Thursday, January 12, 2012

Edgar Allan Po: Classic Challenge 2012–January #1

Satu lagi challenge yang kuikuti untuk blog ini, yang di-host oleh blog ini. Tantangan pertama adalah memilih min. 7 buku klasik untuk dibaca dalam tahun 2012 (yang ini sih bukan tantangan serius bagi blog ini). Tantangan kedua adalah memperdalam wawasan tentang buku klasik yang kita baca. Tantangan ini berubah setiap bulan, berdasarkan tema/topik yang akan ditentukan sang host.Untuk bulan Januari ini, kebetulan aku akan membaca 2 buku klasik: Kisah-Kisah Tengah Malam by Edgar Allan Poe (akan tayang tgl. 19 Januari 2012), dan Alice’s Adventures in Wonderland by Lewis Carroll (akan tayang 27 Januari 2012)—keduanya disesuaikan dengan tanggal ulang tahun masing-masing penulis.

Kali ini aku akan menjawab tantangan untuk buku klasik yang pertama. Temanya tentang si penulis klasik. Yuk intip sama-sama sekilas tentang Edgar Allan Poe:

The Author

[Level 1]

Who is the author?
Edgar Allan Poe, terlahir sebagai Edgar Poe.


What does he look like?

Awal melihat fotonya di Wikipedia, kesannya langsung “ih, seraaamm..”. Wajahnya serius dan cenderung muram, sudut bibirnya melengkung ke bawah. Kumisnya melengkapi kesan misterius pada dirinya. Dahinya yang lebar jelas menandakan kejeniusannya.


When was he born?
19 January 1809.


Where did he live?
Poe lahir di Boston, Massachussetts, USA. Pernah tinggal di Richmond, Virginia, lalu di London. Poe menghabiskan karir militernya di Amerika. Ia pernah tinggal selama th 1843-1844 di Philadelphia, di sebuah rumah yang disebut The Spring Garden. Rumah itu sekarang dilindungi oleh National Park Service, menjadi Edgar Allan Poe Historic Site

Rumah Poe yang dilindungi National Park Service di Philadelphia

Selain itu, di akhir hidupnya ia pernah tinggal di sebuah cottage kecil di Bronx, New York, yang kemudian dinamai Poe Cottage. Di rumah ini pula istrinya Virginia menghembuskan napas terakhirnya pada th. 1847.

Poe Cottage di Bronx, New York


What does his handwriting looks like?
Tanda tangan Edgar Allan Poe, dipinjam dari wikipedia:


Tulisan tangan Poe dalam surat yang berisi puisinya: The Raven, dipinjam dari fountainpennetwork.com . Aku memotong bagian awalnya saja:



What are some of the other novels he's written?
Satu-satunya novel utuh yang dihasilkan Poe adalah: The Narrative of Arthur Gordon Pym of Nantucket.


What is an interesting and random fact about his life?
Fakta paling menarik adalah misteri di seputar kematian Poe pada 7 Oktober 1849. Edgar Allan Poe ditemukan dalam keadaan stress di jalanan di Baltimore. Orang yang menemukannya, mengatakan Poe saat itu butuh pertolongan, lalu membawanya ke Rumah Sakit. Ia meninggal dunia di Rumah Sakit keesokan harinya tanpa pernah menjelaskan apa yang ia lakukan di jalanan Baltimore, mengenakan pakaian yang konon bukan miliknya. Semua fakta tentang kematian Poe menjadi misteri hingga saat ini. Ada yang bilang ia meninggal karena kebiasaannya minum minuman keras.

Fakta lainnya tentang Edgar Allan Poe telah aku tulis juga di Classic Authors of January.

Monday, January 9, 2012

Charlotte’s Web: Laba-Laba dan Jaring Kesayangannya

Charlotte’s Web—judul asli buku ini—adalah buku anak-anak klasik yang pernah memenangkan penghargaan, dan dinobatkan oleh Publishers Weekly sebagai “the best-selling children's paperback of all time as of 2000”. Sebenarnya aku lebih suka kalau judulnya setelah diterjemahkan tak perlu diubah, karena ‘Charlotte’s Web’ memiliki kekuatan tersendiri sebagai kisah anak-anak klasik. Atau paling tidak, sebaiknya judul aslinya tetap disertakan di cover depan, disertai dengan label ‘klasik’. Tanpa dua hal tadi, buku ini akan menjadi buku anak-anak saja, sedang dengan mengkategorikannya sebagai karya klasik, akan membuat buku ini diapresiasi lebih banyak pembaca. Jujur saja, awalnya aku tak tertarik membeli buku ini karena berpikir ini pasti cerita anak-anak biasa. Hanya setelah mengetahui bahwa ini adalah versi terjemahan Charlotte’s Web, aku langsung membelinya. Jadi…tentang apa Charlotte’s Web ini sesungguhnya?

Musim semi itu, pertanian keluarga Arable kedatangan ‘tamu’ yang tak biasa. Babi peliharaan mereka telah melahirkan seekor babi kerdil. Karena babi kerdil takkan laku dijual, maka wajar bila sebuah keluarga yang hidup dari pertanian memutuskan untuk membunuh saja babi tak berguna itu. Itu adalah pemikiran untung-rugi semata. Namun pemikiran seorang anak yang masih murni jelas berbeda. Anak perempuan Pak dan Bu Arable yang bernama Fern, mati-matian menentang pembunuhan babi yang menurutnya kejam. “Maksud Mama, Papa mau membunuhnya? Hanya karena ia lebih kecil dari yang lainnya?” ~hlm. 13. “Tapi ini kejam, Papa! Babi itu tidak mau terlahir kecil, kan? Kalau aku sangat kecil sewaktu lahir, apakah Papa akan menyuruh orang untuk membunuhku?” ~hlm. 14. Kalau dipikir-pikir, anak-anak memang lebih bijaksana daripada orang dewasa!

