Monday, September 3, 2012

Lord of The Flies


[conclusion in English is at the bottom of this post]

Sebuah pesawat yang mengangkut sekelompok anak-anak lelaki berusia antara 6 – 12 tahun mengalami kecelakaan, dan anak-anak itu terdampar di sebuah pulau terisolir. Ralph—anak bertubuh sehat—dan Piggy—anak bertubuh gemuk, berkacamata dan mengidap asma—menemukan sebuah keong besar yang jika ditiup bisa mengeluarkan suara seperti terompet. Dengan keong itu Ralph dan Piggy mengumpulkan semua anak yang terdampar dan mengadakan pertemuan mereka yang pertama. Ralph akhirnya terpilih menjadi Ketua, membuat Jack—anak sebayanya yang mengincar “jabatan” itu—mulai merasa iri.

Awalnya mereka semua hidup bahagia menyadari mereka boleh bertindak bebas tanpa pengawasan orang-orang dewasa. Ralph sebagai Ketua memikirkan bahwa membuat api adalah satu-satunya cara mereka untuk diselamatkan karena akan memberikan signal apabila ada kapal lewat. Sejak awal ia membuat aturan-aturan dan anak-anak lainnya mematuhinya karena ia Ketua dan karena keong besar yang menandakan kewenangan itu. Jack—sebagian karena dendamnya pada Ralph—mulai melanggar aturan, dan alih-alih menjaga api tetap menyala, ia mengajak anak-anak lain untuk berburu babi.

Hal itu membuat kelompok mereka yang tadinya saling bersahabat terpecah menjadi dua kelompok. Kelompok yang bertahan dalam keteraturan dan mempertahankan akal sehat mereka melawan kelompok yang bertindak sekehendak hati dan menunjukkan tanda-tanda kebiadaban khas suku-suku terasing. Bagaimana mereka semua bertahan hidup di pulau itu? Akankah mereka semuanya selamat?

Lord of The Flies menunjukkan kepada kita bahwa dalam diri manusia selalu ada dua insting yang bertentangan, kebiadaban dan keberadaban, atau singkatnya baik vs jahat. Insting mana yang selalu dipupuk, itulah yang akan menonjol dalam diri kita. Di dunia yang serba teratur dengan hukum, aturan, pendidikan dst. anak-anak yang terdampar itu tadinya anak-anak yang baik (sebagian malah aslinya anak-anak paduan suara di Gereja). Namun ketika aturan itu tak ada lagi, mereka mulai membiarkan diri masuk dalam keliaran, dan akhirnya insting kebinatangan mereka pun mulai nampak. Dan saat itu, hanya akan ada bencana dan kebinasaan, yaitu ketika manusia telah berubah menjadi primata tanpa akal sehat dan moral.

Novel ini membuatku berpikir keras setelah menamatkannya. Apa yang sebenarnya memicu mereka untuk memupuk insting kebiadaban itu? Perpecahan mereka bermula dari Jack, dan dalam diri Jack ada nafsu untuk berkuasa, ada superioritas yang amat kental. Dia tahu bagaimana cara menguasai orang lain, yaitu dengan iming-iming makanan dan kebebasan. “I’m a hunter….I give you meat” adalah apa yang berulang-ulang ia ucapkan. Dia jelas berbeda dengan Ralph yang terus-menerus menekankan bahwa mereka harus menjaga api tetap menyala dan membangun tepat berteduh. Ralph adalah lambang keteraturan dan demokrasi di mana orang yang sedang memegang keong punya hak bicara dan yang lain tak boleh menyela.

Mana yang lebih menarik? Tentu saja kebebasan dan makanan. Bukankah itu awal semua dosa manusia yang tak ingin dikekang melakukan apapun yang diinginkan? Nafsu-nafsu itulah yang gampang menimbulkan anarkisme di tengah kemiskinan atau kelaparan. Sangat sulit untuk tetap berpijak pada akal sehat, hati nurani dan moralitas, yang di novel ini digambarkan dalam sosok Ralph dalam perjuangannya mempertahankan akal sehat.

Lima keong untuk Lord of The Flies!

Judul: Lord of The Flies
Penulis: William Golding
Penerbit: faber and Faber
Terbit: 2002
Tebal: 225 p.

Conclusion:

What will happen if a bunch of boys (ranging from 6 to 12 years old) were forced to live by themselves without adult supervision in an isolated island for days? After reading this great novel, I began to think that only in worst situation, that one’s consciousness would have the true trial. These boys arrived at the island (after plane crash) as good, innocent, civilized boys (some of them were choir boys) who were familiar to live in laws and orders. Having found a beautiful conch on the beach, Ralph—a fair hair boy, and Piggy—a fat boy with asthma and myopic eyes—called the others for an assembly. In this first meeting they acted like civilized people, they voted Ralph to be their Chief. Everyone agree except Jack, a tall boy who actually hoped to be made leader.

