Monday, July 4, 2011

80 Hari Keliling Dunia

Keliling dunia dalam 80 hari? Bagi kita yang hidup di saat ini tentu saja mungkin. Bahkan, kita dapat menempuh perjalanan itu kurang dari 80 hari. Tapi, ketika ide itu ditawarkan pada tahun 1872, banyak orang yang skeptis. Secara teori, 80 hari adalah waktu minimal yang dibutuhkan untuk bertualang ke seluruh dunia. Namun, prakteknya bisa saja meleset. Ketika ada penundaan jadwal kapal uap sehari saja, maka angka 80 hari itu pasti akan bertambah. Tak ada orang yang berani menjamin bahwa mereka akan dapat melakukan 80 hari keliling dunia itu. Selain Phileas Fogg.

Phileas Fogg adalah seorang aristocrat nyentrik yang hidup di London. Ia orang yang pendiam sekaligus misterius, tenang dan hampir tak pernah menampakkan emosi, serta sangat menyukai keteraturan. Kedisiplinannya terhadap waktu sangat mencengangkan. Tiap pukul 11:30 siang (tepat, tak kurang atau lebih 1 menit pun), Phileas Fogg akan meninggalkan rumahnya untuk menuju ke Reform Club, di mana ia menjadi anggota. Di club itu ia berteman dengan para orang terpandang di London lainnya (akademisi, politikus, bangsawan, jutawan). Suatu hari terjadi sebuah diskusi di antara anggota club itu mengenai perampokan bank yang baru terjadi. Diskusi itu mengalir hingga ke isu terbaru di dunia transportasi pada saat itu, di mana perjalanan keliling dunia sudah dapat ditempuh dalam waktu tercepat 80 hari, dengan perincian seperti table ini: (sumber: Wikipedia)


Diskusi itu tiba-tiba membuahkan sebuah pertaruhan. Mr. Phileas Fogg bertaruh 20.000 pound bahwa ia akan dapat keliling dunia dalam 80 hari persis. Persetujuan pun dibuat. Mr. Fogg harus sudah hadir kembali di Reform Club pada hari tertentu, jam tertentu. Maka Mr. Fogg, yang yakin bahwa ia akan mampu mengatasi kesulitan apa pun yang dapat menghadang, segera mengajak pelayan barunya, yang baru saja masuk kerja beberapa jam sebelumnya: Passepartout.

Untunglah ada tokoh Passepartout dalam buku ini! Tokoh ini jauh lebih “manusiawi” daripada majikannya. Dalam usianya yang masih muda, Passepartout sudah pernah menjadi penyanyi, anggota sirkus hingga pemadam kebakaran. Dan kini tantangan berikut dalam hidupnya adalah menjadi pelayan di rumah Mr. Fogg yang maniak terhadap ketepatan waktu dan disiplin (mengingatkan aku pada Hercule Poirot dan sahabatnya Kapten Hastings, tokoh rekaan Agatha Christie!). Sebagai orang Prancis, Passepartout lebih terbuka, emosinya lebih “berwarna”, impulsif dan lebih ramah daripada majikannya yang berkarakter khas London: sedikit angkuh, tenang dan dingin. Kombinasi keduanya membuahkan perjalanan sekaligus petualangan yang menegangkan. Aku pikir, andai Mr. Fogg berkelana sendirian, pasti ia akan dengan lebih mudah mencapai tujuannya. Namun, tentu saja perjalanan itu akan amat membosankan. Laporannya akan mirip jadwal perjalanan biasa. Dengan adanya Passepartout, banyak hal yang akan terjadi, banyak tantangan dan bahaya, banyak kekecewaan maupun kegembiraan. Pokoknya, perjalanan keliling dunia itu menjadi bukan semata-mata taruhan, namun lebih pada sebuah petualangan yang mengubah hidup seseorang.

