Thursday, January 19, 2012

Kisah-Kisah Tengah Malam

Betapa tepat pemilihan judul untuk buku berisi kumpulan cerpen karya Edgar Allan Poe ini. Poe memang dikenal sebagai master dalam cerita pendek yang bernuansa ‘gelap’ atau gothic. Tema kisah-kisahnya bervariasi, dari macabre (jenis fiksi yang melibatkan tanda-tanda kematian seperti tengkorak, mayat dsb), psycho-thriller, cinta tragis, detektif, petualangan dan alam, juga komedi sarkastis. Kisah-Kisah Tengah Malam ini memang cocok untuk dibaca pada waktu malam, meski tak semua kisahnya bersetting-kan waktu pada malam hari.

Dari tiga belas (apakah sengaja diambil angka 13?) cerpen yang ditampilkan di kumcer ini, sebagian besar bertutur tentang cekaman rasa takut, pembalasan dendam dan rasa bersalah. Namun meski sepintas tema sentralnya mirip, tiap kisah memiliki keunikan dan kekuatan cerita tersendiri. Contohnya cerpen Setan Merah [judul asli: The Masque of the Red Death] yang berkisah tentang sekelompok bangsawan dan orang terpandang yang—alih-alih memikirkan rakyatnya yang sedang terserang wabah penyakit—malah bersembunyi di sebuah kastil sambil bersenang-senang. Ternyata meski bersembunyi di dalam gedung yang tertutup rapat, wabah penyakit yang digambarkan sebagai setan merah tak urung menemukan mereka juga. Sebuah kritik sosial bagi para pemimpin yang mengabaikan penderitaan rakyat atau orang-orang yang dipimpinnya. Poe sukses menghadirkan horror-thriller yang penuh ketegangan lewat kisah ini.

Lain lagi dengan kisah Mengarungi Badai Maelström [judul asli: A Descent Into The Maelström] yang merupakan salah satu kisah favoritku di buku ini. Menurutku, ini kisah yang paling lain daripada yang lain dari 13 cerpen di buku ini. Bernuansa science fiction, mengisahkan sebuah pergerakan arus antara dua pulau yang menciptakan semacam pusaran kuat ke dasar laut, yang mampu (menurut kisah karya Poe) ‘menelan’ apapun yang kebetulan berada di tengah pusaran itu. Lewat penuturan tokoh yang pernah mengalami—dan selamat dari—maelstrom itu, Poe dengan amat piawainya seolah membawa pembaca mengarungi pengalaman yang sama dengan tokohnya. Yang menarik juga, maelstrom yang dikisahkan terjadi di Norwegia ini memang benar-benar ada, meski insiden tersedotnya kapal di cerpen ini murni fiksi.

Cerpen William Wilson juga menyajikan sesuatu yang unik dari keseluruhan cerpen Poe di buku ini. Salah satu kisah yang endingnya menyisakan pertanyaan yang lumayan ‘dalam’, dari sekedar kisah biasa yang nampak di permukaan. Ketika anda menamatkan cerpen ini, bertanyalah pada diri sendiri, apa yang hendak dikatakan oleh Poe. Moga-moga persepsiku tidak meleset…

Sedangkan kisah yang paling kocak adalah Obrolan Dengan Mummy [judul asli: Some Words With A Mummy]. Seharusnya kisah ini bernuansa macabre juga, dengan adanya sesosok mummy yang bisa bicara. Namun Poe—lagi-lagi—berhasil membuat kisah ini menjadi cukup kocak, sambil mengajak kita menambah wawasan dengan menyimak obrolan dengan si mummy itu.

Itulah beberapa cerpen yang menarik perhatianku, namun sebenarnya keseluruhan dari tiga belas cerpen ini benar-benar istimewa, seistimewa karakter dan kehidupan sang penulis sendiri. Secara lengkap, inilah daftar seluruh cerpen dalam buku ini, beserta judul aslinya, meski ada satu cerpen yang tak kutemukan judul aslinya.

Gema Jantung Yang Tersiksa [The Tell-Tale Heart]
Pesan Dalam Botol [Manuscript Found In A Bottle]
Hop-Frog [Hop-Frog]
Potret Seorang Gadis [The Oval Portrait]
Mengarungi Badai Maelström [A Descent Into The Maelström]
Kotak Persegi Panjang [The Oblong Box]
Obrolan Dengan Mummy [Some Words With A Mummy]
Setan Merah [The Masque of the Red Death]
Kucing Hitam [Black Cat]
Jurang dan Pendulum [The Pit and the Pendulum]
Pertanda Buruk [??]
William Wilson [William Wilson]
Misteri Rumah Keluarga Usher [The Fall of the House of Usher]

Meski nampaknya semua kisah ini hanya kisah-kisah seram untuk memacu adrenalin kita, namun bila dicermati, sesungguhnya Poe juga hendak menyisipkan satu-dua pemikiran untuk kita renungkan.