Fern pun akhirnya diijinkan memelihara anak babi kerdil yang diberinya nama Wilbur. Saat berusia lima minggu Wilbur dijual ke pertanian Zuckermann, di mana ia tinggal di ruang bawah tanah lumbung. Di tempat ini—yang dikisahkan dengan amat detail oleh E.B. White sehingga seolah-olah kita sendiri hidup di sana—Wilbur hidup dengan bahagia bersama teman-temannya. Ada tikus egois bernama Templeton, lalu pasangan angsa bersama anak-anaknya yang suka mengatakan sesuatu dengan pengulangan, ada juga domba dan keluarganya. Namun yang menjadi sahabat sejati Wilbur justru adalah Charlotte, seekor laba-laba kelabu besar yang membuat jaring di sudut ambang pintu.

Seperti layaknya di semua pertanian, babi dipelihara untuk disembelih, untuk kemudian menjadi bacon, ham dan daging babi asin yang menjadi santapan keluarga (rasanya setelah membaca Charlotte’s Web ini, tiap kali aku makan bacon atau lainnya, mau tak mau aku akan teringat tampang lucu Wilbur!). Wilbur mungil yang malang pun tak akan mampu menghindar dari takdirnya—hidup dan dipelihara untuk dibunuh—kalau saja tak ada si laba-laba bijaksana Charlotte! Charlotte telah berjanji untuk menyelamatkan hidup Wilbur. Bagaimana laba-laba yang kecil bisa menyelamatkan seekor babi? Semuanya mungkin, ketika dilandasi oleh persahabatan yang tulus.

Di suatu pagi berkabut, saat tetes-tetes embun masih menempel di mana-mana, terlihatlah sebuah pemandangan menakjubkan di lumbung Pak Zuckermann. Butir-butir embun membuat jaring laba-laba di ambang pintu itu terlihat seolah bersinar. Tapi yang lebih istimewa lagi, di tengah jaring itu tampak terpintal huruf-huruf yang membentuk kata-kata: ‘Babi Hebat’. Itulah hasil karya Charlotte semalaman demi menyelamatkan Wilbur. Ia berharap keluarga Zuckermann tidak akan menyembelih sahabatnya itu setelah melihat mukjijat yang dibuatnya. Mukjijat? Yah, kalau laba-laba yang mampu memintal kata dapat kau katakan sebagai mukjijat. Tapi sebenarnya, apa sih mukjijat itu? Menarik menyimak apa yang dikatakan Dokter Dorian saat mendengar kisah jaring Charlotte:

“…saya tidak mengerti bagaimana laba-laba belajar memintal jaringnya. Ketika kata-kata itu muncul, semua orang mengatakannya sebagai mukjijat. Tapi tak seorang pun yang menyadari bahwa jaring laba-laba itu sendiri adalah mukjijat.” ~hlm. 143.

E.B. White mengajak kita untuk lebih menghargai kehidupan. Jangan hanya karena kita sudah terbiasa merasakan sesuatu dengan indra kita, lantas kita menganggapnya sesuatu yang biasa. Semua yang diciptakan Tuhan adalah mukjijat, karena tak ada satu makhluk pun yang dapat melakukan hal yang sama.

Terlepas dari mukjijat atau bukan, nyatanya hasil karya Charlotte memukau banyak orang dan menjadikan Wilbur seekor selebriti. Dibantu oleh Templeton si tikus yang mencarikan contoh kata-kata dari potongan koran, Charlotte berturut-turut memintal kata “Dahsyat” dan “Cemerlang” untuk Wilbur. Hingga tiba saatnya Wilbur akan tampil di Pekan Raya, dan itulah momen yang tepat bagi Charlotte untuk mulai mengerjakan magnum opus [masterpiece] nya; serta mempersembahkan karya terakhirnya untuk menyelamatkan Wilbur. Mengapa terakhir? Yah…sebaiknya anda membaca sendiri bukunya.

Bagiku, Charlotte’s Web bukan sekedar kisah fabel yang imut. Di dalamnya kental dengan persahabatan, kesetiaan, bahkan pengorbanan. Sahabat yang baik adalah seseorang (atau dalam kisah ini seekor?) yang mau bersusah payah melakukan sesuatu demi sahabatnya, meski ia tahu dirinya sendiri akan tetap kasat mata dari dunia, dan sahabatnya lah yang akan menerima semua pujian dan kegemerlapan. Sahabat sejati rela turut bergembira bagi sahabatnya meski ia sendiri sedang sengsara.

Selain kisahnya sendiri, gaya penulisan E.B. White yang begitu “hidup” juga merupakan daya tarik tersendiri. Konon White pernah menjadi petani, dan dari tanah pertanian itu pula kisah ini lahir. Itu sebabnya penggambaran suasana di lumbung, dengan kebiasaan-kebiasaan hewan-hewan di buku ini terasa sangat nyata. Tak seperti fabel lainnya, Wilbur, Charlotte, Templeton, para angsa dkk. memiliki sifat dan kebiasaan kaumnya masing-masing, hanya saja mereka dibuat mampu membaca dan berbicara oleh imajinasi penulisnya. Kebiasaan hewan-hewan ini juga akan membantu memberikan wawasan dunia fauna bagi anak-anak.

