Monday, September 3, 2012

Classics Authors of September (1)


Berhubung penulis klasik yang berulang tahun pada bulan September ada sebelas orang, aku akan menerbitkan ulasan singkatnya dalam 2 posting terpisah. Inilah bagian pertamanya, mengulas enam penulis klasik yang lahir di awal hingga pertengahan bulan September.

Leo Tolstoy

Salah satu penulis terbesar yang dimiliki Rusia adalah Leo Tolstoy, yang bernama lengkap Lev Nikolayevich Tolstoy. Tolstoy lahir pada 9 September 1828 dalam keluarga bangsawan yang namanya telah banyak dikenal. Awalnya karya Tolstoy berupa novel dan cerita pendek, namun belakangan ia juga menulis naskah drama dan esai. Karya Tolstoy yang paling terkenal adalah War and Peace dan Anna Karenina (diterjemahkan Penerbit KPG), yang dikenal sebagai pelopor fiksi realis. Sedangkan Ressurection (diterjemahkan KPG) merupakan novel panjang terakhirnya. Tolstoy banyak dianggap sebagai penulis novel terbesar sepanjang masa. Tolstoy dikenal dengan gaya kompleksitas dan paradox-nya serta tinjauan moral ekstrem yang digunakannya.

Tolstoy sempat belajar hukum, namun dianggap tak mampu oleh gurunya, kemudian meninggalkan sekolah di tengah-tengah masa belajar. Ia tinggal di Moskow dan St. Petersburg dan sempat terbelit hutang akibat judi. Ia dan kakaknya pergi ke Kaukasus dan bergabung dengan militer; pada saat-saat inilah Tolstoy mulai menulis. Pemikiran politis dan literasinya kelak bertransformasi setelah Tolstoy berjumpa penulis Prancis Victor Hugo. Awal pernikahannya dengan sang istri awalnya bahagia, dengan Sonya menjadi sekretaris, proofreader sekaligus manajer keuangan Tolstoy saat sang penulis menulis War and Peace dan Anna Karenina, namun perkawinan itu memburuk ketika cara pandang Tolstoy mulai berubah ke arah radikal.

Pada 1903 Tolstoy menulis esai mengkritik karya-karya Shakespeare (terutama King Lear) yang ia anggap jauh dari indah, dan justru ‘terlalu berat’. George Orwell lalu merespon kritik Tolstoy itu dalam tulisan berjudul Lear, Tolstoy and The Fool. Di situ Orwell menganggap kritik Tolstoy adalah palsu, tak jujur dan jahat. Menurut Orwell kritik itu sebagai ‘perang antara si religious dan si humanis tentang cara memandang hidup’. Di akhir hidupnya, Tolstoy mempraktekkan penyangkalan terhadap kekayaan, dan ironisnya beberapa hari setelah meninggalkan keluarga dan kekayaannya untuk menjadi pengelana miskin, ia meninggal dunia di stasiun kereta api karena pneumonia, pada usia ke 82.

O. Henry

Nama William Sydney Porter mungkin asing bagi anda, karena penulis cerit a pendek asal Amerika ini biasa dikenal dengan nama penanya: O. Henry. Henry lahir di North Carolina pada 11 September 1862. Beliau dikenal dengan tulisan-tulisannya yang jenaka, permainan kata dan ‘twisted ending’. Kumpulan cerpennya sudah diterbitkan oleh Serambi dengan judul Cinta Yang Hilang. Ditinggal mati ibunya saat usia 3 tahun lalu dibesarkan ayahnya, Henry sudah hobby membaca sejak kecil, dari karya klasik hingga novel, semuanya ia lahap. Favoritnya antara lain terjemahan One Thousand and One Night serta Anatomy of Melancholy karya Richard Burton.

