Thursday, March 1, 2012

Character Thursday (1)

Akhirnya menemukan theme yang keren untuk blog hop perdanaku. Eh…apa itu blog hop?

Blog Hop adalah..

Blogger-blogger yang menerbitkan posting dengan sebuah tema yang sama pada waktu bersamaan. Blog Hop ini memiliki seorang host (yang menentukan tema & aturannya). Nantinya para peserta dapat mencantumkan link postingnya di blog sang host.

Apa gunanya Blog Hop?

-Bagi sang host, akan menambah traffic atau follower ke blognya.
-Bagi peserta, akan menambah traffic bagi blognya, karena linknya tercantum di blog sang host.
-Khususnya bagi komunitas Blogger Buku Indonesia (BBI), akan mempererat jalinan persahabatan antar blogger, karena dengan Blog Hop kita lebih mudah mengunjungi blog-blog yang linknya tercantum.
Dan yang jelas, Blog Hop adalah kegiatan yang menyenangkan bagi blogger buku untuk berbagi pengalamannya dengan buku dan baca buku.

Yuk kita langsung intip blog hop bikinanku ini…

Character Thursday

Adalah book blog hop di mana setiap blog memposting tokoh pilihan dalam buku yang sedang atau telah dibaca selama seminggu terakhir (judul atau genre buku bebas).
- Kalian bisa menjelaskan mengapa kalian suka/benci tokoh itu, sekilas kepribadian si tokoh, atau peranannya dalam keseluruhan kisah.
- Jangan lupa mencantumkan juga cover buku yang tokohnya kalian ambil.
- Kalau buku itu sudah difilmkan, kalian juga bisa mencantumkan foto si tokoh dalam film, atau foto aktor/aktris yang kalian anggap cocok dengan kepribadian si tokoh.

Syarat Mengikuti :

1. Follow blog Fanda Classiclit sebagai host, bisa lewat Google Friend Connect (GFC) atau sign up via e-mail (ada di sidebar paling kanan). Dengan follow blog ini, kalian akan selalu tahu setiap kali blog ini mengadakan Character Thursday Blog Hop.
2. Letakkan button Character Thursday Blog Hop di posting kalian atau di sidebar blog, supaya follower kalian juga bisa menemukan blog hop ini. Kodenya bisa diambil di box di bawah button (cukup copas saja kode itu di posting atau di sidebar kalian).
3. Buat posting dengan menyertakan copy-paste “Character Thursday” dan “Syarat Mengikuti” ke dalam postingmu.
3. Isikan link (URL) posting kalian ke Linky di bawah ini. Cantumkan nama dengan format: "Nama blogger @ nama blog", misalnya: Fanda @ Fanda Classiclit.
4. Jangan lupa kunjungi blog-blog peserta lain, dan temukan tokoh-tokoh pilihan mereka. Dengan begini, wawasan kita akan bertambah juga dengan buku-buku baru yang menarik…

Fanda Classiclit




----

Nah, tokoh pilihan dalam buku yang kubaca sel
ama minggu ini adalah…

M. Hercule Poirot
(Pembunuhan Atas Roger Ackroyd by Agatha Christie)

Sejak aku membaca novel-novel Agatha Christie di bangku SMP, aku sudah jatuh cinta pada sosok Monsieur Poirot, sang detektif partikelir dengan kepala bulat telur dan kumis kakunya, dan…jangan lupakan…sel-sel kelabu di otaknya! Sebagai sosok manusia biasa, Poirot itu sosok yang kebapakan dan penuh perhatian, terutama pada orang-orang yang ia sayangi. Sebagai detektif, ia memiliki kharisma dan pengetahuan psikologis yang bagus sehingga dapat mengenali kepribadian seseorang dan bagaimana cara membuatnya (saksi atau si pembunuh) mengatakan kebenaran yang enggan mereka ungkapkan pada orang lain.


Inilah mungkin yang membedakan Poirot dengan Sherlock Holmes. Kalau Holmes memposisikan diri sebagai detektif, Poirot lebih meletakkan diri sebagai sahabat bagi semua yang mungkin terlibat dalam peristiwa pembunuhan.

