Thursday, May 12, 2011

Di Mana Ada Cinta, Di Sana Tuhan Ada

Judul: Di Mana Ada Cinta, Di Sana Tuhan Ada
Penulis: Leo Tolstoy
Penerbit: Serambi
Penerjemah: Atta Verin
Cetakan: Februari 2011
Tebal: 197 hlm

“Ketika Aku lapar, kamu memberi aku makan. Ketika Aku haus, kamu memberi aku minum. Ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan….” --Mat 25:35

“Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraKu yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” –Mat 25:40

Kedua ayat Kitab Suci itu langsung memenuhi pikiranku saat aku selesai membaca kisah pertama dalam buku kumpulan cerita bertema cinta spiritual karya sastrawan besar Rusia Leo Tolstoy ini. Sebenarnya ayat itu bahkan tidak dicantumkan dalam cerita itu, namun aku langsung menemukan kesamaan dengan esensi ceritanya. Di Mana Ada Cinta, Di Sana Tuhan Ada. Demikianlah judul kisah pertama di buku ini, yang sekaligus menjadi judul buku ini sendiri. Berkisah tentang seorang perajin sepatu bernama Martin, yang merasa kesepian setelah ditinggal mati istri dan putra semata wayangnya. Ia lalu mengalami kehampaan dalam hidupnya, berhenti pergi ke Gereja dan malah mengomel pada Tuhan karena mengambil putranya terlebih dahulu alih-alih mengambil dirinya. Hingga suatu hari ia kedatangan tamu dari biara yang menasihatinya untuk mulai membaca Kitab Suci. Dan kedamaian pun perlahan-lahan mulai bersemi dalam hati Martin tiap kali ia membaca sabda Tuhan.

Hingga suatu hari ia berandai-andai, apakah yang akan dilakukannya bila Tuhan sendiri bertamu ke rumahnya? Lalu dalam tidur, ia memimpikan Tuhan memanggil namanya, dan mengatakan bahwa Ia akan datang keesokan harinya. Maka begitu pagi menjelang, Martin pun mulai menanti-nantikan “Tamu Istimewa”nya itu. Ia yang biasa mengenali warga dengan mengintip sepatu mereka dari ambang jendela, terus menerus menunggu. Banyak orang yang melewati rumahnya, namun tak seorang pun yang berhenti, apalagi singgah. Orang pertama yang berdiri di luar di depan jendelanya adalah seorang pembantu rumah yang kedinginan saat menyekop salju. Merasa iba, Martin mengajak si pembantu rumah itu masuk dan menyuguhkan teh untuk memberinya kehangatan. Dan sambil si pembantu menikmati bercangkir-cangkir teh hangat, Martin juga menghangatkan jiwanya dengan kata-katanya tentang Tuhan yang ia ambil dari kitab suci. Si pembantu pun kembali ke dinginnya salju untuk bekerja, namun kini dengan tubuh maupun hati yang lebih hangat…

Sepanjang hari Martin menunggu, namun tak satupun tamu yang datang, apalagi yang bisa disebut “Istimewa”. Yang ada malah seorang wanita dengan bayi di gendongannya yang tampak kedinginan di balik pakaiannya yang tipis, sedang berdiri di luar rumah Martin. Maka Martin pun mengundang wanita itu masuk untuk menghangatkan diri. Bersama roti dan sup hangat yang dihidangkan Martin, wanita itu bertutur tentang kemalangan dirinya yang ditinggal suaminya perang, dan kini jatuh miskin, bahkan selendang untuk menghangatkan diripun harus ia gadaikan sehingga kini mereka berdua harus kedinginan di jalanan. Martin memberinya uang sekadarnya untuk bisa menebus kembali selendangnya, dan membekalinya mantel usang untuk dapat melindunginya dan si bayi dari kedinginan.

Dan begitulah, ternyata hari itu berlalu tanpa ada yang istimewa sama sekali. Hanya kejadian-kejadian kecil semacam itu yang membuat Martin berinteraksi dengan orang-orang asing yang ditolongnya. Entah itu untuk memberikan kehangatan raga, kehangatan jiwa, maupun untuk belajar mengampuni dan berdamai dengan orang lain. Lalu bagaimana dengan “Tamu Istimewa” yang berjanji akan mengunjunginya? Maka akupun teringat kembali pada ayat Kitab Suci yang aku kutip di awal tulisan ini. Dan kembali aku serasa diingatkan (lagi)… bahwa Tuhan tak perlu dicari-cari, ia hadir dalam diri setiap orang yang membutuhkan kita. Setiap hari. Setiap saat. Hanya tinggal kitalah yang peka untuk menyadarinya, dan bertindak. Sebuah kisah yang sederhana namun sangat berkesan bagiku.

Itu barulah kisah pertama dalam buku kumpulan cerita ini. Dalam 4 cerita selanjutnya pun, anda akan diajak untuk melihat indahnya kasih. Kasih bisa berwujud maaf, seperti terungkap dalam kisah kedua: Tuhan Tahu, Tapi Menunggu, yang bercerita tentang seorang saudagar bernama Aksionov yang ditangkap dan dipenjara dengan tuduhan membunuh teman sepenginapannya saat ia sedang bepergian. Cinta juga menampakkan wajahnya kepada seorang saudagar kaya bernama Vasili, yang pikirannya selalu dipenuhi dengan bisnisnya dan kebanggaan dirinya yang sukses berbisnis. Suatu hari ia harus bepergian di tengah badai salju yang membekukan, bersama dengan pembantunya, Nikita. Di saat itulah Tuhan “memanggilnya” lewat kejadian yang tak masuk akal. Vasili yang berkereta kuda bersama Nikita tak pernah dapat menemukan jalan sehingga harus tersesat di tengah badai salju dan terancam mati membeku. Saat itulah Vasili harus memilih. Apakah ia akan tetap memikirkan dirinya sendiri, atau membiarkan Tuhan mengambil alih? Sekali lagi kita menyadari, bahwa di mana ada cinta, di sana Tuhan ada. Keseluruhan kisahnya bisa anda baca di kisah no. 4: Majikan dan Pelayan.

Kisah penutup atau kisah kelima mungkin yang paling tegas menjelaskan pada kita, bagaimana Tuhan menginginkan kita untuk menjalani hidup ini dan mengisinya. Di kisah Dua Lelaki Tua ini, adalah Efim dan Elisha, dua pria tua yang ingin pergi berziarah ke Yerusalem bersama-sama. Efim adalah pria yang selalu mengkhawatirkan segalanya, dan menginginkan semuanya sempurna. Kalau saja bukan karena desakan Elisha yang lebih santai, Efim mungkin takkan pernah berangkat ziarah karena sibuk dengan ini-itu yang tak habis-habisnya. Sayangnya, walaupun berangkat bersama-sama, kedua lelaki tua ini harus berpisah jalan tanpa sengaja ketika Elisha singgah di sebuah rumah untuk sejenak memuaskan dahaganya dengan meminta segelas air. Di titik ini Leo Tolstoy ingin menunjukkan pada kita ziarah seperti apa yang sebenarnya lebih berkenan bagi Tuhan, dan bahwa ziarah itu sejatinya terjadi di sepanjang hidup kita tanpa terkecuali. Hidup kita ini adalah sebuah peziarahan. Apakah kita ingin mendapat hasil yang baik dari ziarah ini, itu adalah pilihan kita. Yang jelas, Tuhan telah menyediakan “sarana”nya, yakni lewat sesama kita, tinggal kitalah yang mau memilih memanfaatkannya sebaik mungkin, atau melewatkannya…

Buku yang diterbitkan oleh Serambi ini, bagiku merupakan salah satu buku yang isinya sederhana, namun isinya akan selalu meresap hingga ke relung-relung jiwa yang paling dalam. Cara bercerita Leo Tolstoy telah membuat kisah-kisah sederhana itu menjadi hidup berkat kemampuannya merangkai detail-detail yang sangat cermat menjadi sebuah cerita yang mengalir, sehingga kita seolah merasa mengalami atau melihat sendiri semua kejadian di kisah itu. Bravo Leo Tolstoy! Dan untuk itu aku memberikan 5 bintang untuk karya ini!

