Tuesday, March 6, 2012

Love in the Time of Cholera

Oprah Winfrey mengatakan bahwa buku ini adalah “One of the greatest love stories I have ever read, it is so beautifully written.” Maaf Oprah, kali ini aku tak setuju. Kalau yang anda maksud adalah kisah cinta antara Florentino Ariza si pecundang itu—begitu ia kujuluki—dengan Fermina Daza, menurutku cinta mereka sama sekali bukan cinta sejati. Baik, mari kutunjukkan mengapa aku tak setuju dengan anda.

Florentino Ariza adalah anak tidak sah seorang pemilik perusahaan pelayaran di perairan Karibia. Tak diakui oleh ayahnya, ia hidup bersama ibunya dalam kemiskinan. Jujur saja, tak ada satupun sisi positif yang bisa kutemukan pada pria ini. Pemimpi, lemah, terlalu terobsesi pada cinta, tapi juga sex-addicted. Florentino boleh dikatakan jatuh cinta pada pandangan pertama pada seorang gadis dari keluarga berada yang saat itu masih berusia tigabelas tahun: Fermina Daza. Fermina adalah putri Lorenzo Daza, pengusaha ternama di kotanya. Florentino yang bekerja di kantor telegram, pada suatu hari harus mengantar telegram ke rumah Lorenzo Daza. Saat itulah ia melihat sosok Fermina, dan panah cinta pun langsung tertancap di hatinya.

Karena Florentino pria yang tak percaya diri—wajar saja dengan penampilannya yang lusuh seperti orang tua itu—ia merasa minder. Alih-alih mendekati langsung, Florentino memilih cara memperhatikan dari jauh. Setiap hari pada jam tertentu ia duduk di bangku taman Park of the Avengels di bawah bayangan pohon almond, sambil berpura-pura asyik membaca buku. Melihat Fermina Daza melewati bangku itu ketika berjalan pergi-pulang sekolah dikawal oleh bibinya, merupakan pemandangan yang menyejukkan hati Florentino muda. Florentino yang memang berjiwa puitis mulai menulis sepucuk surat, tanpa tahu bagaimana cara menyampaikannya—karena ia menyadari bahwa hubungan mereka tak mungkin dijalani karena perbedaan kelas sosial.

Selama berbulan-bulan hal itu berlangsung, hingga suatu hari Florentino memiliki keberanian bertemu dengan Fermina. Pertemuan yang amat singkat, sama sekali tak dapat disebut berpacaran. Selama penantian Florentino menunggu “panggilan” Fermina, ia sempat jatuh sakit. Karena saat itu Kolumbia sedang berjangkit epidemi kolera, tak heran bila dokter yang memeriksa Florentino mengira pemuda itu terkena kolera. Ibunya saja yang yakin bahwa penyakit yang diderita putranya adalah penyakit cinta!

Fermina dan Florentino akhirnya sempat berkirim-kiriman surat dengan cara sembunyi-sembunyi. Bisa diduga, surat mereka dipenuhi kata-kata manis lengkap dengan bunga camelia. Khas cinta monyet remaja. Suatu hari kisah cinta mereka tercium Lorenzo Daza, padahal sang ayah sudah mengatur supaya putrinya menikah dengan pria terpandang. Maka Fermina pun tiba-tiba dijauhkan dari segala surat cinta, puisi romantis dan permainan serenade biola, dan dikirim lewat laut ke rumah saudara sepupunya di kota yang jauh: San Juan de la Ciénaga.

Setelah kembali ke kotanya, Fermina Daza telah tumbuh menjadi wanita yang lebih dewasa, bukan lagi gadis ingusan yang bertukar surat dengan Florentino. Meski awalnya sering memikirkan Florentino, namun begitu bertemu kembali dengan pria itu, Fermina mulai merasa muak. Muak akan kisah cinta monyetnya, dan baru menyadari bahwa Florentino adalah "pria payah". Sementara itu ada seorang dokter muda dari kalangan keluarga terhormat yang karirnya sedang menanjak: Dokter Juvenal Urbino. Saat mengobati penyakit Fermina, sang dokter pun terpikat kepadanya, dan tak lama kemudian ia melamarnya. Fermina sama sekali tak merasakan cinta pada sang dokter, namun mengingat target yang ia tentukan sendiri untuk menikah di usia 21 tahun hampir terlewati, dan mengingat Urbino seorang pria terhormat, sopan, berpendidikan, Fermina pun menerima pinangannya.

