Showing posts with label Orange Books. Show all posts
Showing posts with label Orange Books. Show all posts

Friday, September 9, 2011

Eight Cousins

Kesedihan tak dapat kita panggul sendirian. Kadang kala kita membutuhkan orang lain di luar diri kita untuk membantu menyembuhkannya. Itulah pelajaran yang kudapat dari membaca buku Eight Cousins karya Lousia May Alcott ini. Kisah ini ditulis pada akhir abad 19, dan ditujukan bagi para para gadis remaja yang segera akan memasuki masa dewasa. Louisa meletakkan dasar pembentukan moral bagi seorang wanita pada jaman itu lewat kisah ringan dan ceria ini.

Rose baru berusia tiga belas tahun ketika ayahnya, satu-satunya orang tua yang ia miliki di dunia, pergi meninggalkannya dalam kematian. Sebelum meninggal, ayahnya memberikan hak perwalian bagi Rose kepada saudaranya, seorang pria berpembawaan riang, seorang dokter yang suka berlayar. Rose memanggilnya Paman Alec.

Sambil menunggu Paman Alec pulang dari pelayarannya, Rose dititipkan ke Aunt-Hill. Yah...dari namanya, anda mungkin bisa menebak bahwa Aunt-Hill adalah tempat tinggal para bibi. Terdengar membosankan bukan? Satu bibi sudah cukup, tapi bagaimana dengan enam bibi? Dan para Mrs. Campbell ini, para bibi Rose, tinggal di suatu kompleks yang berdekatan satu sama lain.

Para bibi ini masing-masing mencoba membuat Rose yang berkabung menjadi lebih ceria. Segala cara mereka lakukan. Mendatangkan seorang gadis kecil untuk menemaninya salah satunya, sayang Ariadne Bliss ternyata gadis kecil yang menyebalkan. Lemari boneka dan hal-hal yang harusnya bisa menghibur anak perempuan telah dicoba oleh Bibi Plenty dan Bibi Peace, namun Rose tetap berdiam diri dengan wajah pucat dan tubuh kurus berpenyakitan. Para bibi sudah hampir putus asa....

Para bibi yang hampir putus asa itu menyiapkan sebuah manuver terakhir bagi keponakan malang mereka. Kejutan itu hadir suatu sore dengan cara yang heboh. Tujuh anak laki-laki berbaris di ruang duduk, semuanya berambut kuning dan berpakaian ala Skotlandia. Itulah "Klan". Tak butuh waktu lama bagi Rose untuk mengetahui bahwa mereka adalah sepupu-sepupunya, dan bahwa mereka anak-anak laki-laki yang sangat ribut! Padahal...ssttt...selama ini Rose sangat membenci anak laki-laki dengan semua kelakuan dan kegiatannya.

Tapi "Klan" bukanlah anak laki-laki sembarangan, mereka semua hadir dengan keunikan masing-masing sehingga ujung bibir Rose sudah mulai membentuk senyuman dalam pertemuan pertama ke delapan sepupu ini. Bagaimana tidak, kalau Archie si kepala klan yang tertua dan selalu bersikap terhormat, Charlie "The Prince" yang flamboyan, Mac si kutu buku, Steve "Dandy" yang pesolek, Will & Geordie si bandel, dan si kecil Jamie, semua berkolaborasi untuk menyenangkan nona kecil kita?

Namun kebahagiaan sesungguhnya mendatangi Rose dalam sosok Paman Alec. Ia orang yang ramah, baik hati, penuh perhatian pada "gadis kecil"nya. Paman Alec dulu mencintai ibu Rose, namun ternyata ibu Rose memilih saudaranya. Untungnya Alec tak mendendam, dan kini ia mencurahkan waktu dan pikirannya untuk sebuah proyek besar. Proyek itu adalah mengambil alih pengurusan Rose dari para bibi ke tangannya sendiri, dan membuat Rose menjadi lebih sehat, ceria dan normal. Proyek itu berlangsung selama setahun.