Tuesday, May 3, 2011

Dua Versi The Phantom of The Opera

Dunia perbukuan Indonesia patut berbangga hati karena akhir-akhir ini para penerbit mulai berlomba-lomba menerjemahkan dan menerbitkan karya-karya sastra klasik dunia. Bahkan sebuah karya mungkin saja diterbitkan oleh dua penerbit yang berbeda dalam waktu yang hampir bersamaan. Suatu usaha yang patut diacungi jempol. Ini akan memberi sebuah tantangan bagi penerbit untuk menyuguhkan karya yang terbaik, karena pembaca akan memiliki pilihan. Di sisi lain, ini kabar baik bagi pembaca karena mereka sekarang punya pilihan karya yang terbaik. Masalahnya, agak sulit menilai buku hanya sekedar dari sampul dan sinopsis kan? Karena itu kali ini aku akan mencoba melakukan studi perbandingan 2 novel klasik keren: The Phantom Of The Opera. Penerbit Serambi telah menerbitkannya sejak Februari 2011 lalu, sedang Gramedia baru menerbitkan versinya April 2011. Kebetulan, aku sudah pernah mereview terbitan Serambi (karena waktu itu belum ada pilihan lain) di sini. Dan hanya untuk mengobati penasaran, dan berkat sebuah voucher belanja, aku pun memutuskan untuk memiliki juga versi dari Gramedia. Dan inilah tinjauanku mengenai kedua versi. Ini adalah tinjauan pribadi, tidak ada pengaruh dari kedua penerbit, dan tidak ada tendensi untuk mempengaruhi anda untuk memilih salah satu versi. Ini hanya pendapatku secara jujur dan tidak berpihak. Terserah anda pada akhirnya untuk menentukan pilihan… Yang jelas, buku ini layak dibaca!

Yang paling jelas berbeda dari kedua versi tentu saja covernya…



Cover dof milik Gramedia bergambar tokoh si hantu opera dan penyanyi Christine Daae dengan background interior gedung opera bernuansa emas dan merah. Cover ini berkesan mewah, elegan, dan romantis yang tentu saja cocok dengan penggambaran sebuah opera. Cover milik Serambi lebih berkesan “kelam” dengan dasar hitam dari bahan dof, namun anggun lewat sekilas warna ungu tua pada jas milik si hantu. Sedang warna putih berpernis kilap di bagian judul menampilkan kesan “murni”, dan setangkai mawar merah menambahkan aura keromantisan cinta. Secara keseluruhan, cover Serambi lebih mewakili kisah The Phantom Of The Opera yang cenderung gothic. Perpaduan mencolok hitam pekat dan putih cemerlang itu seolah mewakili ironi keberadaan hantu opera yang kelam di suatu tempat di bawah opera yang gemerlapan, atau sifat kejam si hantu di balik kejeniusan dan keromantisannya.


2 cover versi bahasa Inggris terbitan Harper Perennial; New edition thn. 1987, dan Tribeca Books, April 2, 2011:



Di sisi lain, simbol “stempel lilin warna merah” di novel-novel klasik versi Gramedia akan membuat para kolektor tergiur memiliki versi ini. Masih bingung, pasti? Mari lanjut ke isi bukunya…

Perbedaan mencolok kedua (yang juga membuatku penasaran) adalah jumlah halaman. Versi Serambi terdiri dari 485 halaman, sedangkan versi Gramedia hanya 376 halaman. Dan akupun penasaran, di mana letak perbedaannya sehingga selisihnya bisa berkisar 100 halaman? Maka mulailah aku membaca sambil membandingkan. Ditilik dari kualitas penerjemahannya, kedua versi memiliki kualitas yang sebanding, meski tetap ada plus dan minusnya…

Terjemahan dari Serambi ternyata memang cenderung lebih panjang sehingga tidaklah heran, jumlah halamannya lebih banyak ketimbang versi Gramedia. Aku sendiri merasa lebih cocok dengan versi panjang karena lebih mencerminkan sastra klasik yang memang cenderung bahasanya tidak ringkas. Bagi pembaca klasik pemula yang mementingkan alur cerita yang ringkas, mungkin akan lebih menyukai versi lebih singkatnya. Akan aku kutipkan sebuah bagian dari buku ini, berupa surat yang ditulis oleh Christine Daae kepada Viscount/Vicomte Raoul de Chagny. Tentu saja aku akan kutipkan 2 versi, versi yang lebih singkat dan versi yang panjang.


“Aku tidak lupa pada anak laki-laki yang masuk ke laut untuk mengambil syalku. Aku merasa harus menulis surat ini kepadamu hari ini, ketika aku pergi ke Perros demi menggenapi tugas penting. Besok hari peringatan kematian ayahku, orang yang kaukenal dan yang sangat menyukaimu. Ia dimakamkan di sana bersama dengan biolanya, di pemakaman gereja kecil di dasar tanah melandai tempat kita sering bermain ketika kecil, di samping jalan tempat kita mengucapkan salam perpisahan terakhir kali ketika kita telah sedikit lebih besar.” (hal. 75)


“Aku belum melupakan anak laki-laki yang menceburkan diri ke laut untuk mengambilkan selendangku. Aku tidak tahan untuk tidak menuliskan kejadian tersebut kepadamu, mengingat saat ini aku sedang bersiap-siap menuju Perros-Guirec untuk melaksanakan tugas mulia. Besok merupakan hari peringatan meninggalnya ayahku. Kau mengenalnya, dan dia menyukaimu. Ayah dikuburkan di Perros-Guirec bersama biolanya, di sebuah tempat pemakaman yang mengelilingi gereja kecil, di kaki bukit tempat kita sering bermain ketika masih kecil, dan di ujung jalan itu, usia kita sedikit lebih tua saat itu, kita saling mengucapkan salam perpisahan untuk terakhir kalinya.” (hal. 90)

Entah bagaimana dengan anda, tapi aku menemukan versi kedua lebih mirip dengan isi sebuah surat yang akan ditulis seorang wanita pada sahabat kecilnya pada masa itu. Ada sebuah kehangatan dan keakraban yang terungkap di sana. Atau mungkin bagi anda sama saja? Mari kita lanjutkan ke perbandingan yang lain…

Di samping versi singkat dan panjang, aku menemukan pula beberapa kutipan yang dicantumkan di versi Serambi, tidak kutemukan di versi Gramedia. Hal ini mungkin saja terjadi kalau kedua penerbit mengambil naskah yang berbeda untuk diterjemahkan. Memang, ketidak hadiran kutipan itu tidak sampai mempengaruhi jalan cerita, namun aku merasa justru kutipan-kutipan itu makin menguatkan imajinasi kita pada kisahnya sendiri. Lagipula, kalau anda belum tahu, kisah ini bukan murni fiksi rekaan, melainkan merupakan sebuah laporan yang ditulis Gaston Leroux dari hasil investigasi terhadap hantu opera. Jadi wajarlah menurutku kalau ia menyertakan kutipan-kutipan yang entah dia ambil dari tulisan seorang wartawan di koran atau dari sumber lainnya, demi memperkuat laporannya. Sekali lagi, kutipan-kutipan itu mungkin akan memperlambat alur cerita, namun di sisi lain juga tetap memberikan nuansa tersendiri saat kita membaca.

Selain itu, menurutku The Phantom Of The Opera ini seharusnya secara kental menampilkan ke-Prancis-annya. Salah satunya lewat istilah atau nama-nama dalam bahasa Prancis. Misalnya saja judul pertunjukan (opera) Romeo et Juliette seharusnya tetap ditulis demikian, alih-alih menjadi Romeo and Juliet (hal. 32) yang kutemukan di versi Gramedia. Atau Funeral March of a Marionette (hal. 32) seharusnya tetap saja ditulis sebagai La marche funebre d’une marionette karena toh kita sebagai pembaca tak butuh memahami arti judul sebuah pertunjukan opera, justru judul dalam bahasa Prancis (yang tak kita mengerti) itu lebih mengesankan sebagai judul sebuah pertunjukan opera di Prancis. Apalagi pada bagian “Le Roi de Lahore” harusnya kata “Le” tidak dihilangkan sehingga menjadi “Roi de Lahore” (hal. 50), karena dalam bahasa Prancis selalu ada kata sandang (le) di depan kata benda (roi). Le Roi adalah satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan begitu saja.