So…who is your Character Thursday this week?

Yuk ikutan! Langsung saja masukkan linkmu di bawah ini ya…



Wednesday, February 29, 2012

The Murder of Roger Ackroyd

Andai pria eksentrik yang sudah pensiun dari profesinya itu tidak memilih kota kecil bernama King’s Abbot untuk melewatkan masa tuanya dengan bertanam labu, pasti pembunuhan itu takkan pernah terungkap.

Serangkaian peristiwa kematian telah terjadi di kota kecil King’s Abbot. Setelah Mr. Ferrars meninggal—banyak orang menduga ia diracuni istrinya—kini King’s Abbot tiba-tiba dikejutkan oleh kematian sang janda itu sendiri. Di rumah Dokter Sheppard terjadi pembicaraan seru akan penyebab kematian Nyonya Ferrars. Caroline, kakak perempuan Dokter Sheppard yang kerjaannya mengorek informasi—dan menyebarkannya secepat ia mendapatkannya—yakin bahwa Nyonya Ferrars bunuh diri karena menyesali perbuatannya. Benarkah demikian?

Selama ini desas-desus telah menyebar di kota bahwa Nyonya Ferrars adalah kekasih Roger Ackroyd, pria terkaya di kota yang memiliki rumah besar bernama Fernly Park. Kematian Nyonya Ferrars mengejutkan Ackroyd, maka ketika ia berjumpa dengan Dokter Sheppard sahabatnya, Ackroyd pun mengundang sang dokter untuk makan malam di rumahnya.

Sementara itu keluarga Sheppard memiliki hal lain yang patut diperdebatkan. Yaitu kedatangan tetangga baru misterius mereka di rumah sebelah. Seorang pria tua pensiunan dari—entah apa pekerjaannya—yang ingin menyendiri dari kebisingan dunia. Caroline yang jago mengorek rahasia orang pun menyerah kalah dan tak bisa menebak jati diri pria misterius yang sedang gemar bertanam labu itu.

Kembali ke Fernly Park, saat Dokter Sheppard datang untuk makan malam, kita pun diperkenalkan kepada tokoh-tokoh kisah ini. Ada Mrs. Ackroyd, ipar Roger Ackroyd yang menjanda; lalu Flora Ackroyd putrid semata wayangnya. Lalu para bawahan Ackroyd: Raymond sang sekretaris efisien, Mrs. Russel si pengurus rumah tangga, dan Parker si kepala pelayan. Dari luar keluarga, ada Hector Blunt—sahabat keluarga yang pendiam dan sedang menginap di sana. Sebenarnya Ackroyd memiliki seorang putra yang bandel dan sering terlibat kesulitan bernama Ralph Paton, yang saat itu sedang jauh dari rumah.

Malam itu merupakan malam terakhir Roger Ackroyd di dunia. Karena hanya beberapa saat setelah Dokter Sheppard tiba di rumah kembali, sebuah panggilan telepon masuk membawa berita bahwa Roger Ackroyd ditemukan telah meninggal dunia di ruang kerjanya. Pasti itu terjadi gara-gara surat yang diterimanya malam itu. Surat terakhir Nyonya Ferrars yang mungkin akan mengungkap jatidiri orang yang selama ini memerasnya. Pemerasan yang harus ia alami karena ada orang yang mengetahui bahwa ia telah meracuni suaminya. Pemerasan yang terlalu menekannya sehingga membuatnya mengambil keputusan untuk bunuh diri. Itulah sebabnya Roger Akroyd kini harus mati…

Polisi segera dipanggil, dan penyelidikan pun segera berlangsung. Namun Flora Ackroyd secara pribadi mengajak Dokter Sheppard untuk berkunjung ke rumah si tetangga misterius, yang ternyata tak lain dan tak bukan adalah Hercule Poirot yang sedang menjalani masa pensiunnya! Ya, M. Poirot sang detektif ternama yang telah membongkar banyak misteri pembunuhan itu ternyata tinggal di King’s Abbot. Dan gara-gara pembunuhan Roger Ackroyd, buyarlah rencananya untuk menyepi sambil bertanam sayuran.