Soon Ralph instructed them to make fire to act as a signal so that is a ship should see it, they would be rescued. Through the novel Ralph emphasized the urge of keeping the fire on, and to build their shelter. Other boys obeyed him, but soon they were distracted by Jack who preferred to go hunting for pigs then to think about fire and shelter. The boys quickly divided into two groups, those who stuck to their senses in civilization, and those who fell in savagery. Things got worse with ‘the Beast’ issue, something few of them had seen in the darkness of the forest.

Lord of The Flies is an allegory to highlight two sides of human being, the kind and the evil. While we were born and grown up in a civilized world with laws and orders, there’s a dark side inside of us which in certain circumstances or influences would reveal itself and even overpower our common sense. I can see that in the boys’ case, Jack had been burned by his envy towards Ralph from the beginning. He had a strong desire to prove to the others that he was a better leader than Ralph by offering them food and freedom. Through the hunting activity, Jack’s group were then transformed into barbarian savages, with the instinct of killing, just like the chant they sang over and over again: “Kill the pig (later on became beast), cut the throat, spill the blood.”…..(imagine a tribe with paints on their faces sang that in a circle with their victim at the centre); believe me, those scenes really sent chill down my spine! There’s no beast more terrifying than evil souls!

I don’t want to give you any spoiler, so I would just say that William Golding has made me realized how difficult it is to keep our pure conscience in the world where morals had been degraded to a terrifying point, when religion is just accessories. Why must we keep being in the right side with all limitation, while the bad side offers so much of freedom? We can follow Ralph’s answer when he too, in a very crucial moment, was being forced to choose where to stand on: ‘Cos I had some sense’. When you lose it (or let it lose), then you lose everything.

Five stars for this thrilling novel, and for William Golding, the Nobel Prize for Literature laureate on 1983!   

Classics Authors of September (2)


Melanjutkan ulasan tentang enam penulis klasik dunia yang berulang tahun pada awal hingga pertengahan bulan September, kali ini aku mengetengahkan penulis-penulis lainnya yang lahir antara pertengahan hingga akhir September. Inilah mereka…

H.G. Wells

Herbert George "H.G." Wells dilahirkan pada 21 September 1866 di Kent, Inggris. Wells adalah seorang penulis novel yang terkenal dengan genre fiksi sains, meski ia juga menulis dalam genre lain seperti contemporary, sejarah dan social-politik. Bersama dengan Jules Verne, Wells disebut sebagai Bapak Science Fiction. Saat berusia 7 tahun Wells harus berbaring di tempat tidur karena kakinya patah setelah sebuah kecelakaan. Ayahnya membawakannya buku-buku dari perpustakaan, dan dari situ minat baca Wells berkembang (dan keinginan untuk menulis). Sayang ia kemudian harus putus sekolah dan bekerja karena ayahnya tak mampu lagi membiayainya.

Wells tidak bahagia di semua tempat kerjanya,tapi akhirnya ibunya memasukkan ia sebagai asisten pengajar di sebuah sekolah dan memenangkan beasiswa untuk belajar biologi. Novelnya yang pertama The Time Machine pertama kali diterbitkan dalam The Science School Journal di mana Wells turut membidani penerbitannya. Novel itu segera disusul dengan yang lainnya, The Island of Doctor Moreau, The Invisible Man, dan The War of the Worlds. Selain fiksi sains, Wells juga menulis beberapa karya utopia serta game perang berjudul Little Wars yang kini dianggap sebagai “Bapak Miniatur Game Perang” oleh para penghobby game.

F. Scott Fitzgerald

Anda mungkin pernah mendengar salah satu novel klasik yang paling terkenal: The Great Gatsby? Kini aku akan mengenalkan anda pada penulisnya, yaitu F. Scott Fitzgerald. Lahir pada 24 September 1896, penulis Amerika bernama lengkap Francis Scott Key Fitzgerald ini adalah novelis dan penulis cerita pendek yang mempopulerkan istilah Jazz Age, yaitu era setelah Depresi Besar (Great Depression), ketika musik (dan dansa) Jazz mulai popular. Selain The Great Gatsby yang sudah diterjemahkan Serambi, Fitzgerald juga menelurkan antara lain This Side of Paradise dan Tender Is The Night.

Fitzgerald lahir dari keluarga menengah-atas. Karya fiksi pertamanya (kisah detektif) diterbitkan di majalah sekolah saat ia berusia 13 tahun. Ia menikahi Zelda, istrnya pada sekitar th. 1920. Fitzgerald sering bepergian ke Eropa terutama Prancis. Ia bersahabat dengan banyak orang berpengaruh, di antaranya Ernest Hemingway yang tida menyukai Zelda dan menuduhnya mempengaruhi Fitzgerald untuk minum-minum agar tidak dapat menulis novel lagi. Untuk menambah penghasilan, Fitzgerald banyak menjual tulisannya ke studio-studio film Hollywood, praktek yang disebut Hemingway sebagai “pelacuran literatur” yang menyebabkan retaknya persahabatan mereka. Keuangan Fitzgerald sering bermasalah karena gaya hidup mereka yang mewah di antara para selebriti dan biaya pengobatan Zelda yang kemudian menderita schizophrenia. Tgl. 22 Desember 1940 Fitzgerald meninggal dunia karena serangan jantung.

