Thursday, March 29, 2012

Coupeau on L’Assommoir: Character Thursday (5)

Masih dari buku L’Assommoir, inilah tokoh kedua yang aku pilih untuk minggu ini:

Coupeau
(L’Assommoir by Émile Zola)



Coupeau adalah pria dari kelas pekerja di buku L'Assommoir karya Émile Zola. Sebagai tukang atap (roofer), ia termasuk pekerja yang giat. Coupeau mencintai apa yang dikerjakannya, dan ia adalah tukang atap yang handal. Ia pria sederhana, baik dan sopan. Meski kehidupan para pekerja di Paris biasa diwarnai minuman keras dan wanita, tak begitu halnya dengan Coupeau.

Ia jatuh cinta pada Gervaise (tokoh utama wanita), selalu bersikap melindungi dan tak pernah memaksa Gervaise melakukan hal yang tak disukainya. Dengan sabar Coupeau melakukan pendekatan, hingga akhirnya Gervaise setuju untuk menikah dengannya. Pernikahan mereka bahagia, tinggal di rumah sederhana, dengan mengandalkan penghasilan Coupeau, dan Gervaise sebagai tukang cuci. Mereka mampu menabung hingga Gervaise dapat membuka rumah cuci (laundress) sendiri dan menempati rumah yang lebih layak.

Coupeau dalam film, pria baik hati yang mencintai Gervaise

Hingga suatu hari Coupeau tergelincir dan jatuh dari atap, dan kehidupan mereka takkan pernah sama lagi! Terbaring di tempat tidur dan tak bisa bekerja, Coupeau tak pernah mampu menerima nasib malangnya, dan mulai "terjatuh" ke dalam jerat minuman keras. Akhirnya racun itu mengubah Coupeau menjadi pribadi yang berbeda. Egois, tak bertanggung jawab, suka memukul, bahkan kesopanannya digantikan sumpah serapah dalam bahasanya yang kasar.

Sosok Coupeau menggambarkan banyak orang yang menyerah kalah pada kemiskinan dan penderitaan. Mereka adalah sosok-sosok yang kalah dalam pertempuran hidup. Ditambah lagi peran orang-orang di sekitar mereka yang sangat merusak, begitu ingin menarik orang lain ke dalam lembah ke mana mereka telah jatuh duluan. Di akhir novel ini akan digambarkan pula akibat mengerikan minuman keras yang telah meracuni tubuh Coupeau dan tanpa ampun merenggut hidupnya.

Benar-benar potret kehidupan manusia yang dengan sangat gamblang dan intense telah digambarkan oleh Émile Zola.

------

Character Thursday
Adalah book blog hop di mana setiap blog memposting tokoh pilihan dalam buku yang sedang atau telah dibaca selama seminggu terakhir (judul atau genre buku bebas).
- Kalian bisa menjelaskan mengapa kalian suka/benci tokoh itu, sekilas kepribadian si tokoh, atau peranannya dalam keseluruhan kisah.
- Jangan lupa mencantumkan juga cover buku yang tokohnya kalian ambil.
- Kalau buku itu sudah difilmkan, kalian juga bisa mencantumkan foto si tokoh dalam film, atau foto aktor/aktris yang kalian anggap cocok dengan kepribadian si tokoh.

Syarat Mengikuti :
1. Follow blog Fanda Classiclit sebagai host, bisa lewat Google Friend Connect (GFC) atau sign up via e-mail (ada di sidebar paling kanan). Dengan follow blog ini, kalian akan selalu tahu setiap kali blog ini mengadakan Character Thursday Blog Hop.
2. Letakkan button Character Thursday Blog Hop di posting kalian atau di sidebar blog, supaya follower kalian juga bisa menemukan blog hop ini. Kodenya bisa diambil di kotak di button.
3. Buat posting dengan menyertakan copy-paste “Character Thursday” dan “Syarat Mengikuti” ke dalam postingmu.
3. Isikan link (URL) posting kalian ke Linky di bawah ini. Cantumkan nama dengan format: Nama blogger @ nama blog, misalnya: Fanda @ Fanda Classiclit.
4. Jangan lupa kunjungi blog-blog peserta lain, dan temukan tokoh-tokoh pilihan mereka. Dengan begini, wawasan kita akan bertambah juga dengan buku-buku baru yang menarik…