Empat bintang kuhadiahkan untuk Edgar Allan Poe, yang tepat pada hari ini berulang tahun ke 203! Happy birthday Mr. Poe…terima kasih untuk cerpen-cerpen anda yang khas dan mempesona!

Judul: Kisah-Kisah Tengah Malam
Judul asli: Tales of Mystery and Terror
Penulis: Edgar Allan Poe
Penerjemah: Maggie Tiojakin
Editor: Hetih Rusli
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Desember 2010
Tebal: 248 hlm

Wednesday, January 18, 2012

Classic Books To Movies 2012

Tahun 2012 ini akan ada beberapa buku karya para penulis klasik yang akan di-filmkan:

The Great Gatsby karya F. Scott Fitzgerald

Jujur saja, aku tak begitu menikmati waktu membaca buku ini (dan tak pernah tamat membaca), tapi sepertinya filmnya akan lebih menarik, terutama karena adanya si ganteng Leonardo Di Caprio yang akan memerankan Jay Gatsby. Selain itu, ada Tobey MacGuire yang menjadi Nick Carraway, dan Carey Mulligan sebagai Daisy Buchanan. Filmnya akan mulai beredar tgl. 25 Desember 2012 di Hollywood. *harus nonton*


Great Expectations karya Charles Dickens

Hingga saat ini buku Great Expectations masih belum diterjemahkan, namun aku sempat menonton adaptasi filmnya yang versi 1998 dengan peran utama Ethan Hawke dan Gwyneth Paltrow. Tahun ini "remake"-nya akan memasang dua bintang kawakan: Ralph Fiennes (pemeran Voldemort di Harry Potter) dan Helena Bonham Carter (pemeran Bellatrix Lestrange di Harry Potter). Helena akan memerankan Miss Havisham yang eksentrik (cocok benar untuk Helena), sedang Ralph Fiennes menjadi narapidana bernama Magwitch. Tak sabar menanti film terbaru ini, yang hingga saat ini belum pasti tanggal mainnya.


Anna Karenina karya Leo Tolstoy

Ini juga salah satu buku klasik yang masih belum kurencanakan untuk membaca. Ngeri dengan ketebalannya! Tapi sepertinya film adaptasinya akan kutonton, karena siapa tahu setelah itu akan menarik minatku untuk membacanya? Keira Knightly telah dipasang sebagai pemeran Anna, didampingi oleh Jude Law sebagai suami Anna.


The Hobbit karya J.R.R. Tolkien


Yang akan beredar juga filmnya pada tgl. 14 Desember 2012, adalah novel epik modern, The Hobbit. Disutradarai oleh Peter Jackson, film ini akan bertabur bintang. Tak kurang dari Martin Freeman yang memerankan Bilbo, Orlando Bloom, Cate Blanchett dan Elijah Wood akan berkolaborasi di film ini. Kita tunggu saja apakah film ini akan menjadi sehebat bukunya (yang kebetulan aku juga belum baca...)

Thursday, January 12, 2012

Edgar Allan Po: Classic Challenge 2012–January #1

Satu lagi challenge yang kuikuti untuk blog ini, yang di-host oleh blog ini. Tantangan pertama adalah memilih min. 7 buku klasik untuk dibaca dalam tahun 2012 (yang ini sih bukan tantangan serius bagi blog ini). Tantangan kedua adalah memperdalam wawasan tentang buku klasik yang kita baca. Tantangan ini berubah setiap bulan, berdasarkan tema/topik yang akan ditentukan sang host.Untuk bulan Januari ini, kebetulan aku akan membaca 2 buku klasik: Kisah-Kisah Tengah Malam by Edgar Allan Poe (akan tayang tgl. 19 Januari 2012), dan Alice’s Adventures in Wonderland by Lewis Carroll (akan tayang 27 Januari 2012)—keduanya disesuaikan dengan tanggal ulang tahun masing-masing penulis.

Kali ini aku akan menjawab tantangan untuk buku klasik yang pertama. Temanya tentang si penulis klasik. Yuk intip sama-sama sekilas tentang Edgar Allan Poe:

The Author

[Level 1]

Who is the author?
Edgar Allan Poe, terlahir sebagai Edgar Poe.


What does he look like?

Awal melihat fotonya di Wikipedia, kesannya langsung “ih, seraaamm..”. Wajahnya serius dan cenderung muram, sudut bibirnya melengkung ke bawah. Kumisnya melengkapi kesan misterius pada dirinya. Dahinya yang lebar jelas menandakan kejeniusannya.


When was he born?
19 January 1809.