Henry awalnya bekerja di toko obat milik pamannya, dan kemudian ia pun menjadi apoteker, dan mulai menampakkan bakat artistiknya dengan melukis pemandangan kota dari toko obatnya. Th. 1882 Henry pindah ke Texas dan tinggal di ranch untuk menyembuhkan batuk akutnya. Setelah kesehatannya pulih, ia mulai gonta-ganti pekerjaan (salah satunya sebagai pemegang pembukuan di bank) sambil sedikit menulis. Setelah menikah, sang istri mendorong Henry untuk menulis lagi. Henry menerbitkan mingguan berjudul Rolling Stone berisi tulisan dan gambar satir tentang kehidupan, manusia dan politik; karyanya itu lalu mendapat perhatian editor sebuah harian, dan akhirnya ia bekerja di sana. Di harian itu Henry punya ide untuk berkeliaran di lobby hotel untuk mengamati da berbicara dengan orang-orang di sana, ide yang kemudian ia terapkan untuk cerpen-cerpennya kelak. Sayangnya bank tempat ia dulu bekerja menuduhnya melakukan penggelapan uang gara-gara Henry tak teliti dalam pembukuannya. Ia kemudian harus menjalani hukuman penjara, dan selama itu mulai aktif menulis cerpen yang dikirim oleh temannya ke penerbit.

D.H. Lawrence

Salah satu penulis Inggris yang paling kontroversial adalah D.H. Lawrence yang bernama lengkap David Herbert Richards Lawrence. Lawrence lahir di sebuah kota pertambangan pada 11 September 1885. Kelak beliau dikenal dengan novel-novelnya yang memicu kontroversi karena vulgar dan banyak kena sensor serta dianggap pornografi pada masa itu. Salah satunya adalah Lady Chatterley’s Lover yang diterbitkan oleh Alvabet. Selain novel, ia juga penulis puisi, naskah drama, esai, kritik literasi, juga seorang pelukis. Namun kini ia dikenal sebagai seorang visioner dan peletak dasar modernism di dunia literasi Inggris. Latar belakang keluarganya yang kelas pekerja kelak menjadi sumber ide karya-karyanya.

Lawrence bekerja sebagai guru, dan di saat-saat ini mulai banyak menulis puisi, cerpen dan draf novel pertamanya, Laetitia, yang terbit dengan judul The White Peacock. Ketika novel itu terbit, ibu Lawrence yang sangat dicintainya meninggal karena kanker, menorehkan luka mendalam padanya selama beberapa bulan dan merupakan saat perubahan besar dalam hidupnya. Momen itu akan tampil pada novelnya Sons and Lovers yang merupakan novel autobiographicalnya. Setelah sembuh dari pneumonia untuk kedua kalinya, Lawrence melepaskan karir sebagai guru dan mulai menekuni karir sebagai penulis. Ketika Lawrence mulai menulis Women in Love, ia terlibat hubungan romantis dengan seorang petani (pria), dan akhirnya bercerai dengan istrinya. Lawrence sempat dituduh menjadi mata-mata perang dan harus menjalani ‘pembuangan’ yang menjadikannya miskin. Lawrence terus berkarya hingga ia meninggal dunia akibat TBC pada usia 45 tahun.

Roald Dahl

Tanggal 13 September 1916 adalah hari kelahiran penulis Inggris Roald Dahl yang banyak dikenal dengan buku anak-anaknya. The Times menempatkannya di urutan 16 penulis terbesar Inggris sejak 1945, dan ia dianggap sebagai salah satu pencerita kisah anak-anak terbesar abad 20.  Selain novelis, Dahl juga penulis cerpen dan puisi serta pilot pesawat tempur. Dahl lahir di Wales, Inggris dari orang tua berkebangsaan Norwegia. Dahl dinamai sesuai pahlawan Norwegia, si penjelajah Kutub Utara dan Selatan Roald Amundsen. Saat usia 8 tahun, Dahl bersama empat temannya dihukum oleh sekolah karena sengaja memasukkan bangkai tikus ke stoples milik penjual permen yang jahat. Buku karyanya yang autobiogfaris adalah Boy, Tales of Childhood, di mana Dahl mengisahkan ibunya yang menyimpan sebundel surat-suratnya saat ia merasa kesepian di sekolah.

