Monday, November 7, 2011

Therese Raquin

Kalau ada satu hal yang paling rumit di dunia dan tak pernah bisa dipahami, pasti itu adalah manusia. Pepatah mengatakan, dalamnya laut dapat diduga, dalamnya hati siapa tahu. Mungkin karena itulah, psikologi adalah salah satu hal yang selalu menarik minatku, meski aku tak pernah mempelajarinya secara serius di bangku kuliah. Yang paling menakjubkan bagiku adalah bagaimana manusia memutuskan untuk berbuat jahat, yang jelas-jelas melawan kodratnya; dan bagaimana ia melawan hati nuraninya setelah melakukannya. Émile Zola benar-benar memukauku dengan caranya membuat sebuah pergulatan batin menjadi gamblang, lewat karyanya: Therese Raquin.

Therese Raquin bukanlah putri kandung Mme Raquin. Ia adalah keponakan yang diangkat menjadi anak oleh Mme Raquin, yang hidup menjanda di sebuah kota kecil di Prancis pada abad 19, bersama dengan putra semata wayangnya: Camille. Dari lahir Camille adalah bocah lembek yang sakit-sakitan. Hal itu diperparah oleh cara sang ibu membesarkannya, yaitu dalam pemanjaan sekaligus pemujaan. Camille pun terbiasa dicekoki oleh obat dan ramuan, dan dikurung di rumah yang gelap dan suram.

Mau tak mau, Therese harus menerima perlakuan yang sama dari ibu angkatnya, meski ia sebenarnya adalah gadis yang sehat walafiat. Dan lihatlah apa yang terjadi…

Kehidupan orang sakit yang dipaksakan terhadap dirinya membuatnya menjadi orang yang tertutup. Ia menjadi terbiasa berbicara dengan suara lirih, berjalan tanpa suara, duduk diam dan tak bergerak-gerak di kursi, memandang kosong dengan mata membelalak lebar. ~hlm. 26.

Therese akhirnya tumbuh sebagai gadis pemurung, acuh, namun di dalam dirinya ada semacam api yang menggelegak, bak gunung berapi yang sedang menggodok magmanya sebelum pada suatu saat yang tepat menyemburkannya dalam sebuah ledakan besar.

Keegoisan Mme Raquin membuatnya mengambil keputusan untuk menikahkan Therese dan Camille. Sesudah itu, keluarga yang aneh inipun pindah ke Paris, dan tinggal di rumah sekaligus toko alat jahitan yang suram di Passage (Selasar) du Pont Neuf. Camille yang suka mengajak teman-temannya singgah, suatu hari memboyong teman lamanya: Laurent. Saat melihat Laurent, Therese bagaikan tersihir. Tak seperti suaminya yang lembek dan berbau seperti anak kecil sakit-sakitan yang mebuat Therese jijik, Laurent terlihat benar-benar seperti seorang pria. Dalam diri Therese pelan-pelan tumbuh hasrat yang kuat yang, kupikir, merupakan pelampiasan atas keterkungkungan hidup wanita itu selama ini.

Di sisi lain, Laurent adalah jenis pria paling menyebalkan di dunia. Pria yang hanya mau bermalas-malasan dan mendewakan kenikmatan lewat makanan dan seks. Dan pria seperti ini lah yang melangkahkan kaki ke rumah keluarga Raquin dan menemukan wanita yang bisa memenuhi hasratnya: Therese. Tak butuh waktu lama, segera terjadilah perselingkuhan panas penuh gairah antara kedua manusia ini. Laurent dan Therese menemukan kenikmatan dalam perselingkuhan mereka, dan mulai timbul keinginan untuk melakukannya dengan bebas. Satu-satunya penghalang bagi keduanya untuk bersatu, adalah Camille. Tanpa perlu terucap, dosa perzinahan yang mereka lakukan mulai menggiring mereka ke dosa berikutnya.

Kisah di atas hanya memakan sepertiga dari keseluruhan buku ini. Dua pertiga sisanya dipenuhi oleh Zola dengan kajian psikologis Therese dan Laurent setelah melakukan kejahatan mereka. Dan di bagian-bagian inilah terletak kekuatan buku ini. Zola tak hendak hanya bertutur, ia sedang melakukan semacam analisa ilmiah. Bak seorang ilmuwan yang ingin mengamati reaksi tertentu yang timbul bila ia mencampurkan dua substansi berbeda, begitulah Zola menyajikan perubahan watak yang akan terjadi apabila dua insan manusia yang berbeda watak namun sama-sama labil dipertemukan oleh cinta. Dan ketika hasrat mereka tak terkekang, hasrat itu membawa mereka pada tindakan yang tak bermoral serta pengecut. Namun yang paling menarik, bagaimana reaksi watak mereka setelah tindak kejahatan yang sama-sama mereka lakukan itu.

Tubuh mereka menggeletarkan getaran-getaran yang sama, dan jantung meraka, yang membentuk semacam persatuan yang merana, berdebar-debar kencang gara-gara perasaan ngeri yang sama. Semenjak saat itu, mereka hanya mempunyai satu tubuh dan satu jiwa untuk merasakan kenikmatan dan penderitaan. Kesamaan itu, perasaan menyatu itu bersifat kejiwaan dan merupakan fakta psikologis yang sering terjadi di antara orang-orang yang terperangkap bersama-sama gara-gara suatu ketegangan mental yang luar biasa. ~hlm. 166.

