Thursday, March 8, 2012

The Wind In The Willows

Sebenarnya kisah fabel untuk anak-anak The Wind in the Willows karya Kenneth Grahame ini adalah kisah yang amat sederhana, yakni tentang persahabatan empat ekor binatang di tepi sungai Thames dan di hutan rimba Inggris. Tapi saat membaca kisah ini, aku jadi merasa kisah ini tak sepenuhnya "anak-anak" dan tak sesederhana yang nampak. Sebaliknya, banyak penggambaran tentang kehidupan yang terlukis dibalik kisah fabel ini.

Kisah dibuka oleh seekor tikus tanah yang merasa bosan setelah bersih-bersih rumah dan ingin berjalan-jalan keluar untuk menikmati udara musim semi yang cerah. Ketika ia mendekati tepi sungai, Tikus Tanah yang bernama Molly ini bertemu seekor teman baru, seekor Tikus Air bernama Ratty. Ratty mengusulkan mereka berdua untuk mendayung sambil berpiknik di tepi sungai. Kehidupan yang dirasakan nyaris sempurna oleh Molly, sehingga akhirnya Molly setuju untuk tinggal bersama Ratty di rumah Tepi Sungai. Kedua sahabat inipun akan menemui berbagai petualangan seru, yang kuibaratkan sebagai perjalanan hidup manusia.

Dalam perjalanan itu perahu mereka melewati hutan rimba, dan Ratty menjelaskan kepada Molly bahwa di sana hidup berbagai macam hewan, ada yang--bagi Ratty--cukup menyenangkan seperti Luak dan kelinci, namun ada juga yang lain seperti rubah, rase, cerpelai yang menurut Ratty "lumayan dengan caranya sendiri".

"Mereka semua lumayan, dengan caranya sendiri, tapi kau tak bisa sepenuhnya percaya kepada mereka, dan begitulah kenyataannya." ~hlm 11.

Bagiku, kata-kata Ratty itu menggambarkan sifat manusia. Di dunia ini ada bermacam-macam sifat manusia. Tak ada yang sepenuhnya hitam (jahat) atau putih (baik), mereka memiliki kedua sifat itu. Pada saat-saat tertentu mereka dapat hidup dengan baik bersama tetangganya, namun pada saat tertentu mereka mungkin merugikan tetangganya. Lewat Tuan Luak, Kenneth mengajarkan kepada pembaca cara untuk menghadapinya:

"...satwa-satwa pindah kemari... yang baik dan yang jahat. Di dunia selalu ada dua segi itu. Kita harus hidup dan memberi kesempatan kepada yang lain untuk hidup." (Tuan Luak) ~hlm. 47.

Kembali kepada perjalanan piknik Molly dan Ratty, berikutnya mereka melewati rumah besar bernama Puri Katak, tempat tinggal Toady, sang Tuan Katak. Toady mewakili karakter manusia yang terobsesi dengan kekayaan dan terbawa arus hedonisme, mendewa-dewakan benda-benda duniawi nan indah tapi melupakan nilai-nilai yang lebih luhur dalam hidup. Toady juga tipe orang-orang sombong yang menganggap dirinyalah pusat semua kehidupan. Tipe orang yang merasa dirinya pandai dan bijaksana, namun sebenarnya yang terbodoh dari yang hidup. Di sini Toady digambarkan sebagai trouble maker yang tergila-gila pada kendaraan mewah. Awalnya caravan, sampai akhirnya ia terpesona pada mobil balap. Semua hobbynya (yang berganti-ganti terus itu) hanya membawa kesialan baginya.

Inti kisah The Wind in The Willows ini adalah upaya Molly, Ratty dan sahabat mereka yang penyendiri--Tuan Luak--dalam misi untuk "menyelamatkan" Toady. Toady akhirnya kebablasan, dan harus meringkuk di penjara. Sementara itu Puri Kataknya diam-diam diduduki oleh para rase, cerpelai dan rubah. Ketiga sahabatnya lah yang dengan gigih dan berani berjuang demi Toady. Sebuah sikap persahabatan yang patut diacungi jempol. Alih-alih memikirkan keselamatan sendiri dan membiarkan saja teman yang toh sering mengecewakan, mereka bertiga bertekad menolong Toady. Akhirnya, bukan Puri Katak saja yang berhasil diselamatkan, mereka pun berhasil "menyelamatkan" Toady dari hidupnya yang sia-sia selama ini. Sebuah bukti bahwa kombinasi persahabatan yang tulus dan kesabaran masih mungkin mengubah cara pandang dan hidup seseorang.