Where did he live?
Poe lahir di Boston, Massachussetts, USA. Pernah tinggal di Richmond, Virginia, lalu di London. Poe menghabiskan karir militernya di Amerika. Ia pernah tinggal selama th 1843-1844 di Philadelphia, di sebuah rumah yang disebut The Spring Garden. Rumah itu sekarang dilindungi oleh National Park Service, menjadi Edgar Allan Poe Historic Site

Rumah Poe yang dilindungi National Park Service di Philadelphia

Selain itu, di akhir hidupnya ia pernah tinggal di sebuah cottage kecil di Bronx, New York, yang kemudian dinamai Poe Cottage. Di rumah ini pula istrinya Virginia menghembuskan napas terakhirnya pada th. 1847.

Poe Cottage di Bronx, New York


What does his handwriting looks like?
Tanda tangan Edgar Allan Poe, dipinjam dari wikipedia:


Tulisan tangan Poe dalam surat yang berisi puisinya: The Raven, dipinjam dari fountainpennetwork.com . Aku memotong bagian awalnya saja:



What are some of the other novels he's written?
Satu-satunya novel utuh yang dihasilkan Poe adalah: The Narrative of Arthur Gordon Pym of Nantucket.


What is an interesting and random fact about his life?
Fakta paling menarik adalah misteri di seputar kematian Poe pada 7 Oktober 1849. Edgar Allan Poe ditemukan dalam keadaan stress di jalanan di Baltimore. Orang yang menemukannya, mengatakan Poe saat itu butuh pertolongan, lalu membawanya ke Rumah Sakit. Ia meninggal dunia di Rumah Sakit keesokan harinya tanpa pernah menjelaskan apa yang ia lakukan di jalanan Baltimore, mengenakan pakaian yang konon bukan miliknya. Semua fakta tentang kematian Poe menjadi misteri hingga saat ini. Ada yang bilang ia meninggal karena kebiasaannya minum minuman keras.

Fakta lainnya tentang Edgar Allan Poe telah aku tulis juga di Classic Authors of January.

Monday, January 9, 2012

Charlotte’s Web: Laba-Laba dan Jaring Kesayangannya

Charlotte’s Web—judul asli buku ini—adalah buku anak-anak klasik yang pernah memenangkan penghargaan, dan dinobatkan oleh Publishers Weekly sebagai “the best-selling children's paperback of all time as of 2000”. Sebenarnya aku lebih suka kalau judulnya setelah diterjemahkan tak perlu diubah, karena ‘Charlotte’s Web’ memiliki kekuatan tersendiri sebagai kisah anak-anak klasik. Atau paling tidak, sebaiknya judul aslinya tetap disertakan di cover depan, disertai dengan label ‘klasik’. Tanpa dua hal tadi, buku ini akan menjadi buku anak-anak saja, sedang dengan mengkategorikannya sebagai karya klasik, akan membuat buku ini diapresiasi lebih banyak pembaca. Jujur saja, awalnya aku tak tertarik membeli buku ini karena berpikir ini pasti cerita anak-anak biasa. Hanya setelah mengetahui bahwa ini adalah versi terjemahan Charlotte’s Web, aku langsung membelinya. Jadi…tentang apa Charlotte’s Web ini sesungguhnya?

Musim semi itu, pertanian keluarga Arable kedatangan ‘tamu’ yang tak biasa. Babi peliharaan mereka telah melahirkan seekor babi kerdil. Karena babi kerdil takkan laku dijual, maka wajar bila sebuah keluarga yang hidup dari pertanian memutuskan untuk membunuh saja babi tak berguna itu. Itu adalah pemikiran untung-rugi semata. Namun pemikiran seorang anak yang masih murni jelas berbeda. Anak perempuan Pak dan Bu Arable yang bernama Fern, mati-matian menentang pembunuhan babi yang menurutnya kejam. “Maksud Mama, Papa mau membunuhnya? Hanya karena ia lebih kecil dari yang lainnya?” ~hlm. 13. “Tapi ini kejam, Papa! Babi itu tidak mau terlahir kecil, kan? Kalau aku sangat kecil sewaktu lahir, apakah Papa akan menyuruh orang untuk membunuhku?” ~hlm. 14. Kalau dipikir-pikir, anak-anak memang lebih bijaksana daripada orang dewasa!

Fern pun akhirnya diijinkan memelihara anak babi kerdil yang diberinya nama Wilbur. Saat berusia lima minggu Wilbur dijual ke pertanian Zuckermann, di mana ia tinggal di ruang bawah tanah lumbung. Di tempat ini—yang dikisahkan dengan amat detail oleh E.B. White sehingga seolah-olah kita sendiri hidup di sana—Wilbur hidup dengan bahagia bersama teman-temannya. Ada tikus egois bernama Templeton, lalu pasangan angsa bersama anak-anaknya yang suka mengatakan sesuatu dengan pengulangan, ada juga domba dan keluarganya. Namun yang menjadi sahabat sejati Wilbur justru adalah Charlotte, seekor laba-laba kelabu besar yang membuat jaring di sudut ambang pintu.