Fermina Daza dan Dokter Juvenal Urbino memasuki hidup perkawinan tanpa cinta. Meski awalnya perkawinan mereka sempat bergolak--terutama saat masa adaptasi--namun setelah mereka mengarungi bahtera perkawinan itu, mereka menjadi tak terpisahkan. Hal ini jelas terungkap saat mereka sudah beranjak tua, di mana mereka menjadi lebih saling membutuhkan daripada sebelumnya. Ini salah satu bukti bahwa yang terpenting dalam perkawinan bukan hanya cinta, namun kemauan untuk saling menerima dan berusaha mempertahankan perkawinan itu. Maka cinta pun akan tumbuh, meski bukan cinta nafsu seperti yang awalnya mereka inginkan atau rasakan. Cinta macam inilah yang menurutku adalah cinta sejati. Cinta yang menerima, alih-alih menuntut. Apakah perkawinan mereka bahagia? Menarik menyimak apa yang dikatakan Dokter Urbino:


"Always remember that the most important thing in a good marriage is not happiness, but stability."


Bagaimana dengan Florentino? Di luar dugaan, meski sakit hati, Florentino tetap memendam impian untuk kelak bisa bersatu dengan Fermina. Lima puluh satu tahun ia menunggu. Tapi jangan bayangkan cinta Florentino bak cinta seorang martir yang tak tergoyahkan. Di masa itu ia memang tak menikah, tapi ia bertualang cinta dengan sangat banyak wanita, dan bahkan menjadi kecanduan seks. Sampai-sampai di usia tujuh puluh tahun, ia masih bercinta dengan gadis remaja yang dititipkan kepadanya. Dua kata yang bisa menggambarkan Florentino Ariza: menjijikkan! Dan hingga akhir hayatnya, Florentino selalu mengatakan bahwa ia tetap setia kepada Fermina. Pembohong yang menjijikkan!

Keanehan Florentino yang membuatku makin mual terjadi ketika secara tak sengaja ia berada di satu restoran yang sama dengan Fermina dan suaminya. Ia menghadap ke cermin yang merefleksikan pantulan Fermina. Lalu tebak apa yang dilakukan Florentino! Ia berkeras membeli cermin itu dari pemilik restoran dengan harga berapapun, hanya untuk mengenang hari ketika ia bisa menatap Fermina lewat cermin itu. Obsesif? Kegilaan? Entahlah...

Lalu apakah Florentino dan Fermina akan benar-benar bersatu di usia tua mereka? Itu sebaiknya anda baca sendiri di bukunya, karena itulah yang akan menjadi hadiah dari penantian anda selama membaca buku yang beralur lambat ini. Yang jelas, aku tak bisa menyebut Love in the Time of Cholera ini sebagai kisah cinta sepanjang masa. Mungkin persistensi Florentino untuk menunggu Fermina selama lima puluh satu tahun bisa dikatakan hebat, tapi kalau selama itu ia membagi hati dan tubuhnya bagi orang lain--sambil membohongi diri sendiri--dapatkah itu disebut cinta sejati?

Maka sekali lagi...maaf Oprah, aku hanya bisa memberi 3 bintang untuk buku ini, karena meski kisahnya absurd, namun kepiawaian Marquez dalam merangkai kata cukup menghibur.

*Review ini kubuat tepat di Hari Ulang Tahun Gabriel García Márquez yang ke 85 (6 Maret 1927 - 6 Maret 2012)*

Judul: Love in the Time of Cholera
Penulis: Gabriel García Márquez
Penerbit: Penguin Books
Terbit: 2008
Tebal: 424 hlm

Monday, March 5, 2012

Pengumuman Pemenang BULAN DICKENS

Sebulan sudah kami (blog Fanda Classiclit dan blog Surgabukuku) menggelar even BULAN DICKENS, Perayaan 200 tahun Charles Dickens. Terima kasih buat klasikers yang sudah berpartisipasi! Semoga bermanfaat bagi kita semua untuk semakin mengenal sosok Charles Dickens dan karya-karya beliau. Kini tiba saatnya untuk mengumumkan para pemenang…

Untuk kuis #TebakDickens yang diadakan di twitter @bacaklasik, pemenangnya sudah kami umumkan terlebih dahulu, yaitu:

Ferina (@f3r1na) dan Dessy (@coffeecream)


Untuk even #BacaDickens yang berlangsung selama sebulan penuh, dua orang yang paling aktif share pengalamannya saat membaca buku-buku karya Dickens lewat twitter dan secara otomatis menjadi pemenangnya adalah…

Astrid (@pippopu) dan Melody (@melody_violine)


Sedangkan untuk lomba #ReviewDickens, setelah membaca semua review yang masuk (yang bagus-bagus semua itu...), dan setelah berunding, kami akhirnya memilih dua review terbaik yang dimenangkan oleh…

Busyra (Review Our Mutual Friend)

Alvina (Review Oliver Twist)


Selamat untuk para pemenang! Kalian semua masing-masing akan mendapatkan hadiah 1 buku klasik dari kami dan @bukunya sebagai sponsor dalam even ini. Silakan mengirimkan nama + alamat lengkap + no. HP kalian melalui email: bacaklasik [at] gmail [dot] com untuk pengiriman hadiahnya.

