Friday, July 23, 2010

The Secret Garden

Entah mengapa aku selalu suka membaca buku anak-anak. Bukan buku dongeng macam Cinderella atau Sleeping Beauty yang bagus untuk imajinasi, tapi ternyata juga membawa anak berpikir bahwa hidup itu (terlalu) mudah. Aku lebih suka membaca kisah anak klasik, seperti The Secret Garden yang ditulis oleh Frances Hodgson Burnett.

Secret garden, taman rahasia. Hmmm…belum-belum imajinasiku sudah terbawa pada suasana segar, indah, dan nyaman ketika mendengar ‘taman’. Apalagi ada kata ‘rahasia’ juga. Bukankah misteri selalu menjadi salah satu kelemahan manusia? Maka, meski ada begitu banyak buku lain yang menggodaku, The Secret Garden akhirnya menang! Buku inilah yang akhirnya kubeli, meski mamaku yang belanja buku bersamaku mengernyit ketika melihat cover-nya yang memang kekanak-kanakan…

Namun…semuanya terbayar sudah. Karena membaca The Secret Garden benar-benar memberikan pengalaman membaca yang sesungguhnya. Untaian kata dan kalimat yang enak dibaca, rasa nyaman ketika imajinasi terbawa pada suasana taman dan kebun yang asri, juga alur cerita yang senantiasa terjaga dengan apik.

The Secret Garden bercerita tentang seorang anak perempuan bernama Mary yang terbiasa dimanja dan dipuja semenjak kecil, sehingga tumbuh menjadi gadis cilik yang masam, sinis, egois, dan manja. Hingga pada suatu hari ia tiba-tiba menjadi yatim piatu akibat sebuah wabah kolera yang merenggut seluruh keluarganya tanpa terkecuali. Ia pun dibawa kepada salah seorang kerabatnya yang memiliki rumah amat besar, yang berkamar kira-kira seratus, padahal hanya ditinggali beberapa orang saja.

Pamannya yang kaya itu dulu memiliki istri yang manis, ceria dan amat cinta pada tanaman. Sang istri pernah memiliki sebuah taman mawar yang asri di belakang rumah mereka. Setiap hari almarhum istrinya itu akan duduk di taman mawar dan merawat setiap bunga dan tumbuhan dengan penuh cinta. Hingga akhirnya ia meninggal dunia gara-gara melahirkan putra mereka.

Sejak saat itu sang suami yang amat berduka, menutup diri sekaligus menutup taman itu selama-lamanya, dan mengacuhkan putra mereka yang masih bayi, karena menganggap si bayi itulah yang menyebabkan istrinya meninggal.

Pada suatu hari, Mary yang tak punya teman dan kesepian berjalan-jalan di kebun nan luas dan berkenalan dengan seorang tukang kebun yang sedang bekerja. Dari beliaulah Mary mendengar bahwa ada sebuah taman rahasia yang telah tertutup selama 10 tahun dan kuncinya tersembunyi entah dimana. Sebuah misteri…itulah yang menggerakkan hati Mary untuk berusaha membuka dan menemukan jawabannya: Di manakah letak taman rahasia itu? Apa yang ada di dalamnya?

Aku ingat, dirikupun terbawa ketegangan ketika Mary akhirnya menemukan letak taman itu dan kuncinya yang dipendam di dalam tanah, serta akan segera membuka pintunya. Apa yang ada di balik pintu itu yah?.... Bagaimana rupa taman rahasia itu, yang sudah 10 tahun tak pernah dirawat? Ketegangan yang terasa manis, bukan penuh ketakutan seperti ketika membaca kisah horror, atau yang membuat jantung berdetak lebih cepat seperti ketika membaca buku Agatha Christie.

Taman itu ternyata cukup indah meski tak terawat. Mungkin justru karena keliarannya lah yang membuatknya semakin eksotis. Memang aku tak melihatnya sendiri, namun Frances benar-benar mampu menggambarkan semua sulur-sulur mawar yang bertautan satu sama lain, tak tertata namun justru tampak natural. Dan ajaibnya, taman itu mampu membawa perubahan pada diri Mary. Ia menjadi lebih bahagia, dan itu turut mengubah sifatnya yang sinis, egois dan manja. Sedikit demi sedikit Mary tumbuh menjadi anak yang bahagia dan normal.

Semangat Mary menular pada Colin, saudara sepupunya, atau bocah laki-laki yang tak dicintai oleh ayahnya, yang adalah paman Mary. Begitu menemukan taman rahasia itu, Colin pun memiliki semangat hidup yang sebelum ini benar-benar padam.

Apa yang menyebabkan semua perubahan itu? Benarkah itu karena ‘sihir’ seperti yang dipikirkan Colin? Tentu bukan sihir ala nenek sihir atau ilmu hitam. Sihir itu adalah mukjijat yang datang dari Sang Pencipta. Bukankah justru dari alamlah kita bisa mengenalNya? Mengagumi hasil karyaNya? Maka di alam jugalah kita paling dapat merasakan kehadiranNya. Itulah ‘sihir’ yang mengubah dua anak yang tidak bahagia dan judes menjadi sosok anak-anak yang penuh kasih.

Itulah yang juga membuatku suka pada buku ini. Ditambah pula dengan banyak deskripsi Frances tentang keindahan alam. Seekor burung Robin misalnya, yang begitu bersahabat dengan manusia, dan hewan-hewan lucu lainnya yang menjadi kawan Dickon, seorang anak pecinta alam.

Buku ini memang bagus untuk anak-anak. Karena di sana mereka akan belajar mencintai alam, juga memahami arti kasih pada keluarga dan sesama. Dan tentu saja, pada akhirnya mencintai Sang Pencipta yang setiap detik menyediakan ‘sihir’ mukjijatnya di dunia ini.

Judul : The Secret Garden
Pengarang: Frances Hodgson Burnett
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 320 hlm
Harga: Rp 35.000

----

Ulasan buku ini kupersembahkan dalam rangka Hari Anak Nasional tahun ini yang jatuh tepat pada hari ini: 23 Juli 2010. Mari kita sediakan bacaan-bacaan yang bermutu bagi pertumbuhan anak-anak Indonesia, generasi penerus kita!

1 comment:

  1. Entah mengapa aku selalu suka membaca buku anak-anak.

    *toss*

    Samaa.. gua juga sukaa baca buku anak2, karena apa yaa? Membaca kisah mereka itu seringkali mengingatkan hal2 yang gua lupa ketika beranjak makin 'tua', betapa 'kebahagiaan' itu sebenernya sederhana dan bisa dialami tiap saat asalkan jeli bisa menangkap apa yang ada di sekitar sebagai sebuah 'berkat' :D

    ReplyDelete

What do you think?