Friday, April 29, 2011

Oliver Twist


Label “bocah malang” mungkin paling pas disematkan pada tokoh anak yatim piatu di Inggris yang hidup pada abad 19 rekaan Charles Dickens ini: Oliver Twist. Bagaimana tidak, begitu lahir dari hubungan orang tua yang tidak jelas (baca: di luar nikah), ia langsung menjadi yatim piatu. Ayahnya sudah lama pergi entah kemana, sedang ibunya yang ringkih meninggal tak lama setelah ia lahir. Nasib anak yatim piatu yang tak memiliki akar sejarah yang jelas amatlah menyedihkan pada jaman itu. Mereka berada di bawah pengawasan semacam Dinas Sosial yang dikelola oleh pemerintah, dan ditempatkan di Rumah Sosial yang dikelola warga dan ditunjang oleh pemerintah. Jangan berpikir bahwa mereka bisa hidup enak di sana. Kebanyakan rumah sosial itu justru tidak sosial sama sekali, mereka malah mengambil keuntungan dengan menyunat anggaran untuk makanan dan kebutuhan anak-anak itu dari anggaran sebenarnya yang sudah sangat kecil dari pemerintah. Alhasil, anak-anak itu menderita kurang gizi parah, belum lagi perlakuan tidak manusiawi seperti tempat tidur kumuh dan sempit, bekerja berat dan siksaan fisik menjadikan hidup anak-anak yatim itu semakin suram.

Di lingkungan seperti itulah Oliver Twist kecil tumbuh selama delapan tahun. Saking parahnya keadaan itu, Dickens menggambarkan rakusnya Oliver saat diberi makanan basi atau makanan anjing, karena makanan yang didapat di rumah sosial lebih parah lagi! Dickens mampu menggambarkan situasi suram itu dengan demikian hidup karena situasi itu memang nyata terjadi di London saat ia menulis kisah ini, dan konon Dickens sendiripun pernah menjadi pekerja anak-anak di masa kecilnya.

Oliver Twist sendiri nampaknya akan menghabiskan seumur hidupnya sebagai anak yatim piatu malang, kalau saja suatu hari ia tidak memberanikan diri memohon untuk mendapatkan tambahan makanan kepada staf rumah sosial. Tak dinyana, keberaniannya itu berbuah petaka bagi Oliver. Ia disebut sebagai berandalan cilik, dilaporkan kepada Dewan, yang akhirnya dalam sebuah sidang memutuskan Oliver harus “dibuang” dari pengasuhan mereka kepada siapapun yang mampu dan mau membelinya seharga lima pound. Bayangkan, minta tambah makanan (dari porsi yang memang tidak manusiawi) dengan memelas ternyata dianggap sebagai kejahatan besar! Betapa tak adil dan tak manusiawinya perlakuan mereka….

Akhirnya seorang pengusaha rumah kematian bernama Tuan Sowerberry mengambil dan mempekerjakan Oliver. Oliver pun diantar oleh Tuan Bumble, seorang pejabat Sekretaris Desa yang sok kuasa dan mata duitan. Awalnya semua berjalan lancar, bahkan Oliver sempat menjadi andalan bisnis Tuan Sowerberry. Hingga suatu hari ‘anak buah’ Tuan Sowerberry lainnya yang bernama Noah Claypole memancing gara-gara karena iri pada kemajuan karir si anak baru Oliver. Ia menghina ibu Oliver yang memang dicap ‘penjahat’ oleh masyarakat. Akibatnya, Oliver yang kecil dan lemah itu marah besar dan mampu menyerang dan memukuli Noah yang bertubuh lebih besar. Anda pasti dapat menduga kelanjutannya…lagi-lagi Oliver dicap sebagai berandalan dan penjahat cilik. Tak tahan menanggung semuanya, Oliver pun melarikan diri dari kediaman Sowerberry. Berkelana tanpa tujuan jelas, kelaparan dan tak memiliki tempat berteduh, dalam perjalanan Oliver sempat mengunjungi Dick, sahabatnya di rumah sosial dulu. Nasib Dick tak kalah menyedihkannya dibanding Oliver, namun alih-alih menangisi nasib sendiri, Dick justru menyemangati Oliver untuk melanjutkan hidupnya. “Tuhan memberkatimu” adalah kata-kata Dick yang menghidupkan harapan di hati Oliver.

Oliver melanjutkan perjalanan hingga tibalah ia di dekat batu penanda jalan (milestone) yang menunjukkan jarak 70 mil menuju London (yang menjadi gambar cover buku ini). Di titik ini Oliver memutuskan bahwa ia akan mengadu nasib di kota London. Tiba di London, Oliver yang kecapekan dan kelaparan tak disangka-sangka mendapat uluran tangan dari seorang pemuda yang baru dikenalnya. Sekali lagi…nasib baik belum berpihak pada Oliver. Karena pemuda yang menolongnya itu justru adalah penjahat dan pencopet bernama Artful Dodger yang dididik oleh Tuan Fagin, si raja pencuri!

Untuk sementara Oliver memiliki tempat berteduh dan makanan yang cukup untuknya melanjutkan hidup. Tapi, semua itu tak ia dapat secara cuma-cuma. Tuan Fagin menampungnya untuk dididik menjadi seorang pencopet cilik, menemani Dodger dan Charley Bates yang sudah duluan menekuni “bisnis” mendapatkan barang secara ilegal dengan mencopet dan mencuri. Awalnya Oliver yang polos tak menyadari kenyataan ini. Matanya baru terbuka saat ia diperbolehkan ikut “bekerja” bersama Dodger dan Bates. Oliver menyaksikan dengan ngeri bagaimana kedua rekan mudanya mencopet saputangan milik seorang pria terhormat yang sedang asyik membaca buku di sebuah lapak buku. Secara naluriah, Oliver langsung lari ketakutan dari tempat kejadian, terpisah dari kedua rekannya. Si tuan korban pencurian langsung mengejarnya karena mengira ia pencopetnya, dan segera diikuti oleh massa yang sengaja digerakkan Dodger dan Bates untuk menjauhkan mereka sendiri dari kecurigaan. Seperti biasa, yang paling lantang berteriak ‘maling’ pastilah si maling sendiri!

Dan sekali lagi nasib buruk menghampiri Oliver. Ketakutan, babak belur dipukuli massa, iapun dituduh melakukan kejahatan tanpa kesempatan membela diri dan dijebloskan ke penjara. Beruntunglah, pria terhormat korban pencopetan yang bernama Tuan Brownlow benar-benar layak menyandang gelar ‘terhormat’. Ia merasa Oliver tak bersalah, dan berkat kesaksian pemilik lapak buku tempat Tuan Brownlow kecopetan, yang menyaksikan sendiri kejadian itu, akhirnya Oliver dibebaskan dari penjara. Kini Oliver boleh bernapas lega. Ia dirawat dengan baik dan penuh kasih sayang oleh Tuan Brownlow dan pengasuh tua bernama Nyonya Bedwin. Di sini pula Oliver pertama kali mendapatkan siraman kasih yang seumur hidupnya yang kelam tak pernah ia rasakan.

Sayang, kebahagiaan itu hanya berumur jagung, karena Tuan Fagin dan gerombolannya tak kenal lelah berusaha mencari dan menemukan Oliver. Di sini mulai bermunculanlah satu per satu anggota komplotan Tuan Fagin. Mulai dari Nancy, gadis muda yang menaruh kasihan pada Oliver, Bill Sikes perampok kejam yang jadi kekasihnya, lalu ada juga seorang pria misterius bernama Monks yang tampaknya sangat membenci Oliver dan ingin menghancurkannya. Saat Oliver menunaikan amanat Tuan Brownlow untuk mengembalikan buku ke lapak buku, Oliver pun diculik oleh gerombolan Fagin dan sekali lagi ia harus mendekam di tempat kumuh yang kian tampak suram karena aura kejahatan yang meracuni udaranya. Sekali lagi Oliver dididik untuk menjadi penjahat, dan suatu hari dipinjamkan pada Bill Sikes yang ingin merampok sebuah rumah. Lalu bagaimana reaksi Oliver? Apakah pendidikan Tuan Fagin akan menampakkan hasilnya dan menjadikan Oliver sejahat yang lain? Atau berhasilkah ia tetap mempertahankan kesucian moralnya? Kalaupun yang terakhir yang terjadi, bagaimana ia dapat mengelak dari takdir gelap yang seolah mengejarnya kemanapun ia pergi? Lalu siapakah Oliver Twist sebenarnya? Sejarah kelam seperti apakah yang membuat nasibnya malang?