Saat sekolah, perusahaan pembuat coklat Cadbury sering membagikan tester coklat bagi murid-murid di sekolah Dahl. Dahl selalu bermimpi mengirimkan ide rasa coklatnya sendiri ke Mr. Cadbury, yang kemudian menginspirasi Charlie and The Chocolate Factory. Saat Perang Dunia II pecah, Dahl menjadi pilot pesawat tempur, sempat mengalami kecelakaan hebat yang membuatnya buta untuk sementara waktu. Novel-novelnya yang terkenal lainnya: Matilda, The Witches, The Twits dll (semua judul sudah diterbitkan Gramedia).

Agatha Christie

Dame Agatha Mary Clarissa Christie, siapa yang tak kenal beliau? Agatha Christie adalah penulis ‘best selling of all time’ menurut Guinness Book of World Records. Beliau dikenal dengan novel bertema criminal dan detektif, dengan detektif kenamaannya Hercule Poirot dan Miss Marple. Selain itu Christie juga menulis novel romance dengan nama samaran Mary Westmacott. Total ada 66 novel detektif yang ditulisnya, dan sebagian besar sudah berkali-kali diterbitkan (dan diterbitkan ulang) oleh Gramedia. And Then There Were None (Diterjemahkan menjadi Sepuluh Anak Negro) merupakan novel misteri terlaris sepanjang masa.

Christie lahir pada 15 September 1890 di Devon, Inggris. Sejak usia 4 tahun Agatha sudah mulai belajar membaca; ia tak pernah mendapat pendidikan formal, namun ayahnya banyak membimbing Christie dalam matematika lewat semacam permainan trivial (tanya jawab) di keluarganya. Sejak usia sangat muda Christie sudah mengarang-ngarang cerita dan teman imajiner. Saat Perang Dunia I Christie bergabung sebagai perawat di Rumah Sakit. Ia memutuskan untuk menulis cerita detektif, dan di Rumah Sakit itu ia belajar tentang pengobatan dan racun untuk novelnya. Novel pertamanya, The Mysterious Affair at Styles terbit pada 1920 setelah pernikahannya dengan Archibald Christie. Pada 1926 Archibald minta cerai, bertengkar hebat dengan Christie, dan meninggalkan rumah untuk menginap di rumah kekasihnya. Malam itu pula Christie menghilang selama 11 hari dan tak pernah ada yang bisa menemukannya hingga ia muncl kembali, peristiwa yang dimaksudkan untuk mempermalukan Archibald namun mengundang kegemparan penggemarnya. Suami kedua Christie adalah arkeolog, dan mereka mengalami pernikahan yang bahagia hingga kematian Christie.

William Golding

Penulis berkebangsaan Inggris bernama lengkap Sir William Gerald Golding ini lahir pada 19 September 1911. Beliau adalah penulis novel, puisi dan naskah drama yang pernah menerima Nobel Prize for Literature pada 1983 serta Booker Prize for Literature pada 1980. Pada 1988 Golding dianugerahi gelar “Sir” oleh Ratu Elizabeth 2. Novelnya yang paling terkenal adalah Lord of The Flies. Golding dikenal dengan alegori-nya yang dijumpai di novel-novel yang kebanyakan bersetting terbatas seperti pulau terasing, lokasi perburuan, biara dsb.

Pada thn. 1940 Golding bergabung dengan angkatan laut kerajaan dalam Perang Dunia II dan turut serta dalam beberapa aksi penenggalaman kapal musuh. Novel pertama Golding pernah dikirim sebagai manuskrip dan sempat ditolak, tapi untungnya editor yang baru bekerja di sana menyukainya dan meminta Golding memotong beberapa bagian sebelum akhirnya menerbitkan novel itu pada September 1854 sebagai Lord of The Flies. Golding meninggal dunia akibat sakit jantung pada usia 82 tahun.