Di sisi lain, ada juga petualangan Molly dan Ratty ketika mencoba menyelamatkan anak Berang-Berang bernama Portly yang hilang dari rumah. Mereka menemukan Portly cilik di pulau kecil indah yang penuh ditumbuhi bunga. Di sini Molly dan Ratty bertemu sesosok makhluk besar bertanduk yang sedang meniup panpipe buluh (sejenis flute) yang disebut sebagai Pelindung Makhluk-Makhluk Kecil. Makhluk ini dalam mitos Yunani merupakan dewa pelindung ternak dan hewan liar. Ada nuansa "surgawi" yang terutama dirasakan Molly ketika berada di pulau ini. Yang menarik adalah percakapan Molly dan Ratty. Molly merasa mendengar sesuatu:

"Hilang!" Tikus Air menghela napas sambil duduk kembali. "Tidak! Ternyata ada lagi!" Ia terkesima dan tidak berbicara cukup lama.
"Aku tidak mendengar apa-apa," ujar Tikus Tanah, "selain embusan angin di pohon dedalu." ~hlm. 71.

Jadi dari situlah judul buku ini berasal: embusan angin di pohon dedalu, the wind in the willows. Aku lalu menghubungkannya dengan sang Pelindung Makhluk-Makhluk Kecil yang melindungi Portly dan membuat si kecil merasa damai. Apakah keberadaan sang dewa ini menggambarkan kehadiran Tuhan di dunia yang merupakan satu-satunya "tempat" yang aman untuk berlindung? Dan angin yang berhembus di pohon dedalu itu menggambarkan sesuatu yang membawa kebahagiaan dan kedamaian? Entahlah...

Hal lain yang menarik adalah setelah pulang dari salah satu petualangan, Tikus Tanah tiba-tiba rindu rumahnya sendiri yang sudah lama terbengkalai, karena si empunya masih terbuai suasana di rumah Tikus Air. Dari sini kita diajak merenungkan bahwa kadang kita memang harus mengambil resiko pergi ke tempat baru, mencoba hal baru. Dengan begitu kita akan tahu di mana "tempat" kita yang sebenarnya. Apakah hidup yang kita jalani sekarang sudah tepat? Apakah kita hanya sekedar jenuh saja?

Empat bintang kuberikan untuk The Wind in the Willows, yang dengan sukses menggabungkan unsur hiburan, persahabatan, petualangan dan nilai-nilai kehidupan di dalamnya. Bravo juga untuk Kenneth Grahame yang kebetulan hari ini kita rayakan ulang tahunnya yang ke 153 (8 Maret 1859 - 8 Maret 2012). Happy birthday to Mr. Grahame!

Judul: The Wind in the Willows
Penulis: Kenneth Grahame
Penerjemah: Rini Nurul Badariah
Penerbit: Mahda Books
Terbit: April 2010
Tebal: 134 hlm

Character Thursday (2)

Suka membahas tokoh-tokoh di buku yang kamu baca? Ikutan blog hop ini yuk:

Character Thursday


  • Adalah book blog hop di mana setiap blog memposting tokoh pilihan dalam buku yang sedang atau telah dibaca selama seminggu terakhir (judul atau genre buku bebas).
  • Kalian bisa menjelaskan mengapa kalian suka/benci tokoh itu, sekilas kepribadian si tokoh, atau peranannya dalam keseluruhan kisah.
  • Jangan lupa mencantumkan juga cover buku yang tokohnya kalian ambil.
  • Kalau buku itu sudah difilmkan, kalian juga bisa mencantumkan foto si tokoh dalam film, atau foto aktor/aktris yang kalian anggap cocok dengan kepribadian si tokoh.

Syarat Mengikuti :

1. Follow blog Fanda Classiclit sebagai host, bisa lewat Google Friend Connect (GFC) atau sign up via e-mail (ada di sidebar paling kanan). Dengan follow blog ini, kalian akan selalu tahu setiap kali blog ini mengadakan Character Thursday Blog Hop.
2. Letakkan button Character Thursday Blog Hop di posting kalian atau di sidebar blog, supaya follower kalian juga bisa menemukan blog hop ini. Kodenya bisa diambil di kotak di button.
3. Buat posting dengan menyertakan copy-paste “Character Thursday” dan “Syarat Mengikuti” ke dalam postingmu.
3. Isikan link (URL) posting kalian ke Linky di bawah ini. Cantumkan nama dengan format: Nama blogger @ nama blog, misalnya: Fanda @ Fanda Classiclit.
4. Jangan lupa kunjungi blog-blog peserta lain, dan temukan tokoh-tokoh pilihan mereka. Dengan begini, wawasan kita akan bertambah juga dengan buku-buku baru yang menarik…


