Thursday, April 5, 2012

Jay Gatsby on The Great Gatsby: Character Thursday (6)


Jay Gatsby

(The Great Gatsby by F. Scott Fitzgerald)



"Sejauh 15 meter dariku, sebuah sosok muncul dari balik bayangan loji tetanggaku dan sedang berdiri dengan tangan dimasukkan ke saku, mengamati taburan perak bintang-bintang. Sesuatu dalam gerakan santainya dan pijakan mantap kakinya di halaman mengisyaratkan bahwa itu adalah Mr. Gatsby... Dia tampak sedang menikmati kesendiriannya--tangannya menunjuk ke perairan yang gelap dengan cara yang aneh, dan meskipun aku jauh dari dia, aku bersumpah aku melihat dia gemetar. Tanpa sengaja aku melirik ke arah laut--dan tidak melihat apa pun selain sebuah cahaya hijau, sangat kecil dan jauh, mungkin itu adalah ujung sebuah dermaga. Saat aku berpaling ke arah Mr. Gatsby sekali lagi, dia telah menghilang, dan aku pun sendirian lagi di tengah kegelapan yang berisik." ~hlm. 38.

Begitulah perkenalanku pertama kali dengan sosok Jay Gatsby, lewat penuturan Nick Carraway, tetangga dan teman Gatsby, sekaligus narator kisah The Great Gatsby ini. Dari penuturan itu aku langsung merasakan kepribadian yang kuat sekaligus rapuh, misterius dan sendirian. Setelah aku menamatkan kisah ini, adegan Gatsby berdiri di kegelapan dan menunjuk cahaya hijau kecil nan jauh itu begitu mengesan di benakku.


Jay Gatsby adalah pria dengan impian besar yang nyaris mustahil, namun dengan keyakinan yang juga besar ia terus berjuang untuk merengkuhnya. Impian itu adalah sosok gadis kaya yang dicintainya, Daisy Buchanan--saat ia sendiri masih seorang opsir muda miskin. Dengan berbagai cara--meski kadang ilegal--ia berhasil menjadi orang kaya dalam 5 tahun.

Aku mengagumi Gatsby bukan karena jalan pintas menuju kekayaan yang dipilihnya, melainkan keberaniannya bermimpi dan persistensinya untuk terus memelihara mimpi itu. Aku mengagumi Gatsby bukan karena ia ingin merebut istri pria lain, melainkan keteguhannya untuk melindungi wanita yang ia cintai.


Gatsby--tak seperti tokoh-tokoh kaya lainnya di kisah ini--adalah pria yang memiliki prinsip, dan itulah yang pada akhirnya disadari juga oleh Nick..



"Mereka itu sekumpulan manusia busuk. Sekalipun mereka semua disatukan, kau tetap lebih layak daripada mereka" ~hlm. 235.

Kalau sejauh ini aku tampak terpesona pada Gatsby, yah...itu karena Gatsby memang memiliki karisma dan kepribadian yang mempesona. Tidak salah bila di film yang akan beredar Desember nanti, sosoknya diperankan oleh Leonardo diCaprio, yang aku yakin akan mampu menampilkan Jay Gatsby tepat seperti yang kubayangkan.





Salah satu pesonanya terletak, mungkin, pada senyumnya.



"Dia tersenyum penuh pengertian--jauh lebih dari sekadar pengertian. Senyum seperti itu adalah salah satu senyum langka yang di dalamnya terkandung kualitas yang bisa menentramkan hatu selamanya, mungkin hanya akan kaujumpai empat atau lima kali seumur hidup. Senyum tersebut menghadapi--atau seolah menghadapi--seluruh dunia luar dalam sekejap mata, kemudian berkonsentrasi kepadamu dengan prasangka tak tertahankan yang menguntungkanmu. Senyum tersebut memahamimu hanya sejauh kamu ingin dipahami, memercayaimu seperti kamu ingin memercayai dirimu sendiri, dan meyakinkanmu bahwa itu memiliki kesan yang tepat tentangmu, sisi terbaikmu yang kamu harap bisa kautunjukkan." ~hlm. 78.


Jay Gatsby memang layak disebut sebagai salah satu karakter paling legendaris dalam fiksi dunia! Yah...paling tidak bagiku...


-------


Character Thursday

Adalah book blog hop di mana setiap blog memposting tokoh pilihan dalam buku yang sedang atau telah dibaca selama seminggu terakhir (judul atau genre buku bebas).

- Kalian bisa menjelaskan mengapa kalian suka/benci tokoh itu, sekilas kepribadian si tokoh, atau peranannya dalam keseluruhan kisah.

- Jangan lupa mencantumkan juga cover buku yang tokohnya kalian ambil.

- Kalau buku itu sudah difilmkan, kalian juga bisa mencantumkan foto si tokoh dalam film, atau foto aktor/aktris yang kalian anggap cocok dengan kepribadian si tokoh.


Syarat Mengikuti :


1. Follow blog Fanda Classiclit sebagai host, bisa lewat Google Friend Connect (GFC) atau sign up via e-mail (ada di sidebar paling kanan). Dengan follow blog ini, kalian akan selalu tahu setiap kali blog ini mengadakan Character Thursday Blog Hop.

2. Letakkan button Character Thursday Blog Hop di posting kalian atau di sidebar blog, supaya follower kalian juga bisa menemukan blog hop ini. Kodenya bisa diambil di kotak di button.

3. Buat posting dengan menyertakan copy-paste “Character Thursday” dan “Syarat Mengikuti” ke dalam postingmu.

3. Isikan link (URL) posting kalian ke Linky di bawah ini. Cantumkan nama dengan format: Nama blogger @ nama blog, misalnya: Fanda @ Fanda Classiclit.

4. Jangan lupa kunjungi blog-blog peserta lain, dan temukan tokoh-tokoh pilihan mereka. Dengan begini, wawasan kita akan bertambah juga dengan buku-buku baru yang menarik…


Fanda Classiclit

Monday, April 2, 2012

L'Assommoir


Zola called this (book) 'the first novel about the common people that does not lie'.

