Saturday, February 19, 2011

The Tales Of Terror & Detection

Buku ini merupakan salah satu kumpulan cerpen-cerpen detektif-gothic milik seorang sastrawan besar Amerika: Edgar Alan Poe, yang diterjemahkan dan diterbitkan oleh Penerbit Liris, Surabaya. Dengan cover yang bernuansa gelap dan angker dengan rumah bermenara tinggi di latar langit gelap dan cahaya bulan, memang nuansa gothic itu langsung terlihat. Kalau dibadingkan cover aslinya, aku pikir cover dari penerbit Liris ini lebih mengena. Tapi sayangnya...hanya cover itu saja yang bisa diandalkan dari versi terjemahan ini. Terjemahannya sendiri kacau, seolah-olah penerjemahnya hanya menerjemahkan apa adanya, tanpa mempedulikan isinya (itu kalau ia benar-benar memahami kedalaman maknanya dan dapat mengapresiasi sastranya).

Karena alasan di atas, aku hanya menyempatkan membaca 2 dari total 5 kisah yang ada di buku ini. Itupun karena kedua kisah itu ada tokoh detektif C. Auguste Dupin, tokoh detektif ciptaan Poe yang menjadi pelopor semua tokoh detektif di dunia kesusasteraan dunia, termasuk Sherlock Holmes yang muncul sesudah Dupin.

Misteri Marie Roget

Sebenarnya Poe pertama kali menghadirkan C. Auguste Dupin dalam kisah "The Murder in the Rue Morgue". Setelah itu ia menulis Misteri Marie Roget ini, di mana ia masih sedikit menyebut-nyebut tentang kasus Rue Morgue itu, meski tak ada kaitan langsung dengan kasus ini. Marie Roget adalah seorang gadis muda pelayan toko di Paris pada abad 19 yang cantik dan suka bergenit-genit. Ia pernah menghilang dari rumah ibunya selama seminggu penuh, membuat orang-orang mencarinya, namun akhirnya kembali tepat setelah seminggu, tanpa alasan yang jelas. Baru saja keluarga dan orang-orang di sekitarnya dapat melupakan peristiwa aneh itu, Marie kembali menghilang di suatu malam, setelah ia pamit hendak mengunjungi rumah bibinya. Dan kali ini bukannya kembali dalam keadaaan sehat walafiat, ia malah ditemukan sudah menjadi seonggok mayat mengambang di Sungai Seine empat hari kemudian.

Sebelum pergi, ia mengatakan pada tunangannya, St. Eustache bahwa ia akan melewatkan waktu di rumah bibinya di Rue Des Drome. Saat ditemukan di sungai, tubuhnya terapung dan pakaiannya sudah robek-robek berantakan. Belakangan, di sebuah sudut yang rimbun di sebuah taman, dua bocah menemukan beberapa bagian dari pakaian wanita yang diyakini adalah pakaian yang dikenakan Marie. Pada bagian penemuan pakaian ini agak membingungkan, karena kita tahu model gaun wanita pada jaman itu yang bertumpuk-tumpuk dan ribet.

Polisi telah melakukan penyelidikan, dan media-media cetak berlomba-lomba menerbitkan analisis mereka tentang kasus ini. Berdasarkan data-data yang terkumpul, tokoh 'aku' (yang tak pernah jelas siapa) membahas kasus itu bersama si jenius Auguste Dupin. Dupin adalah tipe detektif yang mengandalkan logika berpikir untuk memecahkan masalah. Ia jelas orang yang amat pandai, dan penguasaannya terhadap ilmu pengetahuan sangat baik. Misalnya media cetak, yang saat itu sebagai satu-satunya pembentuk opini massa, ada yang mengambil kesimpulan bahwa mayat itu bukan mayat Marie, tapi wanita lain. Ada yang bilang bahwa pelakunya pastilah geng yang suka membuat keributan di kota itu.

Namun ketelitian dan logika hebat Dupin mematahkan semua asumsi para media cetak itu. Dupin mampu memaparkan detail yang paling remeh dengan logika yang hebat. Tak ada satu detail pernyataanpun yang luput dari radarnya. Di sini kadang kita juga seolah belajar sesuatu. Misalnya saja pembuktian Dupin tentang mayat Marie yang terapung. Media mengatakan bahwa waktu 3 hari tak cukup untuk membuat mayat bisa terapung. Menurut teori mereka, mayat harus mengalami pembusukan selama 6-10 hari untuk bisa kemudian muncul ke permukaan. Padahal menurut Dupin, bahkan kalau kita yang hidup dilemparkan ke air dan tak bisa berenang, ada orang yang akan tenggelam, ada yang tidak. Tahukah anda bahwa rata-rata berat gravitasi khusus tubuh kita dan jumlah air yang dipindahkan saat tubuh kita jatuh ke sungai, itu sama? Itu artinya bahwa secara alami, kita tidak akan begitu saja tenggelam hingga ke dasar sungai. Kecuali kalau kita lantas menjadi panik, mengangkat kedua tangan kita ke atas dan bergerak-gerak, maka kita akan tenggelam. Sebaliknya, kalau posisi kita tegak lurus seolah-olah berjalan di air, dan kepala didongakkan seakan-akan tidur di permukaan air, maka kita tidak akan tenggelam. Menarik kan?

Tapi penelusuran bukti-bukti yang njelimet dan pembuktiannya itu begitu bertele-tele, dengan kutipan dari surat kabar yang diulang-ulang, ditambah dengan terjemahan yang jauh dari sempurna, menjadikan kisah ini penyebab sakit kepala! Padahal aku hanya ingin tahu, siapa sih yang membunuh si Marie yang malang? Sebuah geng? Atau seorang pacar gelap?

Kisah kedua jauh lebih menghibur...

Surat Yang Dicuri (The Purloined Letter)

Kali ini, bukan soal pembunuhan yang diangkat, tetapi pencurian. Seorang Inspektur Kepolisian Paris pada suatu hari mendatangi Dupin (dan tokoh 'aku) untuk minta bantuan. TKP adalah di kerajaan. Pelakunya adalah seorang Menteri dengan inisial D. Dokumen yang dicurinya itu akan memberinya kekuasaan yang tak layak ia dapatkan dan membahayakan kedudukan seseorang di tingkat yang lebih tinggi. Surat itu dipastikan masih dimiliki oleh Menteri D. Namun, si Inspektur yang telah menerapkan semua ilmu penggeledahan yang paling canggih untuk menemukan surat itu di kediaman Menteri D, tak berhasil menemukannya.