Seperti biasanya Hercule Poirot langsung beraksi dengan keunikan-keunikannya—dibantu oleh sel-sel kecil kelabu otaknya yang sangat dibanggakan itu. Menggantikan posisi Hastings, sahabat yang dikasihi dan dirindukannya, ia menawarkan kesempatan kepada Dokter Sheppard untuk menyelidik bersama. Satu persatu petunjuk terkuak, dan tiap kali selalu menunjuk ke Ralph Paton sebagai pelakunya. Motif, kesempatan, dan kenyataan bahwa Ralph menghilang begitu saja begitu pembunuhan itu terjadi. Benarkah ia pelakunya? Atau seperti biasanya, si pelaku adalah orang yang paling tak mungkin sebagai pelakunya?

The Murder of Roger Ackroyd ini ditulis dalam bentuk sebuah catatan yang ditulis oleh Dokter Sheppard (mencontoh Hastings). Dengan demikian, kisah ini dituturkan dari sudut pandang orang pertama. Dengan piawainya Agatha menulis buku ini seolah memang ditulis oleh pribadi Dokter Sheppard. Seolah lewat kisah ini pula kita mengenal Dokter Sheppard secara personal. Yang jelas, ada perbedaan yang signifikan dengan gaya penulisan kasus Poirot yang dikisahkan oleh Hastings.

Sebenarnya ini adalah kali ketiga aku membaca buku ini. Waktu pertama membaca, aku baru bisa menduga-duga pelakunya pada bab terakhir. Dan memang, kasus ini adalah kasus yang paling tak terduga endingnya dari semua karya Agatha Christie yang pernah kubaca. Bahkan saat kedua dan ketiga aku membaca ulang, aku masih terkesima dengan kepiawaian Agatha untuk menyusupkan petunjuk-petunjuk mulai dari awal kisah. Seperti yang selalu dikatakan Poirot kepada Hastings maupun Dokter Sheppard, kita selalu disediakan semua petunjuk yang ada dari semula. Yang harus kita lakukan adalah tidak mempercayai suatu fakta sebelum terbukti kebenarannya. Dengan membersihkan otak (dan emosi) dari semua praduga, maka mungkin kita akan bisa menyelami pikiran Hercule Poirot dengan sel-sel kelabu kecil milik kita sendiri. Tapi…kalau kita telah tiba pada tahap itu, bukankah membaca novel misteri Agatha Christie akan menjadi membosankan? Aku pribadi lebih suka menikmati kisah-kisah ini apa adanya, apalagi Agatha selalu menyediakan studi psikologi yang menarik dari profil pembunuhnya, seperti juga si pembunuh Roger Ackroyd di kisah ini. Sangat menarik!

Pembunuhan Atas Roger Ackroyd—yang menjadi judul terjemahan buku ini—merupakan salah satu dari 3 karya terfavoritku dari Agatha Christie. Buku ini juga satu-satunya karya Agatha yang masuk ke dalam daftar 1001 books to read before you die. Lima bintang untuk buku ini!

Judul: The Murder of Roger Ackroyd
Judul terjemahan: Pembunuhan Atas Roger Ackroyd
Penulis: Agatha Christie
Penerjemah: Maria Regina
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Terbit: 1990
Tebal: 338 hlm

Tuesday, February 28, 2012

[A Classic Challenge] February #2: Dr. Sheppard

Untuk A Classic Challenge bulan Februari yang kedua, aku mengambil seorang tokoh dari buku The Murder of Roger Ackroyd by Agatha Christie (awas **SPOILER** Jangan teruskan membaca kalau anda belum membaca bukunya!) :

**Dokter Sheppard**

What phrases has the author used to introduce this character?
Inilah uniknya! The Murder of Roger Ackroyd ini ditulis seolah-olah sebagai catatan yang ditulis oleh Dokter Sheppard sendiri, maka tentu saja tak pernah ada perkenalan khusus terhadapnya. Kita hanya membaca terus, dan akhirnya tahu sepotong demi sepotong tentang dirinya. Dan setelah kupikirkan lagi, ternyata hingga tamat membaca, aku masih belum “kenal” sepenuhnya dengan Dokter Sheppard. Mungkin karena ia memang tak suka menonjolkan diri di dalam tulisannya, persisi seperti kata Hercule Poirot.