William Faulkner

Salah satu penulis klasik asal Amerika yang pernah memenangkan penghargaan Nobel adalah William Cuthbert Faulkner alias William Faulkner yang lahir pada 25 September 1897. Selain novel, Faulkner juga penulis cerita pendek, puisi, drama, dan esai. Meski ia mulai menerbitkan karyanya sejak 1919, Faulkner mulai dikenal setelah menerima Nobel tahun 1949. Beberapa karyanya yang terkenal: The Sound and The Fury, As I Lay Dying dan Absalom, Absalom!. Sebelum masuk sekolah, Faulkner telah diajari membaca oleh ibunya dan diperkenalkan pada karya-karya klasik. Ibu dan neneknya membekali keahlian artistik juga pada Faulkner.

Pada 1927 Faulkner menulis novel Flags in the Dust, ia begitu bangga pada novel itu dan yakin akan tulisannya sudah berkembang. Betapa kecewanya ia ketika ditolak oleh penerbit, dan ketika editornya menawarkan untuk mengeditnya secara signifikan, Faulkner hanya bisa pasrah. Ketika menulis The Sound and The Fury Faulkner menutup hubungan dengan penerbit, sehingga dapat menulis sesuai dengan gayanya sendiri, dan setelah selesai ia mintalepada editornya—kali ini—untuk tidak mengedit apapun atau menambahkan tanda baca apapun pada novelnya. Mungkin keberaniannya itulah yang menyebabkan Faulkner kemudian terkenal dengan gaya eksperimentalnya.

Elizabeth Gaskell

Elizabeth Cleghorn Gaskell merupakan salah satu penulis klasik jaman Victorian yang terkenal dari Inggris. Beliau lahir pada 29 September 1810 . Setelah kematian ibunya saat melahirkan dirinya, Gaskell diasuh oleh bibinya di sebuah kota bernama Cranford, yang kelak menginspirasi novelnya yang berjudul sama, Cranford. Sejak remaja ia sudah didorong oleh ayahnya dalam pelajaran dan menulis. Bibinya banyak mengenalkan Gaskell pada karya-karya klasik, dan abangnya banyak menceritakan pengalamannya di laut saat berkarir di angkatan laut.

Novel pertama Gaskell adalah Mary Barton. Tahun 1850 keluarga Gaskell dan suaminya pindah ke villa di 84 Plymouth Grove yang kemudian banyak dikunjungi penulis-penulis besar seperti Charles Dickens, Harriet Beecher Stowe, termasuk sahabat karib Gaskell, Charlotte Bronté. Karya-karya Gaskell ada yang awalnya diterbitkan di jurnal milik Charles Dickens, Household Words, antara lain Cranford dan North and South. Juni 1855 ayah Charlotte Bronté meminta Gaskell untuk menuliskan biografi anak perempuannya yang meninggal di usia muda. Buku itu akhirnya terbit dengan judul The Life of Charlotte Bronté. Sedang Wives and Daughters adalah novel terakhir Gaskell sebelum beliau menghembuskan napas terakhir pada tahun 1865 karena serangan jantung.

Truman Capote

Nama Truman Streckfus Persons mungkin tak berarti apapun bagi anda, karena itu adalah nama lengkap penulis kelahiran Amerika pada 30 September 1924 yang dikenal dengan Truman Capote. Capote terkenal dengan novella-nya Breakfast At Tiffany’s (diterbitkan Serambi) dan novel kriminalnya In Cold Blood (diterbitkan Bentang Pustaka), yang dalam pembuatannya cukup banyak dibantu oleh penulis To Kill A Mockingbird, Harper Lee. Harper Lee memang sahabat dan tetangga Capote, yang kemudian memasukkan karakter Capote ke dalam salah satu tokoh To Kill A Mockingbird: Dill. Saat usia 4 tahun orangtuanya bercerai dan Capote diasuh sanak keluarga ibunya. Ia anak yang kesepian, yang lalu belajar membaca dan menulis sehingga saat usia 11 tahun ia telah mampu menulis karya fiksi!