Seringkali manusia menggembar-gemborkan tentang kebebasan. Padahal tak ada kebebasan mutlak dalam kehidupan kita. Setiap tindakan kita membawa kita pada konsekuensi yang lain. Therese dan Laurent juga mendambakan kebebasan yang harusnya tak mereka miliki. Akibatnya, alih-alih merasa bebas, mereka justru menjadi budak dari konsekuensi tindakan mereka sendiri. Mengerikan bagaimana hati nurani manusia menghukum diri mereka sendiri dengan caranya sendiri pula. Pergulatan batin Therese dan Laurent begitu intens dan digambarkan dengan jelas dan detil oleh Zola hingga pembaca seolah turut mengalami mimpi-mimpi buruk mereka yang menyeret mereka ke ambang kegilaan.

Saat terbit, Therese Raquin mendapatkan kritikan bertubi-tubi dari para kritikus maupun sesama penulis, yang menganggap Therese Raquin mengumbar kejorokan dan kevulgaran. Dalam edisi kedua yang diterbitkan tahun 1868, Zola pun menulis pendahuluan untuk menjelaskan latar belakang di balik kisah Therese Raquin.

Seperti telah kuungkapkan di paragraf awal, aku menyukai telaah psikologis dalam kisah fiksi. Dua penulis terfavoritku: Agatha Christie dan John Grisham pernah menghasilkan buku-buku yang mengupas psikologi manusia saat menghadapi sesuatu. Christie dalam banyak novelnya, namun Tirai (Curtain) yang menjadi favoritku. Sedang Grisham lewat The Chamber (Kamar Gas). Namun keduanya belum apa-apa bila dibandingkan Therese Raquin.

Jujur, buku ini tergolong berat dan menguras emosi. Bukan jenis buku yang akan memberi hiburan, tapi jelas buku ini juga merupakan jenis buku yang takkan pernah anda lupakan. "Gema"nya akan terus memenuhi pikiran anda selama beberapa waktu lamanya setelah anda menutup buku ini. Bravo Émile Zola! Meski dulu banyak orang mencelamu, tapi aku yakin tak banyak orang lain yang mampu menghasilkan karya seperti ini. Tiga bintang untuk Therese Raquin!

Judul: Therese Raquin
Penulis: Émile Zola
Penerjemah: Julanda Tantani
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Agustus 2011
Tebal: 336 hlm

Friday, November 4, 2011

The Sword In The Stone

Nama King Arthur pasti tak asing lagi bagi pecinta kisah klasik. King Arthur adalah seorang raja yang, menurut legenda, memerintah Inggris pada sekitar abad 5 atau 6. Meski kisahnya telah sering kita dengar, namun fakta sejarahnya masih saja diragukan. Belum ada yang membuktikan bahwa ada seorang King Arthur yang pernah hidup, kecuali (menurut buku karya Thomas Malory) sebuah kuburan dengan coretan di atasnya yang berbunyi: “Here lies Arthur, king once, and king to be”. Sudah banyak Arthurian (epic tentang King Arthur) yang telah terbit, namun “Le Morte d’Arthur” karya Thomas Malory-lah yang menjadi sumber bagi T.H. White untuk menulis ulang epic King Arthur dengan gayanya sendiri, yang boleh kita sebut sebagai epic fantasy atau modern epic. Dan inilah seri pertama dari tetralogi The Once and Future King: The Sword in The Stone.

Suatu hari di bulan Juli, pada jaman Inggris kuno, Sir Ector sedang mempertimbangkan untuk mencari guru untuk mengajar kedua anak lelakinya, Kay dan Wart. Yah, sebenarnya putra kandungnya adalah Kay, sedang Wart adalah putra angkatnya. Meski Kay kelak akan menjadi seorang ksatria, sedang Wart hanyalah pengawal, Sir Ector memberikan pendidikan yang sama bagi keduanya. Meski demikian, bahkan dari awal pun sudah terlihat bahwa Wart jauh lebih terampil dan berkarakter lebih baik daipada Kay. Kay cenderung pemarah, manja dan egois, sedang Wart murah hati, penuh kasih, dan memiliki sikap mau berkorban.

Tanpa spoiler pun, anda pasti akan dapat menebak siapa yang kelak akan menjadi King Arthur. Arthur? Ya, memang nama keduanya bukan Arthur. Namun The Sword in The Stone ini adalah kisah awal kehidupan King Arthur hingga menjadi Raja.

Pada suatu hari saat tersesat di hutan, Wart bertemu dengan seorang penyihir bernama Merlyn. Penggambaran Merlyn sama persis seperti yang diilustrasikan tentangnya selama ini: berjanggut putih panjang, berjubah panjang, berkacamata, memakai topi berujung runcing (mengingatkan anda pada Dumbledore di Harry Potter? Yah, mungkin saja beliau cucu buyut Merlyn??). Singkat kata, Merlyn (bersama dengan burung hantunya yang bernama Archimides) akhirnya menetap di rumah Sir Ector untuk menjadi guru bagi kedua anak lelaki Sir Ector, terutama Wart.

Jangan membayangkan pelajaran-pelajaran Merlyn akan seperti kurikulum di Hogwarts, metode Merlyn lebih membumi dan praktis. Biasanya Merlyn menyihir Wart menjadi hewan dan tumbuhan. Awalnya ikan, lalu burung elang, lalu disusul oleh ular dan burung hantu. Saat menjadi ikan, Wart belajar tentang kekuatan dari Raja Parit. Ketika menjadi seekor burung merlin, Wart diajari tentang kekuatan kaki sebagai pijakan oleh teman-teman burung lainnya.

Yang menarik mungkin saat seekor ular mengajari Wart tentang manusia (homo sapiens). Lucu juga rasanya membayangkan seekor ular membicarakan tentang penciptaan dan evolusi makhluk hidup. Atau ketika Wart berada di dunia para burung hantu berkat bantuan Archimides. Bukan lagi tentang burung hantu yang mereka bicarakan, Archimides malah menguliahi Wart tentang penciptaan alam semesta, lengkap dengan penglihatan tentang terciptanya alam semesta!