Ini adalah salah satu buku yang sayang untuk dilewatkan. Selain membawa kita menyaksikan potret buram kehidupan di kota besar abad 19, Dickens juga mau mengusik kemanusiaan kita. Bahkan di abad modern ini, masih banyak orang yang menancapkan stigma negatif pada orang-orang yang berbeda atau tidak sejalan dengan kebanyakan orang di masyarakat. Prasangka dengan mudahnya diletakkan ke atas seseorang tanpa terlebih dahulu menelusuri kebenarannya. Kita layak belajar dari Tuan Brownlow yang tidak serta merta setuju dengan pendapat Tuan Grimwig kawannya, yang yakin bahwa Oliver Twist pasti melarikan diri dengan uang dan buku yang dipercayakan kepadanya, serta takkan kembali dari lapak buku. Sebaliknya, ketika Oliver Twist memang tak kembali (meski tentu saja bukan karena hendak lari melainkan karena diculik), Tuan Brownlow berinisiatif melacak sejarah Oliver Twist.

Di bab-bab awal peran Oliver memang cukup mencolok dalam kisah ini. Namun di bagian-bagian selanjutnya, justru tokoh-tokoh lainlah yang menurutku lebih menonjol. Mungkin memang Dickens ingin mengupas tuntas tentang kejahatan dan kemunafikan yang ada di masyarakat saat itu. Tapi tetap saja itu membuatku kurang puas. Selain itu, aku merasa karakter Oliver Twist kurang menarik. Ia anak yang baik, sopan, ramah, penuh kasih, namun juga lemah lembut. Kubayangkan anak yang tumbuh sendirian di lingkungan yang keras akan menjadi anak yang keras juga, tangguh dan keras kepala. Menangis mungkin sudah tak masuk dalam kamusnya karena derita dan sakit hati pasti sudah biasa ia rasakan. Tapi Oliver ternyata gampang sekali tersentuh hatinya, dan tubuhnya sendiri lemah. Mungkin itu karena ekspektasiku sendiri sebelum membaca buku ini ya, atau memang Dickens memang ingin membuat perbandingan yang sangat mencolok antara sisi jahat dan sisi baik manusia, sehingga yang jahat dibuat sangat jahat dan yang baik menjadi sangat baik sehingga kurang manusiawi. Sekali lagi, ini hanyalah sebuah karya sastra, dan kita memang harusnya menikmatinya apa adanya kan?

Terakhir terima kasih pada Bentang Pustaka yang telah memilih novel yang telah lama kunantu-nantikan ini untuk diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Hanya sayang masih ada beberapa typo dan kesalahan penerjemahan. Salah satunya dalam kalimat ini: "Angin menggigit yang berkelebat di jalanan tampaknya telah mengosongkannya dari para penumpang....". Ada yang aneh dengan kata 'penumpang' disini yang tidak pas maksudnya. Mungkinkah ada kesalahan penerjemahan 'passager' (=pejalan kaki), keliru diterjemahkan sebagai 'passenger' (=penumpang)? Atau akukah yang kurang menangkap dengan baik?... Untunglah keanehan tadi tak mengurangi kenikmatan membaca cara bertutur Charles Dickens yang disampaikan dalam kalimat-kalimat panjang yang sarat arti!

Judul: Oliver Twist
Penulis: Charles Dickens
Penerjemah: Reni Indardini
Penerbit: Bentang Pustaka
Cetakan: Maret 2011
Tebal: 578 hlm

Monday, April 25, 2011

The Yearling

Yearling, menurut Wikipedia adalah hewan atau kuda muda yang baru meninggalkan masa kecil menuju masa dewasa. Masa muda, ingatkah anda akan masa-masa yang pernah atau sedang anda lewati itu? Masa-masa yang indah sekaligus membingungkan, karena pada masa-masa itu kita merasa seperti berada di puncak dunia. Lalu, baru saja kita merasa demikian, kitapun lalu dihempaskan pada kenyataan yang sesungguhnya. Hidup ternyata memang indah, namun tak pernah mudah. Kalau pengertian itu sudah kita dapatkan, berarti kita telah memasuki kedewasaan. Itulah yang ingin diungkapkan Marjorie Kinnan Rowlings dalam bukunya yang sangat indah ini: The Yearling.

Jody Baxter adalah seorang bocah lelaki yang sedang menanjaki usia remaja. Ia hidup di pertanian bersama Penny Baxter, ayahnya yang kurus ceking dan Ma Baxter yang gemuk. Keluarga Baxter hidup di pondok di dataran tinggi yang dikenal sebagai Pulau Baxter, yang sama sekali bukan pulau, melainkan lahan pertanian yang luas. Hidup bagi Jody sedang di puncak keindahan. Sebagai putra seorang penggarap ladang, ia mulai diajari bekerja meladang dan beternak. Namun karena usianya yang masih muda, tak berat tanggung jawab yang ia pikul sehingga ia pun merasa bebas untuk bermain dan bermanja di sela-sela pelajaran bertani dan berburu yang diberikan oleh Pa-nya, Penny Baxter.

Penny Baxter sendiri adalah sosok lelaki kurus kecil dengan mental sebesar beruang dan memiliki karakter kuat serta memegang teguh prinsipnya. Penny mengingatkanku pada papaku sendiri. Ia juga kurus meski lumayan tinggi. Namun, sama seperti Penny, Papa juga orang yang sangat kuat memegang prinsipnya akan kebenaran, kejujuran dan keadilan, sehingga kehidupan justru sering mengecewakannya. Di mata orang lain, terutama tetangga mereka: keluarga Forrester, bahkan juga di mata istrinya, Penny adalah pria yang (terlalu) lemah lembut dan tak berguna. Penny memiliki prinsip ia takkan membunuh hewan bila tak amat sangat membutuhkan atau bila hewan itu tak mengganggu keluarganya. Meski tahu bahwa daging atau kulit beruang mahal harganya bila dijual dan kesempatan untuk menembak sekawanan beruang terbuka lebar, ia hanya akan menembak secukupnya untuk makanan keluarganya untuk waktu tertentu. Penny percaya bahwa alam memiliki keseimbangannya sendiri, bahwa lebih baik membiarkan rusa tetap hidup, dan bahwa kalau ia harus mati, biarlah ia menjadi santapan hewan besar lainnya. Keluarga Baxter hanya mengambil apa yang mereka butuhkan untuk menyambung hidup, agar dengan demikian terjadi keseimbangan alam yang akhirnya juga akan mereka nikmati secara timbal balik.

Karakter Penny inilah yang teramat sangat dikagumi Jody, anak tunggal keluarga Baxter. Hal itu pula yang menyebabkan Jody sangat cocok dan dekat dengan ayahnya, tapi tak mampu memahami ibunya yang setelah berkali-kali kehilangan bayi, berubah menjadi manusia getir dan sinis. Jody pun makin sering berbagi waktu bersama ayahnya dalam perburuan beruang atau rusa yang mengasyikkan, juga berbagi ketertarikan pada alam dan hewan. Ayahnya juga yang mampu memahami rasa kesepian dalam diri Jody, kebutuhannya untuk memiliki seorang teman, yang akhirnya terkompensasi pada kehadiran seekor anak rusa yang bulunya berbintik cantik. Meski Ma Baxter tak menyetujui keinginan Jody memelihara anak rusa itu, namun ayahnya membela Jody. Maka kini bertambahlah satu anggota termuda keluarga Baxter: si anak rusa yang kemudian diberi nama Flag (karena ekornya yang selalu mengibas-ngibas seperti bendera kecil...).