Capote juga banyak menelurkan cerita pendeknya, dan pernah menyabet O. Henry Award saat Capote berusia 24 tahun. Capote pernah menulis sebuah novel tapi ia lalu mengaku telah menghancurkan manuskrip itu. Akan tetapi 20 tahun setelah kematiannya diketahui bahwa seseorang telah menyelamatkan manuskrip itu dari tempat sampah Capote, dan akhirnya novel itu terbit secara posthumous (diterbitkan setelah pengarangnya meninggal) pada 2006 dengan judul Summer Crossing. Sebenarnya novel pertama Capote adalahh Other Voices, Other Rooms yang ternyata autobiographical. Capote dikenal sebagai seorang homoseksual, dan pada th 1950-an banyak berkecimpung di dunia perfilman Hollywood serta menjalani kehidupan ala jet set. Di akhir hidupnya Capote keluar masuk klinik rehabilitasi dan akhirnya meninggal karena kanker liver.

Classics Authors of September (1)


Berhubung penulis klasik yang berulang tahun pada bulan September ada sebelas orang, aku akan menerbitkan ulasan singkatnya dalam 2 posting terpisah. Inilah bagian pertamanya, mengulas enam penulis klasik yang lahir di awal hingga pertengahan bulan September.

Leo Tolstoy

Salah satu penulis terbesar yang dimiliki Rusia adalah Leo Tolstoy, yang bernama lengkap Lev Nikolayevich Tolstoy. Tolstoy lahir pada 9 September 1828 dalam keluarga bangsawan yang namanya telah banyak dikenal. Awalnya karya Tolstoy berupa novel dan cerita pendek, namun belakangan ia juga menulis naskah drama dan esai. Karya Tolstoy yang paling terkenal adalah War and Peace dan Anna Karenina (diterjemahkan Penerbit KPG), yang dikenal sebagai pelopor fiksi realis. Sedangkan Ressurection (diterjemahkan KPG) merupakan novel panjang terakhirnya. Tolstoy banyak dianggap sebagai penulis novel terbesar sepanjang masa. Tolstoy dikenal dengan gaya kompleksitas dan paradox-nya serta tinjauan moral ekstrem yang digunakannya.

Tolstoy sempat belajar hukum, namun dianggap tak mampu oleh gurunya, kemudian meninggalkan sekolah di tengah-tengah masa belajar. Ia tinggal di Moskow dan St. Petersburg dan sempat terbelit hutang akibat judi. Ia dan kakaknya pergi ke Kaukasus dan bergabung dengan militer; pada saat-saat inilah Tolstoy mulai menulis. Pemikiran politis dan literasinya kelak bertransformasi setelah Tolstoy berjumpa penulis Prancis Victor Hugo. Awal pernikahannya dengan sang istri awalnya bahagia, dengan Sonya menjadi sekretaris, proofreader sekaligus manajer keuangan Tolstoy saat sang penulis menulis War and Peace dan Anna Karenina, namun perkawinan itu memburuk ketika cara pandang Tolstoy mulai berubah ke arah radikal.

Pada 1903 Tolstoy menulis esai mengkritik karya-karya Shakespeare (terutama King Lear) yang ia anggap jauh dari indah, dan justru ‘terlalu berat’. George Orwell lalu merespon kritik Tolstoy itu dalam tulisan berjudul Lear, Tolstoy and The Fool. Di situ Orwell menganggap kritik Tolstoy adalah palsu, tak jujur dan jahat. Menurut Orwell kritik itu sebagai ‘perang antara si religious dan si humanis tentang cara memandang hidup’. Di akhir hidupnya, Tolstoy mempraktekkan penyangkalan terhadap kekayaan, dan ironisnya beberapa hari setelah meninggalkan keluarga dan kekayaannya untuk menjadi pengelana miskin, ia meninggal dunia di stasiun kereta api karena pneumonia, pada usia ke 82.

O. Henry

Nama William Sydney Porter mungkin asing bagi anda, karena penulis cerit a pendek asal Amerika ini biasa dikenal dengan nama penanya: O. Henry. Henry lahir di North Carolina pada 11 September 1862. Beliau dikenal dengan tulisan-tulisannya yang jenaka, permainan kata dan ‘twisted ending’. Kumpulan cerpennya sudah diterbitkan oleh Serambi dengan judul Cinta Yang Hilang. Ditinggal mati ibunya saat usia 3 tahun lalu dibesarkan ayahnya, Henry sudah hobby membaca sejak kecil, dari karya klasik hingga novel, semuanya ia lahap. Favoritnya antara lain terjemahan One Thousand and One Night serta Anatomy of Melancholy karya Richard Burton.