What are your first impressions of them?
Aku membayangkan Dokter Sheppard sebagai pria tua yang “lembek” dan tak berani melakukan hal-hal besar. Hal itu juga tersirat dari perkataan Caroline bahwa Dr. Sheppard selalu lemah dalam kepribadian. Juga dari fakta bahwa menurut Hercule Poirot, Dr. Sheppard selalu “sembunyi di balik layar” dalam catatan yang ditulisnya mengenai kasus pembunuhan Roger Akcroyd.

Find a portrait or photograph that closely embodies how you imagine them.

Sosok Dokter Sheppard dalam film

How has the character changed?
Meski awalnya aku mengira Dr. Sheppard tak berani melakukan hal-hal besar, tapi kenyataannya, ia justru sanggup membunuh dengan darah dingin.

Has your opinion of them altered?
Saat pertama membaca, aku memang menganggap Dr. Sheppard sebagai pengganti Hastings, yakni pendamping Poirot dalam menyelidiki suatu kasus, sekaligus menuliskannya sebagai (calon) buku. Tapi saat mengetahui endingnya, yah…tentu saja kini aku melihat Dr. Sheppard sebagai pembohong. Tapi kalau melihat bahwa ia memang berkepribadian lemah, sebenarnya tak heran juga bahwa ia akan jadi pemeras.

Are there aspects of their character you aspire to? or hope never to be?
Tak ada yang layak diteladan dari sosok Dokter Sheppard, justru aku berharap takkan pernah keinginan untuk membunuh melintas di pikiranku walau sedetikpun, seburuk apapun keadaanku. Selalu ada titik terang di ujung terowongan gelap!

What are their strengths and faults?
Kekuatannya? Hmm…harusnya keahlian Dokter Sheppard dalam mengutak-atik mesin digunakan untuk hal yang lebih berguna, ketimbang untuk menciptakan alat bantu pembunuhan…

Kelemahannya sangat jelas. Uang. Serakah. Itulah yang awalnya membuat ia melihat peluang untuk melakukan pemerasan. Lagipula sosok seperti Dokter Sheppard hanya focus pada diri sendiri, tak sekalipun ia memikirkan diri Ralph Paton yang hendak ia jadikan kambing hitam. Ia juga tak menyesali perbuatannya pada Nyonya Ferrars yang membuat si janda bunuh diri, atau pada Rober Ackroyd yang selama ini mempercayainya.

Do you find them believable? If not, how could they have been molded so?
Di dunia ini sangat banyak pribadi-pribadi lemah, tamak seperti Dokter Sheppard.

Would you want to meet them?
Tidak. Sama sekali tidak!

Sunday, February 26, 2012

Les Miserables

Les Miserables. Dua kata dalam bahasa Prancis yang semenjak aku kecil telah menarik hatiku. Padahal saat itu aku bahkan tak tahu apa artinya. Selain merupakan judul buku karya salah seorang penulis klasik terbesar dunia--Victor Hugo, Les Miserables juga telah banyak dimainkan sebagai drama maupun film. Baru tahun ini aku berhasil mendapatkan versi terjemahannya (berkat penerbit Bentang Pustaka). Ternyata, arti kata Les Miserables tidaklah seeksotik kedengarannya. Les Miserables dapat diartikan sebagai para jembel (the miserable ones atau the poor ones). Memang bahasa Prancis selalu mampu menyulap semua kata menjadi terdengar indah bukan?