Bagaimana pun juga, kita harus berterima kasih kepada kedua penerbit yang telah mempersembahkan yang terbaik demi menyuguhkan sebuah bacaan klasik sepanjang masa The Phantom Of The Opera ini. Mana yang terbaik? Tak ada menurutku. Pilihan tentu saja ada di tangan anda masing-masing. Apakah anda menginginkan edisi yang enak dibaca dan bagus untuk dikoleksi dengan cover yang elegan dan jenis kertas serta cetakan yang ekslusif? Atau anda lebih mementingkan keutuhan isi buku aslinya yang lebih klasik daripada jenis kertas dan cetakan biasa-biasa, tapi toh dikemas dalam cover yang sangat pas mewakili isinya? Kalau anda masih saja bingung, itu bukan salahku. Aku telah berusaha menjelaskannya selengkap mungkin. Sekarang giliran anda memilih, namun pastikan anda memilih untuk membaca The Phantom Of The Opera ini! Selamat membaca...

[Bukan Review] Dua Versi The Phantom Of The Opera

Dunia perbukuan Indonesia patut berbangga hati karena akhir-akhir ini para penerbit mulai berlomba-lomba menerjemahkan dan menerbitkan karya-karya sastra klasik dunia. Bahkan sebuah karya mungkin saja diterbitkan oleh dua penerbit yang berbeda dalam waktu yang hampir bersamaan. Suatu usaha yang patut diacungi jempol. Ini akan memberi sebuah tantangan bagi penerbit untuk menyuguhkan karya yang terbaik, karena pembaca akan memiliki pilihan. Di sisi lain, ini kabar baik bagi pembaca karena mereka sekarang punya pilihan karya yang terbaik. Masalahnya, agak sulit menilai buku hanya sekedar dari sampul dan sinopsis kan? Karena itu kali ini aku akan mencoba melakukan studi perbandingan 2 novel klasik keren: The Phantom Of The Opera. Penerbit Serambi telah menerbitkannya sejak Februari 2011 lalu, sedang Gramedia baru menerbitkan versinya April 2011. Kebetulan, aku sudah pernah mereview terbitan Serambi (karena waktu itu belum ada pilihan lain) di sini. Dan hanya untuk mengobati penasaran, dan berkat sebuah voucher belanja, aku pun memutuskan untuk memiliki juga versi dari Gramedia. Dan inilah tinjauanku mengenai kedua versi. Ini adalah tinjauan pribadi, tidak ada pengaruh dari kedua penerbit, dan tidak ada tendensi untuk mempengaruhi anda untuk memilih salah satu versi. Ini hanya pendapatku secara jujur dan tidak berpihak. Terserah anda pada akhirnya untuk menentukan pilihan… Yang jelas, buku ini layak dibaca!

Yang paling jelas berbeda dari kedua versi tentu saja covernya…


Cover dof milik Gramedia bergambar tokoh si hantu opera dan penyanyi Christine Daae dengan background interior gedung opera bernuansa emas dan merah. Cover ini berkesan mewah, elegan, dan romantis yang tentu saja cocok dengan penggambaran sebuah opera. Cover milik Serambi lebih berkesan “kelam” dengan dasar hitam dari bahan dof, namun anggun lewat sekilas warna ungu tua pada jas milik si hantu. Sedang warna putih berpernis kilap di bagian judul menampilkan kesan “murni”, dan setangkai mawar merah menambahkan aura keromantisan cinta. Secara keseluruhan, cover Serambi lebih mewakili kisah The Phantom Of The Opera yang cenderung gothic. Perpaduan mencolok hitam pekat dan putih cemerlang itu seolah mewakili ironi keberadaan hantu opera yang kelam di suatu tempat di bawah opera yang gemerlapan, atau sifat kejam si hantu di balik kejeniusan dan keromantisannya.


2 cover versi bahasa Inggris terbitan Harper Perennial; New edition thn. 1987, dan Tribeca Books, April 2, 2011:


Di sisi lain, simbol “stempel lilin warna merah” di novel-novel klasik versi Gramedia akan membuat para kolektor tergiur memiliki versi ini. Masih bingung, pasti? Mari lanjut ke isi bukunya…

Perbedaan mencolok kedua (yang juga membuatku penasaran) adalah jumlah halaman. Versi Serambi terdiri dari 485 halaman, sedangkan versi Gramedia hanya 376 halaman. Dan akupun penasaran, di mana letak perbedaannya sehingga selisihnya bisa berkisar 100 halaman? Maka mulailah aku membaca sambil membandingkan. Ditilik dari kualitas penerjemahannya, kedua versi memiliki kualitas yang sebanding, meski tetap ada plus dan minusnya…

Terjemahan dari Serambi ternyata memang cenderung lebih panjang sehingga tidaklah heran, jumlah halamannya lebih banyak ketimbang versi Gramedia. Aku sendiri merasa lebih cocok dengan versi panjang karena lebih mencerminkan sastra klasik yang memang cenderung bahasanya tidak ringkas. Bagi pembaca klasik pemula yang mementingkan alur cerita yang ringkas, mungkin akan lebih menyukai versi lebih singkatnya. Akan aku kutipkan sebuah bagian dari buku ini, berupa surat yang ditulis oleh Christine Daae kepada Viscount/Vicomte Raoul de Chagny. Tentu saja aku akan kutipkan 2 versi, versi yang lebih singkat dan versi yang panjang.

“Aku tidak lupa pada anak laki-laki yang masuk ke laut untuk mengambil syalku. Aku merasa harus menulis surat ini kepadamu hari ini, ketika aku pergi ke Perros demi menggenapi tugas penting. Besok hari peringatan kematian ayahku, orang yang kaukenal dan yang sangat menyukaimu. Ia dimakamkan di sana bersama dengan biolanya, di pemakaman gereja kecil di dasar tanah melandai tempat kita sering bermain ketika kecil, di samping jalan tempat kita mengucapkan salam perpisahan terakhir kali ketika kita telah sedikit lebih besar.” (hal. 75)

“Aku belum melupakan anak laki-laki yang menceburkan diri ke laut untuk mengambilkan selendangku. Aku tidak tahan untuk tidak menuliskan kejadian tersebut kepadamu, mengingat saat ini aku sedang bersiap-siap menuju Perros-Guirec untuk melaksanakan tugas mulia. Besok merupakan hari peringatan meninggalnya ayahku. Kau mengenalnya, dan dia menyukaimu. Ayah dikuburkan di Perros-Guirec bersama biolanya, di sebuah tempat pemakaman yang mengelilingi gereja kecil, di kaki bukit tempat kita sering bermain ketika masih kecil, dan di ujung jalan itu, usia kita sedikit lebih tua saat itu, kita saling mengucapkan salam perpisahan untuk terakhir kalinya.” (hal. 90)

Entah bagaimana dengan anda, tapi aku menemukan versi kedua lebih mirip dengan isi sebuah surat yang akan ditulis seorang wanita pada sahabat kecilnya pada masa itu. Ada sebuah kehangatan dan keakraban yang terungkap di sana. Atau mungkin bagi anda sama saja? Mari kita lanjutkan ke perbandingan yang lain…

Di samping versi singkat dan panjang, aku menemukan pula beberapa kutipan yang dicantumkan di versi Serambi, tidak kutemukan di versi Gramedia. Hal ini mungkin saja terjadi kalau kedua penerbit mengambil naskah yang berbeda untuk diterjemahkan. Memang, ketidak hadiran kutipan itu tidak sampai mempengaruhi jalan cerita, namun aku merasa justru kutipan-kutipan itu makin menguatkan imajinasi kita pada kisahnya sendiri. Lagipula, kalau anda belum tahu, kisah ini bukan murni fiksi rekaan, melainkan merupakan sebuah laporan yang ditulis Gaston Leroux dari hasil investigasi terhadap hantu opera. Jadi wajarlah menurutku kalau ia menyertakan kutipan-kutipan yang entah dia ambil dari tulisan seorang wartawan di koran atau dari sumber lainnya, demi memperkuat laporannya. Sekali lagi, kutipan-kutipan itu mungkin akan memperlambat alur cerita, namun di sisi lain juga tetap memberikan nuansa tersendiri saat kita membaca.