Selama setahun itu Rose perlahan tumbuh menjadi gadis yang ceria dan sehat, berwawasan luas serta dipersiapkan menjadi seorang wanita yang "baik", meski tetap keceriaan remajanya tetap muncul. Paman Alec memberikan contoh yang baik bagi remaja putri. Alih-alih mengenakan gaun berat berkorset plus high heels, Paman Alec memilihkan pakaian yang nyaman dan sederhana bagi Rose, yang justru menampilkan kecantikan seorang gadis remaja. Kegiatan-kegiatan di luar rumah membuat Rose sehat dan segar. Sementara pelajaran-pelajaran keilmuan dari Paman Alec serta ketrampilan mengurus rumah tangga dari para bibi, mempersiapkan Rose menjadi ibu rumah tangga yang tetap berwawasan.

Banyak petualangan seru dan asyik dijalani Rose bersama Paman Alec dan tujuh sepupunya. Namun di sela kegembiraan itu, Rose juga sempat melakukan "pengorbanan". Ia mengorbankan saat-saat indah liburan di pulau demi Phebe, gadis pelayan yatim piatu yang ia angkat menjadi saudaranya. Ia juga meluangkan waktu untuk menemani Mac saat anak laki-laki itu menderita sakit mata. Dan saat ada pertengkaran di antara sepupunya, Rose-lah yang mendamaikan mereka.

Akhirnya, setelah masa setahun itu selesai, Rose harus memutuskan di mana dan bersama siapa ia akan tinggal setelah itu. Siapa yang paling dicintainya dan paling membahagiakan hidupnya?

Eight Cousins ini jelas buku yang membawa kegembiraan bagi pembacanya, tapi di dalamnya juga tersisip pelajaran moral yang baik bagi remaja pada umumnya, dan remaja putri khususnya. Persahabatan, pengorbanan, kepercayaan, dan baaanyaaak keceriaan akan anda temukan di sini. Tiga bintang untuk kedelapan sepupu ini!

Judul: Eight Cousins
Penulis: Louisa May Alcott
Penerbit: Orange Books (Mizan group)
Terbit: Februari 2011
Tebal: 375 hlm

Monday, July 11, 2011

The Prince And The Pauper

Inggris banget! Itulah kesanku selama membaca buku ini. Dan memang The Prince and The Pauper ditulis oleh Mark Twain berlatar belakangkan peristiwa yang terjadi dalam sejarah Inggris di akhir abad 16, ketika Raja Henry VIII memerintah. Dalam masa ini hiduplah keluarga Canty dalam gelimang kemiskinan. Tinggak di gubuk nan reyot dan kotor, pekerjaan mereka adalah mengemis dan mencuri. Terlepas dari moral ayahnya yang buruk, Tom kecil tumbuh sebagai remaja yang terpelajar berkat didikan seorang pendeta. Banyak buku yang berkisah tentang kerajaan dan kehidupan bangsawan yang dilahap Tom. Dan semua kisah itu menjelma menjadi mimpi-mimpi indah yang menemani tidurnya di malam hari, menjadikannya penawar sengsara setelah seharian dipaksa mengemis, lalu disiksa dan dibentak-bentak oleh ayah dan neneknya kalau ia tak membawa hasil memuaskan dari mengemis. Dan akhirnya bukan hanya mimpi, kerajaan dan kebangsawanan pun menjadi obsesi Tom. Ia mulai berbicara layaknya bangsawan, dan bermain sebagai raja bersama saudara-saudaranya. Hingga suatu hari ia tiba-tiba ingin melihat seorang Pangeran sungguhan di istana kerajaan sungguhan.

Harapannya terwujud, karena tepat saat itu Pangeran Wales yang bernama Edward, putra Raja Henry VIII tengah berada di luar istana. Sang Pangeran melihat Tom tepat ketika para penjaga pintu gerbang memukuli anak gelandangan berpakaian lusuh itu. Pangeran menghentikan penyiksaan itu sambil memarahi si penjaga, lalu segera mengundang Tom ke istananya. Layaknya dua remaja lelaki seusia, mereka dengan cepat menjadi akrab. Tom terpesona pada istana dan semua di dalamnya, yang hingga saat itu hanya ia lihat melalui buku. Sedang Edward, yang sejak kecil terkungkung di istana, terpesona mendengar cerita Tom tentang kehidupan bocah seusia mereka di luar sana. Bermain bersama teman-teman, berenang di sungai, dan semua kenakalan dan kebebasannya. Dan tiba-tiba muncul ide iseng untuk saling bertukar pakaian. Pangeran yang mengenakan pakaian lusuh Tom, dan Tom yang mengenakan pakaian gemerlap Edward, sama-sama terpana saat memandang cermin. Betapa miripnya mereka berdua!

ilustrasi Tom & Edward di istana. Ini sesaat sebelum atau sesudah mereka berganti pakaian? Hayoo..tebak!