Fanda Classiclit




--------

Nah, tokoh pilihan dalam buku yang kubaca selama minggu ini adalah…

Florentino Ariza

(Love in the Time of Cholera by Gabriel García Márquez)


Jangan salah, Florentino Ariza ini adalah tokoh yang paling tidak kusenangi di buku ini! Dari penampilan saja dia selalu berpakaian seperti orang tua. Yah, bukan salahnya juga, karena keluarganya miskin, maka ibunya selalu mempermak pakaian-pakaian ayah Florentino yang sudah usang agar pas dipakai sang putra-tidak-sah ini. Mungkin itulah salah satu yang membuat Florentino menjadi sosok pemalu, tak percaya diri, tidak tegas, dan sebagai akibatnya seolah-olah "kasat mata" karena orang cenderung tak memperhatikan sosoknya.


Tapi Florentino juga memiliki persistensi dan kesabaran yang tinggi demi mencuri hati Fermina Daza, gadis dari kalangan atas yang dicintainya pada pandangan pertama. "Modus" pendekatannya konvensional sekali dan makan waktu lamaaa... Bahkan setelah Fermina akhirnya menikah dengan pria lain, Florentino tak putus asa, tetap menunggu hingga lima puluh tahun!

Yang aku benci dari dirinya adalah selama penantian panjang itu ia malah tak setia. Mengobral cinta pada banyak wanita. Meski ia berdalih bahwa para wanita itu hanya pemuas nafsu belaka, tapi beberapa kali hatinya juga tertambat. Belum lagi affair-nya dengan gadis remaja yang berada di bawah perwaliannya, pada saat ia telah berusia 70 tahun! Florentino kupikir adalah orang yang hany memusatkan pikiran pada dirinya sendiri. Ia begitu terobsesi pada Fermina, sehingga mengabaikan orang lain dan hal-hal lain di dunia termasuk karirnya. Menyedihkan, egois dan pecundang! Aku tak habis pikir dengan pribadi Florentino ini, dan bagiku pria pemimpi sepertinya tak patut dicintai.

So…who is your Character Thursday this week?

Yuk ikutan! Langsung saja masukkan linkmu di bawah ini ya…


Tuesday, March 6, 2012

Love in the Time of Cholera

Oprah Winfrey mengatakan bahwa buku ini adalah “One of the greatest love stories I have ever read, it is so beautifully written.” Maaf Oprah, kali ini aku tak setuju. Kalau yang anda maksud adalah kisah cinta antara Florentino Ariza si pecundang itu—begitu ia kujuluki—dengan Fermina Daza, menurutku cinta mereka sama sekali bukan cinta sejati. Baik, mari kutunjukkan mengapa aku tak setuju dengan anda.

Florentino Ariza adalah anak tidak sah seorang pemilik perusahaan pelayaran di perairan Karibia. Tak diakui oleh ayahnya, ia hidup bersama ibunya dalam kemiskinan. Jujur saja, tak ada satupun sisi positif yang bisa kutemukan pada pria ini. Pemimpi, lemah, terlalu terobsesi pada cinta, tapi juga sex-addicted. Florentino boleh dikatakan jatuh cinta pada pandangan pertama pada seorang gadis dari keluarga berada yang saat itu masih berusia tigabelas tahun: Fermina Daza. Fermina adalah putri Lorenzo Daza, pengusaha ternama di kotanya. Florentino yang bekerja di kantor telegram, pada suatu hari harus mengantar telegram ke rumah Lorenzo Daza. Saat itulah ia melihat sosok Fermina, dan panah cinta pun langsung tertancap di hatinya.

Karena Florentino pria yang tak percaya diri—wajar saja dengan penampilannya yang lusuh seperti orang tua itu—ia merasa minder. Alih-alih mendekati langsung, Florentino memilih cara memperhatikan dari jauh. Setiap hari pada jam tertentu ia duduk di bangku taman Park of the Avengels di bawah bayangan pohon almond, sambil berpura-pura asyik membaca buku. Melihat Fermina Daza melewati bangku itu ketika berjalan pergi-pulang sekolah dikawal oleh bibinya, merupakan pemandangan yang menyejukkan hati Florentino muda. Florentino yang memang berjiwa puitis mulai menulis sepucuk surat, tanpa tahu bagaimana cara menyampaikannya—karena ia menyadari bahwa hubungan mereka tak mungkin dijalani karena perbedaan kelas sosial.

Selama berbulan-bulan hal itu berlangsung, hingga suatu hari Florentino memiliki keberanian bertemu dengan Fermina. Pertemuan yang amat singkat, sama sekali tak dapat disebut berpacaran. Selama penantian Florentino menunggu “panggilan” Fermina, ia sempat jatuh sakit. Karena saat itu Kolumbia sedang berjangkit epidemi kolera, tak heran bila dokter yang memeriksa Florentino mengira pemuda itu terkena kolera. Ibunya saja yang yakin bahwa penyakit yang diderita putranya adalah penyakit cinta!