Fanda Classiclit

Monday, March 26, 2012

The Laundress on L’Assommoir - A Classic Challenge March: Setting

Firstly I must admit that this challenge, hosted by November Autums is absolutely challenging. Every month we must deal with certain different topics to discuss from the books we read. For March, it’s about “Setting”. Fortunately, I have chosen L’Assommoir by Émile Zola for my classic reading of March. Zola’s writing always put everyday life strongly in detail. The most interesting setting in L’Assommoir is not the dram shop (l'assommoir) itself, but the laundress of Gervaise (the female protagonist in this book).

"From far away, in the centre of the black row of the other shop-fronts, her shop seems to her full of light, so cheerful and new, with its pale blue sign on which the words "High Quality Laundering" were painting in big yellow letters. In the window which was closed at the back with little muslin curtains and papered in blue to show off the whiteness of the linen, there were mens' shirts displayed and womens' bonnet hung by their ribbons from brass wires. She thought her shop was pretty, the color of the sky. When you went inside there was still more blue, the paper was a copy of a Pompadour chintz, showing a trellis entwined with morning-glories; the workbench was a huge table with a thick cover; it took up two thirds of the space and was draped in a piece of cretonne printed with big bluish leaves, that hid the trestles. Gervaise would sit down on a stool, panting slightly with pleasure, delighted by how beautifully clean it was and gazing fondly at all her new equipment. But invariably her eyes went first to the cast-iron stove, where ten irons could heat at the same time, arranged round the grate on sloping stands."


From that scene I can see that Gervaise is very proud of her new laundress. She set it up neatly and cleanly, which will give a good impression to the neighborhood (her future customers). I think Gervaise is a woman with a business touch, she knows how to attract customers. Laundry equals to cleaning, so a clean shop reflects clean work on laundry. Look at how Gervaise uses white and blue color for the laundress which reflect cleanliness and freshness.

Laundress is a common business in 19th centuries--the setting of this book, which Émile Zola describes very detailed here. It's like I myself sit down together with Gervaise, watching her doing her works, and felt the heat from the stove when they were ironing. I think these are Zola's strength in his writing. The laundress is of course showing Gervaise's up and down. She achieved success with the laundress, and she fell down with it too. We could certainly not change this setting, because the laundress is actually Gervaise's life, as well the heart of this story.

Thursday, March 22, 2012

Gervaise on L’Assommoir [Character Thursday 4]

Kali ini, aku mengambil seorang tokoh dari seorang penulis klasik yang amat intens dalam mengisahkan karakter-karakternya, dia adalah…


Gervaise
(L’Assommoir by Emile Zola)



Gervaise adalah seorang wanita biasa dari kalangan kaum pekerja yang hidup di Paris abad 19. Secara fisik wajahnya cantik dan tubuhnya cukup menawan, sehingga disukai kaum pria. Kisah dibuka ketika Gervaise sedang hidup bersama kekasihnya: Lantier. Ternyata setelah memiliki 2 anak, Lantier yang berjanji akan memberikan kehidupan yang lebih baik, malah tenggelam dalam minuman keras dan berselingkuh, lalu meninggalkan Gervaise dalam kemiskinan begitu saja. Gervaise adalah wanita muda yang giat bekerja dan memiliki moral yang baik bila dibandingkan kaum wanita kelas pekerja lainnya. Ia lalu didekati oleh pria bernama Coupaue yang akhirnya menikahinya.


Meski berasal dari kelas pekerja, Gervaise memiliki visi untuk berbisnis sendiri membuka rumah laundry atau yang biasa disebut laundress. Sayangnya penghasilannya sebagai pencuci baju di sebuah laundress dan penghasilan suaminya sebagai tukang atap tak cukup untuk mewujudkan impian itu. Untungnya ada pria tetangga mereka yang bernama Goujet yang bersedia meminjami Gervaise uang. Maka laundress itu pun dibuka, dan dikelola Gervaise dengan baik sehingga sukses. Sayangnya Coupeau menderita kecelakaan dan karena kecewa tak dapat bekerja, ia pun jatuh ke dalam jerat minuman keras. Lantier pun akhirnya tinggal bersama keluarga mereka. Maka keuangan laundress itu pun mulai terkuras.