Tunggu even-even berikutnya dari Komunitas Baca Klasik di bulan-bulan mendatang, dan jangan lupa add akun kami di Facebook juga ya!

Friday, March 2, 2012

[Book About Author] Charles Dickens: The Dickens Bicentenary 1812-2012

Tahun 2012 merupakan tahun istimewa bagi pecinta sastra klasik dunia. Apa sebab? Karena tahun ini adalah perayaan 200 tahun atau 2 abad lahirnya salah satu penulis klasik terbesar dunia: Charles Dickens. Karena itu, penulis Lucinda Dickens Hawksley (yap, beliau menyandang nama Dickens karena memang keturunan—great great great granddaughter—Charles Dickens) dibantu The Charles Dickens Museum menulis sebuah buku yang amat istimewa. Buku ini tak hanya berisi kehidupan Charles Dickens saja (mulai masa kanak-kanak—terutama saat menjadi pekerja anak-anak, masa muda, pernikahan, keluarga, karier menulis dan bagaimana ia menjadi selebriti); ia juga berisi buku-buku yang ditulis Dickens dan bagaimana karyanya itu berhubungan dengan kehidupannya sendiri.

Tapi yang paling menarik dari buku ini, adalah foto-foto dengan kualitas sangat bagus (dan ukuran besar) serta ilustrasi-ilustrasi tentang Dickens dan karya-karyanya bertebaran di seluruh buku ini. Ditambah pula bonus berupa dokumen-dokumen asli milik Charles Dickens yang dibuatkan duplikatnya dari kertas atau karton eksklusif dan persis seperti asli. Bayangkan rasanya ketika anda memegang dan membaca tulisan Dickens dalam manuscript asli Oliver Twist misalnya, atau membuka lipatan koran Daily News yang pernah diedit Dickens, atau membuka-buka album foto keluarga Dickens. Kuberitahu ya…rasanya seperti aku tiba-tiba berada di abad 19 dan sedang berkunjung ke rumah Dickens sambil memegang-megang barang-barang pribadinya.

Yang paling aku sukai adalah booklet berisi naskah Oliver Twist yang akan dibacakan oleh Dickens pada acara pembacaan. Naskah yang diketik rapi itu dicorat-coret oleh Dickens untuk menandai poin-poin di mana ia harus menekankan suatu kata saat membaca. Rasanya orisinal banget! Bonus-bonus ini diselipkan ke antara halaman yang dibuatkan semacam amplop. Baiklah, tak berpanjang-panjang lagi, langsung saja aku pamerkan “harta karun” terbaruku ini
yang aku beli di Amazon, seharga USD 24,34.

Ukuran buku hardcover ini sebesar album foto, isinya 166 halaman


Duplikat empat pose Dickens di "visiting cards" -- entah apa maksudnya, tapi kupikir mungkin sejenis kartu langganan suatu jasa (?)


Salah satu favoritku juga: duplikat booklet serial Bleak House (waktu itu diterbitkan berseri) -- jadi bisa numpang membaca beberapa halaman pertama nih!


Ilustrasi A Christmas Carol terpampang di satu halaman penuh


Duplikat buku tabungan Dickens di Coutts Bank (jadi beginilah model buku tabungan di abad 19..)


Foto Charles Dickens muda terpampang satu halaman penuh...


Duplikat koran Daily News di mana Dickens pernah jadi editor, bersama manuscript asli tulisan tangan Dickens (lupa untuk buku apa) dan ketikannya yang rapi


Duplikat album foto keluarga milik salah satu saudara perempuan Charles Dickens



Lukisan yang menggambarkan Dickens duduk di meja kerjanya dikelilingi oleh tokoh-tokoh di buku karyanya, tercetak full 2 halaman!



Duplikat reading copy Oliver Twist (tulisan paling kanan yang terpotong, lengkapnya: Sleeping action, menandakan Dickens akan menirukan gerak tubuh mengantuk (menguap?) saat pembacaan tiba di kata yang digarisbawah itu.

Sangat-sangat-sangat menarik, aku sudah tak sabar ingin membacanya!

