Friday, November 18, 2011

Cinta Tak Pernah Mati

Pernahkah anda menghadiri pesta pernikahan yang settingnya sitting party? Alias pesta di mana para tamu duduk di sekeliling meja-meja bundar. Masakan akan disajikan berurutan, dan tamu berbagi masakan bersama beberapa orang lainnya. Kalau total menu ada 7 macam, berarti tamu akan makan 7 macam masakan berbeda, tentu masing-masing dalam porsi mungil. Hasilnya? Kalau untukku, biasanya perut kembung (karena terlalu sering jeda antar menu), tidak kenyang, dan aku sudah tak bisa merasakan kelezatan makanan akibat terlalu banyak rasa yang mampir ke lidahku. Begitu jugalah yang kurasakan setelah membaca antologi klasik ini!

Cinta Tak Pernah Mati adalah sebuah antologi klasik yang disusun oleh penerbit Serambi. Tak kurang dari tujuh belas penulis klasik dunia menyumbangkan, masing-masing, sebuah kisah di buku ini. Ada nama-nama yang sudah familier bagi kita seperti Mark Twain, Edgar Allan Poe, Leo Tolstoy, Fyodor Dostoyevsky; namun ada juga nama-nama yang mungkin agak asing, seperti August Strindberg atau James Joyce. Tak hanya datang dari negara dan budaya berbeda, para penulis ini juga memiliki gaya penulisan khas yang berbeda pula.

Menilik dari judulnya, anda mungkin akan mengira antologi ini berisi kisah-kisah bertema cinta. Ternyata (yang mengherankanku), tak semua kisah di buku ini menggambarkan cinta, dalam segala bentuknya. Padahal dalam halaman 'Sekadar Pengantar' dikatakan, "...Kisah-kisah ini menyiratkan kepada kita bahwa di balik segenap suka duka kehidupan, sesungguhnya cintalah yang pada akhirnya akan menyelamatkan kita." Sayangnya ada beberapa kisah, di mana aku tak menemukan makna cinta itu sama sekali, meski di kisah lainnya ada nuansa cinta yang tersamar, sementara sisanya memang nyata-nyata bertutur tentang cinta. Ataukah aku yang kurang peka untuk menemukannya? Entahlah...

Dari ketujuhbelas kisah itu, ada tiga yang menarik perhatianku. Yang pertama adalah karya penulis Prancis Honoré de Balzac, Cinta Tak Pernah Mati--yang juga dijadikan judul buku ini. Kisah ini bertutur tentang petualangan seorang prajurit Prancis yang tertangkap oleh tentara Arab di Mesir. Suatu malam ia berhasil melarikan diri, namun sayang, ia kemudian tersesat di tengah hamparan gurun pasir yang seolah tak berujung. Tiba-tiba ia menemukan sebuah gua, dan memutuskan untuk tinggal di situ. Tak disangka, gua itu adalah kediaman seekor macan gurun betina dengan kulit berbintik-bintik. Ia ketakutan, dan sudah siap menghunus pisaunya untuk mempertahankan diri. Namun ternyata, sang macan malah memperlakukannya seperti seorang kawan.

Lama kelamaan, tumbuhlah perasaan sayang dalam diri kedua makhluk yang kesepian dan saling membutuhkan di ganasnya gurun itu. Pak Martin, nama tentara itu, memanggil sang macan dengan nama Mignonne (panggilan sayang untuk perempuan). Kedekatan mereka berdua menjadi begitu kuat, dan Mignonne tak ubahnya seekor kucing rumah yang manja. Hingga suatu hari Pak Martin terpesona pada seekor elang (yang jarang sekali melintas di gurun) yang sedang terbang. Ketertarikan Pak Martin pada si elang membuat Mignonne 'cemburu'. Dengan merajuk, Mignonne menggigit pergelangan kaki Pak Martin. Hanya gigitan pelan saja sebenarnya, namun Pak Martin keburu ketakutan Mignonne akan melukainya, maka ia pun mencabut belati yang terus disimpannya, dan menikamkannya ke tubuh Mignonne.

Apapun yang dirasakan oleh Pak Martin, dan bagaimana pun kisah ini berakhir, aku amat terkesan pada kata-kata ini: "...itu rahmat Tuhan tanpa kemanusiaan."

Kisah ini mengingatkan kita, bahwa Tuhan itu ada, sekaligus tiada. Ia tak nampak di mana-mana, namun sekaligus muncul dalam segala sesuatu. Kalau kita percaya bahwa Tuhan adalah cinta, maka di mana ada cinta, di sana pasti Tuhan hadir. Kadang-kadang Tuhan memang hadir dalam wujud yang tak terduga. Contohnya, dalam sosok seekor macan gurun betina yang jinak. Tinggal kita lah yang harus lebih peka untuk melihat cinta itu, demi menemukan Tuhan.

Kisah kedua yang kusukai adalah Kebahagiaan, karya Leo Tolstoy. Kisah sederhana tentang sepasang suami-istri petani yang rajin bekerja sejak muda. Tak heran, kekayaan dan kemakmuran mendatangi mereka. Rumahnya sering kedatangan tamu, dan mereka selalu membicarakan betapa beruntungnya Ilyas, si petani. Namun, roda kehidupan memang berputar. Satu persatu kemalangan menimpanya, hingga akhirnya ia jatuh miskin di usia tuanya. Seorang tetangganya jatuh iba, dan mempekerjakan Ilyas dan istrinya di rumahnya. Suatu hari si tetangga dan tamu-tamunya menyuruh Ilyas bercerita tentang kebahagiaan masa lalu dan kemalangan masa kini.

Tak disangka, Ilyas dan istrinya merasa jauh lebih bahagia setelah miskin, daripada waktu kaya dulu. Mengapa? Kurasa anda akan dapat menduganya, karena sebenarnya ini kisah yang klise. Namun entah bagaimana, penuturan Tolstoy mungkin, yang membuat cerita ini menjadi 'hangat'.

Kisah terakhir di buku ini yang juga menarik bagiku, adalah karya Émile Zola yang berjudul Sepatu Bot. Setelah membaca Therese Raquin, aku jadi terpesona pada gaya penulisan Zola. Dan gayanya itu langsung terasa begitu aku mulai membaca 'Sepatu Bot'. Ceritanya unik, mengenai seorang perempuan muda yang menjadi kekasih gelap seorang bangsawan. Si bangsawan heran karena setiap hari ia mendapati sepatu botnya selalu dalam keadaan bersih dan berkilau karena polesan semir. Penasaran, ia pun mengendap-endap di rumahnya untuk menemukan si pembersih sepatu bot misterius. Apakah yang akan ia temukan? Sebuah kisah ringan yang unik, namun menarik berkat penulisan Zola yang cantik.