Jody sangat menyayangi Flag. Ia yang selalu kelaparan dan bernafsu makan besar, malah bersedia mengorbankan susu jatahnya dan sebagian makan malamnya untuk diberikan kepada Flag, karena ibunya keberatan kalau harus memberi makan satu mulut lagi. Semakin besar Flag, semakin tak terpisahkanlah kedua anak muda itu: Jody dan Flag.

Sampai di sini anda mungkin heran. Bagaimana cerita yang terlihat amat sederhana itu bisa menjadi rangkaian kisah sepanjang 501 halaman? Ah...kekuatan utama buku ini memang bukan pada inti ceritanya, namun justru pada detailnya. Membaca The Yearling ini membuat kita merasa seakan pindah ke dunia lain, di abad yang lalu. Begitu anda membuka halaman pertama, anda akan langsung merasa tersihir oleh rangkaian kata-kata yang disemat menjadi untaian kalimat-kalimat indah yang mampu menggambarkan keindahan alam dan suasananya yang mempesona. Yang paling memukauku adalah adegan bangau menari yang secara tak sengaja disaksikan Penny dan Jody di suatu senja ketika pulang memancing. Penggambaran bias merah jambu matahari yang sedang tenggelam dan susana yang kurasakan hampir-hampir magis ketika para bangau memainkan bunyi-bunyian musik dan menari dalam sebuah lingkaran, ahh...seolah begitu nyata dan seakan aku dapat mendengar musik itu sendiri dan menyaksikan pertunjukan itu secara langsung.

Kalaupun ada alur yang agak dinamis dan menegangkan di buku ini, itu terjadi pada setiap perburuan. Perburuan ala Penny bukan perburuan liar yang hanya asal menghabisi saja. Penny memiliki insting yang sangat bagus dan pengetahuan tentang karakter hewan. Meski ia sendirian, ia dapat berhasil mendapatkan buruan karena insting dan kecerdikannya itu, dan dibantu juga oleh anjing pemburunya yang setia: Julia dan Rip. Hanya Slewfoot Tua, seekor beruang pincang yang amat cerdas yang nyaris mengalahkan Penny dan mungkin satu-satunya yang pernah membuat Penny begitu marah hingga hampir tak mampu berpikir jernih. Anda akan tak habis pikir, bagaimana si ceking Penny bisa memiliki keberanian begitu besar. Saat keluarga Forrester yang bermoral rendah dan sering bikin onar mengeroyok seorang pemuda, Penny pun berani melindungi si pemuda. Ia memang menjadi babak belur dan nampak konyol di depan istrinya, namun sesungguhnya sikapnya itu sungguh mulia: menolong siapapun yang diperlakukan dengan tak adil.

Sementara itu, dalam perjalanannya menjadi pria dewasa, Jody telah menyaksikan dan belajar tentang banyak hal. Tentang bagaimana masa lalu dapat mengubah seseorang, bagaimana seorang wanita dapat membuat dua orang pria rela bertarung hidup dan mati, bagaimana alam memberi seorang anak kemampuan intuisi yang tajam, namun di sisi lain mengambil daripadanya tubuh yang sehat dan menggantikannya dengan kecacatan. Namun mungkin pelajaran yang paling berharga yang ia dapat dari ayahnya, selain berburu dan bertani, adalah pelajaran tentang menjadi dewasa dan menghadapi kenyataan hidup, seperti yang diungkapkan oleh Penny:


"Semua orang ingin agar hidupnya indah dan mudah. Hidup memang indah, Nak, sangat indah, namun tidak mudah. Hidup akan menjatuhkan seseorang dan begitu orang itu bangkit, dia akan dijatuhkan lagi."

"Aku ingin agar hidupmu mudah. Lebih mudah daripada yang kualami. Hati seorang ayah sakit saat melihat anak-anaknya menghadapi dunia. Tahu bahwa mereka akan terluka, sama sepertinya... Lalu apa yang harus ia lakukan? Apa yang harus ia lakukan ketika jatuh? Tentu saja ia harus menerima hal itu dan melanjutkan hidup."

Nasihat yang sungguh indah dan mengena, yang lagi-lagi mengingatkanku pada surat Papa untukku saat aku berulang tahun ke 17. Hal yang sama seperti yang diajarkan Penny pada Jody. Bahwa hidup tak selalu mudah, meski toh di sana-sini kita akan boleh melihat beberapa keindahan. Ada saat-saat Penny dan Jody terluka atau kesakitan saat menghadapi hewan buruan, namun ada saatnya juga mereka menikmati pertunjukan bangau menari atau anak beruang main ayunan saat berburu. Sama halnya dengan hidup kita. Namun pada akhirnya, kita semua toh harus tetap menerima semuanya, dan melanjutkan hidup...

Akhirnya terima kasih pada Gramedia yang telah menghadirkan sebuah kisah klasik yang memukau( menjadi pemenang Pulitzer Price tahun 1939), dengan penerjemahan yang indah ini di ranah perbukuan kita. Kita telah boleh mereguk keindahannya, sekaligus memetik pelajaran berharga dari buku ini.

Judul: The Yearling
Pengarang: Marjorie Kinnan Rowling
Alih bahasa: Rosemary Kesauly
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Maret 2011
Tebal: 501 hlm

Monday, April 4, 2011

Of Mice And Men


Yang paling menarik dari buku ini adalah kalimat-kalimat pendek yang berhasil dirajut dengan indah oleh John Steinbeck menjadi sebuah kisah yang indah pula. Ini sebuah bukti bahwa untuk bertutur dengan indah, kita tak selalu butuh kalimat panjang yang penuh metafora. Inti kisahnya juga sederhana dan alurnya pun mengalir dengan nyaman.

Of Mice and Men bertutur tentang sepasang pengelana yang, meski amat berbeda satu sama lain, namun tetap memiliki saling keterikatan satu sama lain. George adalah pria bertubuh kecil yang cerdas namun nasib tak berpihak padanya untuk meraih sukses. Salah satu kendalanya adalah Lennie. Lennie, seorang pria dungu bertubuh besar, sangat memuja George. Ia selalu menuruti perkataan George dan begitu takut mengecewakan George. George sebenarnya merasa terbeban dengan keberadaan Lennie yang seolah mengikatnya, namun ia tetap menjaga dan melindungi Lennie.

Kedua pria ini tak dapat memiliki pekerjaan yang tahan lama karena Lennie yang dungu selalu mengacaukannya. Bukan dengan sengaja tentu saja, tenaganya menjadi sangat kuat ketika ia ketakutan, dan ia tak mampu mengendalikannya sehingga akhirnya membahayakan orang lain, dan juga masa depannya dan George. Sebenarnya George memiliki impian memiliki rumah sendiri di atas tanah sendiri dan hidup mandiri berdua Lennie. Ketika bertemu Candy, lelaki tua cacat di peternakan tenpat kerja baru mereka, tampaknya impian itu akan dapat terwujud. Candy yang galau akan masa depannya, ingin bergabung dengan mereka, patungan membeli tanah. Namun sebelum semuanya itu terwujud, banyak hal akan terjadi dan kemungkinan Lennie membawa kekacauan sangatlah besar. Dapatkah George menolongnya kali ini?

Kisah ini mengingatkan aku bahwa cinta itu butuh pengorbanan. Makin besar cinta kita, makin besar pula pengorbanan yang dituntut dari kita. Berjuang demi kesuksesan dan kebahagiaan orang yang kita cintai mungkin biasa, karena kelak kita akan mengalami kegembiraan bersamanya. Namun bagaimana dengan orang yang selalu membawa kesulitan dalam hidupnya? Mencintainya berarti bak terborgol tangan kita bersamanya sehingga ketika ia jatuh, kita tahu bahwa kita pun akan ikut jatuh. Dibutuhkan cinta yang sangat besar untuk tetap mencintai orang seperti itu. Ketika kita dapat dengan bebas memilih, dan kita meninggalkan impian kenikmatan demi cinta itu, itulah cinta sejati. Sulit? Sangat!