Kembali pada Les Miserables, novel ini bernuansa ganda. Di satu sisi, Hugo hendak menyoroti situasi sosial di Prancis--khususnya Paris pada sekitar tahun 1832, di mana para jembel--atau yang dalam kisah ini diwakili mahasiswa dan masyarakat menengah ke bawah, melakukan pemberontakan yang disebut Pemberontakan bulan Juni (June Rebelion). Di sisi lain, Hugo juga ingin menggambarkan bagaimana kebaikan dan kejahatan selalu berperang dalam batin manusia. Dengan kata lain, manusia selalu memiliki dua sisi, sisi baik dan sisi jahat yang selalu berperang. Sisi mana yang akan menang, semua tergantung pada diri kita sendiri. Namun bagaimana pun juga, sisi gelap manusia akan selalu membayanginya, sekeras apapun ia berusaha memenangkan sisi baiknya.

Dalam kisah ini, Hugo memakai tokoh Jean Valjean untuk menggambarkan "perang" itu. Gara-gara mencuri sepotong roti, lalu dihukum kerja paksa di sebuah kapal, menjadikan jiwa Valjean muda menjadi gelap. Setelah sembilan belas tahun mengalaminya, ia akhirnya bebas. Bebas dari kerja paksa, namun tak bebas dari stempel "narapidana" yang terus menempel pada dirinya. Dan kalau kita membaca terus, tampaknya pengaruh buruk dari penghukuman itu juga terus membayangi dirinya.

Valjean tiba di kota D____ (yang identitasnya disembunyikan dalam versi novel ini, dan sebenarnya adalah kota Digne), dan merasakan keramahan dan kepercayaan seorang uskup yang baik hati. Meski perlakuan baik sang Uskup menghangatkan hatinya, mau tak mau kecenderungan untuk berbuat jahat tetap muncul dalam diri Valjean. Valjean lalu melarikan diri ke kota M___ sur M___ (Montreuil sur Mer), dan berkat kecerdikannya, berhasil menjadi pengusaha dengan menggunakan nama Monsieur Madeleine. Ia bahkan akhirnya menjadi walikota. Namun bayangan kejahatannya di masa lampau kembali mengejarnya dalam bentuk seorang Inspektur Polisi berdedikasi bernama Javert. Di sini sisi baik dan sisi jahat Valjean berperang lagi.

Melarikan diri lagi, Valjean pun bertemu dengan tokoh-tokoh lainnya di novel ini, perempuan malang bernama Fantine yang memiliki putri kecil bernama Cosette. Fantine menitipkan Cosette pada keluarga Thenardier, yang ternyata adalah keluarga jahat dan pemeras. Valjean lalu menjadikan Cosette putrinya, dan berpindah lagi ke ibukota Prancis, Paris. Meski selama itu Valjean berusaha hidup dengan baik, bayangan kelam masa lalu tetap mengikutinya. Ketika Cosette dewasa dan mulai jatuh cinta pada pemuda Marius, Paris dilanda pemberontakan oleh mahasiswa dan masyarakat miskin. Mau tak mau, para tokoh kita pun terlibat di dalamnya. Bermunculan juga di bagian ini para tokoh mahasiswa.

Terus terang, aku agak terganggu dengan narasi panjang yang disuguhkan Hugo mengenai ekskalasi politik yang berujung pada pemberontakan, yang memang tercatat dalam sejarah Prancis itu. Aku hampir tertidur membaca bagian ini, padahal aku tengah penasaran untuk mengetahui kelanjutan nasib Jean Valjean dan Cosette. Akhirnya aku terpaksa melompati beberapa bagian yang kurasa tak penting dan tak berkaitan langsung dengan kisah utama. Jujur saja, aku agak kecewa dengan Les Miserables ini. Aku lebih menyukai karya Victor Hugo lainnya, yaitu The Hunchback of Notre Dame yang sama-sama bersetting di Prancis.

