Friday, March 16, 2012

[Opini] Mengapa Harus Sastra Klasik?

Di saat dunia perbukuan di seluruh dunia sedang dilanda serbuan novel-novel fantasi bertema paranormal, aku bertanya-tanya dalam hati mengapa orang begitu menggandrungi genre ini? Suatu hari ketika melewati bioskop XXI yang sedang dijejali manusia yang ingin menonton sekuel terakhir Harry Potter, aku dan papaku sempat mendiskusikan fenomena fiksi paranormal yang melanda kehidupan kita. Menurut analisa papaku, manusia sudah jenuh dengan kehidupan. Jenuh dengan dunia yang penuh kejahatan dan degradasi moral. Mereka butuh pelarian. Kemana? Agama? Mereka bahkan berpikir Tuhan sudah melupakan mereka. Maka mereka mencari dunia di luar dunia--a world beyond our world. Dunia paranormal menyajikan sesuatu yang tak dibatasi oleh keterbatasan manusia. Di situ mereka bisa menciptakan pahlawan mereka sendiri yang dapat mengatasi apapun, melawan apapun.

Yah, kupikir benar juga argumen papaku. Dan di kondisi seperti ini, bisa dipahami bahwa orang kurang--atau bahkan tak lagi--menggandrungi sastra klasik. Sederhana saja alasannya menurutku, karena kisah-kisah klasik menawarkan kenyataan hidup. Kalau kita sendiri sudah muak dengan hidup, buat apa lagi membaca kehidupan orang lain yang malah membuat kita makin depresi? Mungkin begitu pendapat kebanyakan orang. Mengapa tidak beralih saja ke genre fantasi atau humor yang bisa menghibur?

Aku tak setuju. Menurutku justru dalam kisah-kisah klasik lah kita akan banyak belajar nilai-nilai tentang kehidupan, yang dapat diaplikasikan ke dalam hidup kita sendiri. Mungkin kita bisa sejenak 'berlibur' ke dunia khayalan, seperti halnya kita bermimpi saat tidur, namun begitu terjaga kita mau tak mau kembali ke kehidupan nyata. Kisah-kisah klasik disebut atau dikategorikan sebagai "klasik" karena ia memiliki nilai-nilai yang dapat bermanfaat bagi manusia. Dan hal itu sudah teruji hingga bertahun-tahun, bahkan kadang ratusan tahun, sehingga kita tak mungkin dapat membantahnya.

Gambar dipinjam dari sini

Kisah klasik memang sudah usang. Namun meski kisah klasik bersetting di masa lalu, nilai yang dibawanya tetap relevan hingga jaman modern. Dan menurutku, justru di jaman modern, di mana nilai moral mengalami degradasi, kisah klasik menjadi sangat dibutuhkan. Bayangkan bagaimana jadinya bila generasi muda kita selalu dicekoki dengan konsep-konsep yang tidak nyata, ketika mereka kelak harus berhadapan dengan kenyataan hidup, akankah mereka siap menghadapinya? Kisah klasik akan membentuk moral mereka dengan lebih baik, memberi wawasan akan kehidupan nyata, meski lewat kisah-kisah fiktif.

Aku sudah banyak membaca macam-macam genre fiksi. Bahkan fiksi seperti harlequin atau komedi-humor pernah kubaca meski hanya sebagai selingan. Menurutku pribadi mereka memang menghibur, tapi (kebanyakan) kurang memiliki nilai-nilai yang bermanfaat. Setelah tamat, ya kuletakkan saja. Tanpa ada sesuatu yang dapat kurenungkan dan kupelajari. Berbeda dengan saat menekuni fiksi klasik, yang sering banyak mengajariku tentang kehidupan nyata, beragam kepribadian manusia, kesulitan mereka dan bagaimana mereka berjuang untuk menghadapi tantangan hidup.