Dan memang benar, itulah yang kudapat setelah menamatkan buku setebal 440 halaman ini. L'Assommoir sendiri adalah kata dalam bahasa Prancis yang artinya 'rumah minum' atau dram shop dalam bahasa Inggrisnya. L'Assommoir ini banyak terdapat di jalanan kota Paris, terutama di distrik tempat kelas pekerja tinggal, di abad 19. Lewat L'Assommoir, Émile Zola ingin menunjukkan bagaimana kemiskinan dapat berakibat pada hidup kaum pekerja itu.

Gervaise adalah tokoh sentral di buku ini, seorang wanita muda yang cantik namun miskin. Di kamar sempit di sebuah hotel bobrok di pinggiran Paris, ia tinggal bersama kekasihnya—Lantier—yang malas dan kerjanya hanya bersenang-senang menghabiskan gaji Gervaise. Ketika Lantier akhirnya mencampakkan Gervaise, Gervaise pun terpaksa bekerja sebagai buruh cuci di sebuah 'rumah cuci' (laundress) untuk menghidupi dirinya dan kedua anaknya yang masih kecil. Beruntung bagi Gervaise, seorang tukang atap (roofer) jatuh cinta kepadanya. Dan setelah pendekatan yang tekun dan makan waktu lama, Gervaise pun akhirnya setuju menikah dengan si tukang atap yang bernama Coupeau.

Coupeau adalah pria yang ideal untuk seorang suami. Seorang pekerja yang berdedikasi dan mencintai pekerjaannya, juga seorang suami yang mencintai dan menghargai pendapat istrinya. Bahkan ketika Gervaise memimpikan membuka sendiri sebuah laundress di gedung bekas toko, Coupeau pun mendukungnya. Dengan tabungan ditambah pinjaman dari tetangga, akhirnya Gervaise menjadi pemilik sebuah laundress impiannya yang telah ia atur sedemikian rupa sehingga menjadi rumah cuci baru yang menarik penduduk di sekitarnya. Tak lama kemudian, laundress Gervaise mencapai sukses. Dan seperti biasa di pemukiman seperti itu, para tetangga mulai sirik akan keberhasilan Gervaise, terutama keluarga Lorilleux (Mme. Lorilleux adalah kakak Coupeau). Semua itu diperparah dengan sikap Gervaise dan Coupeau yang dengan amat kentara memamerkan kekayaan mereka dengan mengadakan pesta makan malam yang mewah (meski pun mereka harus menghabiskan tabungan demi membayar makanan dan anggur mewah).

Namun kebahagiaan itu tak bertahan lama. Suatu hari, disaksikan Gervaise dan Nana—anak perempuan mereka—Coupeau terjatuh dari atap ketika sedang bekerja. Kecelakaan itu adalah awal malapetaka keluarga mereka. Terkurung di tempat tidur dan tak mampu bekerja, ternyata membuat Coupeau langsung terpuruk. Begitu ia sudah mampu berjalan, alih-alih mulai mencari pekerjaan, ia malah berjalan tak tentu arah dan akhirnya berbelok masuk ke rumah minum dan mulai menyukai minuman keras—hal yang dulu menjadi pantangannya sebagai tukang atap yang profesional dan menjadi kebanggaannya bahwa ia tak mempan terhadap godaan minuman keras. Dan karena Coupeau tak bekerja, tentu saja ia jajan minuman dari uang saku yang diberikan Gervaise. Di sinilah kesalahan awal Gervaise, karena ia begitu toleran dan percaya kepada suaminya, ia tenang-tenang saja ketika sang suami mulai suka minum-minum.

Gervaise laughed and shrugged her shoulders. What harm was there if her hubby was having a bit of fun? You shouldn’t keep your man on too tight a rein if you wanted peace at home. One thing led to another and before you knew it, you’d come to blows.” ~hlm. 137.

Sedikit demi sedikit, perlahan-lahan kebiasaan minum Coupeau bersama teman-temannya makin parah hingga akhirnya ia sama sekali berhenti bekerja. Hal itu mengakibatkan keuangan laundress carut-marut. Hutang mulai bertumpuk, para relasi mulai menjauh, dan akhirnya Gervaise dan laundressnya makin terpuruk. Satu hal yang turut mempercepat kejatuhannya adalah Lantier, sang kekasih lama yang kembali ke kehidupan keluarga Coupeau. Bukan dari Gervaise, namun justru undangan berasal dari Coupeau. Lantier si lintah itu akhirnya menempel dan menggerogoti rumah tangga mereka. Kalau itu belum cukup, anak perempuan mereka—Nana—yang karena kemiskinan dan pergaulan, akhirnya menjadi liar.

Hingga di sini, mungkin anda merasa tak asing dengan situasinya? Ya, kemiskinan memang selalu menghasilkan cerita nan serupa, di belahan bumi manapun, di abad berapapun. Di buku ini, secara khusus Zola memasukkan unsur minuman keras sebagai salah satu musuh para pekerja. Akibat nyata dari minuman keras ini pada tubuh manusia akan tergambar dengan sangat frontal pada diri Coupeau menjelang akhir buku. Membaca uraian Zola membuat siapa pun yang pernah minum minuman keras akan merasa ngeri!

Namun efek minuman keras ternyata tak hanya diderita oleh si peminum sendiri, namun juga keluarganya. Setelah menjadi peminum, perangai Coupeau berubah 180 derajat. Ia menjadi pemarah, picik, suka memukul Gervaise, dan tak lagi peduli pada dunia sekitar. Ia lah yang boleh dibilang menyeret seluruh keluarganya ke dalam kemiskinan yang paling rendah. Bahkan saat Gervaise yang kelaparan tak punya uang sepeserpun untuk makan, Coupeau malah menyuruh istrinya menjajakan dirinya sendiri di jalan kalau ia mau! Yang membuatku makin benci pada minuman keras, adalah para peminum cenderung mempengaruhi mereka yang masih sedikit memiliki akal sehat untuk tetap bekerja. Sudah berdosa, mereka menambah dosa dengan mengajak orang lain berdosa.