Classic Authors of March

Seperti biasa, inilah beberapa penulis klasik dunia yang akan berulang tahun pada bulan Maret.

Ryunosuke Akutagawa

Salah satu penulis klasik dunia yang memberi kebanggaan pada Jepang adalah Ryunosuke Akutagawa yang lahir di Tokyo pada 1 Maret 1892. Akutagawa dikenal sebagai “Bapak Cerita Pendek Jepang” dan namanya dipakai untuk penghargaan literasi bergengsi di Jepang: Akutagawa Prize. Uniknya, ia dinamakan Ryunosuke—yang artinya “Putra Naga”—karena ia lahir di Tahun Naga, bulan Naga, hari Naga dan jam Naga! Ibunya menderita kegilaan tak lama sesudah melahirkan Akutagawa, maka ia diadopsi oleh pamannya. Sayangnya Akutagawa berumur pendek, ia bunuh diri dengan mengkonsumsi barbital (obat) secara overdosis di usia 35 tahun, setelah menderita kelainan mental seperti halusinasi dan kegelisahan, yang dulu juga diderita ibunya.

Sejak awal Akutagawa sudah tertarik pada sastra klasik China dan Jepang. Ia mulai menulis begitu mendapat pelajaran sastra Inggris di perguruan tinggi. Sepanjang kariernya, Akutagawa memfokuskan diri menulis cerita pendek, dan tak pernah menulis novel satupun. Cerita pendeknya yang pertama kali diterbitkan saat ia masih kuliah, adalah Rashomon. Rashomon konon mendapat perhatian dari Natsume Soseki (penulis Botchan), dan akhirnya menobatkan diri sendiri sebagai salah seorang muridnya. Karya-karya Akutagawa menjelang akhir hidupnya banyak yang mendekati autobiografis, beberapa diambil bahkan dari diary-nya. Salah satu cerpennya diterjemahkan dalam kumpulan cerpen klasik: Cinta Tak Pernah Mati terbitan Serambi.

Gabriel García Márquez

Lahir di Kolumbia pada 6 Maret 1927, Gabriel José de la Concordia García Márquez aka Gabriel García Márquez aka Gabo (panggilan akrabnya di Amerika Latin) adalah salah satu penulis paling berpengaruh di abad 20 yang masih hidup hingga saat ini. Márquez mendapat penghargaan Nobel untuk Literatur pada 1982. Awalnya berkarier sebagai jurnalis, dan telah menelurkan banyak cerita pendek dan non fiksi. Namun karya paling terkenalnya adalah novel One Hundred Years in Solitude (diterjemahkan oleh Bentang Pustaka) dan Love in the Time of Cholera (diterjemahkan oleh Selasar). Love in the Time of Cholera ditulis berdasarkan kisah cinta orang tua Márquez sendiri. Marquez juga lah yang pertama kali mempopulerkan genre magical realism (realisme magis).

Tahun 1999 Márquez didiagnosa menderita kanker limpa, namun akhirnya sembuh setelah menjalani kemoterapi. Pandangannya dan persahabatannya dengan Fidel Castro membuatnya dianggap subversive, bahkan tidak boleh bepergian ke Amerika. Baru saat pemerintahan Bill Clinton, travel ban itu dicabut, dan Clinton mengaku bahwa One Hundred Years in Solitude adalah novel favoritnya. Harian La Republica pernah salah memberitakan bahwa Márquez telah meninggal di tahun 2000, yang ternyata adalah sosok orang lain. Kini dunia literasi sedang menunggu penerbitan novelnya yang terbaru: We’ll Meet in August, yang ia tulis pada Mei 2008.

Kenneth Grahame

Kenneth Grahamme adalah penulis Skotlandia yang terkenal dengan kisah anak-anak klasik: The Wind in the Willows. Beliau lahir pada 8 Maret 1859 di Edinburgh, Skotlandia. Karena ibunya meninggal saat ia berusia 5 tahun dan ayahnya bermasalah dengan alkohol, Kenneth diasuh oleh neneknya di sebuah desa berpemandangan alam indah, dengan sungai dan hutan. Hal ini amat disukai Kenneth dan kelak menginspirasi setting The Wind in the Willows. Novel fabel ini sempat memperoleh Lewis Carroll Shelf Award pada tahun 1958.

Sempat bekerja di bank, namun terpaksa berhenti—ada yang bilang karena berselisih dengan direkturnya, namun alasan resminya adalah kesehatan, mengingat Kenneth pernah tiga kali lolos dari insiden penembakan. Dari pernikahannya yang tidak bahagia, Kenneth dikaruniai seorang putra bernama Alistair. Malangnya, Alistair lahir buta pada salah satu mata dan berkesehatan buruk di sepanjang hidupnya. Alistair meninggal di usia 20 tahun karena bunuh diri di rel kereta api. Kenneth kemudian menuliskan dongeng-dongeng yang sering ia ceritakan sebagai pengantar tidur Alistair, menjadi sebuah karya besarnya: The Wind in the Willows—di mana tokoh Mr. Toad diinspirasi oleh Alistair.