Tokoh Wilbur terinspirasi dari pengalaman White yang memelihara babi untuk dibuat bacon, namun pada saat-saat terakhir ia tak tega dan malah berupaya menyelamatkan babi itu—meski gagal. Sedang tokoh Charlotte “lahir” dari pengamatan White akan seekor laba-laba kelabu yang membuat jaringnya di pertaniannya. Lalu mulailah imajinasi ‘bagaimana seandainya’ memenuhi kepala White, yang kemudian menuangkannya dalam kisah klasik sepanjang masa yang indah ini.

Empat bintang untuk Charlotte’s Web!


Catatan untuk Penerbit:
Aku merasa sedikit terganggu dengan (terlalu) banyaknya endorsement di halaman awal. Terhitung ada 28 endorsement yang menyita 5,5 halaman. Mengingat ini adalah kisah klasik, aku tak melihat perlunya penerbit membubuhkan endorsement. Kalau pun mau dicantumkan, lima endorsement rasanya sudah cukup, dengan memilih yang paling dapat mewakili isi buku. Menurut pengalamanku, buku yang memuat berderet-deret endorsement justru biasanya kurang berkualitas (maka perlu pembuktian dengan endorsement). Buku berkualitas (apalagi masuk kategori klasik) akan berbicara bagi dirinya sendiri.

Judul: Laba-Laba dan Jaring Kesayangannya
Judul asli: Charlotte’s Web
Penulis: E.B. White (Elwyn Brooks White)
Penerjemah: Dina Begum
Penyunting: Salahhudien Gz
Penerbit: Dolphin
Terbit: 2012
Tebal: 239 hlm

Sunday, January 1, 2012

Classic Authors of January

Di bulan pertama tahun 2012, kita akan memperingati sedikitnya tujuh penulis klasik tenar dunia yang berulang tahun pada bulan ini. Siapa saja mereka? Inilah kisahnya...

J.R.R. Tolkien

Meski lahir di Afrika Selatan pada tanggal 3 Januari 1892, John Ronald Reuel Tolkien adalah orang Inggris. Saat ia lahir, ayahnya tengah bertugas di Afrika. Kelak ketika dewasa Tolkien dikenal sebagai penulis, penyair, filologis, dan professor yang mengajar di universitas. Namun ia paling banyak dikenal sebagai penulis kisah fantasi klasik: The Lord of The Rings, The Hobbit (keduanya telah diterbitkan Gramedia) dan The Silmarillion. Tolkien ternyata pernah bersahabat dengan C.S. Lewis (penulis The Chronicles of Narnia).

Setelah kematiannya, putra Tolkien lah yang mempublikasikan karya-karya Tolkien. Meski Tolkien bukan penulis genre fantasi pertama, namun ia disebut sebagai “Bapak Literatur Fantasi Modern” karena dianggap menjadi tonggak kebangkitan kembali genre fantasi. The Times mencantumkan Tolkien di peringkat 6 dari “50 Penulis Inggris Paling Berpengaruh”.

Jacob Grimm (Brothers Grimm)

Bernama lengkap Jacob Ludwig Carl Grimm, Jacob Grimm yang lahir pada 4 Januari 1785, merupakan salah satu dari Grimm Bersaudara (Brothers Grimm) yang mengumpulkan dongeng-dongeng rakyat. Padahal selain dongeng-dongeng itu, Grimm Bersaudara juga menyusun Deutsches Wörterbuch (Kamus Bahasa Jerman). Jacob sendiri merupakan penemu Grimm’s Law (ilmu fonologi bahasa Jerman) dan penulis Deutsche Mytologie (Mitologi Jerman).

Jacob memang memiliki minat besar di bidang kebahasaan, meski ia seorang lulusan sekolah hukum bersama Wilhelm Grimm, kakaknya. Ia meninggal dunia di usia 78 tahun, dan tetap tekun bekerja hingga akhir hidupnya. Di luar pekerjaan, Jacob juga memiliki minat di bidang botani.

W. Somerset Maugham

William Somerset Maugham adalah seorang penulis drama, novel dan cerita pendek berdarah Inggris yang lahir pada 15 Januari 1874. Masa kecilnya mengalami masalah, baik di rumah pamannya yang kejam secara emosional, maupun di sekolah di mana ia sering diejek karena logat Inggrisnya jelek (bahasa ibunya dalah Prancis, di mana ia dilahirkan) dan tubuhnya yang pendek. Mungkin karena dua latar belakang itulah Maugham menderita gagap sporadis (tidak terus menerus). Untuk menyalurkan kebenciannya pada orang-orang yang menyakitinya, Maugham suka mengeluarkan perkataan yang menyakitkan hati. Latar belakangnya juga mempengaruhi karakter-karakter dalam karya literasinya.

Ia sempat kuliah di bidang kedokteran karena minatnya menulis belum dapat digeluti. Karya-karya besarnya meliputi: Of Human Bondage (ditulis sewaktu bergabung dengan unit ambulans saat perang), The Moon and Six Pence, The Magician dan Liza of Lambeth. Salah satu novelnya yang telah diterjemahkan adalah The Painted Veil (terbitan Gramedia).