Selain dari hewan dan tumbuhan, Wart juga belajar banyak tentang strategi penyerangan di hutan ketika bersama Kay ia berjumpa dengan Robin Hood, yang di kisah ini bernama Robin Wood. Asyik juga ketika tokoh-tokoh di kisah Robin Hood, seperti Little John dan Marian turut meramaikan kisah ini.

Lalu pertanyaannya, apa hubungan semua petualangan seru bin lucu yang dialami oleh Wart itu dengan King Arthur? Hal itu akan terjawab di bagian akhir cerita. Seperti di kisah King Arthur oleh Thomas Malory, di mana King Arthur menjadi raja karena ia satu-satunya orang yang mampu menarik sebilah pedang yang terkubur di dalam batu (the sword in the stone), maka begitu pulalah penahbisan si calon raja kita di buku ini, setelah Raja Inggris kala itu—Uther Pendragon mangkat. Yang menjadi pertanyaannya, bagaimana cara ia mencabut pedang itu bila semua yang lain gagal? Di sinilah makna dari semua pengajaran Merlyn akan terungkap.

Saat awal membaca buku ini, aku berpikir ini adalah cara T.H. White memperkenalkan Arthurian kepada anak-anak. Namun ketika aku mengikuti pembicaraan ular dan Archimides yang agak berbau filosofis dan sains, aku jadi agak meragukan bahwa ini adalah cerita anak-anak. Menurutku, T.H. White memang bermaksud membawa pembaca yang belum membaca epic Arthurian sebelumnya, mengenal King Arthur secara lebih pribadi dan manusiawi terlebih dahulu. King Arthur memang digambarkan sebagai raja dan ksatria yang tangguh. Namun apa yang membuatnya demikian? Nah, mungkin buku inilah yang akan menjawab pertanyaan itu sehingga akhirnya King Arthur bukan hanya merupakan mitos yang menghibur, namun sekaligus memberikan pelajaran moral bagi seorang pemimpin atau calon-calon pemimpin masa depan.

Menilik keunikan buku ini, aku berani menganugerahkan empat burung hantu, eh…bintang maksudku, untuk The Sword In The Stone!

Judul: The Sword in The Stone
Penulis: T.H. White
Penerjemah: Rahmawati Rusli
Penerbit: Mahda Books
Terbit: April 2011
Tebal: 282 hlm

Tuesday, November 1, 2011

Classic Authors of November

Bulan November tampaknya merupakan bulan yang banyak melahirkan penulis klasik dunia yang karyanya masih terus beredar dan dinikmati pembaca lama setelah si penulis meninggal. Paling tidak ada 11 penulis klasik yang lahir di bulan November, yang sempat aku catat. Siapa saja mereka? Berikut ini para penulis klasik besar beserta sedikit biografi mereka. Semoga kita semakin mengenal mereka dan karya-karya mereka.


Bram Stoker


Bernama lengkap Abraham Stoker, lahir di Clontarf, Irlandia pada 8 November 1847. Bram Stoker merupakan penulis kisah horor-gothic klasik yang amat terkenal: Dracula. Stoker meninggal dunia saat berusia 65 tahun di bulan April 1912. Selain Dracula, Stoker juga penulis cerpen dan kisah horor lainnya. Ia sempat pula menjadi kritikus teater dan staf di London Daily Telegraf. Pengalaman terakhir itu, ditambah riset beberapa tahun tentang mitos vampir dan cerita rakyat (folklore) Eropa, mendasari penulisan Dracula yang terkenal itu.


Margareth Mitchell

Penulis Amerika bernama lengkap Margaret Munnerlyn Mitchell ini lahir pada 8 November 1900. Karyanya: Gone With The Wind menjadi salah satu romance klasik terbaik sepanjang masa yang memberinya hadiah Pulitzer pada tahun 1937. Buku itu juga masuk sebagai salah satu buku berpenjualan terbanyak sepanjang masa, yaitu sebanyak 30 juta exemplar. Novel itu pernah diadaptasikan ke layar lebar dan memenangkan 10 Oscar. Gone With The Wind ditulis Mitchell selama ia terbaring di tempat tidur karena pergelangan kakinya patah.


Ivan Turgenev

Ivan Sergeyevich Turgenev lahir 193 tahun lalu di Rusia, tepatnya pada 9 November 1818. Ia merupakan penulis Rusia yang menelurkan novel, cerpen dan naskah drama. Beberapa karya besarnya adalah: A Sportsman Sketches, kumpulan cerpen pertamanya yang menjadi pelopor realisme Rusia. Novelnya yang berjudul Fathers and Sons merupakan salah satu karya fiksi terbesar di abad 19. Namun mungkin kita di Indonesia lebih akrab dengan novel romance klasiknya yang berjudul: First Love (diterjemahkan menjadi Cinta Pertama) diterbitkan Pustaka Jaya. Turgenev melajang hingga akhir hidupnya, namun pernah mempunyai anak illegal dari hubungan cintanya. Berteman paling akrab dengan Gustave Flaubert karena kesamaan pandangan. Sedang dengan sesama penulis besar Rusia: Leo Tolstoy dan Fyodor Dostoyevsky, Turgenev justru bermusuhan. Tolstoy pernah mengajak Turgenev duel, tapi lalu minta maaf. Sedang Dostoyevsky pernah menyebut Turgenev dalam parodinya, namun akhirnya Dostoyevsky merekonsiliasi hubungannya dengan Turgenev dalam sebuah acara publik.