Aku sudah pernah membaca karya Jules Verne yang berjudul 60.000 Mil Di Bawah Laut (terjemahan dari 20.000 Leagues Under The Sea). 60.000 Mil Di Bawah Laut menurutku lebih menakjubkan dalam hal keindahan alamnya, mungkin karena tokohnya adalah seorang ahli kelautan. Sedangkan di 80 Hari Keliling Dunia ini, keindahan dan keeksotisan negara-negara yang dikunjungi Mr. Fogg dan Passepartout kurang terekspos. Terutama karena Mr. Fogg adalah orang yang praktis, jauh dari romantis, sehingga ia lebih memperhatikan ketepatan waktu daripada pemandangan indah di sekitarnya. Mungkin hanya di India saja, ketika tuan dan pelayan ini bertualang menculik dan menyelamatkan seorang wanita yang hendak dibakar dalam suatu ritual, petualangan itu memiliki greget. Yang aku ingat jelas adalah ketika mereka harus melarikan diri karena ketahuan dengan mengendarai gajah. Tentu saja gajah itu harus dipacu untuk berlari kencang. Aku tertawa ngakak membayangkan Passepartout yang harus rela terguncang-guncang di punggung gajah…

Dalam buku ini, seperti dalam kehidupan nyata, yang menjadi halangan bagi ketepatan waktu sebuah perjalanan, bukanlah melulu pada transportasi (kecuali mungkin di negara kita ya..?!). Justru hal-hal di luar rencana kita, yang disebabkan orang atau pihak lain, yang lebih sering mengganggu perjalanan itu. Dalam hal Mr. Fogg, kesialan itu berupa penguntitan seorang detektif sok tahu bernama Fix yang mengira Mr. Fogg itu perampok bank di London yang tengah melarikan diri. Selain itu, kecerobohan dan karakter impulsif Passepartout juga beberapa kali menyebabkan kacaunya perjalanan mereka. Kalau melihat watak Mr. Fogg yang praktis dan penuh perhitungan, mungkin menyelamatkan seorang wanita dan pelayannya takkan masuk dalam jadwal perjalanannya. Bagaimana pun juga, ada uang 20.000 pound yang dipertaruhkan di sini. Namun Mr. Fogg bukanlah orang yang egois. Meski tidak menguntungkan, ia akan berbuat apa yang memang seharusnya diperbuat. Sesederhana itu.

Dalam banyak hal, Mr. Fogg itu dingin dan penuh perhitungan. Tapi anda akan dibuat tercengang membaca bagaimana penuh perhatiannya ia menjaga dan melindungi Aouda, wanita India yang diselamatkannya dengan nyaris mengorbankan nyawa itu. Lihat pula bagaimana ia tak pernah mempersoalkan kesialan-kesialan yang disebabkan orang lain, dan bagaimana murah hati serta dermawannya ia pada orang-orang yang ditemuinya sepanjang perjalanan. Kalau boleh kukatakan, perjalanan keliling dunia 80 hari itu sendiri tidaklah terlalu istimewa, namun kisah-kisah kehidupan di baliknya itulah yang memberi warna buku ini, sehingga mengijinkanku untuk menganugerahkan 4 bintang untuk buku ini!

Mengapa 80 Hari Keliling Dunia?

Apakah anda, seperti aku, penasaran dari mana ide keliling dunia ini didapat Verne? Apakah ia memang sering berkeliling dunia? Jawabannya kutemukan di Wikipedia. Ternyata ide Verne berasal dari sebuah iklan tur berupa artikel di sebuah harian yang ia baca suatu hari di sebuah café di Paris. Diduga iklan yang ia maksud adalah artikel yang ditulis Thomas Cook, seorang Inggris yang pertama kali memperkenalkan sistem travel agency.

Judul : 80 Hari Keliling Dunia
Judul asli: Around The World In Eighty Days
Penulis: Jules Verne
Penerbit: Serambi
Terbit: Juni 2008
Tebal: 367 hlm

No comments:

Post a Comment

What do you think?