Buku ini sangat enak dinikmati, namun aku tidak setuju dengan ironi yang ditawarkan Steinbeck sebagai endingnya yang menurutku terlalu dangkal. Menurutku, kisah klasik ini akan dapat lebih menyentuh pembaca jika Steinbeck mau mengeksplorasi kedalaman cinta. Seringkali pemecahan masalah sesaat bukanlah jawaban segala prahara hidup ini. Masalah tak selalu dapat dipecahkan, namun cinta akan mampu membawa kita melewatinya dengan baik. Bukankah itu juga yang diteladankan Tuhan pada kita?

Jadi maaf saja John, aku hanya bisa memberikan tiga bintang saja pada karya klasik yang telah kautulis dengan begitu indah ini.. Bagi yang sudah membaca, silakan menanggapi penilaianku ini asal jangan sampai memunculkan spoiler bagi yang belum membaca ya...

Judul: Of Mice And Men
Pengarang: John Steinbeck
Penerbit: Ufuk
Cetakan: Desember 2009
Tebal: 238 hlm

Monday, March 28, 2011

60.000 Mil Di Bawah Laut

Atas nama ilmu pengetahuan, kupikir sangat tepatlah kalau aku bilang bahwa buku ini merupakan salah satu buku wajib baca hingga kapanpun! Kalau buku dikatakan sebagai kendaraan kita untuk menapaki imajinasi kita yang paling liar, maka buku ini adalah buktinya. Jangan salah menebak genre buku ini dari judulnya, karena buku ini bukanlah sebuah jurnal kelautan, meski mereka yang tertarik pada ilmu kelautan pasti mendapati banyak keasyikan di buku ini. Buku ini adalah sebuah fiksi yang dibaurkan dengan ilmu pengetahuan. Jules Verne berhasil menuangkan imajinasinya yang hebat ke buku ini dan mengajak kita berpetualang bersamanya.

Pada sekitar tahun 1866 terjadilah fenomena menggemparkan di lautan seluruh dunia tentang munculnya sesosok makhluk yang sangat besar, yang mampu berenang dengan kecepatan tinggi, badannya sangat keras sehingga tak mempan oleh senjata, namun sangat besar kemampuannya melubangi lambung kapal layar hingga membuatnya tenggelam. Banyak insiden terjadi di beberapa laut, dan seperti biasanya, cerita maupun legenda itu lalu menjadi puluhan versi yang simpang siur dan akhirnya diragukan orang sebagai suatu fakta.

Adalah seorang ilmuwan kelautan bernama Profesor Aronnax dari Prancis yang mendapatkan kesempatan emas untuk turut serta berlayar dengan kapal Abraham Lincoln yang berbendera Amerika Serikat. Kapal ini membawa misi besar: menemukan dan menghabisi monster laut yang telah menjadi momok di lautan dan meresahkan semua negara, yang saat itu dijuluki dengan: Narwhal. Aronnax didampingi oleh asistennya yang setia dan berkarakter tenang dan sopan: Conseil. Tokoh ketiga adalah Ned Land, orang Kanada yang terkenal sebagai pembunuh ikan paus dengan senjata harpun (semacam tombak) yang paling ulung. Ia turut serta karena monster laut itu diperkirakan sejenis mamalia berkulit keras yang dalam dunia sains disebut cetacean.

Abraham Lincoln memang akhirnya "bertemu" dengan monster laut itu, namun 100% meleset dugaan semua orang, si cetacean raksasa itu ternyata bukanlah mamalia, melainkan sebuah kapal selam!

Sayangnya, atau dalam beberapa hal boleh dibilang untungnya, fakta itu terungkap setelah Aronnax, Conseil dan Ned Land terlempar dari Abraham Lincoln pada saat mereka sedang menyerang si kapal selam. Mereka bertiga terlempar ke laut, dan akhirnya ditolong oleh si kapal selam yang dijuluki Nautilus, milik seseorang misterius bernama Kapten Nemo.

Nautilus adalah kapal selam misterius. Bukan milik pemerintah negara manapun, namun milik Kapten Nemo pribadi. Siapakah sosok Kapten Nemo sendiri terselubung kabut pekat misteri yang hanya terkuak sedikit di akhir kisah. Yang jelas, Kapten Nemo telah membangun sebuah kapal selam berteknologi super canggih yang memungkinkan ia serta awak kapalnya tak perlu menginjakkan kaki lagi untuk selamanya di daratan. Ya! Nautilus dibangun untuk menjadi rumah mereka semua di lautan yang luas ini, di mana tak ada hukum yang dapat menghalangi kebebasan mereka. Kita tahu bahwa dua pertiga (atau 70%) bumi ini merupakan lautan. Jadi, bayangkan saja anda memiliki tempat tinggal di mana tak ada manusia lainnya yang hidup di sana. Anda akan menjadi penguasa mutlak lautan yang begitu luasnya...70% dari seluruh dunia!

Pertanyaan kita mungkin, bagaimana dengan sarana terpenting penunjang hidup manusia: udara? Kapten Nemo telah memikirkan semuanya, yaitu dengan mekanisme untuk menyedot oksigen ketika Nautilus naik ke permukaan laut, lalu mengolah oksigen itu secara kimiawi untuk bisa disimpan selama beberapa hari ke depan sebelum jadwal Nautilus untuk "menarik napas" lagi. Sedangkan untuk air dan makanan, tentu saja sumber daya yang ada di lautan luas takkan pernah habis untuk diserap dan dikelola untuk menghidupi seluruh awak kapal. Bahan bakar? Laut pun menyediakan bahan berlimpah untuk menciptakan listrik yang menghasilkan panas, cahaya dan gerak. Alam telah melengkapi air laut dengan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk diolah menjadi listrik. Tapi bagaimana dengan aspek-aspek hidup manusia lainnya? Kita kan hidup tak hanya bernapas, makan dan minum secukupnya? Dalam hal itu, lautan ternyata telah menyediakan semuanya. Kalau anda membayangkan betapa bosannya kalau dari ke hari makan ikan bakar terus, ternyata menu hidangan di Nautilus cukup beragam loh. Para penumpang tetap bisa menikmati daging, berupa irisan tipis daging kura-kura, hati lumba-lumba yang mirip babi cincang, dilengkapi acar timun-laut, lalu krim dari susu yang diolah dari hewan-hewan cetacean. Gulanya diolah dari rumput laut, sedang selainya dibuat dari anemone (yang tidak dijelaskan itu hewan atau tumbuhan apa...). Bahkan, buat yang biasa merokok setelah makan, kru Nautilus telah mengolah dedaunan tertentu menjadi rokok. Lumayan mungkin ya, hidup di bawah laut itu?

Lalu untuk hiburannya? Jangan khawatir, Tuhan Sang Pencipta Alam Semesta ini sendirilah yang telah menyediakan atraksi-atraksi yang akan selalu membuat manusia ternganga kagum dan terpesona pada keindahannya. Dari tujuh bulan petualangan Aronnax dkk bersama Nautilus, tak pernah mereka bosan menonton kekayaan dan keindahan makhluk-makhluk laut yang beraneka ragam mewarnai dan memenuhi dasar laut itu, dengan spesies unik di setiap daerahnya. Khusus untuk Aronnax dan Conseil, tentu saja tak hanya menghibur, kekayaan laut itu juga menjadi kesibukan mereka sebagai ilmuwan. Aronnax pun menyusun semacam jurnal yang kelak akan berguna bagi ilmu pengetahuan, karena belum ada, hingga saat itu, seorang manusia pun yang pernah pergi sedalam mereka di dasar laut. Nautilus memang dirancang mampu menahan tekanan di dasar laut, dan sosoknya yang panjang ramping memungkinkannya untuk menelusuri lorong-lorong sempit di antara karang bahkan bongkahan es!

Ngomong-ngomong tentang es, Nautilus sempat mengalami petualangan yang amat mendebarkan, bahkan nyaris membawa seluruh penumpangnya ke kematian ketika sedang menyelam di kutub selatan, Lautan Antartika. Saat itu Nautilus sedang meluncur di celah-celah antara bongkahan es, demi menjadi yang pertama dari umat manusia yang mampu mencapai titik kutub selatan bumi. Namun keberuntungan tak selalu bersama mereka, pada suatu titik di mana temperatur menjadi sangat dingin, Nautilus akhirnya terjebak di antara es setebal belasan meter, tak mampu memecah es itu dengan tombak-tombaknya karena begitu dipecah sedikit, es akan langsung membeku lagi saking dinginnya! Padahal Nautilus butuh naik ke permukaan untuk menghirup udara segar. Saat itu Aronnax dkk sudah hampir menyerah pada nasib, ketika Kapten Nemo dengan ketenangannya berhasil membawa mereka keluar dari perangkap.