Sunday, September 2, 2012

Weeken Quote 4: Lord of The Flies


This time I picked a quote from Lord of The Flies by William Golding. It’s about a bunch of little and teenage boys who must live by themselves in an isolated island. Several of them soon transformed to barbarians while only few of them could keep their sanity. This quote is from Piggy, one of the civilized boys, a boy of twelve years old, fat, with severe asthma and a pair of thick glasses. A kind of boy who would be neglected in the real world, but proved to be the most reasonable among the other boys in the island. The quote was addressed to the tribe (the barbarian boys) in the beginning of their unequal battle….

“Which is better—to be a pack of painted niggers like you are, or to be sensible like Ralph [Piggy’s friend who was elected as their Chief] is?
Which is better—to have rules and agree, or to hunt and kill?
Which is better, law and rescue, or hunting and breaking things up?”

In our lives, this quote was also relevant, as we have so often watched how people became more and more barbarian in spite of the more modern life… Don’t you agree?

Lord of The Flies is a very good book that I recommend you to read, the review will be published next Wednesday.

Weekend Quote is hosted by Half-Filled Attic. Feel free to join. You can:

  • Give the context of the quote
  • Give your opinion whether you agree or disagree with it
  • Share your experience related to the quote
  • Share similar quotes you remember
  • Or anything else. Just have fun with the quote.


Saturday, September 1, 2012

Gone With The Wind Read Along KICK OFF!


It’s September 1st finally! I am already excited to announce that our Gone With The Wind Read Along is started TODAY!....

I will only remind you of few things:

  • The read along is from September 1st to November 7th, 2012.
  • You can have your own pace, manage your own schedule.
  • After finishing each part (Part 1, 2, 3, and 4) you are encouraged (but not mandatory) to write update posts (see details in Master Post).
  • As you have your own pace, you can post update posts anytime you like, and put the link in the linky provided on Update Posts page (the linky is already opened).
  • When you have linked your update post, don’t forget to visit others who have finished the same Part you just posted, to see about their thoughts.
  • Each update post will be counted as one entry for my giveaway (details will follow).
  • After finishing last part (Part 5), post your review/thoughts on Margaret Mitchell’s birthday, November 8th, 2012.
  • ==Surprise!== Bzee (my co-host) would host another giveaway at the end of our read along. Your review post will be eligible for the giveaway, so don’t miss it guys!

Now, what are you waiting for? Read your book! And I hope you will enjoy our read along….

Notes:
  • To make it easy for you, I have placed all posts regarding this read along on the top right side bar (below the read along button), including the Update Posts page (already opened) and Reviews page (will be opened on November 8th).
  • You just found this read along and would have liked to join but are afraid you have missed the start? Don’t worry, you can still join in as long as you think you can catch us and post your review on November 8th! Just add your name and blog in the Sign-Up page, then read along!
  • I don’t oblige you to follow this blog (but will thank you if you do), however it is one way you can always be updated about giveaways or other things during this read along. I will also publish anything related to the read along on my Twitter (@Fanda_A) with hashtag #GWTWReadAlong.


Friday, August 31, 2012

Germinal


[conclusion in English is at the bottom of this post]

Germinal adalah buku ketiga belas dari dua puluh novel dalam seri Rougon-Macquart karya Émile Zola. Bersetting di kota daerah pertambangan di Prancis pada akhir abad ke 19, di mana industri sedang mengalami kelesuan. Yang paling merasakan dampaknya (seperti biasa) adalah para pekerja pertambangan yang setiap hari harus bekerja keras di lubang-lubang kecil ratusan meter di bawah permukaan tanah untuk menambang batu bara; dengan resiko kehilangan nyawa setiap saat, demi mendapatkan upah yang sangat minim untuk sekedar dapat melanjutkan hidup dari hari ke hari.