Dupin, dengan logika dan rasiosinasi* nya yang kuatlah yang akhirnya mengetahui di mana surat itu berada selama ini, dan sekaligus berusaha merebutnya dari tangan Menteri D. Ternyata memang manusia selalu berasumsi bahwa orang lain akan melakukan hal yang sama dengan dirinya sendiri. Si Inspektur, yang bangga dengan pengetahuan dan ketrampilannya untuk menggeledah dengan teliti tempat-tempat persembunyian di suatu tempat, tak memikirkan kemungkinan bahwa seseorang yang cerdik dan tak ingin hartanya ditemukan orang lain, mungkin memilih meletakkan harta itu di tempat yang justru terlihat oleh semua orang. Bukankah peti yang tertutup dan tergembok rapat akan menyiratkan sesuatu yang rahasia atau berharga tersembunyi di dalamnya? Tapi kalau ada sebuah kotak yang digeletakkan sembarangan saja di atas meja, apakah kita akan mencurigai ada sesuatu yang disembunyikan di situ?

Akhirnya, membaca buku ini memang melelahkan, tapi aku jadi bisa sedikit lebih mengenal metode-metode yang digunakan Auguste Dupin dalam pemecahan misterinya. Meski aku juga masih belum mampu mengenalnya secara personal, karena karakternya tak banyak dikupas di kedua kisah ini. Yang paling menarik (dan paling terkenal) pada diri Dupin adalah rasiosinasinya. *Rasiosinasi adalah proses penalaran yang menggabungkan logika dan imajinasi tinggi. Bisa dibilang rasiosinasi adalah hasil dari studi dari berbagai data yang ada, ditambah dengan pendekatan pribadi sang detektif pada situasi TKP secara umum, dengan tujuan untuk memahami apa yang kira-kira terjadi dan dialami oleh para pelaku sebuah kasus.

Using what Poe termed "ratiocination", Dupin combines his considerable intellect with creative imagination, even putting himself in the mind of the criminal. ~Wikipedia.

Membaca kedua kisah buku ini juga akan memberiku sedikit bayangan tentang karakter Edgar Allan Poe dan tokoh detektifnya, Auguste Dupin bagi kisah dan buku berikutnya yang akan aku lahap. Buku apa? Tunggu saja dengan sabar ulasannya di blog ini ya....

Judul : The Tales of Terror and Detection (terjemahan)
Pengarang : Edgar Allan Poe
Penerbit : Penerbit Liris
Penerjemah : Anna Karina
Cetakan : Juni 2010
Tebal : 214 hlm

Friday, February 11, 2011

The Phantom Of The Opera

Don't judge people from their looks. Anda semua pasti setuju dengan kalimat tersebut. Namun pada kenyataannya kadang tidaklah semudah itu. Banyak contoh anak-anak yang lahir cacat atau abnormal disingkirkan dan dikucilkan oleh orang-orang di sekitarnya, bahkan kadang oleh keluarga dan orang tua mereka sendiri. Hal itulah yang menjadi cikal bakal kisah sejarah terkenal yang terjadi di Paris akhir abad 19: The Phantom Of The Opera. Seorang wartawan sejarah bernama Gaston Leroux lalu melakukan penyelidikan 30 tahun sesudahnya, dan menuliskan hasil analisa, wawancara dan penyelidikannya, serta merangkumnya menjadi sebuah kisah misteri, horor, cinta sekaligus petualangan yang menegangkan namun memberi nuansa seni yang hebat ini.

Warga Paris yang hidup pada jaman itu sudah mengenal Hantu Opera, demikian mereka menyebut fenomena-fenomena ganjil yang terjadi di dalam gedung opera itu yang tak pernah dapat dijelaskan. Hantu itu digambarkan berwajah seperti mayat atau tengkorak dengan mata yang menyala keemasan. Hantu itu kadang menampakkan diri, namun lebih sering lagi hanya terdengar suaranya, serta melakukan hal-hal yang mustahil dilakukan manusia. Si Hantu bukan hanya suka jail (seperti mengerjai kedua manajer Opera dan membuat malu seorang biduanita), namun ia bisa dibilang adalah penguasa gedung Opera beserta semua pertunjukannya. Ia mengklaim balkon nomor lima di gedung itu untuk dirinya, tak boleh disewakan atau ditempati orang lain. Ia mengatur siapa yang boleh bermain memerankan tokoh apa. Ia menuntut gaji 20 ribu franc kepada manajer Opera, dan memiliki setumpuk peraturan lain yang harus ditaati semua orang, kalau tidak.... akan terjadi 'hal-hal yang buruk'.

Hal yang buruk itu bisa saja hanya hilangnya seekor kuda, atau jatuhnya lampu kandelar besar yang tergantung di atap gedung opera, atau bahkan terbunuhnya seorang staf dengan cara digantung! Pendek kata, tak seorang pun tampak percaya pada kisah kekanak-kanakan tentang hantu itu, namun tak ada seorang pun juga yang tak merasa ngeri pada hantu itu. Lalu semuanya berubah saat seorang bintang baru Opera itu mulai bersinar. Dialah Christine Daae, seorang gadis nan cantik, lembut dan polos, yang sedari kecil dididik dalam kehalusan seni serta dongeng-dongeng tentang malaikat. Christine memiliki suara emas yang, konon, bagaikan suara malaikat dari surga. Suara itulah yang memikat sang Hantu Opera dan merebut hatinya!

Kepolosan Christine dimanfaatkan dengan baik oleh si hantu. Dengan gampangnya, si hantu memasukkan ide tentang Malaikat Musik, sosok gaib yang dikirim oleh almarhum ayah Christine untuk mengajarinya bernyanyi. Maka Christine pun tidak pernah mempertanyakan keberadaan 'Malaikat Musik' yang tak berwujud dan hanya terdengar suaranya saja dari balik tembok saat mengajarinya bernyanyi selama tiga bulan di dalam kamar gantinya setiap malam. Yang pertama kali mengetahui keganjilan ini adalah Viscount Raoul de Chagny, bangsawan muda yang jatuh cinta pada Christine yang dikenalnya semenjak kecil. Malam yang istimewa itu, saat Christine untuk pertama kalinya mengejutkan semua orang dengan suara gemilangnya, Raoul mengikuti Christine hingga ke kamar gantinya. Di sana ia mendengar suara pria berbicara pada Christine, namun ternyata tak ada seorang pun disana! Hantu itu....

Selanjutnya perilaku Christine menjadi aneh. Ia tampak tidak bahagia, ketakutan, dan menghindar dari Raoul seolah-olah ia tak mencintai pemuda malang itu. Atau itulah yang disangka Raoul pada awalnya. Ia merasa cemburu pada 'pria misterius yang mengajari Christine menyanyi dan dengan tidak sopannya melakukannya di kamar ganti sang bintang, berduaan saja di malam hari'. Yang ia tak sadari saat itu, sang pria bukan saja misterius dan kurang sopan, ia ternyata adalah sang Hantu Opera sendiri, yang ternyata juga bukanlah hantu namun justru jauh lebih berbahaya daripada hantu. Sang Hantu Opera sejatinya adalah seorang pria 'malang dan tak bahagia' bernama Erik.