Pada akhirnya, nampak sangat jelas mengapa kemiskinan dan minuman keras seolah menjadi satu bagian yang terelakkan. Minuman keras adalah salah satu pelarian dari derita kemiskinan. Padahal hanya ada satu cara untuk berjuang melawan kemiskinan, yaitu dengan bekerja keras. Memang, meski sudah bekerja keras, banyak yang miskin tetap saja miskin. Tapi, bukankah meski miskin harta, mereka tetap kaya dalam hal moral? Banyak orang miskin yang akhirnya menjadi makin terpuruk karena tak mau berjuang, dan akhirnya menyalahkan nasib, pemerintah, orang lain, bahkan Tuhan.

Yes, they’d only themselves to blame if they sank lower every season. But you don’t ever admit things like that to yourself, especially not when you’re down in the gutter.” ~hlm. 324.

Kodrat manusia memang menghindari penderitaan, namun bukan berarti lari dari kenyataan membuat hidup lebih baik. Tokoh-tokoh di buku ini telah membuktikannya, mereka yang hendak lari dari kenyataan seperti Coupeau, pada akhirnya malah terpuruk lebih dalam daripada bila ia tetap berjuang, meski mungkin juga tak pernah menjadi kaya. Aku salut pada tokoh Goujet, seorang pekerja yang bangga pada pekerjaannya dan sama sekali tak menyentuh minuman keras. Sayang sekali, Gervaise yang tinggi hati harus menampik tawaran pria itu untuk hidup bersamanya.

Tak banyak yang dapat aku ungkapkan tentang buku ini, selain bahwa buku ini benar-benar membuatku tersentak…shock mungkin lebih tepat. Bukan hanya kemiskinan yang ekstrem dan kelaparan itu sendiri yang mengusik nuraniku, namun juga pengabaian mereka yang sebenarnya sama-sama miskin. Aku tak habis pikir, mengapa mereka harus membenci Gervaise? Apakah karena Gervaise pernah mendaki ke tingkat yang lebih tinggi dari mereka? Ah…tapi toh sekarang ia terlontar jatuh karena kesombongannya itu kan? Bukankah ia telah membayarnya dengan menjadi lebih miskin dari mereka semua? Lalu mengapa mereka semua—alih-alih menghibur dan mendampingi—seolah hanya menonton dari jauh bagaimana Gervaise ‘rotten to death’?

Menurutku Zola bukan saja memaksa kita memahami tentang kemiskinan dan kesombongan, namun juga menyadarkan kita akan sikap kita sendiri terhadapnya. Aku bangga terhadap Gervaise, yang meski sudah nyaris mati kelaparan, namun masih menyisakan keprihatinan bagi seorang anak korban penyiksaan ayahnya, bahkan berusaha membelanya. Ya…Gervaise memang memiliki kelemahan dan melakukan kesalahan, namun ia juga telah menebusnya dengan penderitaan dan cintanya pada sahabat-sahabatnya.

Kalau anda mengharapkan cerita yang menghibur, jangan membaca buku ini. Karena Zola menuliskan kisah ini senyata-nyatanya. Bahkan gaya bahasanya meminjam gaya bahasa slank yang digunakan para pekerja. Kemiskinan digambarkan olehnya dengan begitu gamblang, tanpa pemanis, tanpa hiasan. Memang itulah ciri khas tulisan Zola yang naturalis. Sudah dua kali aku membaca karya Zola, dan dua kali pula aku tersentak. Karya Zola memang akan selalu mengesan, tapi bukan dengan cara yang biasa. Seperti yang dikatakan Zola sendiri tentang buku ini dalam prakata:

I wanted to depict the inexorable downfall of a working-class family in the poisonous atmosphere of our industrial suburbs. Intoxication and idleness lead to a weakening of family ties, to the filth of promiscuity, to the progressive neglect of decent feelings and ultimately to degradation and death. It is simply morality in action.

Lima bintang untuk L’Assommoir!

*Review ini kubuat bertepatan dengan—dan sebagai hadiah—ulang tahun Émile Zola yang ke 172 (2 April 1840 – 2 April 2012). Happy birthday Mr. Zola! And thank you for your unique and remarkable writing.*


Judul: L’Assommoir
Penulis: Émile Zola
Penerbit: Oxford University Press
Terbit: 2009
Tebal: 440 hlm

Saturday, March 31, 2012

Classic Authors of April

Bulan April ini ada cukup banyak penulis klasik yang berulang tahun. Aku berusaha mengulas beberapa yang paling kita kenal di sini. Inilah mereka....


Hans Christian Andersen

Siapa pula yang tak pernah mengenal nama beliau? Bukankah dari kecil kita telah dibuai oleh dongeng-dongeng H.C. Andersen seperti Little Mermaid, Ugly Ducking, Tin Soldier dan Thumbelina? Semua dongeng itu adalah warisan dari Hans Christian Andersen, seorang penulis kelahiran Denmark yang lahir pada 2 April 1805 sebagai anak tunggal. Andersen telah menghibur banyak anak di dunia dengan karya-karyanya yang diterjemahkan ke 150 bahasa. Raja Frederick VI pernah membiayai sebagian pendidikan Andersen, namun tetap saja Andersen harus membiayai dirinya sendiri dengan bekerja di tailor.