Henry awalnya bekerja di toko obat milik pamannya, dan kemudian ia pun menjadi apoteker, dan mulai menampakkan bakat artistiknya dengan melukis pemandangan kota dari toko obatnya. Th. 1882 Henry pindah ke Texas dan tinggal di ranch untuk menyembuhkan batuk akutnya. Setelah kesehatannya pulih, ia mulai gonta-ganti pekerjaan (salah satunya sebagai pemegang pembukuan di bank) sambil sedikit menulis. Setelah menikah, sang istri mendorong Henry untuk menulis lagi. Henry menerbitkan mingguan berjudul Rolling Stone berisi tulisan dan gambar satir tentang kehidupan, manusia dan politik; karyanya itu lalu mendapat perhatian editor sebuah harian, dan akhirnya ia bekerja di sana. Di harian itu Henry punya ide untuk berkeliaran di lobby hotel untuk mengamati da berbicara dengan orang-orang di sana, ide yang kemudian ia terapkan untuk cerpen-cerpennya kelak. Sayangnya bank tempat ia dulu bekerja menuduhnya melakukan penggelapan uang gara-gara Henry tak teliti dalam pembukuannya. Ia kemudian harus menjalani hukuman penjara, dan selama itu mulai aktif menulis cerpen yang dikirim oleh temannya ke penerbit.

D.H. Lawrence

Salah satu penulis Inggris yang paling kontroversial adalah D.H. Lawrence yang bernama lengkap David Herbert Richards Lawrence. Lawrence lahir di sebuah kota pertambangan pada 11 September 1885. Kelak beliau dikenal dengan novel-novelnya yang memicu kontroversi karena vulgar dan banyak kena sensor serta dianggap pornografi pada masa itu. Salah satunya adalah Lady Chatterley’s Lover yang diterbitkan oleh Alvabet. Selain novel, ia juga penulis puisi, naskah drama, esai, kritik literasi, juga seorang pelukis. Namun kini ia dikenal sebagai seorang visioner dan peletak dasar modernism di dunia literasi Inggris. Latar belakang keluarganya yang kelas pekerja kelak menjadi sumber ide karya-karyanya.

Lawrence bekerja sebagai guru, dan di saat-saat ini mulai banyak menulis puisi, cerpen dan draf novel pertamanya, Laetitia, yang terbit dengan judul The White Peacock. Ketika novel itu terbit, ibu Lawrence yang sangat dicintainya meninggal karena kanker, menorehkan luka mendalam padanya selama beberapa bulan dan merupakan saat perubahan besar dalam hidupnya. Momen itu akan tampil pada novelnya Sons and Lovers yang merupakan novel autobiographicalnya. Setelah sembuh dari pneumonia untuk kedua kalinya, Lawrence melepaskan karir sebagai guru dan mulai menekuni karir sebagai penulis. Ketika Lawrence mulai menulis Women in Love, ia terlibat hubungan romantis dengan seorang petani (pria), dan akhirnya bercerai dengan istrinya. Lawrence sempat dituduh menjadi mata-mata perang dan harus menjalani ‘pembuangan’ yang menjadikannya miskin. Lawrence terus berkarya hingga ia meninggal dunia akibat TBC pada usia 45 tahun.

Roald Dahl

Tanggal 13 September 1916 adalah hari kelahiran penulis Inggris Roald Dahl yang banyak dikenal dengan buku anak-anaknya. The Times menempatkannya di urutan 16 penulis terbesar Inggris sejak 1945, dan ia dianggap sebagai salah satu pencerita kisah anak-anak terbesar abad 20.  Selain novelis, Dahl juga penulis cerpen dan puisi serta pilot pesawat tempur. Dahl lahir di Wales, Inggris dari orang tua berkebangsaan Norwegia. Dahl dinamai sesuai pahlawan Norwegia, si penjelajah Kutub Utara dan Selatan Roald Amundsen. Saat usia 8 tahun, Dahl bersama empat temannya dihukum oleh sekolah karena sengaja memasukkan bangkai tikus ke stoples milik penjual permen yang jahat. Buku karyanya yang autobiogfaris adalah Boy, Tales of Childhood, di mana Dahl mengisahkan ibunya yang menyimpan sebundel surat-suratnya saat ia merasa kesepian di sekolah.

Saat sekolah, perusahaan pembuat coklat Cadbury sering membagikan tester coklat bagi murid-murid di sekolah Dahl. Dahl selalu bermimpi mengirimkan ide rasa coklatnya sendiri ke Mr. Cadbury, yang kemudian menginspirasi Charlie and The Chocolate Factory. Saat Perang Dunia II pecah, Dahl menjadi pilot pesawat tempur, sempat mengalami kecelakaan hebat yang membuatnya buta untuk sementara waktu. Novel-novelnya yang terkenal lainnya: Matilda, The Witches, The Twits dll (semua judul sudah diterbitkan Gramedia).

Agatha Christie

Dame Agatha Mary Clarissa Christie, siapa yang tak kenal beliau? Agatha Christie adalah penulis ‘best selling of all time’ menurut Guinness Book of World Records. Beliau dikenal dengan novel bertema criminal dan detektif, dengan detektif kenamaannya Hercule Poirot dan Miss Marple. Selain itu Christie juga menulis novel romance dengan nama samaran Mary Westmacott. Total ada 66 novel detektif yang ditulisnya, dan sebagian besar sudah berkali-kali diterbitkan (dan diterbitkan ulang) oleh Gramedia. And Then There Were None (Diterjemahkan menjadi Sepuluh Anak Negro) merupakan novel misteri terlaris sepanjang masa.