Fyodor Dostoyevsky

Tanggal 11 November 1821 merupakan hari di mana Rusia memiliki calon penulis besarnya. Fyodor Mikhaylovich Dostoyevsky, nama bayi itu, di kemudian hari menelurkan banyak novel, cerita pendek dan esai. The Brothers Karamazov, Crime and Punisment dan Notes From Underground adalah tiga karya terbesarnya. Dostoyevsky dianggap sebagai salah satu psikolog literature terbesar di dunia, dan pelopor ekstensialisme abad 20. Lahir di Moskow, Dostoyevsky mengidap epilepsy sejak usia 9 tahun, dan faktor itulah yang mengilhaminya untuk menciptakan tokoh Pangeran Myshkin dalam novel The Idiot yang juga menderita epilepsi.


Robert Lo
uis Stevenson

Penulis berkebangsaan Skotlandia ini lahir di Edinburgh, 13 November 1850 dengan nama lengkap Robert Lewis Balfour Stevenson. Stevenson adalah penulis novel, puisi, esai dan kisah perjalanan. Beberapa karya terbesarnya (beberapa telah diterjemahkan dan diterbitkan di Indonesia) adalah: Treasure Island (terbitan Serambi), Kidnapped, dan The Strange Case of Dr. Jekyll `nd Mr. Hyde (terbitan Gramedia). Menduduki ranking ke 26 penulis dengan karya paling banyak diterbitkan di dunia, Stevenson merupakan penulis yang dikagumi banyak penulis klasik lain seperti: Rudyard Kipling, Jorge Luis Borges, Ernest Hemingway dan Vladimir Nabokov. Meski kemampuan membacanya amat terlambat (baru di usia 7-8 tahun), namun jauh sebelum ia bisa membaca, ia sudah sering mendiktekan cerita-cerita pada perawat atau ibunya. Ia sudah banyak menulis ketika kecil, meski dilarang oleh ayahnya.


George Eliot

Jangan salah! George Eliot bukanlah seorang pria, melainkan nama pena seorang penulis wanita Inggris bernama asli Mary Anne Evans yang lahir pada 22 November 1819. Mary merupakan salah satu penulis terdepan pada jaman Victoria. Beberapa karya terbesarnya adalah Middlemarch dan Silas Marner. Nama pena George digunakan Mary untuk keluar dari stereotip penulis wanita yang pada jaman itu biasanya menulis kisah romance ringan. Selain itu, ada kemungkinan Mary ingin melindungi kehidupan pribadinya dari santapan publik, terutama karena selama 20 tahun ia menjalin hubungan gelap dengan seorang pria yang sudah menikah.




Francess Hodgson Burnett

Lahir di Manchester, Inggris 24 November 1849, Frances Eliza Hodgson Burnett terpaksa menjadi penulis ketika pada usia 16 tahun ia harus mencari nafkah bagi keluarganya yang beremigrasi ke Amerika. Baru setelah menikah dengan Swan Burnett, ia mulai menulis novelnya. Dua karyanya yang terkenal dan sudah diterbitkan versi terjemahannya di Indonesia adalah The Secret Garden (Gramedia) dan A Little Princess (Gramedia dan Serambi). Kematian putranya karena tuberculosis merupakan awal dari kehidupannya yang sulit, yang disusul perceraian, lalu pernikahan kedu` yang hanya berumur 1 tahun, dan akhirnya kematiannya pada tahun 1924 saat menetap di Long Island.


Louisa May Alcott

Meski berdarah Inggris tulen, Louisa May Alcott lahir di Amerika pada 29 November 1832 dan menjadi warga Negara Amerika. Dari pengalaman masa kecilnya bersama tiga saudara perempuannya, kelak ia menulis novel-novel klasik yang bertahan sepanjang masa: Little Women, Good Wives dan Little Men (ketiganya sudah diterjemahkan oleh Serambi). Alcott beruntung karena sejak kecil sudah mendapat pelajaran dari penulis caliber dunia seperti Henry David Thoreau, Ralph Waldo Emerson dan Nathaniel Hawthorne yang merupakan sahabat-sahabat keluarga Alcott. Tokoh “Jo” dalam Little Women merujuk pada dirinya sendiri, dan meski Jo di Little Women akhirnya menikah, Alcott sendiri tetap melajang hingga akhir hidupnya.


Jonathan Swift

Lahir pada 30 November 1667, Jonathan Swift merupakan penulis Anglo-Irlandia yang lahir di Dublin. Karya novel klasiknya yang paling terkenal adalah Gulliver’s Travels. Selain itu, Swift adalah penulis prosa satir pertama dalam bahasa Inggris, dan pernah menulis puisi juga meski jumlahnya tak banyak. Swift merupakan ahli penulisan satir dalam bentuk Horatian dan Juvenalian. Salah satu nama samaran (pseudonym) yang pernah digunakan Swift dalam karya-karyanya adalah Lemuel Gulliver, meminjam nama karakter protagonist di novel Gulliver’s Travels. Ketika sedang belajar untuk meraih gelar Master, pecah perang sehingga ibunya mengusahakan agar Swift dapat bekerja sebagai asisten pribadi diplomat Inggris: Sir William Temple. Setelah itu sempat menjadi seorang pastor di gereja terpencil, lalu sempat kembali mengabdi pada Temple. Tulisan pertamanya baru terbit pada tahun 1704, dan setelah itu barulah namanya sebagai penulis mulai menanjak.


L.M. Montgomery

Maud, panggilan Lucy Maud Montgomery, alias L.M. Montgomery lahir pada 30 November 1874 di Prince Edward Island, Kanada. Maud terkenal karena serial Anne of Green Gables yang diterbitkan pada 1908 (telah diterjemahkan oleh Qanita/grup Mizan). Diasuh oleh neneknya yang keras, membuat Maud kecil kesepian. Masa kecil yang sulit inilah yang membuat Montgomery terbiasa menciptakan tokoh-tokoh imajiner yang kelak berguna bagi ide-ide kreatif tulisannya. Meski novel-novelnya membawa kegembiraan bagi pembacanya, tak begitu halnya dengan kehidupan pribadinya, yang terkuras antara menjadi ibu, kehidupan gereja dan kesehatan suaminya, yang membuatnya depresi.


