Friday, December 24, 2010

Si Cantik Dari Notre Dame

Entah mengapa buku ini harus diberi judul Si Cantik dari Notre Dame, bukannya Si Bungkuk dari Notre Dame sesuai judul buku aslinya karangan Victor Hugo: The Hunchback of Notre Dame. Mungkinkah karena alasan komersiil? Karena "cantik" lebih bernilai jual daripada "bungkuk"? Entahlah, tapi nyatanya buku ini adalah versi terjemahan dari kisah legenda yang terkenal tentang sebuah gereja di Paris, Notre Dame.

Di akhir abad ke 15 terdapat 2 golongan yang berseberangan di Paris. Kaum penguasa, gereja dan borjuis di satu sisi, dan golongan masyarakat bawah termasuk gelandangan dan kaum gipsi. Di jaman itulah Claude Frollo yang pandai, suka belajar, dan ambisius hidup sebagai yatim piatu sambil membesarkan adik yang sangat dikasihinya, Jehan Frollo. Suatu hari ia melewati seorang bocah yang diletakkan di depan gereja untuk dipungut siapapun yang berminat. Sayangnya penampilan anak itu sangat mengerikan. Wajahnya seperti monster yang sangat buruk dan tubuhnya berbonggol-bonggol dengan tulang punggung bengkok. Semua orang ngeri dan menganggap bocah itu jelmaan setan. Semua, kecuali Claude Frollo. Tanpa pikir panjang, dipungutnya bocah itu lalu dipelihara dan dididik.

Tak ada orang yang tahan memandang Quasimodo, begitulah si monster dinamai sesuai dengan hari saat ia dipungut, apalagi bergaul dengannya. Semua orang bahkan membencinya. Hanya Claude Frollo yang menganggapnya manusia. Tak heran, ia begitu mengasihi, memuja ayah angkatnya itu begitu intens. Saat Claude Frollo menjadi wakil uskup, Quasimodo menjadi pemukul lonceng di gereja Notre Dame serta tinggal di gereja itu bersama ayah angkatnya. Gereja itu menjadi surganya, dan lonceng-lonceng gereja menjadi pusat hidup dan kebahagiaannya. Meskipun belakangan, justru lonceng-lonceng itu pula yang merenggut hal yang sangat berharga baginya, yakni pendengarannya. Ya, ia menjadi tuli karena terlalu sering mendengar dentangan lonceng yang sangat keras...

Sedangkan di luar dinding-dinding gereja yang tinggi itu, hiduplah seorang gadis gipsi yang sangat cantik, pandai menyanyi dan menari dengan rebananya, serta berpembawaan riang. Dialah La Esmeralda yang selalu didampingi kambing cerdik bernama Djali. Kecantikannya yang segar dan alami membuat kaum pria dari berbagai golongan terpesona padanya. Ada Gringoire sang filsuf dan penyair yang ditolong Esmeralda dari tiang gantungan dengan menjadikannya suami platonis. Ada juga seorang perwira kerajaan yang tampan dan playboy, yang seharusnya sudah bertunangan namun masih saja melirik gadis lain, bernama Phoebus. Bahkan Quasimodo si buruk rupa nan tuli itu juga terpesona pada kesegaran Esmeralda. Namun yang paling mengherankan justru pengagumnya yang datang dari dalam gereja! Sang wakil uskup, yang seharusnya hidup selibat, malah memiliki hasrat yang besar terhadap Esmeralda....

Bagaimana dengan Esmeralda sendiri? Seperti layaknya kisah-kisah romantis lainnya, ia justru jatuh cinta pada pria yang tak sungguh-sungguh mencintainya, Phoebus. Betapa ironisnya cinta itu ya? Cerita lalu berpusar-pusar pada tokoh Esmeralda ini. Esmeralda yang selalu membawa kantung kecil bermanik di sekeliling lehernya, Esmeralda yang selalu menjaga kesuciannya karena bila ia ternoda, ia diramal takkan bisa bertemu dengan ibunya yang tak pernah ia temui. Esmeralda yang rela menikahi Gringoire karena iba, meski harus memaksa Gringoire berjanji untuk tak menyentuhnya. Esmeralda yang ditangkap dan akan dihukum gantung. Esmeralda yang diselamatkan. Esmeralda yang dituduh melakukan pembunuhan, dan seterusnya. Bahkan Esmeralda juga membuat kaum gipsi dan gelandangan menyerbu gereja di tengah malam buta. (mungkin saja pemilihan judul versi terjemahan ini justru lebih tepat ya, karena jelas pusat kisah ini adalah si cantik Esmeralda).

Lewat kisah ini, Victor Hugo mengajak kita untuk memahami berbagai makna cinta. Cinta platonis milik Gringoire, yang puas hanya dengan memandang keceriaan istrinya (dan malah lebih cinta pada kambingnya, Djali...). Cinta palsu milik Phoebus yang hanya terpikat pada kecantikan lahiriah semata, dan secepat cinta itu datang, secepat itu pula ia tergantikan. Cinta penuh napsu dan obsesif milik Claude Frollo sehingga ia rela melakukan apa saja yang berpotensi mencoreng namanya dan gereja, demi menghalangi pria manapun menyentuh Esmeralda-nya. Atau cinta murni milik seorang Quasimodo. Cinta yang tak ingin memiliki, hanya ingin melindungi. Cinta yang membuatnya cukup hanya memandang dari jauh, dan tak pernah menuntut balasan apapun.

Victor Hugo juga membukakan mata kita terhadap cinta terhadap sesama manusia. Betapa mudahnya orang mengkotak-kotakkan manusia lain hanya karena derajat. Bagaimana orang gipsi dianggap jahat dan mistis, bagaimana orang yang penampilannya berbeda dengan kebanyakan yang lain dianggap bukan manusia, jelmaan setan, jahat, kejam seperti binatang. Betapa mengerikan akibat yang ditimbulkan manusia kala ia tak mau melihat ke kedalaman hati, melainkan hanya pada penampilan luar. Kisah di buku ini membuktikannya.

Akhirnya, aku juga sadar bahwa jatuh ke dalam dosa itu begitu gampangnya. Bahkan Claude Frollo yang pemikir dan logis, yang sejak kecil religius, yang dulu mengasihi adiknya dan memungut Quasimodo karena kasih, mampu menjadi pribadi yang berbeda saat ia membiarkan hasrat menguasai dirinya. Maka dosa itu bukan soal 'siapa', namun lebih pada 'bagaimana'. Bagaimana kita menyikapi suatu keadaan. Bagaimana kita menentukan pilihan. Bagaimanapun, hidup ini selalu mengenai pilihan kan? Sama seperti anda yang bebas memilih, cukup puas dengan membaca resensiku, atau mau membaca buku yang indah ini sendiri....

NB:

1. Kalau anda memilih yang terakhir, Vixxio bisa membantu anda mendapatkan buku ini dengan diskon 20% di: Si Cantik Dari Notre Dame.

2. Kalau anda merasa bosan dan bingung di bab-bab awal, jangan menyerah! Karena makin ke belakang, anda akan menemukan keindahan yang sesungguhnya kisah ini. Aku hampir saja melewatkannya, jangan sampai anda juga!