Tulisan ini kubuat untuk (ikut) menjawab sebuah pertanyaan yang muncul dalam sebuah blog hop. Aku pribadi tak ingin berpartisipasi dalam blog hop itu, hanya tergelitik untuk menjawab salah satu pertanyaannya yang menarik, yaitu:

Where do you think reading literature should rank in society’s priorities?

Di tingkat mana menurutmu, baca klasik seharusnya ditempatkan dalam prioritas masyarakat?

Maka jawabanku adalah: sastra atau literatur klasik sangat perlu digeluti oleh masyarakat dewasa ini. Kurangi waktu di depan televisi, terutama yang menayangkan hal-hal yang tak berguna. Perbanyaklah waktu untuk membaca buku (paling tidak membaca buku tidak hanya menghibur, tapi juga menambah wawasan kita), dan sisipkan buku-buku klasik ke dalam koleksimu. Bukan berarti aku mengesampingkan genre-genre lain. Aku sendiri telah berkomitmen membaca sedikitnya 20 buku klasik dalam setahun dari total target sekitar 60-70 buku, bagaimana dengan anda?

Mari baca klasik, sastra klasik itu asyik!

A Victorian Celebration


I'm going to join another project for classics reading. This one is called A Victorian Celebration, hosted by Allie from A Literary Odyssey. During June and July 2012 we will read as much Victorian theme books as we could. So, after considering my reading schedule and my Classic Club Project, these are what I plan to read for Victorian Celebration:

June:

Sketches by Boz - Charles Dickens
Charles Dickens: Dickens Bicentenary 2012 - Lucinda Dickens Hawksley
Black Beauty - Anna Sewell
The Picture of Dorian Gray - Oscar Wilde

July:

The Old Curiosity Shop - Charles Dickens
Twenty Years After - Alexandre Dumas
Short Stories:
The Three Strangers - Thomas Hardy
A Terribly Strange Bed - Wilkie Collins
The Half-Brothers - Elizabeth Gaskell


If you want to join me, just click this...

Thursday, March 15, 2012

Character Thursday (3)

Makin lama blog hop Character Thursday ini makin asyik rasanya. Setiap kali membaca buku, aku akan langsung mereka-reka tokoh mana yang akan kuulas di hari Kamis berikutnya.

Character Thursday

- Adalah book blog hop di mana setiap blog memposting tokoh pilihan dalam buku yang sedang atau telah dibaca selama seminggu terakhir (judul atau genre buku bebas).
- Kalian bisa menjelaskan mengapa kalian suka/benci tokoh itu, sekilas kepribadian si tokoh, atau peranannya dalam keseluruhan kisah.
- Jangan lupa mencantumkan juga cover buku yang tokohnya kalian ambil.
- Kalau buku itu sudah difilmkan, kalian juga bisa mencantumkan foto si tokoh dalam film, atau foto aktor/aktris yang kalian anggap cocok dengan kepribadian si tokoh.

Syarat Mengikuti :

1. Follow blog Fanda Classiclit sebagai host, bisa lewat Google Friend Connect (GFC) atau sign up via e-mail (ada di sidebar paling kanan). Dengan follow blog ini, kalian akan selalu tahu setiap kali blog ini mengadakan Character Thursday Blog Hop.
2. Letakkan button Character Thursday Blog Hop di posting kalian atau di sidebar blog, supaya follower kalian juga bisa menemukan blog hop ini. Kodenya bisa diambil di kotak di button.
3. Buat posting dengan menyertakan copy-paste “Character Thursday” dan “Syarat Mengikuti” ke dalam postingmu.
3. Isikan link (URL) posting kalian ke Linky di bawah ini. Cantumkan nama dengan format: Nama blogger @ nama blog, misalnya: Fanda @ Fanda Classiclit.
4. Jangan lupa kunjungi blog-blog peserta lain, dan temukan tokoh-tokoh pilihan mereka. Dengan begini, wawasan kita akan bertambah juga dengan buku-buku baru yang menarik…


Fanda Classiclit



-----

Untuk minggu ini, aku akan mengambil "seekor" tokoh dari kisah fabel:


Molly - si Tikus Tanah
(The Wind in the Willows by Kenneth Grahame)


Dari semua tokoh di The Wind in the Willows, aku paling suka dengan Tikus Tanah. Rasanya sosok Tikus Tanah adalah sosok manusia kebanyakan yang tidak sangat baik (sehingga nyaris sempurna seperti Tikus Air) atau sangat tidak baik seperti Tuan Katak. Tikus Tanah menggambarkan kepribadian orang yang pada dasarnya memiliki moral yang baik namun tetap memiliki kelemahan. Kelemahan itu nampak saat Tikus Tanah terlalu memuja Tikus Air dan selalu berusaha menyenangkan kawannya itu. Ketika dalam perjalanan pulang dari suatu petualangan dan mereka melewati rumah Tikus Tanah, Tikus Tanah merasa rindu untuk pulang ke rumahnya. Namun, karena Tikus Air tak menyadari kegalauan kawannya ini, ia terus bergegas melanjutkan perjalanan ke rumahnya sendiri. Tikus Tanah terbelah antara ingin pulang ke rumahnya, tapi juga tak mau mengecewakan sahabatnya, dan akhirnya ia dengan lunglai menyusul Tikus Air. Berapa kali kita juga seperti itu, tak mau jujur mengatakan apa yang kita inginkan, dan malah mengikuti keinginan orang lain meski kita tak suka.


Namun, meski tampaknya si Molly ini selalu menjadi bayangan Tikus Air, pada suatu saat yang tepat ia dapat melakukan sesuatu yang benar dan bahkan heroik. Yaitu saat ia dengan cerdik berinisiatif menipu para rase, cerpelai dkk yang sedang menduduki rumah Tuan Katak. Berkat kecerdikannya itu mereka berhasil mengusir musuh dengan sukses. Ada saatnya kita pun tanpa kita sadari telah melakukan sesuatu yang "besar". Itu membuktikan bahwa kita sebenarnya mampu melakukan hal-hal besar apabila kita cukup berani, dan tidak hanya bersembunyi saja d balik bayangan kawan kita yang lebih dominan.

So…who is your Character Thursday this week?

Yuk ikutan! Langsung saja masukkan linkmu di bawah ini ya…


Thursday, March 8, 2012

The Wind In The Willows

Sebenarnya kisah fabel untuk anak-anak The Wind in the Willows karya Kenneth Grahame ini adalah kisah yang amat sederhana, yakni tentang persahabatan empat ekor binatang di tepi sungai Thames dan di hutan rimba Inggris. Tapi saat membaca kisah ini, aku jadi merasa kisah ini tak sepenuhnya "anak-anak" dan tak sesederhana yang nampak. Sebaliknya, banyak penggambaran tentang kehidupan yang terlukis dibalik kisah fabel ini.

Kisah dibuka oleh seekor tikus tanah yang merasa bosan setelah bersih-bersih rumah dan ingin berjalan-jalan keluar untuk menikmati udara musim semi yang cerah. Ketika ia mendekati tepi sungai, Tikus Tanah yang bernama Molly ini bertemu seekor teman baru, seekor Tikus Air bernama Ratty. Ratty mengusulkan mereka berdua untuk mendayung sambil berpiknik di tepi sungai. Kehidupan yang dirasakan nyaris sempurna oleh Molly, sehingga akhirnya Molly setuju untuk tinggal bersama Ratty di rumah Tepi Sungai. Kedua sahabat inipun akan menemui berbagai petualangan seru, yang kuibaratkan sebagai perjalanan hidup manusia.

Dalam perjalanan itu perahu mereka melewati hutan rimba, dan Ratty menjelaskan kepada Molly bahwa di sana hidup berbagai macam hewan, ada yang--bagi Ratty--cukup menyenangkan seperti Luak dan kelinci, namun ada juga yang lain seperti rubah, rase, cerpelai yang menurut Ratty "lumayan dengan caranya sendiri".