Mark Twain

Di antara ke 11 penulis klasik yang berulang tahun pada bulan November, mungkin yang paling populer adalah Samuel Langhorne Clemens alias Mark Twain, yang lahir pada 30 November 1835. Siapa sih yang tak pernah, paling tidak, mendengar 2 karya klasik sepanjang masa-nya: The Adventures of Tom Sawyer dan Adventures of Huckleberry Finn yang disebut-sebut sebagai Great American Novel? Menilik dua karyanya itu, tak heran kalau penulis Amerika ini adalah sosok yang humoris. Twain dibesarkan di Missouri, yang lalu menjadi setting bagi kisah Tom Sawyer dan Huck Finn. Awalnya magang di sebuah percetakan, lalu menjadi kontributor artikel di penerbit surat kabar, dan pengemudi riverboat. Sempat gagal dalam usaha pertambangan emas, akhirnya menjadi jurnalis. Saat itulah ia mulai menulis kisah humornya yang lalu menarik perhatian publik. Dan dimulailah karir menulisnya. William Faulkner pernah menyebut Twain sebagai “bapak literatur Amerika”.

Jadi….dari ke-11 penulis itu, mana yang bukunya sudah anda baca? Kalau belum, yuk merayakan ulang tahun mereka dengan membaca buku-buku klasik sepanjang masa karya mereka selama bulan ini!

Monday, October 24, 2011

Pangeran Bahagia

Apakah kebahagiaan itu identik dengan keindahan, kemilaunya emas dan meronanya merah batu delima? Bersama Pangeran Bahagia, Oscar Wilde—seorang sastrawan legendaris Irlandia akan mengajak anda sekali lagi memaknai sebuah kebahagiaan. Seperti namanya, Pangeran Bahagia selalu mengalami kebahagiaan selama hidupnya yang terkurung di balik dinding istananya yang tinggi. Namun begitu ia meninggal dan sebuah patung didirikan di atas tiang jangkung yang menjulang ke atas kota, maka Pangeran Bahagia pun mulai menyadari bahwa banyak orang yang menderita di luar sana.

Suatu hari seekor burung walet (swallow) yang terlambat bermigrasi ke negeri Mesir yang hangat, merasa iba pada Pangeran Bahagia yang sedang menangis sedih. Burung Walet pun setuju untuk menunda kepergiannya ke Mesir demi menolong misi yang ingin dilakukan Pangeran Bahagia. Misi apakah itu? Apalagi kalau bukan membuat orang lain juga menjadi bahagia. Meski Pangeran Bahagia hanya bisa berdiri diam, ia merelakan semua yang ada pada dirinya demi membantu orang yang menderita. Batu delima di pedangnya, batu safir yang membuatnya memiliki mata, hingga emas yang selama ini melekat di tubuhnya. Semuanya tanpa batas ia ikhlaskan untuk mereka yang menderita.

Lalu bagaimana ketika Pangeran Bahagia sudah tak memiliki apapun untuk diberikan lagi? Akankah si burung wallet meninggalkannya untuk pergi ke Mesir menyusul teman-temannya? Dongeng Pangeran Bahagia ini merupakan salah satu dari kumpulan dongeng dengan judul sama. Dongeng ini adalah salah satu favoritku dari total 5 dongeng yang ada. Begitu menyentuh, begitu gamblang untuk dipahami. Ternyata kebahagiaan yang sejati adalah ketika kita mampu member kebahagiaan kepada orang lain. Kebahagiaan itu sifatnya memberi, dan bukan menerima…

Namun dongeng yang paling membuatku terhenyak adalah dongeng ketiga yang berjudul: Raksasa Yang Egois. Awalnya dongeng ini seperti dongeng anak-anak biasa, yaitu kisah raksasa yang mempunyai kastil dengan taman luas yang indah, penuh rumput hijau, bunga-bunga aneka warna dan 12 pohon persik. Taman itu menjadi tempat bermain anak-anak di sekitarnya di musim semi. Nah, ketika si raksasa pulang dan mendapati banyak anak-anak bermain di tamannya, marahlah ia. Dibangunnya dinding tinggi memagari tamannya, dan dipasangnya pengumuman yang melarang anak-anak memasuki taman. Anak-anak pun sedih, dan anehnya, musim semi, musim panas dan musim gugur pun tak mau lagi datang ke kebun si raksasa, hingga musim dingin, salju dan angin Timur lah yang bermain-main di sana.

Sekarang si raksasa lah yang menjadi sedih karena musim dingin yang berkepanjangan. Namun suatu hari ada seorang anak kecil datang bermain di sana dan mencium si raksasa. Hati si raksasa pun lumer, dan ia sangat mencintai si anak kecil. Namun setelah itu si anak kecil menghilang, sampai suatu saat si anak kecil datang kembali. Kali ini si raksasa menemukan sebuah kejutan dalam diri si anak kecil. Di sinilah anda akan dibuat terpana, ketika mengetahui siapa si anak kecil sebenarnya. Dongeng yang awalnya seperti dongeng anak-anak biasa, menjadi begitu dalam maknanya. Inilah dongeng paling favorit bagiku di buku ini!

Ada tiga dongeng lainnya yang masing-masing berbicara tentang makna cinta, makna persahabatan, dan keegoisan. Yang paling menarik mungkin kisah ke 4: Teman Yang Setia. Dongeng ini merupakan “dongeng di dalam dongeng”. Ada beberapa hewan yang sedang berdiskusi tentang makna “sahabat yang setia”. Ada tikus air yang hanya mementingkan dirinya sendiri, lalu ada ibu bebek dan burung pipit. Kemudian burung pipit menceritakan sebuah dongeng tentang Hans yang baik hati dan si Tukang Giling. Kedua tokoh ini menganggap temannya sebagai sahabat. Sebenarnya si burung pipit yang bercerita berharap si tikus air bisa mengambil pelajaran moral dari dongengnya itu. Namun ternyata si tikus air malah melengos pergi. Maka, Wilde pun menyerahkan kepada pembaca sendiri untuk mengambil kesimpulan, nilai moral apa yang terkandung dalam dongeng Hans sekaligus si tikus air itu.