Seperti layaknya di semua pertanian, babi dipelihara untuk disembelih, untuk kemudian menjadi bacon, ham dan daging babi asin yang menjadi santapan keluarga (rasanya setelah membaca Charlotte’s Web ini, tiap kali aku makan bacon atau lainnya, mau tak mau aku akan teringat tampang lucu Wilbur!). Wilbur mungil yang malang pun tak akan mampu menghindar dari takdirnya—hidup dan dipelihara untuk dibunuh—kalau saja tak ada si laba-laba bijaksana Charlotte! Charlotte telah berjanji untuk menyelamatkan hidup Wilbur. Bagaimana laba-laba yang kecil bisa menyelamatkan seekor babi? Semuanya mungkin, ketika dilandasi oleh persahabatan yang tulus.

Di suatu pagi berkabut, saat tetes-tetes embun masih menempel di mana-mana, terlihatlah sebuah pemandangan menakjubkan di lumbung Pak Zuckermann. Butir-butir embun membuat jaring laba-laba di ambang pintu itu terlihat seolah bersinar. Tapi yang lebih istimewa lagi, di tengah jaring itu tampak terpintal huruf-huruf yang membentuk kata-kata: ‘Babi Hebat’. Itulah hasil karya Charlotte semalaman demi menyelamatkan Wilbur. Ia berharap keluarga Zuckermann tidak akan menyembelih sahabatnya itu setelah melihat mukjijat yang dibuatnya. Mukjijat? Yah, kalau laba-laba yang mampu memintal kata dapat kau katakan sebagai mukjijat. Tapi sebenarnya, apa sih mukjijat itu? Menarik menyimak apa yang dikatakan Dokter Dorian saat mendengar kisah jaring Charlotte:

“…saya tidak mengerti bagaimana laba-laba belajar memintal jaringnya. Ketika kata-kata itu muncul, semua orang mengatakannya sebagai mukjijat. Tapi tak seorang pun yang menyadari bahwa jaring laba-laba itu sendiri adalah mukjijat.” ~hlm. 143.

E.B. White mengajak kita untuk lebih menghargai kehidupan. Jangan hanya karena kita sudah terbiasa merasakan sesuatu dengan indra kita, lantas kita menganggapnya sesuatu yang biasa. Semua yang diciptakan Tuhan adalah mukjijat, karena tak ada satu makhluk pun yang dapat melakukan hal yang sama.

Terlepas dari mukjijat atau bukan, nyatanya hasil karya Charlotte memukau banyak orang dan menjadikan Wilbur seekor selebriti. Dibantu oleh Templeton si tikus yang mencarikan contoh kata-kata dari potongan koran, Charlotte berturut-turut memintal kata “Dahsyat” dan “Cemerlang” untuk Wilbur. Hingga tiba saatnya Wilbur akan tampil di Pekan Raya, dan itulah momen yang tepat bagi Charlotte untuk mulai mengerjakan magnum opus [masterpiece] nya; serta mempersembahkan karya terakhirnya untuk menyelamatkan Wilbur. Mengapa terakhir? Yah…sebaiknya anda membaca sendiri bukunya.

Bagiku, Charlotte’s Web bukan sekedar kisah fabel yang imut. Di dalamnya kental dengan persahabatan, kesetiaan, bahkan pengorbanan. Sahabat yang baik adalah seseorang (atau dalam kisah ini seekor?) yang mau bersusah payah melakukan sesuatu demi sahabatnya, meski ia tahu dirinya sendiri akan tetap kasat mata dari dunia, dan sahabatnya lah yang akan menerima semua pujian dan kegemerlapan. Sahabat sejati rela turut bergembira bagi sahabatnya meski ia sendiri sedang sengsara.

Selain kisahnya sendiri, gaya penulisan E.B. White yang begitu “hidup” juga merupakan daya tarik tersendiri. Konon White pernah menjadi petani, dan dari tanah pertanian itu pula kisah ini lahir. Itu sebabnya penggambaran suasana di lumbung, dengan kebiasaan-kebiasaan hewan-hewan di buku ini terasa sangat nyata. Tak seperti fabel lainnya, Wilbur, Charlotte, Templeton, para angsa dkk. memiliki sifat dan kebiasaan kaumnya masing-masing, hanya saja mereka dibuat mampu membaca dan berbicara oleh imajinasi penulisnya. Kebiasaan hewan-hewan ini juga akan membantu memberikan wawasan dunia fauna bagi anak-anak.

Tokoh Wilbur terinspirasi dari pengalaman White yang memelihara babi untuk dibuat bacon, namun pada saat-saat terakhir ia tak tega dan malah berupaya menyelamatkan babi itu—meski gagal. Sedang tokoh Charlotte “lahir” dari pengamatan White akan seekor laba-laba kelabu yang membuat jaringnya di pertaniannya. Lalu mulailah imajinasi ‘bagaimana seandainya’ memenuhi kepala White, yang kemudian menuangkannya dalam kisah klasik sepanjang masa yang indah ini.

Empat bintang untuk Charlotte’s Web!