Itu adalah salah satu pengalaman menakutkan mereka, namun di banyak kesempatan-kesempatan lain Kapten Nemo mengajak mereka melakukan hal-hal asyik yang biasa dilakukan di darat, seperti jalan-jalan sambil berburu. Ya, dengan mengenakan pakaian selam Aronnax dkk diajak untuk berburu di hutan belantara lautan. Asyik ya? Lalu, ketika ada awak Nautilus yang meninggal, mereka juga melakukan upacara penguburan di sebuah tanah lapang di dasar laut.

Yang lebih menarik lagi, mereka juga sempat menjadi saksi kebenaran legenda benua yang hilang: Atlantis. Ya, mereka menemukan tempat di mana reruntuhan kota yang konon pernah berdiri dengan megahnya itu di dasar laut, dan menyaksikan sesuatu yang belum pernah dilihat siapapun di bumi ini, sekaligus membuktikan bahwa Atlantis memang pernah ada. Rasanya khusyuk banget suasana saat itu, yang dengan apik dituangkan dalam tulisan oleh Jules Verne. Kejadian seru yang juga menarik untuk kita, adalah ketika mereka sempat berlabuh di pantai Papua dan bertemu dengan orang-orang Papua. Bayangkan, orang Papua jaman itu yang masih primitif melihat sosok Nautilus yang bak ikan paus berkulit besi! Lucu juga bagian ini...

Masih banyak pengalaman-pengalaman seru maupun menakjubkan lainnya seperti melihat hamparan ribuan organisme mikroskopik yang bersinar terang dalam gelapnya dasar laut. Wow...membayangkannya saja sudah membuatku merinding. Bayangkan, mengambang dalam terang yang berasal dari alam, dan semua itu berasal dari organisme yang sangat kecil, namun karena jumlahnya mungkin jutaan sehingga membentuk semacam hamparan terang hingga bermil-mil jauhnya. Begitu hebatnya alam yang diciptakan oleh Tuhan, membuat kita pun menahan napas bersama dengan mereka yang ada di Nautilus.

Entah mengapa, aku suka sekali membaca atau menonton tentang kapal, khususnya kapal selam (padahal aku gak bisa berenang..). Mungkin karena dunia bawah laut yang indah dan (tampak) damai itu yang menarikku. Tapi mungkin juga karena kehebatan alam selalu membuatku mengalami sentuhan Sang Penciptanya dalam hidupku. Kalau anda pernah ke Sea World dan melihat makhluk-makhluk laut lewat kaca di sekeliling anda berdiri, seperti itu kira-kira pemandangan lewat jendela-jendela kaca di ruang duduk Nautilus ketika panelnya dibuka. Mungkin itu adalah sensasi paling hebat yang akan aku rasakan andai Nautilus itu nyata...

Pendek kata, aku sangat terhibur sekaligus tersentuh membaca buku ini. Terutama karena karakter Kapten Nemo yang amat kuat, yang terasa sekali menjadi roh buku ini. Tak mungkin kita menutup buku ini tanpa merasa tersentuh. Kapten Nemo adalah orang yang menjadi getir karena dikecewakan dunia. Ada dua kutub kepribadian dalam diri Kapten Nemo. Ia orang yang berhati dingin, nyaris tanpa emosi dan bisa menjadi sangat kejam ketika ingin membalas dendam. Namun di waktu lain, ia begitu lembut hati hingga kematian salah seorang awak kapalnya dapat membuat ia menangis dan berduka selama beberapa hari. Di satu sisi ia tak manusiawi dengan menahan Aronnax dkk di Nautilus seumur hidup tanpa boleh keluar lagi dari sana (karena takut mereka membocorkan rahasia Nautilus), namun di sisi lain ia sangat peka pada sesamanya terutama yang tertindas. Secara keseluruhan, Kapten Nemo akan mempengaruhi anda dengan karakternya yang unik, juga dengan hasil karyanya yang mengagumkan: Nautilus.

Rasanya kita harus mengucapkan terima kasih pada penerbit Elex yang telah menerjemahkan novel klasik ini sehingga bisa kita nikmati. Namun sayangnya, ada terlalu banyak typo di buku ini yang agak mengganggu. Terjemahannya pun kadang terasa kaku dan aneh. Justru karena alur cerita agak datar dan banyak diselingi fakta ilmiah, maka terjemahannya aku harapkan lebih "ceria" dan tidak terlalu formal agar kita membacanya lebih enak. Bagaimana pun juga, buku ini tetap sayang untuk dilewatkan. Kisah fiksi memang sangat banyak, tapi jarang ada yang mengungkapkan keagungan alam dalam sebuah buku kan?

Judul: 60.000 Mil Di Bawah Laut
Judul asli: Twenty Thousands Leagues Under The Sea
Pengarang: Jules Verne
Penerbit: PT Elex Media Komputindo
Cetakan: Mei 2010
Tebal: 404 hlm

Saturday, February 19, 2011

The Tales Of Terror & Detection

Buku ini merupakan salah satu kumpulan cerpen-cerpen detektif-gothic milik seorang sastrawan besar Amerika: Edgar Alan Poe, yang diterjemahkan dan diterbitkan oleh Penerbit Liris, Surabaya. Dengan cover yang bernuansa gelap dan angker dengan rumah bermenara tinggi di latar langit gelap dan cahaya bulan, memang nuansa gothic itu langsung terlihat. Kalau dibadingkan cover aslinya, aku pikir cover dari penerbit Liris ini lebih mengena. Tapi sayangnya...hanya cover itu saja yang bisa diandalkan dari versi terjemahan ini. Terjemahannya sendiri kacau, seolah-olah penerjemahnya hanya menerjemahkan apa adanya, tanpa mempedulikan isinya (itu kalau ia benar-benar memahami kedalaman maknanya dan dapat mengapresiasi sastranya).

Karena alasan di atas, aku hanya menyempatkan membaca 2 dari total 5 kisah yang ada di buku ini. Itupun karena kedua kisah itu ada tokoh detektif C. Auguste Dupin, tokoh detektif ciptaan Poe yang menjadi pelopor semua tokoh detektif di dunia kesusasteraan dunia, termasuk Sherlock Holmes yang muncul sesudah Dupin.

Misteri Marie Roget

Sebenarnya Poe pertama kali menghadirkan C. Auguste Dupin dalam kisah "The Murder in the Rue Morgue". Setelah itu ia menulis Misteri Marie Roget ini, di mana ia masih sedikit menyebut-nyebut tentang kasus Rue Morgue itu, meski tak ada kaitan langsung dengan kasus ini. Marie Roget adalah seorang gadis muda pelayan toko di Paris pada abad 19 yang cantik dan suka bergenit-genit. Ia pernah menghilang dari rumah ibunya selama seminggu penuh, membuat orang-orang mencarinya, namun akhirnya kembali tepat setelah seminggu, tanpa alasan yang jelas. Baru saja keluarga dan orang-orang di sekitarnya dapat melupakan peristiwa aneh itu, Marie kembali menghilang di suatu malam, setelah ia pamit hendak mengunjungi rumah bibinya. Dan kali ini bukannya kembali dalam keadaaan sehat walafiat, ia malah ditemukan sudah menjadi seonggok mayat mengambang di Sungai Seine empat hari kemudian.

Sebelum pergi, ia mengatakan pada tunangannya, St. Eustache bahwa ia akan melewatkan waktu di rumah bibinya di Rue Des Drome. Saat ditemukan di sungai, tubuhnya terapung dan pakaiannya sudah robek-robek berantakan. Belakangan, di sebuah sudut yang rimbun di sebuah taman, dua bocah menemukan beberapa bagian dari pakaian wanita yang diyakini adalah pakaian yang dikenakan Marie. Pada bagian penemuan pakaian ini agak membingungkan, karena kita tahu model gaun wanita pada jaman itu yang bertumpuk-tumpuk dan ribet.