Bagaimana seorang pria bisa menjadi hantu opera? Seperti yang telah kujadikan pembuka ulasan buku ini pada paragraf pertama tadi, penolakan dunia terhadap seorang pria berwajah buruk dan mengerikan, membuat Erik harus menyembunyikan dirinya dari dunia, di lorong-lorong bawah tanah yang gelap di dalam Gedung Opera. Di sebuah rumah di tepi telaga jauh di bawah gedung Opera, Erik menghabiskan hari-harinya. Ia mengenal setiap sudut gedung itu karena ia dulu ikut merancang bangunannya sebagai seorang arsitek. Setelah tugasnya selesai, diam-diam ia merancang dan membangun rumahnya sendiri tanpa sepengetahuan siapapun. Tak ada yang bisa masuk ke rumahnya karena ia menyiapkan jebakan-jebakan maut. 'Nyanyian maut' di dalam telaga bagi yang datang dengan perahu lewat telaga, atau 'Bilik Penyiksaan' bagi yang datang lewat suatu jalan rahasia di gudang ketiga Opera.

Erik berhasil memikat Christine dengan kedok Malaikat Musiknya sehingga ia dapat menculik si gadis ke rumah tepi telaganya. Ia ingin menjadikan Christine sebagai istrinya, kalau tidak, ia akan menghancurkan 'dunia atas', sebutannya untuk dunia normal di mana ia ditolak. Hanya si Orang Persia yang mengetahui rahasianya karena orang ini dulu pernah menyelamatkan nyawa Erik. Orang Persia mengetahui hampir semua karya-karya jenius Erik sebagai seorang arsitektur sekaligus ilusionis. Erik mampu mendesain 'pintu jebakan', ilusi menggunakan cermin, dan 'bilik penyiksaan' yang mampu membunuh orang. Menarik menyimak tentang bagaimana ilusi dapat menyesatkan orang, bahkan membuatnya ingin mati dan akhirnya membunuh diri. Bahkan si orang Persia yang tenang dan mengetahui rahasia bilik penyiksaan itu juga akhirnya terhanyut pada ilusi ciptaan Erik. Menarik membayangkan bagaimana sebuah ruangan yang didesain khusus dengan cermin bisa begitu mematikan! Lebih menakutkan daripada ruangan yang penuh senjata, karena senjata digerakkan oleh orang lain, sementara dengan ilusi, kau sendiri yang membunuh dirimu.

Boleh dibilang, petualangan orang Persia dan Raoul de Chagny untuk menyelamatkan Christine dari cengkeraman Erik inilah yang teramat seru dan tegang dalam buku ini. Mereka akhirnya menyadari rencana akhir sang Hantu: yaitu untuk menghancurkan 'dunia atas' sebagai pelampiasan dendamnya pada mereka yang menolaknya. Dan Christine adalah satu-satunya harapan mereka, karena kalau ia menolak menikah dengan Erik, Erik akan menghancurkan mereka semua....

The Phantom Of The Opera benar-benar kisah yang menggugah. Kita akan dibawa dalam pesona opera dan kesenian tingkat tinggi, pada syair-syair anggun dari petikan drama yang digelar, dan pada eksotisme dan kemisteriusan gedung opera dengan rumah tepi telaga dan lorong-lorong gelapnya. Kita juga akan diajak melihat bagaimana cinta dapat menyentuh, lalu mengubah sebuah kehidupan. Bagaimana cinta mampu menjadi benci karena ketiadaanya, namun cinta juga mampu mengasihani dan rela berkorban saat ia terpenuhi. Yang paling membuat kisah ini menarik, adalah karena kisah yang serupa dongeng ini benar-benar nyata! Paling tidak, Gaston Leroux telah melakukan pekerjaan yang patut diacungi jempol untuk menyingkapkan kebenaran sejarah sekaligus menyajikan sebuah hiburan yang indah, mengharukan dan menginspirasi.

Kita layak berterima kasih pada penerbit Serambi yang telah menerbitkan kisah klasik ini, dan menyajikannya dalam buku bercover lux, ditambah bonus pembatas buku nan cantik (dengan paduan warna hitam, putih dan ungu yang nampak mewah). Hanya sayang (lagi-lagi), masih banyak kesalahan ejaan yang mengganggu di sana-sini. Aku sungguh berharap, para penerbit lebih memperhatikan masalah ini. Karena sejatinya, membaca itu bukan hanya proses memahami sebuah tulisan, namun lebih pada menikmati sebuah perjalanan pikiran dan emosi. Dan sungguh...kesalahan ejaan itu bisa jadi sangat mengganggu proses itu. Semoga masalah semacam itu tak lagi menodai kisah yang mengagumkan semacam The Phantom Of The Opera ini.

Note: Oh ya, apakah anda tahu bahwa kisah ini pernah dibuat film? Bagi yang sudah menonton, setting rumah telaga Erik memang sesuai dengan kisah aslinya. Namun sosok Erik jauh lebih menyeramkan di kisah aslinya, baik fisiknya, kepandaiannya maupun caranya membalas dendam. Secara keseluruhan bukunya JAUH lebih bagus daripada filmnya! (seperti biasa ya...)

Terakhir sebagai penutup, aku ingin mengutip kata-kata si pengarang dalam epilognya, mengenai sosok Erik sang Hantu Opera:

"...Erik yang malang dan tidak bahagia! Haruskah kita iba padanya? Mengutuknya? Dia hanya ingin menjadi seperti manusia lain. Tapi wajahnya terlalu mengerikan. Dia harus menyembunyikan kejeniusannya atau memakainya untuk mengelabui manusia lain, padahal, dengan wajah yang normal, dia pasti akan menjadi anggota masyarakat yang paling mulia. Dia memiliki kemampuan untuk menggenggam dunia, tapi pada akhirnya harus puas dengan sebuah gudang bawah tanah. Dengan demikian jelaslah, Hantu Opera tersebut patut dikasihani."


Judul: The Phantom Of The Opera
Pengarang: Gaston Leroux
Penerbit: Serambi
Penerjemah: Istiani Prayuni
Cetakan: Februari 2010
Halaman: 485 hlm.

Friday, December 24, 2010

Si Cantik Dari Notre Dame

Entah mengapa buku ini harus diberi judul Si Cantik dari Notre Dame, bukannya Si Bungkuk dari Notre Dame sesuai judul buku aslinya karangan Victor Hugo: The Hunchback of Notre Dame. Mungkinkah karena alasan komersiil? Karena "cantik" lebih bernilai jual daripada "bungkuk"? Entahlah, tapi nyatanya buku ini adalah versi terjemahan dari kisah legenda yang terkenal tentang sebuah gereja di Paris, Notre Dame.

Di akhir abad ke 15 terdapat 2 golongan yang berseberangan di Paris. Kaum penguasa, gereja dan borjuis di satu sisi, dan golongan masyarakat bawah termasuk gelandangan dan kaum gipsi. Di jaman itulah Claude Frollo yang pandai, suka belajar, dan ambisius hidup sebagai yatim piatu sambil membesarkan adik yang sangat dikasihinya, Jehan Frollo. Suatu hari ia melewati seorang bocah yang diletakkan di depan gereja untuk dipungut siapapun yang berminat. Sayangnya penampilan anak itu sangat mengerikan. Wajahnya seperti monster yang sangat buruk dan tubuhnya berbonggol-bonggol dengan tulang punggung bengkok. Semua orang ngeri dan menganggap bocah itu jelmaan setan. Semua, kecuali Claude Frollo. Tanpa pikir panjang, dipungutnya bocah itu lalu dipelihara dan dididik.