Catatan untuk Penerbit:
Aku merasa sedikit terganggu dengan (terlalu) banyaknya endorsement di halaman awal. Terhitung ada 28 endorsement yang menyita 5,5 halaman. Mengingat ini adalah kisah klasik, aku tak melihat perlunya penerbit membubuhkan endorsement. Kalau pun mau dicantumkan, lima endorsement rasanya sudah cukup, dengan memilih yang paling dapat mewakili isi buku. Menurut pengalamanku, buku yang memuat berderet-deret endorsement justru biasanya kurang berkualitas (maka perlu pembuktian dengan endorsement). Buku berkualitas (apalagi masuk kategori klasik) akan berbicara bagi dirinya sendiri.

Judul: Laba-Laba dan Jaring Kesayangannya
Judul asli: Charlotte’s Web
Penulis: E.B. White (Elwyn Brooks White)
Penerjemah: Dina Begum
Penyunting: Salahhudien Gz
Penerbit: Dolphin
Terbit: 2012
Tebal: 239 hlm

Sunday, January 1, 2012

Classic Authors of January

Di bulan pertama tahun 2012, kita akan memperingati sedikitnya tujuh penulis klasik tenar dunia yang berulang tahun pada bulan ini. Siapa saja mereka? Inilah kisahnya...

J.R.R. Tolkien

Meski lahir di Afrika Selatan pada tanggal 3 Januari 1892, John Ronald Reuel Tolkien adalah orang Inggris. Saat ia lahir, ayahnya tengah bertugas di Afrika. Kelak ketika dewasa Tolkien dikenal sebagai penulis, penyair, filologis, dan professor yang mengajar di universitas. Namun ia paling banyak dikenal sebagai penulis kisah fantasi klasik: The Lord of The Rings, The Hobbit (keduanya telah diterbitkan Gramedia) dan The Silmarillion. Tolkien ternyata pernah bersahabat dengan C.S. Lewis (penulis The Chronicles of Narnia).

Setelah kematiannya, putra Tolkien lah yang mempublikasikan karya-karya Tolkien. Meski Tolkien bukan penulis genre fantasi pertama, namun ia disebut sebagai “Bapak Literatur Fantasi Modern” karena dianggap menjadi tonggak kebangkitan kembali genre fantasi. The Times mencantumkan Tolkien di peringkat 6 dari “50 Penulis Inggris Paling Berpengaruh”.

Jacob Grimm (Brothers Grimm)

Bernama lengkap Jacob Ludwig Carl Grimm, Jacob Grimm yang lahir pada 4 Januari 1785, merupakan salah satu dari Grimm Bersaudara (Brothers Grimm) yang mengumpulkan dongeng-dongeng rakyat. Padahal selain dongeng-dongeng itu, Grimm Bersaudara juga menyusun Deutsches Wörterbuch (Kamus Bahasa Jerman). Jacob sendiri merupakan penemu Grimm’s Law (ilmu fonologi bahasa Jerman) dan penulis Deutsche Mytologie (Mitologi Jerman).

Jacob memang memiliki minat besar di bidang kebahasaan, meski ia seorang lulusan sekolah hukum bersama Wilhelm Grimm, kakaknya. Ia meninggal dunia di usia 78 tahun, dan tetap tekun bekerja hingga akhir hidupnya. Di luar pekerjaan, Jacob juga memiliki minat di bidang botani.

W. Somerset Maugham

William Somerset Maugham adalah seorang penulis drama, novel dan cerita pendek berdarah Inggris yang lahir pada 15 Januari 1874. Masa kecilnya mengalami masalah, baik di rumah pamannya yang kejam secara emosional, maupun di sekolah di mana ia sering diejek karena logat Inggrisnya jelek (bahasa ibunya dalah Prancis, di mana ia dilahirkan) dan tubuhnya yang pendek. Mungkin karena dua latar belakang itulah Maugham menderita gagap sporadis (tidak terus menerus). Untuk menyalurkan kebenciannya pada orang-orang yang menyakitinya, Maugham suka mengeluarkan perkataan yang menyakitkan hati. Latar belakangnya juga mempengaruhi karakter-karakter dalam karya literasinya.

Ia sempat kuliah di bidang kedokteran karena minatnya menulis belum dapat digeluti. Karya-karya besarnya meliputi: Of Human Bondage (ditulis sewaktu bergabung dengan unit ambulans saat perang), The Moon and Six Pence, The Magician dan Liza of Lambeth. Salah satu novelnya yang telah diterjemahkan adalah The Painted Veil (terbitan Gramedia).

Edgar Allan Poe

Siapa yang tak pernah mendengar nama ini: Edgar Allan Poe, sang penulis, penyair, editor dan kritikus sastra yang berasal dari Amerika? Beliau lahir di Boston pada 19 Januari 1809, dan pada usia amat muda menjadi yatim piatu. Ia dipungut--meski tak pernah secara resmi diadopsi--oleh John dan Francis Allan, dan sempat mengenyam pendidikan di universitas selama 1 semester, sebelum Poe drop out karena alasan biaya. Ia mulai terjun ke ranah sastra setelah bergabung dengan militer—dan gagal, dan berpisah jalan dengan keluarga Allan.