3. Salut pada penerbit Serambi yang mampu menyajikan terjemahan apik pada karya sastra seindah milik Victor Hugo. Namun sayang, ada beberapa halaman yang tak tertata dengan baik. Ada paragraf yang terulang, ada halaman yang tak menyambung (meloncat) dengan halaman berikutnya, dan ini lumayan mengganggu keasyikan membaca. Semoga itu hanya terjadi di eksemplar yang aku beli saja ya...

Monday, August 9, 2010

Trio Musketri

Aku ingat, aku amat bersemangat saat pertama kali melihat cover buku ini! Trio Musketri adalah versi terjemahan dari sebuah kisah patriotik karya Alexandre Dumas: The Three Musketeers.

Saat aku kecil, kira-kira ketika aku duduk di bangku akhir SD, orang tuaku pernah memberiku sebuah buku lumayan tebal, yang isinya (kalau tak salah mengingat) 3 cergam klasik. Salah satunya yang paling menjadi favoritku adalah The Three Musketers. Three Musketeers adalah julukan 3 orang (dan selanjutnya ditambah seorang lagi) ksatria pengawal dan pembela Raja Perancis, yang waktu itu (sekitar tahun 1800-an) dikisahkan dijabat oleh Louis XIII.

Sebelum merobek plastik pembungkus buku Trio Musketri ini, aku mengingat-ingat nama ke-empat musketri itu. Ah ya...Athos, Porthos, Aramis, dan yang termuda dan terakhir bergabung: D'Artagnan. Dan aku jadi teringat semboyan yang selalu mereka ucapkan saat hendak bertarung bersama: one for all, and all for one (atau kebalikannya ya?..). Semboyan itu mereka ucapkan sambil mereka membentuk formasi lingkaran, dan saling menyentuhkan ujung pedang masing-masing ke bawah. Yang membantuku mengingat lebih baik, adalah sebuah film yang pernah aku tonton 2 kali, yang mengambil kisah three musketers ini, yaitu: The Man With The Iron Mask yang dibintangi oleh si ganteng Leonardo Di Caprio, sebagai raja Louis, serta Gerard Depardieu yang menjadi salah satu musketers (kalau tak salah Porthos...).

Pada jaman Raja Louis XIII bertakhta, ada 2 kekuatan yang secara tak langsung menguasai negara Perancis. Di satu pihak ada Raja, yang notabene harusnya menjadi penguasa dan pemimpin tertinggi, dan di lain pihak ada Kardinal (pemimpin di Gereja Katolik, setingkat di bawah Paus). Raja Louis XIII adalah sosok yang tak terlalu tegas, dan sering mudah dipengaruhi. Sedangkan Kardinal Richeliu adalah sosok yang ambisius, pandai dan berani, yang sering mempengaruhi Raja demi kepentingannya sendiri. Kedua kubu ini memiliki pasukan pengawal pribadi masing-masing. Di kubu Louis XIII ada kelompok musketri, di mana ada 3 orang ksatria yang paling menonjol, hebat dalam bermain pedang, cerdas, sekaligus amat setia pada Raja dan negara. Namanya Athos, Porthos dan Aramis. Sedangkan Kardinal memiliki pasukannya sendiri juga. Di antara antek-anteknya, ada seorang wanita cantik nan kejam yang amat pandai dalam membuat rencana dan merayu pria. Namanya Milady.

Dalam situasi seperti itulah D'Artagnan muda yang berasal dari desa, berani, terang-terangan dan pemarah, datang ke ibukota untuk melamar menjadi anggota musketri. Sebelum ia benar-benar diterima, ia sudah tanpa sengaja membuat gara-gara dengan 3 orang dari para musketri. Dan seperti layaknya kebiasaan para ksatria saat itu, D’Artagnan akhirnya ditantang berduel oleh ketiga musketri itu pada waktu yang berbeda, meski penyebabnya hanyalah hal remeh-temeh.

Ketika D’Artagnan datang ke lokasi duel, ia baru menyadari bahwa ketiga musketri yang menantangnya itu adalah Trio Musketri yang termasyur itu. Dari sanalah akhirnya mereka berempat menjadi sahabat yang tak terpisahkan.

Trio Musketri sangat mengasyikkan dibaca, karena selain alurnya yang cepat, seringkali tingkah kocak ketiga musketry menarik juga diikuti. Tokoh sentral di kisah ini memang D’Artagnan. Karena selain ia terbukti sosok dengan karakter pemberani dan cerdik, hingga ia diincar oleh Kardinal Richeliu untuk direkrut, ia juga seorang pemuda yang gagah dan tampan sehingga beberapa kali terlibat kisah asmara. Cintanya yang pertama dan paling langgeng adalah dengan Constance, si penjahit yang sering menjadi suruhan Ratu.

Selain politik, yakni perseteruan Prancis dan Inggris, kisah ini juga dibumbui dengan kisah percintaan yang menjadi skandal antara Ratu dengan Duke of Buckingham, bangsawan Inggris. Skandal inilah yang diincar oleh Kardinal untuk menghancurkan Duke of Buckingham. Namun berkat kecerdikan D’Artagnan dan trio musketri, rencana yang dilancarkan oleh Kardinal bekerja sama dengan Milady dapat dipatahkan.

Kecerdikan dan kekejaman Milady juga menjadi salah satu pewarna dalam kisah ini. Apalagi setelah D’Artagnan jatuh ke pesona kecantikan Milady, dan sempat jatuh cinta sesaat pada wanita ini, yang sebenarnya hanya ingin memperalat D’Artagnan. Hebatnya, dalam setiap jatuh bangun masing-masing musketri, ketiga sahabatnya akan siap untuk membantu. Makanya, sangat pas dan dalam arti semboyan yang mereka usung: One for all, and all for one.

Pada akhirnya, kita dapat belajar banyak tentang adat dan kebudayaan di Prancis saat abad ke 18, dengan sikap para ksatrianya yang menyelesaikan masalah dengan duel, dan intrik-intrik politik yang menghalalkan segala cara, juga kisah cinta yang menyentuh, serta persahabatan, patriotik, kesetiakawanan dan kesetiaan pada sahabat, raja dan negara. Sungguh-sungguh bacaan yang menggugah, mendidik sekaligus menghibur!

Judul buku: Trio Musketri
Pengarang: Alexandre Dumas
Penerbit: Serambi

Friday, July 23, 2010

The Secret Garden

Entah mengapa aku selalu suka membaca buku anak-anak. Bukan buku dongeng macam Cinderella atau Sleeping Beauty yang bagus untuk imajinasi, tapi ternyata juga membawa anak berpikir bahwa hidup itu (terlalu) mudah. Aku lebih suka membaca kisah anak klasik, seperti The Secret Garden yang ditulis oleh Frances Hodgson Burnett.

Secret garden, taman rahasia. Hmmm…belum-belum imajinasiku sudah terbawa pada suasana segar, indah, dan nyaman ketika mendengar ‘taman’. Apalagi ada kata ‘rahasia’ juga. Bukankah misteri selalu menjadi salah satu kelemahan manusia? Maka, meski ada begitu banyak buku lain yang menggodaku, The Secret Garden akhirnya menang! Buku inilah yang akhirnya kubeli, meski mamaku yang belanja buku bersamaku mengernyit ketika melihat cover-nya yang memang kekanak-kanakan…

Namun…semuanya terbayar sudah. Karena membaca The Secret Garden benar-benar memberikan pengalaman membaca yang sesungguhnya. Untaian kata dan kalimat yang enak dibaca, rasa nyaman ketika imajinasi terbawa pada suasana taman dan kebun yang asri, juga alur cerita yang senantiasa terjaga dengan apik.