Tampaknya, Hugo memiliki dua fokus cerita yang kemudian berusaha ia jalin menjadi satu. Antara sejarah sosial dan pergulatan batin seseorang. Menurutku sah-sah saja, namun kadang menjadikan novel ini jadi kehilangan gregetnya. Belum lagi, karena ada dua fokus cerita, tokoh-tokohnya menjadi begitu banyak, sehingga aku seringkali 'tersesat'. Untunglah endingnya lumayan menawan, sehingga memberikan kesan mendalam setelah Anda membacanya. Bagaimana pun, cara bertutur Victor Hugo yang khas dan menghibur tetap tak menghalangiku untuk meneruskan kisah ini hingga tamat, dan memberikan empat bintang baginya.

Review ini kupersembahkan sebagai hadiah ulang tahun Victor Hugo yang jatuh tepat pada hari ini, tanggal 26 Februari 2012. Happy Birthday opa Hugo!

Judul: Les Miserables
Penulis: Victor Hugo
Penerjemah: Anton Kurnia
Penerbit: Bentang Pustaka
Terbit: Juli 2008
Tebal: 602 hlm

Tuesday, February 21, 2012

[Classic Movie] Treasure Island


Buku karya Robert Louis Stevenson yang berjudul Treasure Island telah beberapa kali difilmkan. Kali ini yang kutonton adalah mini seri produksi BSkyB (UK) yang beredar awal tahun 2012. Diproduseri Laurie Borg, miniseri terbaru ini didukung oleh
beberapa nama besar seperti Elijah Wood yang memerankan Ben Hunn (anak buah Kapten Flint yang terdampar di Treasure Island), dan Donald Shutterland yang hanya muncul sekilas sebagai Kapten Flint.

Namun yang tampil paling menonjol di sini menurutku justru Eddie Izzard yang memerankan Long John Silver, si bajak laut berkaki satu dengan burung kakaktua-nya yang kemudian menjadi model bajak laut-bajak laut modern. Dengan ram
but plontos, tubuh atletis, mata tajam dan senyum sinis, Eddie Izzard suskes menghidupkan karakter Long John yang cerdik, tenang, disegani dengan sedikit humor. Ditambah ganteng pula!

penampakan asli Mr. Eddie Izzard

Sebaliknya, si tokoh utama protagonisnya, yaitu Jim Hawkins malah tenggelam dalam pesona Silver. Diperankan oleh Toby Regbo, di sini Jim masih tergambar sebagai cowok alim yang tiba-tiba terseret ke dalam petualangan berbahaya. Masih pas di awal cerita ketika ia ketakutan melihat Billy Bones (orang Jamaika di film ini) datang ke penginapan Admiral Benbow. Namun, ketika Jim Hawkins yang sama bertindak heroik menyelamatkan kapal Hispaniola dari tangan anak buah Silver, rasanya Toby Regbo agak terlalu “feminin”. Dokter Livesey yang di buku terkesan orang yang teguh dan berani, digambarkan agak terlalu feminin juga, serta agak pengecut di film ini. Yang perlu diacungi jempol juga adalah penampilan Elijah Wood sebagai Ben Hunn, yang terus terang saking “anehnya”, aku sampai tak mengira bahwa sosok di balik Ben Hunn yang memakai warna putih di sekitar mata itu adalah Elijah Wood.

Yang menarik (atau mengesalkan?) beberapa hal yang seingatku berbeda dari bukunya. Yang pertama adalah tokoh Mr. Trelawney—si hakim yang berangkat bersama dengan Jim dan Dokter Livesey memburu harta karun ke Treasure Island naik kapal Hispaniola. Di versi miniseri ini, Mr. Trelawney digambarkan sebagai tokoh yang angkuh dan serakah. Bahkan endingnya cukup mencengangkan [spoiler], saat di kapal dalam perjalanan pulang, Mr. Trelawney digambarkan ingin mengangkangi harta yang berhasil mereka angkut dari Treasure Island. Jim cepat-cepat memotong tali jala yang menghubungkan harta karun itu ke kapal, dan dengan demikian harta karun itu terjun bebas ke laut. Dan coba terka, apa yang dilakukan Mr. Trelawney? Ia ikut terjun ke laut, dan saking serakahnya hingga tak memedulikan nyawanya sendiri. Jelas berbeda dengan versi asli bukunya!