Fermina dan Florentino akhirnya sempat berkirim-kiriman surat dengan cara sembunyi-sembunyi. Bisa diduga, surat mereka dipenuhi kata-kata manis lengkap dengan bunga camelia. Khas cinta monyet remaja. Suatu hari kisah cinta mereka tercium Lorenzo Daza, padahal sang ayah sudah mengatur supaya putrinya menikah dengan pria terpandang. Maka Fermina pun tiba-tiba dijauhkan dari segala surat cinta, puisi romantis dan permainan serenade biola, dan dikirim lewat laut ke rumah saudara sepupunya di kota yang jauh: San Juan de la Ciénaga.

Setelah kembali ke kotanya, Fermina Daza telah tumbuh menjadi wanita yang lebih dewasa, bukan lagi gadis ingusan yang bertukar surat dengan Florentino. Meski awalnya sering memikirkan Florentino, namun begitu bertemu kembali dengan pria itu, Fermina mulai merasa muak. Muak akan kisah cinta monyetnya, dan baru menyadari bahwa Florentino adalah "pria payah". Sementara itu ada seorang dokter muda dari kalangan keluarga terhormat yang karirnya sedang menanjak: Dokter Juvenal Urbino. Saat mengobati penyakit Fermina, sang dokter pun terpikat kepadanya, dan tak lama kemudian ia melamarnya. Fermina sama sekali tak merasakan cinta pada sang dokter, namun mengingat target yang ia tentukan sendiri untuk menikah di usia 21 tahun hampir terlewati, dan mengingat Urbino seorang pria terhormat, sopan, berpendidikan, Fermina pun menerima pinangannya.

Fermina Daza dan Dokter Juvenal Urbino memasuki hidup perkawinan tanpa cinta. Meski awalnya perkawinan mereka sempat bergolak--terutama saat masa adaptasi--namun setelah mereka mengarungi bahtera perkawinan itu, mereka menjadi tak terpisahkan. Hal ini jelas terungkap saat mereka sudah beranjak tua, di mana mereka menjadi lebih saling membutuhkan daripada sebelumnya. Ini salah satu bukti bahwa yang terpenting dalam perkawinan bukan hanya cinta, namun kemauan untuk saling menerima dan berusaha mempertahankan perkawinan itu. Maka cinta pun akan tumbuh, meski bukan cinta nafsu seperti yang awalnya mereka inginkan atau rasakan. Cinta macam inilah yang menurutku adalah cinta sejati. Cinta yang menerima, alih-alih menuntut. Apakah perkawinan mereka bahagia? Menarik menyimak apa yang dikatakan Dokter Urbino:


"Always remember that the most important thing in a good marriage is not happiness, but stability."


Bagaimana dengan Florentino? Di luar dugaan, meski sakit hati, Florentino tetap memendam impian untuk kelak bisa bersatu dengan Fermina. Lima puluh satu tahun ia menunggu. Tapi jangan bayangkan cinta Florentino bak cinta seorang martir yang tak tergoyahkan. Di masa itu ia memang tak menikah, tapi ia bertualang cinta dengan sangat banyak wanita, dan bahkan menjadi kecanduan seks. Sampai-sampai di usia tujuh puluh tahun, ia masih bercinta dengan gadis remaja yang dititipkan kepadanya. Dua kata yang bisa menggambarkan Florentino Ariza: menjijikkan! Dan hingga akhir hayatnya, Florentino selalu mengatakan bahwa ia tetap setia kepada Fermina. Pembohong yang menjijikkan!

Keanehan Florentino yang membuatku makin mual terjadi ketika secara tak sengaja ia berada di satu restoran yang sama dengan Fermina dan suaminya. Ia menghadap ke cermin yang merefleksikan pantulan Fermina. Lalu tebak apa yang dilakukan Florentino! Ia berkeras membeli cermin itu dari pemilik restoran dengan harga berapapun, hanya untuk mengenang hari ketika ia bisa menatap Fermina lewat cermin itu. Obsesif? Kegilaan? Entahlah...

Lalu apakah Florentino dan Fermina akan benar-benar bersatu di usia tua mereka? Itu sebaiknya anda baca sendiri di bukunya, karena itulah yang akan menjadi hadiah dari penantian anda selama membaca buku yang beralur lambat ini. Yang jelas, aku tak bisa menyebut Love in the Time of Cholera ini sebagai kisah cinta sepanjang masa. Mungkin persistensi Florentino untuk menunggu Fermina selama lima puluh satu tahun bisa dikatakan hebat, tapi kalau selama itu ia membagi hati dan tubuhnya bagi orang lain--sambil membohongi diri sendiri--dapatkah itu disebut cinta sejati?