The Secret Garden bercerita tentang seorang anak perempuan bernama Mary yang terbiasa dimanja dan dipuja semenjak kecil, sehingga tumbuh menjadi gadis cilik yang masam, sinis, egois, dan manja. Hingga pada suatu hari ia tiba-tiba menjadi yatim piatu akibat sebuah wabah kolera yang merenggut seluruh keluarganya tanpa terkecuali. Ia pun dibawa kepada salah seorang kerabatnya yang memiliki rumah amat besar, yang berkamar kira-kira seratus, padahal hanya ditinggali beberapa orang saja.

Pamannya yang kaya itu dulu memiliki istri yang manis, ceria dan amat cinta pada tanaman. Sang istri pernah memiliki sebuah taman mawar yang asri di belakang rumah mereka. Setiap hari almarhum istrinya itu akan duduk di taman mawar dan merawat setiap bunga dan tumbuhan dengan penuh cinta. Hingga akhirnya ia meninggal dunia gara-gara melahirkan putra mereka.

Sejak saat itu sang suami yang amat berduka, menutup diri sekaligus menutup taman itu selama-lamanya, dan mengacuhkan putra mereka yang masih bayi, karena menganggap si bayi itulah yang menyebabkan istrinya meninggal.

Pada suatu hari, Mary yang tak punya teman dan kesepian berjalan-jalan di kebun nan luas dan berkenalan dengan seorang tukang kebun yang sedang bekerja. Dari beliaulah Mary mendengar bahwa ada sebuah taman rahasia yang telah tertutup selama 10 tahun dan kuncinya tersembunyi entah dimana. Sebuah misteri…itulah yang menggerakkan hati Mary untuk berusaha membuka dan menemukan jawabannya: Di manakah letak taman rahasia itu? Apa yang ada di dalamnya?

Aku ingat, dirikupun terbawa ketegangan ketika Mary akhirnya menemukan letak taman itu dan kuncinya yang dipendam di dalam tanah, serta akan segera membuka pintunya. Apa yang ada di balik pintu itu yah?.... Bagaimana rupa taman rahasia itu, yang sudah 10 tahun tak pernah dirawat? Ketegangan yang terasa manis, bukan penuh ketakutan seperti ketika membaca kisah horror, atau yang membuat jantung berdetak lebih cepat seperti ketika membaca buku Agatha Christie.

Taman itu ternyata cukup indah meski tak terawat. Mungkin justru karena keliarannya lah yang membuatknya semakin eksotis. Memang aku tak melihatnya sendiri, namun Frances benar-benar mampu menggambarkan semua sulur-sulur mawar yang bertautan satu sama lain, tak tertata namun justru tampak natural. Dan ajaibnya, taman itu mampu membawa perubahan pada diri Mary. Ia menjadi lebih bahagia, dan itu turut mengubah sifatnya yang sinis, egois dan manja. Sedikit demi sedikit Mary tumbuh menjadi anak yang bahagia dan normal.

Semangat Mary menular pada Colin, saudara sepupunya, atau bocah laki-laki yang tak dicintai oleh ayahnya, yang adalah paman Mary. Begitu menemukan taman rahasia itu, Colin pun memiliki semangat hidup yang sebelum ini benar-benar padam.

Apa yang menyebabkan semua perubahan itu? Benarkah itu karena ‘sihir’ seperti yang dipikirkan Colin? Tentu bukan sihir ala nenek sihir atau ilmu hitam. Sihir itu adalah mukjijat yang datang dari Sang Pencipta. Bukankah justru dari alamlah kita bisa mengenalNya? Mengagumi hasil karyaNya? Maka di alam jugalah kita paling dapat merasakan kehadiranNya. Itulah ‘sihir’ yang mengubah dua anak yang tidak bahagia dan judes menjadi sosok anak-anak yang penuh kasih.

Itulah yang juga membuatku suka pada buku ini. Ditambah pula dengan banyak deskripsi Frances tentang keindahan alam. Seekor burung Robin misalnya, yang begitu bersahabat dengan manusia, dan hewan-hewan lucu lainnya yang menjadi kawan Dickon, seorang anak pecinta alam.

Buku ini memang bagus untuk anak-anak. Karena di sana mereka akan belajar mencintai alam, juga memahami arti kasih pada keluarga dan sesama. Dan tentu saja, pada akhirnya mencintai Sang Pencipta yang setiap detik menyediakan ‘sihir’ mukjijatnya di dunia ini.

Judul : The Secret Garden
Pengarang: Frances Hodgson Burnett
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 320 hlm
Harga: Rp 35.000

----

Ulasan buku ini kupersembahkan dalam rangka Hari Anak Nasional tahun ini yang jatuh tepat pada hari ini: 23 Juli 2010. Mari kita sediakan bacaan-bacaan yang bermutu bagi pertumbuhan anak-anak Indonesia, generasi penerus kita!

Saturday, March 6, 2010

The Heart Is A Lonely Hunter

Judul itulah yang pertama-tama membuatku tertarik pada buku ini. Judulnya unik, tak seperti judul novel yang sering terdengar begitu indah, namun ketika dibaca ternyata tak benar-benar sesuai dengan isinya. Judul buku ini sebaliknya, sudah merupakan sebuah kebenaran yang tampaknya ingin disampaikan oleh si penulis. Alasan kedua aku naksir buku ini adalah gambar covernya (who says you musn't judge a book from its cover? I do it all the time!). Entah kenapa aku selalu jatuh cinta pada lukisan-lukisan yang ada cafe-nya seperti ini (padahal tak terlalu suka ngafe coz ngabis-ngabisin duit!).

Namun yang membuat aku memutuskan untuk membelinya justru karena ada tanda "Oprah's Book Club" di pojok kiri bawah. Oprah Winfrey (pasti anda tahu siapa dia kan?) memang membuat program book club yang biasanya membahas buku-buku bermutu macam Bumi Yang Subur-nya Pearl S. Buck. Jadi, kalau sebuah buku pernah dipilih oleh Oprah's Book Club, maka pastilah buku itu buku yang berbobot.

Meski penulisnya, Carson McCullers bukanlah penulis best seller, namun ia disebut-sebut sebagai penulis prosa terbesar yang pernah dihasilkan di Amerika Selatan. Dan di buku ini, yang adalah karya pertamanya, ia mampu menyoroti masalah-masalah rasial dan sosial dengan sentuhan yang halus.

Sesuai judulnya, buku ini bercerita tentang orang-orang yang kesepian. Kesepian itu bukan berasal dari kesendirian secara fisik, melainkan lebih banyak dari hati. Buku ini pertama-tama mengajarkan kepadaku bahwa kita boleh saja hidup bersama-sama banyak orang pada suatu waktu, namun itu tak menutup kemungkinan kita merasakan kesepian. Kesepian di tengah keramaian, mungkin adalah ungkapan yang paling cocok disematkan pada kelima tokoh utama di buku ini: Pak Singer, Mick, Pak Blount, Biff dan Dokter Copeland. Masing-masing membawa beban hidupnya sendiri-sendiri, kerinduan dan ambisi yang tak terpenuhi sehingga menimbulkan kesepian yang menyiksa.