Yang kedua, keberadaan wanita kulit hitam yang digambarkan sebagai istri Long John Silver. Di versi aslinya, ia hanya disebutkan sepintas saja, tapi tak berperan di kisahnya. Di miniseri ini, ia dikisahkan berusaha mencuri perhiasan ibu Jim Hawkins yang terusir dari rumahnya yang disita. Rasanya, ibu Jim Hawkins juga tak dikisahkan tersendiri di bukunya.

Secara keseluruhan, versi miniseri ini lebih “dewasa” dan lebih menegangkan dari versi buku aslinya. Adegan-adegan di tengah lautan dan sosok para bajak lautnya juga asyik. Dan bagaimana pun, adaptasi kisah klasik selalu menggiring kita untuk bernostalgia kan? Dengan begini kita justru akan selalu ingat akan kisah-kisah menawan yang terus bergema sepanjang masa dari para penulis klasik dunia!

Trailer miniseri Treasure Island bisa dilihat di sini:

Friday, February 17, 2012

Back to The Classics Challenge 2012


Satu lagi reading challenge yang kuikuti untuk blog ini. Hosted by blogger luar, inilah challenge-nya. Ssstt...challenge ini ada hadiah undiannya kalau kita sukses menyelesaikan semua tantangannya.

  1. Challenge runs from January 1, 2012 through December 31, 2012. Books started before January 1st do not count, and all links/reviews/comments for each category must be posted in the correct place by December 31st. Feel free to join in at any time, but the end date is December 31.
  2. Please feel free to use books in this Challenge toward any other Challenge you may be participating in. However, you must read a different book for each category of this challenge. Audio and e-books are allowed.
  3. Please sign up for the Challenge using the linky list (or comment section if you do not have a blog/website). If you would be so kind, please spread the word about this challenge by creating a post on your blog/website and link back to this sign up page.
  4. Once the Challenge has begun, you will see a new bar on the left hand side of this blog. This will list the places for you to link/comment your reviews of the book you have read for each category as well as a "wrap up" page. I will not be doing monthly check-in posts this year. I will probably do a "Half Way" post in June. These will be important because....
  5. THERE IS A PRIZE THIS YEAR! People who complete the challenge (and I will check that all categories are completed!) will be entered into a random drawing for $30 worth of books (Book Depository will be used for an International Winner). I may have other prizes as well. Make sure you are following me via GFC, Email, Twitter, or Facebook/Networked Blogs so you are in the know!

Dan ini kategory tantangan yang harus kita selesaikan, beserta calon buku yang akan kubaca untuk masing-masing tantangan:


Any 19th Century Classic -- The Picture of Dorian Gray by Oscar Wilde (READ)

Any 20th Century Classic -- Lord of the Flies by William Golding (READ)


Reread a classic of your choice -- The Murder of Roger Ackroyd by Agatha Christie (READ)

A Classic Play -- A Midsummer Night's Dream -- by William Shakespeare (READ)

Classic Mystery/Horror/Crime Fiction -- The Adventures of Sherlock Holmes by Sir Arthur Conan Doyle (READ)


Classic Romance -- Love in the Time of Cholera by Gabriel Garcia Marquez (READ)


Read a Classic that has been translated from its original language to your language -- A Tale of Two Cities by Charles Dickens (READ)
To clarify, if your native language is NOT English, you may read any classic originally written in English that has been translated into your native language.


Classic Award Winner -- Gone With The Wind by Margaret Mitchell
To clarify, the book should be a classic which has won any established literary award. (READ)


Read a Classic set in a Country that you (realistically speaking) will not visit during your lifetime -- Doctor Zhivago by Boris Pasternak (READ)
To Clarify, this does not have to be a country that you hope to visit either. Countries that no longer exist or have never existed count.


Total ada 9 kategori yang boleh kita selesaikan hingga akhir tahun ini. Tertarik? Silakan meluncur ke sini.