Ide untuk menyusun sebuah antologi penulis klasik memang baik, tapi menurutku lebih baik mengumpulkan lebih sedikit penulis, namun yang memiliki kemiripan dalam gaya atau tema. Dengan begitu, aku tak perlu merasa 'kurang kenyang' setelah melahap buku seperti ini. Ditambah lagi, gambar cover ini sama sekali tak mencerminkan isinya. Sangat 'nanggung' untuk penulis-penulis kaliber dunia dengan karya-karya hebat itu. Terakhir, akan lebih baik lagi kalau judul cerita asli dicantumkan juga. Jadi...tiga bintang kuberikan untuk antologi ini. Dan selanjutnya, aku mungkin takkan memilih antologi lagi sebagai bacaanku!

Judul: Cinta Tak Pernah Mati

Penulis: Ryunosuke Akutagawa -- Honore de Balzac -- Bjornstjerne Bjornson -- Anton Chekhov -- Fyodor Dostoyevsky -- John Galsworthy -- O. Henry -- James Joyce -- Rudyard Kipling -- W. Somerset Maugham -- Guy de Maupassant, -- Edgar Allan Poe -- August Strindberg -- Rabindranath Tagore -- Leo Tolstoy -- Mark Twain -- Emile Zola

Penyusun & penyunting: Anton Kurnia
Penerjemah: Atta Verin & Anton Kurnia
Penerbit: Serambi
Terbit: Juni 2011
Tebal: 227 hlm

Wednesday, November 9, 2011

Oidipus Sang Raja

Jujur, saat pertama kali memutuskan membeli buku ini dalam rangka mendukung gerakan #SavePustakaJaya (membantu penerbit Pustaka Jaya untuk kembali bangkit), aku ragu-ragu. Sebelum ini, aku belum pernah membaca karya sastra yang berbentuk drama. Bayanganku, pasti buku ini akan membosankan. Terus terang saja, drama yang kubayangkan itu adalah drama ala sinetron kita yang mendayu-dayu lebay itu, yang ternyata salah besar! Drama ala Yunani Kuno ini berbentuk ode, yaitu semacam puisi yang dinyanyikan. Dan ternyata…aku jatuh cinta pada buku ini!

Drama dibuka dengan datangnya para demonstran yang mengelilingi altar di luar istana kerajaan Thebes. Oidipus, sang Raja Thebes pun keluar menanyakan keresahan mereka. Mewakili rakyat, seorang pendeta tua mengungkapkan bencana yang tengah melanda negeri mereka. Tanaman terserang hama dan wabah penyakit membawa kematian. Dalam pengaduannya itu, pendeta mengingatkan Oidipus akan aksi heroiknya dulu saat ia memecahkan teka-teki Sphinx sehingga menyelamatkan negara mereka. Sesungguhnya, karena jasanya itulah Oidipus kini menjadi Raja Thebes, yang memerintah bersama sang permaisuri, Jocasta.

Ingin menolong rakyatnya, Oidipus lalu mencari tahu penyebab para dewa menimpakan bencana itu. Untuk itu Oidipus telah mengutus Creon iparnya untuk bersembahyang ke kuil dan bertanya pada Dewa Apollo. Jawabnya kemudian datang: semua malapetaka itu jatuh akibat sebuah pembunuhan yang belum terungkap. Pembunuhan atas Laius, Raja Thebes terdahulu, yang menurut kabar dibunuh sekawanan penyamun. Maka Oidipus pun, di depan seluruh rakyat bersumpah akan menemukan pembunuhnya dan menghukum dengan mengasingkannya dari Thebes.

Ternyata jatidiri sang pembunuh bukanlah sepenuhnya tak diketahui. Ada pendeta agung bernama Teirisias yang diduga mengetahui rahasia ini. Maka Teirisias pun dibawa menghadap dan diinterogasi oleh Oidipus. Awalnya Teirisias menolak membeberkan jatidiri sang pembunuh, karena fakta yang ia ketahui sangat berbahaya. Namun karena didesak sang Raja, Teirisias pun membuka rahasia besar yang mengagetkan, sambil menuntut Oidipus menaati sumpahnya. Karena sang pembunuh Laius, menurutnya, adalah Oidipus sendiri! Bukan itu saja, Oidipus diyakini sesungguhnya adalah putra Laius yang dibunuhnya, dan Jocasta yang telah dikawininya.

Tak terkatakan murkanya Oidipus, sampai ia menuduh Teirisias bersekongkol dengan Creon untuk mengkudeta tahtanya.

Untuk menelusuri kebenaran, seorang gembala yang menjadi saksi mata tunggal kematian Laius pun dihadapkan. Dan kesaksiannya meneguhkan ketakutan Oidipus yang paling besar. Ternyata ia lah sang durjana yang telah disumpahinya. Ia lah yang telah meninggalkan noda yang tak terperikan bagi Thebes. Ia sudah membunuh ayah kandungnya, dan mengawini ibu kandungnya.

Lalu bagaimanakah nasib Oidipus selanjutnya? Dan bagaimana ia sampai membunuh ayahnya dan mengawini ibunya tanpa menyadarinya?

Membaca buku ini lumayan mengasyikkan. Meski kisahnya diceritakan lewat ode, namun pembaca justru bisa makin terhanyut dalam emosi para tokohnya, terutama pada Oidipus. Tak dinyana bentuk ode pun tetap dapat membuat sebuah kisah mengalir dengan sempurna, tanpa terasa berlebihan, namun tetap bermakna.

Dari buku ini aku belajar banyak tentang bentuk ode ala Yunani Kuno. Selain para tokoh bergantian berpuisi, ada saat-saat jeda antara scene yang satu dan scene selanjutnya –di mana panggung kosong dari para tokoh—dan diisi oleh paduan suara yang menyanyikan penghantar antar babak. Mereka bergantian membawakan strophe dan antistrophe, yang lalu ditutup dengan epode. Antistrophe adalah bagian yang menjawab dan menyeimbangkan strophe. Jadi, kalau strophe dibawakan dengan nada berapi-api dan bersemangat, maka antistrophe akan menjawab dengan nada melankolis, dan begitu selanjutnya. Sedangkan epode merupakan semacam penutup atau kesimpulan dari suatu babak. Kurasa, di buku ini bagian epode itu diisi oleh Pemimpin Paduan Suara.