Selain itu, menurutku The Phantom Of The Opera ini seharusnya secara kental menampilkan ke-Prancis-annya. Salah satunya lewat istilah atau nama-nama dalam bahasa Prancis. Misalnya saja judul pertunjukan (opera) Romeo et Juliette seharusnya tetap ditulis demikian, alih-alih menjadi Romeo and Juliet (hal. 32) yang kutemukan di versi Gramedia. Atau Funeral March of a Marionette (hal. 32) seharusnya tetap saja ditulis sebagai La marche funebre d’une marionette karena toh kita sebagai pembaca tak butuh memahami arti judul sebuah pertunjukan opera, justru judul dalam bahasa Prancis (yang tak kita mengerti) itu lebih mengesankan sebagai judul sebuah pertunjukan opera di Prancis. Apalagi pada bagian “Le Roi de Lahore” harusnya kata “Le” tidak dihilangkan sehingga menjadi “Roi de Lahore” (hal. 50), karena dalam bahasa Prancis selalu ada kata sandang (le) di depan kata benda (roi). Le Roi adalah satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan begitu saja.

Bagaimana pun juga, kita harus berterima kasih kepada kedua penerbit yang telah mempersembahkan yang terbaik demi menyuguhkan sebuah bacaan klasik sepanjang masa The Phantom Of The Opera ini. Mana yang terbaik? Tak ada menurutku. Pilihan tentu saja ada di tangan anda masing-masing. Apakah anda menginginkan edisi yang enak dibaca dan bagus untuk dikoleksi dengan cover yang elegan dan jenis kertas serta cetakan yang ekslusif? Atau anda lebih mementingkan keutuhan isi buku aslinya yang lebih klasik daripada jenis kertas dan cetakan biasa-biasa, tapi toh dikemas dalam cover yang sangat pas mewakili isinya? Kalau anda masih saja bingung, itu bukan salahku. Aku telah berusaha menjelaskannya selengkap mungkin. Sekarang giliran anda memilih, namun pastikan anda memilih untuk membaca The Phantom Of The Opera ini! Selamat membaca...

Friday, April 29, 2011

Oliver Twist


Label “bocah malang” mungkin paling pas disematkan pada tokoh anak yatim piatu di Inggris yang hidup pada abad 19 rekaan Charles Dickens ini: Oliver Twist. Bagaimana tidak, begitu lahir dari hubungan orang tua yang tidak jelas (baca: di luar nikah), ia langsung menjadi yatim piatu. Ayahnya sudah lama pergi entah kemana, sedang ibunya yang ringkih meninggal tak lama setelah ia lahir. Nasib anak yatim piatu yang tak memiliki akar sejarah yang jelas amatlah menyedihkan pada jaman itu. Mereka berada di bawah pengawasan semacam Dinas Sosial yang dikelola oleh pemerintah, dan ditempatkan di Rumah Sosial yang dikelola warga dan ditunjang oleh pemerintah. Jangan berpikir bahwa mereka bisa hidup enak di sana. Kebanyakan rumah sosial itu justru tidak sosial sama sekali, mereka malah mengambil keuntungan dengan menyunat anggaran untuk makanan dan kebutuhan anak-anak itu dari anggaran sebenarnya yang sudah sangat kecil dari pemerintah. Alhasil, anak-anak itu menderita kurang gizi parah, belum lagi perlakuan tidak manusiawi seperti tempat tidur kumuh dan sempit, bekerja berat dan siksaan fisik menjadikan hidup anak-anak yatim itu semakin suram.

Di lingkungan seperti itulah Oliver Twist kecil tumbuh selama delapan tahun. Saking parahnya keadaan itu, Dickens menggambarkan rakusnya Oliver saat diberi makanan basi atau makanan anjing, karena makanan yang didapat di rumah sosial lebih parah lagi! Dickens mampu menggambarkan situasi suram itu dengan demikian hidup karena situasi itu memang nyata terjadi di London saat ia menulis kisah ini, dan konon Dickens sendiripun pernah menjadi pekerja anak-anak di masa kecilnya.

Oliver Twist sendiri nampaknya akan menghabiskan seumur hidupnya sebagai anak yatim piatu malang, kalau saja suatu hari ia tidak memberanikan diri memohon untuk mendapatkan tambahan makanan kepada staf rumah sosial. Tak dinyana, keberaniannya itu berbuah petaka bagi Oliver. Ia disebut sebagai berandalan cilik, dilaporkan kepada Dewan, yang akhirnya dalam sebuah sidang memutuskan Oliver harus “dibuang” dari pengasuhan mereka kepada siapapun yang mampu dan mau membelinya seharga lima pound. Bayangkan, minta tambah makanan (dari porsi yang memang tidak manusiawi) dengan memelas ternyata dianggap sebagai kejahatan besar! Betapa tak adil dan tak manusiawinya perlakuan mereka….

Akhirnya seorang pengusaha rumah kematian bernama Tuan Sowerberry mengambil dan mempekerjakan Oliver. Oliver pun diantar oleh Tuan Bumble, seorang pejabat Sekretaris Desa yang sok kuasa dan mata duitan. Awalnya semua berjalan lancar, bahkan Oliver sempat menjadi andalan bisnis Tuan Sowerberry. Hingga suatu hari ‘anak buah’ Tuan Sowerberry lainnya yang bernama Noah Claypole memancing gara-gara karena iri pada kemajuan karir si anak baru Oliver. Ia menghina ibu Oliver yang memang dicap ‘penjahat’ oleh masyarakat. Akibatnya, Oliver yang kecil dan lemah itu marah besar dan mampu menyerang dan memukuli Noah yang bertubuh lebih besar. Anda pasti dapat menduga kelanjutannya…lagi-lagi Oliver dicap sebagai berandalan dan penjahat cilik. Tak tahan menanggung semuanya, Oliver pun melarikan diri dari kediaman Sowerberry. Berkelana tanpa tujuan jelas, kelaparan dan tak memiliki tempat berteduh, dalam perjalanan Oliver sempat mengunjungi Dick, sahabatnya di rumah sosial dulu. Nasib Dick tak kalah menyedihkannya dibanding Oliver, namun alih-alih menangisi nasib sendiri, Dick justru menyemangati Oliver untuk melanjutkan hidupnya. “Tuhan memberkatimu” adalah kata-kata Dick yang menghidupkan harapan di hati Oliver.

Oliver melanjutkan perjalanan hingga tibalah ia di dekat batu penanda jalan (milestone) yang menunjukkan jarak 70 mil menuju London (yang menjadi gambar cover buku ini). Di titik ini Oliver memutuskan bahwa ia akan mengadu nasib di kota London. Tiba di London, Oliver yang kecapekan dan kelaparan tak disangka-sangka mendapat uluran tangan dari seorang pemuda yang baru dikenalnya. Sekali lagi…nasib baik belum berpihak pada Oliver. Karena pemuda yang menolongnya itu justru adalah penjahat dan pencopet bernama Artful Dodger yang dididik oleh Tuan Fagin, si raja pencuri!