"Mereka semua lumayan, dengan caranya sendiri, tapi kau tak bisa sepenuhnya percaya kepada mereka, dan begitulah kenyataannya." ~hlm 11.

Bagiku, kata-kata Ratty itu menggambarkan sifat manusia. Di dunia ini ada bermacam-macam sifat manusia. Tak ada yang sepenuhnya hitam (jahat) atau putih (baik), mereka memiliki kedua sifat itu. Pada saat-saat tertentu mereka dapat hidup dengan baik bersama tetangganya, namun pada saat tertentu mereka mungkin merugikan tetangganya. Lewat Tuan Luak, Kenneth mengajarkan kepada pembaca cara untuk menghadapinya:

"...satwa-satwa pindah kemari... yang baik dan yang jahat. Di dunia selalu ada dua segi itu. Kita harus hidup dan memberi kesempatan kepada yang lain untuk hidup." (Tuan Luak) ~hlm. 47.

Kembali kepada perjalanan piknik Molly dan Ratty, berikutnya mereka melewati rumah besar bernama Puri Katak, tempat tinggal Toady, sang Tuan Katak. Toady mewakili karakter manusia yang terobsesi dengan kekayaan dan terbawa arus hedonisme, mendewa-dewakan benda-benda duniawi nan indah tapi melupakan nilai-nilai yang lebih luhur dalam hidup. Toady juga tipe orang-orang sombong yang menganggap dirinyalah pusat semua kehidupan. Tipe orang yang merasa dirinya pandai dan bijaksana, namun sebenarnya yang terbodoh dari yang hidup. Di sini Toady digambarkan sebagai trouble maker yang tergila-gila pada kendaraan mewah. Awalnya caravan, sampai akhirnya ia terpesona pada mobil balap. Semua hobbynya (yang berganti-ganti terus itu) hanya membawa kesialan baginya.

Inti kisah The Wind in The Willows ini adalah upaya Molly, Ratty dan sahabat mereka yang penyendiri--Tuan Luak--dalam misi untuk "menyelamatkan" Toady. Toady akhirnya kebablasan, dan harus meringkuk di penjara. Sementara itu Puri Kataknya diam-diam diduduki oleh para rase, cerpelai dan rubah. Ketiga sahabatnya lah yang dengan gigih dan berani berjuang demi Toady. Sebuah sikap persahabatan yang patut diacungi jempol. Alih-alih memikirkan keselamatan sendiri dan membiarkan saja teman yang toh sering mengecewakan, mereka bertiga bertekad menolong Toady. Akhirnya, bukan Puri Katak saja yang berhasil diselamatkan, mereka pun berhasil "menyelamatkan" Toady dari hidupnya yang sia-sia selama ini. Sebuah bukti bahwa kombinasi persahabatan yang tulus dan kesabaran masih mungkin mengubah cara pandang dan hidup seseorang.

Di sisi lain, ada juga petualangan Molly dan Ratty ketika mencoba menyelamatkan anak Berang-Berang bernama Portly yang hilang dari rumah. Mereka menemukan Portly cilik di pulau kecil indah yang penuh ditumbuhi bunga. Di sini Molly dan Ratty bertemu sesosok makhluk besar bertanduk yang sedang meniup panpipe buluh (sejenis flute) yang disebut sebagai Pelindung Makhluk-Makhluk Kecil. Makhluk ini dalam mitos Yunani merupakan dewa pelindung ternak dan hewan liar. Ada nuansa "surgawi" yang terutama dirasakan Molly ketika berada di pulau ini. Yang menarik adalah percakapan Molly dan Ratty. Molly merasa mendengar sesuatu:

"Hilang!" Tikus Air menghela napas sambil duduk kembali. "Tidak! Ternyata ada lagi!" Ia terkesima dan tidak berbicara cukup lama.
"Aku tidak mendengar apa-apa," ujar Tikus Tanah, "selain embusan angin di pohon dedalu." ~hlm. 71.