Wajah Gervaise yang manis


Gervaise sedang bekerja di laundress-nya dalam film

Gervaise adalah potret sesungguhnya kaum pekerja. Meski rajin bekerja, namun sangat sulit untuk dapat menabung uang untuk meningkatkan taraf hidupnya. Kelemahan Gervaise adalah karena ia terlalu baik pada semua orang. Tanpa melihat kemampuannya, ia menerima Lantier dan ibu mertuanya untuk tinggal bersama mereka. Padahal sebagian penghasilan laundress masih harus dipotong untuk membayar hutang pada Goujet. Belum lagi, begitu Gervaise mampu mendirikan bisnis milik sendiri, ia menjadi angkuh dan suka memamerkan kekayaannya. Ketika menyelenggarakan pesta makan malam misalnya, alih-alih memilih hidangan sederhana, ia memilih hidangan dan anggur mewah, meski untuk itu ia harus berhutang dulu.


Rasanya aku sudah sering melihat kehidupan orang-orang macam Gervaise ini, yang entah karena kurang bijaksana, entah karena terlalu lama terpuruk dalam kemiskinan dan lelah bekerja keras, maka begitu mereka sedikit lebih baik, mereka tak dapat mengelola keuangan, sehingga akhirnya mereka pun tak kunjung dapat mengentaskan diri dan keluarganya ke taraf hidup yang lebih baik.



Sekali lagi, Gervaise hanyalah wanita biasa dan hanya salah satu dari kaum pekerja lainnya…


Monday, March 19, 2012

[Classic Movie] The Phantom Of The Opera

Di depan sebuah gedung tinggi nan megah namun terbengkalai, berhentilah sebuah kereta kuda. Pintu kereta dibuka, lalu menapaklah sebelah kaki terbungkus sepatu hitam mengkilat ke tanah. Kaki yang pasti milik seorang tua kaya yang sudah lemah. Tubuh lunglai pria tua itu didudukkan ke kursi roda, lalu sepasang pelayan berseragam mendorong kursi roda itu ke dalam gedung yang terbengkalai itu. Dalam nuansa hitam putih yang suram, satu-satunya tanda bahwa gedung itu masih berfungsi adalah spanduk besar yang menyatakan bahwa sebuah pelelangan tengah berlangsung di sana.

Di dalam gedung, si pria tua di kursi roda menangkap pandangan mata seorang wanita tua berbusana hitam lengkap dengan topi dan cadarnya, khas busana wanita di tahun 1919, tahun yang digambarkan saat pelelangan itu berlangsung. Keduanya pasti pernah saling mengenal, dan pelelangan itu nampaknya memiliki makna tersendiri bagi mereka. Kotak musik dengan boneka monyet yang bisa memainkan simbal nampaknya amat berkesan bagi sang pria--yang ternyata dipanggil Vicomte de Chagny, karena begitu memenangkan lelang, ia langsung memandangi kotak musik itu dengan seksama bak sebuah harta yang tak ternilai. Saat si pria hendak pergi, ternyata si kurator mengumumkan bahwa setelah ini mereka akan melelang lampu kristal yang dahulu pernah memancarkan cahayanya nan gemerlap ketika tergantung di tengah sebuah gedung Opera pada masa kejayaannya. Sebelum munculnya Phantom of the Opera...

Gedung yang terbengkalai itu memang dulunya Paris Opera House, dan dengan dibukanya tabir dan dinaikkannya lampu kristal diiringi musik yang dramatis, maka scene pun tiba-tiba berpindah dari kesuraman di tahun 1919 menuju ke gemerlapnya masa lampau--masa kejayaan Gedung Opera itu pada tahun 1870. Maka kisah The Phantom of The Opera yang sesungguhnya pun dimulai di titik ini. Sungguh sebuah pembukaan yang manis dalam film musikal adaptasi yang diambil dari kisah karya Gaston Leroux ini. Meski penonton yang belum membaca bukunya, pasti akan bertanya-tanya siapa sebenarnya pria tua dan wanita tua di adegan pembuka itu.