Tak ada orang yang tahan memandang Quasimodo, begitulah si monster dinamai sesuai dengan hari saat ia dipungut, apalagi bergaul dengannya. Semua orang bahkan membencinya. Hanya Claude Frollo yang menganggapnya manusia. Tak heran, ia begitu mengasihi, memuja ayah angkatnya itu begitu intens. Saat Claude Frollo menjadi wakil uskup, Quasimodo menjadi pemukul lonceng di gereja Notre Dame serta tinggal di gereja itu bersama ayah angkatnya. Gereja itu menjadi surganya, dan lonceng-lonceng gereja menjadi pusat hidup dan kebahagiaannya. Meskipun belakangan, justru lonceng-lonceng itu pula yang merenggut hal yang sangat berharga baginya, yakni pendengarannya. Ya, ia menjadi tuli karena terlalu sering mendengar dentangan lonceng yang sangat keras...

Sedangkan di luar dinding-dinding gereja yang tinggi itu, hiduplah seorang gadis gipsi yang sangat cantik, pandai menyanyi dan menari dengan rebananya, serta berpembawaan riang. Dialah La Esmeralda yang selalu didampingi kambing cerdik bernama Djali. Kecantikannya yang segar dan alami membuat kaum pria dari berbagai golongan terpesona padanya. Ada Gringoire sang filsuf dan penyair yang ditolong Esmeralda dari tiang gantungan dengan menjadikannya suami platonis. Ada juga seorang perwira kerajaan yang tampan dan playboy, yang seharusnya sudah bertunangan namun masih saja melirik gadis lain, bernama Phoebus. Bahkan Quasimodo si buruk rupa nan tuli itu juga terpesona pada kesegaran Esmeralda. Namun yang paling mengherankan justru pengagumnya yang datang dari dalam gereja! Sang wakil uskup, yang seharusnya hidup selibat, malah memiliki hasrat yang besar terhadap Esmeralda....

Bagaimana dengan Esmeralda sendiri? Seperti layaknya kisah-kisah romantis lainnya, ia justru jatuh cinta pada pria yang tak sungguh-sungguh mencintainya, Phoebus. Betapa ironisnya cinta itu ya? Cerita lalu berpusar-pusar pada tokoh Esmeralda ini. Esmeralda yang selalu membawa kantung kecil bermanik di sekeliling lehernya, Esmeralda yang selalu menjaga kesuciannya karena bila ia ternoda, ia diramal takkan bisa bertemu dengan ibunya yang tak pernah ia temui. Esmeralda yang rela menikahi Gringoire karena iba, meski harus memaksa Gringoire berjanji untuk tak menyentuhnya. Esmeralda yang ditangkap dan akan dihukum gantung. Esmeralda yang diselamatkan. Esmeralda yang dituduh melakukan pembunuhan, dan seterusnya. Bahkan Esmeralda juga membuat kaum gipsi dan gelandangan menyerbu gereja di tengah malam buta. (mungkin saja pemilihan judul versi terjemahan ini justru lebih tepat ya, karena jelas pusat kisah ini adalah si cantik Esmeralda).

Lewat kisah ini, Victor Hugo mengajak kita untuk memahami berbagai makna cinta. Cinta platonis milik Gringoire, yang puas hanya dengan memandang keceriaan istrinya (dan malah lebih cinta pada kambingnya, Djali...). Cinta palsu milik Phoebus yang hanya terpikat pada kecantikan lahiriah semata, dan secepat cinta itu datang, secepat itu pula ia tergantikan. Cinta penuh napsu dan obsesif milik Claude Frollo sehingga ia rela melakukan apa saja yang berpotensi mencoreng namanya dan gereja, demi menghalangi pria manapun menyentuh Esmeralda-nya. Atau cinta murni milik seorang Quasimodo. Cinta yang tak ingin memiliki, hanya ingin melindungi. Cinta yang membuatnya cukup hanya memandang dari jauh, dan tak pernah menuntut balasan apapun.

Victor Hugo juga membukakan mata kita terhadap cinta terhadap sesama manusia. Betapa mudahnya orang mengkotak-kotakkan manusia lain hanya karena derajat. Bagaimana orang gipsi dianggap jahat dan mistis, bagaimana orang yang penampilannya berbeda dengan kebanyakan yang lain dianggap bukan manusia, jelmaan setan, jahat, kejam seperti binatang. Betapa mengerikan akibat yang ditimbulkan manusia kala ia tak mau melihat ke kedalaman hati, melainkan hanya pada penampilan luar. Kisah di buku ini membuktikannya.

Akhirnya, aku juga sadar bahwa jatuh ke dalam dosa itu begitu gampangnya. Bahkan Claude Frollo yang pemikir dan logis, yang sejak kecil religius, yang dulu mengasihi adiknya dan memungut Quasimodo karena kasih, mampu menjadi pribadi yang berbeda saat ia membiarkan hasrat menguasai dirinya. Maka dosa itu bukan soal 'siapa', namun lebih pada 'bagaimana'. Bagaimana kita menyikapi suatu keadaan. Bagaimana kita menentukan pilihan. Bagaimanapun, hidup ini selalu mengenai pilihan kan? Sama seperti anda yang bebas memilih, cukup puas dengan membaca resensiku, atau mau membaca buku yang indah ini sendiri....

NB:

1. Kalau anda memilih yang terakhir, Vixxio bisa membantu anda mendapatkan buku ini dengan diskon 20% di: Si Cantik Dari Notre Dame.

2. Kalau anda merasa bosan dan bingung di bab-bab awal, jangan menyerah! Karena makin ke belakang, anda akan menemukan keindahan yang sesungguhnya kisah ini. Aku hampir saja melewatkannya, jangan sampai anda juga!

3. Salut pada penerbit Serambi yang mampu menyajikan terjemahan apik pada karya sastra seindah milik Victor Hugo. Namun sayang, ada beberapa halaman yang tak tertata dengan baik. Ada paragraf yang terulang, ada halaman yang tak menyambung (meloncat) dengan halaman berikutnya, dan ini lumayan mengganggu keasyikan membaca. Semoga itu hanya terjadi di eksemplar yang aku beli saja ya...

Monday, August 9, 2010

Trio Musketri

Aku ingat, aku amat bersemangat saat pertama kali melihat cover buku ini! Trio Musketri adalah versi terjemahan dari sebuah kisah patriotik karya Alexandre Dumas: The Three Musketeers.