Étienne Lantier tiba di distrik Montsou, pengangguran yang sedang mencari pekerjaan untuk menyambung hidup. Ia tiba di pertambangan Voureux, berkenalan dengan keluarga penambang bernama Maheu, yang kebetulan sedang membutuhkan seorang pekerja. Jadilah Étienne si pendatang baru dari kota lain, seorang pria muda yang lumayan tampan, suka membaca dan berpendidikan, menjadi salah satu penambang di situ. Lewat mata Étienne kita diajak melihat betapa kerasnya pekerjaan mereka, betapa penuh bahaya, dan betapa tidak manusiawinya perusahaan pertambangan itu memperkerjakan mereka.

Kemiskinan dapat terlihat di mana-mana, yang akhirnya menjalar pada kemerosotan moral keluarga penambang. Dengan upah yang pas-pasan mereka mempertaruhkan nyawa, dan seringkali karena kesalahan kecil mereka, upah yang sedikit itupun harus dipotong. Étienne mulai merasakan ketidakadilan di sana, dan mulai timbul dorongan untuk membuat perubahan. Ia mulai belajar dari beberapa buku, termasuk dari pelopor serikat buruh yang memperjuangan nasib pekerja di Paris. Bisa ditebak, Étienne mulai mempengaruhi para penambang dengan ide-ide perlawanan terhadap perusahaan untuk mendapatkan hak mereka. Sedikit demi sedikit, lewat rapat-rapat dan orasi-orasi, Étienne mengumpulkan partisan.

Kemudian momentum itu tiba, perusahaan memberlakukan peraturan baru, yang pada akhirnya menurunkan upah yang mereka terima. Upah yang sudah tak cukup itu harus kembali dikurangi. Maka mendidihlah kemarahan mereka, dan dengan segera mereka memutuskan untuk mengadakan demonstrasi dengan Étienne sebagai pemimpin mereka. Demonstrasi ini segera menyebar hingga hampir seluruh pertambangan harus berhenti berproduksi. Akankah mereka berhasil mencapai tujuan mereka, agar perusahaan makin memperhatikan kesejahteraan mereka, sementara perusahaan dan pemegang saham pun terkena imbas kelesuan dunia industri? Akankah yang lemah akhirnya menang?

Meski tampaknya novel ini dipenuhi ide-ide sosialisme, namun Zola berhasil meramunya dengan cantik. Selain Étienne, ada keluarga Maheu yang menjadi pusat cerita, belum lagi para penghuni kompleks pertambangan itu. Di sini kita seolah menyaksikan sendiri suka-duka mereka semua, bukan hanya soal pekerjaan, namun juga tentang cinta, keluarga, dendam, harapan, amarah, dan semua kompleksitas yang terajut dalam benang kehidupan manusia, dengan kemiskinan sebagai awal dari segalanya. Lewat Germinal kita bisa menyadari bagaimana kebejatan, nafsu membunuh dan kriminalitas biasanya bermula dari kemiskinan dan ketidakadilan. Sementara kita mengutuk tindak anarkisme dalam sebuah demonstrasi, lewat Germinal paling tidak kita tahu bagaimana kemarahan yang lama terpendam, dari generasi ke generasi, akan meledak hebat pada suatu saat, bak gunung berapi yang telah bertahun-tahun tidur, padahal selama itu sedang menggodok magma di perutnya, untuk suatu saat memuntahkannya dengan penuh kekuatan. Salahkah mereka? Atau siapakah yang sebenarnya bersalah?