Untuk sementara Oliver memiliki tempat berteduh dan makanan yang cukup untuknya melanjutkan hidup. Tapi, semua itu tak ia dapat secara cuma-cuma. Tuan Fagin menampungnya untuk dididik menjadi seorang pencopet cilik, menemani Dodger dan Charley Bates yang sudah duluan menekuni “bisnis” mendapatkan barang secara ilegal dengan mencopet dan mencuri. Awalnya Oliver yang polos tak menyadari kenyataan ini. Matanya baru terbuka saat ia diperbolehkan ikut “bekerja” bersama Dodger dan Bates. Oliver menyaksikan dengan ngeri bagaimana kedua rekan mudanya mencopet saputangan milik seorang pria terhormat yang sedang asyik membaca buku di sebuah lapak buku. Secara naluriah, Oliver langsung lari ketakutan dari tempat kejadian, terpisah dari kedua rekannya. Si tuan korban pencurian langsung mengejarnya karena mengira ia pencopetnya, dan segera diikuti oleh massa yang sengaja digerakkan Dodger dan Bates untuk menjauhkan mereka sendiri dari kecurigaan. Seperti biasa, yang paling lantang berteriak ‘maling’ pastilah si maling sendiri!

Dan sekali lagi nasib buruk menghampiri Oliver. Ketakutan, babak belur dipukuli massa, iapun dituduh melakukan kejahatan tanpa kesempatan membela diri dan dijebloskan ke penjara. Beruntunglah, pria terhormat korban pencopetan yang bernama Tuan Brownlow benar-benar layak menyandang gelar ‘terhormat’. Ia merasa Oliver tak bersalah, dan berkat kesaksian pemilik lapak buku tempat Tuan Brownlow kecopetan, yang menyaksikan sendiri kejadian itu, akhirnya Oliver dibebaskan dari penjara. Kini Oliver boleh bernapas lega. Ia dirawat dengan baik dan penuh kasih sayang oleh Tuan Brownlow dan pengasuh tua bernama Nyonya Bedwin. Di sini pula Oliver pertama kali mendapatkan siraman kasih yang seumur hidupnya yang kelam tak pernah ia rasakan.

Sayang, kebahagiaan itu hanya berumur jagung, karena Tuan Fagin dan gerombolannya tak kenal lelah berusaha mencari dan menemukan Oliver. Di sini mulai bermunculanlah satu per satu anggota komplotan Tuan Fagin. Mulai dari Nancy, gadis muda yang menaruh kasihan pada Oliver, Bill Sikes perampok kejam yang jadi kekasihnya, lalu ada juga seorang pria misterius bernama Monks yang tampaknya sangat membenci Oliver dan ingin menghancurkannya. Saat Oliver menunaikan amanat Tuan Brownlow untuk mengembalikan buku ke lapak buku, Oliver pun diculik oleh gerombolan Fagin dan sekali lagi ia harus mendekam di tempat kumuh yang kian tampak suram karena aura kejahatan yang meracuni udaranya. Sekali lagi Oliver dididik untuk menjadi penjahat, dan suatu hari dipinjamkan pada Bill Sikes yang ingin merampok sebuah rumah. Lalu bagaimana reaksi Oliver? Apakah pendidikan Tuan Fagin akan menampakkan hasilnya dan menjadikan Oliver sejahat yang lain? Atau berhasilkah ia tetap mempertahankan kesucian moralnya? Kalaupun yang terakhir yang terjadi, bagaimana ia dapat mengelak dari takdir gelap yang seolah mengejarnya kemanapun ia pergi? Lalu siapakah Oliver Twist sebenarnya? Sejarah kelam seperti apakah yang membuat nasibnya malang?

Ini adalah salah satu buku yang sayang untuk dilewatkan. Selain membawa kita menyaksikan potret buram kehidupan di kota besar abad 19, Dickens juga mau mengusik kemanusiaan kita. Bahkan di abad modern ini, masih banyak orang yang menancapkan stigma negatif pada orang-orang yang berbeda atau tidak sejalan dengan kebanyakan orang di masyarakat. Prasangka dengan mudahnya diletakkan ke atas seseorang tanpa terlebih dahulu menelusuri kebenarannya. Kita layak belajar dari Tuan Brownlow yang tidak serta merta setuju dengan pendapat Tuan Grimwig kawannya, yang yakin bahwa Oliver Twist pasti melarikan diri dengan uang dan buku yang dipercayakan kepadanya, serta takkan kembali dari lapak buku. Sebaliknya, ketika Oliver Twist memang tak kembali (meski tentu saja bukan karena hendak lari melainkan karena diculik), Tuan Brownlow berinisiatif melacak sejarah Oliver Twist.

Di bab-bab awal peran Oliver memang cukup mencolok dalam kisah ini. Namun di bagian-bagian selanjutnya, justru tokoh-tokoh lainlah yang menurutku lebih menonjol. Mungkin memang Dickens ingin mengupas tuntas tentang kejahatan dan kemunafikan yang ada di masyarakat saat itu. Tapi tetap saja itu membuatku kurang puas. Selain itu, aku merasa karakter Oliver Twist kurang menarik. Ia anak yang baik, sopan, ramah, penuh kasih, namun juga lemah lembut. Kubayangkan anak yang tumbuh sendirian di lingkungan yang keras akan menjadi anak yang keras juga, tangguh dan keras kepala. Menangis mungkin sudah tak masuk dalam kamusnya karena derita dan sakit hati pasti sudah biasa ia rasakan. Tapi Oliver ternyata gampang sekali tersentuh hatinya, dan tubuhnya sendiri lemah. Mungkin itu karena ekspektasiku sendiri sebelum membaca buku ini ya, atau memang Dickens memang ingin membuat perbandingan yang sangat mencolok antara sisi jahat dan sisi baik manusia, sehingga yang jahat dibuat sangat jahat dan yang baik menjadi sangat baik sehingga kurang manusiawi. Sekali lagi, ini hanyalah sebuah karya sastra, dan kita memang harusnya menikmatinya apa adanya kan?

Terakhir terima kasih pada Bentang Pustaka yang telah memilih novel yang telah lama kunantu-nantikan ini untuk diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Hanya sayang masih ada beberapa typo dan kesalahan penerjemahan. Salah satunya dalam kalimat ini: "Angin menggigit yang berkelebat di jalanan tampaknya telah mengosongkannya dari para penumpang....". Ada yang aneh dengan kata 'penumpang' disini yang tidak pas maksudnya. Mungkinkah ada kesalahan penerjemahan 'passager' (=pejalan kaki), keliru diterjemahkan sebagai 'passenger' (=penumpang)? Atau akukah yang kurang menangkap dengan baik?... Untunglah keanehan tadi tak mengurangi kenikmatan membaca cara bertutur Charles Dickens yang disampaikan dalam kalimat-kalimat panjang yang sarat arti!

Judul: Oliver Twist
Penulis: Charles Dickens
Penerjemah: Reni Indardini
Penerbit: Bentang Pustaka
Cetakan: Maret 2011
Tebal: 578 hlm

Monday, April 25, 2011

The Yearling

Yearling, menurut Wikipedia adalah hewan atau kuda muda yang baru meninggalkan masa kecil menuju masa dewasa. Masa muda, ingatkah anda akan masa-masa yang pernah atau sedang anda lewati itu? Masa-masa yang indah sekaligus membingungkan, karena pada masa-masa itu kita merasa seperti berada di puncak dunia. Lalu, baru saja kita merasa demikian, kitapun lalu dihempaskan pada kenyataan yang sesungguhnya. Hidup ternyata memang indah, namun tak pernah mudah. Kalau pengertian itu sudah kita dapatkan, berarti kita telah memasuki kedewasaan. Itulah yang ingin diungkapkan Marjorie Kinnan Rowlings dalam bukunya yang sangat indah ini: The Yearling.

Jody Baxter adalah seorang bocah lelaki yang sedang menanjaki usia remaja. Ia hidup di pertanian bersama Penny Baxter, ayahnya yang kurus ceking dan Ma Baxter yang gemuk. Keluarga Baxter hidup di pondok di dataran tinggi yang dikenal sebagai Pulau Baxter, yang sama sekali bukan pulau, melainkan lahan pertanian yang luas. Hidup bagi Jody sedang di puncak keindahan. Sebagai putra seorang penggarap ladang, ia mulai diajari bekerja meladang dan beternak. Namun karena usianya yang masih muda, tak berat tanggung jawab yang ia pikul sehingga ia pun merasa bebas untuk bermain dan bermanja di sela-sela pelajaran bertani dan berburu yang diberikan oleh Pa-nya, Penny Baxter.