Untuk memberikan gambaran isi buku ini, berikut adalah salah satu petikan puisi yang dinyanyikan Oidipus untuk menenangkan rakyatnya di bagian awal drama:


"Telah kulihat semua penderitaanmu
namun tak ada yang melebihi penderitaanku.
Berbagai penderitaanmu adalah tunggal dan satu,
tapi penderitaanku lebih dari satu.
Kecuali menderita untuk diriku,
aku menderita untuk dirimu,
dan juga menderita untuk Thebes."

[penggalan dari bagian lain]


"Baiklah! Akan kukejar jejaknya
dari mula pertama.
Akan kulunasi keadilan demi Dewa,
demi rakyat dan demi yang wafat.
Akan kaulihat aku memburu sang durjana
demi Apollo dan demi Thebes negeri kita."

Dari dua penggal ode itu, aku bisa merasakan bahwa sebenarnya Oidipus adalah raja yang baik, yang mau ikut memikirkan penderitaan rakyatnya.

Empat bintang untuk Sophokles yang telah menciptakan drama ini, dan bagi penerbit Pustaka Jaya yang telah menerjemahkannya dengan baik pula, hingga ode ini masih bisa kita nikmati meski telah diterjemahkan dari versi aslinya.

Catatan:
Apakah anda mengenal Penerbit Pustaka Jaya? Penerbit ini banyak menerbitkan buku-buku klasik dari penulis dunia seperti Fyodor Dostoyevsky, Leo Tolstoy, Mark Twain, Ivan Turgenev dll. Review ini dibuat dalam rangka mendukung gerakan #SavePustakaJaya dari kebangkrutan, agar karya-karya sastra berkualitas dunia tetap boleh kita nikmati bersama. Ayo bergabung bersamaku, beli dan bacalah buku-buku terbitan Pustaka Jaya melalui: Demi Pustaka Jaya

Judul: Oidipus Sang Raja
Penulis: Sophokles
Penerjemah: Rendra
Penerbit: Pustaka Jaya
Terbit: 2009
Tebal: 146 hlm

Monday, November 7, 2011

Therese Raquin

Kalau ada satu hal yang paling rumit di dunia dan tak pernah bisa dipahami, pasti itu adalah manusia. Pepatah mengatakan, dalamnya laut dapat diduga, dalamnya hati siapa tahu. Mungkin karena itulah, psikologi adalah salah satu hal yang selalu menarik minatku, meski aku tak pernah mempelajarinya secara serius di bangku kuliah. Yang paling menakjubkan bagiku adalah bagaimana manusia memutuskan untuk berbuat jahat, yang jelas-jelas melawan kodratnya; dan bagaimana ia melawan hati nuraninya setelah melakukannya. Émile Zola benar-benar memukauku dengan caranya membuat sebuah pergulatan batin menjadi gamblang, lewat karyanya: Therese Raquin.

Therese Raquin bukanlah putri kandung Mme Raquin. Ia adalah keponakan yang diangkat menjadi anak oleh Mme Raquin, yang hidup menjanda di sebuah kota kecil di Prancis pada abad 19, bersama dengan putra semata wayangnya: Camille. Dari lahir Camille adalah bocah lembek yang sakit-sakitan. Hal itu diperparah oleh cara sang ibu membesarkannya, yaitu dalam pemanjaan sekaligus pemujaan. Camille pun terbiasa dicekoki oleh obat dan ramuan, dan dikurung di rumah yang gelap dan suram.

Mau tak mau, Therese harus menerima perlakuan yang sama dari ibu angkatnya, meski ia sebenarnya adalah gadis yang sehat walafiat. Dan lihatlah apa yang terjadi…

Kehidupan orang sakit yang dipaksakan terhadap dirinya membuatnya menjadi orang yang tertutup. Ia menjadi terbiasa berbicara dengan suara lirih, berjalan tanpa suara, duduk diam dan tak bergerak-gerak di kursi, memandang kosong dengan mata membelalak lebar. ~hlm. 26.

Therese akhirnya tumbuh sebagai gadis pemurung, acuh, namun di dalam dirinya ada semacam api yang menggelegak, bak gunung berapi yang sedang menggodok magmanya sebelum pada suatu saat yang tepat menyemburkannya dalam sebuah ledakan besar.

Keegoisan Mme Raquin membuatnya mengambil keputusan untuk menikahkan Therese dan Camille. Sesudah itu, keluarga yang aneh inipun pindah ke Paris, dan tinggal di rumah sekaligus toko alat jahitan yang suram di Passage (Selasar) du Pont Neuf. Camille yang suka mengajak teman-temannya singgah, suatu hari memboyong teman lamanya: Laurent. Saat melihat Laurent, Therese bagaikan tersihir. Tak seperti suaminya yang lembek dan berbau seperti anak kecil sakit-sakitan yang mebuat Therese jijik, Laurent terlihat benar-benar seperti seorang pria. Dalam diri Therese pelan-pelan tumbuh hasrat yang kuat yang, kupikir, merupakan pelampiasan atas keterkungkungan hidup wanita itu selama ini.

Di sisi lain, Laurent adalah jenis pria paling menyebalkan di dunia. Pria yang hanya mau bermalas-malasan dan mendewakan kenikmatan lewat makanan dan seks. Dan pria seperti ini lah yang melangkahkan kaki ke rumah keluarga Raquin dan menemukan wanita yang bisa memenuhi hasratnya: Therese. Tak butuh waktu lama, segera terjadilah perselingkuhan panas penuh gairah antara kedua manusia ini. Laurent dan Therese menemukan kenikmatan dalam perselingkuhan mereka, dan mulai timbul keinginan untuk melakukannya dengan bebas. Satu-satunya penghalang bagi keduanya untuk bersatu, adalah Camille. Tanpa perlu terucap, dosa perzinahan yang mereka lakukan mulai menggiring mereka ke dosa berikutnya.