Pak Singer adalah benang merah semua orang itu. Ia adalah pria tunarungu-tunawicara yang hidup tanpa keluarga di sebuah kota. Meskipun cacat, ia mampu bekerja dan berkomunikasi dengan orang lain dengan membaca bibir dan menuliskan apa yang ingin dikatakannya dengan bantuan buku notes kecil dan pensil warna peraknya. Awalnya hidupnya tenang dan bahagia. Ia berbagi kamar yang disewanya bersama seorang tunarungu-wicara lainnya, seorang Yunani gendut yang doyan makan bernama Antonapoulos.

Lucu juga mengikuti persahabatan Singer-Antonapoulos ini. Antonapoulos adalah orang yang semau-gue, manja, dan kemauannya harus selalu dituruti. Mungkin ini memang sifat bawaannya, namun mungkin juga akibat benih-benih penyakit jiwa yang belakangan membuatnya harus tinggal di rumah sakit jiwa. Singer begitu menyayangi sahabatnya ini dan boleh dibilang Antonapoulos benar-benar belahan jiwanya. Meski Antonapoulos lebih banyak diam dan hanya memandangi Singer ketika sahabatnya itu menceritakan kesehariannya di tempat kerja dengan isyarat tangan, namun Singer tak pernah marah. Ia tetap saja senang bercerita.

Hingga saat tingkah Antonapoulos makin aneh, menjengkelkan dan menguras uang tabungan Singer, Singer tak pernah dendam padanya. Dengan sabar Singer mengurusinya, meski Antonapoulos tak pernah membalas perhatiannya itu. Saat Antonapoulos harus meninggalkan kamar sewaan mereka berdua untuk pindah ke rumah sakit jiwa, hati Singer menjadi hampa. Seolah sebagian dirinya direnggut dengan paksa oleh keadaan.

Sejak itulah ia menyewa sebuah kamar di rumah Mick, gadis belasan tahun yang memiliki obsesi terhadap musik klasik dan piano. Si gadis begitu tergila-gila pada Singer yang dianggapnya satu-satunya orang yang mengerti tentang kerinduannya pada musik. Lalu pada suatu peristiwa Singer pernah menolong Jake Blount, sang sosialis yang pemabuk berat dan punya obsesi menyadarkan dunia pada keburukan kapitalisme yang menciptakan jurang antara yang kaya dan yang miskin. Sejak itu Blount sering berkunjung ke kamar Singer. Lalu ada juga Biff Brannon, sang pemilik cafe New York (yang menjadi gambar cover buku ini), tempat makan Singer sehari-harinya, yang ditinggal mati istrinya dan merasa kesepian.

Tokoh terakhir adalah Dokter Copeland, seorang dokter kulit hitam yang terobsesi untuk memerdekakan kaumnya yang saat itu masih tertindas. Keempat teman-teman barunya ini secara berkala dan bergantian sering datang ke kamar Singer. Mereka bisa mencurahkan isi hati dan uneg-uneg mereka kepada si bisu. Dan Singer akan mendengarkan (atau sebenarnya membaca bibir mereka) mereka, sambil memberikan seulas senyum dan tatapan mata yang bersahabat dan bersimpati. Kadang-kadang ia akan menyuguhi tamunya makanan kecil atau kopi, lalu mereka makan bersama-sama. Kali lainnya mereka berdua hanya berdiam diri dalam kamar, di mana hanya terdengar suara desing kipas angin. Tatkala mereka berbicara, Singer akan asyik main catur sendirian, sambil tak lupa sesekali memperhatikan omongan tamunya.

Dan para tamu itu akan pulang dari kamar si bisu dengan perasaan lega, nyaman, dan puas. Mereka merasa didengarkan dan dimengerti, bahwa Singer adalah satu-satunya orang yang bisa memahami mereka. Maka hubungan mereka bagaikan matahari dan satelit-satelitnya. Meski anehnya, ketika suatu saat empat satelit itu kebetulan datang ke kamar Singer pada saat yang sama, suasana malah menjadi tegang.

Pada kenyataannya, seperti yang diceritakan Singer pada Antonapoulos dalam salah satu kunjungannya ke rumah sakit jiwa, Singer sebenarnya sama sekali tak mengerti apa yang dibicarakan dan perasaan teman-temannya itu. Lucunya, ia menceritakan itu kepada Antonapoulos yang kemungkinan besar juga tak mengerti ceritanya!

Maka kesimpulannya, pertama - kesepian yang datang dari hati lebih disebabkan karena orang merasa tak ada yang mau memberi perhatian pada minat atau pemikirannya, pada apa yang menurutnya penting. Saat itu, orang akan merasa benar-benar kesepian karena ia merasa sendirian di dunia ini, menanggung pengetahuan atau obsesi yang ia miliki dan tak dapat di-share-kan pada orang lain. Kedua, kadang tak perlu kita seratus persen mengerti dan menyetujui ide atau impian seseorang untuk membuatnya bahagia. Cukup seulas senyum dan sedikit perhatian yang tulus, mampu membuat orang lain merasa dihargai, sama seperti yang dilakukan Singer.

Hal paling indah dalam buku ini adalah persahabatan yang tulus dan penuh kasih Singer dan Antonapoulos. Persahabatan yang boleh dibilang hanya satu arah, namun seperti sifat dasar kasih yang rela berkorban meski tak terbalas, begitu juga persahabatan Singer kepada Antonapoulos. Bayangkan setiap hari bayangan sahabatnya itu selalu memenuhi pikiran Singer. Kasihnya pada sang sahabat tak pernah luntur maupun berubah, meski sering disakiti dan dikecewakan. Singer rela memberikan lebih daripada yang ia terima. Itulah kasih dan persahabatan sejati!

Akhirnya, buku ini memang bukan bacaan ringan, namun seperti kata salah satu komentar di buku ini: "Begitu buku diletakkan, pembaca akan merasa diperkaya oleh sebuah kebenaran". Ya, itulah yang terjadi padaku. Tepatnya diperkaya oleh kebenaran tentang persahabatan dan tentang hidup.

Judul buku: The Heart Is A Lonely Hunter (bahasa Indonesia)
Penulis: Carson McCullers
Penerbit: Qanita
Harga: Rp 60.775,- (toko buku online)
Rp 36.000,- (Vixxio)

Monday, August 17, 2009

Anne of Green Gables

Ini adalah tentang kehidupan yang indah, penuh warna, menggairahkan, dan penuh cinta. Itulah kesan yang kudapat selama membaca buku ini. Buku yang bercerita tentang si yatim piatu berambut merah yang berpembawaan ceria, ceriwis, begitu mencintai alam, dan memiliki daya imajinasi yang tinggi dan hidup. Semangat dan keceriaannya cenderung meluap-luap, dan kehadirannya selalu membuat orang di sekitarnya gembira. Itulah Anne.

Awalnya, Avonlea adalah sebuah dusun pertanian kecil dengan pemandangan yang indah, namun dengan kehidupan yang biasa-biasa saja. Terutama di pertanian Green Gables yang dihuni oleh kakak beradik yang sudah setengah baya, Matthew dan Marilla Cuthbert. Mereka berdua tidak menikah, dan rumah mereka terasa sepi dan dingin. Sampai suatu ketika, Mrs. Rachel Lynde melihat sesuatu yang aneh. Pagi-pagi benar Matthew Cuthbert pergi naik kereta dengan berkemeja rapi. Di desa yang kecil, di mana kehidupan penghuninya sudah terjadwal, perginya Matthew membuat heran Mrs. Rachel. Maka ia mengunjungi Marilla. Dan dari mulut Marilla meluncurlah berita heboh: Matthew pergi ke stasiun menjemput seorang anak lelaki dari Panti Asuhan!