Menilik dari ragam dongeng yang disajikan Wilde di buku ini, menurutku Pangeran Bahagia lebih ditujukan bagi orang dewasa atau paling tidak remaja, ketimbang anak-anak. Atau orang tua bisa membacakan dongeng ini bagi anak-anaknya sambil menjelaskan nilai moral yang ada di balik masing-masing dongeng. Yang jelas, dongeng-dongeng dari Oscar Wilde ini bukanlah dongeng biasa. Kisahnya memang ringan, namun mengandung makna yang cukup dalam untuk menjadi bahan permenungan.

Empat bintang untuk Pangeran Bahagia!

Judul: Pangeran Bahagia
Judul asli: The Happy Prince and Other Stories
Penulis: Oscar Wilde
Penerjemah: Risyiana Muthia
Penerbit: Serambi
Terbit: April 2011
Tebal: 104 hlm

Monday, October 17, 2011

The Odyssey of Homer

Odysseus adalah salah seorang pahlawan bangsa Achaean yang turut berperang melawan Troy. Alkisah, setelah sepuluh tahun berperang melawan Troy, pasukan Achaean pulang dengan membawa kemenangan. Namun rupanya Zeus, dewa pemimpin semua dewa, tidak menyukai hal ini sehingga meski Achaean dibiarkan menang, namun proses kepulangan orang-orang Achaean ke negerinya sendiri dipersulit oleh Zeus. Salah satu pahlawan Achaean yang bernasib paling buruk dalam perjalanan pulang ini adalah Odysseus. Kisah liku-liku perjuangan hidup-mati Odysseus demi bisa pulang ke Ithaca dikisahkan dalam epic The Odyssey, yang merupakan salah satu epic terbesar sepanjang masa, bersama dengan The Iliad yang juga karya Homer.

Epic ini dibuka dengan sebuah rapat yang terjadi di puncak Olimpus, tempat tinggal para dewa. Athena, putri Zeus, membujuk ayahnya untuk menolong Odysseus untuk dapat pulang ke negara dan keluarganya, setelah selama sepuluh tahun berkelana dari satu pulau ke pulau lain, dan akhirnya ditawan oleh seorang dewi yang jatuh cinta padanya, bernama Calypso. Athena memanfaatkan kesempatan ketika Poseidon, dewa yang membenci Odysseus, sedang pergi. Beroleh restu dari Zeus, Athena pun segera bekerja.

Pertama-tama ia mendatangi Telemachos, putra Odysseus yang kini telah berusia 20 tahun. Ternyata karena Odysseus tak kunjung pulang dari Troy, ada 108 orang raja dan pangeran muda yang dengan kurang ajarnya merayu istri Odysseus, Penelopeia, agar menikahi salah seorang dari mereka. Bukan saja menginap di istana Odysseus, mereka juga berlaku seenaknya dan menghabiskan harta dan makanan Odysseus, karena mereka berpikir sang raja Ithaca telah meninggal.

Maka Athena pun membangkitkan keberanian Telemachos untuk pergi ke kediaman Nestor untuk menanyakan keberadaan ayahnya. Karena, selama ayahnya belum pulang, sulit baginya untuk mengusir para pelamar ibunya. Sementara itu Zeus mengutus Hermes untuk memaksa Calypso membebaskan Odysseus. Akhirnya Odysseus pun memulai perjalanan pulangnya. Namun, itu tak berarti perjalanan itu akan berjalan mulus. Zeus telah mentakdirkan Odysseus mengalami berbagai macam rintangan. Ditambah lagi, karena dalam perjalanan itu Odysseus telah membutakan mata raksasa cyclop yang adalah putra Poseidon, Poseidon pun makin bertambah murka. Dan rintangan demi rintangan yang seolah tak ada habisnya harus dihadapi Odysseus. Satu persatu anak buahnya tewas, hingga akhirnya Odysseus pun sendirian. Berhasilkah ia pulang? Dan apakah Penelopeia masih mau menunggunya setelah berpisah selama 20 tahun?

Berbeda dengan The Iliad yang lebih dinamis dengan banyak tokoh yang terlibat dalam perang, The Odyssey ini seolah menjadi antiklimaksnya. Odysseus menjadi tokoh sentral di keseluruhan kisah, dan meski perjalanan pulangnya dipenuhi tantangan dan aksi seru, tetap saja aku sempat merasa bosan di tengah-tengah. Begitu dominannya Odysseus, sehingga kematian tokoh-tokoh penting di The Iliad seperti Agamemnon dan Achilles, terasa hambar dan tidak berkesan.

Baru pada bagian akhirlah cerita menjadi agak berbobot berkat sedikit aksi. Namun, tetap saja terasa beda. Kalau dalam The Iliad para pahlawan berperang melawan negara lain, di The Odyssey, Odysseus berperang di rumah sendiri saja.....

Pengulangan adegan juga salah satu aspek yang membuatku bosan. Saat Odysseus atau Telemachos dalam perjalanan dan singgah ke istana suatu negara, selalu saja ritual “kunjungan orang asing” yang sama berlangsung. Mula-mula tamu akan dijamu makan, lalu disuruh bercerita dari mana asalnya dan maksud kedatangannya. Setelah makan, semua orang menuangkan anggur dari cawan masing-masing ke tanah untuk berdoa pada para dewa. Lalu sebelum si tamu pulang, sang tuan rumah akan memberikan berbagai hadiah-hadiah indah yang belum pernah dilihat tamunya. Aku mengerti bahwa itu memang kebiasaan bangsa Yunani yang berlaku saat itu. Tapi kalau ritual itu dikisahkan berulang-ulang pada setiap kunjungan, lama-lama bosan juga.