Richard Francis Burton

Captain Sir Richard Francis Burton adalah seseorang yang multi-talenta. Ini dapat dilihat dari sederet profesinya yang variatif. Selain sebagai penulis, Burton juga explorer, geographer, diplomat, penerjemah, orientalis, bahkan pernah berkarir di militer—yang memberinya gelar Kapten di depan namanya. Burton lahir di Inggris pada 19 Maret 1821. Salah satu karyanya yang paling terkenal adalah One Thousands and One Nights. Burton juga yang membawa Kama Sutra untuk diterbitkan di Inggris. Konon Burton mampu berbicara dalam 29 bahasa-bahasa Eropa, Asia dan Afrika—yang pasti didapatnya selama ia melakukan eksplorasi ke benua Asia dan Afrika, juga karena bakat alaminya untuk mempelajari bahasa asing.

Burton mungkin salah satu penulis klasik dunia yang paling kontroversial. Bukan saja karena ia memiliki banyak musuh ketika menjadi diplomat di kawasan Afrika, tetapi minatnya pada hal-hal yang berbau seksualitas dan tuduhan membunuh anak laki-laki menambah panjang kontroversi seputar sosoknya.

Anna Sewell

Mungkin anda sudah mengenal kisah anak-anak tentang seekor kuda: Black Beauty. Penulisnya adalah seorang wanita asal Inggris yang lahir pada 30 Maret 1820. Ibu Anna juga seorang penulis buku anak-anak. Waktu kecil Anna pernah terpeleset di jalan ketika pulang sekolah, dan kecelakaan ini mengakibatkan kedua lututnya cedera parah. Kemungkinan karena salah penanganan atas cedera ini, akhirnya sepanjang hidupnya Anna tak dapat berdiri tanpa bantuan tongkat, dan tak mampu berjalan lama. Karena itu tiap kali bepergian, Anna selalu menggunakan kereta kuda. Dari sinilah timbul kecintaannya kepada kuda dan perhatian pada perawatan hewan.

Black Beauty adalah karya Anna satu-satunya, yang ditulisnya selama enam tahun. Belakangan ketika kesehatannya makin menurun dan ia harus terus berbaring, menulis merupakan tantangan besar baginya. Ia kemudian mendiktekan teks kepada ibunya, atau menulis di kertas-kertas, yang kemudian dikumpulkan oleh ibunya. Black Beauty sebenarnya ditulis oleh Anna agar orang belajar bagaimana memperlakukan dan merawat kuda, namun bukunya ini kemudian menjadi bacaan klasik. Black Beauty terbit hanya lima bulan sebelum Anna meninggal karena hepatitis di usianya yang ke 57.

Untuk Maret 2012 ini aku akan mereview Love in The Time of Cholera karya Gabriel García Márquez (sedang dalam proses membaca), dan kisah klasik anak: The Wind in the Willows karya Kenneth Grahame. Karya siapa yang akan anda baca bulan ini?

Thursday, March 1, 2012

Character Thursday (1)

Akhirnya menemukan theme yang keren untuk blog hop perdanaku. Eh…apa itu blog hop?

Blog Hop adalah..

Blogger-blogger yang menerbitkan posting dengan sebuah tema yang sama pada waktu bersamaan. Blog Hop ini memiliki seorang host (yang menentukan tema & aturannya). Nantinya para peserta dapat mencantumkan link postingnya di blog sang host.

Apa gunanya Blog Hop?

-Bagi sang host, akan menambah traffic atau follower ke blognya.
-Bagi peserta, akan menambah traffic bagi blognya, karena linknya tercantum di blog sang host.
-Khususnya bagi komunitas Blogger Buku Indonesia (BBI), akan mempererat jalinan persahabatan antar blogger, karena dengan Blog Hop kita lebih mudah mengunjungi blog-blog yang linknya tercantum.
Dan yang jelas, Blog Hop adalah kegiatan yang menyenangkan bagi blogger buku untuk berbagi pengalamannya dengan buku dan baca buku.