Saat aku kecil, kira-kira ketika aku duduk di bangku akhir SD, orang tuaku pernah memberiku sebuah buku lumayan tebal, yang isinya (kalau tak salah mengingat) 3 cergam klasik. Salah satunya yang paling menjadi favoritku adalah The Three Musketers. Three Musketeers adalah julukan 3 orang (dan selanjutnya ditambah seorang lagi) ksatria pengawal dan pembela Raja Perancis, yang waktu itu (sekitar tahun 1800-an) dikisahkan dijabat oleh Louis XIII.

Sebelum merobek plastik pembungkus buku Trio Musketri ini, aku mengingat-ingat nama ke-empat musketri itu. Ah ya...Athos, Porthos, Aramis, dan yang termuda dan terakhir bergabung: D'Artagnan. Dan aku jadi teringat semboyan yang selalu mereka ucapkan saat hendak bertarung bersama: one for all, and all for one (atau kebalikannya ya?..). Semboyan itu mereka ucapkan sambil mereka membentuk formasi lingkaran, dan saling menyentuhkan ujung pedang masing-masing ke bawah. Yang membantuku mengingat lebih baik, adalah sebuah film yang pernah aku tonton 2 kali, yang mengambil kisah three musketers ini, yaitu: The Man With The Iron Mask yang dibintangi oleh si ganteng Leonardo Di Caprio, sebagai raja Louis, serta Gerard Depardieu yang menjadi salah satu musketers (kalau tak salah Porthos...).

Pada jaman Raja Louis XIII bertakhta, ada 2 kekuatan yang secara tak langsung menguasai negara Perancis. Di satu pihak ada Raja, yang notabene harusnya menjadi penguasa dan pemimpin tertinggi, dan di lain pihak ada Kardinal (pemimpin di Gereja Katolik, setingkat di bawah Paus). Raja Louis XIII adalah sosok yang tak terlalu tegas, dan sering mudah dipengaruhi. Sedangkan Kardinal Richeliu adalah sosok yang ambisius, pandai dan berani, yang sering mempengaruhi Raja demi kepentingannya sendiri. Kedua kubu ini memiliki pasukan pengawal pribadi masing-masing. Di kubu Louis XIII ada kelompok musketri, di mana ada 3 orang ksatria yang paling menonjol, hebat dalam bermain pedang, cerdas, sekaligus amat setia pada Raja dan negara. Namanya Athos, Porthos dan Aramis. Sedangkan Kardinal memiliki pasukannya sendiri juga. Di antara antek-anteknya, ada seorang wanita cantik nan kejam yang amat pandai dalam membuat rencana dan merayu pria. Namanya Milady.

Dalam situasi seperti itulah D'Artagnan muda yang berasal dari desa, berani, terang-terangan dan pemarah, datang ke ibukota untuk melamar menjadi anggota musketri. Sebelum ia benar-benar diterima, ia sudah tanpa sengaja membuat gara-gara dengan 3 orang dari para musketri. Dan seperti layaknya kebiasaan para ksatria saat itu, D’Artagnan akhirnya ditantang berduel oleh ketiga musketri itu pada waktu yang berbeda, meski penyebabnya hanyalah hal remeh-temeh.

Ketika D’Artagnan datang ke lokasi duel, ia baru menyadari bahwa ketiga musketri yang menantangnya itu adalah Trio Musketri yang termasyur itu. Dari sanalah akhirnya mereka berempat menjadi sahabat yang tak terpisahkan.

Trio Musketri sangat mengasyikkan dibaca, karena selain alurnya yang cepat, seringkali tingkah kocak ketiga musketry menarik juga diikuti. Tokoh sentral di kisah ini memang D’Artagnan. Karena selain ia terbukti sosok dengan karakter pemberani dan cerdik, hingga ia diincar oleh Kardinal Richeliu untuk direkrut, ia juga seorang pemuda yang gagah dan tampan sehingga beberapa kali terlibat kisah asmara. Cintanya yang pertama dan paling langgeng adalah dengan Constance, si penjahit yang sering menjadi suruhan Ratu.

Selain politik, yakni perseteruan Prancis dan Inggris, kisah ini juga dibumbui dengan kisah percintaan yang menjadi skandal antara Ratu dengan Duke of Buckingham, bangsawan Inggris. Skandal inilah yang diincar oleh Kardinal untuk menghancurkan Duke of Buckingham. Namun berkat kecerdikan D’Artagnan dan trio musketri, rencana yang dilancarkan oleh Kardinal bekerja sama dengan Milady dapat dipatahkan.

Kecerdikan dan kekejaman Milady juga menjadi salah satu pewarna dalam kisah ini. Apalagi setelah D’Artagnan jatuh ke pesona kecantikan Milady, dan sempat jatuh cinta sesaat pada wanita ini, yang sebenarnya hanya ingin memperalat D’Artagnan. Hebatnya, dalam setiap jatuh bangun masing-masing musketri, ketiga sahabatnya akan siap untuk membantu. Makanya, sangat pas dan dalam arti semboyan yang mereka usung: One for all, and all for one.

Pada akhirnya, kita dapat belajar banyak tentang adat dan kebudayaan di Prancis saat abad ke 18, dengan sikap para ksatrianya yang menyelesaikan masalah dengan duel, dan intrik-intrik politik yang menghalalkan segala cara, juga kisah cinta yang menyentuh, serta persahabatan, patriotik, kesetiakawanan dan kesetiaan pada sahabat, raja dan negara. Sungguh-sungguh bacaan yang menggugah, mendidik sekaligus menghibur!

Judul buku: Trio Musketri
Pengarang: Alexandre Dumas
Penerbit: Serambi

Friday, July 23, 2010

The Secret Garden

Entah mengapa aku selalu suka membaca buku anak-anak. Bukan buku dongeng macam Cinderella atau Sleeping Beauty yang bagus untuk imajinasi, tapi ternyata juga membawa anak berpikir bahwa hidup itu (terlalu) mudah. Aku lebih suka membaca kisah anak klasik, seperti The Secret Garden yang ditulis oleh Frances Hodgson Burnett.

Secret garden, taman rahasia. Hmmm…belum-belum imajinasiku sudah terbawa pada suasana segar, indah, dan nyaman ketika mendengar ‘taman’. Apalagi ada kata ‘rahasia’ juga. Bukankah misteri selalu menjadi salah satu kelemahan manusia? Maka, meski ada begitu banyak buku lain yang menggodaku, The Secret Garden akhirnya menang! Buku inilah yang akhirnya kubeli, meski mamaku yang belanja buku bersamaku mengernyit ketika melihat cover-nya yang memang kekanak-kanakan…

Namun…semuanya terbayar sudah. Karena membaca The Secret Garden benar-benar memberikan pengalaman membaca yang sesungguhnya. Untaian kata dan kalimat yang enak dibaca, rasa nyaman ketika imajinasi terbawa pada suasana taman dan kebun yang asri, juga alur cerita yang senantiasa terjaga dengan apik.

The Secret Garden bercerita tentang seorang anak perempuan bernama Mary yang terbiasa dimanja dan dipuja semenjak kecil, sehingga tumbuh menjadi gadis cilik yang masam, sinis, egois, dan manja. Hingga pada suatu hari ia tiba-tiba menjadi yatim piatu akibat sebuah wabah kolera yang merenggut seluruh keluarganya tanpa terkecuali. Ia pun dibawa kepada salah seorang kerabatnya yang memiliki rumah amat besar, yang berkamar kira-kira seratus, padahal hanya ditinggali beberapa orang saja.