Mungkin saja…. memang begitulah karakter sebuah epic. Karena epic itu pada dasarnya adalah puisi naratif, maka mungkin saja terjadi banyak pengulangan. Bagaimana pun, keberanian dan kegigihan Odysseus yang pantang menyerah dalam menghadapi rintangan patut diacungi jempol. Entah sudah berapa kali ia harus menantang maut. Dari raksasa kanibal hingga ke monster menakutkan, dari sihir hingga harus mengarungi keganasan laut setelah terlempar dari kapal, semuanya mampu dihadapi Odysseus. Tak heran, The Odyssey merupakan epic kepahlawanan terbesar sepanjang masa. Tiga bintang untuk buku ini!

Judul: The Odyssey of Homer
Penulis: Homer
Penerjemah: A. Rachmatullah
Penerbit: Oncor Semesta Ilmu
Terbit: 2011
Tebal: 317 hlm

Wednesday, October 12, 2011

What is Epic?

Semenjak membaca The Iliad dan The Odyssey of Homer, aku jadi bertanya-tanya, apa sih sebenarnya epic itu? Dan kriteria apa saja yang membuat sebuah karya disebut epic? Bagaimana dengan The Sword in The Stone yang merupakan bagian pertama dari The Once and Future King karya T.H. White? Atau Lord of The Rings, dapatkah kedua karya ini disebut epic? Dan inilah penjelasan yang kurangkum dari berbagai sumber di internet:

Asal mula Epic

1. Istilah epic berasal dari kata Yunani “epos” yang artinya: kata, cerita, puisi.

2. Biasanya berupa puisi naratif yang bercerita tentang perjuangan kepahlawanan yang merepresentasikan suatu budaya, bangsa atau agama. Keberhasilan atau kegagalan sang pahlawan akan menentukan nasib bangsa atau kumpulan orang yang diwakilinya.

3. Awalnya epic diceritakan secara lisan, namun sejak jaman Virgil (penulis The Aeneid), Dante Alighieri dan John Milton, kisah epic mulai hadir dalam bentuk tertulis.

Kriteria Epic

1. Epic biasanya bercerita tentang negara, dunia atau alam semesta.

2. Kisah epic beralur cepat dan mencakup area geografis yang luas.

3. Gaya penulisan epic biasanya in medias res (dari bahasa Latin = into the middle of things) yang artinya cerita di mulai di tengah-tengah aksi lalu baru disusul flashback ke belakang lewat narasi atau dialog tokohnya, untuk menjelaskan runtutan kejadian hingga ke cerita yang menjadi awal epic tadi.

4. Kehadiran dewa-dewi atau kekuatan supernatural lain biasanya menghiasi kisah epic dengan mengintervensi kehidupan manusia.

5. Biasanya penggambaran tokoh dipenuhi dengan ephitet (dari bahasa Yunani = descriptive term), artinya uraian yang menjelaskan suatu tokoh. Misalnya dari Odyssey of Homer: “Cronides ayah kami, penguasa alam semesta

6. Epic biasanya dilengkapi dengan catalog lengkap (=enumeratio) mengenai para tokoh yang terlibat, nama, keturunan dsb.

Evolusi Epic

Epic Awal

Epic tertua di dunia dipercaya adalah Epic of Gilgamesh, yang ditulis di batu seribu tahun sebelum Iliad. Setelah itu menyusul era epic Yunani Kuno, diwakili oleh Iliad dan Odyssey of Homer yang merupakan epic terbesar sepanjang masa. Pada jaman ini epic bercerita tentang seseorang yang berjuang melawan (atau dibantu oleh) dewa-dewi dan/atau makhluk-makhluk.

Epic Abad Pertengahan

Masih tentang perjuangan seorang pahlawan, namun di sini keberadaan dewa-dewi sudah dihilangkan. Sang pahlawan lebih mengandalkan dirinya sendiri. Epic paling terkenal era ini adalah King Arthur (Le Morte d’Arthur) karya Thomas Malory. Epic ini kemudian ditulis ulang dengan gaya baru oleh T.H. White dalam The Once and Future King. Ciri khas epic era ini adalah penggunaan sihir sebagai ganti campur tangan dewa-dewi.

Epic Modern

Meski kriteria epic jaman ini masih sama dengan para pendahulunya, namun ada evolusi yang signifikan tentang setting-nya. Kalau di jaman dulu, “dunia” adalah dunia nyata tempat kita hidup, di epic modern, penulis mulai “menciptakan” dunia khayalan yang lalu diisi dengan naga atau makhluk-makhluk lainnya. Epic modern yang paling terkenal adalah The Lord of the Rings karya J.R.R. Tolkien. Jadi, meski ciri khas epic yaitu perjuangan seorang pahlawan yang penuh rintangan masih tetap ada, namun tantangannya menjadi berbeda ketika “dunia” yang dihadirkan juga menjadi lebih kompleks.

Akhirnya, unsur fantasi yang memang melekat pada epic sejak awal (intervensi dewa-dewi, makhluk supernatural), akan lebih “mengental” di Epic Modern.

Semoga bermanfaat!