Tanpa sempat berganti pakaian kembali, Edward keluar ke halaman istana untuk menegur penjaga yang tadi memukuli sahabat barunya. Bisa anda tebak, si penjaga menganggap Edward sebagai anak gelandangan yang menyebabkannya dimarahi oleh Pangeran. Meski Edward berkeras bahwa ia adalah sang Pangeran sendiri, namun tak ada yang mempercayainya. Ia malah semakin ditertawakan karena bersikap sok memerintah. Sedang Tom, yang menanti kedatangan kembali sahabatnya agar mereka dapat bertukar pakaian kembali, akhirnya menelan kekecewaan karena Edward tak kunjung datang. Malahan ia dikira sang Pangeran sendiri, terlepas dari pengakuannya yang jujur, yang malah dikira sebagai gejala kegilaan sementara. Bahkan Sang Raja pun mengira Tom adalah putranya sendiri yang sedang sakit! Hal yang sama terjadi pada Edward. Ketika ayah Tom menemukannya, ia begitu yakin si bocah lusuh adalah anaknya yang nakal yang lagi-lagi tak membawa hasil mengemis, lalu menghadiahinya pukulan.

Begitulah nasib The Prince and The Pauper kita ini. Cerita jujur mereka malah dianggap lelucon dan bahkan "penyakit pada otak" oleh mereka yang mendengarnya. Baik teman-teman maupun orang terdekat mereka. Banyak cerita lucu saat Tom menjadi "pangeran". Di bagian ini kentara sekali bagaimana Mark Twain mengajak kita untuk menertawakan keabsurdan monarki pada saat itu. Saat rakyatnya banyak yang miskin dan tertindas di bawah pemerintahan tirani Henry VIII, kemewahan yang menggelikan dan sungguh tak perlu terus saja dipraktekkan di istana. Contohnya adalah upacara memakaikan pakaian bagi "Pangeran" Tom di pagi hari. Untuk menyerahkan sepotong kaus hingga dipakaikan pada Tom, butuh 13 orang petugas yang mengangsurkan pakaian itu ke lainnya, terus hingga ke petugas yang memakaikannya pada Tom. Dan ke 13 petugas itu punya jabatan yang mentereng: First Lord of Bedchamber, Second Gentleman of The Bedchamber, Chief Equerry in Waiting, dll. Lalu bagaimana reaksi Tom saat melihat "prosesi kaus" ini? ~"Teman kecil kita terlihat bingung. Itu mengingatkannya pada acara oper-mengoper ember di festival." (hal. 151). Ketika salah satu kaus kaki yang akan dipakaikan pada kaki Tom ditemukan hilang labelnya, kaus kaki itu pun dikembalikan melewati prosesi yang sama!

Tom yang terbiasa serba bebas dalam kehidupan miskinnya, awalnya tak terbiasa dengan pengaturan yang kaku dan serba seremonial dalam segala hal, termasuk ketika bersantap. Yang paling lucu adalah ketika seorang bangsawan mengangsurkan sebuah mangkuk berisi air mawar untuk mencuci tangan. Tom yang bingung, akhirnya malah meminum air itu. Waktu mengembalikan mangkuk pada si bangsawan, yang pasti terkaget-kaget, Tom berkata: "Tidak....aku tidak menyukainya, Tuan. Memang rasanya cukup enak, tapi terlalu keras untukku." (hal. 73). Dan akupun sukses tertawa ngakak waktu membaca bagian ini. Lihat saja ekspresi si bangsawan dalam ilustrasi ini:

ilustrasi saat Tom minum air untuk cuci tangannya..


Sebaliknya dari kisah Tom yang lucu, cerita sengsara tak henti-hentinya menghinggapi Edward saat menjadi anak gelandangan. Kisah Edward jelas lebih menarik karena ia berulang kali bernasib malang, diselamatkan, kembali jatuh dalam kemalangan, begitu terus. Salah satu penyelamatnya adalah seorang pria bernama Miles Hendon yang dulunya prajurit Raja, namun telah ditipu oleh saudaranya yang jahat: Arthur. Dalam semua kemalangannya, Edward belajar banyak tentang kehidupan dan penderitaan yang dialami rakyatnya. Ia pun tak lupa menjanjikan ganjaran atas kebaikan mereka yang pernah menolongnya sekecil apapun.