Yuk kita langsung intip blog hop bikinanku ini…

Character Thursday

Adalah book blog hop di mana setiap blog memposting tokoh pilihan dalam buku yang sedang atau telah dibaca selama seminggu terakhir (judul atau genre buku bebas).
- Kalian bisa menjelaskan mengapa kalian suka/benci tokoh itu, sekilas kepribadian si tokoh, atau peranannya dalam keseluruhan kisah.
- Jangan lupa mencantumkan juga cover buku yang tokohnya kalian ambil.
- Kalau buku itu sudah difilmkan, kalian juga bisa mencantumkan foto si tokoh dalam film, atau foto aktor/aktris yang kalian anggap cocok dengan kepribadian si tokoh.

Syarat Mengikuti :

1. Follow blog Fanda Classiclit sebagai host, bisa lewat Google Friend Connect (GFC) atau sign up via e-mail (ada di sidebar paling kanan). Dengan follow blog ini, kalian akan selalu tahu setiap kali blog ini mengadakan Character Thursday Blog Hop.
2. Letakkan button Character Thursday Blog Hop di posting kalian atau di sidebar blog, supaya follower kalian juga bisa menemukan blog hop ini. Kodenya bisa diambil di box di bawah button (cukup copas saja kode itu di posting atau di sidebar kalian).
3. Buat posting dengan menyertakan copy-paste “Character Thursday” dan “Syarat Mengikuti” ke dalam postingmu.
3. Isikan link (URL) posting kalian ke Linky di bawah ini. Cantumkan nama dengan format: "Nama blogger @ nama blog", misalnya: Fanda @ Fanda Classiclit.
4. Jangan lupa kunjungi blog-blog peserta lain, dan temukan tokoh-tokoh pilihan mereka. Dengan begini, wawasan kita akan bertambah juga dengan buku-buku baru yang menarik…

Fanda Classiclit




----

Nah, tokoh pilihan dalam buku yang kubaca sel
ama minggu ini adalah…

M. Hercule Poirot
(Pembunuhan Atas Roger Ackroyd by Agatha Christie)

Sejak aku membaca novel-novel Agatha Christie di bangku SMP, aku sudah jatuh cinta pada sosok Monsieur Poirot, sang detektif partikelir dengan kepala bulat telur dan kumis kakunya, dan…jangan lupakan…sel-sel kelabu di otaknya! Sebagai sosok manusia biasa, Poirot itu sosok yang kebapakan dan penuh perhatian, terutama pada orang-orang yang ia sayangi. Sebagai detektif, ia memiliki kharisma dan pengetahuan psikologis yang bagus sehingga dapat mengenali kepribadian seseorang dan bagaimana cara membuatnya (saksi atau si pembunuh) mengatakan kebenaran yang enggan mereka ungkapkan pada orang lain.


Inilah mungkin yang membedakan Poirot dengan Sherlock Holmes. Kalau Holmes memposisikan diri sebagai detektif, Poirot lebih meletakkan diri sebagai sahabat bagi semua yang mungkin terlibat dalam peristiwa pembunuhan.

So…who is your Character Thursday this week?

Yuk ikutan! Langsung saja masukkan linkmu di bawah ini ya…



Wednesday, February 29, 2012

The Murder of Roger Ackroyd

Andai pria eksentrik yang sudah pensiun dari profesinya itu tidak memilih kota kecil bernama King’s Abbot untuk melewatkan masa tuanya dengan bertanam labu, pasti pembunuhan itu takkan pernah terungkap.

Serangkaian peristiwa kematian telah terjadi di kota kecil King’s Abbot. Setelah Mr. Ferrars meninggal—banyak orang menduga ia diracuni istrinya—kini King’s Abbot tiba-tiba dikejutkan oleh kematian sang janda itu sendiri. Di rumah Dokter Sheppard terjadi pembicaraan seru akan penyebab kematian Nyonya Ferrars. Caroline, kakak perempuan Dokter Sheppard yang kerjaannya mengorek informasi—dan menyebarkannya secepat ia mendapatkannya—yakin bahwa Nyonya Ferrars bunuh diri karena menyesali perbuatannya. Benarkah demikian?

Selama ini desas-desus telah menyebar di kota bahwa Nyonya Ferrars adalah kekasih Roger Ackroyd, pria terkaya di kota yang memiliki rumah besar bernama Fernly Park. Kematian Nyonya Ferrars mengejutkan Ackroyd, maka ketika ia berjumpa dengan Dokter Sheppard sahabatnya, Ackroyd pun mengundang sang dokter untuk makan malam di rumahnya.

Sementara itu keluarga Sheppard memiliki hal lain yang patut diperdebatkan. Yaitu kedatangan tetangga baru misterius mereka di rumah sebelah. Seorang pria tua pensiunan dari—entah apa pekerjaannya—yang ingin menyendiri dari kebisingan dunia. Caroline yang jago mengorek rahasia orang pun menyerah kalah dan tak bisa menebak jati diri pria misterius yang sedang gemar bertanam labu itu.