Penny Baxter sendiri adalah sosok lelaki kurus kecil dengan mental sebesar beruang dan memiliki karakter kuat serta memegang teguh prinsipnya. Penny mengingatkanku pada papaku sendiri. Ia juga kurus meski lumayan tinggi. Namun, sama seperti Penny, Papa juga orang yang sangat kuat memegang prinsipnya akan kebenaran, kejujuran dan keadilan, sehingga kehidupan justru sering mengecewakannya. Di mata orang lain, terutama tetangga mereka: keluarga Forrester, bahkan juga di mata istrinya, Penny adalah pria yang (terlalu) lemah lembut dan tak berguna. Penny memiliki prinsip ia takkan membunuh hewan bila tak amat sangat membutuhkan atau bila hewan itu tak mengganggu keluarganya. Meski tahu bahwa daging atau kulit beruang mahal harganya bila dijual dan kesempatan untuk menembak sekawanan beruang terbuka lebar, ia hanya akan menembak secukupnya untuk makanan keluarganya untuk waktu tertentu. Penny percaya bahwa alam memiliki keseimbangannya sendiri, bahwa lebih baik membiarkan rusa tetap hidup, dan bahwa kalau ia harus mati, biarlah ia menjadi santapan hewan besar lainnya. Keluarga Baxter hanya mengambil apa yang mereka butuhkan untuk menyambung hidup, agar dengan demikian terjadi keseimbangan alam yang akhirnya juga akan mereka nikmati secara timbal balik.

Karakter Penny inilah yang teramat sangat dikagumi Jody, anak tunggal keluarga Baxter. Hal itu pula yang menyebabkan Jody sangat cocok dan dekat dengan ayahnya, tapi tak mampu memahami ibunya yang setelah berkali-kali kehilangan bayi, berubah menjadi manusia getir dan sinis. Jody pun makin sering berbagi waktu bersama ayahnya dalam perburuan beruang atau rusa yang mengasyikkan, juga berbagi ketertarikan pada alam dan hewan. Ayahnya juga yang mampu memahami rasa kesepian dalam diri Jody, kebutuhannya untuk memiliki seorang teman, yang akhirnya terkompensasi pada kehadiran seekor anak rusa yang bulunya berbintik cantik. Meski Ma Baxter tak menyetujui keinginan Jody memelihara anak rusa itu, namun ayahnya membela Jody. Maka kini bertambahlah satu anggota termuda keluarga Baxter: si anak rusa yang kemudian diberi nama Flag (karena ekornya yang selalu mengibas-ngibas seperti bendera kecil...).

Jody sangat menyayangi Flag. Ia yang selalu kelaparan dan bernafsu makan besar, malah bersedia mengorbankan susu jatahnya dan sebagian makan malamnya untuk diberikan kepada Flag, karena ibunya keberatan kalau harus memberi makan satu mulut lagi. Semakin besar Flag, semakin tak terpisahkanlah kedua anak muda itu: Jody dan Flag.

Sampai di sini anda mungkin heran. Bagaimana cerita yang terlihat amat sederhana itu bisa menjadi rangkaian kisah sepanjang 501 halaman? Ah...kekuatan utama buku ini memang bukan pada inti ceritanya, namun justru pada detailnya. Membaca The Yearling ini membuat kita merasa seakan pindah ke dunia lain, di abad yang lalu. Begitu anda membuka halaman pertama, anda akan langsung merasa tersihir oleh rangkaian kata-kata yang disemat menjadi untaian kalimat-kalimat indah yang mampu menggambarkan keindahan alam dan suasananya yang mempesona. Yang paling memukauku adalah adegan bangau menari yang secara tak sengaja disaksikan Penny dan Jody di suatu senja ketika pulang memancing. Penggambaran bias merah jambu matahari yang sedang tenggelam dan susana yang kurasakan hampir-hampir magis ketika para bangau memainkan bunyi-bunyian musik dan menari dalam sebuah lingkaran, ahh...seolah begitu nyata dan seakan aku dapat mendengar musik itu sendiri dan menyaksikan pertunjukan itu secara langsung.

Kalaupun ada alur yang agak dinamis dan menegangkan di buku ini, itu terjadi pada setiap perburuan. Perburuan ala Penny bukan perburuan liar yang hanya asal menghabisi saja. Penny memiliki insting yang sangat bagus dan pengetahuan tentang karakter hewan. Meski ia sendirian, ia dapat berhasil mendapatkan buruan karena insting dan kecerdikannya itu, dan dibantu juga oleh anjing pemburunya yang setia: Julia dan Rip. Hanya Slewfoot Tua, seekor beruang pincang yang amat cerdas yang nyaris mengalahkan Penny dan mungkin satu-satunya yang pernah membuat Penny begitu marah hingga hampir tak mampu berpikir jernih. Anda akan tak habis pikir, bagaimana si ceking Penny bisa memiliki keberanian begitu besar. Saat keluarga Forrester yang bermoral rendah dan sering bikin onar mengeroyok seorang pemuda, Penny pun berani melindungi si pemuda. Ia memang menjadi babak belur dan nampak konyol di depan istrinya, namun sesungguhnya sikapnya itu sungguh mulia: menolong siapapun yang diperlakukan dengan tak adil.

Sementara itu, dalam perjalanannya menjadi pria dewasa, Jody telah menyaksikan dan belajar tentang banyak hal. Tentang bagaimana masa lalu dapat mengubah seseorang, bagaimana seorang wanita dapat membuat dua orang pria rela bertarung hidup dan mati, bagaimana alam memberi seorang anak kemampuan intuisi yang tajam, namun di sisi lain mengambil daripadanya tubuh yang sehat dan menggantikannya dengan kecacatan. Namun mungkin pelajaran yang paling berharga yang ia dapat dari ayahnya, selain berburu dan bertani, adalah pelajaran tentang menjadi dewasa dan menghadapi kenyataan hidup, seperti yang diungkapkan oleh Penny:


"Semua orang ingin agar hidupnya indah dan mudah. Hidup memang indah, Nak, sangat indah, namun tidak mudah. Hidup akan menjatuhkan seseorang dan begitu orang itu bangkit, dia akan dijatuhkan lagi."

"Aku ingin agar hidupmu mudah. Lebih mudah daripada yang kualami. Hati seorang ayah sakit saat melihat anak-anaknya menghadapi dunia. Tahu bahwa mereka akan terluka, sama sepertinya... Lalu apa yang harus ia lakukan? Apa yang harus ia lakukan ketika jatuh? Tentu saja ia harus menerima hal itu dan melanjutkan hidup."

Nasihat yang sungguh indah dan mengena, yang lagi-lagi mengingatkanku pada surat Papa untukku saat aku berulang tahun ke 17. Hal yang sama seperti yang diajarkan Penny pada Jody. Bahwa hidup tak selalu mudah, meski toh di sana-sini kita akan boleh melihat beberapa keindahan. Ada saat-saat Penny dan Jody terluka atau kesakitan saat menghadapi hewan buruan, namun ada saatnya juga mereka menikmati pertunjukan bangau menari atau anak beruang main ayunan saat berburu. Sama halnya dengan hidup kita. Namun pada akhirnya, kita semua toh harus tetap menerima semuanya, dan melanjutkan hidup...

Akhirnya terima kasih pada Gramedia yang telah menghadirkan sebuah kisah klasik yang memukau( menjadi pemenang Pulitzer Price tahun 1939), dengan penerjemahan yang indah ini di ranah perbukuan kita. Kita telah boleh mereguk keindahannya, sekaligus memetik pelajaran berharga dari buku ini.

Judul: The Yearling
Pengarang: Marjorie Kinnan Rowling
Alih bahasa: Rosemary Kesauly
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Maret 2011
Tebal: 501 hlm

Monday, April 4, 2011

Of Mice And Men


Yang paling menarik dari buku ini adalah kalimat-kalimat pendek yang berhasil dirajut dengan indah oleh John Steinbeck menjadi sebuah kisah yang indah pula. Ini sebuah bukti bahwa untuk bertutur dengan indah, kita tak selalu butuh kalimat panjang yang penuh metafora. Inti kisahnya juga sederhana dan alurnya pun mengalir dengan nyaman.