Kisah di atas hanya memakan sepertiga dari keseluruhan buku ini. Dua pertiga sisanya dipenuhi oleh Zola dengan kajian psikologis Therese dan Laurent setelah melakukan kejahatan mereka. Dan di bagian-bagian inilah terletak kekuatan buku ini. Zola tak hendak hanya bertutur, ia sedang melakukan semacam analisa ilmiah. Bak seorang ilmuwan yang ingin mengamati reaksi tertentu yang timbul bila ia mencampurkan dua substansi berbeda, begitulah Zola menyajikan perubahan watak yang akan terjadi apabila dua insan manusia yang berbeda watak namun sama-sama labil dipertemukan oleh cinta. Dan ketika hasrat mereka tak terkekang, hasrat itu membawa mereka pada tindakan yang tak bermoral serta pengecut. Namun yang paling menarik, bagaimana reaksi watak mereka setelah tindak kejahatan yang sama-sama mereka lakukan itu.

Tubuh mereka menggeletarkan getaran-getaran yang sama, dan jantung meraka, yang membentuk semacam persatuan yang merana, berdebar-debar kencang gara-gara perasaan ngeri yang sama. Semenjak saat itu, mereka hanya mempunyai satu tubuh dan satu jiwa untuk merasakan kenikmatan dan penderitaan. Kesamaan itu, perasaan menyatu itu bersifat kejiwaan dan merupakan fakta psikologis yang sering terjadi di antara orang-orang yang terperangkap bersama-sama gara-gara suatu ketegangan mental yang luar biasa. ~hlm. 166.

Seringkali manusia menggembar-gemborkan tentang kebebasan. Padahal tak ada kebebasan mutlak dalam kehidupan kita. Setiap tindakan kita membawa kita pada konsekuensi yang lain. Therese dan Laurent juga mendambakan kebebasan yang harusnya tak mereka miliki. Akibatnya, alih-alih merasa bebas, mereka justru menjadi budak dari konsekuensi tindakan mereka sendiri. Mengerikan bagaimana hati nurani manusia menghukum diri mereka sendiri dengan caranya sendiri pula. Pergulatan batin Therese dan Laurent begitu intens dan digambarkan dengan jelas dan detil oleh Zola hingga pembaca seolah turut mengalami mimpi-mimpi buruk mereka yang menyeret mereka ke ambang kegilaan.

Saat terbit, Therese Raquin mendapatkan kritikan bertubi-tubi dari para kritikus maupun sesama penulis, yang menganggap Therese Raquin mengumbar kejorokan dan kevulgaran. Dalam edisi kedua yang diterbitkan tahun 1868, Zola pun menulis pendahuluan untuk menjelaskan latar belakang di balik kisah Therese Raquin.

Seperti telah kuungkapkan di paragraf awal, aku menyukai telaah psikologis dalam kisah fiksi. Dua penulis terfavoritku: Agatha Christie dan John Grisham pernah menghasilkan buku-buku yang mengupas psikologi manusia saat menghadapi sesuatu. Christie dalam banyak novelnya, namun Tirai (Curtain) yang menjadi favoritku. Sedang Grisham lewat The Chamber (Kamar Gas). Namun keduanya belum apa-apa bila dibandingkan Therese Raquin.

Jujur, buku ini tergolong berat dan menguras emosi. Bukan jenis buku yang akan memberi hiburan, tapi jelas buku ini juga merupakan jenis buku yang takkan pernah anda lupakan. "Gema"nya akan terus memenuhi pikiran anda selama beberapa waktu lamanya setelah anda menutup buku ini. Bravo Émile Zola! Meski dulu banyak orang mencelamu, tapi aku yakin tak banyak orang lain yang mampu menghasilkan karya seperti ini. Tiga bintang untuk Therese Raquin!

Judul: Therese Raquin
Penulis: Émile Zola
Penerjemah: Julanda Tantani
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Agustus 2011
Tebal: 336 hlm

Friday, November 4, 2011

The Sword In The Stone

Nama King Arthur pasti tak asing lagi bagi pecinta kisah klasik. King Arthur adalah seorang raja yang, menurut legenda, memerintah Inggris pada sekitar abad 5 atau 6. Meski kisahnya telah sering kita dengar, namun fakta sejarahnya masih saja diragukan. Belum ada yang membuktikan bahwa ada seorang King Arthur yang pernah hidup, kecuali (menurut buku karya Thomas Malory) sebuah kuburan dengan coretan di atasnya yang berbunyi: “Here lies Arthur, king once, and king to be”. Sudah banyak Arthurian (epic tentang King Arthur) yang telah terbit, namun “Le Morte d’Arthur” karya Thomas Malory-lah yang menjadi sumber bagi T.H. White untuk menulis ulang epic King Arthur dengan gayanya sendiri, yang boleh kita sebut sebagai epic fantasy atau modern epic. Dan inilah seri pertama dari tetralogi The Once and Future King: The Sword in The Stone.

Suatu hari di bulan Juli, pada jaman Inggris kuno, Sir Ector sedang mempertimbangkan untuk mencari guru untuk mengajar kedua anak lelakinya, Kay dan Wart. Yah, sebenarnya putra kandungnya adalah Kay, sedang Wart adalah putra angkatnya. Meski Kay kelak akan menjadi seorang ksatria, sedang Wart hanyalah pengawal, Sir Ector memberikan pendidikan yang sama bagi keduanya. Meski demikian, bahkan dari awal pun sudah terlihat bahwa Wart jauh lebih terampil dan berkarakter lebih baik daipada Kay. Kay cenderung pemarah, manja dan egois, sedang Wart murah hati, penuh kasih, dan memiliki sikap mau berkorban.

Tanpa spoiler pun, anda pasti akan dapat menebak siapa yang kelak akan menjadi King Arthur. Arthur? Ya, memang nama keduanya bukan Arthur. Namun The Sword in The Stone ini adalah kisah awal kehidupan King Arthur hingga menjadi Raja.

Pada suatu hari saat tersesat di hutan, Wart bertemu dengan seorang penyihir bernama Merlyn. Penggambaran Merlyn sama persis seperti yang diilustrasikan tentangnya selama ini: berjanggut putih panjang, berjubah panjang, berkacamata, memakai topi berujung runcing (mengingatkan anda pada Dumbledore di Harry Potter? Yah, mungkin saja beliau cucu buyut Merlyn??). Singkat kata, Merlyn (bersama dengan burung hantunya yang bernama Archimides) akhirnya menetap di rumah Sir Ector untuk menjadi guru bagi kedua anak lelaki Sir Ector, terutama Wart.