Selanjutnya kisah bergulir hampir sama dengan kisah asli di buku. Kedatangan dua manajer baru, penyanyi yang menjadi bintang opera saat itu--Carlotta, dan tentu saja Phantom of the Opera yang misterius. Film ini menjadi apik karena dibuat sebagai film musikal. Aku suka dengan lagu-lagunya, terutama lagu "The Phantom of the Opera" yang dinyanyikan Gerard Butler yang berperan sebagai Phantom, dan Emmy Rossum pemeran Christine Daae di film ini.

Ini lagunya:


Selain itu, ada suasana yang "magis" ketika si Phantom menjemput Christine di kamar tidurnya lalu melewati lorong-lorong yang tiba-tiba saja dipenuhi cahaya berpuluh-puluh lilin, mengarungi sungai kecil hingga tiba di "istana" bawah tanah sang Phantom yang bergelimang cahaya dan kemewahan. Mengapa terasa magis? Karena ketika teman Christine menemukan cermin yang terbuka ketika mencari Christine, ia lantas melalui lorong yang sama dengan yang dilalui Christine dan si Phantom, namun lorong itu kini gelap, suram dan penuh dengan sarang laba-laba.

Secara keseluruhan film musikal ini sangat menghibur. Meski sebenarnya kurang menggambarkan sisi gothic dari buku aslinya, namun sebagai karya sinematografi cukup memikat. Penampilan Gerald Butler dan Emmy Rossum yang menyanyikan sendiri lagu-lagu mereka patut diacungi jempol, karena mereka sebenarnya bukan penyanyi, dan baru belajar vokal saat berperan di film ini. Kalaupun ada yang hilang dari kisah aslinya adalah pengungkapan sisi gelap Eric si Phantom dan bilik penyiksaan miliknya. Juga di buku sebenarnya ada 1 lagi tokoh penting yang mengungkap tentang rahasia gelap sang Phantom, selain Madame Giri. Namun secara keseluruhan, film ini mampu merepresentasikan kisah The Phantom of the Opera dengan baik.

Rating: 9/10

Judul film: The Phantom of the Opera
Sutradara: Joel Schumacher
Pemeran: Gerard Butler sebagai Phantom, Emmy Rossum sebagai Christine Daae, dan Patrick Wilson sebagai Raoul

Trailer film ini:

Friday, March 16, 2012

[Opini] Mengapa Harus Sastra Klasik?

Di saat dunia perbukuan di seluruh dunia sedang dilanda serbuan novel-novel fantasi bertema paranormal, aku bertanya-tanya dalam hati mengapa orang begitu menggandrungi genre ini? Suatu hari ketika melewati bioskop XXI yang sedang dijejali manusia yang ingin menonton sekuel terakhir Harry Potter, aku dan papaku sempat mendiskusikan fenomena fiksi paranormal yang melanda kehidupan kita. Menurut analisa papaku, manusia sudah jenuh dengan kehidupan. Jenuh dengan dunia yang penuh kejahatan dan degradasi moral. Mereka butuh pelarian. Kemana? Agama? Mereka bahkan berpikir Tuhan sudah melupakan mereka. Maka mereka mencari dunia di luar dunia--a world beyond our world. Dunia paranormal menyajikan sesuatu yang tak dibatasi oleh keterbatasan manusia. Di situ mereka bisa menciptakan pahlawan mereka sendiri yang dapat mengatasi apapun, melawan apapun.

Yah, kupikir benar juga argumen papaku. Dan di kondisi seperti ini, bisa dipahami bahwa orang kurang--atau bahkan tak lagi--menggandrungi sastra klasik. Sederhana saja alasannya menurutku, karena kisah-kisah klasik menawarkan kenyataan hidup. Kalau kita sendiri sudah muak dengan hidup, buat apa lagi membaca kehidupan orang lain yang malah membuat kita makin depresi? Mungkin begitu pendapat kebanyakan orang. Mengapa tidak beralih saja ke genre fantasi atau humor yang bisa menghibur?