Tahun 1822 Andersen mulai menerbitkan kisah pertamanya: The Ghost at Panaltoke’s Grave. Andersen mengaku bahwa masa sekolah adalah masa tergelapnya. Ketika ia tinggal bersama kepala sekolahnya, ia mengalami penyiksaan, dan di sekolah ia dihalang-halangi untuk menulis, yang membuatnya tertekan. Dongengnya yang tak lekang oleh jaman mulai terbit pada tahun 1835. Ketika mengunjungi Inggris, Andersen sempat bertemu dengan Charles Dickens, bahkan sempat menginap di rumah keluarga Dickens selama 5 minggu—yang cukup menjengkelkan keluarga itu…

Sukses menulisnya tak sejalan dengan kisah cintanya. Beberapa kali ditolak wanita, nampaknya Andersen juga memiliki perasaan cinta terhadap beberapa pria—yang juga tak membalas cintanya. Kelak terdapat beberapa spekulasi dari beberapa ahli literature tentang kecenderungan homosuksual yang terselubung dalam karya-karya Andersen.

Émile Zola

Penulis Prancis yang lahir pada 2 April 1840 ini bernama lengkap Émile François Zola. Beliau adalah pelopor aliran naturalisme di bidang literatur, dan memiliki peranan penting dalam liberalisasi politik di Prancis. Lahir di Paris dari keluarga seorang teknisi Italia, Zola sempat pindah ke Aix-en-Provence ketika berusia tiga tahun, namun pada tahun 1858 ia kembali ke Paris bersama ibunya yang telah menjanda dan jatuh miskin. Meski ibunya mendorong Zola untuk menjadi pengacara, namun ia tak lulus ujian, dan malah mulai menulis dalam style romantic yang memang sesuai pada jaman itu. Konon saat ia tak punya uang, Zola sempat mengkonsumsi burung gagak yang kebetulan hinggap di jendela tempat tinggalnya!



Zola juga sempat bekerja sebakai clerk di perusahaan pelayaran dan bagian penjualan di perusahaan penerbitan, namun akhirnya diberhentikan karena novel autobiographical-nya yang berjudul La Confession de Claude mengundang perhatian polisi. Di awal karir menulisnya, Zola menulis beberapa cerita pendek, drama dan essai. Novel pertamanya berjudul Contes à Ninon terbit pada tahun 1864. Setelah menulis novel Therese Raquin (diterbitkan Gramedia), Zola menulis 20 novel berseri dibawah judul Les Rougon-Macquart, yang berkisah tentang 2 keluarga Les Rougon dan Macquart. Zola menjadi kaya setelah publikasi L'Assommoir, sehingga konon pendapatannya bahkan di atas Victor Hugo. Ia digolongkan ke dalam kelompok penulis borjuis, dan bersama Guy de Maupassant dan penulis-penulis lainnya sering mengadakan "cultural dinners".

Pada 13 Januari 1898 Zola membuat kejutan yang dapat membahayakan karirnya (dan kelak nyawanya juga) dengan menerbitkan surat terbuka berjudul J'Accuse! yang muncul di halaman depan harian Paris "L'Aurore". Di surat ini ia membela seorang anggota militer Prancis keturunan Yahudi bernama Alfred Deyfus yang dituduh sebagai mata-mata. Zola memandang tuduhan itu sebagai pelanggaran keadilan dan anti-semit (karena konon kaum anti-semit yang mempengaruhi polisi untuk mencurigai Dreyfus meski tak ada bukti kuat). J'Accuse! dianggap sebagai tonggak kekuatan intelektualisme dalam mempengaruhi opini publik.


7 Februari 1898 Zola diajukan ke pengadilan karena Dreyfus affair itu, namun melarikan diri ke Inggris sebelum sempat dipenjara. Ketika berusia 62 tahun Zola meninggal dunia akibat keracunan karbon monoksida karena cerobong asap yang buntu. Satu dekade kemudian, seorang tukang atap mengaku bahwa ia telah dibayar untuk menutup cerobong asap di rumah Zola. Enam tahun setelah kematiannya, kuburannya dipindahkan untuk dikuburkan bersama dengan Victor Hugo dan Alexandre Dumas.


Washington Irving

Washington Irving adalah penulis Amerika pada era awal abad 19. Ia lahir di New York City pada 3 April 1783. Ibunya memberinya nama "Washington" untuk mengenang pahlawan Revolusi Amerika: George Washington. Washington dikenal sebagai penulis cerita pendek, esai, biographer dan sejarawan. Cerita pendeknya yang paling terkenal adalah The Legend of Sleepy Hollow dan Rip van Winkle. Sedang sebagai biographer, ia pernah menulis biografi George Washington, Oliver Goldsmith dan (Nabi) Muhammad. Washington menunjukkan bakat menulis sejak awal, dan saudara-saudaranya mendukungnya untuk menggeluti karir penulisan. Ia juga pernah menjadi duta besar AS untuk Spanyol selama 4 tahun.

Washington merupakan satu dari beberapa penulis Amerika yang diakui di Eropa, ia pun lalu mendorong penulis-penulis lain seperti Nathaniel Hawthorne, Edgar Allan Poe, dan Herman Melville untuk mengikuti jejaknya. Beberapa penulis Eropa yang menghargai tulisannya, di antaranya Charles Dickens dan Sir Walter Scott. Sebagai penulis Amerika pertama yang mencapai "international best-seller", Washington juga menggagas hukum hak cipta yang lebih kuat di negaranya.


Henry James

Lahir di New York pada 15 April 1843, penulis Amerika bernama lengkap Henry James ini adalah seorang figur penting bagi aliran realisme dalam literatur abad 19. Berasal dari keluarga kaya Henry James, Sr., James menghabiskan 20 tahun awal hidupnya berpindah-pindah antara Amerika dan Eropa, sebelum akhirnya menetap di Inggris. Gaya menulisnya adalah mengambil sudut pandang seorang tokoh dalam cerita, sehingga ia dapat mengeksplorasi isu-isu yang berkaitan dengan kesadaran dan persepsi. Kelak gayanya ini disamakan orang dengan aliran impresionis dalam seni lukis.