Jangan membayangkan pelajaran-pelajaran Merlyn akan seperti kurikulum di Hogwarts, metode Merlyn lebih membumi dan praktis. Biasanya Merlyn menyihir Wart menjadi hewan dan tumbuhan. Awalnya ikan, lalu burung elang, lalu disusul oleh ular dan burung hantu. Saat menjadi ikan, Wart belajar tentang kekuatan dari Raja Parit. Ketika menjadi seekor burung merlin, Wart diajari tentang kekuatan kaki sebagai pijakan oleh teman-teman burung lainnya.

Yang menarik mungkin saat seekor ular mengajari Wart tentang manusia (homo sapiens). Lucu juga rasanya membayangkan seekor ular membicarakan tentang penciptaan dan evolusi makhluk hidup. Atau ketika Wart berada di dunia para burung hantu berkat bantuan Archimides. Bukan lagi tentang burung hantu yang mereka bicarakan, Archimides malah menguliahi Wart tentang penciptaan alam semesta, lengkap dengan penglihatan tentang terciptanya alam semesta!

Selain dari hewan dan tumbuhan, Wart juga belajar banyak tentang strategi penyerangan di hutan ketika bersama Kay ia berjumpa dengan Robin Hood, yang di kisah ini bernama Robin Wood. Asyik juga ketika tokoh-tokoh di kisah Robin Hood, seperti Little John dan Marian turut meramaikan kisah ini.

Lalu pertanyaannya, apa hubungan semua petualangan seru bin lucu yang dialami oleh Wart itu dengan King Arthur? Hal itu akan terjawab di bagian akhir cerita. Seperti di kisah King Arthur oleh Thomas Malory, di mana King Arthur menjadi raja karena ia satu-satunya orang yang mampu menarik sebilah pedang yang terkubur di dalam batu (the sword in the stone), maka begitu pulalah penahbisan si calon raja kita di buku ini, setelah Raja Inggris kala itu—Uther Pendragon mangkat. Yang menjadi pertanyaannya, bagaimana cara ia mencabut pedang itu bila semua yang lain gagal? Di sinilah makna dari semua pengajaran Merlyn akan terungkap.

Saat awal membaca buku ini, aku berpikir ini adalah cara T.H. White memperkenalkan Arthurian kepada anak-anak. Namun ketika aku mengikuti pembicaraan ular dan Archimides yang agak berbau filosofis dan sains, aku jadi agak meragukan bahwa ini adalah cerita anak-anak. Menurutku, T.H. White memang bermaksud membawa pembaca yang belum membaca epic Arthurian sebelumnya, mengenal King Arthur secara lebih pribadi dan manusiawi terlebih dahulu. King Arthur memang digambarkan sebagai raja dan ksatria yang tangguh. Namun apa yang membuatnya demikian? Nah, mungkin buku inilah yang akan menjawab pertanyaan itu sehingga akhirnya King Arthur bukan hanya merupakan mitos yang menghibur, namun sekaligus memberikan pelajaran moral bagi seorang pemimpin atau calon-calon pemimpin masa depan.

Menilik keunikan buku ini, aku berani menganugerahkan empat burung hantu, eh…bintang maksudku, untuk The Sword In The Stone!

Judul: The Sword in The Stone
Penulis: T.H. White
Penerjemah: Rahmawati Rusli
Penerbit: Mahda Books
Terbit: April 2011
Tebal: 282 hlm

Tuesday, November 1, 2011

Classic Authors of November

Bulan November tampaknya merupakan bulan yang banyak melahirkan penulis klasik dunia yang karyanya masih terus beredar dan dinikmati pembaca lama setelah si penulis meninggal. Paling tidak ada 11 penulis klasik yang lahir di bulan November, yang sempat aku catat. Siapa saja mereka? Berikut ini para penulis klasik besar beserta sedikit biografi mereka. Semoga kita semakin mengenal mereka dan karya-karya mereka.


Bram Stoker


Bernama lengkap Abraham Stoker, lahir di Clontarf, Irlandia pada 8 November 1847. Bram Stoker merupakan penulis kisah horor-gothic klasik yang amat terkenal: Dracula. Stoker meninggal dunia saat berusia 65 tahun di bulan April 1912. Selain Dracula, Stoker juga penulis cerpen dan kisah horor lainnya. Ia sempat pula menjadi kritikus teater dan staf di London Daily Telegraf. Pengalaman terakhir itu, ditambah riset beberapa tahun tentang mitos vampir dan cerita rakyat (folklore) Eropa, mendasari penulisan Dracula yang terkenal itu.


Margareth Mitchell

Penulis Amerika bernama lengkap Margaret Munnerlyn Mitchell ini lahir pada 8 November 1900. Karyanya: Gone With The Wind menjadi salah satu romance klasik terbaik sepanjang masa yang memberinya hadiah Pulitzer pada tahun 1937. Buku itu juga masuk sebagai salah satu buku berpenjualan terbanyak sepanjang masa, yaitu sebanyak 30 juta exemplar. Novel itu pernah diadaptasikan ke layar lebar dan memenangkan 10 Oscar. Gone With The Wind ditulis Mitchell selama ia terbaring di tempat tidur karena pergelangan kakinya patah.


Ivan Turgenev

Ivan Sergeyevich Turgenev lahir 193 tahun lalu di Rusia, tepatnya pada 9 November 1818. Ia merupakan penulis Rusia yang menelurkan novel, cerpen dan naskah drama. Beberapa karya besarnya adalah: A Sportsman Sketches, kumpulan cerpen pertamanya yang menjadi pelopor realisme Rusia. Novelnya yang berjudul Fathers and Sons merupakan salah satu karya fiksi terbesar di abad 19. Namun mungkin kita di Indonesia lebih akrab dengan novel romance klasiknya yang berjudul: First Love (diterjemahkan menjadi Cinta Pertama) diterbitkan Pustaka Jaya. Turgenev melajang hingga akhir hidupnya, namun pernah mempunyai anak illegal dari hubungan cintanya. Berteman paling akrab dengan Gustave Flaubert karena kesamaan pandangan. Sedang dengan sesama penulis besar Rusia: Leo Tolstoy dan Fyodor Dostoyevsky, Turgenev justru bermusuhan. Tolstoy pernah mengajak Turgenev duel, tapi lalu minta maaf. Sedang Dostoyevsky pernah menyebut Turgenev dalam parodinya, namun akhirnya Dostoyevsky merekonsiliasi hubungannya dengan Turgenev dalam sebuah acara publik.