Pamannya yang kaya itu dulu memiliki istri yang manis, ceria dan amat cinta pada tanaman. Sang istri pernah memiliki sebuah taman mawar yang asri di belakang rumah mereka. Setiap hari almarhum istrinya itu akan duduk di taman mawar dan merawat setiap bunga dan tumbuhan dengan penuh cinta. Hingga akhirnya ia meninggal dunia gara-gara melahirkan putra mereka.

Sejak saat itu sang suami yang amat berduka, menutup diri sekaligus menutup taman itu selama-lamanya, dan mengacuhkan putra mereka yang masih bayi, karena menganggap si bayi itulah yang menyebabkan istrinya meninggal.

Pada suatu hari, Mary yang tak punya teman dan kesepian berjalan-jalan di kebun nan luas dan berkenalan dengan seorang tukang kebun yang sedang bekerja. Dari beliaulah Mary mendengar bahwa ada sebuah taman rahasia yang telah tertutup selama 10 tahun dan kuncinya tersembunyi entah dimana. Sebuah misteri…itulah yang menggerakkan hati Mary untuk berusaha membuka dan menemukan jawabannya: Di manakah letak taman rahasia itu? Apa yang ada di dalamnya?

Aku ingat, dirikupun terbawa ketegangan ketika Mary akhirnya menemukan letak taman itu dan kuncinya yang dipendam di dalam tanah, serta akan segera membuka pintunya. Apa yang ada di balik pintu itu yah?.... Bagaimana rupa taman rahasia itu, yang sudah 10 tahun tak pernah dirawat? Ketegangan yang terasa manis, bukan penuh ketakutan seperti ketika membaca kisah horror, atau yang membuat jantung berdetak lebih cepat seperti ketika membaca buku Agatha Christie.

Taman itu ternyata cukup indah meski tak terawat. Mungkin justru karena keliarannya lah yang membuatknya semakin eksotis. Memang aku tak melihatnya sendiri, namun Frances benar-benar mampu menggambarkan semua sulur-sulur mawar yang bertautan satu sama lain, tak tertata namun justru tampak natural. Dan ajaibnya, taman itu mampu membawa perubahan pada diri Mary. Ia menjadi lebih bahagia, dan itu turut mengubah sifatnya yang sinis, egois dan manja. Sedikit demi sedikit Mary tumbuh menjadi anak yang bahagia dan normal.

Semangat Mary menular pada Colin, saudara sepupunya, atau bocah laki-laki yang tak dicintai oleh ayahnya, yang adalah paman Mary. Begitu menemukan taman rahasia itu, Colin pun memiliki semangat hidup yang sebelum ini benar-benar padam.

Apa yang menyebabkan semua perubahan itu? Benarkah itu karena ‘sihir’ seperti yang dipikirkan Colin? Tentu bukan sihir ala nenek sihir atau ilmu hitam. Sihir itu adalah mukjijat yang datang dari Sang Pencipta. Bukankah justru dari alamlah kita bisa mengenalNya? Mengagumi hasil karyaNya? Maka di alam jugalah kita paling dapat merasakan kehadiranNya. Itulah ‘sihir’ yang mengubah dua anak yang tidak bahagia dan judes menjadi sosok anak-anak yang penuh kasih.

Itulah yang juga membuatku suka pada buku ini. Ditambah pula dengan banyak deskripsi Frances tentang keindahan alam. Seekor burung Robin misalnya, yang begitu bersahabat dengan manusia, dan hewan-hewan lucu lainnya yang menjadi kawan Dickon, seorang anak pecinta alam.

Buku ini memang bagus untuk anak-anak. Karena di sana mereka akan belajar mencintai alam, juga memahami arti kasih pada keluarga dan sesama. Dan tentu saja, pada akhirnya mencintai Sang Pencipta yang setiap detik menyediakan ‘sihir’ mukjijatnya di dunia ini.

Judul : The Secret Garden
Pengarang: Frances Hodgson Burnett
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 320 hlm
Harga: Rp 35.000

----

Ulasan buku ini kupersembahkan dalam rangka Hari Anak Nasional tahun ini yang jatuh tepat pada hari ini: 23 Juli 2010. Mari kita sediakan bacaan-bacaan yang bermutu bagi pertumbuhan anak-anak Indonesia, generasi penerus kita!

Saturday, March 6, 2010

The Heart Is A Lonely Hunter

Judul itulah yang pertama-tama membuatku tertarik pada buku ini. Judulnya unik, tak seperti judul novel yang sering terdengar begitu indah, namun ketika dibaca ternyata tak benar-benar sesuai dengan isinya. Judul buku ini sebaliknya, sudah merupakan sebuah kebenaran yang tampaknya ingin disampaikan oleh si penulis. Alasan kedua aku naksir buku ini adalah gambar covernya (who says you musn't judge a book from its cover? I do it all the time!). Entah kenapa aku selalu jatuh cinta pada lukisan-lukisan yang ada cafe-nya seperti ini (padahal tak terlalu suka ngafe coz ngabis-ngabisin duit!).

Namun yang membuat aku memutuskan untuk membelinya justru karena ada tanda "Oprah's Book Club" di pojok kiri bawah. Oprah Winfrey (pasti anda tahu siapa dia kan?) memang membuat program book club yang biasanya membahas buku-buku bermutu macam Bumi Yang Subur-nya Pearl S. Buck. Jadi, kalau sebuah buku pernah dipilih oleh Oprah's Book Club, maka pastilah buku itu buku yang berbobot.

Meski penulisnya, Carson McCullers bukanlah penulis best seller, namun ia disebut-sebut sebagai penulis prosa terbesar yang pernah dihasilkan di Amerika Selatan. Dan di buku ini, yang adalah karya pertamanya, ia mampu menyoroti masalah-masalah rasial dan sosial dengan sentuhan yang halus.

Sesuai judulnya, buku ini bercerita tentang orang-orang yang kesepian. Kesepian itu bukan berasal dari kesendirian secara fisik, melainkan lebih banyak dari hati. Buku ini pertama-tama mengajarkan kepadaku bahwa kita boleh saja hidup bersama-sama banyak orang pada suatu waktu, namun itu tak menutup kemungkinan kita merasakan kesepian. Kesepian di tengah keramaian, mungkin adalah ungkapan yang paling cocok disematkan pada kelima tokoh utama di buku ini: Pak Singer, Mick, Pak Blount, Biff dan Dokter Copeland. Masing-masing membawa beban hidupnya sendiri-sendiri, kerinduan dan ambisi yang tak terpenuhi sehingga menimbulkan kesepian yang menyiksa.

