Friday, August 31, 2012

Germinal


[conclusion in English is at the bottom of this post]

Germinal adalah buku ketiga belas dari dua puluh novel dalam seri Rougon-Macquart karya Émile Zola. Bersetting di kota daerah pertambangan di Prancis pada akhir abad ke 19, di mana industri sedang mengalami kelesuan. Yang paling merasakan dampaknya (seperti biasa) adalah para pekerja pertambangan yang setiap hari harus bekerja keras di lubang-lubang kecil ratusan meter di bawah permukaan tanah untuk menambang batu bara; dengan resiko kehilangan nyawa setiap saat, demi mendapatkan upah yang sangat minim untuk sekedar dapat melanjutkan hidup dari hari ke hari.

Étienne Lantier tiba di distrik Montsou, pengangguran yang sedang mencari pekerjaan untuk menyambung hidup. Ia tiba di pertambangan Voureux, berkenalan dengan keluarga penambang bernama Maheu, yang kebetulan sedang membutuhkan seorang pekerja. Jadilah Étienne si pendatang baru dari kota lain, seorang pria muda yang lumayan tampan, suka membaca dan berpendidikan, menjadi salah satu penambang di situ. Lewat mata Étienne kita diajak melihat betapa kerasnya pekerjaan mereka, betapa penuh bahaya, dan betapa tidak manusiawinya perusahaan pertambangan itu memperkerjakan mereka.

Kemiskinan dapat terlihat di mana-mana, yang akhirnya menjalar pada kemerosotan moral keluarga penambang. Dengan upah yang pas-pasan mereka mempertaruhkan nyawa, dan seringkali karena kesalahan kecil mereka, upah yang sedikit itupun harus dipotong. Étienne mulai merasakan ketidakadilan di sana, dan mulai timbul dorongan untuk membuat perubahan. Ia mulai belajar dari beberapa buku, termasuk dari pelopor serikat buruh yang memperjuangan nasib pekerja di Paris. Bisa ditebak, Étienne mulai mempengaruhi para penambang dengan ide-ide perlawanan terhadap perusahaan untuk mendapatkan hak mereka. Sedikit demi sedikit, lewat rapat-rapat dan orasi-orasi, Étienne mengumpulkan partisan.

Kemudian momentum itu tiba, perusahaan memberlakukan peraturan baru, yang pada akhirnya menurunkan upah yang mereka terima. Upah yang sudah tak cukup itu harus kembali dikurangi. Maka mendidihlah kemarahan mereka, dan dengan segera mereka memutuskan untuk mengadakan demonstrasi dengan Étienne sebagai pemimpin mereka. Demonstrasi ini segera menyebar hingga hampir seluruh pertambangan harus berhenti berproduksi. Akankah mereka berhasil mencapai tujuan mereka, agar perusahaan makin memperhatikan kesejahteraan mereka, sementara perusahaan dan pemegang saham pun terkena imbas kelesuan dunia industri? Akankah yang lemah akhirnya menang?

Meski tampaknya novel ini dipenuhi ide-ide sosialisme, namun Zola berhasil meramunya dengan cantik. Selain Étienne, ada keluarga Maheu yang menjadi pusat cerita, belum lagi para penghuni kompleks pertambangan itu. Di sini kita seolah menyaksikan sendiri suka-duka mereka semua, bukan hanya soal pekerjaan, namun juga tentang cinta, keluarga, dendam, harapan, amarah, dan semua kompleksitas yang terajut dalam benang kehidupan manusia, dengan kemiskinan sebagai awal dari segalanya. Lewat Germinal kita bisa menyadari bagaimana kebejatan, nafsu membunuh dan kriminalitas biasanya bermula dari kemiskinan dan ketidakadilan. Sementara kita mengutuk tindak anarkisme dalam sebuah demonstrasi, lewat Germinal paling tidak kita tahu bagaimana kemarahan yang lama terpendam, dari generasi ke generasi, akan meledak hebat pada suatu saat, bak gunung berapi yang telah bertahun-tahun tidur, padahal selama itu sedang menggodok magma di perutnya, untuk suatu saat memuntahkannya dengan penuh kekuatan. Salahkah mereka? Atau siapakah yang sebenarnya bersalah?

Germinal menggabungkan ide Darwinisme (yang kuat akan memakan yang lemah) dengan sosialisme, menghentak dalam penggambaran dashyatnya kekuatan ‘yang lemah’ ketika mereka menggalang persatuan, serta dahsyatnya kemiskinan dalam merenggut hidup manusia. Kekuatan itu lalu dilembutkan Zola dengan metafora-metafora cantik, juga kisah cinta yang menyesakkan dada dalam thriller drama penyelematan di area tambang. Dan gabungan dari semuanya membuat Germinal sebuah kisah yang selalu relevan hingga kapanpun, bagi siapapun. Tak heran Germinal masuk (dan ia lebih dari layak untuk masuk kategori ini) dalam 1001 Books To Read Before You Die di urutan ke-824, karena memang, entah kapan, anda HARUS membaca buku yang dahsyat ini sebelum anda mati!

Lima bintang untuk Germinal!

Judul: Germinal [in English]
Penulis: Émile Zola
Penerbit: Wordsworth Classics
Terbit: 2007
Tebal: 478 p.