Maka sekali lagi...maaf Oprah, aku hanya bisa memberi 3 bintang untuk buku ini, karena meski kisahnya absurd, namun kepiawaian Marquez dalam merangkai kata cukup menghibur.

*Review ini kubuat tepat di Hari Ulang Tahun Gabriel García Márquez yang ke 85 (6 Maret 1927 - 6 Maret 2012)*

Judul: Love in the Time of Cholera
Penulis: Gabriel García Márquez
Penerbit: Penguin Books
Terbit: 2008
Tebal: 424 hlm

Monday, March 5, 2012

Pengumuman Pemenang BULAN DICKENS

Sebulan sudah kami (blog Fanda Classiclit dan blog Surgabukuku) menggelar even BULAN DICKENS, Perayaan 200 tahun Charles Dickens. Terima kasih buat klasikers yang sudah berpartisipasi! Semoga bermanfaat bagi kita semua untuk semakin mengenal sosok Charles Dickens dan karya-karya beliau. Kini tiba saatnya untuk mengumumkan para pemenang…

Untuk kuis #TebakDickens yang diadakan di twitter @bacaklasik, pemenangnya sudah kami umumkan terlebih dahulu, yaitu:

Ferina (@f3r1na) dan Dessy (@coffeecream)


Untuk even #BacaDickens yang berlangsung selama sebulan penuh, dua orang yang paling aktif share pengalamannya saat membaca buku-buku karya Dickens lewat twitter dan secara otomatis menjadi pemenangnya adalah…

Astrid (@pippopu) dan Melody (@melody_violine)


Sedangkan untuk lomba #ReviewDickens, setelah membaca semua review yang masuk (yang bagus-bagus semua itu...), dan setelah berunding, kami akhirnya memilih dua review terbaik yang dimenangkan oleh…

Busyra (Review Our Mutual Friend)

Alvina (Review Oliver Twist)


Selamat untuk para pemenang! Kalian semua masing-masing akan mendapatkan hadiah 1 buku klasik dari kami dan @bukunya sebagai sponsor dalam even ini. Silakan mengirimkan nama + alamat lengkap + no. HP kalian melalui email: bacaklasik [at] gmail [dot] com untuk pengiriman hadiahnya.

Tunggu even-even berikutnya dari Komunitas Baca Klasik di bulan-bulan mendatang, dan jangan lupa add akun kami di Facebook juga ya!

Friday, March 2, 2012

[Book About Author] Charles Dickens: The Dickens Bicentenary 1812-2012

Tahun 2012 merupakan tahun istimewa bagi pecinta sastra klasik dunia. Apa sebab? Karena tahun ini adalah perayaan 200 tahun atau 2 abad lahirnya salah satu penulis klasik terbesar dunia: Charles Dickens. Karena itu, penulis Lucinda Dickens Hawksley (yap, beliau menyandang nama Dickens karena memang keturunan—great great great granddaughter—Charles Dickens) dibantu The Charles Dickens Museum menulis sebuah buku yang amat istimewa. Buku ini tak hanya berisi kehidupan Charles Dickens saja (mulai masa kanak-kanak—terutama saat menjadi pekerja anak-anak, masa muda, pernikahan, keluarga, karier menulis dan bagaimana ia menjadi selebriti); ia juga berisi buku-buku yang ditulis Dickens dan bagaimana karyanya itu berhubungan dengan kehidupannya sendiri.

Tapi yang paling menarik dari buku ini, adalah foto-foto dengan kualitas sangat bagus (dan ukuran besar) serta ilustrasi-ilustrasi tentang Dickens dan karya-karyanya bertebaran di seluruh buku ini. Ditambah pula bonus berupa dokumen-dokumen asli milik Charles Dickens yang dibuatkan duplikatnya dari kertas atau karton eksklusif dan persis seperti asli. Bayangkan rasanya ketika anda memegang dan membaca tulisan Dickens dalam manuscript asli Oliver Twist misalnya, atau membuka lipatan koran Daily News yang pernah diedit Dickens, atau membuka-buka album foto keluarga Dickens. Kuberitahu ya…rasanya seperti aku tiba-tiba berada di abad 19 dan sedang berkunjung ke rumah Dickens sambil memegang-megang barang-barang pribadinya.