Pak Singer adalah benang merah semua orang itu. Ia adalah pria tunarungu-tunawicara yang hidup tanpa keluarga di sebuah kota. Meskipun cacat, ia mampu bekerja dan berkomunikasi dengan orang lain dengan membaca bibir dan menuliskan apa yang ingin dikatakannya dengan bantuan buku notes kecil dan pensil warna peraknya. Awalnya hidupnya tenang dan bahagia. Ia berbagi kamar yang disewanya bersama seorang tunarungu-wicara lainnya, seorang Yunani gendut yang doyan makan bernama Antonapoulos.

Lucu juga mengikuti persahabatan Singer-Antonapoulos ini. Antonapoulos adalah orang yang semau-gue, manja, dan kemauannya harus selalu dituruti. Mungkin ini memang sifat bawaannya, namun mungkin juga akibat benih-benih penyakit jiwa yang belakangan membuatnya harus tinggal di rumah sakit jiwa. Singer begitu menyayangi sahabatnya ini dan boleh dibilang Antonapoulos benar-benar belahan jiwanya. Meski Antonapoulos lebih banyak diam dan hanya memandangi Singer ketika sahabatnya itu menceritakan kesehariannya di tempat kerja dengan isyarat tangan, namun Singer tak pernah marah. Ia tetap saja senang bercerita.

Hingga saat tingkah Antonapoulos makin aneh, menjengkelkan dan menguras uang tabungan Singer, Singer tak pernah dendam padanya. Dengan sabar Singer mengurusinya, meski Antonapoulos tak pernah membalas perhatiannya itu. Saat Antonapoulos harus meninggalkan kamar sewaan mereka berdua untuk pindah ke rumah sakit jiwa, hati Singer menjadi hampa. Seolah sebagian dirinya direnggut dengan paksa oleh keadaan.

Sejak itulah ia menyewa sebuah kamar di rumah Mick, gadis belasan tahun yang memiliki obsesi terhadap musik klasik dan piano. Si gadis begitu tergila-gila pada Singer yang dianggapnya satu-satunya orang yang mengerti tentang kerinduannya pada musik. Lalu pada suatu peristiwa Singer pernah menolong Jake Blount, sang sosialis yang pemabuk berat dan punya obsesi menyadarkan dunia pada keburukan kapitalisme yang menciptakan jurang antara yang kaya dan yang miskin. Sejak itu Blount sering berkunjung ke kamar Singer. Lalu ada juga Biff Brannon, sang pemilik cafe New York (yang menjadi gambar cover buku ini), tempat makan Singer sehari-harinya, yang ditinggal mati istrinya dan merasa kesepian.

Tokoh terakhir adalah Dokter Copeland, seorang dokter kulit hitam yang terobsesi untuk memerdekakan kaumnya yang saat itu masih tertindas. Keempat teman-teman barunya ini secara berkala dan bergantian sering datang ke kamar Singer. Mereka bisa mencurahkan isi hati dan uneg-uneg mereka kepada si bisu. Dan Singer akan mendengarkan (atau sebenarnya membaca bibir mereka) mereka, sambil memberikan seulas senyum dan tatapan mata yang bersahabat dan bersimpati. Kadang-kadang ia akan menyuguhi tamunya makanan kecil atau kopi, lalu mereka makan bersama-sama. Kali lainnya mereka berdua hanya berdiam diri dalam kamar, di mana hanya terdengar suara desing kipas angin. Tatkala mereka berbicara, Singer akan asyik main catur sendirian, sambil tak lupa sesekali memperhatikan omongan tamunya.

Dan para tamu itu akan pulang dari kamar si bisu dengan perasaan lega, nyaman, dan puas. Mereka merasa didengarkan dan dimengerti, bahwa Singer adalah satu-satunya orang yang bisa memahami mereka. Maka hubungan mereka bagaikan matahari dan satelit-satelitnya. Meski anehnya, ketika suatu saat empat satelit itu kebetulan datang ke kamar Singer pada saat yang sama, suasana malah menjadi tegang.

Pada kenyataannya, seperti yang diceritakan Singer pada Antonapoulos dalam salah satu kunjungannya ke rumah sakit jiwa, Singer sebenarnya sama sekali tak mengerti apa yang dibicarakan dan perasaan teman-temannya itu. Lucunya, ia menceritakan itu kepada Antonapoulos yang kemungkinan besar juga tak mengerti ceritanya!

Maka kesimpulannya, pertama - kesepian yang datang dari hati lebih disebabkan karena orang merasa tak ada yang mau memberi perhatian pada minat atau pemikirannya, pada apa yang menurutnya penting. Saat itu, orang akan merasa benar-benar kesepian karena ia merasa sendirian di dunia ini, menanggung pengetahuan atau obsesi yang ia miliki dan tak dapat di-share-kan pada orang lain. Kedua, kadang tak perlu kita seratus persen mengerti dan menyetujui ide atau impian seseorang untuk membuatnya bahagia. Cukup seulas senyum dan sedikit perhatian yang tulus, mampu membuat orang lain merasa dihargai, sama seperti yang dilakukan Singer.

Hal paling indah dalam buku ini adalah persahabatan yang tulus dan penuh kasih Singer dan Antonapoulos. Persahabatan yang boleh dibilang hanya satu arah, namun seperti sifat dasar kasih yang rela berkorban meski tak terbalas, begitu juga persahabatan Singer kepada Antonapoulos. Bayangkan setiap hari bayangan sahabatnya itu selalu memenuhi pikiran Singer. Kasihnya pada sang sahabat tak pernah luntur maupun berubah, meski sering disakiti dan dikecewakan. Singer rela memberikan lebih daripada yang ia terima. Itulah kasih dan persahabatan sejati!

Akhirnya, buku ini memang bukan bacaan ringan, namun seperti kata salah satu komentar di buku ini: "Begitu buku diletakkan, pembaca akan merasa diperkaya oleh sebuah kebenaran". Ya, itulah yang terjadi padaku. Tepatnya diperkaya oleh kebenaran tentang persahabatan dan tentang hidup.

Judul buku: The Heart Is A Lonely Hunter (bahasa Indonesia)
Penulis: Carson McCullers
Penerbit: Qanita
Harga: Rp 60.775,- (toko buku online)
Rp 36.000,- (Vixxio)

Monday, August 17, 2009

Anne of Green Gables

Ini adalah tentang kehidupan yang indah, penuh warna, menggairahkan, dan penuh cinta. Itulah kesan yang kudapat selama membaca buku ini. Buku yang bercerita tentang si yatim piatu berambut merah yang berpembawaan ceria, ceriwis, begitu mencintai alam, dan memiliki daya imajinasi yang tinggi dan hidup. Semangat dan keceriaannya cenderung meluap-luap, dan kehadirannya selalu membuat orang di sekitarnya gembira. Itulah Anne.