Thursday, February 16, 2012

[A Classic Challenge] February #1: Sidney Carton

Tema tantangan challenge ini untuk bulan Februari adalah : “Character”. Aku akan bikin dua kali, masing-masing untuk buku klasik yang aku baca bulan ini. Ini yang pertama, diambil dari A Tale of Two Cities by Charles Dickens:

**Sydney Carton**

What phrases has the author used to introduce this character?
Penulis menyisipkan tokoh Sydney Carton beberapa kali sebelum pembaca mengetahui siapa dia. Secara garis besar, Carton digambarkan sebagai:

“Pria berambut palsu yang nampak sedang berkonsentrasi menatap langit-langit ruang pengadilan.”

“Tuan Carton, duduk bersandar, dengan jubahnya yang tersingkap, rambut palsu yang diletakkan begitu saja setelah tadi dilepas, tangannya di dalam kantungnya, dan matanya menatap langit-langit seperti yang telah dilakukannya sepanjang hari.”

What are your first impressions of them?
Awalnya aku membayangkan Sydney Carton adalah pria yang cuek dengan dandanan tak rapi, napas berbau alkohol, wajah muram—pokoknya pria dengan ‘aura’ pecundang yang tak layak diperhatikan. Meski kalau mau dicermati, sebenarnya ada sedikit ketampanan pada dirinya.

Find a portrait or photograph that closely embodies how you imagine them.


How has the character changed?
Di awal kisah, Sydney Carton adalah orang yang tidak punya wibawa, minder, dan cenderung diabaikan orang karena tak pernah melakukan sesuatu yang berarti. Namun berkat cintanya yang besar pada Lucie, Carton mampu berubah menjadi sosok pahlawan. Tiba-tiba saja dia dengan tegas dan tangkas merencanakan pelarian keluarga Manette dan Lorry dari Prancis. Kali ini—alih-alih menunggu perintah Lorry—justru Carton lah yang berinisiatif dengan percaya diri. Selain itu, pengorbanannya untuk Darnay jelas adalah tindakan yang paling pahlawan yang bisa dibayangkan orang.

Has your opinion of them altered?
Pasti. Kalau awalnya aku sebal pada Sydney Carton yang payah, kini aku membayangkan saat Carton hendak dihadapkan pada hukuman. Bagaimana wajahnya bercahaya sambil menggenggam tangan wanita yang dihukum bersamanya itu. Sydney bukanlah pecundang, ia pahlawan!

Are there aspects of their character you aspire to? or hope never to be?
Meski mungkin aku tak sanggup menjalani pengorbanan yang se-dahsyat yang dilakukan Sydney Carton, tapi sikapnya membuat aku makin menyadari bahwa cinta menumbuhkan keberanian, termasuk keberanian untuk berkorban. Karena ketika cinta mendasari pengorbanan, tindakan itu bukan lagi pengorbanan, melainkan sesuatu yang kita ingin lakukan demi orang yang kita kasihi.

Yang jelas, aku tidak berharap menjadi sosok Carton sebelum berubah…

What are their strengths and faults?
Mungkin kekuatan Carton terletak pada cintanya yang tulus dan kuat. Jenis cinta sejati yang tidak mengarah pada diri sendiri tapi tertuju pada orang yang ia cintai. Ia tak segan-segan melakukan apa saja tanpa ragu, demi orang yang ia cintai. Dan perasaan itu tak berubah meski orang yang dicintai lebih memilih orang lain. Cinta yang sejati tak mengenal cemburu!

Kelemahannya adalah sekian lama ia hidup dengan menyia-nyiakan hidup karena berpikir bahwa dirinya payah dan pecundang. Andai Carton memiliki pandangan yang lebih terbuka dari awal, mungkin hidupnya akan berubah, dan ia akan menemukan kebahagiaan.

Do you find them believable? If not, how could they have been molded so?
Tentu saja. Banyak orang di dunia ini seperti Sydney Carton. Percaya bahwa diri mereka tak berguna, padahal mereka hanya belum pernah mencoba saja.

Would you want to meet them?
Tentu saja aku ingin bertemu Sydney Carton, tapi saat dia sudah berubah. Aku paling tidak tahan berdekatan dengan orang yang pesimis