Germinal menggabungkan ide Darwinisme (yang kuat akan memakan yang lemah) dengan sosialisme, menghentak dalam penggambaran dashyatnya kekuatan ‘yang lemah’ ketika mereka menggalang persatuan, serta dahsyatnya kemiskinan dalam merenggut hidup manusia. Kekuatan itu lalu dilembutkan Zola dengan metafora-metafora cantik, juga kisah cinta yang menyesakkan dada dalam thriller drama penyelematan di area tambang. Dan gabungan dari semuanya membuat Germinal sebuah kisah yang selalu relevan hingga kapanpun, bagi siapapun. Tak heran Germinal masuk (dan ia lebih dari layak untuk masuk kategori ini) dalam 1001 Books To Read Before You Die di urutan ke-824, karena memang, entah kapan, anda HARUS membaca buku yang dahsyat ini sebelum anda mati!

Lima bintang untuk Germinal!

Judul: Germinal [in English]
Penulis: Émile Zola
Penerbit: Wordsworth Classics
Terbit: 2007
Tebal: 478 p.



Conclusion:

Germinal is my third book of Zola, and I can say that it already becomes one of my favorites. Germinal is not only a story about the classic fight between workers and company, the poor and the have, it is also about the agony of poor working class. Germinal was written from Étienne Lantier’s (Gervaise’ son in L’Assommoir) point of view. He was an engine man came to a coal mining town Montsou to find a job. From his eyes, Zola took us to watch the sorrows of coal miners who worked hard under poor conditions for very small wages which could hardly support their poor lives. And for generations this condition has never changed; and they seemed to just accept it; to be overpowered by the bourgeoisie and the industrial machines called capitalism.

No matter how hard we might struggle, we probably wouldn’t change anything. The best is to try and live honestly in the place in which the good God has put us.” ~Maheude, p. 86

Until Étienne—a quite educated young man—appeared from nowhere, mingled with the settlemen, and little by little affected their way of thinking. They soon put him into their lead, with a dream to dethrone the wealth and to regain their freedom and rights. The question was, what was the best method to carry it; anarchism? Long term evolution? Or strikes?

Germinal was a combination of humanity, Darwinism and socialism, packed beautifully with metaphors and romance. This is the third Zola’s I’ve read so far, and compared to Therese Raquin and L’Assommoir (sorry, the reviews are still in Bahasa Indonesia). Germinal was less distressing and less striking. Yes, Zola still described poverty, hunger and moral degradation brutally to the most extremes, yet he still slipped a hope, a bigger hope for a better future in the end. Germinal was only the beginning, the seeds sowing of workers’ battle against the oppression of capitalism. Germinal would show the world that there is a possibility for the weak to fight the strong. It only took time and refinement, and one day the seeds that were now germinating would harvest perfectly and change the earth.

What interested me the most is the metaphors Zola used throughout this story. First of all, the way he described the surroundings in the mine from the eyes of the newcomer Étienne. Zola often used the terms of animal’s digestion in describing the mine pit.

And the Voureux, at the bottom of its hole, in contractions those of an evil beast, continued to grind away, breathing with a heavier and slower respiration, appearing troubled by its painful digestion of human flesh.

 “The shaft swallowed men by mouthfuls of twenty or thirty, and with so easy a gulp that it seemed not to feel them go down.

I only think, that it is the way Zola described capitalism which swallowed people and crushed them in poverty just like a monster digested human flesh; and what a beautiful metaphor they are indeed!

Zola also closed the story in a very beautiful and touching way. The rescue drama in the tumbling pit near the end of the story was really breathtaking, but approaching the end it was also warming my heart with love. And the final ending was superb! I love the final quote which brought a new hope for a better future, and look how Zola crafted it with nature’s elements of a new spring for the world, the most beautiful metaphor from this book.

Five stars (obviously) for Germinal, which have just become my new favorite!

On The 361st Anniversary of Robinson Crusoe’s Journey…


In Daniel Defoe’s best book, Robinson Crusoe started his journey on 1st September 1651….

... and in an ill hour, God knows, on the first of September, 1651, I went on board a ship bound for London. Never any young adventurer's misfortunes, I believe, began sooner or continued longer than mine.