Ya, Matthew butuh seseorang untuk membantunya di pertanian, maka mereka titip pesan pada Mrs. Spencer untuk membawakan seorang anak lelaki dari panti asuhan. Pagi itu, ketika Matthew tiba di stasiun, yang ia dapati hanyalah seorang anak perempuan berpakaian lusuh, wajah pucat berbintik-bintik dan rambut merah. Rupanya ada kesalahpahaman dengan Mrs. Spencer! Tapi, si anak perempuan sudah terlanjur kegirangan mengetahui bahwa ada keluarga yang menginginkannya, sehingga ia tak perlu menetap di panti. Maka, diajaknyalah si anak perempuan itu pulang oleh Matthew. Sebagian karena ia tak tega meninggalkannya begitu saja di stasiun, dan sebagian lagi karena karakter unik si anak perempuan.

Bayangkan, sepanjang perjalanan naik kereta itu ia menyerocos terus. Begitu melihat pohon ceri dan birch yang berbunga putih menjulur agak rendah ke jalan, Anne bisa membayangkan cadar halus putih seorang pengantin! Benar-benar imajinasi yang hebat! Dan itulah yang akan anda baca dan rasakan di sepanjang buku ini.

Awalnya, Marilla tak dapat menerima kehadiran Anne. Namun, mau tak mau diakuinya juga bahwa Anne telah sedikit demi sedikit memberi warna dalam kehidupannya yang tadinya membosankan. Maka akhirnya Marilla pun luluh, dan berniat tetap mengadopsi Anne. Anne begitu bahagia dengan keputusan itu, dan ia berusaha keras untuk memuaskan Marilla. Masalahnya, ia terlalu banyak berkhayal. Ketika disuruh melakukan tugas rumah tangga, ia begitu rajin awalnya. Namun, di tengah-tengah pekerjaannya pikirannya akan melantur kemana-mana saat ia memandang ke arah pepohonan, misalnya. Dan akhirnya ada saja tugas yang ia lupakan.

Waktu Anne mulai masuk sekolah, Marilla menjahitkannya gaun-gaun yang amat sederhana (dan membosankan buat anak kecil). Padahal yang diinginkan Anne adalah gaun dengan lengan model menggelembung yang waktu sedang populer.

Lalu Anne menemukan seorang sahabat, yang ia sebut sebagai ‘belahan jiwa’, seorang anak bernama Diana. Rumah Diana terletak di pertanian di seberng Green Gables, tapi jendela kamar tidur Diana bisa dilihat oleh Anne dari kamarnya sendiri. Kedua gadis kecil ini sering mengirimkan isyarat berupa kilatan sinar senter (mirip kode morfe). Kalau salah satu dari mereka melihat signal ini, maka ia akan segera bergegas ke rumah yang lain, karena pasti si pengirim signal memiliki berita penting untuk diberitahukan pada yang lain.

Begitulah, kedatangan Anne ke Avonlea ternyata membawa banyak perubahan pada hidup di sekitarnya. Ia adalah virus keceriaan di sebuah dusun yang membosankan, warna-warna yang hidup pada selembar kain putih yang menjemukan. Anne adalah seseorang dengan emosi yang meluap-luap. Ia bisa menjadi sangat antusias pada suatu rencana yang indah, namun bisa dengan cepat menjadi putus asa saat keinginannya tak tercapai.

Ada seorang anak laki-laki bernama Gilbert Blythe yang cerdas tapi senang mengusili Anne. Anne jengkel sekali padanya ketika Gilbert memanggilnya ‘wortel’. Anne sangat sensitif kalau mengenai warna rambutnya yang semerah wortel. Ia bisa sangat tersinggung, seperti halnya reaksinya terhadap Gilbert. Alhasil, ia memusuhi Gilbert selama sekolah, dan bersaing dengannya dalam hal prestasi, karena ia dan Gilbert sama pintarnya di kelas.

Ketika sekolah hampir berakhir, dalam sebuah adegan ‘penyelamatan’ di sungai, Gilbert meminta maaf pada Anne bahwa ia dulu mengoloknya. Anne merasakan debaran aneh jantungnya, tapi harga diri yang tinggi membuatnya menolak mentah-mentah ajakan Gilbert untuk kembali berteman.

Pada akhir tahun pelajaran, mereka berdua (Anne dan Gilbert) beserta beberapa murid lain mengikuti ujian masuk ke Akademi Queen di kota. Sayangnya orang tua Diana tidak mengijinkan anak mereka untuk meraih jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Anne akhirnya menjadi nomor satu dalam ujian itu, dan ia pun bersiap-siap untuk melanjutkan pendidikan di Queen.

Di Queen, Anne belajar dengan tekun dan berusaha untuk melupakan home-sicknya. Ia mendengar bahwa Queen akan memberikan sebuah beasiswa Avery, untuk menempuh pendidikan di sebuah universitas di Inggris. Namun Anne lebih terpacu untuk mengejar medali emas. Dan di penghujung masa belajar di Queen, ketika Anne pulang untuk berlibur di rumah, ia begitu yakin akan masa depan cemerlang yang terbentang di depannya ketika ia ternyata justru memenangkan beasiswa Avery (sedang medali emasnya direbut saingan beratnya, Gilbert). Anne begitu bahagia terutama karena Matthew, yang sudah mulai menua dan sakit-sakitan, malam itu mengungkapkan pada Anne bahwa ia sangat bangga pada pencapaian Anne.

Namun, seperti dalam kehidupan manapun juga, duka itu datang dengan sangat tiba-tiba. Sang malaikat maut menjemput Matthew Cuthbert. Maka kini tinggallah mereka berdua, Marilla dan anak angkatnya, Anne. Apakah yang akan dilakukan Anne? Tetap pergi ke kota untuk meraih cita-cita tertingginya dan meninggalkan Marilla sendirian? Ataukah ia menemani Marilla dan melepas impiannya?

Apapun penutup kisahnya, Anne of Green Gables memang menyediakan keindahan dan kisah yang penuh cinta di setiap kata dan kalimatnya. Bukan sebuah masterpiece seperti To Kill A Mocking Bird atau Harry Potter, namun tetap sebuah bacaan yang akan membuat hati ini gembira demi melihat keindahan dan merasakan cinta!

Judul : Anne of Green Gables
Pengarang : Lucy Montgomery
Penerbit : Qanita, 2008
Harga : Rp 50.150,- (toko buku online)

Monday, August 3, 2009

The Adventure of the Christmas Pudding

Membaca sinopsis novel ini sudah cukup untuk membuatku memutuskan tuk membeli buku ini. Kenapa? Apakah karena ceritanya yang tegang? Bukan! (kan aku belum baca?) Pertama-tama karena ada nama Hercule Poirot di sinopsis itu, dan kedua karena ada ‘pudding natal’. Alasan yang romantis ya? Entah kenapa, aku suka dengan novel-novel yang menceritakan dengan detail tentang makanan. Apalagi makanan ala Inggris, Perancis atau Italy. Masih ingat kan dengan Lima Sekawan? Aku paling suka dengan bagian ketika mereka akan piknik, dan dari rumah dibekali dengan makanan yang (kedengarannya) enak-enak itu. Membacanya saja sudah bikin aku ngiler.