Jadi dari situlah judul buku ini berasal: embusan angin di pohon dedalu, the wind in the willows. Aku lalu menghubungkannya dengan sang Pelindung Makhluk-Makhluk Kecil yang melindungi Portly dan membuat si kecil merasa damai. Apakah keberadaan sang dewa ini menggambarkan kehadiran Tuhan di dunia yang merupakan satu-satunya "tempat" yang aman untuk berlindung? Dan angin yang berhembus di pohon dedalu itu menggambarkan sesuatu yang membawa kebahagiaan dan kedamaian? Entahlah...

Hal lain yang menarik adalah setelah pulang dari salah satu petualangan, Tikus Tanah tiba-tiba rindu rumahnya sendiri yang sudah lama terbengkalai, karena si empunya masih terbuai suasana di rumah Tikus Air. Dari sini kita diajak merenungkan bahwa kadang kita memang harus mengambil resiko pergi ke tempat baru, mencoba hal baru. Dengan begitu kita akan tahu di mana "tempat" kita yang sebenarnya. Apakah hidup yang kita jalani sekarang sudah tepat? Apakah kita hanya sekedar jenuh saja?

Empat bintang kuberikan untuk The Wind in the Willows, yang dengan sukses menggabungkan unsur hiburan, persahabatan, petualangan dan nilai-nilai kehidupan di dalamnya. Bravo juga untuk Kenneth Grahame yang kebetulan hari ini kita rayakan ulang tahunnya yang ke 153 (8 Maret 1859 - 8 Maret 2012). Happy birthday to Mr. Grahame!

Judul: The Wind in the Willows
Penulis: Kenneth Grahame
Penerjemah: Rini Nurul Badariah
Penerbit: Mahda Books
Terbit: April 2010
Tebal: 134 hlm

Character Thursday (2)

Suka membahas tokoh-tokoh di buku yang kamu baca? Ikutan blog hop ini yuk:

Character Thursday


  • Adalah book blog hop di mana setiap blog memposting tokoh pilihan dalam buku yang sedang atau telah dibaca selama seminggu terakhir (judul atau genre buku bebas).
  • Kalian bisa menjelaskan mengapa kalian suka/benci tokoh itu, sekilas kepribadian si tokoh, atau peranannya dalam keseluruhan kisah.
  • Jangan lupa mencantumkan juga cover buku yang tokohnya kalian ambil.
  • Kalau buku itu sudah difilmkan, kalian juga bisa mencantumkan foto si tokoh dalam film, atau foto aktor/aktris yang kalian anggap cocok dengan kepribadian si tokoh.

Syarat Mengikuti :

1. Follow blog Fanda Classiclit sebagai host, bisa lewat Google Friend Connect (GFC) atau sign up via e-mail (ada di sidebar paling kanan). Dengan follow blog ini, kalian akan selalu tahu setiap kali blog ini mengadakan Character Thursday Blog Hop.
2. Letakkan button Character Thursday Blog Hop di posting kalian atau di sidebar blog, supaya follower kalian juga bisa menemukan blog hop ini. Kodenya bisa diambil di kotak di button.
3. Buat posting dengan menyertakan copy-paste “Character Thursday” dan “Syarat Mengikuti” ke dalam postingmu.
3. Isikan link (URL) posting kalian ke Linky di bawah ini. Cantumkan nama dengan format: Nama blogger @ nama blog, misalnya: Fanda @ Fanda Classiclit.
4. Jangan lupa kunjungi blog-blog peserta lain, dan temukan tokoh-tokoh pilihan mereka. Dengan begini, wawasan kita akan bertambah juga dengan buku-buku baru yang menarik…


Fanda Classiclit




--------

Nah, tokoh pilihan dalam buku yang kubaca selama minggu ini adalah…

Florentino Ariza

(Love in the Time of Cholera by Gabriel GarcĂ­a MĂ¡rquez)


Jangan salah, Florentino Ariza ini adalah tokoh yang paling tidak kusenangi di buku ini! Dari penampilan saja dia selalu berpakaian seperti orang tua. Yah, bukan salahnya juga, karena keluarganya miskin, maka ibunya selalu mempermak pakaian-pakaian ayah Florentino yang sudah usang agar pas dipakai sang putra-tidak-sah ini. Mungkin itulah salah satu yang membuat Florentino menjadi sosok pemalu, tak percaya diri, tidak tegas, dan sebagai akibatnya seolah-olah "kasat mata" karena orang cenderung tak memperhatikan sosoknya.