Fyodor Dostoyevsky

Tanggal 11 November 1821 merupakan hari di mana Rusia memiliki calon penulis besarnya. Fyodor Mikhaylovich Dostoyevsky, nama bayi itu, di kemudian hari menelurkan banyak novel, cerita pendek dan esai. The Brothers Karamazov, Crime and Punisment dan Notes From Underground adalah tiga karya terbesarnya. Dostoyevsky dianggap sebagai salah satu psikolog literature terbesar di dunia, dan pelopor ekstensialisme abad 20. Lahir di Moskow, Dostoyevsky mengidap epilepsy sejak usia 9 tahun, dan faktor itulah yang mengilhaminya untuk menciptakan tokoh Pangeran Myshkin dalam novel The Idiot yang juga menderita epilepsi.


Robert Lo
uis Stevenson

Penulis berkebangsaan Skotlandia ini lahir di Edinburgh, 13 November 1850 dengan nama lengkap Robert Lewis Balfour Stevenson. Stevenson adalah penulis novel, puisi, esai dan kisah perjalanan. Beberapa karya terbesarnya (beberapa telah diterjemahkan dan diterbitkan di Indonesia) adalah: Treasure Island (terbitan Serambi), Kidnapped, dan The Strange Case of Dr. Jekyll `nd Mr. Hyde (terbitan Gramedia). Menduduki ranking ke 26 penulis dengan karya paling banyak diterbitkan di dunia, Stevenson merupakan penulis yang dikagumi banyak penulis klasik lain seperti: Rudyard Kipling, Jorge Luis Borges, Ernest Hemingway dan Vladimir Nabokov. Meski kemampuan membacanya amat terlambat (baru di usia 7-8 tahun), namun jauh sebelum ia bisa membaca, ia sudah sering mendiktekan cerita-cerita pada perawat atau ibunya. Ia sudah banyak menulis ketika kecil, meski dilarang oleh ayahnya.


George Eliot

Jangan salah! George Eliot bukanlah seorang pria, melainkan nama pena seorang penulis wanita Inggris bernama asli Mary Anne Evans yang lahir pada 22 November 1819. Mary merupakan salah satu penulis terdepan pada jaman Victoria. Beberapa karya terbesarnya adalah Middlemarch dan Silas Marner. Nama pena George digunakan Mary untuk keluar dari stereotip penulis wanita yang pada jaman itu biasanya menulis kisah romance ringan. Selain itu, ada kemungkinan Mary ingin melindungi kehidupan pribadinya dari santapan publik, terutama karena selama 20 tahun ia menjalin hubungan gelap dengan seorang pria yang sudah menikah.




Francess Hodgson Burnett

Lahir di Manchester, Inggris 24 November 1849, Frances Eliza Hodgson Burnett terpaksa menjadi penulis ketika pada usia 16 tahun ia harus mencari nafkah bagi keluarganya yang beremigrasi ke Amerika. Baru setelah menikah dengan Swan Burnett, ia mulai menulis novelnya. Dua karyanya yang terkenal dan sudah diterbitkan versi terjemahannya di Indonesia adalah The Secret Garden (Gramedia) dan A Little Princess (Gramedia dan Serambi). Kematian putranya karena tuberculosis merupakan awal dari kehidupannya yang sulit, yang disusul perceraian, lalu pernikahan kedu` yang hanya berumur 1 tahun, dan akhirnya kematiannya pada tahun 1924 saat menetap di Long Island.


Louisa May Alcott

Meski berdarah Inggris tulen, Louisa May Alcott lahir di Amerika pada 29 November 1832 dan menjadi warga Negara Amerika. Dari pengalaman masa kecilnya bersama tiga saudara perempuannya, kelak ia menulis novel-novel klasik yang bertahan sepanjang masa: Little Women, Good Wives dan Little Men (ketiganya sudah diterjemahkan oleh Serambi). Alcott beruntung karena sejak kecil sudah mendapat pelajaran dari penulis caliber dunia seperti Henry David Thoreau, Ralph Waldo Emerson dan Nathaniel Hawthorne yang merupakan sahabat-sahabat keluarga Alcott. Tokoh “Jo” dalam Little Women merujuk pada dirinya sendiri, dan meski Jo di Little Women akhirnya menikah, Alcott sendiri tetap melajang hingga akhir hidupnya.


Jonathan Swift

Lahir pada 30 November 1667, Jonathan Swift merupakan penulis Anglo-Irlandia yang lahir di Dublin. Karya novel klasiknya yang paling terkenal adalah Gulliver’s Travels. Selain itu, Swift adalah penulis prosa satir pertama dalam bahasa Inggris, dan pernah menulis puisi juga meski jumlahnya tak banyak. Swift merupakan ahli penulisan satir dalam bentuk Horatian dan Juvenalian. Salah satu nama samaran (pseudonym) yang pernah digunakan Swift dalam karya-karyanya adalah Lemuel Gulliver, meminjam nama karakter protagonist di novel Gulliver’s Travels. Ketika sedang belajar untuk meraih gelar Master, pecah perang sehingga ibunya mengusahakan agar Swift dapat bekerja sebagai asisten pribadi diplomat Inggris: Sir William Temple. Setelah itu sempat menjadi seorang pastor di gereja terpencil, lalu sempat kembali mengabdi pada Temple. Tulisan pertamanya baru terbit pada tahun 1704, dan setelah itu barulah namanya sebagai penulis mulai menanjak.


L.M. Montgomery

Maud, panggilan Lucy Maud Montgomery, alias L.M. Montgomery lahir pada 30 November 1874 di Prince Edward Island, Kanada. Maud terkenal karena serial Anne of Green Gables yang diterbitkan pada 1908 (telah diterjemahkan oleh Qanita/grup Mizan). Diasuh oleh neneknya yang keras, membuat Maud kecil kesepian. Masa kecil yang sulit inilah yang membuat Montgomery terbiasa menciptakan tokoh-tokoh imajiner yang kelak berguna bagi ide-ide kreatif tulisannya. Meski novel-novelnya membawa kegembiraan bagi pembacanya, tak begitu halnya dengan kehidupan pribadinya, yang terkuras antara menjadi ibu, kehidupan gereja dan kesehatan suaminya, yang membuatnya depresi.