Nah, ternyata aku tidak salah. Novel ini adalah kumpulan cerita misteri. Cerita utamanya berjudul Skandal Perjamuan Natal, dengan Hercule Poirot sebagai detektifnya. Settingnya adalah pas hari Natal, dengan perjamuan ala Inggris kuno dengan ayam isi, kalkun, dan pudding plum dengan saus kental yang dicampuri sedikit brandi. Tuh kan...bikin ngiler ga?

Aku jadi teringat pada perayaan Natal khas keluarga kami waktu aku kecil dulu. Sorry ya tante Agatha, cerita tante aku ulas belakangan, abis pengen share dulu kenangan indah masa kecilku pas Natal...

Waktu aku umur 10-12 tahunan, kondisi keuangan keluarga kami sudah mulai membaik, namun waktu itu kami belumlah serius menjalankan ibadah kami. Kami menganggap Natal sebagai sebuah pesta kecil keluarga yang harus dirayakan. Perayaan itu selalu jatuh pada malam Natal, yakni tgl. 24 Desember. Beberapa hari sebelumnya kami sudah mengeluarkan pohon Natal plastik beserta semua mainannya, lampu-lampunya dan hiasan lainnya. Jaman itu, belum ada pohon Natal yang langsung jadi, melainkan harus dirakit. Perakitan itu kami kerjakan bersama-sama, aku, mama dan papaku. Dari batangnya dulu, lalu menancapkan kelompok daun-daun cemaranya. Habis itu melilitkan lampunya, lalu menggantung mainan-mainannya, dan terakhir menancapkan bintang besar di puncak cemara. Setelah selesai, kami akan mencoba menyalakan lampu-lampu Natalnya untuk mengecek apakah ada bolam yang mati dsb. Pohon Natal itu lalu kami letakkan di meja sudut di ruang tamu kami.

Untuk hidangan malam Natal, mamaku biasanya memasak sendiri, dibantu oleh pembantu setia kami waktu itu. Sedang untuk kue Natal, kami memesan di toko kue. Kue Natal itu sangat khas, namanya Kerstkraans (dalam bahasa Belanda, artinya ‘lingkaran Natal’). Sesuai namanya, kuenya berbentuk seperti donat, bulat dengan lubang di tengah. Diameternya sekitar 24 cm. Tekstur kuenya agak kering, mirip dengan Sosisbroot (bener ga ya tulisannya?). Bedanya kalo sosisbroot diisi daging, Kerstkraans ini diisi kacang tanah dan almond yang digiling halus. Lalu bagian luar kuenya diberi lapisan gula dan ada taburan kismis dan manisan kulit jeruk. Enak sekali deh rasanya!

Biasanya tgl. 24 sore, setelah mandi kami langsung mengenakan baju bagus. Heran ya, pesta sendiri di rumah tapi pake baju bagus? Begitulah tradisi kami. Lalu ketika hari mulai gelap, sekitar jam 6 kami mulai menutup korden (biar ga diganggu tamu!), mematikan lampu ruang tamu, lalu memasang lampu pohon Natal. Wow...sampai sekarang pun aku paling suka ngeliat lampu-lampu kecil berwarna warni yang bergantian berkerlap-kerlip itu. Rasanya ada suasana yang damai dan ayem. Oh ya ada yang kelupaan. Biasanya sebelum hari H kami juga telah menyiapkan kado-kado. 2 buah kado untuk masing-masing orang, jadi total ada 6 kado, yang akan dibungkus kertas kado, lalu ditaruh di kaki pohon Natal. Tentu saja kado-kado itu bukan barang-barang yang mahal. Cuma kotak pensil buatku, atau sebuah buku buat papa, atau seperangkat cermin dan sisirnya untuk mama. Memang semuanya hanya untuk fun saja.

Nah, diiringi dengan lagu-lagu Natal yang syahdu dari kaset, kami mulai makan kue Natal (biasanya sudah kami potong-potong lalu disajikan di dua piring berbentuk daun). Lalu kami saling bertukaran kado, membuka kado, sambil ngobrol. Kadang-kadang papaku yang hobi fotografi, mengabadikan momen-momen ini dengan kameranya. Lalu ketika sudah pk 7, atau ketika kami sudah mulai lapar, kami akan pindah ke ruang makan. Hidangannya biasanya Sup Merah, disajikan di mangkuk-mangkuk kecil, lengkap dengan sepotong roti tawar untuk dicelupkan ke kuah sup. Saat-saat ini biasanya mamaku mengeluarkan perangkat makan spesial, hadiah perkawinannya dulu (hebat ya barang pecah belah jadul, tahan sampai bertahun-tahun). Kemudian disambung dengan satu hidangan utama. Favoritku adalah Spaghetti Bolognese (hidangan utama bisa berbeda-beda tiap tahun). Harus kuakui, resep Spaghetti milik mamaku ini yang paling top dibanding dengan milik restoran manapun!.

Setelah itu kami cuma ngobrol-ngobrol di ruang tamu lagi sambil terus mendengarkan lagu Natal (dan aku menonton lampu Natal sambil terus terpesona..). Setelah perut tidak terlalu kenyang, kami makan Longans kalengan yang diberi es batu. Hmmm...nikmat. Dan itulah perjamuan Natal ala keluarga kami. Memang tidak seru karena cuma bertiga, namun momen-momen itu begitu menggoreskan kenangan bagiku yang selalu kuingat sampai kapanpun.

Saat aku telah dewasa, dan ortuku mulai ‘bertobat’, kami lebih mementingkan malam Natal untuk mengikuti misa di gereja. Pohon Natal tetap ada, tapi yang langsung jadi dan ukurannya kecil. Tapi ritual itu sudah tak pernah kami lakukan lagi....

Nah, sekarang kembali pada Perjamuan Natal ala Inggris kuno, dimana Hercule Poirot diundang untuk melacak permata batu delima yang hilang, tentu saja di novelnya tante Agatha, bukan di rumahku yak! Anehnya sebelum perjamuan, Poirot mendapat peringatan untuk tidak makan pudding plum yang akan dihidangkan. Ada ritual yang unik dalam cerita ini yang berkaitan dengan hidangan khas Natal itu, pudding Natal. Dalam pudding akan disisipkan kancing baju, cincin dan uang logam. Kalo pas makan seseorang dapet kancing, berarti ia akan jadi perjaka seumur hidup (kebetulan yang dapet Poirot!! Cocok kan?), yang dapet cincin mungkin akan menikah ya? Yang tak disangka-sangka dan jelas tak ada dalam tradisi, si tuan rumah malah menggigit batu delima yang hilang itu.

Lebih seru lagi, beberapa anak muda di pesta itu ingin memberikan lelucon buat Poirot dengan sandiwara pembunuhan. Salah satu dari mereka pura-pura menggeletak jadi mayat, pake cat merah yang menyerupai darah dan ada jejak-jejak kaki juga di atas salju. Tentu saja Poirot takkan terkecoh, justru para anak muda itu yang gantian melongo ketika mendapati bahwa si ‘mayat’ benar-benar seperti sudah tak bernyawa! Pemecahannya ternyata simpel sekali, karena memang ini sebuah kisah misteri ringan. Tapi tetap saja menarik!