Kembali ke Fernly Park, saat Dokter Sheppard datang untuk makan malam, kita pun diperkenalkan kepada tokoh-tokoh kisah ini. Ada Mrs. Ackroyd, ipar Roger Ackroyd yang menjanda; lalu Flora Ackroyd putrid semata wayangnya. Lalu para bawahan Ackroyd: Raymond sang sekretaris efisien, Mrs. Russel si pengurus rumah tangga, dan Parker si kepala pelayan. Dari luar keluarga, ada Hector Blunt—sahabat keluarga yang pendiam dan sedang menginap di sana. Sebenarnya Ackroyd memiliki seorang putra yang bandel dan sering terlibat kesulitan bernama Ralph Paton, yang saat itu sedang jauh dari rumah.

Malam itu merupakan malam terakhir Roger Ackroyd di dunia. Karena hanya beberapa saat setelah Dokter Sheppard tiba di rumah kembali, sebuah panggilan telepon masuk membawa berita bahwa Roger Ackroyd ditemukan telah meninggal dunia di ruang kerjanya. Pasti itu terjadi gara-gara surat yang diterimanya malam itu. Surat terakhir Nyonya Ferrars yang mungkin akan mengungkap jatidiri orang yang selama ini memerasnya. Pemerasan yang harus ia alami karena ada orang yang mengetahui bahwa ia telah meracuni suaminya. Pemerasan yang terlalu menekannya sehingga membuatnya mengambil keputusan untuk bunuh diri. Itulah sebabnya Roger Akroyd kini harus mati…

Polisi segera dipanggil, dan penyelidikan pun segera berlangsung. Namun Flora Ackroyd secara pribadi mengajak Dokter Sheppard untuk berkunjung ke rumah si tetangga misterius, yang ternyata tak lain dan tak bukan adalah Hercule Poirot yang sedang menjalani masa pensiunnya! Ya, M. Poirot sang detektif ternama yang telah membongkar banyak misteri pembunuhan itu ternyata tinggal di King’s Abbot. Dan gara-gara pembunuhan Roger Ackroyd, buyarlah rencananya untuk menyepi sambil bertanam sayuran.

Seperti biasanya Hercule Poirot langsung beraksi dengan keunikan-keunikannya—dibantu oleh sel-sel kecil kelabu otaknya yang sangat dibanggakan itu. Menggantikan posisi Hastings, sahabat yang dikasihi dan dirindukannya, ia menawarkan kesempatan kepada Dokter Sheppard untuk menyelidik bersama. Satu persatu petunjuk terkuak, dan tiap kali selalu menunjuk ke Ralph Paton sebagai pelakunya. Motif, kesempatan, dan kenyataan bahwa Ralph menghilang begitu saja begitu pembunuhan itu terjadi. Benarkah ia pelakunya? Atau seperti biasanya, si pelaku adalah orang yang paling tak mungkin sebagai pelakunya?

The Murder of Roger Ackroyd ini ditulis dalam bentuk sebuah catatan yang ditulis oleh Dokter Sheppard (mencontoh Hastings). Dengan demikian, kisah ini dituturkan dari sudut pandang orang pertama. Dengan piawainya Agatha menulis buku ini seolah memang ditulis oleh pribadi Dokter Sheppard. Seolah lewat kisah ini pula kita mengenal Dokter Sheppard secara personal. Yang jelas, ada perbedaan yang signifikan dengan gaya penulisan kasus Poirot yang dikisahkan oleh Hastings.

Sebenarnya ini adalah kali ketiga aku membaca buku ini. Waktu pertama membaca, aku baru bisa menduga-duga pelakunya pada bab terakhir. Dan memang, kasus ini adalah kasus yang paling tak terduga endingnya dari semua karya Agatha Christie yang pernah kubaca. Bahkan saat kedua dan ketiga aku membaca ulang, aku masih terkesima dengan kepiawaian Agatha untuk menyusupkan petunjuk-petunjuk mulai dari awal kisah. Seperti yang selalu dikatakan Poirot kepada Hastings maupun Dokter Sheppard, kita selalu disediakan semua petunjuk yang ada dari semula. Yang harus kita lakukan adalah tidak mempercayai suatu fakta sebelum terbukti kebenarannya. Dengan membersihkan otak (dan emosi) dari semua praduga, maka mungkin kita akan bisa menyelami pikiran Hercule Poirot dengan sel-sel kelabu kecil milik kita sendiri. Tapi…kalau kita telah tiba pada tahap itu, bukankah membaca novel misteri Agatha Christie akan menjadi membosankan? Aku pribadi lebih suka menikmati kisah-kisah ini apa adanya, apalagi Agatha selalu menyediakan studi psikologi yang menarik dari profil pembunuhnya, seperti juga si pembunuh Roger Ackroyd di kisah ini. Sangat menarik!