Begitulah kedua teman kita ini menjalani hidup yang fantastis di dunia yang berbeda, hingga suatu hari sang Raja Henry VIII mangkat. Dan sang Pangeran Wales pun harus dinobatkan menjadi raja berikutnya! Dan di sinilah petualangan kedua teman kita akan berakhir.

Yang menarik bagiku, dalam buku ini Mark Twain tidak saja menyuguhkan kehidupan ala raja-raja Inggris jaman lampau, namun ia juga ingin menyentil tentang kepribadian manusia. Mari kita melihat bagaimana pertukaran identitas ini berpengaruh pada Tom dan Edward. Edward, meskipun berbaju gembel, namun tetap berperilaku dan berbicara layaknya pangeran. Bahkan Miles si penyelamatnya tak boleh makan semeja dengannya, dan harus menunggu hingga ia selesai makan. Meski ia dihina dan direndahkan, kehormatan dalam dirinya tak pernah luntur. Sekarang mari kita kihat kasus Tom. Hanya butuh waktu 3 bulan, Tom si pengemis yang awalnya canggung dengan kegemerlapan istana, perlahan-lahan mulai terbiasa. Bahkan menjelang penobatannya sebagai Raja, ia cenderung menganggap dirinya memang raja, dan membuang semua masa lalu kelam yang tak ingin ia akui. Bahkan ibunya pun sempat ia sangkal ketika sang ibu mengenali putranya (lihat, bagaimanapun rapat sebuah penyamaran, mata seorang ibu tak mungkin tertipu!). Di sini kita melihat bahwa manusia cenderung berubah saat berada pada puncak kekayaan atau kekuasaan. Sudah menjadi sifat manusia untuk berkawan dengan kenikmatan. Aku pernah membaca entah di mana, sebuah penelitian psikologi pada sekelompok orang yang dihadapkan pada kekuasaan mutlak. Hasilnya, hanya dalam waktu singkat perangai mereka berubah 180 derajat! Kita sering mencemooh teman atau kenalan kita yang berubah saat menjadi kaya. Namun, pernahkah anda berpikir, bahwa bila anda yang dianugerahi kekayaan itu, bukan tak mungkin anda pun akan berubah seperti teman itu.

ilustrasi ketika Tom "menolak" ibunya


Hal kedua yang menggelitikku adalah begitu mudahnya manusia menilai orang lain hanya dari atribut fisiknya saja, dari luarnya saja. Lihat saja bagaimana semua orang tak mampu mengenali perbedaan antara Tom dan Edward ketika mereka berganti pakaian. Karena, begitu mereka melihat pakaian lusuh, berarti pemakainya adalah orang miskin, malas, bodoh, kasar, bahkan mungkin jahat. Yang berpakaian mewah pasti agung, berkedudukan, cerdas dan terhormat. Sungguh ironis bagaimana stereotip macam itu sudah melekat pada diri manusia sepanjang jaman.

Akhirnya, anda pasti akan bertanya-tanya, bagaimana cara Pangeran Edward membuktikan bahwa ia lah yang layak dinobatkan menjadi Raja? Akankah Tom menolak asal-usul dirinya? Itulah sebabnya anda perlu membaca kisah berlatar sejarah yang asyik, kocak sekaligus seru ini! Sisipan di belakang buku membantu kita untuk sedikit lebih memahami seluk beluk protokoler kerajaan Inggris saat itu. 3 bintang untuk buku ini, 1 untuk Tom, 1 untuk Edward, 1 untuk Mark.

Gambar di atas adalah ilustrasi ketika Edward berusaha membuat "pembuktian" bahwa dirinya adalah raja yang sah.

Akhirnya aku tergoda untuk mencermati gambar pada cover buku ini, apakah itu gambar sosok asli kedua bocah itu, ataukah gambar ketika mereka bertukar peran? Bagaimana menurut anda?


Judul: The Prince and The Pauper
Penulis: Mark Twain
Penerbit: Orange Books (Grup Penerbit Mizan)
Terbit: Nopember 2010
Tebal: 418 hlm