Yang jauh lebih menarik justru kisah kedua. Masih bertokoh-kan Hercule Poirot, kisah yang berjudul Misteri Peti Spanyol ini sangat menarik. Ada intrik cinta dan cemburu, dan pembunuhannya sendiri mirip sebuah seni. Seperti biasa khas Agatha, tak ada darah-darah atau ledakan yang sensasional. Hanya seonggok mayat yang ditemukan di sebuah peti besar di sebuah rumah. Padahal selama itu, ada lima orang lainnya yang sedang berpesta, minum-minum dan dansa-dansi di ruangan di mana peti itu berada. Padahal, si korban: Arnold Clayton juga diundang ke pesta itu, namun tak bisa datang.

Jika saja Poirot tidak tergelitik untuk memecahkan misteri kasus ini, sang tuan rumah: Mayor Rich atau pembantunya akan langsung dihukum karena pembunuhan. Habis, siapa lagi yang mungkin membunuh si korban dan memasukkannya ke dalam kotak? Namun..apa benar mereka melakukannya? Di sinilah kecerdikan Poirot akan diuji. Dan seperti biasanya juga, tante Agatha selalu membeberkan semua fakta dengan gamblang. Tinggal kitalah yang ditantang untuk beradu kepintaran dengan Poirot (atau dengan tante Agatha tepatnya?). Ah..aku menyerah deh! Mending menikmati saja kisah pembunuhan berseni ini.

Sebenarnya ada 4 kisah lagi dalam kumpulan cerita ini, selain 2 kisah utama itu. Hercule Poirot muncul di tiga kisah diantaranya, dan sebuah kisah - yang diibaratkan tante Agatha sebagai makanan pembuka pada sebuah jamuan Natal. Kisah ini, Greenshaws’ Folly, adalah satu-satunya kisah Miss Marple di kumpulan cerita ini. Tapi, untuk menutup postingku ini, aku hanya akan beberkan sebuah kisah yang menurutku cukup menarik dari judulnya: Buah Blackberry. Mungkin anda akan teringat pada gadget yang sekarang lagi beken, tapi sebenarnya aku mengharap ada cerita-cerita tentang makanan lagi. Hehehe...Dan ternyata memang benar.

Kali ini Poirot tergelitik pada kebiasaan seorang tua nyentrik yang suka makan di restoran yang sama selama 10 tahun. Harinya selalu Selasa dan Kamis, waktunya selalu setengah delapan malam. Menunya juga selalu sama. Info ini ia dapat ketika sedang makan ayam kalkun isi kenari (tuh..benar kan, makanannya mengundang selera?) bersama sahabatnya di resto yang sama. Si pelayan bingung, karena si tua pernah sekali ke resto itu pada hari Senin, dan memesan makanan yang tak biasa: sup tomat kental (padahal ia tak pernah pesan sup kental), dan juga kue tar buah blackberry, padahal tak pernah suka blackberry selama ini.

Sahabat Poirot, seperti mungkin banyak orang lain, akan menganggap enteng sesuatu yang di luar kebiasaan ini. Mungkin si tua sedang gundah, jadi tidak sadar akan apa yang dipesannya. Padahal menurut Poirot, orang yang sedang gundah justru akan secara otomatis melakukan sesuatu yang biasa ia lakukan, ia takkan ingin mencoba sesuatu yang baru. Masuk akal juga teori psikologis ini! Maka ketika si tua dikabarkan menginggal di rumahnya karena jatuh dari tangga, Poirot langsung curiga bahwa si tua dibunuh. Hebat kan? Mencurigai sebuah pembunuhan hanya karena kue tar blackberry? By the way, tahukah anda kalo buah blackberry itu membuat gigi menghitam? Satu lagi pelajaran dari tante Agatha kita yang tersayang. Bagi Poirot, itu salah satu cara menemukan pembunuh di kisah ini...

Akhirnya, kalo anda tertarik dengan buku ini, cepetan aja mencarinya karena kayaknya agak langka di toko buku. Ini rinciannya:

Judul buku: Skandal perjamuan Natal (The Adventure of Christmas Pudding)
Pengarang: Agatha Christie
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2007
Halaman: 352
Harga: Rp 31.875,- (setelah diskon 15% - bukabuku.com)


Wednesday, July 1, 2009

To Have And Have Not

Ernest Hemingway adalah salah seorang penulis sastra besar di dunia. Sampai saat ini aku hanya familiar dengan nama dan reputasinya, namun belum pernah sekalipun menikmati karyanya. Maka, begitu menemukan bukunya yang berbahasa Indonesia ini, aku ingin sekali menjajalnya. Ternyata, memang seperti yang kubayangkan, ini adalah bacaan berat. Berat dalam arti tidak hanya melibatkan logika dan imajinasi, namun juga ‘rasa’, khas karya-karya sastra murni. Kalau pada novel-novel modern kita pada umumnya disuguhi hal-hal yang indah atau spektakuler, kisah sastra biasanya membumi. Mengupas pergulatan hidup orang-orang biasa dengan hal-hal biasa pula. Disitulah keahlian si penulis akan ditantang untuk meramu hal-hal biasa itu menjadi menarik.

Membaca karya sastra, bagiku tak dapat dilakukan sepintas lalu. Ini jelas bukan bacaan penghantar tidur atau pembuang waktu luang. Meski Hemingway menggunakan kalimat-kalimat pendek yang mudah dimengerti, namun banyak metafora di dalamnya yang kadang sulit dipahami. Butuh dua-tiga kali mengulang, baru aku mendapatkan sedikit gambaran tentang apa yang dimaksud. Berbicara tentang alur dan ending, keduanya tak sehebat dalam fiksi populer. Karena mungkin yang dipentingkan adalah nilai-nilai kehidupannya. Berikut ini kira-kira yang dapat aku simpulkan dari buku ini. Mungkin anda yang juga membacanya akan punya pandangan lain? Sah-sah saja...

To Have And Have Not berpusat pada pergulatan hidup tokoh Harry Morgan, seorang nelayan yang sekaligus berbisnis penyewaan kapal. Penjelasan Hemingway yang begitu detail tentang kapal, memancing dan kehidupan keras para pelaut ini sesuai dengan kecintaannya akan laut. Setting kisah ini di Havana, Kuba.

Bagian I mengilustrasikan banyaknya orang Kuba yang tak tahan dengan keadaan di negaranya, dan ingin menyelundup masuk ke Amerika. Untuk itu mereka hendak menyewa kapal Harry dengan bayaran yang lumayan menggiurkan, namun ditolaknya karena resikonya juga besar: penjara dan kehilangan kapalnya. Begitu para calon penyewa yang ditolak ini keluar dari bar tempat mereka bertemu, ketiga orang Kuba itu langsung disambut oleh insiden penembakan. Tak jelas siapa yang menembak dan mengapa, namun ilustrasi itu cukup memberi gambaran pada kita akan carut-marutnya keadaan di Kuba.