Christie lahir pada 15 September 1890 di Devon, Inggris. Sejak usia 4 tahun Agatha sudah mulai belajar membaca; ia tak pernah mendapat pendidikan formal, namun ayahnya banyak membimbing Christie dalam matematika lewat semacam permainan trivial (tanya jawab) di keluarganya. Sejak usia sangat muda Christie sudah mengarang-ngarang cerita dan teman imajiner. Saat Perang Dunia I Christie bergabung sebagai perawat di Rumah Sakit. Ia memutuskan untuk menulis cerita detektif, dan di Rumah Sakit itu ia belajar tentang pengobatan dan racun untuk novelnya. Novel pertamanya, The Mysterious Affair at Styles terbit pada 1920 setelah pernikahannya dengan Archibald Christie. Pada 1926 Archibald minta cerai, bertengkar hebat dengan Christie, dan meninggalkan rumah untuk menginap di rumah kekasihnya. Malam itu pula Christie menghilang selama 11 hari dan tak pernah ada yang bisa menemukannya hingga ia muncl kembali, peristiwa yang dimaksudkan untuk mempermalukan Archibald namun mengundang kegemparan penggemarnya. Suami kedua Christie adalah arkeolog, dan mereka mengalami pernikahan yang bahagia hingga kematian Christie.

William Golding

Penulis berkebangsaan Inggris bernama lengkap Sir William Gerald Golding ini lahir pada 19 September 1911. Beliau adalah penulis novel, puisi dan naskah drama yang pernah menerima Nobel Prize for Literature pada 1983 serta Booker Prize for Literature pada 1980. Pada 1988 Golding dianugerahi gelar “Sir” oleh Ratu Elizabeth 2. Novelnya yang paling terkenal adalah Lord of The Flies. Golding dikenal dengan alegori-nya yang dijumpai di novel-novel yang kebanyakan bersetting terbatas seperti pulau terasing, lokasi perburuan, biara dsb.

Pada thn. 1940 Golding bergabung dengan angkatan laut kerajaan dalam Perang Dunia II dan turut serta dalam beberapa aksi penenggalaman kapal musuh. Novel pertama Golding pernah dikirim sebagai manuskrip dan sempat ditolak, tapi untungnya editor yang baru bekerja di sana menyukainya dan meminta Golding memotong beberapa bagian sebelum akhirnya menerbitkan novel itu pada September 1854 sebagai Lord of The Flies. Golding meninggal dunia akibat sakit jantung pada usia 82 tahun.

Sunday, September 2, 2012

Weeken Quote 4: Lord of The Flies


This time I picked a quote from Lord of The Flies by William Golding. It’s about a bunch of little and teenage boys who must live by themselves in an isolated island. Several of them soon transformed to barbarians while only few of them could keep their sanity. This quote is from Piggy, one of the civilized boys, a boy of twelve years old, fat, with severe asthma and a pair of thick glasses. A kind of boy who would be neglected in the real world, but proved to be the most reasonable among the other boys in the island. The quote was addressed to the tribe (the barbarian boys) in the beginning of their unequal battle….

“Which is better—to be a pack of painted niggers like you are, or to be sensible like Ralph [Piggy’s friend who was elected as their Chief] is?
Which is better—to have rules and agree, or to hunt and kill?
Which is better, law and rescue, or hunting and breaking things up?”

In our lives, this quote was also relevant, as we have so often watched how people became more and more barbarian in spite of the more modern life… Don’t you agree?

Lord of The Flies is a very good book that I recommend you to read, the review will be published next Wednesday.

Weekend Quote is hosted by Half-Filled Attic. Feel free to join. You can:

  • Give the context of the quote
  • Give your opinion whether you agree or disagree with it
  • Share your experience related to the quote
  • Share similar quotes you remember
  • Or anything else. Just have fun with the quote.


Saturday, September 1, 2012

Gone With The Wind Read Along KICK OFF!


It’s September 1st finally! I am already excited to announce that our Gone With The Wind Read Along is started TODAY!....

I will only remind you of few things:

  • The read along is from September 1st to November 7th, 2012.
  • You can have your own pace, manage your own schedule.
  • After finishing each part (Part 1, 2, 3, and 4) you are encouraged (but not mandatory) to write update posts (see details in Master Post).
  • As you have your own pace, you can post update posts anytime you like, and put the link in the linky provided on Update Posts page (the linky is already opened).
  • When you have linked your update post, don’t forget to visit others who have finished the same Part you just posted, to see about their thoughts.
  • Each update post will be counted as one entry for my giveaway (details will follow).
  • After finishing last part (Part 5), post your review/thoughts on Margaret Mitchell’s birthday, November 8th, 2012.
  • ==Surprise!== Bzee (my co-host) would host another giveaway at the end of our read along. Your review post will be eligible for the giveaway, so don’t miss it guys!