Mark Twain

Di antara ke 11 penulis klasik yang berulang tahun pada bulan November, mungkin yang paling populer adalah Samuel Langhorne Clemens alias Mark Twain, yang lahir pada 30 November 1835. Siapa sih yang tak pernah, paling tidak, mendengar 2 karya klasik sepanjang masa-nya: The Adventures of Tom Sawyer dan Adventures of Huckleberry Finn yang disebut-sebut sebagai Great American Novel? Menilik dua karyanya itu, tak heran kalau penulis Amerika ini adalah sosok yang humoris. Twain dibesarkan di Missouri, yang lalu menjadi setting bagi kisah Tom Sawyer dan Huck Finn. Awalnya magang di sebuah percetakan, lalu menjadi kontributor artikel di penerbit surat kabar, dan pengemudi riverboat. Sempat gagal dalam usaha pertambangan emas, akhirnya menjadi jurnalis. Saat itulah ia mulai menulis kisah humornya yang lalu menarik perhatian publik. Dan dimulailah karir menulisnya. William Faulkner pernah menyebut Twain sebagai “bapak literatur Amerika”.

Jadi….dari ke-11 penulis itu, mana yang bukunya sudah anda baca? Kalau belum, yuk merayakan ulang tahun mereka dengan membaca buku-buku klasik sepanjang masa karya mereka selama bulan ini!

Monday, October 24, 2011

Pangeran Bahagia

Apakah kebahagiaan itu identik dengan keindahan, kemilaunya emas dan meronanya merah batu delima? Bersama Pangeran Bahagia, Oscar Wilde—seorang sastrawan legendaris Irlandia akan mengajak anda sekali lagi memaknai sebuah kebahagiaan. Seperti namanya, Pangeran Bahagia selalu mengalami kebahagiaan selama hidupnya yang terkurung di balik dinding istananya yang tinggi. Namun begitu ia meninggal dan sebuah patung didirikan di atas tiang jangkung yang menjulang ke atas kota, maka Pangeran Bahagia pun mulai menyadari bahwa banyak orang yang menderita di luar sana.

Suatu hari seekor burung walet (swallow) yang terlambat bermigrasi ke negeri Mesir yang hangat, merasa iba pada Pangeran Bahagia yang sedang menangis sedih. Burung Walet pun setuju untuk menunda kepergiannya ke Mesir demi menolong misi yang ingin dilakukan Pangeran Bahagia. Misi apakah itu? Apalagi kalau bukan membuat orang lain juga menjadi bahagia. Meski Pangeran Bahagia hanya bisa berdiri diam, ia merelakan semua yang ada pada dirinya demi membantu orang yang menderita. Batu delima di pedangnya, batu safir yang membuatnya memiliki mata, hingga emas yang selama ini melekat di tubuhnya. Semuanya tanpa batas ia ikhlaskan untuk mereka yang menderita.

Lalu bagaimana ketika Pangeran Bahagia sudah tak memiliki apapun untuk diberikan lagi? Akankah si burung wallet meninggalkannya untuk pergi ke Mesir menyusul teman-temannya? Dongeng Pangeran Bahagia ini merupakan salah satu dari kumpulan dongeng dengan judul sama. Dongeng ini adalah salah satu favoritku dari total 5 dongeng yang ada. Begitu menyentuh, begitu gamblang untuk dipahami. Ternyata kebahagiaan yang sejati adalah ketika kita mampu member kebahagiaan kepada orang lain. Kebahagiaan itu sifatnya memberi, dan bukan menerima…

Namun dongeng yang paling membuatku terhenyak adalah dongeng ketiga yang berjudul: Raksasa Yang Egois. Awalnya dongeng ini seperti dongeng anak-anak biasa, yaitu kisah raksasa yang mempunyai kastil dengan taman luas yang indah, penuh rumput hijau, bunga-bunga aneka warna dan 12 pohon persik. Taman itu menjadi tempat bermain anak-anak di sekitarnya di musim semi. Nah, ketika si raksasa pulang dan mendapati banyak anak-anak bermain di tamannya, marahlah ia. Dibangunnya dinding tinggi memagari tamannya, dan dipasangnya pengumuman yang melarang anak-anak memasuki taman. Anak-anak pun sedih, dan anehnya, musim semi, musim panas dan musim gugur pun tak mau lagi datang ke kebun si raksasa, hingga musim dingin, salju dan angin Timur lah yang bermain-main di sana.

Sekarang si raksasa lah yang menjadi sedih karena musim dingin yang berkepanjangan. Namun suatu hari ada seorang anak kecil datang bermain di sana dan mencium si raksasa. Hati si raksasa pun lumer, dan ia sangat mencintai si anak kecil. Namun setelah itu si anak kecil menghilang, sampai suatu saat si anak kecil datang kembali. Kali ini si raksasa menemukan sebuah kejutan dalam diri si anak kecil. Di sinilah anda akan dibuat terpana, ketika mengetahui siapa si anak kecil sebenarnya. Dongeng yang awalnya seperti dongeng anak-anak biasa, menjadi begitu dalam maknanya. Inilah dongeng paling favorit bagiku di buku ini!

Ada tiga dongeng lainnya yang masing-masing berbicara tentang makna cinta, makna persahabatan, dan keegoisan. Yang paling menarik mungkin kisah ke 4: Teman Yang Setia. Dongeng ini merupakan “dongeng di dalam dongeng”. Ada beberapa hewan yang sedang berdiskusi tentang makna “sahabat yang setia”. Ada tikus air yang hanya mementingkan dirinya sendiri, lalu ada ibu bebek dan burung pipit. Kemudian burung pipit menceritakan sebuah dongeng tentang Hans yang baik hati dan si Tukang Giling. Kedua tokoh ini menganggap temannya sebagai sahabat. Sebenarnya si burung pipit yang bercerita berharap si tikus air bisa mengambil pelajaran moral dari dongengnya itu. Namun ternyata si tikus air malah melengos pergi. Maka, Wilde pun menyerahkan kepada pembaca sendiri untuk mengambil kesimpulan, nilai moral apa yang terkandung dalam dongeng Hans sekaligus si tikus air itu.