Tapi Florentino juga memiliki persistensi dan kesabaran yang tinggi demi mencuri hati Fermina Daza, gadis dari kalangan atas yang dicintainya pada pandangan pertama. "Modus" pendekatannya konvensional sekali dan makan waktu lamaaa... Bahkan setelah Fermina akhirnya menikah dengan pria lain, Florentino tak putus asa, tetap menunggu hingga lima puluh tahun!

Yang aku benci dari dirinya adalah selama penantian panjang itu ia malah tak setia. Mengobral cinta pada banyak wanita. Meski ia berdalih bahwa para wanita itu hanya pemuas nafsu belaka, tapi beberapa kali hatinya juga tertambat. Belum lagi affair-nya dengan gadis remaja yang berada di bawah perwaliannya, pada saat ia telah berusia 70 tahun! Florentino kupikir adalah orang yang hany memusatkan pikiran pada dirinya sendiri. Ia begitu terobsesi pada Fermina, sehingga mengabaikan orang lain dan hal-hal lain di dunia termasuk karirnya. Menyedihkan, egois dan pecundang! Aku tak habis pikir dengan pribadi Florentino ini, dan bagiku pria pemimpi sepertinya tak patut dicintai.

So…who is your Character Thursday this week?

Yuk ikutan! Langsung saja masukkan linkmu di bawah ini ya…


Tuesday, March 6, 2012

Love in the Time of Cholera

Oprah Winfrey mengatakan bahwa buku ini adalah “One of the greatest love stories I have ever read, it is so beautifully written.” Maaf Oprah, kali ini aku tak setuju. Kalau yang anda maksud adalah kisah cinta antara Florentino Ariza si pecundang itu—begitu ia kujuluki—dengan Fermina Daza, menurutku cinta mereka sama sekali bukan cinta sejati. Baik, mari kutunjukkan mengapa aku tak setuju dengan anda.

Florentino Ariza adalah anak tidak sah seorang pemilik perusahaan pelayaran di perairan Karibia. Tak diakui oleh ayahnya, ia hidup bersama ibunya dalam kemiskinan. Jujur saja, tak ada satupun sisi positif yang bisa kutemukan pada pria ini. Pemimpi, lemah, terlalu terobsesi pada cinta, tapi juga sex-addicted. Florentino boleh dikatakan jatuh cinta pada pandangan pertama pada seorang gadis dari keluarga berada yang saat itu masih berusia tigabelas tahun: Fermina Daza. Fermina adalah putri Lorenzo Daza, pengusaha ternama di kotanya. Florentino yang bekerja di kantor telegram, pada suatu hari harus mengantar telegram ke rumah Lorenzo Daza. Saat itulah ia melihat sosok Fermina, dan panah cinta pun langsung tertancap di hatinya.

Karena Florentino pria yang tak percaya diri—wajar saja dengan penampilannya yang lusuh seperti orang tua itu—ia merasa minder. Alih-alih mendekati langsung, Florentino memilih cara memperhatikan dari jauh. Setiap hari pada jam tertentu ia duduk di bangku taman Park of the Avengels di bawah bayangan pohon almond, sambil berpura-pura asyik membaca buku. Melihat Fermina Daza melewati bangku itu ketika berjalan pergi-pulang sekolah dikawal oleh bibinya, merupakan pemandangan yang menyejukkan hati Florentino muda. Florentino yang memang berjiwa puitis mulai menulis sepucuk surat, tanpa tahu bagaimana cara menyampaikannya—karena ia menyadari bahwa hubungan mereka tak mungkin dijalani karena perbedaan kelas sosial.