Edgar Allan Poe

Siapa yang tak pernah mendengar nama ini: Edgar Allan Poe, sang penulis, penyair, editor dan kritikus sastra yang berasal dari Amerika? Beliau lahir di Boston pada 19 Januari 1809, dan pada usia amat muda menjadi yatim piatu. Ia dipungut--meski tak pernah secara resmi diadopsi--oleh John dan Francis Allan, dan sempat mengenyam pendidikan di universitas selama 1 semester, sebelum Poe drop out karena alasan biaya. Ia mulai terjun ke ranah sastra setelah bergabung dengan militer—dan gagal, dan berpisah jalan dengan keluarga Allan.

Tamerlane and Other Poems merupakan karya debutnya yang masih anonim. Setelah kematian istrinya, Poe mulai mempublikasikan jurnal sastranya sendiri yang bertajuk The Penn, lalu menjadi The Stylus. Sayangnya sebelum proyek itu terealisasi, Poe keburu meninggal dunia di Baltimore. Sebab kematiannya hingga kini masih menjadi misteri, semisterius cerpen-cerpen horror gothic dan detektifnya seperti: Kisah-Kisah Tengah Malam (sudah diterbitkan Gramedia) dan The Tales of Terror and Detection (diterbitkan oleh Liris). Di kumcer terakhir, muncul tokoh detektif ciptaan Poe, Auguste Dupin. Poe disebut-sebut sebagai pelopor penulisan cerpen, dan penemu kisah detektif.

Virginia Woolf

Mrs. Dalloway. To the Lighthouse. Orlando. Ketiganya adalah karya-karya klasik besar dari seorang wanita cantik, penulis asal Inggris bernama Adeline Virginia Woolf. Lahir di London pada 25 Januari 1882 dari orang tua yang pekerjaannya bergelut dengan buku, membuat Virginia terbiasa dengan dunia literasi Inggris klasik sejak kecil. Kematian mendadak ibu dan adik tirinya memberinya “nervous breakdown”. Ia lalu masuk sekolah khusus perempuan di London, yang kelak mempertemukannya dengan para pelopor gerakan ‘pendidikan lebih tinggi bagi wanita’. Kematian ayahnya dan pelecehan seksual yang dilakukan kakak laki-laki tirinya membuat Virginia depresi dan menderita ketidakstabilan mental.

Virginia mendapat nama Woolf dari suaminya, Leonard, dengan siapa ia bersama-sama mendirikan percetakan yang menerbitkan tulisannya dan banyak penulis lainnya. Virginia pernah menjalani hubungan seksual dengan sesama wanita bernama Vita Sackville-West, pengalaman yang kemudian tertuang di karyanya: Orlando, sebuah biografi fantasi. Ia dikenal sebagai salah satu penulis aliran modernis terdepan di abad 20.

Lewis Carroll

Lewis Caroll, si penulis kisah anak-anak klasik Alice’s Adventures in Wonderland dan Through The Looking Glass (keduanya diterbitkan Atria), adalah nama pena dari Charles Lutwidge Dodgson, yang lahir pada 27 Januari 1832 di Inggris. Saat di bangku sekolah, Lewir ternyata berotak brilian terutama pada bidang Matematika. Tapi ia malah berkarya di ranah religius di gereja Anglikan setelah menikah dengan sepupunya. Masa mudanya dilalui dengan sakit-sakitan: demam yang membuatnya tuli sebelah, pertusis, dan cedera yang membuat postur tubuhnya asimetris serta gagap. Konon Lewis gagap tiap kali bersama orang dewasa, namun ketika bersama anak-anak, gagapnya hilang. Kemungkinan gagapnya tokoh Dodo di Alice’s Adventures in Wonderland—yang adalah perwujudan karakter Lewis--merujuk pada gagapnya Lewis sendiri, meski tak ada bukti konkrit yang menunjang.

Lewis muda dikenal fasih mendongeng dan charades (semacam permainan kata dengan pamtomim). Ia mengenal baik sesama penulis Goerge MacDonald, dan bahkan berkat kesukaan putra MacDonald membaca Alice’s Adventures in Wonderland, maka Lewis memberanikan diri menerbitkan kisahnya itu. Tokoh Alice kemungkinan diinspirasi oleh kawan mungil Lewis yang bernama Alice Liddell, meski Lewis sendiri mengelak. Ide kisah Alice pertama kali muncul dalam salah satu acara bepergian Lewis bersama Alice dan teman-temannya, dan Alice lah yang mendorong Lewis untuk menuliskan kisah itu.

Anton Chekhov

Lahir pada 29 Januari 1860 di Rusia Selatan, Anton Pavlovich Chekhov merupakan salah satu penulis cerita pendek terbesar yang pernah dimiliki dunia. Ayahnya, meski tiran dan suka menyiksa, disebut Chekhov sebagai sumber bakat yang dimilikinya, sementara ia mewarisi jiwa ibunya. Sifat munafik yang ada di karya-karyanya ditengarai terinspirasi dari ayah Checkhov. Ketika ayahnya bangkrut dan membawa seluruh keluarganya jatuh miskin, Chekhov harus menanggung keluarganya dengan menulis cerita-cerita pendek sambil kuliah.

Setelah lulus dan menjadi dokter, Chekhov mendapati dirinya terkena TBC, yang disembunyikannya dari keluarga dan teman-temannya. Ia pun terus menulis cerita pendek. Lalu seorang penulis besar Rusia saat itu menyuratnya untuk menulis lebih sedikit namun lebih memperhatikan kualitas literasinya. Hal itu menyadarkannya. Karya pertamanya setelah "perubahan" itu adalah novella berjudul The Steppe yang menunjukan kedewasaan cara Chekhov menulis. Selain itu ia banyak menulis naskah drama, antara lain Three Sisters dan Cherry Orchard. Cerpen paling terkenalnya, The Lady with The Dog ditulis Chekhov setelah ia menikah. Kumpulan cerpennya sudah pernah diterbitkan oleh Serambi dengan judul Kenangan Cinta.