Conclusion:

Germinal is my third book of Zola, and I can say that it already becomes one of my favorites. Germinal is not only a story about the classic fight between workers and company, the poor and the have, it is also about the agony of poor working class. Germinal was written from Étienne Lantier’s (Gervaise’ son in L’Assommoir) point of view. He was an engine man came to a coal mining town Montsou to find a job. From his eyes, Zola took us to watch the sorrows of coal miners who worked hard under poor conditions for very small wages which could hardly support their poor lives. And for generations this condition has never changed; and they seemed to just accept it; to be overpowered by the bourgeoisie and the industrial machines called capitalism.

No matter how hard we might struggle, we probably wouldn’t change anything. The best is to try and live honestly in the place in which the good God has put us.” ~Maheude, p. 86

Until Étienne—a quite educated young man—appeared from nowhere, mingled with the settlemen, and little by little affected their way of thinking. They soon put him into their lead, with a dream to dethrone the wealth and to regain their freedom and rights. The question was, what was the best method to carry it; anarchism? Long term evolution? Or strikes?

Germinal was a combination of humanity, Darwinism and socialism, packed beautifully with metaphors and romance. This is the third Zola’s I’ve read so far, and compared to Therese Raquin and L’Assommoir (sorry, the reviews are still in Bahasa Indonesia). Germinal was less distressing and less striking. Yes, Zola still described poverty, hunger and moral degradation brutally to the most extremes, yet he still slipped a hope, a bigger hope for a better future in the end. Germinal was only the beginning, the seeds sowing of workers’ battle against the oppression of capitalism. Germinal would show the world that there is a possibility for the weak to fight the strong. It only took time and refinement, and one day the seeds that were now germinating would harvest perfectly and change the earth.

What interested me the most is the metaphors Zola used throughout this story. First of all, the way he described the surroundings in the mine from the eyes of the newcomer Étienne. Zola often used the terms of animal’s digestion in describing the mine pit.

And the Voureux, at the bottom of its hole, in contractions those of an evil beast, continued to grind away, breathing with a heavier and slower respiration, appearing troubled by its painful digestion of human flesh.

 “The shaft swallowed men by mouthfuls of twenty or thirty, and with so easy a gulp that it seemed not to feel them go down.

I only think, that it is the way Zola described capitalism which swallowed people and crushed them in poverty just like a monster digested human flesh; and what a beautiful metaphor they are indeed!

Zola also closed the story in a very beautiful and touching way. The rescue drama in the tumbling pit near the end of the story was really breathtaking, but approaching the end it was also warming my heart with love. And the final ending was superb! I love the final quote which brought a new hope for a better future, and look how Zola crafted it with nature’s elements of a new spring for the world, the most beautiful metaphor from this book.

Five stars (obviously) for Germinal, which have just become my new favorite!

20 comments:

  1. Belum pernah baca bukunya Emile Zola.. Klasik banget ya temanya mba :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maksudnya 'klasik' temanya? si miskin vs si kaya ya? Tema klasik yang tak pernah habis ceritanya...

      Delete
  2. Wah lima bintang! =)
    Kayaknya bener2 harus dibaca sebelum mati :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Katanya sih ini masterpiece-nya Emile Zola, jadi ya..harus dibaca sebelum mati! :)

      Delete
  3. Jujur aja belum tertarik baca buku ini...belom kenalan sama Bang Zola sama sekali sih :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang sebaiknya kamu baca Zola yg lain dulu, save the best for last ;)

      Delete
  4. waaah ditulis dalam dua bahasa.

    hhmmm, baru ngeh kalau Émile Zola itu bapak-bapak. Kupikir penulis wanita. Udah punya Therese Raquin di tumpukan. Semoga bisa baca secepatnya, jadi tahu gimana gaya nulisnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha...Emile Zola adalah Bapak genre naturalis, coba baca deh, biar tahu juga apa itu naturalisme.

      Delete
  5. wahaha kayaknya bagus nih, sama kayak Mel ak juga blm pernah baca karya Zola ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Germinal disebut2 masterpiece-nya Zola, Lis. Kalo mau coba, baca Zola yg ini saja.

      Delete
  6. Sekilas baca tadi aku pikir judulnya Terminal mba *salah fokus*

    Soal ketidakadilan, massa yg berjuang dg demonstrasi, dan nilai2 sosialisme yg diangkat. Kayaknya memang harus baca buku ini nih, terkait sama keadaan sosial politik negara kita juga kan ya, kayaknya mirip2 situasi di buku itu. Sudah ada terjemahannya kah?

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha...itu kan filmnya Tom Hanks sama Catherine Zeta Jones *fokus makin melenceng*
      Sayangnya belum ada terjemahannya...

      Delete
  7. A new favorite? Congrats! -Sarah

    ReplyDelete
  8. belum baca Zola juga nih, tapi mungkin suatu saat nanti

    ReplyDelete
    Replies
    1. Harus baca, terutama yg Germinal ini, temanya universal!

      Delete
  9. ahhh zola, zola...belum sempat mengenal karyanya =) ceritanya bener2 tak lekang oleh waktu kayaknya... knp judulnya germinal ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Judulnya Germinal (diambil dari kata "germination" karena temanya ttg bibit2 kesadaran yg mulai tumbuh.

      Delete
  10. I've just started Germinal on my e-pad which means I will be reading it slowly. I only skimmed you review so that it wouldn't spoil anything for me...I'll come back when I've finished it :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. And I can't wait to read your thoughts, I loved this book so much!

      Delete

What do you think?