Selama berbulan-bulan hal itu berlangsung, hingga suatu hari Florentino memiliki keberanian bertemu dengan Fermina. Pertemuan yang amat singkat, sama sekali tak dapat disebut berpacaran. Selama penantian Florentino menunggu “panggilan” Fermina, ia sempat jatuh sakit. Karena saat itu Kolumbia sedang berjangkit epidemi kolera, tak heran bila dokter yang memeriksa Florentino mengira pemuda itu terkena kolera. Ibunya saja yang yakin bahwa penyakit yang diderita putranya adalah penyakit cinta!

Fermina dan Florentino akhirnya sempat berkirim-kiriman surat dengan cara sembunyi-sembunyi. Bisa diduga, surat mereka dipenuhi kata-kata manis lengkap dengan bunga camelia. Khas cinta monyet remaja. Suatu hari kisah cinta mereka tercium Lorenzo Daza, padahal sang ayah sudah mengatur supaya putrinya menikah dengan pria terpandang. Maka Fermina pun tiba-tiba dijauhkan dari segala surat cinta, puisi romantis dan permainan serenade biola, dan dikirim lewat laut ke rumah saudara sepupunya di kota yang jauh: San Juan de la Ciénaga.

Setelah kembali ke kotanya, Fermina Daza telah tumbuh menjadi wanita yang lebih dewasa, bukan lagi gadis ingusan yang bertukar surat dengan Florentino. Meski awalnya sering memikirkan Florentino, namun begitu bertemu kembali dengan pria itu, Fermina mulai merasa muak. Muak akan kisah cinta monyetnya, dan baru menyadari bahwa Florentino adalah "pria payah". Sementara itu ada seorang dokter muda dari kalangan keluarga terhormat yang karirnya sedang menanjak: Dokter Juvenal Urbino. Saat mengobati penyakit Fermina, sang dokter pun terpikat kepadanya, dan tak lama kemudian ia melamarnya. Fermina sama sekali tak merasakan cinta pada sang dokter, namun mengingat target yang ia tentukan sendiri untuk menikah di usia 21 tahun hampir terlewati, dan mengingat Urbino seorang pria terhormat, sopan, berpendidikan, Fermina pun menerima pinangannya.

Fermina Daza dan Dokter Juvenal Urbino memasuki hidup perkawinan tanpa cinta. Meski awalnya perkawinan mereka sempat bergolak--terutama saat masa adaptasi--namun setelah mereka mengarungi bahtera perkawinan itu, mereka menjadi tak terpisahkan. Hal ini jelas terungkap saat mereka sudah beranjak tua, di mana mereka menjadi lebih saling membutuhkan daripada sebelumnya. Ini salah satu bukti bahwa yang terpenting dalam perkawinan bukan hanya cinta, namun kemauan untuk saling menerima dan berusaha mempertahankan perkawinan itu. Maka cinta pun akan tumbuh, meski bukan cinta nafsu seperti yang awalnya mereka inginkan atau rasakan. Cinta macam inilah yang menurutku adalah cinta sejati. Cinta yang menerima, alih-alih menuntut. Apakah perkawinan mereka bahagia? Menarik menyimak apa yang dikatakan Dokter Urbino:


"Always remember that the most important thing in a good marriage is not happiness, but stability."


Bagaimana dengan Florentino? Di luar dugaan, meski sakit hati, Florentino tetap memendam impian untuk kelak bisa bersatu dengan Fermina. Lima puluh satu tahun ia menunggu. Tapi jangan bayangkan cinta Florentino bak cinta seorang martir yang tak tergoyahkan. Di masa itu ia memang tak menikah, tapi ia bertualang cinta dengan sangat banyak wanita, dan bahkan menjadi kecanduan seks. Sampai-sampai di usia tujuh puluh tahun, ia masih bercinta dengan gadis remaja yang dititipkan kepadanya. Dua kata yang bisa menggambarkan Florentino Ariza: menjijikkan! Dan hingga akhir hayatnya, Florentino selalu mengatakan bahwa ia tetap setia kepada Fermina. Pembohong yang menjijikkan!