Itulah biografi singkat ke tujuh penulis klasik dunia untuk bulan Januari. Untuk memperingatinya, aku akan memilih 2 dari penulis di atas untuk kubaca karyanya. Yang mendapat kehormatan kali ini adalah Edgar Allan Poe dan Lewis Caroll. Bagaimana dengan anda? Sudahkah anda membaca karya-karya mereka? Kalau belum, mungkin bulan ini adalah saat terbaik untuk mengawalinya. Baca sama-sama yuk!

Friday, December 30, 2011

Kim

Membaca novel karya Rudyard Kipling ini, baru aku menyadari bahwa antara tahun 1830 hingga 1870 pernah terjadi peristiwa sejarah yang disebut The Great Game (Permainan Besar), yaitu perseteruan politik Kerajaan Inggris dan Kerajaan Rusia untuk berkuasa di Asia Tengah. Dalam buku yang masuk di urutan 78 dari 100 buku berbahasa Inggris terbaik abad 20 ini, Permainan Besar ini menjadi makin populer.

Kim adalah nama seorang bocah laki-laki yatim piatu yang suka berkeliaran di jalan-jalan kota Lahore. Nama aslinya Kimball O'Hara, putra seorang prajurit kulit putih di sebuah resimen Irlandia. Sebelum meninggal, ayah Kim mewariskan dokumen-dokumen yang menyatakan jatidiri Kim, yang lalu dijahit dalam paket yang senantiasa terkalung di lehernya. Meski berkulit putih dan putra seorang Sahib, Kim lebih suka berpakaian Hindu. Ia dijuluki Kawan Kecil dari Pelosok Dunia, dan kerjaannya meminta-minta di jalanan, sambil menjadi mata-mata kecil seorang pedagang kuda Pashtun bernama Mahbub Ali. Mengapa pedagang kuda butuh mata-mata? Karena pedagang kuda yang satu ini sejatinya adalah agen rahasia Inggris. Inilah jejak pertama intrik politik dalam kisah yang awalnya nampak sebagai kisah petualangan spiritual saja.

Suatu hari ketika sedang duduk di atas sebuah senjata yang disebut Zam-Zammah, takdir Kim mempertemukannya dengan seorang lama (biarawan) Tibet tua yang sedang melakukan Pencarian. Konon Sang Buddha pernah menembakkan anak panah dalam suatu kontes untuk melamar seorang gadis. Anak panah itu meluncur jauh, lalu menancap ke tanah. Dari sana keluarlah air dan akhirnya menjadi sungai. Sungai itu dipercaya dapat membersihkan seseorang dari segala dosa, dan disebut sebagai Sungai Anak Panah atau Sungai Penyemuhan. Sungai inilah yang hendak dicari sang lama demi melepaskan diri dari belenggu Roda Kebendaan. Seperti layaknya semua peziarah, sang lama membutuhkan seorang chela (murid) untuk melayaninya agar ia dapat fokus pada urusan spiritualnya. Kim yang berjiwa petualang segera menemani sang lama dan dengan demikian menjadi chela-nya.

Inilah Zam-Zammah yang benar-benar ada dan hingga kini masih dipajang di depan Museum Lahore, tempat pertemuan Kim dengan lama-nya di buku ini

Tugas seorang chela antara lain mengemis makanan dengan menggunakan mangkuk derma, dan menyiapkan tempat untuk tidur bagi sang lama dan dirinya sendiri. Dalam tugas pertamanya, Kim--tanpa menduga sama sekali, mulai terjerumus ke dalam intrik politik Permainan Besar. Mahbub Ali yang keberadaannya sudah dicurigai pihak musuh, mendapat ide untuk mengirim surat rahasia lewat perantaraan Kim. Siapa sih yang akan mencurigai dua orang peziarah miskin berpakaian kumal itu? Namun Kim yang cerdik tak serta merta percaya bahwa kabar yang dikirimnya berkaitan dengan kuda jantan putih. Dari mencuri dengar, ia tahu bahwa sesuatu yang besar dan penting sedang berlangsung.

Dalam kondisi itulah sang lama dan sang chela berangkat melakukan peziarahan. Sang lama fokus pada Pencariannya, sementara sang chela belumlah lega kalau tugas rahasianya belum terlaksana. Keindahan buku ini terletak pada--salah satunya, keindahan desa dan pegunungan di daerah-daerah yang dilalui Kim, juga semrawutnya kota-kota besar dalam kemiskinannya. Kipling dengan sukses membawa pembacanya seolah meneropong langsung budaya dan sosial India abad ke 19.

Sementara itu, Permainan Besar sedang diam-diam berlangsung. Meski tak diceritakan dengan detail, ketegangan mulai terbangun ketika satu persatu 'oknum' agen rahasia itu bersilangan jalan dengan sang lama (yang lugu dan tak menyadari adanya sesuatu yang tidak biasa) dan Kim. Menyadari kecerdikan dan keberanian Kim, agen rahasia bermaksud melatih Kim untuk menjadi seorang agen. Ia sempat mengenyam pendidikan yang menjadi hak anak seorang sahib, hingga tumbuh menjadi seorang pemuda.

Apakah yang akan terjadi kemudian? Berhasilkah Kim menjadi agen rahasia sungguhan? Bagaimana dengan Pencarian sang lama, akankah ia menemukan Sungainya?