Yang paling aku sukai adalah booklet berisi naskah Oliver Twist yang akan dibacakan oleh Dickens pada acara pembacaan. Naskah yang diketik rapi itu dicorat-coret oleh Dickens untuk menandai poin-poin di mana ia harus menekankan suatu kata saat membaca. Rasanya orisinal banget! Bonus-bonus ini diselipkan ke antara halaman yang dibuatkan semacam amplop. Baiklah, tak berpanjang-panjang lagi, langsung saja aku pamerkan “harta karun” terbaruku ini
yang aku beli di Amazon, seharga USD 24,34.

Ukuran buku hardcover ini sebesar album foto, isinya 166 halaman


Duplikat empat pose Dickens di "visiting cards" -- entah apa maksudnya, tapi kupikir mungkin sejenis kartu langganan suatu jasa (?)


Salah satu favoritku juga: duplikat booklet serial Bleak House (waktu itu diterbitkan berseri) -- jadi bisa numpang membaca beberapa halaman pertama nih!


Ilustrasi A Christmas Carol terpampang di satu halaman penuh


Duplikat buku tabungan Dickens di Coutts Bank (jadi beginilah model buku tabungan di abad 19..)


Foto Charles Dickens muda terpampang satu halaman penuh...


Duplikat koran Daily News di mana Dickens pernah jadi editor, bersama manuscript asli tulisan tangan Dickens (lupa untuk buku apa) dan ketikannya yang rapi


Duplikat album foto keluarga milik salah satu saudara perempuan Charles Dickens



Lukisan yang menggambarkan Dickens duduk di meja kerjanya dikelilingi oleh tokoh-tokoh di buku karyanya, tercetak full 2 halaman!



Duplikat reading copy Oliver Twist (tulisan paling kanan yang terpotong, lengkapnya: Sleeping action, menandakan Dickens akan menirukan gerak tubuh mengantuk (menguap?) saat pembacaan tiba di kata yang digarisbawah itu.

Sangat-sangat-sangat menarik, aku sudah tak sabar ingin membacanya!

Classic Authors of March

Seperti biasa, inilah beberapa penulis klasik dunia yang akan berulang tahun pada bulan Maret.

Ryunosuke Akutagawa

Salah satu penulis klasik dunia yang memberi kebanggaan pada Jepang adalah Ryunosuke Akutagawa yang lahir di Tokyo pada 1 Maret 1892. Akutagawa dikenal sebagai “Bapak Cerita Pendek Jepang” dan namanya dipakai untuk penghargaan literasi bergengsi di Jepang: Akutagawa Prize. Uniknya, ia dinamakan Ryunosuke—yang artinya “Putra Naga”—karena ia lahir di Tahun Naga, bulan Naga, hari Naga dan jam Naga! Ibunya menderita kegilaan tak lama sesudah melahirkan Akutagawa, maka ia diadopsi oleh pamannya. Sayangnya Akutagawa berumur pendek, ia bunuh diri dengan mengkonsumsi barbital (obat) secara overdosis di usia 35 tahun, setelah menderita kelainan mental seperti halusinasi dan kegelisahan, yang dulu juga diderita ibunya.

Sejak awal Akutagawa sudah tertarik pada sastra klasik China dan Jepang. Ia mulai menulis begitu mendapat pelajaran sastra Inggris di perguruan tinggi. Sepanjang kariernya, Akutagawa memfokuskan diri menulis cerita pendek, dan tak pernah menulis novel satupun. Cerita pendeknya yang pertama kali diterbitkan saat ia masih kuliah, adalah Rashomon. Rashomon konon mendapat perhatian dari Natsume Soseki (penulis Botchan), dan akhirnya menobatkan diri sendiri sebagai salah seorang muridnya. Karya-karya Akutagawa menjelang akhir hidupnya banyak yang mendekati autobiografis, beberapa diambil bahkan dari diary-nya. Salah satu cerpennya diterjemahkan dalam kumpulan cerpen klasik: Cinta Tak Pernah Mati terbitan Serambi.

Gabriel García Márquez

Lahir di Kolumbia pada 6 Maret 1927, Gabriel José de la Concordia García Márquez aka Gabriel García Márquez aka Gabo (panggilan akrabnya di Amerika Latin) adalah salah satu penulis paling berpengaruh di abad 20 yang masih hidup hingga saat ini. Márquez mendapat penghargaan Nobel untuk Literatur pada 1982. Awalnya berkarier sebagai jurnalis, dan telah menelurkan banyak cerita pendek dan non fiksi. Namun karya paling terkenalnya adalah novel One Hundred Years in Solitude (diterjemahkan oleh Bentang Pustaka) dan Love in the Time of Cholera (diterjemahkan oleh Selasar). Love in the Time of Cholera ditulis berdasarkan kisah cinta orang tua Márquez sendiri. Marquez juga lah yang pertama kali mempopulerkan genre magical realism (realisme magis).