Keanehan Florentino yang membuatku makin mual terjadi ketika secara tak sengaja ia berada di satu restoran yang sama dengan Fermina dan suaminya. Ia menghadap ke cermin yang merefleksikan pantulan Fermina. Lalu tebak apa yang dilakukan Florentino! Ia berkeras membeli cermin itu dari pemilik restoran dengan harga berapapun, hanya untuk mengenang hari ketika ia bisa menatap Fermina lewat cermin itu. Obsesif? Kegilaan? Entahlah...

Lalu apakah Florentino dan Fermina akan benar-benar bersatu di usia tua mereka? Itu sebaiknya anda baca sendiri di bukunya, karena itulah yang akan menjadi hadiah dari penantian anda selama membaca buku yang beralur lambat ini. Yang jelas, aku tak bisa menyebut Love in the Time of Cholera ini sebagai kisah cinta sepanjang masa. Mungkin persistensi Florentino untuk menunggu Fermina selama lima puluh satu tahun bisa dikatakan hebat, tapi kalau selama itu ia membagi hati dan tubuhnya bagi orang lain--sambil membohongi diri sendiri--dapatkah itu disebut cinta sejati?

Maka sekali lagi...maaf Oprah, aku hanya bisa memberi 3 bintang untuk buku ini, karena meski kisahnya absurd, namun kepiawaian Marquez dalam merangkai kata cukup menghibur.

*Review ini kubuat tepat di Hari Ulang Tahun Gabriel GarcĂ­a MĂ¡rquez yang ke 85 (6 Maret 1927 - 6 Maret 2012)*

Judul: Love in the Time of Cholera
Penulis: Gabriel GarcĂ­a MĂ¡rquez
Penerbit: Penguin Books
Terbit: 2008
Tebal: 424 hlm

Monday, March 5, 2012

Pengumuman Pemenang BULAN DICKENS

Sebulan sudah kami (blog Fanda Classiclit dan blog Surgabukuku) menggelar even BULAN DICKENS, Perayaan 200 tahun Charles Dickens. Terima kasih buat klasikers yang sudah berpartisipasi! Semoga bermanfaat bagi kita semua untuk semakin mengenal sosok Charles Dickens dan karya-karya beliau. Kini tiba saatnya untuk mengumumkan para pemenang…

Untuk kuis #TebakDickens yang diadakan di twitter @bacaklasik, pemenangnya sudah kami umumkan terlebih dahulu, yaitu:

Ferina (@f3r1na) dan Dessy (@coffeecream)


Untuk even #BacaDickens yang berlangsung selama sebulan penuh, dua orang yang paling aktif share pengalamannya saat membaca buku-buku karya Dickens lewat twitter dan secara otomatis menjadi pemenangnya adalah…

Astrid (@pippopu) dan Melody (@melody_violine)


Sedangkan untuk lomba #ReviewDickens, setelah membaca semua review yang masuk (yang bagus-bagus semua itu...), dan setelah berunding, kami akhirnya memilih dua review terbaik yang dimenangkan oleh…

Busyra (Review Our Mutual Friend)

Alvina (Review Oliver Twist)


Selamat untuk para pemenang! Kalian semua masing-masing akan mendapatkan hadiah 1 buku klasik dari kami dan @bukunya sebagai sponsor dalam even ini. Silakan mengirimkan nama + alamat lengkap + no. HP kalian melalui email: bacaklasik [at] gmail [dot] com untuk pengiriman hadiahnya.

Tunggu even-even berikutnya dari Komunitas Baca Klasik di bulan-bulan mendatang, dan jangan lupa add akun kami di Facebook juga ya!