Monday, October 10, 2011

Lady Chatterley’s Lover

Ini adalah salah satu buku yang menurutku kontroversinya melebihi kekuatan kisahnya sendiri. D.H Lawrence mulai menulis buku ini di tengah kemuraman jaman setelah Perang Dunia I usai. Dari Midland, Inggris-tempat tinggalnya, ia melihat banyak kepesimisan dalam hidup orang-orang. Manusia menjadi lebih kaku, dingin dan mengagungkan intelektualitasnya sebagai yang utama dalam hidup, dan melupakan kehangatan jiwa pada sesama dan bahkan pada pasangannya.

Lawrence kemudian menuangkan kecamannya terhadap industrialisme yang menurutnya menjadi salah satu penyebab perubahan ini, ke dalam bentuk seksualitas wanita. Lebih tepatnya, Lawrence menganalogikan kebebasan dari kungkungan kesombongan itu lewat (maaf) seks, persetubuhan dan orgasme. Ketiga hal inilah yang membuat novel ini sempat melahirkan kontroversi karena pada jaman itu ketiga hal itu dianggap tabu, apalagi kalau dibeberkan secara eksplisit. Selain itu, buku ini juga bertutur tentang perselingkuhan pria dan wanita dari dua strata sosial yang jauh berbeda, yakni bangsawan dan pekerja.

Constance “Connie” Reid adalah wanita muda yang sedang mekar, besar di keluarga yang cukup liberal dan telah berkeliling dunia serta mengenyam kebebasan, sebelum akhirnya menikah dengan seorang bangsawan bernama Clifford Chatterley. Sebulan setelah pernikahan itu, Clifford harus berangkat perang, untuk kemudian pulang sebagai orang cacat, lumpuh dari pinggang ke bawah dan membuatnya impoten. Kelumpuhan itu bukan saja menyerang Clifford secara fisik, namun rupanya juga secara mental. Artinya, Clifford menjadi dingin dan kaku, makin arogan dan percaya bahwa hal-hal manusiawi seperti sentuhan fisik dan cinta adalah omong kosong, dan malah mengagungkan akal intelektualnya.

Connie merasa kecewa, kesepian, layu dan hampa dalam kehidupan di Wragby Hall, rumah muram mereka, dalam kungkungan perkawinan yang tak bahagia. Sampai suatu hari secara tak sengaja ia menemukan pondok seorang penjaga hutan yang dipekerjakan Clifford. Mellors, si penjaga hutan, ternyata pria yang tampan dan “terhormat”, meski berasal dari kalangan rakyat biasa. Mellors adalah veteran perang yang kini hidup sendirian setelah bertengkar kemudian berpisah dari istrinya. Sejak saat itu ia tak mau mendekati wanita dan mengalami cinta. Namun Connie mengubah segalanya…

Singkat kata, Connie dan Mellors berselingkuh. Kadang mereka bercinta di pondok, kadang di gubuk, kadang bahkan di alam terbuka di tengah hutan. Melakukannya bersama Mellors, Connie menemukan “kebebasan”. Dalam kebersamaan dengan Mellors, ia tak lagi hanya sebagai Putri Chatterley, namun benar-benar sebagai seorang wanita dengan kewanitaannya yang lengkap. Connie akhirnya hamil, dan saat itupun muncul masalah. Bagaimana masa depan Connie dan Mellors, dapatkah mereka bersatu seperti pasangan normal lainnya? Ataukah Connie tetap harus mempertahankan perkawinannya dengan Clifford dan menjadikan bayi itu penerus Wragby? Dapatkah masyarakat menerima skandal mereka?

Membaca buku ini diperlukan konsentrasi yang lumayan tinggi, karena selain kebanyakan berupa narasi yang sarat kriktik, penerjemahannya pun agak kurang pas di sana-sini. Ditambah dengan uraian panjang tentang situasi sosial dan politik jaman itu yang tidak aku pahami sepenuhnya, membuat aku kadang melompat ke halaman berikutnya. Terlepas dari hal-hal itu, Lady Chatterley’s Lover ini memang bacaan yang unik. Kalau dibandingkan dengan bacaan-bacaan modern, sebenarnya erotisme di buku ini tidaklah terlalu vulgar, karena Lawrence mampu mengungkap hal-hal tabu itu dengan bahasa yang indah, sehingga menyisakan ruang bagi pembaca untuk berimajinasi sendiri.

Buku ini juga masuk ke dalam (buku): Buku-Buku Yang Mengubah Dunia karya Andrew Jackson, bersama 49 buku lainnya. Buku ini dianggap membawa perubahan besar dalam bidang sastra. Selama lebih dari 30 tahun buku ini dilarang beredar di Inggris dan Amerika. Bahkan setelah ditulis tahun 1920, sempat beredar setidaknya tiga versi bajakan di negara-negara tersebut. Versi asli buku ini juga sempat ditulis ulang hingga tiga kali, sebelum akhirnya ada sebuah penerbit yang bersedia menerbitkan tulisan D.H. Lawrence ini dan menjualnya dengan harga lebih murah dari bajakan. Versi terakhir ini menyertakan juga catatan panjang yang ditambahkan Lawrence ke dalam buku ini, menjelaskan panjang lebar tanggapan dan proses pengerjaan buku ini.

Melalui persidangan di Amerika dan Inggris, akhirnya buku ini diijinkan terbit secara legal pada tahun 1959 dan 1960. Kasus ini akhirnya menjadi semacam pendobrak bagi penyensoran sastra yang telah berlangsung lama di Inggris. Tak heran bila sekarang semakin banyak novel yang menyertakan unsur-unsur erotis sebagai bumbu cerita, yang sudah menjadi makin biasa bagi kita. Namun pendobrak awalnya, adalah D.H. Lawrence bersama Lady Chatterley’s Lover-nya. Tiga bintang untuk buku unik ini!

Judul: Lady Chatterley’s Lover
Penulis: D.H. Lawrence
Penerjemah: Arfan Achyar
Penerbit: Alvabet
Terbit: Desember 2008
Tebal: 586 hlm