Meski sempat belajar hukum, James lebih memilih dunia literatur. Karya pertamanya adalah A Tragedy of Error, sebuah cerita pendek yang terbit saat ia berusia 21 tahun, dan setelah itu mendedikasikan hidupnya untuk menulis. Novel pertamanya adalah War and Ward. Beberapa karya besarnya mencakup: The Portrait of A Lady, The Wings of The Dove, dan Daisy Miller. Setelah Perang Dunia I pecah, James memilih untuk menjadi warganegara Inggris sebagai tanda kesetiaannya, sekaligus tanda pemberontakannya terhadap Amerika yang telah menolak ikut berperang. 5 bulan setelah menjadi WN Inggris, James menderita stroke, lalu meninggal 2 bulan kemudian.


Charlotte Bronte

Charlotte Bronte adalah satu dari tiga perempuan bersaudara Bronte yang menjadi penulis klasik dunia.

Lahir di Inggris pada 21 April 1816, merupakan anak ketiga dari enam bersaudara. Charlotte disekolahkan bersama Emily dan 2 saudara lagi di Cowan Bridge. Kondisi menyedihkan sekolah itu disebut Charlotte telah mempengaruhi kesehatan dan pertumbuhan fisiknya, serta mempercepat kematian Maria dan Elizabeth karena TBC. Setelah keluar dari sekolah, Charlotte bersama Emily, Anne dan Branwell sering menulis cerita fiksi mereka sendiri, yang kemudian menjadi bekal bagi kemampuan menulis mereka ketika dewasa kelak.


Charlotte, Emily dan Anne kemudian patungan membiayai penerbitan puisi-puisi mereka bersama dengan menggunakan nama pena Currer, Ellis dan Acton Bell--karena mereka tak mau dikenal sebagai penulis wanita, khawatir tak dapat bersaing dengan penulis pria. Meski kumpulan puisi itu hanya terjual 2 eksemplar, mereka terus menulis dan masing-masing mulai menulis novel. Novel Charlotte yang paling terkenal adalah Jane Eyre pada tahun 1847. Setelah kesuksesan Jane Eyre, Charlotte mulai menulis novel berikutnya, Shirley pada tahun 1848. Charlotte mengirimkan naskah Shirley ke beberapa penulis senior pada jaman itu, di antaranya Elizabeth Gaskell--yang kemudian berteman dengan Charlotte, dan setelah kematian Charlotte menuliskan biografinya: The Life of Charlotte Bronte. Ketika hamil pertama kalinya, kesehatan Charlotte menurun. Ia sering mengalami mual dan muntah serta kelelahan. Ia akhirnya meninggal dunia bersama dengan bayi yang tak pernah lahir ke dunia, pada 31 Maret 1855, di usianya yang ke 38.


Henry Fielding

Penulis asal Inggris bernama Henry Fielding ini adalah seorang novelis dan penulis drama. Lahir di 22 April 1707, Fielding terkenal karena humor dan satir dalam tulisan-tulisannya. Novelnya yang paling terkenal adalah Tom Jones (The History of Tom Jones, A Foundling). Selain sebagai penulis, Fielding juga berperan dalam membentuk kesatuan polisi pertama untuk London, yang disebut Bow Street Runners, ketika ia menjabat sebagai Magistrat.

Sepanjang hidupnya Fielding dan keluarganya sering harus berjuang dalam kemiskinan. Untunglah ia memiliki pelindung kaya bernama Ralph Allen, yang kelak menjadi inspirasi tokoh Squire Allworthy di novel Tom Jones. Setelah Fielding meninggal, Allen tetap mensupport pendidikan bagi anak-anak Fielding.

Vladimir Nabokov

Penulis asal Rusia bernama lengkap Vladimir Vladimirovich Nabokov ini lahir pada 22 April 1899 dari sebuah keluarga kaya di St. Petersburg. Nabokov dikenal sebagai penulis multi-lingual yang menulis novel, puisi serta cerita pendek. Selain menulis, Nabokov juga seorang lepidopteris (mengumpulkan dan mempelajari spesies kupu-kupu dan ngengat), juga seorang komposer permainan catur. Novel Nabokov yang terbesar (dan terpenting) adalah Lolita, yang terdaftar di no. 4 Modern Library 100 Best Novels.


Nabokov menyebut masa kecilnya sangat indah, dari kecil ia terbiasa berbicara dalam 3 bahasa yang digunakan di keluarganya: Rusia, Inggris, Prancis. Setelah Revolusi Bolshevik, Nabokov sekeluarga terpaksa beremigrasi ke Inggris, di mana Nabokov kuliah di Cambridge. Setelah itu ia menyusul keluarganya ke Jerman. Di Berlin ayah Nabokov tertembak ketika ia melindungi seorang politikus dari tembakan seorang Rusia. Penembakan-salah-alamat ini kelak terus menghantui Nabokov dan muncul di novel-novelnya, di mana tokohnya tertembak karena kesalah-pahaman.

Setelah pindah ke Amerika, Nabokov menulis Lolita ketika dalam perjalanan berburu kupu-kupu ke selatan Amerika Serikat. Ia hampir saja membakar naskah itu, kalau saja tak diselamatkan oleh istrinya Vera, yang adalah sekretaris, editor, manajer bisnis, hingga konsultan hukum bagi Nabokov. Ketika Nabokov meninggal ia sedang menulis novel The Original of Laura, dan novel yang tak tamat itu akhirnya diterbitkan putranya pada 17 November 2009.



William Shakespeare



26 April 1564 sebenarnya adalah hari di mana seorang William Shakespeare dibaptis, sedang tanggal lahirnya sendiri tak diketahui. Kelak ia menjadi penulis dalam bahasa Inggris terbesar , yang telah menyumbangkan banyak karya berupa puisi maupun drama (play). Total ada 38 drama, 154 soneta, dan 2 puisi narasi panjang. Di usia 18 tahun Shakespeare menikah, dan 2 tahun kemudian ia mulai sukses berkarir sebagai aktor, penulis dan pemilik sebagian saham pertunjukan drama King’s Men. Awalnya drama yang dibuat Shakespeare berbentuk komedi atau sejarah. Lalu ia mulai menulis tragedy yang terkenal seperti Hamlet, Machbet, King Lear dan Othello—yang dianggap sebagai beberapa karya terbaik dalam bahasa Inggris.