Awalnya, Avonlea adalah sebuah dusun pertanian kecil dengan pemandangan yang indah, namun dengan kehidupan yang biasa-biasa saja. Terutama di pertanian Green Gables yang dihuni oleh kakak beradik yang sudah setengah baya, Matthew dan Marilla Cuthbert. Mereka berdua tidak menikah, dan rumah mereka terasa sepi dan dingin. Sampai suatu ketika, Mrs. Rachel Lynde melihat sesuatu yang aneh. Pagi-pagi benar Matthew Cuthbert pergi naik kereta dengan berkemeja rapi. Di desa yang kecil, di mana kehidupan penghuninya sudah terjadwal, perginya Matthew membuat heran Mrs. Rachel. Maka ia mengunjungi Marilla. Dan dari mulut Marilla meluncurlah berita heboh: Matthew pergi ke stasiun menjemput seorang anak lelaki dari Panti Asuhan!

Ya, Matthew butuh seseorang untuk membantunya di pertanian, maka mereka titip pesan pada Mrs. Spencer untuk membawakan seorang anak lelaki dari panti asuhan. Pagi itu, ketika Matthew tiba di stasiun, yang ia dapati hanyalah seorang anak perempuan berpakaian lusuh, wajah pucat berbintik-bintik dan rambut merah. Rupanya ada kesalahpahaman dengan Mrs. Spencer! Tapi, si anak perempuan sudah terlanjur kegirangan mengetahui bahwa ada keluarga yang menginginkannya, sehingga ia tak perlu menetap di panti. Maka, diajaknyalah si anak perempuan itu pulang oleh Matthew. Sebagian karena ia tak tega meninggalkannya begitu saja di stasiun, dan sebagian lagi karena karakter unik si anak perempuan.

Bayangkan, sepanjang perjalanan naik kereta itu ia menyerocos terus. Begitu melihat pohon ceri dan birch yang berbunga putih menjulur agak rendah ke jalan, Anne bisa membayangkan cadar halus putih seorang pengantin! Benar-benar imajinasi yang hebat! Dan itulah yang akan anda baca dan rasakan di sepanjang buku ini.

Awalnya, Marilla tak dapat menerima kehadiran Anne. Namun, mau tak mau diakuinya juga bahwa Anne telah sedikit demi sedikit memberi warna dalam kehidupannya yang tadinya membosankan. Maka akhirnya Marilla pun luluh, dan berniat tetap mengadopsi Anne. Anne begitu bahagia dengan keputusan itu, dan ia berusaha keras untuk memuaskan Marilla. Masalahnya, ia terlalu banyak berkhayal. Ketika disuruh melakukan tugas rumah tangga, ia begitu rajin awalnya. Namun, di tengah-tengah pekerjaannya pikirannya akan melantur kemana-mana saat ia memandang ke arah pepohonan, misalnya. Dan akhirnya ada saja tugas yang ia lupakan.

Waktu Anne mulai masuk sekolah, Marilla menjahitkannya gaun-gaun yang amat sederhana (dan membosankan buat anak kecil). Padahal yang diinginkan Anne adalah gaun dengan lengan model menggelembung yang waktu sedang populer.

Lalu Anne menemukan seorang sahabat, yang ia sebut sebagai ‘belahan jiwa’, seorang anak bernama Diana. Rumah Diana terletak di pertanian di seberng Green Gables, tapi jendela kamar tidur Diana bisa dilihat oleh Anne dari kamarnya sendiri. Kedua gadis kecil ini sering mengirimkan isyarat berupa kilatan sinar senter (mirip kode morfe). Kalau salah satu dari mereka melihat signal ini, maka ia akan segera bergegas ke rumah yang lain, karena pasti si pengirim signal memiliki berita penting untuk diberitahukan pada yang lain.

Begitulah, kedatangan Anne ke Avonlea ternyata membawa banyak perubahan pada hidup di sekitarnya. Ia adalah virus keceriaan di sebuah dusun yang membosankan, warna-warna yang hidup pada selembar kain putih yang menjemukan. Anne adalah seseorang dengan emosi yang meluap-luap. Ia bisa menjadi sangat antusias pada suatu rencana yang indah, namun bisa dengan cepat menjadi putus asa saat keinginannya tak tercapai.

Ada seorang anak laki-laki bernama Gilbert Blythe yang cerdas tapi senang mengusili Anne. Anne jengkel sekali padanya ketika Gilbert memanggilnya ‘wortel’. Anne sangat sensitif kalau mengenai warna rambutnya yang semerah wortel. Ia bisa sangat tersinggung, seperti halnya reaksinya terhadap Gilbert. Alhasil, ia memusuhi Gilbert selama sekolah, dan bersaing dengannya dalam hal prestasi, karena ia dan Gilbert sama pintarnya di kelas.

Ketika sekolah hampir berakhir, dalam sebuah adegan ‘penyelamatan’ di sungai, Gilbert meminta maaf pada Anne bahwa ia dulu mengoloknya. Anne merasakan debaran aneh jantungnya, tapi harga diri yang tinggi membuatnya menolak mentah-mentah ajakan Gilbert untuk kembali berteman.

Pada akhir tahun pelajaran, mereka berdua (Anne dan Gilbert) beserta beberapa murid lain mengikuti ujian masuk ke Akademi Queen di kota. Sayangnya orang tua Diana tidak mengijinkan anak mereka untuk meraih jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Anne akhirnya menjadi nomor satu dalam ujian itu, dan ia pun bersiap-siap untuk melanjutkan pendidikan di Queen.

Di Queen, Anne belajar dengan tekun dan berusaha untuk melupakan home-sicknya. Ia mendengar bahwa Queen akan memberikan sebuah beasiswa Avery, untuk menempuh pendidikan di sebuah universitas di Inggris. Namun Anne lebih terpacu untuk mengejar medali emas. Dan di penghujung masa belajar di Queen, ketika Anne pulang untuk berlibur di rumah, ia begitu yakin akan masa depan cemerlang yang terbentang di depannya ketika ia ternyata justru memenangkan beasiswa Avery (sedang medali emasnya direbut saingan beratnya, Gilbert). Anne begitu bahagia terutama karena Matthew, yang sudah mulai menua dan sakit-sakitan, malam itu mengungkapkan pada Anne bahwa ia sangat bangga pada pencapaian Anne.

Namun, seperti dalam kehidupan manapun juga, duka itu datang dengan sangat tiba-tiba. Sang malaikat maut menjemput Matthew Cuthbert. Maka kini tinggallah mereka berdua, Marilla dan anak angkatnya, Anne. Apakah yang akan dilakukan Anne? Tetap pergi ke kota untuk meraih cita-cita tertingginya dan meninggalkan Marilla sendirian? Ataukah ia menemani Marilla dan melepas impiannya?

Apapun penutup kisahnya, Anne of Green Gables memang menyediakan keindahan dan kisah yang penuh cinta di setiap kata dan kalimatnya. Bukan sebuah masterpiece seperti To Kill A Mocking Bird atau Harry Potter, namun tetap sebuah bacaan yang akan membuat hati ini gembira demi melihat keindahan dan merasakan cinta!

Judul : Anne of Green Gables
Pengarang : Lucy Montgomery
Penerbit : Qanita, 2008
Harga : Rp 50.150,- (toko buku online)