Polisi telah melakukan penyelidikan, dan media-media cetak berlomba-lomba menerbitkan analisis mereka tentang kasus ini. Berdasarkan data-data yang terkumpul, tokoh 'aku' (yang tak pernah jelas siapa) membahas kasus itu bersama si jenius Auguste Dupin. Dupin adalah tipe detektif yang mengandalkan logika berpikir untuk memecahkan masalah. Ia jelas orang yang amat pandai, dan penguasaannya terhadap ilmu pengetahuan sangat baik. Misalnya media cetak, yang saat itu sebagai satu-satunya pembentuk opini massa, ada yang mengambil kesimpulan bahwa mayat itu bukan mayat Marie, tapi wanita lain. Ada yang bilang bahwa pelakunya pastilah geng yang suka membuat keributan di kota itu.

Namun ketelitian dan logika hebat Dupin mematahkan semua asumsi para media cetak itu. Dupin mampu memaparkan detail yang paling remeh dengan logika yang hebat. Tak ada satu detail pernyataanpun yang luput dari radarnya. Di sini kadang kita juga seolah belajar sesuatu. Misalnya saja pembuktian Dupin tentang mayat Marie yang terapung. Media mengatakan bahwa waktu 3 hari tak cukup untuk membuat mayat bisa terapung. Menurut teori mereka, mayat harus mengalami pembusukan selama 6-10 hari untuk bisa kemudian muncul ke permukaan. Padahal menurut Dupin, bahkan kalau kita yang hidup dilemparkan ke air dan tak bisa berenang, ada orang yang akan tenggelam, ada yang tidak. Tahukah anda bahwa rata-rata berat gravitasi khusus tubuh kita dan jumlah air yang dipindahkan saat tubuh kita jatuh ke sungai, itu sama? Itu artinya bahwa secara alami, kita tidak akan begitu saja tenggelam hingga ke dasar sungai. Kecuali kalau kita lantas menjadi panik, mengangkat kedua tangan kita ke atas dan bergerak-gerak, maka kita akan tenggelam. Sebaliknya, kalau posisi kita tegak lurus seolah-olah berjalan di air, dan kepala didongakkan seakan-akan tidur di permukaan air, maka kita tidak akan tenggelam. Menarik kan?

Tapi penelusuran bukti-bukti yang njelimet dan pembuktiannya itu begitu bertele-tele, dengan kutipan dari surat kabar yang diulang-ulang, ditambah dengan terjemahan yang jauh dari sempurna, menjadikan kisah ini penyebab sakit kepala! Padahal aku hanya ingin tahu, siapa sih yang membunuh si Marie yang malang? Sebuah geng? Atau seorang pacar gelap?

Kisah kedua jauh lebih menghibur...

Surat Yang Dicuri (The Purloined Letter)

Kali ini, bukan soal pembunuhan yang diangkat, tetapi pencurian. Seorang Inspektur Kepolisian Paris pada suatu hari mendatangi Dupin (dan tokoh 'aku) untuk minta bantuan. TKP adalah di kerajaan. Pelakunya adalah seorang Menteri dengan inisial D. Dokumen yang dicurinya itu akan memberinya kekuasaan yang tak layak ia dapatkan dan membahayakan kedudukan seseorang di tingkat yang lebih tinggi. Surat itu dipastikan masih dimiliki oleh Menteri D. Namun, si Inspektur yang telah menerapkan semua ilmu penggeledahan yang paling canggih untuk menemukan surat itu di kediaman Menteri D, tak berhasil menemukannya.

Dupin, dengan logika dan rasiosinasi* nya yang kuatlah yang akhirnya mengetahui di mana surat itu berada selama ini, dan sekaligus berusaha merebutnya dari tangan Menteri D. Ternyata memang manusia selalu berasumsi bahwa orang lain akan melakukan hal yang sama dengan dirinya sendiri. Si Inspektur, yang bangga dengan pengetahuan dan ketrampilannya untuk menggeledah dengan teliti tempat-tempat persembunyian di suatu tempat, tak memikirkan kemungkinan bahwa seseorang yang cerdik dan tak ingin hartanya ditemukan orang lain, mungkin memilih meletakkan harta itu di tempat yang justru terlihat oleh semua orang. Bukankah peti yang tertutup dan tergembok rapat akan menyiratkan sesuatu yang rahasia atau berharga tersembunyi di dalamnya? Tapi kalau ada sebuah kotak yang digeletakkan sembarangan saja di atas meja, apakah kita akan mencurigai ada sesuatu yang disembunyikan di situ?

Akhirnya, membaca buku ini memang melelahkan, tapi aku jadi bisa sedikit lebih mengenal metode-metode yang digunakan Auguste Dupin dalam pemecahan misterinya. Meski aku juga masih belum mampu mengenalnya secara personal, karena karakternya tak banyak dikupas di kedua kisah ini. Yang paling menarik (dan paling terkenal) pada diri Dupin adalah rasiosinasinya. *Rasiosinasi adalah proses penalaran yang menggabungkan logika dan imajinasi tinggi. Bisa dibilang rasiosinasi adalah hasil dari studi dari berbagai data yang ada, ditambah dengan pendekatan pribadi sang detektif pada situasi TKP secara umum, dengan tujuan untuk memahami apa yang kira-kira terjadi dan dialami oleh para pelaku sebuah kasus.

Using what Poe termed "ratiocination", Dupin combines his considerable intellect with creative imagination, even putting himself in the mind of the criminal. ~Wikipedia.

Membaca kedua kisah buku ini juga akan memberiku sedikit bayangan tentang karakter Edgar Allan Poe dan tokoh detektifnya, Auguste Dupin bagi kisah dan buku berikutnya yang akan aku lahap. Buku apa? Tunggu saja dengan sabar ulasannya di blog ini ya....

Judul : The Tales of Terror and Detection (terjemahan)
Pengarang : Edgar Allan Poe
Penerbit : Penerbit Liris
Penerjemah : Anna Karina
Cetakan : Juni 2010
Tebal : 214 hlm

Friday, February 11, 2011

The Phantom Of The Opera

Don't judge people from their looks. Anda semua pasti setuju dengan kalimat tersebut. Namun pada kenyataannya kadang tidaklah semudah itu. Banyak contoh anak-anak yang lahir cacat atau abnormal disingkirkan dan dikucilkan oleh orang-orang di sekitarnya, bahkan kadang oleh keluarga dan orang tua mereka sendiri. Hal itulah yang menjadi cikal bakal kisah sejarah terkenal yang terjadi di Paris akhir abad 19: The Phantom Of The Opera. Seorang wartawan sejarah bernama Gaston Leroux lalu melakukan penyelidikan 30 tahun sesudahnya, dan menuliskan hasil analisa, wawancara dan penyelidikannya, serta merangkumnya menjadi sebuah kisah misteri, horor, cinta sekaligus petualangan yang menegangkan namun memberi nuansa seni yang hebat ini.

Warga Paris yang hidup pada jaman itu sudah mengenal Hantu Opera, demikian mereka menyebut fenomena-fenomena ganjil yang terjadi di dalam gedung opera itu yang tak pernah dapat dijelaskan. Hantu itu digambarkan berwajah seperti mayat atau tengkorak dengan mata yang menyala keemasan. Hantu itu kadang menampakkan diri, namun lebih sering lagi hanya terdengar suaranya, serta melakukan hal-hal yang mustahil dilakukan manusia. Si Hantu bukan hanya suka jail (seperti mengerjai kedua manajer Opera dan membuat malu seorang biduanita), namun ia bisa dibilang adalah penguasa gedung Opera beserta semua pertunjukannya. Ia mengklaim balkon nomor lima di gedung itu untuk dirinya, tak boleh disewakan atau ditempati orang lain. Ia mengatur siapa yang boleh bermain memerankan tokoh apa. Ia menuntut gaji 20 ribu franc kepada manajer Opera, dan memiliki setumpuk peraturan lain yang harus ditaati semua orang, kalau tidak.... akan terjadi 'hal-hal yang buruk'.