Now, what are you waiting for? Read your book! And I hope you will enjoy our read along….

Notes:
  • To make it easy for you, I have placed all posts regarding this read along on the top right side bar (below the read along button), including the Update Posts page (already opened) and Reviews page (will be opened on November 8th).
  • You just found this read along and would have liked to join but are afraid you have missed the start? Don’t worry, you can still join in as long as you think you can catch us and post your review on November 8th! Just add your name and blog in the Sign-Up page, then read along!
  • I don’t oblige you to follow this blog (but will thank you if you do), however it is one way you can always be updated about giveaways or other things during this read along. I will also publish anything related to the read along on my Twitter (@Fanda_A) with hashtag #GWTWReadAlong.


Friday, August 31, 2012

Germinal


[conclusion in English is at the bottom of this post]

Germinal adalah buku ketiga belas dari dua puluh novel dalam seri Rougon-Macquart karya Émile Zola. Bersetting di kota daerah pertambangan di Prancis pada akhir abad ke 19, di mana industri sedang mengalami kelesuan. Yang paling merasakan dampaknya (seperti biasa) adalah para pekerja pertambangan yang setiap hari harus bekerja keras di lubang-lubang kecil ratusan meter di bawah permukaan tanah untuk menambang batu bara; dengan resiko kehilangan nyawa setiap saat, demi mendapatkan upah yang sangat minim untuk sekedar dapat melanjutkan hidup dari hari ke hari.

Étienne Lantier tiba di distrik Montsou, pengangguran yang sedang mencari pekerjaan untuk menyambung hidup. Ia tiba di pertambangan Voureux, berkenalan dengan keluarga penambang bernama Maheu, yang kebetulan sedang membutuhkan seorang pekerja. Jadilah Étienne si pendatang baru dari kota lain, seorang pria muda yang lumayan tampan, suka membaca dan berpendidikan, menjadi salah satu penambang di situ. Lewat mata Étienne kita diajak melihat betapa kerasnya pekerjaan mereka, betapa penuh bahaya, dan betapa tidak manusiawinya perusahaan pertambangan itu memperkerjakan mereka.

Kemiskinan dapat terlihat di mana-mana, yang akhirnya menjalar pada kemerosotan moral keluarga penambang. Dengan upah yang pas-pasan mereka mempertaruhkan nyawa, dan seringkali karena kesalahan kecil mereka, upah yang sedikit itupun harus dipotong. Étienne mulai merasakan ketidakadilan di sana, dan mulai timbul dorongan untuk membuat perubahan. Ia mulai belajar dari beberapa buku, termasuk dari pelopor serikat buruh yang memperjuangan nasib pekerja di Paris. Bisa ditebak, Étienne mulai mempengaruhi para penambang dengan ide-ide perlawanan terhadap perusahaan untuk mendapatkan hak mereka. Sedikit demi sedikit, lewat rapat-rapat dan orasi-orasi, Étienne mengumpulkan partisan.

Kemudian momentum itu tiba, perusahaan memberlakukan peraturan baru, yang pada akhirnya menurunkan upah yang mereka terima. Upah yang sudah tak cukup itu harus kembali dikurangi. Maka mendidihlah kemarahan mereka, dan dengan segera mereka memutuskan untuk mengadakan demonstrasi dengan Étienne sebagai pemimpin mereka. Demonstrasi ini segera menyebar hingga hampir seluruh pertambangan harus berhenti berproduksi. Akankah mereka berhasil mencapai tujuan mereka, agar perusahaan makin memperhatikan kesejahteraan mereka, sementara perusahaan dan pemegang saham pun terkena imbas kelesuan dunia industri? Akankah yang lemah akhirnya menang?

Meski tampaknya novel ini dipenuhi ide-ide sosialisme, namun Zola berhasil meramunya dengan cantik. Selain Étienne, ada keluarga Maheu yang menjadi pusat cerita, belum lagi para penghuni kompleks pertambangan itu. Di sini kita seolah menyaksikan sendiri suka-duka mereka semua, bukan hanya soal pekerjaan, namun juga tentang cinta, keluarga, dendam, harapan, amarah, dan semua kompleksitas yang terajut dalam benang kehidupan manusia, dengan kemiskinan sebagai awal dari segalanya. Lewat Germinal kita bisa menyadari bagaimana kebejatan, nafsu membunuh dan kriminalitas biasanya bermula dari kemiskinan dan ketidakadilan. Sementara kita mengutuk tindak anarkisme dalam sebuah demonstrasi, lewat Germinal paling tidak kita tahu bagaimana kemarahan yang lama terpendam, dari generasi ke generasi, akan meledak hebat pada suatu saat, bak gunung berapi yang telah bertahun-tahun tidur, padahal selama itu sedang menggodok magma di perutnya, untuk suatu saat memuntahkannya dengan penuh kekuatan. Salahkah mereka? Atau siapakah yang sebenarnya bersalah?