Of Mice and Men bertutur tentang sepasang pengelana yang, meski amat berbeda satu sama lain, namun tetap memiliki saling keterikatan satu sama lain. George adalah pria bertubuh kecil yang cerdas namun nasib tak berpihak padanya untuk meraih sukses. Salah satu kendalanya adalah Lennie. Lennie, seorang pria dungu bertubuh besar, sangat memuja George. Ia selalu menuruti perkataan George dan begitu takut mengecewakan George. George sebenarnya merasa terbeban dengan keberadaan Lennie yang seolah mengikatnya, namun ia tetap menjaga dan melindungi Lennie.

Kedua pria ini tak dapat memiliki pekerjaan yang tahan lama karena Lennie yang dungu selalu mengacaukannya. Bukan dengan sengaja tentu saja, tenaganya menjadi sangat kuat ketika ia ketakutan, dan ia tak mampu mengendalikannya sehingga akhirnya membahayakan orang lain, dan juga masa depannya dan George. Sebenarnya George memiliki impian memiliki rumah sendiri di atas tanah sendiri dan hidup mandiri berdua Lennie. Ketika bertemu Candy, lelaki tua cacat di peternakan tenpat kerja baru mereka, tampaknya impian itu akan dapat terwujud. Candy yang galau akan masa depannya, ingin bergabung dengan mereka, patungan membeli tanah. Namun sebelum semuanya itu terwujud, banyak hal akan terjadi dan kemungkinan Lennie membawa kekacauan sangatlah besar. Dapatkah George menolongnya kali ini?

Kisah ini mengingatkan aku bahwa cinta itu butuh pengorbanan. Makin besar cinta kita, makin besar pula pengorbanan yang dituntut dari kita. Berjuang demi kesuksesan dan kebahagiaan orang yang kita cintai mungkin biasa, karena kelak kita akan mengalami kegembiraan bersamanya. Namun bagaimana dengan orang yang selalu membawa kesulitan dalam hidupnya? Mencintainya berarti bak terborgol tangan kita bersamanya sehingga ketika ia jatuh, kita tahu bahwa kita pun akan ikut jatuh. Dibutuhkan cinta yang sangat besar untuk tetap mencintai orang seperti itu. Ketika kita dapat dengan bebas memilih, dan kita meninggalkan impian kenikmatan demi cinta itu, itulah cinta sejati. Sulit? Sangat!

Buku ini sangat enak dinikmati, namun aku tidak setuju dengan ironi yang ditawarkan Steinbeck sebagai endingnya yang menurutku terlalu dangkal. Menurutku, kisah klasik ini akan dapat lebih menyentuh pembaca jika Steinbeck mau mengeksplorasi kedalaman cinta. Seringkali pemecahan masalah sesaat bukanlah jawaban segala prahara hidup ini. Masalah tak selalu dapat dipecahkan, namun cinta akan mampu membawa kita melewatinya dengan baik. Bukankah itu juga yang diteladankan Tuhan pada kita?

Jadi maaf saja John, aku hanya bisa memberikan tiga bintang saja pada karya klasik yang telah kautulis dengan begitu indah ini.. Bagi yang sudah membaca, silakan menanggapi penilaianku ini asal jangan sampai memunculkan spoiler bagi yang belum membaca ya...

Judul: Of Mice And Men
Pengarang: John Steinbeck
Penerbit: Ufuk
Cetakan: Desember 2009
Tebal: 238 hlm

Monday, March 28, 2011

60.000 Mil Di Bawah Laut

Atas nama ilmu pengetahuan, kupikir sangat tepatlah kalau aku bilang bahwa buku ini merupakan salah satu buku wajib baca hingga kapanpun! Kalau buku dikatakan sebagai kendaraan kita untuk menapaki imajinasi kita yang paling liar, maka buku ini adalah buktinya. Jangan salah menebak genre buku ini dari judulnya, karena buku ini bukanlah sebuah jurnal kelautan, meski mereka yang tertarik pada ilmu kelautan pasti mendapati banyak keasyikan di buku ini. Buku ini adalah sebuah fiksi yang dibaurkan dengan ilmu pengetahuan. Jules Verne berhasil menuangkan imajinasinya yang hebat ke buku ini dan mengajak kita berpetualang bersamanya.

Pada sekitar tahun 1866 terjadilah fenomena menggemparkan di lautan seluruh dunia tentang munculnya sesosok makhluk yang sangat besar, yang mampu berenang dengan kecepatan tinggi, badannya sangat keras sehingga tak mempan oleh senjata, namun sangat besar kemampuannya melubangi lambung kapal layar hingga membuatnya tenggelam. Banyak insiden terjadi di beberapa laut, dan seperti biasanya, cerita maupun legenda itu lalu menjadi puluhan versi yang simpang siur dan akhirnya diragukan orang sebagai suatu fakta.

Adalah seorang ilmuwan kelautan bernama Profesor Aronnax dari Prancis yang mendapatkan kesempatan emas untuk turut serta berlayar dengan kapal Abraham Lincoln yang berbendera Amerika Serikat. Kapal ini membawa misi besar: menemukan dan menghabisi monster laut yang telah menjadi momok di lautan dan meresahkan semua negara, yang saat itu dijuluki dengan: Narwhal. Aronnax didampingi oleh asistennya yang setia dan berkarakter tenang dan sopan: Conseil. Tokoh ketiga adalah Ned Land, orang Kanada yang terkenal sebagai pembunuh ikan paus dengan senjata harpun (semacam tombak) yang paling ulung. Ia turut serta karena monster laut itu diperkirakan sejenis mamalia berkulit keras yang dalam dunia sains disebut cetacean.

Abraham Lincoln memang akhirnya "bertemu" dengan monster laut itu, namun 100% meleset dugaan semua orang, si cetacean raksasa itu ternyata bukanlah mamalia, melainkan sebuah kapal selam!

Sayangnya, atau dalam beberapa hal boleh dibilang untungnya, fakta itu terungkap setelah Aronnax, Conseil dan Ned Land terlempar dari Abraham Lincoln pada saat mereka sedang menyerang si kapal selam. Mereka bertiga terlempar ke laut, dan akhirnya ditolong oleh si kapal selam yang dijuluki Nautilus, milik seseorang misterius bernama Kapten Nemo.

Nautilus adalah kapal selam misterius. Bukan milik pemerintah negara manapun, namun milik Kapten Nemo pribadi. Siapakah sosok Kapten Nemo sendiri terselubung kabut pekat misteri yang hanya terkuak sedikit di akhir kisah. Yang jelas, Kapten Nemo telah membangun sebuah kapal selam berteknologi super canggih yang memungkinkan ia serta awak kapalnya tak perlu menginjakkan kaki lagi untuk selamanya di daratan. Ya! Nautilus dibangun untuk menjadi rumah mereka semua di lautan yang luas ini, di mana tak ada hukum yang dapat menghalangi kebebasan mereka. Kita tahu bahwa dua pertiga (atau 70%) bumi ini merupakan lautan. Jadi, bayangkan saja anda memiliki tempat tinggal di mana tak ada manusia lainnya yang hidup di sana. Anda akan menjadi penguasa mutlak lautan yang begitu luasnya...70% dari seluruh dunia!