Hal yang buruk itu bisa saja hanya hilangnya seekor kuda, atau jatuhnya lampu kandelar besar yang tergantung di atap gedung opera, atau bahkan terbunuhnya seorang staf dengan cara digantung! Pendek kata, tak seorang pun tampak percaya pada kisah kekanak-kanakan tentang hantu itu, namun tak ada seorang pun juga yang tak merasa ngeri pada hantu itu. Lalu semuanya berubah saat seorang bintang baru Opera itu mulai bersinar. Dialah Christine Daae, seorang gadis nan cantik, lembut dan polos, yang sedari kecil dididik dalam kehalusan seni serta dongeng-dongeng tentang malaikat. Christine memiliki suara emas yang, konon, bagaikan suara malaikat dari surga. Suara itulah yang memikat sang Hantu Opera dan merebut hatinya!

Kepolosan Christine dimanfaatkan dengan baik oleh si hantu. Dengan gampangnya, si hantu memasukkan ide tentang Malaikat Musik, sosok gaib yang dikirim oleh almarhum ayah Christine untuk mengajarinya bernyanyi. Maka Christine pun tidak pernah mempertanyakan keberadaan 'Malaikat Musik' yang tak berwujud dan hanya terdengar suaranya saja dari balik tembok saat mengajarinya bernyanyi selama tiga bulan di dalam kamar gantinya setiap malam. Yang pertama kali mengetahui keganjilan ini adalah Viscount Raoul de Chagny, bangsawan muda yang jatuh cinta pada Christine yang dikenalnya semenjak kecil. Malam yang istimewa itu, saat Christine untuk pertama kalinya mengejutkan semua orang dengan suara gemilangnya, Raoul mengikuti Christine hingga ke kamar gantinya. Di sana ia mendengar suara pria berbicara pada Christine, namun ternyata tak ada seorang pun disana! Hantu itu....

Selanjutnya perilaku Christine menjadi aneh. Ia tampak tidak bahagia, ketakutan, dan menghindar dari Raoul seolah-olah ia tak mencintai pemuda malang itu. Atau itulah yang disangka Raoul pada awalnya. Ia merasa cemburu pada 'pria misterius yang mengajari Christine menyanyi dan dengan tidak sopannya melakukannya di kamar ganti sang bintang, berduaan saja di malam hari'. Yang ia tak sadari saat itu, sang pria bukan saja misterius dan kurang sopan, ia ternyata adalah sang Hantu Opera sendiri, yang ternyata juga bukanlah hantu namun justru jauh lebih berbahaya daripada hantu. Sang Hantu Opera sejatinya adalah seorang pria 'malang dan tak bahagia' bernama Erik.

Bagaimana seorang pria bisa menjadi hantu opera? Seperti yang telah kujadikan pembuka ulasan buku ini pada paragraf pertama tadi, penolakan dunia terhadap seorang pria berwajah buruk dan mengerikan, membuat Erik harus menyembunyikan dirinya dari dunia, di lorong-lorong bawah tanah yang gelap di dalam Gedung Opera. Di sebuah rumah di tepi telaga jauh di bawah gedung Opera, Erik menghabiskan hari-harinya. Ia mengenal setiap sudut gedung itu karena ia dulu ikut merancang bangunannya sebagai seorang arsitek. Setelah tugasnya selesai, diam-diam ia merancang dan membangun rumahnya sendiri tanpa sepengetahuan siapapun. Tak ada yang bisa masuk ke rumahnya karena ia menyiapkan jebakan-jebakan maut. 'Nyanyian maut' di dalam telaga bagi yang datang dengan perahu lewat telaga, atau 'Bilik Penyiksaan' bagi yang datang lewat suatu jalan rahasia di gudang ketiga Opera.

Erik berhasil memikat Christine dengan kedok Malaikat Musiknya sehingga ia dapat menculik si gadis ke rumah tepi telaganya. Ia ingin menjadikan Christine sebagai istrinya, kalau tidak, ia akan menghancurkan 'dunia atas', sebutannya untuk dunia normal di mana ia ditolak. Hanya si Orang Persia yang mengetahui rahasianya karena orang ini dulu pernah menyelamatkan nyawa Erik. Orang Persia mengetahui hampir semua karya-karya jenius Erik sebagai seorang arsitektur sekaligus ilusionis. Erik mampu mendesain 'pintu jebakan', ilusi menggunakan cermin, dan 'bilik penyiksaan' yang mampu membunuh orang. Menarik menyimak tentang bagaimana ilusi dapat menyesatkan orang, bahkan membuatnya ingin mati dan akhirnya membunuh diri. Bahkan si orang Persia yang tenang dan mengetahui rahasia bilik penyiksaan itu juga akhirnya terhanyut pada ilusi ciptaan Erik. Menarik membayangkan bagaimana sebuah ruangan yang didesain khusus dengan cermin bisa begitu mematikan! Lebih menakutkan daripada ruangan yang penuh senjata, karena senjata digerakkan oleh orang lain, sementara dengan ilusi, kau sendiri yang membunuh dirimu.

Boleh dibilang, petualangan orang Persia dan Raoul de Chagny untuk menyelamatkan Christine dari cengkeraman Erik inilah yang teramat seru dan tegang dalam buku ini. Mereka akhirnya menyadari rencana akhir sang Hantu: yaitu untuk menghancurkan 'dunia atas' sebagai pelampiasan dendamnya pada mereka yang menolaknya. Dan Christine adalah satu-satunya harapan mereka, karena kalau ia menolak menikah dengan Erik, Erik akan menghancurkan mereka semua....

The Phantom Of The Opera benar-benar kisah yang menggugah. Kita akan dibawa dalam pesona opera dan kesenian tingkat tinggi, pada syair-syair anggun dari petikan drama yang digelar, dan pada eksotisme dan kemisteriusan gedung opera dengan rumah tepi telaga dan lorong-lorong gelapnya. Kita juga akan diajak melihat bagaimana cinta dapat menyentuh, lalu mengubah sebuah kehidupan. Bagaimana cinta mampu menjadi benci karena ketiadaanya, namun cinta juga mampu mengasihani dan rela berkorban saat ia terpenuhi. Yang paling membuat kisah ini menarik, adalah karena kisah yang serupa dongeng ini benar-benar nyata! Paling tidak, Gaston Leroux telah melakukan pekerjaan yang patut diacungi jempol untuk menyingkapkan kebenaran sejarah sekaligus menyajikan sebuah hiburan yang indah, mengharukan dan menginspirasi.

Kita layak berterima kasih pada penerbit Serambi yang telah menerbitkan kisah klasik ini, dan menyajikannya dalam buku bercover lux, ditambah bonus pembatas buku nan cantik (dengan paduan warna hitam, putih dan ungu yang nampak mewah). Hanya sayang (lagi-lagi), masih banyak kesalahan ejaan yang mengganggu di sana-sini. Aku sungguh berharap, para penerbit lebih memperhatikan masalah ini. Karena sejatinya, membaca itu bukan hanya proses memahami sebuah tulisan, namun lebih pada menikmati sebuah perjalanan pikiran dan emosi. Dan sungguh...kesalahan ejaan itu bisa jadi sangat mengganggu proses itu. Semoga masalah semacam itu tak lagi menodai kisah yang mengagumkan semacam The Phantom Of The Opera ini.

Note: Oh ya, apakah anda tahu bahwa kisah ini pernah dibuat film? Bagi yang sudah menonton, setting rumah telaga Erik memang sesuai dengan kisah aslinya. Namun sosok Erik jauh lebih menyeramkan di kisah aslinya, baik fisiknya, kepandaiannya maupun caranya membalas dendam. Secara keseluruhan bukunya JAUH lebih bagus daripada filmnya! (seperti biasa ya...)

Terakhir sebagai penutup, aku ingin mengutip kata-kata si pengarang dalam epilognya, mengenai sosok Erik sang Hantu Opera:

"...Erik yang malang dan tidak bahagia! Haruskah kita iba padanya? Mengutuknya? Dia hanya ingin menjadi seperti manusia lain. Tapi wajahnya terlalu mengerikan. Dia harus menyembunyikan kejeniusannya atau memakainya untuk mengelabui manusia lain, padahal, dengan wajah yang normal, dia pasti akan menjadi anggota masyarakat yang paling mulia. Dia memiliki kemampuan untuk menggenggam dunia, tapi pada akhirnya harus puas dengan sebuah gudang bawah tanah. Dengan demikian jelaslah, Hantu Opera tersebut patut dikasihani."