Tahun 1999 Márquez didiagnosa menderita kanker limpa, namun akhirnya sembuh setelah menjalani kemoterapi. Pandangannya dan persahabatannya dengan Fidel Castro membuatnya dianggap subversive, bahkan tidak boleh bepergian ke Amerika. Baru saat pemerintahan Bill Clinton, travel ban itu dicabut, dan Clinton mengaku bahwa One Hundred Years in Solitude adalah novel favoritnya. Harian La Republica pernah salah memberitakan bahwa Márquez telah meninggal di tahun 2000, yang ternyata adalah sosok orang lain. Kini dunia literasi sedang menunggu penerbitan novelnya yang terbaru: We’ll Meet in August, yang ia tulis pada Mei 2008.

Kenneth Grahame

Kenneth Grahamme adalah penulis Skotlandia yang terkenal dengan kisah anak-anak klasik: The Wind in the Willows. Beliau lahir pada 8 Maret 1859 di Edinburgh, Skotlandia. Karena ibunya meninggal saat ia berusia 5 tahun dan ayahnya bermasalah dengan alkohol, Kenneth diasuh oleh neneknya di sebuah desa berpemandangan alam indah, dengan sungai dan hutan. Hal ini amat disukai Kenneth dan kelak menginspirasi setting The Wind in the Willows. Novel fabel ini sempat memperoleh Lewis Carroll Shelf Award pada tahun 1958.

Sempat bekerja di bank, namun terpaksa berhenti—ada yang bilang karena berselisih dengan direkturnya, namun alasan resminya adalah kesehatan, mengingat Kenneth pernah tiga kali lolos dari insiden penembakan. Dari pernikahannya yang tidak bahagia, Kenneth dikaruniai seorang putra bernama Alistair. Malangnya, Alistair lahir buta pada salah satu mata dan berkesehatan buruk di sepanjang hidupnya. Alistair meninggal di usia 20 tahun karena bunuh diri di rel kereta api. Kenneth kemudian menuliskan dongeng-dongeng yang sering ia ceritakan sebagai pengantar tidur Alistair, menjadi sebuah karya besarnya: The Wind in the Willows—di mana tokoh Mr. Toad diinspirasi oleh Alistair.

Richard Francis Burton

Captain Sir Richard Francis Burton adalah seseorang yang multi-talenta. Ini dapat dilihat dari sederet profesinya yang variatif. Selain sebagai penulis, Burton juga explorer, geographer, diplomat, penerjemah, orientalis, bahkan pernah berkarir di militer—yang memberinya gelar Kapten di depan namanya. Burton lahir di Inggris pada 19 Maret 1821. Salah satu karyanya yang paling terkenal adalah One Thousands and One Nights. Burton juga yang membawa Kama Sutra untuk diterbitkan di Inggris. Konon Burton mampu berbicara dalam 29 bahasa-bahasa Eropa, Asia dan Afrika—yang pasti didapatnya selama ia melakukan eksplorasi ke benua Asia dan Afrika, juga karena bakat alaminya untuk mempelajari bahasa asing.

Burton mungkin salah satu penulis klasik dunia yang paling kontroversial. Bukan saja karena ia memiliki banyak musuh ketika menjadi diplomat di kawasan Afrika, tetapi minatnya pada hal-hal yang berbau seksualitas dan tuduhan membunuh anak laki-laki menambah panjang kontroversi seputar sosoknya.

Anna Sewell

Mungkin anda sudah mengenal kisah anak-anak tentang seekor kuda: Black Beauty. Penulisnya adalah seorang wanita asal Inggris yang lahir pada 30 Maret 1820. Ibu Anna juga seorang penulis buku anak-anak. Waktu kecil Anna pernah terpeleset di jalan ketika pulang sekolah, dan kecelakaan ini mengakibatkan kedua lututnya cedera parah. Kemungkinan karena salah penanganan atas cedera ini, akhirnya sepanjang hidupnya Anna tak dapat berdiri tanpa bantuan tongkat, dan tak mampu berjalan lama. Karena itu tiap kali bepergian, Anna selalu menggunakan kereta kuda. Dari sinilah timbul kecintaannya kepada kuda dan perhatian pada perawatan hewan.

Black Beauty adalah karya Anna satu-satunya, yang ditulisnya selama enam tahun. Belakangan ketika kesehatannya makin menurun dan ia harus terus berbaring, menulis merupakan tantangan besar baginya. Ia kemudian mendiktekan teks kepada ibunya, atau menulis di kertas-kertas, yang kemudian dikumpulkan oleh ibunya. Black Beauty sebenarnya ditulis oleh Anna agar orang belajar bagaimana memperlakukan dan merawat kuda, namun bukunya ini kemudian menjadi bacaan klasik. Black Beauty terbit hanya lima bulan sebelum Anna meninggal karena hepatitis di usianya yang ke 57.