Germinal menggabungkan ide Darwinisme (yang kuat akan memakan yang lemah) dengan sosialisme, menghentak dalam penggambaran dashyatnya kekuatan ‘yang lemah’ ketika mereka menggalang persatuan, serta dahsyatnya kemiskinan dalam merenggut hidup manusia. Kekuatan itu lalu dilembutkan Zola dengan metafora-metafora cantik, juga kisah cinta yang menyesakkan dada dalam thriller drama penyelematan di area tambang. Dan gabungan dari semuanya membuat Germinal sebuah kisah yang selalu relevan hingga kapanpun, bagi siapapun. Tak heran Germinal masuk (dan ia lebih dari layak untuk masuk kategori ini) dalam 1001 Books To Read Before You Die di urutan ke-824, karena memang, entah kapan, anda HARUS membaca buku yang dahsyat ini sebelum anda mati!

Lima bintang untuk Germinal!

Judul: Germinal [in English]
Penulis: Émile Zola
Penerbit: Wordsworth Classics
Terbit: 2007
Tebal: 478 p.



Conclusion:

Germinal is my third book of Zola, and I can say that it already becomes one of my favorites. Germinal is not only a story about the classic fight between workers and company, the poor and the have, it is also about the agony of poor working class. Germinal was written from Étienne Lantier’s (Gervaise’ son in L’Assommoir) point of view. He was an engine man came to a coal mining town Montsou to find a job. From his eyes, Zola took us to watch the sorrows of coal miners who worked hard under poor conditions for very small wages which could hardly support their poor lives. And for generations this condition has never changed; and they seemed to just accept it; to be overpowered by the bourgeoisie and the industrial machines called capitalism.

No matter how hard we might struggle, we probably wouldn’t change anything. The best is to try and live honestly in the place in which the good God has put us.” ~Maheude, p. 86

Until Étienne—a quite educated young man—appeared from nowhere, mingled with the settlemen, and little by little affected their way of thinking. They soon put him into their lead, with a dream to dethrone the wealth and to regain their freedom and rights. The question was, what was the best method to carry it; anarchism? Long term evolution? Or strikes?

Germinal was a combination of humanity, Darwinism and socialism, packed beautifully with metaphors and romance. This is the third Zola’s I’ve read so far, and compared to Therese Raquin and L’Assommoir (sorry, the reviews are still in Bahasa Indonesia). Germinal was less distressing and less striking. Yes, Zola still described poverty, hunger and moral degradation brutally to the most extremes, yet he still slipped a hope, a bigger hope for a better future in the end. Germinal was only the beginning, the seeds sowing of workers’ battle against the oppression of capitalism. Germinal would show the world that there is a possibility for the weak to fight the strong. It only took time and refinement, and one day the seeds that were now germinating would harvest perfectly and change the earth.

What interested me the most is the metaphors Zola used throughout this story. First of all, the way he described the surroundings in the mine from the eyes of the newcomer Étienne. Zola often used the terms of animal’s digestion in describing the mine pit.

And the Voureux, at the bottom of its hole, in contractions those of an evil beast, continued to grind away, breathing with a heavier and slower respiration, appearing troubled by its painful digestion of human flesh.

 “The shaft swallowed men by mouthfuls of twenty or thirty, and with so easy a gulp that it seemed not to feel them go down.

I only think, that it is the way Zola described capitalism which swallowed people and crushed them in poverty just like a monster digested human flesh; and what a beautiful metaphor they are indeed!

Zola also closed the story in a very beautiful and touching way. The rescue drama in the tumbling pit near the end of the story was really breathtaking, but approaching the end it was also warming my heart with love. And the final ending was superb! I love the final quote which brought a new hope for a better future, and look how Zola crafted it with nature’s elements of a new spring for the world, the most beautiful metaphor from this book.

Five stars (obviously) for Germinal, which have just become my new favorite!

On The 361st Anniversary of Robinson Crusoe’s Journey…


In Daniel Defoe’s best book, Robinson Crusoe started his journey on 1st September 1651….

... and in an ill hour, God knows, on the first of September, 1651, I went on board a ship bound for London. Never any young adventurer's misfortunes, I believe, began sooner or continued longer than mine.



It means, tomorrow would be the 361st anniversary of that journey. Robinson Crusoe has been on my TBR pile since…perhaps the last one year. I own an Indonesian translation copy, and have put this book into my The Classics Club list. So, when I knew that o (Délaissé blog) will read this book and asking whether her followers might join her (it’s kind of informal read along without deadline, only we must start on 1st September), I promptly decided to join in.

Although I have been engaged with hosting the Gone With the Wind read along, I feel I’d need a book to go along with GWTW. I don’t think I’d be able to stuck on those >1400 pages for the whole month (and followed by another month). Robinson Crusoe might have been a perfect choice. So....who wants to join me?