Bila anda merasa asing dengan gaya penulisan Rudyard Kipling--yang telah diterjemahkan dengan baik oleh mbak Rini Nurul Badariah, jangan menyerah dan langsung menutup buku ini. Telan saja istilah-istilah asing yang bertebaran sedari awal halaman, dan kunyah saja perlahan kalimat-kalimat panjang di sana sini. Kalau mau, catatlah nama atau istilah yang terasa asing. Teruslah membaca sambil berusaha mencerna. Karena setengah bagian ke belakang, saat anda sudah mulai terbiasa dengan gaya penulisan Kipling, dan cerita mulai menegang dengan intrik politik dan mata-mata, anda akan keasyikan sendiri membaca buku ini.

Meski awalnya aku berencana memberi tiga bintang saja karena plot yang sulit dimengerti dalam buku ini, namun setelah membaca sampai akhir, aku berubah pikiran. Empat bintang kuberikan untuk buku ini. Gaya penulisan Kipling memang agak sulit dipahami, namun justru gaya itulah yang membuat buku ini sangat khas. Lama kelamaan, aku jadi suka juga dengan gaya Kipling bertutur....

Note:
Buku ini kubaca karena kebetulan Rudyard Kipling berulang tahun di bulan Desember. Sebagai hadiah, aku persembahkan review ini tepat di hari ulang tahunnya yang ke 146, hari ini: 30 Desember 2011. Happy birthday Paman Kipling!

Judul: Kim
Penulis: Rudyard Kipling
Penerjemah: Rini Nurul Badariah
Penyunting: Dhewiberta
Penerbit: Bentang Pustaka
Terbit: Juni 2011
Tebal: 453 hlm

Victorian Challenge 2012

Khusus untuk blog ini, aku akan ikut reading challenge dari blogger luar. Temanya sip deh... Victorian Challenge 2012. Tantangannya adalah membaca buku atau menonton film atau mendengarkan audio book yang berhubungan dengan jaman Victoria (ketika Ratu Victoria berkuasa), yang mencakup tahun 1837 sampai dengan 1901.

Ini nih rules-nya:

1. The Victorian Challenge 2012 will run from January 1st to December 31st, 2012. You can post a review before this date if you wish.

2. You can read a book, watch a movie, or listen to an audiobook, anything Victorian related that you would like. Reading, watching, or listening to a favorite Victorian related item again for the second, third, or more time is also allowed. You can also share items with other challenges.

3. The goal will be to read, watch, listen, to 2 to 6 (or beyond) anything Victorian items.

Setelah search di google, ada beberapa penulis yang membawa pengaruh jaman Victoria. Aku ambil 10 di antaranya yang akan kubaca buku-bukunya (dan kutonton filmnya) selama 2012 ini:

1. [DONE] -- Great Expectations by Charles Dickens

2. [DONE] -- Alice's Adventures in Wonderland by Lewis Carroll (video book)

3. [DONE] -- A Tale of Two Cities by Charles Dickens

4. [DONE] -- The Strange Case of Dr. Jekyll and Mr. Hyde by Robert Louis Stevenson

5. [DONE] -- The Adventures of Sherlock Holmes by Sir Arthur Conan Doyle

6. [DONE] -- Black Beauty by Anna Sewell

7. [DONE] --  Sketches by Boz by Charles Dickens

8. [DONE] -- The Old Curiosity Shop by Charles Dickens

9. [DONE] -- The Picture of Dorian Gray by Oscar Wilde

10. [DONE] -- The Importance of Being Earnest by Oscar Wilde

Ada yang mau ikut juga? Challenge ini bisa digabung dengan challenge lainnya juga.

Intip juga beberapa reading challenge yang kuikuti, siapa tahu ada yang cocok buatmu, di sini.

Saturday, December 24, 2011

A Christmas Carol

I think you would agree with me, that Christmas is the most festive days in a year—whether you celebrate it or not. Christmas is identical with sparkling of lights, thus representing a season full of laughter and joy. It’s hard to not being happy during Christmas, why, with all the cakes, ornaments, gifts…and holiday of course! But, it does not work out the same for a sour and stingy man named Scrooge. Well, sometimes name does speak of everything about a man, right?

Scrooge dedicates his life solely for his business. He doesn’t care about Christmas; he even hates Christmas because it is a time when he cannot make much money. So, on that day before Christmas he rejected his nephew’s invitation for a family Christmas dinner, then rejected a man who asked for donation and sent him away. He also scowled at his clerk who asked for a half day off, and instead asked him to come earlier on Christmas day! What a miserly man...scrooge!

But on that eve of Christmas, Scrooge got a surprise. His late business partner who has passed away seven years ago—Marley, ‘came’ visiting Scrooge at his apartment. When approaching his room, Scrooge saw a shadowy image of Marley’s face on his door knocker… It’s a phantom! Marley’s ghost! At first Scrooge got scared, and all he would have said is: “Humbug!”, meaning ‘nonsense’, which seems being one of Scrooge’s favorite word! However, it did not take too long before the phantom made Scrooge believe in it. But why did Marley haunt his ex-partner?

the illustration of Marley's ghost and Scrooge

Apparently, Marley wanted to tell his friend that he regretted what he had not done during his short life, years ago. Marley did not realize then, that the most important thing in life was not business and wealth, and that he had misused his opportunity of life given to him. Now it is too late for him to reconcile them, not when he is only a ghost. So, Marley came to tell Scrooge that, in order to give him a second chance of life, Three Spirits would haunt him starting from the next night when the bell tolled One. It will be followed by the second and third visits the following consecutive nights at the same hour. And then...Marley's ghost faded...