Pembunuhan Atas Roger Ackroyd—yang menjadi judul terjemahan buku ini—merupakan salah satu dari 3 karya terfavoritku dari Agatha Christie. Buku ini juga satu-satunya karya Agatha yang masuk ke dalam daftar 1001 books to read before you die. Lima bintang untuk buku ini!

Judul: The Murder of Roger Ackroyd
Judul terjemahan: Pembunuhan Atas Roger Ackroyd
Penulis: Agatha Christie
Penerjemah: Maria Regina
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Terbit: 1990
Tebal: 338 hlm

Tuesday, February 28, 2012

[A Classic Challenge] February #2: Dr. Sheppard

Untuk A Classic Challenge bulan Februari yang kedua, aku mengambil seorang tokoh dari buku The Murder of Roger Ackroyd by Agatha Christie (awas **SPOILER** Jangan teruskan membaca kalau anda belum membaca bukunya!) :

**Dokter Sheppard**

What phrases has the author used to introduce this character?
Inilah uniknya! The Murder of Roger Ackroyd ini ditulis seolah-olah sebagai catatan yang ditulis oleh Dokter Sheppard sendiri, maka tentu saja tak pernah ada perkenalan khusus terhadapnya. Kita hanya membaca terus, dan akhirnya tahu sepotong demi sepotong tentang dirinya. Dan setelah kupikirkan lagi, ternyata hingga tamat membaca, aku masih belum “kenal” sepenuhnya dengan Dokter Sheppard. Mungkin karena ia memang tak suka menonjolkan diri di dalam tulisannya, persisi seperti kata Hercule Poirot.

What are your first impressions of them?
Aku membayangkan Dokter Sheppard sebagai pria tua yang “lembek” dan tak berani melakukan hal-hal besar. Hal itu juga tersirat dari perkataan Caroline bahwa Dr. Sheppard selalu lemah dalam kepribadian. Juga dari fakta bahwa menurut Hercule Poirot, Dr. Sheppard selalu “sembunyi di balik layar” dalam catatan yang ditulisnya mengenai kasus pembunuhan Roger Akcroyd.

Find a portrait or photograph that closely embodies how you imagine them.

Sosok Dokter Sheppard dalam film

How has the character changed?
Meski awalnya aku mengira Dr. Sheppard tak berani melakukan hal-hal besar, tapi kenyataannya, ia justru sanggup membunuh dengan darah dingin.

Has your opinion of them altered?
Saat pertama membaca, aku memang menganggap Dr. Sheppard sebagai pengganti Hastings, yakni pendamping Poirot dalam menyelidiki suatu kasus, sekaligus menuliskannya sebagai (calon) buku. Tapi saat mengetahui endingnya, yah…tentu saja kini aku melihat Dr. Sheppard sebagai pembohong. Tapi kalau melihat bahwa ia memang berkepribadian lemah, sebenarnya tak heran juga bahwa ia akan jadi pemeras.

Are there aspects of their character you aspire to? or hope never to be?
Tak ada yang layak diteladan dari sosok Dokter Sheppard, justru aku berharap takkan pernah keinginan untuk membunuh melintas di pikiranku walau sedetikpun, seburuk apapun keadaanku. Selalu ada titik terang di ujung terowongan gelap!

What are their strengths and faults?
Kekuatannya? Hmm…harusnya keahlian Dokter Sheppard dalam mengutak-atik mesin digunakan untuk hal yang lebih berguna, ketimbang untuk menciptakan alat bantu pembunuhan…

Kelemahannya sangat jelas. Uang. Serakah. Itulah yang awalnya membuat ia melihat peluang untuk melakukan pemerasan. Lagipula sosok seperti Dokter Sheppard hanya focus pada diri sendiri, tak sekalipun ia memikirkan diri Ralph Paton yang hendak ia jadikan kambing hitam. Ia juga tak menyesali perbuatannya pada Nyonya Ferrars yang membuat si janda bunuh diri, atau pada Rober Ackroyd yang selama ini mempercayainya.

Do you find them believable? If not, how could they have been molded so?
Di dunia ini sangat banyak pribadi-pribadi lemah, tamak seperti Dokter Sheppard.

Would you want to meet them?
Tidak. Sama sekali tidak!