Kebanyakan dokumen tentang kehidupan Shakespeare tidak ditemukan, dan pada tahun 1585 sampai 1592 ada 7 tahun masa di mana Shakespeare “menghilang dari peredaran”. Banyak spekulasi yang beredar tentang apa yang ia lakukan saat itu, tapi tak satupun yang benar-benar terbukti. Shakespeare “pensiun” di usia 49, dan meninggal dunia pada tahun 1616.

Harper Lee

Pada tanggal 28 April 1926, lahirlah di Alabama seorang bayi perempuan yang diberi nama Nelle Harper E. Lee. Harper kecil tumbuh sebagai anak perempuan tomboy yang suka membaca, dan bersahabat baik dengan anak laki-laki teman sekolah sekaligus tetangganyanya, Truman Capote. Kelak Harper Lee dan Truman Capote akan menjadi dua penulis klasik yang terkenal dari Amerika. Nama Harper Lee melambung berkat satu-satunya novel yang ia tulis: To Kill A Mockingbird, salah satu novel terbaik dunia yang mendapat Pulitzer tahun 1960. Selain menulis novel, Harper juga membantu Truman Capote dengan riset untuk bukunya In Cold Blood.

Ketika kuliah di universitas khusus perempuan, berbeda dengan mahasiswi lain yang suka berdandan, fashion atau kencan, Harper memusatkan perhatian pada pelajaran dan tulisannya. Di usia 23, Harper pindah ke New York dan bekerja sebagai agen tiket. Di sana ia bertemu kembali dengan Truman Capote yang sudah mulai sukses sebagai penulis. Mengetahui bakatnya menulis, atasannya member Harper hadiah sebesar setahun gaji, dengan catatan ia boleh menulis apa yang ia ingini. Harper keluar dari pekerjaannya dan mulai menulis. To Kill A Mockingbird terbit pada 11 Juli 1960 dan langsung menjadi best-seller. Pada 1999 To Kill A Mockingbird terpilih sebagai “Best Novel Of the Century” oleh Library Journal.

Harper Lee kini menghabiskan hidup dari kursi rodanya, setengah buta dan tuli serta menderita hilang ingatan. Pada tahun 2011 ia juga membuat pengakuan mengapa setelah To Kill A Mockingbird ia tak menulis lagi: "Two reasons: one, I wouldn't go through the pressure and publicity I went through with To Kill A Mockingbird for any amount of money. Second, I have said what I wanted to say and I will not say it again."

Jadi…karya siapa dari yang berulang tahun bulan April yang akan anda pilih sebagai bacaan bulan ini?

Thursday, March 29, 2012

Coupeau on L’Assommoir: Character Thursday (5)

Masih dari buku L’Assommoir, inilah tokoh kedua yang aku pilih untuk minggu ini:

Coupeau
(L’Assommoir by Émile Zola)



Coupeau adalah pria dari kelas pekerja di buku L'Assommoir karya Émile Zola. Sebagai tukang atap (roofer), ia termasuk pekerja yang giat. Coupeau mencintai apa yang dikerjakannya, dan ia adalah tukang atap yang handal. Ia pria sederhana, baik dan sopan. Meski kehidupan para pekerja di Paris biasa diwarnai minuman keras dan wanita, tak begitu halnya dengan Coupeau.

Ia jatuh cinta pada Gervaise (tokoh utama wanita), selalu bersikap melindungi dan tak pernah memaksa Gervaise melakukan hal yang tak disukainya. Dengan sabar Coupeau melakukan pendekatan, hingga akhirnya Gervaise setuju untuk menikah dengannya. Pernikahan mereka bahagia, tinggal di rumah sederhana, dengan mengandalkan penghasilan Coupeau, dan Gervaise sebagai tukang cuci. Mereka mampu menabung hingga Gervaise dapat membuka rumah cuci (laundress) sendiri dan menempati rumah yang lebih layak.

Coupeau dalam film, pria baik hati yang mencintai Gervaise

Hingga suatu hari Coupeau tergelincir dan jatuh dari atap, dan kehidupan mereka takkan pernah sama lagi! Terbaring di tempat tidur dan tak bisa bekerja, Coupeau tak pernah mampu menerima nasib malangnya, dan mulai "terjatuh" ke dalam jerat minuman keras. Akhirnya racun itu mengubah Coupeau menjadi pribadi yang berbeda. Egois, tak bertanggung jawab, suka memukul, bahkan kesopanannya digantikan sumpah serapah dalam bahasanya yang kasar.

Sosok Coupeau menggambarkan banyak orang yang menyerah kalah pada kemiskinan dan penderitaan. Mereka adalah sosok-sosok yang kalah dalam pertempuran hidup. Ditambah lagi peran orang-orang di sekitar mereka yang sangat merusak, begitu ingin menarik orang lain ke dalam lembah ke mana mereka telah jatuh duluan. Di akhir novel ini akan digambarkan pula akibat mengerikan minuman keras yang telah meracuni tubuh Coupeau dan tanpa ampun merenggut hidupnya.

Benar-benar potret kehidupan manusia yang dengan sangat gamblang dan intense telah digambarkan oleh Émile Zola.

------

Character Thursday
Adalah book blog hop di mana setiap blog memposting tokoh pilihan dalam buku yang sedang atau telah dibaca selama seminggu terakhir (judul atau genre buku bebas).
- Kalian bisa menjelaskan mengapa kalian suka/benci tokoh itu, sekilas kepribadian si tokoh, atau peranannya dalam keseluruhan kisah.
- Jangan lupa mencantumkan juga cover buku yang tokohnya kalian ambil.
- Kalau buku itu sudah difilmkan, kalian juga bisa mencantumkan foto si tokoh dalam film, atau foto aktor/aktris yang kalian anggap cocok dengan kepribadian si tokoh.