Tamerlane and Other Poems merupakan karya debutnya yang masih anonim. Setelah kematian istrinya, Poe mulai mempublikasikan jurnal sastranya sendiri yang bertajuk The Penn, lalu menjadi The Stylus. Sayangnya sebelum proyek itu terealisasi, Poe keburu meninggal dunia di Baltimore. Sebab kematiannya hingga kini masih menjadi misteri, semisterius cerpen-cerpen horror gothic dan detektifnya seperti: Kisah-Kisah Tengah Malam (sudah diterbitkan Gramedia) dan The Tales of Terror and Detection (diterbitkan oleh Liris). Di kumcer terakhir, muncul tokoh detektif ciptaan Poe, Auguste Dupin. Poe disebut-sebut sebagai pelopor penulisan cerpen, dan penemu kisah detektif.

Virginia Woolf

Mrs. Dalloway. To the Lighthouse. Orlando. Ketiganya adalah karya-karya klasik besar dari seorang wanita cantik, penulis asal Inggris bernama Adeline Virginia Woolf. Lahir di London pada 25 Januari 1882 dari orang tua yang pekerjaannya bergelut dengan buku, membuat Virginia terbiasa dengan dunia literasi Inggris klasik sejak kecil. Kematian mendadak ibu dan adik tirinya memberinya “nervous breakdown”. Ia lalu masuk sekolah khusus perempuan di London, yang kelak mempertemukannya dengan para pelopor gerakan ‘pendidikan lebih tinggi bagi wanita’. Kematian ayahnya dan pelecehan seksual yang dilakukan kakak laki-laki tirinya membuat Virginia depresi dan menderita ketidakstabilan mental.

Virginia mendapat nama Woolf dari suaminya, Leonard, dengan siapa ia bersama-sama mendirikan percetakan yang menerbitkan tulisannya dan banyak penulis lainnya. Virginia pernah menjalani hubungan seksual dengan sesama wanita bernama Vita Sackville-West, pengalaman yang kemudian tertuang di karyanya: Orlando, sebuah biografi fantasi. Ia dikenal sebagai salah satu penulis aliran modernis terdepan di abad 20.

Lewis Carroll

Lewis Caroll, si penulis kisah anak-anak klasik Alice’s Adventures in Wonderland dan Through The Looking Glass (keduanya diterbitkan Atria), adalah nama pena dari Charles Lutwidge Dodgson, yang lahir pada 27 Januari 1832 di Inggris. Saat di bangku sekolah, Lewir ternyata berotak brilian terutama pada bidang Matematika. Tapi ia malah berkarya di ranah religius di gereja Anglikan setelah menikah dengan sepupunya. Masa mudanya dilalui dengan sakit-sakitan: demam yang membuatnya tuli sebelah, pertusis, dan cedera yang membuat postur tubuhnya asimetris serta gagap. Konon Lewis gagap tiap kali bersama orang dewasa, namun ketika bersama anak-anak, gagapnya hilang. Kemungkinan gagapnya tokoh Dodo di Alice’s Adventures in Wonderland—yang adalah perwujudan karakter Lewis--merujuk pada gagapnya Lewis sendiri, meski tak ada bukti konkrit yang menunjang.

Lewis muda dikenal fasih mendongeng dan charades (semacam permainan kata dengan pamtomim). Ia mengenal baik sesama penulis Goerge MacDonald, dan bahkan berkat kesukaan putra MacDonald membaca Alice’s Adventures in Wonderland, maka Lewis memberanikan diri menerbitkan kisahnya itu. Tokoh Alice kemungkinan diinspirasi oleh kawan mungil Lewis yang bernama Alice Liddell, meski Lewis sendiri mengelak. Ide kisah Alice pertama kali muncul dalam salah satu acara bepergian Lewis bersama Alice dan teman-temannya, dan Alice lah yang mendorong Lewis untuk menuliskan kisah itu.

Anton Chekhov

Lahir pada 29 Januari 1860 di Rusia Selatan, Anton Pavlovich Chekhov merupakan salah satu penulis cerita pendek terbesar yang pernah dimiliki dunia. Ayahnya, meski tiran dan suka menyiksa, disebut Chekhov sebagai sumber bakat yang dimilikinya, sementara ia mewarisi jiwa ibunya. Sifat munafik yang ada di karya-karyanya ditengarai terinspirasi dari ayah Checkhov. Ketika ayahnya bangkrut dan membawa seluruh keluarganya jatuh miskin, Chekhov harus menanggung keluarganya dengan menulis cerita-cerita pendek sambil kuliah.