Menilik dari ragam dongeng yang disajikan Wilde di buku ini, menurutku Pangeran Bahagia lebih ditujukan bagi orang dewasa atau paling tidak remaja, ketimbang anak-anak. Atau orang tua bisa membacakan dongeng ini bagi anak-anaknya sambil menjelaskan nilai moral yang ada di balik masing-masing dongeng. Yang jelas, dongeng-dongeng dari Oscar Wilde ini bukanlah dongeng biasa. Kisahnya memang ringan, namun mengandung makna yang cukup dalam untuk menjadi bahan permenungan.

Empat bintang untuk Pangeran Bahagia!

Judul: Pangeran Bahagia
Judul asli: The Happy Prince and Other Stories
Penulis: Oscar Wilde
Penerjemah: Risyiana Muthia
Penerbit: Serambi
Terbit: April 2011
Tebal: 104 hlm

Monday, October 17, 2011

The Odyssey of Homer

Odysseus adalah salah seorang pahlawan bangsa Achaean yang turut berperang melawan Troy. Alkisah, setelah sepuluh tahun berperang melawan Troy, pasukan Achaean pulang dengan membawa kemenangan. Namun rupanya Zeus, dewa pemimpin semua dewa, tidak menyukai hal ini sehingga meski Achaean dibiarkan menang, namun proses kepulangan orang-orang Achaean ke negerinya sendiri dipersulit oleh Zeus. Salah satu pahlawan Achaean yang bernasib paling buruk dalam perjalanan pulang ini adalah Odysseus. Kisah liku-liku perjuangan hidup-mati Odysseus demi bisa pulang ke Ithaca dikisahkan dalam epic The Odyssey, yang merupakan salah satu epic terbesar sepanjang masa, bersama dengan The Iliad yang juga karya Homer.

Epic ini dibuka dengan sebuah rapat yang terjadi di puncak Olimpus, tempat tinggal para dewa. Athena, putri Zeus, membujuk ayahnya untuk menolong Odysseus untuk dapat pulang ke negara dan keluarganya, setelah selama sepuluh tahun berkelana dari satu pulau ke pulau lain, dan akhirnya ditawan oleh seorang dewi yang jatuh cinta padanya, bernama Calypso. Athena memanfaatkan kesempatan ketika Poseidon, dewa yang membenci Odysseus, sedang pergi. Beroleh restu dari Zeus, Athena pun segera bekerja.

Pertama-tama ia mendatangi Telemachos, putra Odysseus yang kini telah berusia 20 tahun. Ternyata karena Odysseus tak kunjung pulang dari Troy, ada 108 orang raja dan pangeran muda yang dengan kurang ajarnya merayu istri Odysseus, Penelopeia, agar menikahi salah seorang dari mereka. Bukan saja menginap di istana Odysseus, mereka juga berlaku seenaknya dan menghabiskan harta dan makanan Odysseus, karena mereka berpikir sang raja Ithaca telah meninggal.

Maka Athena pun membangkitkan keberanian Telemachos untuk pergi ke kediaman Nestor untuk menanyakan keberadaan ayahnya. Karena, selama ayahnya belum pulang, sulit baginya untuk mengusir para pelamar ibunya. Sementara itu Zeus mengutus Hermes untuk memaksa Calypso membebaskan Odysseus. Akhirnya Odysseus pun memulai perjalanan pulangnya. Namun, itu tak berarti perjalanan itu akan berjalan mulus. Zeus telah mentakdirkan Odysseus mengalami berbagai macam rintangan. Ditambah lagi, karena dalam perjalanan itu Odysseus telah membutakan mata raksasa cyclop yang adalah putra Poseidon, Poseidon pun makin bertambah murka. Dan rintangan demi rintangan yang seolah tak ada habisnya harus dihadapi Odysseus. Satu persatu anak buahnya tewas, hingga akhirnya Odysseus pun sendirian. Berhasilkah ia pulang? Dan apakah Penelopeia masih mau menunggunya setelah berpisah selama 20 tahun?

Berbeda dengan The Iliad yang lebih dinamis dengan banyak tokoh yang terlibat dalam perang, The Odyssey ini seolah menjadi antiklimaksnya. Odysseus menjadi tokoh sentral di keseluruhan kisah, dan meski perjalanan pulangnya dipenuhi tantangan dan aksi seru, tetap saja aku sempat merasa bosan di tengah-tengah. Begitu dominannya Odysseus, sehingga kematian tokoh-tokoh penting di The Iliad seperti Agamemnon dan Achilles, terasa hambar dan tidak berkesan.

Baru pada bagian akhirlah cerita menjadi agak berbobot berkat sedikit aksi. Namun, tetap saja terasa beda. Kalau dalam The Iliad para pahlawan berperang melawan negara lain, di The Odyssey, Odysseus berperang di rumah sendiri saja.....

Pengulangan adegan juga salah satu aspek yang membuatku bosan. Saat Odysseus atau Telemachos dalam perjalanan dan singgah ke istana suatu negara, selalu saja ritual “kunjungan orang asing” yang sama berlangsung. Mula-mula tamu akan dijamu makan, lalu disuruh bercerita dari mana asalnya dan maksud kedatangannya. Setelah makan, semua orang menuangkan anggur dari cawan masing-masing ke tanah untuk berdoa pada para dewa. Lalu sebelum si tamu pulang, sang tuan rumah akan memberikan berbagai hadiah-hadiah indah yang belum pernah dilihat tamunya. Aku mengerti bahwa itu memang kebiasaan bangsa Yunani yang berlaku saat itu. Tapi kalau ritual itu dikisahkan berulang-ulang pada setiap kunjungan, lama-lama bosan juga.

Mungkin saja…. memang begitulah karakter sebuah epic. Karena epic itu pada dasarnya adalah puisi naratif, maka mungkin saja terjadi banyak pengulangan. Bagaimana pun, keberanian dan kegigihan Odysseus yang pantang menyerah dalam menghadapi rintangan patut diacungi jempol. Entah sudah berapa kali ia harus menantang maut. Dari raksasa kanibal hingga ke monster menakutkan, dari sihir hingga harus mengarungi keganasan laut setelah terlempar dari kapal, semuanya mampu dihadapi Odysseus. Tak heran, The Odyssey merupakan epic kepahlawanan terbesar sepanjang masa. Tiga bintang untuk buku ini!

Judul: The Odyssey of Homer
Penulis: Homer
Penerjemah: A. Rachmatullah
Penerbit: Oncor Semesta Ilmu
Terbit: 2011
Tebal: 317 hlm