In no time Scrooge fell a sleep, only to woke up abruptly when the bell tolled. Oops, it’s one o’clock already! And there it came, the first ghost who called itself The Ghost of Christmas Past. As promised by Marley, this ghost was followed by two more, The Ghost of Christmas Present and…. (can you guess from the pattern?)...The Ghost of Christmas Yet To Come! Each of them took Scrooge to different time sets of his life.

First, The Ghost of Christmas Past took Scrooge to his past life, three past Christmases. From these scenes, you will have clues to what might have changed Scrooge from once a lovable boy to the bitter man he is now. I think sometimes we ought also to review our own life like Scrooge did. That way we can see how far we have transformed from the kind and lovable child we used to be, to what we are at present. Then we will know what was going wrong with our life, so that we will be able to resolve it.

The second turn, The Ghost of Christmas Present took Scrooge to the lives of people surround him. First they visited Bob Cratchit's (the clerk) poor house. On that Christmas, Bob's son--Tiny Tim, was cripple and ill, and he might not be able to see the next Christmas, because his father cannot afford to buy the required medicament from his little salary. Nevertheless, they all live happily, love each other, and especially that night, they had a merry Christmas with what they can afford. The ghost also took Scrooge to his nephew Fred's Christmas party. The party Scrooge had rejected the invitation earlier that day. The party which turned out to be very entertaining, that Scrooge himself enjoyed the games and the singing. Of course, out of the sights of the others!

The most terrifying part of this book is, perhaps, the visit of The Ghost of Christmas Yet To Come. Taking the form of a black hooded spirit, The Ghost of Christmas Yet To Come showed Scrooge things that were going to happen in the future. Things that scared Scrooge enough to promise that he will change his life. What scenes had Scrooge seen this time? And did those Three Spirits succeeded in convincing Scrooge to resolve his life? And how will he do that? Will he still get a chance to have a very merry Christmas?

This story is really simple. Dickens wants to remind us about love, passion, warmth, and kindness that are the true value of Christmas. But above that, Dickens also wants to show us that Christmas is not just about prosperity (expensive gifts, luxury hotels, fine foods), but more on the charity, acceptance and forgiveness. On the other hand, a party will bring joy only when you enjoy it among your loved ones. The atmosphere of British traditional Christmas in 19h century has been beautifully described with all the details in this book. This book is also included in the 50 Books That Changed The World (by Andrew Taylor), for creating the basic of Christmas tradition that is continuing until now.

So in conclusion, there's nothing wrong with being a serious and responsible adult. But, don't be too carried away--like Scrooge, that you forget the love and tenderness in you. It’s OK to be childish sometimes! Especially on a special day like Christmas....

Four stars for Charles Dickens' A Christmas Carol.

-----

This time I read an e-book version (no translation is available yet). I like it, but unfortunately it doesn't come with an attractive cover (the one I put here is the color version). I searched through Goodreads and found two lovely covers that I think would be most suitable for this book. Here they are..


Hopefully one of our publishers will publish the translated version of this book in one of these covers!

Finally, have a merry Christmas for you who celebrate it, and a happy new and prosperous year of 2012!

Title: A Christmas Carol
Author: Charles Dickens
Publisher: Sony Connect Inc.
e-book source: The Pennsylvania State University, 1998
Published: 2007
e-pages: 100

Monday, December 12, 2011

Madame Bovary

Tak heran kalau Gustave Flaubert disebut sebagai penulis yang perfeksionis [Flaubert was notoriously a perfectionist about his writing and claimed always to be searching for le mot juste ("the right word") ~wikipedia]. Novel Madame Bovary ini membuktikannya. Untuk menggambarkan suatu keadaan atau suasana, Flaubert seolah menggabungkan realisme dengan romantisme. Ia menuliskan segala sesuatunya dengan gamblang, amat jelas tiap detailnya, namun kadang menggunakan kalimat-kalimat metafora juga. Dan sungguh, metaforanya benar-benar mempesona. Lihat saja contohnya:

“…sinar bulan menerpa permukaan air sungai yang membuat permukaan air berkilau-kilau bagai kelap-kelip bintang; cahayanya yang keperakan bagai menembus sampai ke dasar sungai bagai seekor ular tanpa kepala yang seluruh tubuhnya tertutup sisik yang bersinar. Sinar itu juga mirip sebuah lilin raksasa yang melelehkan untaian intan bercahaya di sepanjang sisinya.” ~hlm. 290.

Tak diragukan, itu pasti salah satu hasil pemilihan kata yang amat cermat dari seorang Gustave Flaubert, yang menyulap cerita yang biasa-biasa saja menjadi karya sastra yang indah. Konon, dibanding dengan rekan-rekan sesama penulis besar di jamannya, Flaubert termasuk yang paling sedikit menelurkan karya. Rupanya perfeksionisme tak berjalan lurus dengan produktivitas. Madame Bovary kebetulan menjadi karya pertamanya yang paling terkenal sekaligus kontroversial. Mengapa kontroversial?