Aku tak setuju. Menurutku justru dalam kisah-kisah klasik lah kita akan banyak belajar nilai-nilai tentang kehidupan, yang dapat diaplikasikan ke dalam hidup kita sendiri. Mungkin kita bisa sejenak 'berlibur' ke dunia khayalan, seperti halnya kita bermimpi saat tidur, namun begitu terjaga kita mau tak mau kembali ke kehidupan nyata. Kisah-kisah klasik disebut atau dikategorikan sebagai "klasik" karena ia memiliki nilai-nilai yang dapat bermanfaat bagi manusia. Dan hal itu sudah teruji hingga bertahun-tahun, bahkan kadang ratusan tahun, sehingga kita tak mungkin dapat membantahnya.

Gambar dipinjam dari sini

Kisah klasik memang sudah usang. Namun meski kisah klasik bersetting di masa lalu, nilai yang dibawanya tetap relevan hingga jaman modern. Dan menurutku, justru di jaman modern, di mana nilai moral mengalami degradasi, kisah klasik menjadi sangat dibutuhkan. Bayangkan bagaimana jadinya bila generasi muda kita selalu dicekoki dengan konsep-konsep yang tidak nyata, ketika mereka kelak harus berhadapan dengan kenyataan hidup, akankah mereka siap menghadapinya? Kisah klasik akan membentuk moral mereka dengan lebih baik, memberi wawasan akan kehidupan nyata, meski lewat kisah-kisah fiktif.

Aku sudah banyak membaca macam-macam genre fiksi. Bahkan fiksi seperti harlequin atau komedi-humor pernah kubaca meski hanya sebagai selingan. Menurutku pribadi mereka memang menghibur, tapi (kebanyakan) kurang memiliki nilai-nilai yang bermanfaat. Setelah tamat, ya kuletakkan saja. Tanpa ada sesuatu yang dapat kurenungkan dan kupelajari. Berbeda dengan saat menekuni fiksi klasik, yang sering banyak mengajariku tentang kehidupan nyata, beragam kepribadian manusia, kesulitan mereka dan bagaimana mereka berjuang untuk menghadapi tantangan hidup.

Tulisan ini kubuat untuk (ikut) menjawab sebuah pertanyaan yang muncul dalam sebuah blog hop. Aku pribadi tak ingin berpartisipasi dalam blog hop itu, hanya tergelitik untuk menjawab salah satu pertanyaannya yang menarik, yaitu:

Where do you think reading literature should rank in society’s priorities?

Di tingkat mana menurutmu, baca klasik seharusnya ditempatkan dalam prioritas masyarakat?

Maka jawabanku adalah: sastra atau literatur klasik sangat perlu digeluti oleh masyarakat dewasa ini. Kurangi waktu di depan televisi, terutama yang menayangkan hal-hal yang tak berguna. Perbanyaklah waktu untuk membaca buku (paling tidak membaca buku tidak hanya menghibur, tapi juga menambah wawasan kita), dan sisipkan buku-buku klasik ke dalam koleksimu. Bukan berarti aku mengesampingkan genre-genre lain. Aku sendiri telah berkomitmen membaca sedikitnya 20 buku klasik dalam setahun dari total target sekitar 60-70 buku, bagaimana dengan anda?

Mari baca klasik, sastra klasik itu asyik!

A Victorian Celebration


I'm going to join another project for classics reading. This one is called A Victorian Celebration, hosted by Allie from A Literary Odyssey. During June and July 2012 we will read as much Victorian theme books as we could. So, after considering my reading schedule and my Classic Club Project, these are what I plan to read for Victorian Celebration:

June:

Sketches by Boz - Charles Dickens
Charles Dickens: Dickens Bicentenary 2012 - Lucinda Dickens Hawksley
Black Beauty - Anna Sewell
The Picture of Dorian Gray - Oscar Wilde

July:

The Old Curiosity Shop - Charles Dickens
Twenty Years After - Alexandre Dumas
Short Stories:
The Three Strangers - Thomas Hardy
A Terribly Strange Bed - Wilkie Collins
The Half-Brothers - Elizabeth Gaskell


If you want to join me, just click this...

Thursday, March 15, 2012

Character Thursday (3)

Makin lama blog hop Character Thursday ini makin asyik rasanya. Setiap kali membaca buku, aku akan langsung mereka-reka tokoh mana yang akan kuulas di hari Kamis berikutnya.