It means, tomorrow would be the 361st anniversary of that journey. Robinson Crusoe has been on my TBR pile since…perhaps the last one year. I own an Indonesian translation copy, and have put this book into my The Classics Club list. So, when I knew that o (Délaissé blog) will read this book and asking whether her followers might join her (it’s kind of informal read along without deadline, only we must start on 1st September), I promptly decided to join in.

Although I have been engaged with hosting the Gone With the Wind read along, I feel I’d need a book to go along with GWTW. I don’t think I’d be able to stuck on those >1400 pages for the whole month (and followed by another month). Robinson Crusoe might have been a perfect choice. So....who wants to join me?

Thursday, August 30, 2012

Bhima on Mahabharata

I think, besides Arjuna—who was always the celebritiy :)—Bhima is one of the most famous characters from the ancient Indian mythology: Mahabharata. Bhima was the number two of Pandavas, he was born from the same mother as Arjuna, Kunthi; however his father was Vayu (god of the wind). Bhima was the biggest among the brothers (actually he was more like a giant), with a rough and straight manner. He always carry a cudgel as his weapon, which fits his enormous body.

Though he was tender hearted and polite, Bhima did not have the elegant manner of a prince like Arjuna or Yudhisthira. When others sat at the palace hall, Bhima would choose to stand outside the room. He could never adapt with the formality in the palace, and actually was more fit with the lower classes people. Bhima was also an honest, straightforward and trustful person. He was quite an impulsive man, acting rather from his instinct than his consideration. With his enormous energy and his skill, Bhima would challenge everyone who insulted him or people he loved, almost without much thinking. One of his characters that I don’t like.

I suspect that Bhima had actually some passionate feelings for Draupadi—his sister in law, wife of Yudhisthira. When Draupadi was humiliated by Kauravas, Bhima seemed to be quite broken hearted. It was Bhima who—I noticed—responded to it with his gesture, while the husband and the others kept silenced and seemed to be resigned to their defeat. When Draupadi at their exile in the forest would like to have flowers to do her hair, it was Bhima who volunteered to search it. Can you imagine that Bhima, the invincible man who usually been seen with his cudgel roamed in the dark forest to pick flowers? But Bhima did not consider that as something ridiculous, he just wanted to please Draupadi’s heart, to show that he cared for her, because he could feel the humiliation she had suffered terribly.

I think, in his enormous muscles, there laid a tender heart of a man….


Monday, August 27, 2012

Germinal - A Classic Challenge August: Quote


The August prompt for A Classic Challenge is so far the one I like most! It’s the simplest and most exciting of all :)

Rather than a questions this month's prompt is to share a memorable

Quote

... or a few of them from what you're currently reading. Try to select one that are not so well-known but, of course, if you can't help yourself share it too!

I have just finished reading Germinal by Émile Zola, and  LOVED it so much! This time it’s not only distressing, but Zola slipped a hope for a better world at the end of the novel. It reflected on the ending—and I found myself reading this quote over and over again, always feeling warm after that. And I also enjoyed Zola’s beautiful metaphors here….



Now the April sun, in the open sky, was shining in its glory, warming the earth as it went into labour. From its fertile flanks life was leaping forth, buds were bursting into green leaves, and the fields were quivering with the growth of the grass. On every side seeds were swelling, stretching out, cracking the plain, filled by the need of heat and light. An overflow of sap flowed with whispering voices, the sound of the germs expanded in a great kiss. Again and again, more and more distinctly, as though they had come right up to the soil, the comrades were hammering. In the fiery rays of the sun, on this youthful morning, the country was pregnant with this rumbling. Men were springing forth, a black avenging army, germinating slowly in the furrows, growing up for the harvests of the next century, and their germination would soon overturn the earth.” ~p. 478 (closing quote).



Don’t you just love it?