Madame Bovary bermuatan kritik sosial yang diteriakkan Flaubert atas borjuisme dan ketidakberdayaan wanita di Prancis pada jaman itu (kisah ini bersetting di sekitar Normandy pada paruh kedua abad 19). Karya tersebut dianggap meresahkan karena tidak bermoral dan tidak beragama. Flaubert bahkan diseret ke pengadilan, meski akhirnya menang berkat seorang pengacara asal Rouen bernama Marie-Antoine Jules Sénard. Kepada sang pengacara lah novel ini kemudian didedikasikan, seperti terbaca di surat yang dilampirkan setelah halaman judul. Hingga di sini, anda tentu makin penasaran dengan inti kisah Madame Bovary. Inilah dia…

Kisah dibuka oleh tokoh Charles Bovary, anak laki-laki biasa, penggugup dan tidak menarik, yang tinggal di kota kecil. Ia tumbuh sebagai pria yang baik hati, berwawasan sempit, dan agak malas. Setelah belajar mati-matian, Charles akhirnya berhasil menggenggam gelar dokter. Meski begitu, karena sama sekali tak memiliki ambisi, ia hanya menjadi dokter kelas desa dan kehidupannya tak pernah menanjak. Suatu hari ia mendapat panggilan untuk menyembuhkan kaki seorang petani kaya yang patah. Di sana ia akhirnya bertemu dan berkenalan dengan anak gadis sang petani yang cantik dan anggun, bernama Emma.

Kebalikan dari Charles, Emma gadis yang menarik, penuh imajinasi, memiliki minat pada gemerlapnya kota, romansa percintaan ala novel, serta kehidupan borjuis. Sejak awal Charles jelas tertarik pada Emma, meski saat itu ia telah beristri wanita sederhana yang kalah jauh dibanding Emma. Tiba-tiba di usia muda sang istri mendadak meninggal. Charles menjadi duda, dan mulai serius mendekati Emma. Gayung bersambut, keduanya pun menikah. Emma meninggalkan rumahnya di pertanian membosankan yang ia benci, siap menyambut masa depan baru yang lebih menjanjikan.

Sayangnya, impian romantis Emma jauh dari kenyataan. Charles memang dokter yang berdedikasi, namun ia pria sederhana membosankan yang hanya melakukan tugasnya saja. Pasiennya orang-orang desa Tostes, tempat mereka tinggal sebelum akhirnya pindah ke Yonville. Padahal yang diinginkan Emma adalah gaun-gaun mewah, pesta dansa, chatteu, pria-pria tampan dan ambisius. Pendek kata, Emma bosan, tak puas dengan hidupnya, bahkan setelah melahirkan Berthe—anak perempuannya.

Hasrat Emma untuk keluar dari hidup yang membosankannya, membawanya pada perselingkuhan. Awalnya dengan Léon, asisten notaris setempat yang cerdas lagi romantis, sama-sama menghargai keindahan yang dipuja Emma. Namun kisah cinta itu tak berlangsung lama karena kegamangan Emma menjalani perselingkuhan. Ia lalu kembali (mencoba) setia kepada suaminya. Sayangnya, hal itu juga tak berlangsung lama. Karena begitu seorang pria kaya dan playboy bernama Rodolphe muncul dalam kehidupan Emma, suaminya langsung terlihat labih buruk di mata Emma daripada sebelumnya. Dengan segala cara Emma berusaha untuk merengkuh kehidupan yang diimpikannya. Selain dengan perselingkuhan, juga dengan mulai berhutang pada seorang pedagang.

Pertanyaannya, apakah akhirnya sang Madame Bovary akan merasakan kebahagiaan yang diimpikannya? Anda akan dibawa pada pertistiwa demi peristiwa, dan suasana sang Madame yang berubah-ubah, sebelum akhirnya pertanyaan itu dapat terjawab di akhir cerita.

Dengan menulis buku ini, Flaubert membuka problem sosial pada jamannya, di mana wanita harus menggantungkan nasibnya 100% pada kaum pria. Begitu menjadi istri, seorang wanita diharapkan mengurus rumah tangga saja. Ke mana pun sang suami mengarahkan bahtera rumah tangga mereka, sang istri hanya bisa ikut hanyut saja. Kalaupun seorang wanita memiliki impian sendiri, hanya dua pilihan yang dimilikinya. Mengejar impian itu dengan resiko melepaskan segala yang ia miliki, atau mengubur impian itu dalam-dalam dan menelan saja apa yang ada. Buku ini kelak dianggap sebagai pelopor gerakan feminisme.

Di sisi lain, aku juga melihat jurang yang tak terjembatani antara Charles dan Emma. Klise sebetulnya, masalah suami-istri yang tak memiliki kesamaan visi. Hal itu yang kuamati banyak menimbulkan perceraian di masa modern ini. Padahal jaman dahulu hal yang sama juga terjadi, namun karena nilai-nilai religiusitas dan martabat masih dipegang tinggi, maka semuanya hanya bagai api dalam sekam.

Pada akhirnya, kaum wanita jaman sekarang harus merasa beruntung karena mereka memiliki kesempatan yang sama dengan kaum pria untuk mengejar dan mewujudkan impian mereka. Namun tetap saja, impian juga harus ada batasnya. Ketika mustahil untuk menggapai impian tertentu, kita harus dapat menerima kenyataan dan mengembangkan apa yang kita miliki untuk menberikan kebahagiaan bagi kita. Bagaimana pun, kebahagiaan toh sesuatu yang harus kita ciptakan, bukan sesuatu yang jatuh dari langit, kan?

Empat bintang kukemas rapi sebagai hadiah Ulang Tahun untuk Gustave Flaubert yang ke 190, tepat pada hari ini, 12 Desember 2011!

Judul: Madame Bovary
Penulis: Gustave Flaubert
Penerjemah: Santi Hendrawati
Penyunting: M. Sidik Nugraha
Penerbit: Serambi
Terbit: Juni 2010
Tebal: 507 hlm