Pertanyaan kita mungkin, bagaimana dengan sarana terpenting penunjang hidup manusia: udara? Kapten Nemo telah memikirkan semuanya, yaitu dengan mekanisme untuk menyedot oksigen ketika Nautilus naik ke permukaan laut, lalu mengolah oksigen itu secara kimiawi untuk bisa disimpan selama beberapa hari ke depan sebelum jadwal Nautilus untuk "menarik napas" lagi. Sedangkan untuk air dan makanan, tentu saja sumber daya yang ada di lautan luas takkan pernah habis untuk diserap dan dikelola untuk menghidupi seluruh awak kapal. Bahan bakar? Laut pun menyediakan bahan berlimpah untuk menciptakan listrik yang menghasilkan panas, cahaya dan gerak. Alam telah melengkapi air laut dengan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk diolah menjadi listrik. Tapi bagaimana dengan aspek-aspek hidup manusia lainnya? Kita kan hidup tak hanya bernapas, makan dan minum secukupnya? Dalam hal itu, lautan ternyata telah menyediakan semuanya. Kalau anda membayangkan betapa bosannya kalau dari ke hari makan ikan bakar terus, ternyata menu hidangan di Nautilus cukup beragam loh. Para penumpang tetap bisa menikmati daging, berupa irisan tipis daging kura-kura, hati lumba-lumba yang mirip babi cincang, dilengkapi acar timun-laut, lalu krim dari susu yang diolah dari hewan-hewan cetacean. Gulanya diolah dari rumput laut, sedang selainya dibuat dari anemone (yang tidak dijelaskan itu hewan atau tumbuhan apa...). Bahkan, buat yang biasa merokok setelah makan, kru Nautilus telah mengolah dedaunan tertentu menjadi rokok. Lumayan mungkin ya, hidup di bawah laut itu?

Lalu untuk hiburannya? Jangan khawatir, Tuhan Sang Pencipta Alam Semesta ini sendirilah yang telah menyediakan atraksi-atraksi yang akan selalu membuat manusia ternganga kagum dan terpesona pada keindahannya. Dari tujuh bulan petualangan Aronnax dkk bersama Nautilus, tak pernah mereka bosan menonton kekayaan dan keindahan makhluk-makhluk laut yang beraneka ragam mewarnai dan memenuhi dasar laut itu, dengan spesies unik di setiap daerahnya. Khusus untuk Aronnax dan Conseil, tentu saja tak hanya menghibur, kekayaan laut itu juga menjadi kesibukan mereka sebagai ilmuwan. Aronnax pun menyusun semacam jurnal yang kelak akan berguna bagi ilmu pengetahuan, karena belum ada, hingga saat itu, seorang manusia pun yang pernah pergi sedalam mereka di dasar laut. Nautilus memang dirancang mampu menahan tekanan di dasar laut, dan sosoknya yang panjang ramping memungkinkannya untuk menelusuri lorong-lorong sempit di antara karang bahkan bongkahan es!

Ngomong-ngomong tentang es, Nautilus sempat mengalami petualangan yang amat mendebarkan, bahkan nyaris membawa seluruh penumpangnya ke kematian ketika sedang menyelam di kutub selatan, Lautan Antartika. Saat itu Nautilus sedang meluncur di celah-celah antara bongkahan es, demi menjadi yang pertama dari umat manusia yang mampu mencapai titik kutub selatan bumi. Namun keberuntungan tak selalu bersama mereka, pada suatu titik di mana temperatur menjadi sangat dingin, Nautilus akhirnya terjebak di antara es setebal belasan meter, tak mampu memecah es itu dengan tombak-tombaknya karena begitu dipecah sedikit, es akan langsung membeku lagi saking dinginnya! Padahal Nautilus butuh naik ke permukaan untuk menghirup udara segar. Saat itu Aronnax dkk sudah hampir menyerah pada nasib, ketika Kapten Nemo dengan ketenangannya berhasil membawa mereka keluar dari perangkap.

Itu adalah salah satu pengalaman menakutkan mereka, namun di banyak kesempatan-kesempatan lain Kapten Nemo mengajak mereka melakukan hal-hal asyik yang biasa dilakukan di darat, seperti jalan-jalan sambil berburu. Ya, dengan mengenakan pakaian selam Aronnax dkk diajak untuk berburu di hutan belantara lautan. Asyik ya? Lalu, ketika ada awak Nautilus yang meninggal, mereka juga melakukan upacara penguburan di sebuah tanah lapang di dasar laut.

Yang lebih menarik lagi, mereka juga sempat menjadi saksi kebenaran legenda benua yang hilang: Atlantis. Ya, mereka menemukan tempat di mana reruntuhan kota yang konon pernah berdiri dengan megahnya itu di dasar laut, dan menyaksikan sesuatu yang belum pernah dilihat siapapun di bumi ini, sekaligus membuktikan bahwa Atlantis memang pernah ada. Rasanya khusyuk banget suasana saat itu, yang dengan apik dituangkan dalam tulisan oleh Jules Verne. Kejadian seru yang juga menarik untuk kita, adalah ketika mereka sempat berlabuh di pantai Papua dan bertemu dengan orang-orang Papua. Bayangkan, orang Papua jaman itu yang masih primitif melihat sosok Nautilus yang bak ikan paus berkulit besi! Lucu juga bagian ini...

Masih banyak pengalaman-pengalaman seru maupun menakjubkan lainnya seperti melihat hamparan ribuan organisme mikroskopik yang bersinar terang dalam gelapnya dasar laut. Wow...membayangkannya saja sudah membuatku merinding. Bayangkan, mengambang dalam terang yang berasal dari alam, dan semua itu berasal dari organisme yang sangat kecil, namun karena jumlahnya mungkin jutaan sehingga membentuk semacam hamparan terang hingga bermil-mil jauhnya. Begitu hebatnya alam yang diciptakan oleh Tuhan, membuat kita pun menahan napas bersama dengan mereka yang ada di Nautilus.

Entah mengapa, aku suka sekali membaca atau menonton tentang kapal, khususnya kapal selam (padahal aku gak bisa berenang..). Mungkin karena dunia bawah laut yang indah dan (tampak) damai itu yang menarikku. Tapi mungkin juga karena kehebatan alam selalu membuatku mengalami sentuhan Sang Penciptanya dalam hidupku. Kalau anda pernah ke Sea World dan melihat makhluk-makhluk laut lewat kaca di sekeliling anda berdiri, seperti itu kira-kira pemandangan lewat jendela-jendela kaca di ruang duduk Nautilus ketika panelnya dibuka. Mungkin itu adalah sensasi paling hebat yang akan aku rasakan andai Nautilus itu nyata...

Pendek kata, aku sangat terhibur sekaligus tersentuh membaca buku ini. Terutama karena karakter Kapten Nemo yang amat kuat, yang terasa sekali menjadi roh buku ini. Tak mungkin kita menutup buku ini tanpa merasa tersentuh. Kapten Nemo adalah orang yang menjadi getir karena dikecewakan dunia. Ada dua kutub kepribadian dalam diri Kapten Nemo. Ia orang yang berhati dingin, nyaris tanpa emosi dan bisa menjadi sangat kejam ketika ingin membalas dendam. Namun di waktu lain, ia begitu lembut hati hingga kematian salah seorang awak kapalnya dapat membuat ia menangis dan berduka selama beberapa hari. Di satu sisi ia tak manusiawi dengan menahan Aronnax dkk di Nautilus seumur hidup tanpa boleh keluar lagi dari sana (karena takut mereka membocorkan rahasia Nautilus), namun di sisi lain ia sangat peka pada sesamanya terutama yang tertindas. Secara keseluruhan, Kapten Nemo akan mempengaruhi anda dengan karakternya yang unik, juga dengan hasil karyanya yang mengagumkan: Nautilus.

Rasanya kita harus mengucapkan terima kasih pada penerbit Elex yang telah menerjemahkan novel klasik ini sehingga bisa kita nikmati. Namun sayangnya, ada terlalu banyak typo di buku ini yang agak mengganggu. Terjemahannya pun kadang terasa kaku dan aneh. Justru karena alur cerita agak datar dan banyak diselingi fakta ilmiah, maka terjemahannya aku harapkan lebih "ceria" dan tidak terlalu formal agar kita membacanya lebih enak. Bagaimana pun juga, buku ini tetap sayang untuk dilewatkan. Kisah fiksi memang sangat banyak, tapi jarang ada yang mengungkapkan keagungan alam dalam sebuah buku kan?

Judul: 60.000 Mil Di Bawah Laut
Judul asli: Twenty Thousands Leagues Under The Sea
Pengarang: Jules Verne
Penerbit: PT Elex Media Komputindo
Cetakan: Mei 2010
Tebal: 404 hlm