Setelah lulus dan menjadi dokter, Chekhov mendapati dirinya terkena TBC, yang disembunyikannya dari keluarga dan teman-temannya. Ia pun terus menulis cerita pendek. Lalu seorang penulis besar Rusia saat itu menyuratnya untuk menulis lebih sedikit namun lebih memperhatikan kualitas literasinya. Hal itu menyadarkannya. Karya pertamanya setelah "perubahan" itu adalah novella berjudul The Steppe yang menunjukan kedewasaan cara Chekhov menulis. Selain itu ia banyak menulis naskah drama, antara lain Three Sisters dan Cherry Orchard. Cerpen paling terkenalnya, The Lady with The Dog ditulis Chekhov setelah ia menikah. Kumpulan cerpennya sudah pernah diterbitkan oleh Serambi dengan judul Kenangan Cinta.

Itulah biografi singkat ke tujuh penulis klasik dunia untuk bulan Januari. Untuk memperingatinya, aku akan memilih 2 dari penulis di atas untuk kubaca karyanya. Yang mendapat kehormatan kali ini adalah Edgar Allan Poe dan Lewis Caroll. Bagaimana dengan anda? Sudahkah anda membaca karya-karya mereka? Kalau belum, mungkin bulan ini adalah saat terbaik untuk mengawalinya. Baca sama-sama yuk!

Friday, December 30, 2011

Kim

Membaca novel karya Rudyard Kipling ini, baru aku menyadari bahwa antara tahun 1830 hingga 1870 pernah terjadi peristiwa sejarah yang disebut The Great Game (Permainan Besar), yaitu perseteruan politik Kerajaan Inggris dan Kerajaan Rusia untuk berkuasa di Asia Tengah. Dalam buku yang masuk di urutan 78 dari 100 buku berbahasa Inggris terbaik abad 20 ini, Permainan Besar ini menjadi makin populer.

Kim adalah nama seorang bocah laki-laki yatim piatu yang suka berkeliaran di jalan-jalan kota Lahore. Nama aslinya Kimball O'Hara, putra seorang prajurit kulit putih di sebuah resimen Irlandia. Sebelum meninggal, ayah Kim mewariskan dokumen-dokumen yang menyatakan jatidiri Kim, yang lalu dijahit dalam paket yang senantiasa terkalung di lehernya. Meski berkulit putih dan putra seorang Sahib, Kim lebih suka berpakaian Hindu. Ia dijuluki Kawan Kecil dari Pelosok Dunia, dan kerjaannya meminta-minta di jalanan, sambil menjadi mata-mata kecil seorang pedagang kuda Pashtun bernama Mahbub Ali. Mengapa pedagang kuda butuh mata-mata? Karena pedagang kuda yang satu ini sejatinya adalah agen rahasia Inggris. Inilah jejak pertama intrik politik dalam kisah yang awalnya nampak sebagai kisah petualangan spiritual saja.

Suatu hari ketika sedang duduk di atas sebuah senjata yang disebut Zam-Zammah, takdir Kim mempertemukannya dengan seorang lama (biarawan) Tibet tua yang sedang melakukan Pencarian. Konon Sang Buddha pernah menembakkan anak panah dalam suatu kontes untuk melamar seorang gadis. Anak panah itu meluncur jauh, lalu menancap ke tanah. Dari sana keluarlah air dan akhirnya menjadi sungai. Sungai itu dipercaya dapat membersihkan seseorang dari segala dosa, dan disebut sebagai Sungai Anak Panah atau Sungai Penyemuhan. Sungai inilah yang hendak dicari sang lama demi melepaskan diri dari belenggu Roda Kebendaan. Seperti layaknya semua peziarah, sang lama membutuhkan seorang chela (murid) untuk melayaninya agar ia dapat fokus pada urusan spiritualnya. Kim yang berjiwa petualang segera menemani sang lama dan dengan demikian menjadi chela-nya.

Inilah Zam-Zammah yang benar-benar ada dan hingga kini masih dipajang di depan Museum Lahore, tempat pertemuan Kim dengan lama-nya di buku ini

Tugas seorang chela antara lain mengemis makanan dengan menggunakan mangkuk derma, dan menyiapkan tempat untuk tidur bagi sang lama dan dirinya sendiri. Dalam tugas pertamanya, Kim--tanpa menduga sama sekali, mulai terjerumus ke dalam intrik politik Permainan Besar. Mahbub Ali yang keberadaannya sudah dicurigai pihak musuh, mendapat ide untuk mengirim surat rahasia lewat perantaraan Kim. Siapa sih yang akan mencurigai dua orang peziarah miskin berpakaian kumal itu? Namun Kim yang cerdik tak serta merta percaya bahwa kabar yang dikirimnya berkaitan dengan kuda jantan putih. Dari mencuri dengar, ia tahu bahwa sesuatu yang besar dan penting sedang berlangsung.