Syarat Mengikuti :
1. Follow blog Fanda Classiclit sebagai host, bisa lewat Google Friend Connect (GFC) atau sign up via e-mail (ada di sidebar paling kanan). Dengan follow blog ini, kalian akan selalu tahu setiap kali blog ini mengadakan Character Thursday Blog Hop.
2. Letakkan button Character Thursday Blog Hop di posting kalian atau di sidebar blog, supaya follower kalian juga bisa menemukan blog hop ini. Kodenya bisa diambil di kotak di button.
3. Buat posting dengan menyertakan copy-paste “Character Thursday” dan “Syarat Mengikuti” ke dalam postingmu.
3. Isikan link (URL) posting kalian ke Linky di bawah ini. Cantumkan nama dengan format: Nama blogger @ nama blog, misalnya: Fanda @ Fanda Classiclit.
4. Jangan lupa kunjungi blog-blog peserta lain, dan temukan tokoh-tokoh pilihan mereka. Dengan begini, wawasan kita akan bertambah juga dengan buku-buku baru yang menarik…

Fanda Classiclit

Monday, March 26, 2012

The Laundress on L’Assommoir - A Classic Challenge March: Setting

Firstly I must admit that this challenge, hosted by November Autums is absolutely challenging. Every month we must deal with certain different topics to discuss from the books we read. For March, it’s about “Setting”. Fortunately, I have chosen L’Assommoir by Émile Zola for my classic reading of March. Zola’s writing always put everyday life strongly in detail. The most interesting setting in L’Assommoir is not the dram shop (l'assommoir) itself, but the laundress of Gervaise (the female protagonist in this book).

"From far away, in the centre of the black row of the other shop-fronts, her shop seems to her full of light, so cheerful and new, with its pale blue sign on which the words "High Quality Laundering" were painting in big yellow letters. In the window which was closed at the back with little muslin curtains and papered in blue to show off the whiteness of the linen, there were mens' shirts displayed and womens' bonnet hung by their ribbons from brass wires. She thought her shop was pretty, the color of the sky. When you went inside there was still more blue, the paper was a copy of a Pompadour chintz, showing a trellis entwined with morning-glories; the workbench was a huge table with a thick cover; it took up two thirds of the space and was draped in a piece of cretonne printed with big bluish leaves, that hid the trestles. Gervaise would sit down on a stool, panting slightly with pleasure, delighted by how beautifully clean it was and gazing fondly at all her new equipment. But invariably her eyes went first to the cast-iron stove, where ten irons could heat at the same time, arranged round the grate on sloping stands."


From that scene I can see that Gervaise is very proud of her new laundress. She set it up neatly and cleanly, which will give a good impression to the neighborhood (her future customers). I think Gervaise is a woman with a business touch, she knows how to attract customers. Laundry equals to cleaning, so a clean shop reflects clean work on laundry. Look at how Gervaise uses white and blue color for the laundress which reflect cleanliness and freshness.

Laundress is a common business in 19th centuries--the setting of this book, which Émile Zola describes very detailed here. It's like I myself sit down together with Gervaise, watching her doing her works, and felt the heat from the stove when they were ironing. I think these are Zola's strength in his writing. The laundress is of course showing Gervaise's up and down. She achieved success with the laundress, and she fell down with it too. We could certainly not change this setting, because the laundress is actually Gervaise's life, as well the heart of this story.

Thursday, March 22, 2012

Gervaise on L’Assommoir [Character Thursday 4]

Kali ini, aku mengambil seorang tokoh dari seorang penulis klasik yang amat intens dalam mengisahkan karakter-karakternya, dia adalah…


Gervaise
(L’Assommoir by Emile Zola)



Gervaise adalah seorang wanita biasa dari kalangan kaum pekerja yang hidup di Paris abad 19. Secara fisik wajahnya cantik dan tubuhnya cukup menawan, sehingga disukai kaum pria. Kisah dibuka ketika Gervaise sedang hidup bersama kekasihnya: Lantier. Ternyata setelah memiliki 2 anak, Lantier yang berjanji akan memberikan kehidupan yang lebih baik, malah tenggelam dalam minuman keras dan berselingkuh, lalu meninggalkan Gervaise dalam kemiskinan begitu saja. Gervaise adalah wanita muda yang giat bekerja dan memiliki moral yang baik bila dibandingkan kaum wanita kelas pekerja lainnya. Ia lalu didekati oleh pria bernama Coupaue yang akhirnya menikahinya.


Meski berasal dari kelas pekerja, Gervaise memiliki visi untuk berbisnis sendiri membuka rumah laundry atau yang biasa disebut laundress. Sayangnya penghasilannya sebagai pencuci baju di sebuah laundress dan penghasilan suaminya sebagai tukang atap tak cukup untuk mewujudkan impian itu. Untungnya ada pria tetangga mereka yang bernama Goujet yang bersedia meminjami Gervaise uang. Maka laundress itu pun dibuka, dan dikelola Gervaise dengan baik sehingga sukses. Sayangnya Coupeau menderita kecelakaan dan karena kecewa tak dapat bekerja, ia pun jatuh ke dalam jerat minuman keras. Lantier pun akhirnya tinggal bersama keluarga mereka. Maka keuangan laundress itu pun mulai terkuras.