Judul: The Phantom Of The Opera
Pengarang: Gaston Leroux
Penerbit: Serambi
Penerjemah: Istiani Prayuni
Cetakan: Februari 2010
Halaman: 485 hlm.

Friday, December 24, 2010

Si Cantik Dari Notre Dame

Entah mengapa buku ini harus diberi judul Si Cantik dari Notre Dame, bukannya Si Bungkuk dari Notre Dame sesuai judul buku aslinya karangan Victor Hugo: The Hunchback of Notre Dame. Mungkinkah karena alasan komersiil? Karena "cantik" lebih bernilai jual daripada "bungkuk"? Entahlah, tapi nyatanya buku ini adalah versi terjemahan dari kisah legenda yang terkenal tentang sebuah gereja di Paris, Notre Dame.

Di akhir abad ke 15 terdapat 2 golongan yang berseberangan di Paris. Kaum penguasa, gereja dan borjuis di satu sisi, dan golongan masyarakat bawah termasuk gelandangan dan kaum gipsi. Di jaman itulah Claude Frollo yang pandai, suka belajar, dan ambisius hidup sebagai yatim piatu sambil membesarkan adik yang sangat dikasihinya, Jehan Frollo. Suatu hari ia melewati seorang bocah yang diletakkan di depan gereja untuk dipungut siapapun yang berminat. Sayangnya penampilan anak itu sangat mengerikan. Wajahnya seperti monster yang sangat buruk dan tubuhnya berbonggol-bonggol dengan tulang punggung bengkok. Semua orang ngeri dan menganggap bocah itu jelmaan setan. Semua, kecuali Claude Frollo. Tanpa pikir panjang, dipungutnya bocah itu lalu dipelihara dan dididik.

Tak ada orang yang tahan memandang Quasimodo, begitulah si monster dinamai sesuai dengan hari saat ia dipungut, apalagi bergaul dengannya. Semua orang bahkan membencinya. Hanya Claude Frollo yang menganggapnya manusia. Tak heran, ia begitu mengasihi, memuja ayah angkatnya itu begitu intens. Saat Claude Frollo menjadi wakil uskup, Quasimodo menjadi pemukul lonceng di gereja Notre Dame serta tinggal di gereja itu bersama ayah angkatnya. Gereja itu menjadi surganya, dan lonceng-lonceng gereja menjadi pusat hidup dan kebahagiaannya. Meskipun belakangan, justru lonceng-lonceng itu pula yang merenggut hal yang sangat berharga baginya, yakni pendengarannya. Ya, ia menjadi tuli karena terlalu sering mendengar dentangan lonceng yang sangat keras...

Sedangkan di luar dinding-dinding gereja yang tinggi itu, hiduplah seorang gadis gipsi yang sangat cantik, pandai menyanyi dan menari dengan rebananya, serta berpembawaan riang. Dialah La Esmeralda yang selalu didampingi kambing cerdik bernama Djali. Kecantikannya yang segar dan alami membuat kaum pria dari berbagai golongan terpesona padanya. Ada Gringoire sang filsuf dan penyair yang ditolong Esmeralda dari tiang gantungan dengan menjadikannya suami platonis. Ada juga seorang perwira kerajaan yang tampan dan playboy, yang seharusnya sudah bertunangan namun masih saja melirik gadis lain, bernama Phoebus. Bahkan Quasimodo si buruk rupa nan tuli itu juga terpesona pada kesegaran Esmeralda. Namun yang paling mengherankan justru pengagumnya yang datang dari dalam gereja! Sang wakil uskup, yang seharusnya hidup selibat, malah memiliki hasrat yang besar terhadap Esmeralda....

Bagaimana dengan Esmeralda sendiri? Seperti layaknya kisah-kisah romantis lainnya, ia justru jatuh cinta pada pria yang tak sungguh-sungguh mencintainya, Phoebus. Betapa ironisnya cinta itu ya? Cerita lalu berpusar-pusar pada tokoh Esmeralda ini. Esmeralda yang selalu membawa kantung kecil bermanik di sekeliling lehernya, Esmeralda yang selalu menjaga kesuciannya karena bila ia ternoda, ia diramal takkan bisa bertemu dengan ibunya yang tak pernah ia temui. Esmeralda yang rela menikahi Gringoire karena iba, meski harus memaksa Gringoire berjanji untuk tak menyentuhnya. Esmeralda yang ditangkap dan akan dihukum gantung. Esmeralda yang diselamatkan. Esmeralda yang dituduh melakukan pembunuhan, dan seterusnya. Bahkan Esmeralda juga membuat kaum gipsi dan gelandangan menyerbu gereja di tengah malam buta. (mungkin saja pemilihan judul versi terjemahan ini justru lebih tepat ya, karena jelas pusat kisah ini adalah si cantik Esmeralda).

Lewat kisah ini, Victor Hugo mengajak kita untuk memahami berbagai makna cinta. Cinta platonis milik Gringoire, yang puas hanya dengan memandang keceriaan istrinya (dan malah lebih cinta pada kambingnya, Djali...). Cinta palsu milik Phoebus yang hanya terpikat pada kecantikan lahiriah semata, dan secepat cinta itu datang, secepat itu pula ia tergantikan. Cinta penuh napsu dan obsesif milik Claude Frollo sehingga ia rela melakukan apa saja yang berpotensi mencoreng namanya dan gereja, demi menghalangi pria manapun menyentuh Esmeralda-nya. Atau cinta murni milik seorang Quasimodo. Cinta yang tak ingin memiliki, hanya ingin melindungi. Cinta yang membuatnya cukup hanya memandang dari jauh, dan tak pernah menuntut balasan apapun.

Victor Hugo juga membukakan mata kita terhadap cinta terhadap sesama manusia. Betapa mudahnya orang mengkotak-kotakkan manusia lain hanya karena derajat. Bagaimana orang gipsi dianggap jahat dan mistis, bagaimana orang yang penampilannya berbeda dengan kebanyakan yang lain dianggap bukan manusia, jelmaan setan, jahat, kejam seperti binatang. Betapa mengerikan akibat yang ditimbulkan manusia kala ia tak mau melihat ke kedalaman hati, melainkan hanya pada penampilan luar. Kisah di buku ini membuktikannya.

Akhirnya, aku juga sadar bahwa jatuh ke dalam dosa itu begitu gampangnya. Bahkan Claude Frollo yang pemikir dan logis, yang sejak kecil religius, yang dulu mengasihi adiknya dan memungut Quasimodo karena kasih, mampu menjadi pribadi yang berbeda saat ia membiarkan hasrat menguasai dirinya. Maka dosa itu bukan soal 'siapa', namun lebih pada 'bagaimana'. Bagaimana kita menyikapi suatu keadaan. Bagaimana kita menentukan pilihan. Bagaimanapun, hidup ini selalu mengenai pilihan kan? Sama seperti anda yang bebas memilih, cukup puas dengan membaca resensiku, atau mau membaca buku yang indah ini sendiri....

NB:

1. Kalau anda memilih yang terakhir, Vixxio bisa membantu anda mendapatkan buku ini dengan diskon 20% di: Si Cantik Dari Notre Dame.

2. Kalau anda merasa bosan dan bingung di bab-bab awal, jangan menyerah! Karena makin ke belakang, anda akan menemukan keindahan yang sesungguhnya kisah ini. Aku hampir saja melewatkannya, jangan sampai anda juga!

3. Salut pada penerbit Serambi yang mampu menyajikan terjemahan apik pada karya sastra seindah milik Victor Hugo. Namun sayang, ada beberapa halaman yang tak tertata dengan baik. Ada paragraf yang terulang, ada halaman yang tak menyambung (meloncat) dengan halaman berikutnya, dan ini lumayan mengganggu keasyikan membaca. Semoga itu hanya terjadi di eksemplar yang aku beli saja ya...