Dalam kondisi itulah sang lama dan sang chela berangkat melakukan peziarahan. Sang lama fokus pada Pencariannya, sementara sang chela belumlah lega kalau tugas rahasianya belum terlaksana. Keindahan buku ini terletak pada--salah satunya, keindahan desa dan pegunungan di daerah-daerah yang dilalui Kim, juga semrawutnya kota-kota besar dalam kemiskinannya. Kipling dengan sukses membawa pembacanya seolah meneropong langsung budaya dan sosial India abad ke 19.

Sementara itu, Permainan Besar sedang diam-diam berlangsung. Meski tak diceritakan dengan detail, ketegangan mulai terbangun ketika satu persatu 'oknum' agen rahasia itu bersilangan jalan dengan sang lama (yang lugu dan tak menyadari adanya sesuatu yang tidak biasa) dan Kim. Menyadari kecerdikan dan keberanian Kim, agen rahasia bermaksud melatih Kim untuk menjadi seorang agen. Ia sempat mengenyam pendidikan yang menjadi hak anak seorang sahib, hingga tumbuh menjadi seorang pemuda.

Apakah yang akan terjadi kemudian? Berhasilkah Kim menjadi agen rahasia sungguhan? Bagaimana dengan Pencarian sang lama, akankah ia menemukan Sungainya?

Bila anda merasa asing dengan gaya penulisan Rudyard Kipling--yang telah diterjemahkan dengan baik oleh mbak Rini Nurul Badariah, jangan menyerah dan langsung menutup buku ini. Telan saja istilah-istilah asing yang bertebaran sedari awal halaman, dan kunyah saja perlahan kalimat-kalimat panjang di sana sini. Kalau mau, catatlah nama atau istilah yang terasa asing. Teruslah membaca sambil berusaha mencerna. Karena setengah bagian ke belakang, saat anda sudah mulai terbiasa dengan gaya penulisan Kipling, dan cerita mulai menegang dengan intrik politik dan mata-mata, anda akan keasyikan sendiri membaca buku ini.

Meski awalnya aku berencana memberi tiga bintang saja karena plot yang sulit dimengerti dalam buku ini, namun setelah membaca sampai akhir, aku berubah pikiran. Empat bintang kuberikan untuk buku ini. Gaya penulisan Kipling memang agak sulit dipahami, namun justru gaya itulah yang membuat buku ini sangat khas. Lama kelamaan, aku jadi suka juga dengan gaya Kipling bertutur....

Note:
Buku ini kubaca karena kebetulan Rudyard Kipling berulang tahun di bulan Desember. Sebagai hadiah, aku persembahkan review ini tepat di hari ulang tahunnya yang ke 146, hari ini: 30 Desember 2011. Happy birthday Paman Kipling!

Judul: Kim
Penulis: Rudyard Kipling
Penerjemah: Rini Nurul Badariah
Penyunting: Dhewiberta
Penerbit: Bentang Pustaka
Terbit: Juni 2011
Tebal: 453 hlm

Victorian Challenge 2012

Khusus untuk blog ini, aku akan ikut reading challenge dari blogger luar. Temanya sip deh... Victorian Challenge 2012. Tantangannya adalah membaca buku atau menonton film atau mendengarkan audio book yang berhubungan dengan jaman Victoria (ketika Ratu Victoria berkuasa), yang mencakup tahun 1837 sampai dengan 1901.

Ini nih rules-nya:

1. The Victorian Challenge 2012 will run from January 1st to December 31st, 2012. You can post a review before this date if you wish.

2. You can read a book, watch a movie, or listen to an audiobook, anything Victorian related that you would like. Reading, watching, or listening to a favorite Victorian related item again for the second, third, or more time is also allowed. You can also share items with other challenges.

3. The goal will be to read, watch, listen, to 2 to 6 (or beyond) anything Victorian items.

Setelah search di google, ada beberapa penulis yang membawa pengaruh jaman Victoria. Aku ambil 10 di antaranya yang akan kubaca buku-bukunya (dan kutonton filmnya) selama 2012 ini:

1. [DONE] -- Great Expectations by Charles Dickens

2. [DONE] -- Alice's Adventures in Wonderland by Lewis Carroll (video book)

3. [DONE] -- A Tale of Two Cities by Charles Dickens

4. [DONE] -- The Strange Case of Dr. Jekyll and Mr. Hyde by Robert Louis Stevenson

5. [DONE] -- The Adventures of Sherlock Holmes by Sir Arthur Conan Doyle

6. [DONE] -- Black Beauty by Anna Sewell

7. [DONE] --  Sketches by Boz by Charles Dickens

8. [DONE] -- The Old Curiosity Shop by Charles Dickens

9. [DONE] -- The Picture of Dorian Gray by Oscar Wilde

10. [DONE] -- The Importance of Being Earnest by Oscar Wilde

Ada yang mau ikut juga? Challenge ini bisa digabung dengan challenge lainnya juga.

Intip juga beberapa reading challenge yang kuikuti, siapa tahu ada yang cocok buatmu, di sini.