Character Thursday

- Adalah book blog hop di mana setiap blog memposting tokoh pilihan dalam buku yang sedang atau telah dibaca selama seminggu terakhir (judul atau genre buku bebas).
- Kalian bisa menjelaskan mengapa kalian suka/benci tokoh itu, sekilas kepribadian si tokoh, atau peranannya dalam keseluruhan kisah.
- Jangan lupa mencantumkan juga cover buku yang tokohnya kalian ambil.
- Kalau buku itu sudah difilmkan, kalian juga bisa mencantumkan foto si tokoh dalam film, atau foto aktor/aktris yang kalian anggap cocok dengan kepribadian si tokoh.

Syarat Mengikuti :

1. Follow blog Fanda Classiclit sebagai host, bisa lewat Google Friend Connect (GFC) atau sign up via e-mail (ada di sidebar paling kanan). Dengan follow blog ini, kalian akan selalu tahu setiap kali blog ini mengadakan Character Thursday Blog Hop.
2. Letakkan button Character Thursday Blog Hop di posting kalian atau di sidebar blog, supaya follower kalian juga bisa menemukan blog hop ini. Kodenya bisa diambil di kotak di button.
3. Buat posting dengan menyertakan copy-paste “Character Thursday” dan “Syarat Mengikuti” ke dalam postingmu.
3. Isikan link (URL) posting kalian ke Linky di bawah ini. Cantumkan nama dengan format: Nama blogger @ nama blog, misalnya: Fanda @ Fanda Classiclit.
4. Jangan lupa kunjungi blog-blog peserta lain, dan temukan tokoh-tokoh pilihan mereka. Dengan begini, wawasan kita akan bertambah juga dengan buku-buku baru yang menarik…


Fanda Classiclit



-----

Untuk minggu ini, aku akan mengambil "seekor" tokoh dari kisah fabel:


Molly - si Tikus Tanah
(The Wind in the Willows by Kenneth Grahame)


Dari semua tokoh di The Wind in the Willows, aku paling suka dengan Tikus Tanah. Rasanya sosok Tikus Tanah adalah sosok manusia kebanyakan yang tidak sangat baik (sehingga nyaris sempurna seperti Tikus Air) atau sangat tidak baik seperti Tuan Katak. Tikus Tanah menggambarkan kepribadian orang yang pada dasarnya memiliki moral yang baik namun tetap memiliki kelemahan. Kelemahan itu nampak saat Tikus Tanah terlalu memuja Tikus Air dan selalu berusaha menyenangkan kawannya itu. Ketika dalam perjalanan pulang dari suatu petualangan dan mereka melewati rumah Tikus Tanah, Tikus Tanah merasa rindu untuk pulang ke rumahnya. Namun, karena Tikus Air tak menyadari kegalauan kawannya ini, ia terus bergegas melanjutkan perjalanan ke rumahnya sendiri. Tikus Tanah terbelah antara ingin pulang ke rumahnya, tapi juga tak mau mengecewakan sahabatnya, dan akhirnya ia dengan lunglai menyusul Tikus Air. Berapa kali kita juga seperti itu, tak mau jujur mengatakan apa yang kita inginkan, dan malah mengikuti keinginan orang lain meski kita tak suka.


Namun, meski tampaknya si Molly ini selalu menjadi bayangan Tikus Air, pada suatu saat yang tepat ia dapat melakukan sesuatu yang benar dan bahkan heroik. Yaitu saat ia dengan cerdik berinisiatif menipu para rase, cerpelai dkk yang sedang menduduki rumah Tuan Katak. Berkat kecerdikannya itu mereka berhasil mengusir musuh dengan sukses. Ada saatnya kita pun tanpa kita sadari telah melakukan sesuatu yang "besar". Itu membuktikan bahwa kita sebenarnya mampu melakukan hal-hal besar apabila kita cukup berani, dan tidak hanya bersembunyi saja d balik bayangan kawan kita yang lebih dominan.

So…who is your Character Thursday this week?

Yuk ikutan! Langsung saja masukkan linkmu di bawah ini ya…