Untuk Maret 2012 ini aku akan mereview Love in The Time of Cholera karya Gabriel García Márquez (sedang dalam proses membaca), dan kisah klasik anak: The Wind in the Willows karya Kenneth Grahame. Karya siapa yang akan anda baca bulan ini?

Thursday, March 1, 2012

Character Thursday (1)

Akhirnya menemukan theme yang keren untuk blog hop perdanaku. Eh…apa itu blog hop?

Blog Hop adalah..

Blogger-blogger yang menerbitkan posting dengan sebuah tema yang sama pada waktu bersamaan. Blog Hop ini memiliki seorang host (yang menentukan tema & aturannya). Nantinya para peserta dapat mencantumkan link postingnya di blog sang host.

Apa gunanya Blog Hop?

-Bagi sang host, akan menambah traffic atau follower ke blognya.
-Bagi peserta, akan menambah traffic bagi blognya, karena linknya tercantum di blog sang host.
-Khususnya bagi komunitas Blogger Buku Indonesia (BBI), akan mempererat jalinan persahabatan antar blogger, karena dengan Blog Hop kita lebih mudah mengunjungi blog-blog yang linknya tercantum.
Dan yang jelas, Blog Hop adalah kegiatan yang menyenangkan bagi blogger buku untuk berbagi pengalamannya dengan buku dan baca buku.

Yuk kita langsung intip blog hop bikinanku ini…

Character Thursday

Adalah book blog hop di mana setiap blog memposting tokoh pilihan dalam buku yang sedang atau telah dibaca selama seminggu terakhir (judul atau genre buku bebas).
- Kalian bisa menjelaskan mengapa kalian suka/benci tokoh itu, sekilas kepribadian si tokoh, atau peranannya dalam keseluruhan kisah.
- Jangan lupa mencantumkan juga cover buku yang tokohnya kalian ambil.
- Kalau buku itu sudah difilmkan, kalian juga bisa mencantumkan foto si tokoh dalam film, atau foto aktor/aktris yang kalian anggap cocok dengan kepribadian si tokoh.

Syarat Mengikuti :

1. Follow blog Fanda Classiclit sebagai host, bisa lewat Google Friend Connect (GFC) atau sign up via e-mail (ada di sidebar paling kanan). Dengan follow blog ini, kalian akan selalu tahu setiap kali blog ini mengadakan Character Thursday Blog Hop.
2. Letakkan button Character Thursday Blog Hop di posting kalian atau di sidebar blog, supaya follower kalian juga bisa menemukan blog hop ini. Kodenya bisa diambil di box di bawah button (cukup copas saja kode itu di posting atau di sidebar kalian).
3. Buat posting dengan menyertakan copy-paste “Character Thursday” dan “Syarat Mengikuti” ke dalam postingmu.
3. Isikan link (URL) posting kalian ke Linky di bawah ini. Cantumkan nama dengan format: "Nama blogger @ nama blog", misalnya: Fanda @ Fanda Classiclit.
4. Jangan lupa kunjungi blog-blog peserta lain, dan temukan tokoh-tokoh pilihan mereka. Dengan begini, wawasan kita akan bertambah juga dengan buku-buku baru yang menarik…

Fanda Classiclit




----

Nah, tokoh pilihan dalam buku yang kubaca sel
ama minggu ini adalah…

M. Hercule Poirot
(Pembunuhan Atas Roger Ackroyd by Agatha Christie)

Sejak aku membaca novel-novel Agatha Christie di bangku SMP, aku sudah jatuh cinta pada sosok Monsieur Poirot, sang detektif partikelir dengan kepala bulat telur dan kumis kakunya, dan…jangan lupakan…sel-sel kelabu di otaknya! Sebagai sosok manusia biasa, Poirot itu sosok yang kebapakan dan penuh perhatian, terutama pada orang-orang yang ia sayangi. Sebagai detektif, ia memiliki kharisma dan pengetahuan psikologis yang bagus sehingga dapat mengenali kepribadian seseorang dan bagaimana cara membuatnya (saksi atau si pembunuh) mengatakan kebenaran yang enggan mereka ungkapkan pada orang lain.


Inilah mungkin yang membedakan Poirot dengan Sherlock Holmes. Kalau Holmes memposisikan diri sebagai detektif, Poirot lebih meletakkan diri sebagai sahabat bagi semua yang mungkin terlibat dalam peristiwa pembunuhan.

So…who is your Character Thursday this week?

Yuk ikutan! Langsung saja masukkan linkmu di bawah ini ya…