Wajah Gervaise yang manis


Gervaise sedang bekerja di laundress-nya dalam film

Gervaise adalah potret sesungguhnya kaum pekerja. Meski rajin bekerja, namun sangat sulit untuk dapat menabung uang untuk meningkatkan taraf hidupnya. Kelemahan Gervaise adalah karena ia terlalu baik pada semua orang. Tanpa melihat kemampuannya, ia menerima Lantier dan ibu mertuanya untuk tinggal bersama mereka. Padahal sebagian penghasilan laundress masih harus dipotong untuk membayar hutang pada Goujet. Belum lagi, begitu Gervaise mampu mendirikan bisnis milik sendiri, ia menjadi angkuh dan suka memamerkan kekayaannya. Ketika menyelenggarakan pesta makan malam misalnya, alih-alih memilih hidangan sederhana, ia memilih hidangan dan anggur mewah, meski untuk itu ia harus berhutang dulu.


Rasanya aku sudah sering melihat kehidupan orang-orang macam Gervaise ini, yang entah karena kurang bijaksana, entah karena terlalu lama terpuruk dalam kemiskinan dan lelah bekerja keras, maka begitu mereka sedikit lebih baik, mereka tak dapat mengelola keuangan, sehingga akhirnya mereka pun tak kunjung dapat mengentaskan diri dan keluarganya ke taraf hidup yang lebih baik.



Sekali lagi, Gervaise hanyalah wanita biasa dan hanya salah satu dari kaum pekerja lainnya…


Monday, March 19, 2012

[Classic Movie] The Phantom Of The Opera

Di depan sebuah gedung tinggi nan megah namun terbengkalai, berhentilah sebuah kereta kuda. Pintu kereta dibuka, lalu menapaklah sebelah kaki terbungkus sepatu hitam mengkilat ke tanah. Kaki yang pasti milik seorang tua kaya yang sudah lemah. Tubuh lunglai pria tua itu didudukkan ke kursi roda, lalu sepasang pelayan berseragam mendorong kursi roda itu ke dalam gedung yang terbengkalai itu. Dalam nuansa hitam putih yang suram, satu-satunya tanda bahwa gedung itu masih berfungsi adalah spanduk besar yang menyatakan bahwa sebuah pelelangan tengah berlangsung di sana.

Di dalam gedung, si pria tua di kursi roda menangkap pandangan mata seorang wanita tua berbusana hitam lengkap dengan topi dan cadarnya, khas busana wanita di tahun 1919, tahun yang digambarkan saat pelelangan itu berlangsung. Keduanya pasti pernah saling mengenal, dan pelelangan itu nampaknya memiliki makna tersendiri bagi mereka. Kotak musik dengan boneka monyet yang bisa memainkan simbal nampaknya amat berkesan bagi sang pria--yang ternyata dipanggil Vicomte de Chagny, karena begitu memenangkan lelang, ia langsung memandangi kotak musik itu dengan seksama bak sebuah harta yang tak ternilai. Saat si pria hendak pergi, ternyata si kurator mengumumkan bahwa setelah ini mereka akan melelang lampu kristal yang dahulu pernah memancarkan cahayanya nan gemerlap ketika tergantung di tengah sebuah gedung Opera pada masa kejayaannya. Sebelum munculnya Phantom of the Opera...

Gedung yang terbengkalai itu memang dulunya Paris Opera House, dan dengan dibukanya tabir dan dinaikkannya lampu kristal diiringi musik yang dramatis, maka scene pun tiba-tiba berpindah dari kesuraman di tahun 1919 menuju ke gemerlapnya masa lampau--masa kejayaan Gedung Opera itu pada tahun 1870. Maka kisah The Phantom of The Opera yang sesungguhnya pun dimulai di titik ini. Sungguh sebuah pembukaan yang manis dalam film musikal adaptasi yang diambil dari kisah karya Gaston Leroux ini. Meski penonton yang belum membaca bukunya, pasti akan bertanya-tanya siapa sebenarnya pria tua dan wanita tua di adegan pembuka itu.

Selanjutnya kisah bergulir hampir sama dengan kisah asli di buku. Kedatangan dua manajer baru, penyanyi yang menjadi bintang opera saat itu--Carlotta, dan tentu saja Phantom of the Opera yang misterius. Film ini menjadi apik karena dibuat sebagai film musikal. Aku suka dengan lagu-lagunya, terutama lagu "The Phantom of the Opera" yang dinyanyikan Gerard Butler yang berperan sebagai Phantom, dan Emmy Rossum pemeran Christine Daae di film ini.

Ini lagunya:


Selain itu, ada suasana yang "magis" ketika si Phantom menjemput Christine di kamar tidurnya lalu melewati lorong-lorong yang tiba-tiba saja dipenuhi cahaya berpuluh-puluh lilin, mengarungi sungai kecil hingga tiba di "istana" bawah tanah sang Phantom yang bergelimang cahaya dan kemewahan. Mengapa terasa magis? Karena ketika teman Christine menemukan cermin yang terbuka ketika mencari Christine, ia lantas melalui lorong yang sama dengan yang dilalui Christine dan si Phantom, namun lorong itu kini gelap, suram dan penuh dengan sarang laba-laba.

Secara keseluruhan film musikal ini sangat menghibur. Meski sebenarnya kurang menggambarkan sisi gothic dari buku aslinya, namun sebagai karya sinematografi cukup memikat. Penampilan Gerald Butler dan Emmy Rossum yang menyanyikan sendiri lagu-lagu mereka patut diacungi jempol, karena mereka sebenarnya bukan penyanyi, dan baru belajar vokal saat berperan di film ini. Kalaupun ada yang hilang dari kisah aslinya adalah pengungkapan sisi gelap Eric si Phantom dan bilik penyiksaan miliknya. Juga di buku sebenarnya ada 1 lagi tokoh penting yang mengungkap tentang rahasia gelap sang Phantom, selain Madame Giri. Namun secara keseluruhan, film ini mampu merepresentasikan kisah The Phantom of the Opera dengan baik.

Rating: 9/10

Judul film: The Phantom of the Opera
Sutradara: Joel Schumacher
Pemeran: Gerard Butler sebagai Phantom, Emmy Rossum sebagai Christine Daae, dan Patrick Wilson sebagai Raoul

Trailer film ini: