Lousia May Alcott ini. Kisah ini ditulis pada akhir abad 19, dan ditujukan bagi para para gadis remaja yang segera akan memasuki masa dewasa. Louisa meletakkan dasar pembentukan moral bagi seorang wanita pada jaman itu lewat kisah ringan dan ceria ini.

Rose baru berusia tiga belas tahun ketika ayahnya, satu-satunya orang tua yang ia miliki di dunia, pergi meninggalkannya dalam kematian. Sebelum meninggal, ayahnya memberikan hak perwalian bagi Rose kepada saudaranya, seorang pria berpembawaan riang, seorang dokter yang suka berlayar. Rose memanggilnya Paman Alec.

Sambil menunggu Paman Alec pulang dari pelayarannya, Rose dititipkan ke Aunt-Hill. Yah...dari namanya, anda mungkin bisa menebak bahwa Aunt-Hill adalah tempat tinggal para bibi. Terdengar membosankan bukan? Satu bibi sudah cukup, tapi bagaimana dengan enam bibi? Dan para Mrs. Campbell ini, para bibi Rose, tinggal di suatu kompleks yang berdekatan satu sama lain.

Para bibi ini masing-masing mencoba membuat Rose yang berkabung menjadi lebih ceria. Segala cara mereka lakukan. Mendatangkan seorang gadis kecil untuk menemaninya salah satunya, sayang Ariadne Bliss ternyata gadis kecil yang menyebalkan. Lemari boneka dan hal-hal yang harusnya bisa menghibur anak perempuan telah dicoba oleh Bibi Plenty dan Bibi Peace, namun Rose tetap berdiam diri dengan wajah pucat dan tubuh kurus berpenyakitan. Para bibi sudah hampir putus asa....

Para bibi yang hampir putus asa itu menyiapkan sebuah manuver terakhir bagi keponakan malang mereka. Kejutan itu hadir suatu sore dengan cara yang heboh. Tujuh anak laki-laki berbaris di ruang duduk, semuanya berambut kuning dan berpakaian ala Skotlandia. Itulah "Klan". Tak butuh waktu lama bagi Rose untuk mengetahui bahwa mereka adalah sepupu-sepupunya, dan bahwa mereka anak-anak laki-laki yang sangat ribut! Padahal...ssttt...selama ini Rose sangat membenci anak laki-laki dengan semua kelakuan dan kegiatannya.

Tapi "Klan" bukanlah anak laki-laki sembarangan, mereka semua hadir dengan keunikan masing-masing sehingga ujung bibir Rose sudah mulai membentuk senyuman dalam pertemuan pertama ke delapan sepupu ini. Bagaimana tidak, kalau Archie si kepala klan yang tertua dan selalu bersikap terhormat, Charlie "The Prince" yang flamboyan, Mac si kutu buku, Steve "Dandy" yang pesolek, Will & Geordie si bandel, dan si kecil Jamie, semua berkolaborasi untuk menyenangkan nona kecil kita?

Namun kebahagiaan sesungguhnya mendatangi Rose dalam sosok Paman Alec. Ia orang yang ramah, baik hati, penuh perhatian pada "gadis kecil"nya. Paman Alec dulu mencintai ibu Rose, namun ternyata ibu Rose memilih saudaranya. Untungnya Alec tak mendendam, dan kini ia mencurahkan waktu dan pikirannya untuk sebuah proyek besar. Proyek itu adalah mengambil alih pengurusan Rose dari para bibi ke tangannya sendiri, dan membuat Rose menjadi lebih sehat, ceria dan normal. Proyek itu berlangsung selama setahun.

Selama setahun itu Rose perlahan tumbuh menjadi gadis yang ceria dan sehat, berwawasan luas serta dipersiapkan menjadi seorang wanita yang "baik", meski tetap keceriaan remajanya tetap muncul. Paman Alec memberikan contoh yang baik bagi remaja putri. Alih-alih mengenakan gaun berat berkorset plus high heels, Paman Alec memilihkan pakaian yang nyaman dan sederhana bagi Rose, yang justru menampilkan kecantikan seorang gadis remaja. Kegiatan-kegiatan di luar rumah membuat Rose sehat dan segar. Sementara pelajaran-pelajaran keilmuan dari Paman Alec serta ketrampilan mengurus rumah tangga dari para bibi, mempersiapkan Rose menjadi ibu rumah tangga yang tetap berwawasan.

Banyak petualangan seru dan asyik dijalani Rose bersama Paman Alec dan tujuh sepupunya. Namun di sela kegembiraan itu, Rose juga sempat melakukan "pengorbanan". Ia mengorbankan saat-saat indah liburan di pulau demi Phebe, gadis pelayan yatim piatu yang ia angkat menjadi saudaranya. Ia juga meluangkan waktu untuk menemani Mac saat anak laki-laki itu menderita sakit mata. Dan saat ada pertengkaran di antara sepupunya, Rose-lah yang mendamaikan mereka.

Akhirnya, setelah masa setahun itu selesai, Rose harus memutuskan di mana dan bersama siapa ia akan tinggal setelah itu. Siapa yang paling dicintainya dan paling membahagiakan hidupnya?

Eight Cousins ini jelas buku yang membawa kegembiraan bagi pembacanya, tapi di dalamnya juga tersisip pelajaran moral yang baik bagi remaja pada umumnya, dan remaja putri khususnya. Persahabatan, pengorbanan, kepercayaan, dan baaanyaaak keceriaan akan anda temukan di sini. Tiga bintang untuk kedelapan sepupu ini!

Judul: Eight Cousins
Penulis: Louisa May Alcott
Penerbit: Orange Books (Mizan group)
Terbit: Februari 2011
Tebal: 375 hlm