Harry lalu menyewakan kapal pada seorang wisatawan yang mau memancing. Di sini tampak keahlian Hemingway dalam hal mengemudikan kapal dan memancing. Dengan cermat digambarkannya tiap adegan dalam petualangan memancing ini, sambil kita bisa belajar trik-trik memancing. Bagiku, inilah bagian yang paling kusukai dan menghibur dari buku ini. Hemingway membuat kita terhanyut, seakan turut merasakan hempasan angin laut menerpa wajah kita, bau air laut, dan memandang bayangan ikan di antara gelombang air yang biru jernih. Lihat juga penggambaran Hemingway tentang sosok ikan besar yang sempat memakan umpan si penyewa kapal,

Lalu kulihat sebuah suara deburan keras seperti ledakan bom di kedalaman, lalu tampak mata, rahang terbuka dan kepala hitam pekat-besar seekor marlin hitam. Sirip atasnya yang mencuat ke permukaan air tampak seperti layar terkembang, dan ekor belakangnya yang melengkung menghempas umpan tuna. Bibir moncongnya setebal tongkat bisbol dan mendongak ke atas, dan ketika dia memangsa umpannnya dia berkecipak membelah permukaan air lebar. Warnanya hitam pekat dan matanya sebesar mangkuk sup. Ukurannya sangat besar. Kukira beratnya sekitar seribu pon.

Lihat kan? Hanya sastrawan dan penulis bagus lah yang akan bisa mendeskripsikan seekor ikan besar berwarna hitam seberat seribu pon sampai bisa sedetil itu, hingga kita jadi punya perasaan takjub dan seolah melihat dengan mata kepala sendiri kejadian ikan yang sedang memakan umpan itu!

Johnson, si penyewa kapal bukanlah pemancing kawakan, sehingga sudah tiga minggu berlayar mereka belum juga mendapat tangkapan besar. Namun, yang paling mengesalkan, Johnson akhirnya melarikan diri tanpa membayar sepeser pun pada Harry yang sudah terlanjur bokek, dan sebenarnya mengharapkan uang hasil sewa itu untuk memberi nafkah keluarganya. Habis sudah harapannya!

Setelah boleh dibilang bangkrut, seorang sahabat Harry menawarkan pekerjaan. Kali ini Harry berurusan dengan seorang Cina bernama Tuan Sing. Ia hendak menyewa kapal Harry untuk menyelundupkan beberapa orang Cina keluar dari Kuba. Tarif sewa pun disepakati, $1200. Uang muka $200, sisanya pada saat para penumpang sudah terangkut. Resikonya tetap: 10 tahun penjara. Namun, bisakah anda bayangkan seorang nelayan yang sudah bangkrut akan menampik tawaran ini? Bayangan akan istri dan dua anak perempuan yang manis-manis yang sedang menunggu ayah mereka pulang untuk membeli makanan dan membayar uang sekolah, mau tak mau membuat pria mana pun menjadi nekat.

Maka kesepakatan dibuat, pelayaran akan dilakukan malam hari. Harry akan menjemput di sebuah tempat yang disepakati di perairan. Awalnya Harry berencana akan berangkat sendiri, namun Eddy si pemabuk, yang biasa membantunya ngotot ingin ikut, walaupun tak terdaftar dalam manifes (daftar penumpang).

Sekilas nampaknya semua baik-baik saja, sampai pada bagian di mana Harry diam-diam menyiapkan senjata api yang biasa ia sembunyikan di ruang bawah kapal. Kedua senapan dan pistol itu ia isi pelurunya, memberikan 1 pistol kepada Eddy lalu menunggu malam tiba...Bakal ada apa nih?

Ternyata memang Harry sudah merencanakannya dari awal. Ia merencanakan untuk membunuh Tuan Sing segera setelah semua penumpang sudah masuk kapal dan uang sudah berpindah tangan. Waktu Eddy bertanya mengapa? Harry menjawab karena Tuan Sing terlalu gampang setuju pada negosiasi mereka, dan itu mencurigakan. Tapi mengapa dibunuh? Agar tidak membunuh 12 orang penumpang lainnya. Jadi, apa yang sebenarnya terjadi? Aku sendiri tak mengerti!

Bagian II gaya penulisan agak berubah. Kalau di bagian I Hemingway menuliskan tokoh Harry dari sisi orang pertama, di bagian II ditulisnya dari sisi orang ke 3. Cerita langsung bergulir ke kondisi di kapal Harry setelah ia dan seorang negro asistennya mengalami kesialan gara-gara mengangkut liquor (miras), yang jelas-jelas melanggar hukum. Si negro tertembak, begitu juga Harry. Yang terakhir tertembak lengannya. Saat mereka mencoba membuang liquor ke laut, ada sebuah kapal berpapasan dan melihat aksi tersebut dan akan melaporkan ke pihak berwajib. Bagian ini berakhir dengan sangat singkat, yakni saat Harry pulang ke rumah setelah membuang semua liquor.

Lalu cerita masuk ke bagian III. Yang cukup membingungkan di sini adalah gaya penulisan berganti arah lagi. Harry bukan sebagai orang pertama, namun ada tokoh baru yang sampai agak ke tengah baru terungkap jati dirinya, dan kisah ini diceritakan dari sisinya. Di bagian ini diceritakan Harry terpaksa dipotong lengannya akibat tertembak di cerita bagian II. Kapalnya pun disita oleh pegadaian. Namun, karena mendapat order baru dengan nilai yang menggiurkan, Harry kembali menjalani perjalanan yang mendebarkan dan sangat berbahaya. Ia sampai begitu gelisah pada malam sebelum berangkat. Namun, demi keluarganya, bagi Harry pekerjaan ini adalah pertaruhan yang seimbang.

Di lain pihak, terpisah dari kisah Harry, diceritakan juga beberapa keluarga kaya yang tinggal di yacht-yacht terpisah yang bersandar di sebuah pangkalan. Ternyata di balik kemewahan yacht-yacht itu tersimpan cerita-cerita pilu para penghuninya. Cerita keserakahan, perselingkuhan, penyakit kronis, dan semua ketidak-bahagiaan lainnya. Kalau menilik pada judul buku ini, To Have and Have Not, mungkin Hemingway mau menunjukkan kenyataan dalam hidup. Baik yang kaya maupun yang melarat, semuanya bergulat dengan masalahnya masing-masing. Saat yang melarat merasa terdesak urusan perut dan tak melihat jalan keluar, mereka dapat menjadi kalap. Sedang yang serakah dapat meninggalkan moralnya saat ia tak dapat mengendalikan keserakahannya. Hasil keduanya sama: ketidak bahagiaan...

Kembali pada tokoh utama kita, Harry, si nelayan buntung. Akan berhasilkah ia dalam pekerjaan kali ini? Dan pekerjaan apakah itu yang lebih berbahaya daripada pekerjaan-pekerjaannya yang lalu? Kalau anda menyukai atau merasa tertantang dengan bacaan sastra macam ini, anda bisa langsung membacanya. Yang jelas, aku sekarang sudah tahu bahwa untuk membaca sastra, diperlukan permenungan selain pemahaman. Baru saat aku menulis posting ini, pahamlah aku akan apa makna yang Hemingway inginkan kita untuk menemukannya. Endingnya gimana, Fan? Mungkin ada yang bertanya begitu? Ah..itu tak terlalu penting, karena Hemingway hanya ingin anda menemukan makna terdalamnya saja. Buat anda...selamat mencari dan menemukannya!!

Judul: To Have And Have Not
Pengarang: Ernest Hemingway
Penerbit: Selasar
Terbit: Februari 2009
Tebal: 288 hlm